
Ibu angkatku masuk kamar, kamarku berwarna putih dan kasurku adalah kasur khusus orang sakit yang disampingnya terletak meja, kursi, dan tempat infus jika kondisiku lemah. Aku diangkat oleh seorang keluarga yang penyayang dan harmonis. Aku mengenakan sweater dan syal favoritku, warna coklat ; aku mengenakan sesuai isihatiku.
Aku mendorong kursi roda dengan tombol elektrik. aku tinggal di jakarta selatan, di jl kemang raya yang begitu macet dan tak pernah sunyi dari keramaian kendaraan. di kota yang padat ini tak pernah bisa menghirup udara segar bahkan bintang tak pernah tampak di bandingkan dengan desa di daerah jawa barat yang pernah ku cari di google. Dari kota inilah aku di adopsi, ayah angkatku saat dirumah sakit sedang terapi menemukan ku di rumah sakit di jakarta selatan saat aku balita. Di kota inilah aku di besarkan orang tua angkatku, dengan kelainan bawaan lahir. Di usia ini aku mengambil keputusan tegas untuk istirahat di rumah sakit.
Sejak aku di rumah, wajah ibu kandungku yang cantik terbayang saat usiaku menginjak lima belas tahun. Kami berdua berjalan-jalan di mall karena kondisiku sedang sehat, namun saat aku kejang-kejang ibu kandungku meninggalkanku di tempat taman dekat mall dan tahu-tahu aku sudah di ruang ICU dengan keadaan kritis di rumah sakit umum. Aku benci ibuku yang setiap kali menjenguk ke rumah dengan alasan meminta maaf, ingin aku rasanya memaafkan dia.
"Rista, " ingatan itu menghilang ketika ibu angkatku menyadarkanku--sebelum aku tidur di kasur ibu angkatku selalu menyadarkanku. Tahulah, aku tidak boleh berpikir keras karena penyakitku. "Kau harus siap-siap ke rumah sakit."
Ibu angkatku tidak mau kondisiku lemah, karena dia sudah menumpahkan air mata yang begitu banyak. Dia menangis di saat usia tiga puluh tahun, karena ayah angkatku menderita stiff person syndrome. Aku merasa bersalah karena merepotkan ibu angkatku yang mengadopsiku, dia rela kehilangan uang tabungan untuk kemo terapi ayah angkatku. Saat aku kritis di masa kanak-kanak, bahkan saat ibu kandungku meninggalkan ku begitu saja di depan mall ibu angkatku rela membeli obat syaraf dan jantung yang sangat mahal. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibu angkatku untuk mencari ibuku atau tinggal di rumah ibu kandungku?
"Rista, aku akan menyuapkanmu obat ya."
"Mamah ga perlu repot, sembuhkan ayah dulu baru aku." Maaf aku berbohong mah.
tentu saja ia lebih memilih mengobatiku, karena suaminya juga menyetujui untuk merawatku, dan karena mereka tak punya anak kandung jadi mereka rela berkorban demi diriku.
"Aku hanya perlu istirahat di rumah sakit, tidak perlu operasi atau beli obat," aku berbohong untuk ke dua kalinya. Aku tak pernah berbohong, baru kali ini aku berbohong demi keselamatan nyawa ayah angkatku.
Tapi aku bisa melihat kepedihan yang di rasakan oleh ibuku dengan melihat matanya. Di sisi lain ibu angkatku harus merawat ayah Yudi yang menderita stiff person syndrom.
"Rista sayang, maaf ibu belum bisa mencarikan donor jantung buat kamu nak."
"Ya, Tapi..." saat aku berbicara ibu mengecup keningku. "Aku sudah memakluminya dengan kondisiku yang tiba-tiba kejang dan mendadak kumat jantungku bu."
Ibu angkatku membersihkan selang oksigen yang terpasang di leherku, kemudian aku memegang tangannya, dan air mataku tidak bisa di tahan.
Makan waktu 3 jam untuk pergi dari rumah ke rumah sakit, 30 menit lagi ambulance sudah sampai itu kalau tidak macet.
Dokter Audrey dan Steven masuk ke kamarku sambil menunggu ambulance. Lagi-lagi penyakit epilepsiku kumat, entah epilepsi atau kelainan otak, sebenarnya aku tak yakin bisa hidup lama atau tidak, tetapi melihat ibu angkatku semangatku jadi membara.
pergi dengan mobil ambulance tidak membuatku cemas; tapi penyakitku yang terkadang membuat dadaku sesak dan perasaan cemas berlebihanlah yang membuatku kritis atau sekarat.
sejak tadi pagi aku belum melihat Ayah angkatku. Perasaanku jadi tidak enak, biasanya ayah selalu mendorong kursi roda sendiri ketika ibu membantuku ke rumah sakit.
Benar-benar membuatku kesal, ibu kandungku yang mendampingi aku ke rumah sakit.
Namun entah kenapa, bila melihat ibu kandungku ada rasa pedih di dada, aku berubah menjadi wanita dewasa berusia dua puluh enam tahun menjadi gadis cilik yang tak mampu berjalan dengan kedua kakiku. Secara keseluruhan ibu biologisku menelantarkan aku karena kulitku pucat dan dadaku memar berwarna biru.
Aku menghela napas. Sekarang bukan saat tepat untuk menyalahkan ibu kandungku.
Ketika tiba di rumah sakit, nafasku tersengal-sengal. Aku tidak bisa menahan rasa sakitku. setelah sampai di ruang ICU, kejang-kejangku kambuh. Namun penyakitku tak separah seperti saat usiaku 24 tahun. Hanya saja aku teringat saat usiaku 24 tahun, aku pikir aku anak ayah angkatku setelah aku membuka laci, ternyata aku di adopsi saat berusia balita.
AAARRRGH!
Aku tahu aku hampir saja kehilangan kesadaran. Mengingat kenangan yang pahit itu. Lagi pula aku telah bersyukur bisa bertemu orang tua kandungku.
Ibu kandungku menungguku di luar, dia sedang mengobrol dengan dokter. Aku sudah menebaknya. ibuku tidak mau melihatku menderita dengan kondisi lemah tanpa seorang pendamping. Tujuan utamaku ke rumah sakit untuk berobat, bukan untuk mencari jodoh, karena sekarang aku hanya butuh ibu kandung.
Hari ini bisa berakhir dengan dua versi. Satu, aku koma tidak membuka mata untuk dua minggu. Dua, aku tidak bisa membuat jantungku berdetak lagi dan terpaksa dadaku di setrum. Tak ada yang membuatku selemas ini, aku lemas karena aku mendengar cerita dari ibu angkatku.
Ayah angkatku mendadak lumpuh di usia 30 tahun. Baiklah, mungkin aku terlalu khawatir dengan ayah angkatku.
Tapi aku tidak butuh calon pengganti hidupku. Bila hari ini aku sekarat di saat momen terindahku, kemungkinan aku akan mengecewakan ayah angkatku, ibu angkatku, dokter Audrey dan steven. Cepat-cepat aku mendengarkan telepon ibuku yang sudah ku setel.
"Bagaimana keadaan Rita?"
"Tubuhnya mengalami serangan di paru-paru, dia ashma dan pneumia."
"Dok, aku mohon tolong selamatkan dia dengan membahagiakan dia."
"Aku akan berusaha membuat dia tersenyum dan membuat jantungnya berdetak."
"Maksudku, tolong jadi suaminya. Dia kesepian dan sering masuk ICU." Kenapa ibuku berbohong kepada dokter Audrey. Dokter Audrey merasa terpaksa kalau menikah denganku yang cacat.
"Aku bersedia menikah dengan dia, sudah lama aku merawatnya sejak usia dia 18 dan diriku 19. Dia akan menjadi istriku, aku hidup sendirian."
"Terima kasih, dok."
Akhirnya jantungku sudah normal dengan begini aku tidak akan kesakitan di ruang ICU. Keadaanku sudah mulai membaik sekarang. Oh, tunggu. Hari ini hari ulang tahunku.
Bagus .
Tampaknya aku bisa mendiskusikan pernikahanku dengan dokter Audrey. Ibuku dan dokter Audrey masuk. dokter stevan sedang memeriksa detak jantungku.
"Senang melihatmu sudah bisa melalui masa kritis, Rita." Katanya, tersenyum ketika melihatku yang tidak epilepsi lagi.
"Kau tak banyak berubah sejak usiamu 15 tahun. Apakah jantungmu masih sakit?"
"Kenapa ibu menjodohkanku dengan dokter Audrey?" tanyaku dengan nada lirih dan masih menahan sakitnya kaki ku yang kaku. Sambil memikirkan bagaimana keluarga angkatku membesarkanku, aku manarik napas. Aku tidak ingin membuat dokter Audrey merasa terpaksa menikah dengan diriku yang cacat. Ayah dan ibu angkatku mungkin sedih karena aku akan menikah.
"Aku menikahimu bukan karena terpaksa, kamu ingatkan saat aku membantumu belajar jalan di taman Ayodya?" ucap Audrey, dengan tersenyum.
"Kenapa dokter menyukaiku?" Aku khawatir, Calon suamiku terpaksa menikahiku karena aku kesepian dan cacat.
"Baiklah, sebenarnya saat aku merawatmu. Aku merasa duniaku begitu indah."
"Apakah aku pernah belajar jalan saat usiaku 18 tahun?"
"Saat itu kamu marah sama diriku, dan menceritakan lebih baik cacat permanen dari pada membuat ayah angkatmu kambuh lagi."
"Oh, di taman Ayodya. Aku ingat sekarang." Taman Ayodya terlelak di jakarta selatan.
"Syukurlah."
"Dulu kau menangis saat belajar jalan, aku melatihmu dengan sabar. Dalam hati aku berpikir kaulah yang membuatku semangat untuk menjadi dokter."
Pantas saja aku mengingat wajah dokter Audrey. Aku hapal setiap wajah orang sampai namapun aku hapal, meskipun aku lemah tapi aku selalu mendapat nilai tinggi karena tidak ingin membuat ayah angkatku sedih.
"Dok, aku punya satu pertanyaan bagaimana kabar ayah angkatku?" Tanyaku dengan nada lirih dan ekspresi sedih.
"Sekarang dia di rawat di rumah sakit khusus jantung dan syaraf." Audrey mukanya tampak sedih. "Dia kambuh saat sholat jumat di masjid dan tangannya kaku lalu membentuk cakar ayam."
"Boleh aku tanya sekali lagi, dokter umurnya berapa?" Aku menanyakan yang ke dua kali, mungkin umur cukup sensitif.
"Aku sekarang 28 tahun. Kamu tidak sakit dadanyakan?" Audrey balas bertanya kepada diriku.
"Aku tidak apa-apa, syukurlah dokter sudah memberi tahu bahwa ayahku di rumah sakit khusus. Aku merasa bersalah jika tidak pamit karena kondisiku melemah lagi." Pernah aku sedang kritis dan ayah dan ibu angkatku membawaku ke Rumah Sakit malam-malam karena aku muntah-muntah dan epilepsiku tidak berhenti.
"Bagaimana kalau pestanya di adakan malam atau besok pagi?" tanya Audrey dengan menyuntikkan obat jantung dan kejang. Ku harap ibuku menyetujuinya.
"Bagaimana kalau sekarang saja?" Audrey tiba-tiba merubah topik pembicaraan.
"Jam lima sore akad nikahnya?" tanyaku balik.
Dokter steven menyambung pembicaraanku. "Kalau menurutmu itu bagus demi kesehatan Rita, Dia pasti mau demi membuat semangat hidup dirinya kemabli. Walaupun kita terpaksa menyuruh Rita berjalan pakai alat bantu jalan atau duduk di kursi roda dalam keadaan yang masih lemah."
"Aku siap menikah meski berjalan dengan wlker atau duduk di kursi roda." Aku menyambung perkataan Steven, aku tidak mau diam tanpa memberi penjelasan.
"Syukurlah, kamu bisa menyetujui pernikahanmu yang mendadak anakku."
sejak pernikahanku di majukan, penyakitku kambuh karena aku tidak bisa stress.
Uh. Aku merasa kasihan sama Ayah Yudi.
"Mas Audrey, bisakah ayah angkatku sembuh dari cacatnya?" Aku tahu wajah dokter Steven dan Mas Audrey muram atas pertanyaanku yang mendadak.
"Dia tidak bisa berjalan lagi, karena terapinya sering telat."
"Setelah kita nikah, aku mohon jangan tempatkan Aku di ICU. Aku sudah tahu ayah angkatku menyembunyikannya demi kesehatanku. Kalau bisa aku di rawat jalan saja di rumah ayah angkat atau rumahmu."
Pernikahan itu, pikirku ... biayanya pasti mahal untuk make up dan kostumnya.
"Apakah semua sudah di sediakan?" Bagaimanapun aku tidak ingin ayah angkatku kritis lagi karena diriku.
"Aku sudah menyediakan semuanya dan menelepon penghulu serta menelepon make up artisnya untu mendandanimu. Aku pikir mereka bisa mendadanimu malam ini. Tapi kondisimu masih lemah meski jantungmu sudah normal."
Ibuku tersenyum senang kepadaku.
Dengan tubuhku yang penuh alat medis, aku di antarkan ke ruang biasa untuk di dandani. Make Up Artis masuk ke ruang dan menyediakan alat rias. Nafasku semakin berat, Ya Allah jangan buat pernikahan ini kacau.
"Hhhh ... hhh ... hhh," Aku tidak mau mati sekarang. Alarm Code Blue berbunyi, suster dan Audrey masuk keruangan. Audrey membuat nafas buatan dengan menggunakan CPR. Aku tidak tahu apa yang terjadi sekarang, mungkin Audrey sedang melakukan CPR dan menyetrum dadaku supaya aku tersadar.
"Rita, kalau kamu sakit. Pagi saja ya." Aku mendengarkan suara Audrey, namun tak bisa membuka mataku.
"Kondisinya sudah membaik." Akhirnya aku bisa bernapas lagi. Mungkin Audrey tersenyum karena aku sudah pulih. Aku melihat dengan pandangan yang kabur ketika Audrey berbicara dengan suster.
"Jangan di tunda. Lebih cepat lebih baik." Ucapku dengan lirih. Audery tersenyum dan mencium keningku. Ia meninggalkan ruangan dan menunggu di mushola. Ketika aku berdiri, mendadak tubuhku gemetar. Aku memakai gaun pengantin dan berjalan gemetaran. Dan suster menaruhku di kursi roda, mengantarku ke mushola Rumah sakit. Dadaku sakit sekali. Tangan dan kakiku gemetaran, karena pernikahan yang di percepat. Aku melihat Audrey tersenyum. Audrey membantuku berdiri, tanganku mencengkram tangannya dengan erat.
Tepat saat itu, penghulu mengucapkan ijab kabul, kami berdua mengulangi ijab kabul dan salaman. Di mushola, kedua orang tua angkatku berbicara melalui teleconfrence. Mushola sudah di hiasi dengan balon love dan bunga-bunga. Begitu sederhana dan indah. Yang membuatku sedih, bagaimana dengan kondisiku yang serba cacat dan tidak bisa memasak? Ditambah lagi, aku sering masuk ICU dan kadang koma sampai sebulan. Baru saja menarik napas, penyakitku kambuh.
"Rita, kamu harus kuat sayang."Ucap Audrey dengan membawa tubuh Rita yang kejang-kejang. Sekarang hari-hari yang membahagiakan menjadi terasa sedih. Audrey sesampai di ICU menyetrum dada Rita.
Saat aku membuka mata, aku sudah di ruang ICU. "Aku senang kau sudah sadar," kata Audrey serba salah, sekali lagi wajahnya tampak seperti tertekan.
Cuma butuh istirahat cukup, aku sudah siuman. Aku mendapati tubuhku di pasang mesin yang mencatat keadaanku. Ruangan ini menjadi tempatku istirahat, ICU yang di penuhi mesin medis pencatat kondisiku.
Mesin Monitor ECG, kabel ECT yang di pasang di kepalaku, selang yang di pasang di mulutku--semua ini alat bantu hidupku sejak kecil. Satu-satunya yang berubah adalah usiaku dan kondisiku yang semakin memburuk. Di tiang hanya ada infus dan selang makananku. Ini permintaan ibu angkatku supaya aku di rawat di ruang VVIP.
Saat aku memejamkan mata, mencoba menenangkan kejang-kejangku. Lalu aku mencoba menarik napas supaya kejang-kejangku berhenti. Audrey tidur di kursi menemaniku. Memakai baju dinas, Ya Allah terima kasih telah membuatku semangat hidup lagi. Aku mengelus rambutnya dan tersenyum. Orang yang melihat kami berduaan mengira aku memelet Audrey supaya menikahi aku. Seandainya t\aku tidak kejang-kejang dan masuk ICU, aku sudah menikah dengan Audrey tanpa paksaan.
Hanya ada Audrey yang menemaniku, dan aku tahu ibuku pergi meninggalkanku dengan alasan kerja demi pengobatanku. Aku berusaha tidak memikirkan hal itu. Aku seperti seorang istri yang mempunyai penyakit bawaan seperti di film Hand That Rocks The Cradle.
Salah satu hal terbaik Audrey adalah, ia selalu menemaniku saat sedang lemah atau sembuh. Ia menyuapkanku makanan saat jam makanku tiba, prilaku yang tidak pernah kudapatkan dari Ibu kandungku.
Rasanya menyenangkan sudah menikah, bisa berbagi isi hati, lega bisa memiliki suami yang setia dan menerima kekurangku. Aku tidak sedang sehat untuk memikirkan hari berikutnya. Aku harus tidur, karena aku akan di periksa sumsum tulang belakangku di rumah sakit khusus penyakit jantung dan syaraf.
"Mas, sesampainya di rumah sakit khusus. telepon dokter kandungannya untuk program bayi tabungku." Ucapku ketika tidur.
Audrey mengelus kepalaku. "Rita, kondisimu tidak bisa memiliki bayi, " ujarnya dengan aksen merdu. Kenapa untuk mempunyai anak sulit sekali? apakah keberhasilannya hanya sedikit bagi penderita jantung bocor? Aku tak kuasa menahan air mata yang mengalir di pipiku. Satu-satunya membuat rumah tangga kami harmonis adalah mempunyai anak. Dan, aku hanya menangis di ranjang yang ada pagarnya. Di ranjang berwarna biru yang membuatku tenang, aku menarik napas. Sudahlah, aku harus tidur.
Total Rumah Sakit Khusus hanya memiliki sedikit pasien yaitu 10 orang yang mengalami gejala penyakit syaraf dan jantung--sekarang menjadi 11 karena pasiennya bertambah satu, sedangkan di rumah sakit yang tadi sore aku berobat totalnya 80 pasien. Semua pasien yang di rawat di rumah sakit khusus rata-rata yang menderita cacat fisik dari lahir atau usia dewasa. Aku akan jadi pasien baru, sejak usiaku tiga tahun aku di rawat di rumah sakit umum. Saat ini aku di rawat di Rumah Sakit Khusus untuk di cek sumsum tulang belakangku dan otakku, bersama ayah angkatku, dan itu mungkin malah membuatku kurang fit.
Hah, setidaknya aku bisa bertahan di masa kritisku nanti. Bukannya aku tidak mau di rawat di Rumah Sakit miliknya dokter stevan, tetapi kondisiku yang sering cemas dan stress membuat penyakitku kambuh.
Barangkali kau akan merasakan hal yang sama seperti diriku bila kau ke rumah sakit khusus. Mau di rumah sakit manapun aku masih lemah, yang bisa membuat diriku sehat dan tidak cacat oprasi saraf otak, jantung, dan paru-paru. Aku harus menahan rasa sakit, muntah, sesak nafas atau kepala mengambang--segala sesuatu yang bisa membuat ruang ICU umum tetap aman dan tenang.
"Oke, sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit khusus. Kondisi Nona Rita masih lemah, saya akan suntikan obat anti kejang dan obat penghilang sakit," ucap perawat yang memakai pakaian biru tua dengan masker dan name tage di dada kanannya.
Sebaliknya di rumah sakit khusus di ruang ICU umum banyak orang yang koma karena kesakitan, atau bahkan kejang-kejang. Tubuhku selalu kuat walau kondisiku masih lemah, tapi sering kejang-kejang walau rasa sakit itu tidak bisa tertahan; aku tak bisa bergerak bebas layaknya orang normal tanpa walker atau kursi roda--dan oksigen untuk aku bernapas atau ECG yang memonitor jantungku. Aku tahu aku terlalu rapuh, tapi aku harus kuat karena Ayah angkatku sedang kritis. Sejenak pakaian putih dan mata coklat di hadapanku menyipit. "Kita udah sampai sayang, " ucapnya dengan nada lemah lembut. "Nanti setelah kau sembuh, kita akan membahas program bayi tabung."
"Makasih. Maaf membuatmu begitu terpukul dengan permintaan yang sangat egois." Aku mengusap air mata dengan punggung tanganku. Ketika aku memasuki ruang ICU yang kelas biasa, aku merasakan kegelapan itu sebuah tanda epilepsiku kambuh. Aku tak tau tiba-tiba ada seorang di belakang suamiku yang mengajak aku berbicara. Saat aku sadar, suamiku memijat tangan dan menyedot ludah yang keluar dari rumahku. "Aku bahagia dan bersyukur bisa bertemu denganmu. Namun aku tak bisa menjadi wanita yang sempurna." ECG menunjukkan jantungku begitu lemah, kalau saja aku sehat dan terbaring di ruang lain bukan ICU.
"Rita harus istirahat. Denyut nadimu terlalu lemah, aku akan ke tempat kerja steven dan rekanku yang lain." Aku memegang tangan suamiku dengan erat.
"Kau... tidak ... akan ... membencikukan?" Ucapku yang tak bisa menahan air mata. Audrey meninggalkan diriku sendirian, pergi melihat rongent dada dan tes sampel sumsum tulang belakang milikku.
Aku membuka hape dan melihat pesan dari mamahku. Hah, tidak ada balasan sama sekali. Yang benar saja, anak kandungnya sedang kritis dan berjuang melawan penyakit, tetapi ibu kandungnya mencampakannya. Cuma jawab pesanku satu kalimat, hanya memakan biaya tiga ratus rupiah saja itu tidak semahal yang kupikirkan. Aku menaruh hape dan memakai kardigan supaya tidak dingin.
"Sekarang kita buka laptop. Berapa persen kemungkinan hidup untuk wanita hamil yang memiliki jantung bocor?" aku bergumam sendiri sambil melihat laptopku. Aku melihat paragraf kelima penjelasan kesehatan tentang wanita yang sakit jantung kemungkinan bisa selamat saat hamil atau melahirkan.
Nah, bila kehamilan tetap dilanjutkan, maka jantungnya akan terpaksa bekerja maksimal untuk kecukupan oksigen tubuh dan suplai ke bayi. Bisa-bisa akan membuat jantung ibu capek malah bisa berhenti.
Ketika aku membaca kalimat itu di laptop, aku tak bisa membendung air mataku dan aku menutup tab di layar laptop lalu ku buka yotube yang isinya murotal dan ku pasang head phone. Aku mengambil cermin kecil dan melihat diriku yang pucat dan bibir yang putih. Jika saja ibuku tidak meninggalkanku di taman saat epilepsiku kambuh, mungkin wajahku tidak sejelek ini dan aku bisa oprasi secepatnya. Saat aku batuk dan menutup mulutku, aku melihat darah di tanganku. Pandanganku mulai buram dan dadaku sesak sekali. Aku mendengar suara suster dan suamiku namun tak bisa melihat wajahnya.
"Sus, sedot darah di mulutnya dan lakukan CPR."
"Sudah saya sedot, dok."
"Satu, dua, mulai sus."
"Tekanan darahnya masih rendah, dok."
"Satu, dua, tiga."
"Jangan tinggalkan aku, Rita. Bangunlah Rita."
Ya Allah tolong beri aku waktu untuk hidup. Saat itu aku mendengar suara teriakan dari luar. Aku ingin hidup bersama suamiku dan mempunyai keturunan.
"Dok, denyut nadinya sudah naik."
"Syukurlah. terima kasih Allah telah memberikan kesempatan istriku untuk hidup."
Aku bernafas dengan susah dan dadaku sesak sekali. Saat aku membuka mata, Audrey memegang tanganku yang dingin dan berkeringat. Masih dengan kondisi lemah aku tersenyum ke arah Audrey. Baru saja aku tersenyum, audrey sudah mencium keningku. Dan kalau aku tak menjaga jantungku berdetak, mungkin kondisi ayah Yudi sudah sekarat.
Kondisiku sekarang sedang lemah dan kesakitan. Barangkali jika aku di pindahkan di ICU VVIP , tidak separah ini. Aku mulai mencari kata yang tepat untuk memohon ke Audrey supaya aku bisa memegang tangan Ayah Yudi yang kritis. Aku melihat Ayah Yudi masih memakai masker oksigen, dan belum sadar dari kritisnya. Perut ayah Yudi kembang kempis.
"Ku harap kau tak keberatan jika aku memegang tangan ayah angkatku." Dia menelan air ludah dan menarik napas. Saat aku ingin duduk, Audrey sudah tidak sedih dan menelan air ludahnya. Audrey membantuku duduk, berjalan ke dekat jendela dan mengambil kursi roda. Ia menggendongku dan melepaskan kabel ECG di dadaku dan ETC yang ada di kepalaku. Hanya infus di lenganku dan slang oksigen yang terpasang di leherku.
Kadang-kadang aku berpikir apakah aku bisa membahagiakan orang yang kucintai dengan keadaanku yang lemah. Mungkin jantungku kuat untuk melihat orang yang sakit sepertiku di ICU kelas biasa atau umum.
Tapi itu tidak masalah. Masalahnya adalah bagaimana aku bisa kuat demi kesembuhan Ayah Yudi dan orang-orang di ICU. Dan besok akan lebih sulit untuk tidur.
Aku duduk di kursi roda, kaki dan tanganku gemetar tidak tau apa sebabnya. Burung bernyanyi di taman Rumah Sakit dan pasien yang sakit membuat napasku sesak. Aku berjalan menuju ranjang ayah angkatku, kemudian memegang tangannya yang kaku. Tapi kenapa ayah Yudi belum sadar, ketika aku mengelap air mataku Audrey mengelus bahuku untuk menenangkanku.
"Aku ingin bertanya ke kamu mas. Kenapa Ayah Yudi belum sadar juga sampai sekarang? Aku tak ingin ayah angkatku menderita--sudah berapa hari ia kritis?"
Aku mengelus perut ayah Yudi yang di lapisi baju rumah sakit, memijat tangannya yang kaku. Sudah kuduga. Audrey menutupi masalah ini dariku. Ayah kenapa kamu menutupinya?
Pagi ini aku menuju ke ruang oprasi untuk proses bayi tabung, dan bisa kurasakan jantungku berdegup kencang saat aku melepas tangan ayah angkatku dan pergi ke ruang oprasi. Audrey membantuku mendorong kursi roda ke ruang oprasi. Di sini kau tak akan bisa tidur tenang yang ruangannya penuh orang sakit jantung dan syaraf, di bandingkan di kamar oprasi pasti lebih tenang sekarang. Saat masuk ruang oprasi, dada dan kepalaku di pasang kabel medis.
serasa diriku tak akan bernafas lagi. Audrey meninggalkanku di ruangan oprasi. Aku senang Audrey megizinkanku untuk proses bayi tabung. Sejenak aku memikirkan jika aku anak angkat Ayah Yudi. Lalu, aku teringat saat usia lima belas tahun saat di rawat di rumah sakit. Aku melihat di rumah sakit ini untuk membeli obat ayah Yudi. Aku melihat DNA di kertas hasil lab Ayah Yudi berbeda dengan DNA ku di kertas hasil tes sumsum belakang ku berbeda dengan ayah Yudi. Aku mengecek hasil lab mungkin saja penyakitku di turunkan Ayah Yudi. Keburuntungan selalu menjauhiku. Lamunanku buyar, saat Audrey dan dokter kandungan yang memakai kerudung masuk ke ruang oprasi.
"Rita, apakah kamu yakin akan melakukan program bayi tabung?" Ucap Audrey dengan nada marah dan sedih.
__ADS_1
"Itu akan membuat paru-parumu bengkak dan membuat darahmu membeku." Audrey melanjutkan perkataannya dengan menatapku kesal. Aku memegang tangannya.
"Aku akan menjaga jantungku tetap berdetak, " janjiku ke Audrey.
Suster Anastasia mencopot slang di leherku dan menempelkan masker oksigen ke wajahku. Dokter Andini menyuntikkan obat hormon agar bisa memproduksi beberapa sel telur sekaligus. Secara alami, wanita hanya memiliki satu sel telur. Namun untuk program bayi tabung, dibutuhkan lebih dari satu sel telur untuk memperoleh embrio.
"Sakit... d-d-da..daku ... se ...sak." Ucapku sambil gemetaran dan kejang-kejang. Di atas ranjang aku merasakan sakit dan pusing. Dan mulutku terasa amis, audrey mengelap darah yang keluar dari mulutku. Mataku gelap dan letih. Saat aku membuka mata masih dengan badanku menggigil dan kejang-kejang, aku melihat Audrey memijatku.
"Maafkan aku yang bersikap kasar kepadamu." Raut Wajah Audrey seakan-akan mengatakan dia merasa bersalah kepadaku dan membuatku kritis.
"Ini bukan salahmu, aku tidak ingin membuat luka di hatimu." Suaraku terdengar lirih.
"Kalau saja aku bisa mendapat donor jantung di saat kamu masih berusia enam belas tahun, mungkin tidak separah ini."
Dia mengelus pipiku dan mengompres keningku. Tak ingin membuatnya sedih aku mengalihkan konsentrasi Audrey.
"Aku sakit mas, bisa suntikan aku morfin?" Aku tak bisa bernafas dan mual sekali. Aku membuka mulutku karena tak bisa menahan muntahan. Ibu angkatku mengelap muntahanku, pikirannya terbelah menjadi dua. Di satu sisi Ayah Yudi tidak bisa nafas, suaranya serak, dan tubuhnya kejang-kejang, di sisi lainnya aku ikut down kesehatanku dan membuatku kritis.
"Mah, bolehkan aku di letakkan di ICU khusus. Aku tidak tahan melihat orang-orang yang terbaring lemah dadaku terasa di tusuk dan penglihatanku gelap sekali." Aku menahan sakit sehingga tubuhku tak bisa berhenti kejang-kejang dan gemetar. Ketika aku keluar aku teringat ada seorang wanita duduk di kursi roda, badannya kurus, dadanya bergerak mencoba untuk bernapas. Apakah aku memiliki penyakit yang sama dengan wanita itu? Tubuhku sangat lemas sekali. Aku meminum obat ASD untuk mengobati penyakit jantungku melalui selang yang di pasang ke leherku dengan di suntikan. Ibu angkatku atau Ibu Yudi,memijat kaki dan tanganku.
"Berdoa saja, supaya kamu bisa pindah ya nak." Dia menggerakan tanganku karena aku masih sulit berjalan. "Aku tahu, Rita tidak mau melihat Ayah Yudi terbaring lemas, kan?"
Rasanya mustahil untuk bilang aku ingin pulang, dengan tidak menyadari Ayah Yudi pasti akan khawatir. Aku menggerakan tanganku yang gemetar untuk meraih hapeku. Dengan mendengar murotal aku bisa tenang dan tidur nyenyak. Murotal dan aku bisa tenang. Namun saat aku tidur, kejang-kejangku makin parah.
"Mah, sakit. Tolong Rita." Aku membuka mulut untuk bernapas. "Rita, tenang. Pelan-pelan ya. tarik napas." bisik ibu angkatku. Audrey menyuntikkan anti kejang ke tanganku, lalu aku bisa bernapas lega. Suster menyedot liur di slang yang terpasang di leherku. Tapi aku masih kesulitan bernapas, aku takut tidak bisa membuka mataku lagi. Bagaimana dengan Audrey?
Ketika aku tidak kejang-kejang dan bisa merasakan udara kembali memasuki paru-paruku, aku bersyukur belum pergi ke akhirat. Setelah aku melewati masa kritis Audrey memijat kakiku, di ICU kelas biasa ini aku melihat keadaan Ayah Yudi, dadanya masih bergerak-gerak karena nafas pendeknya dan penyakit stiff person syndrom.
"Denyut nadimu sudah normal. " Audrey memeriksa denyut nadiku. "Aku akan mengajakmu jalan-jalan, supaya kondisimu normal kembali."
"Kalau bisa pulang, aku ingin di rawat jalan saja." suaraku terdengar parau dan kecil. "Aku tidak ingin membuat Ayah Yudi cemas karena kondisiku yang tidak stabil." Tak ada perkembangan. Sudah empat jam aku tidur di ruang ini, tapi kejang-kejangku dan penyakit epilepsiku datang tak di undang.Setidaknya aku di pindahkan ke kamar khusus, aku tidak tahan melihat pasien yang sama seperti diriku.
Rasanya mustahil berada di ruang penuh pasien, melihat kondisi ayah angkatku yang kritis membuat jantungku berdagub kencang. Penglohatanku mulai gelap dan membuatku pusing, dadaku sakit sekali, aku tidak bisa menahan penyakitku.
"Rita, kamu bisa melihat dan mendengarku."
"Dok, denyut nadinya turun drastis."
"Tolong ambilkan jarum suntik dan obat."
Aku tak mau menyusahkan orang yang kucintai, tapi aku tak bisa melawan penyakitku. Aku membuka mataku dan yang kurasakan seperti lumpuh dan tidak ingat apa yang terjadi. Dadaku masih sakit, tapi tak sampai membuat diriku kehilangan kesadaran. Suara ECG monitor membuatku kesakitan dan sedih karena penyakitku semakin hari membuat diriku lemah tak berguna.
Aku merindukan pemandangan taman rumah sakit ini saat aku terapi jalan di usiakuku dua puluh tahun. Saat itu aku pergi ke Rumah Sakit umum, namun antreannya begitu panjang jadi aku pergi ke Rumah Sakit Khusus ini dan belajar jalan.
"Aku akan meminta steven mengijinkanmu pulang." Audrey mengecup keningku dan meninggalkan ruangan ini. Aku tidak sekuat yang dulu, Aku yang sekarang lemah dan pucat.
Di luar pasti menyenangkan. Aku akan meminta izin ke ibu angkatku. Ketika aku mencoba berdiri, kakiku gemetaran dan dadaku sesak. Ugh. Kenapa kakiku menjadi seperti ini? Aku memegang ranjangku. Ibu angkatku pasti mau menolongku.
"Mah, bisa tolong aku berdiri. Aku mau duduk di kursi roda dan jalan-jalan ke taman." Ketika aku berdiri di dekat ranjang, aku tak bisa mengontrol kaki dan tanganku yang tremor. "Mah, aku lelah. Tolong bantu aku duduk di kursi roda." Ibu angkatku mencabut kabel ECG dan ECT yang di pasang di badan dan kepalaku. Rasanya mustahil untuk berjalan tanpa walker atau kursi roda elektrik. Aku melihat ibu angkatku menggendongku dan meletakkan ku ke kursi roda elektrik. Itu membuatku seperti orang yang sakit, tapi memang iya aku lemah tak bisa berjalan. Ayah Yudi masih terbaring di ranjang, perutnya bergerak-gerak karena laryngospams dan napasnya yang pendek. Tak sulit untuk keluar dengan kursi roda elektrik, yang di pasang tiang infus dan selang oksigen.
Menggunakan kursi roda untuk ke taman tidaklah sulit, meskipun aku belum pernah menggunakan kursi roda elektrik ini. Ketika keluar ruang, taman Rumah Sakit tidak berubah sama sekali, sejak aku berkonsultasi dengan dokter mengenai penyakitku dan penyakit ayah angkatku. Tamannya masih memiliki bunga mawar, anggrek, melati dan pohon mangga.
Ketika aku menuju ke taman, Audrey sudah ada di belakangku. "Kau kenapa sendirian di luar, sayang?"
"Aku tadi di antar ibu angkatku. Tapi aku suruh ibu angkatku menemani Ayah Yudi yang kritis." Dia berjalan ke arah depan dan memakaikan aku kaus kaki. Kami berdua saling tersenyum dan berbicara tentang pemandangan di taman. Aku mengalihkan pandanganku, dan melihat taman yang indah di tengah terdapat kolam ikan hias. Ada banyak sekali burung berkeliaran, namun aku tak bisa merasakan udara yang segar karena tubuhku yang lemah dan harus selalu hangat. Kemudian dia mendorongku ke taman yang terdapat kursi, menggendongku dan menaruhku di kursi taman.
"Mas Audrey, kenapa tidak kerja?" tanyaku singkat. Dia memutar bola matanya dan menarik napas dalam-dalam. Mungkin karena pertanyaanku yang mencemaskannya. Aku langsung memegang tangannya dan membuat Audrey nyaman. Lalu aku meyakinkan Audrey untuk tidak usah memperhatikanku.
"Jangan mencemaskanku. Aku lebih baik sekarang dari pada tadi pagi di ICU." Aku tau Audrey cemas karena aku di taman sendirian. Mengapa kau begitu cemas, mas? Aku mencium keningnya supaya dia tenang. Kenapa kau tidak kerja ? Bukankah kau bilang hari ini kau sibuk?
"Keselamatanmu lebih penting, kau tanggung jawabku sekarang Rita." Audrey langsung menjawab pertanyaanku.
"Ya. Aku tahu bahwa aku tanggung jawabmu. Tapi kalau kau bolos kerja itu akan membuat kamu di marahi manajer rumah sakit. Tapi aku sekarang sudah baik. Lihat badanku tidak tremor saat kita menikahkan." Aku mengelus wajah Audrey. Audrey menyingkirkan tanganku dan menyentuh keningku.
Nada suara Audrey berubah. "Jangan membohongiku, bila kau masih demam."
"Kesehatanku tidaklah penting untuk di pikirkan. Ini sudah takdirku. Kau ingatkan perkataanku saat usiaku masih muda. Aku di rawat sama orang tua angkatku sementara ibuku tidak tahu, kalau saja aku bisa bertemu ayahku, dia pasti marah besar karena ibuku membohonginya."
"Aku ingin kamu sehat dan dengan begitu kau tidak usah sedih memikirkan orang tua biologismu. Setelah kau sudah sehat, kita akan mencari ayah kandungmu."
Aku berdiri pelan-pelan untuk pindah ke kursi, Audrey memegangiku. "Aku tidak apa-apa cuma sedikit gemetar." Audrey tak menjawabku, aku yakin Audrey mukanya cemas karena mengetahui aku masih sakit. Tapi aku memutuskan untuk belajar berdiri, dari pada Audrey menolongku dan tidak kerja. Dengan tenaga yang lemah aku belajar berdiri dan berjalan, di sampingku Audrey memegangi pinggangku.
Sesudah berdiri dan berjalan terlalu lama, aku duduk di kursi roda untuk istirahat sejenak. Mataku melihat ke dada bekas oprasi saat usia dua puluh tahun yang sangat membuatku sedih. Bila alat pengganti katup jantungku rusak, aku akan kesulitan mempunyai anak.
"Kenapa waktu aku umur dua puluh, kau tak mengizinkanku pergi kemonas. Setelah sembuh dari pasca oprasi?" tanyaku, menjadi pertanyaan itu sebuah tuduhan. Sebelum kembali ke ruang ICU, aku menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mataku. "Waktu aku bilang, aku sudah sehat tidak mungkin aku sakit. Dokterkan tahu, kalau aku sudah operasi." Susah payah aku mencari kata-kata yang tepat untuk membuat pikiran Audrey teralihkan.
Satu jam kemudian, di taman rumah sakit, aku menggerakan kursi roda, menuju pintu ICU--kesehatanku bukanlah hal yang terpenting untuk di khawatirkan--dan langsung masuk ke ICU kelas biasa. Untungnya aku bisa menahan rasa sakitku. Aku berbaring untuk menenangkan karena aura epilepsi muncul, dan serasa pusing. Bel Alarm berbunyi.
Pintu ICU terbuka. Audrey, suster, dan rekannya masuk. Saat gejala epilepsiku muncul di saat aku sedang tertidur, Audrey merubah posisiku dia menghadapkanku ke samping. Di dalam keadaannya tambah kacau, dan lebih menyedihkan. Ruangnya begitu banyak orang, ada yang merawat istrinya yang koma, ada seorang ibu menyuapi suaminya dengan obat herbal, dan satu lagi ayah angkatku yang belum sadar dari kritisnya. Untung saja aku sudah di suntik obat epilepsi, jadi bisa tenang tapi tidak meyakinkan untuk nanti malam.
Rumah sakit ini cukup besar dan luas juga, cuma tempat ICU yang kelas biasa terlalu ramai karena ini khusus kelas biasa dan mengobati yang tidak mempunyai biaya lebih. Ruangan khusus hanya untuk penyakit jantung dan penyakit paru-paru, sedangkan di ruang ICU ini hanya terpasang 8 ranjang yang tidak luas, terdapat meja kecil di sebelah kasur. Di depanku ada seorang istri yang menyuapi suaminya karena patah tulang belakang. Ia tiap hari memberiku obat herbal kepadaku dan ayah angkatku.
Wanita yang menyuapi suaminya itu melihatku."Bagaimana kondisimu, nak?"
Dan, melihat bagaimana baiknya wanita itu memberi kami obat-obat. Dia mengangguk dan mengelap badan suaminya, lalu memakaikan pakaian ke suaminya. Aku lupa mengucapkan terima kasih, aku menarik napas dalam-dalam untuk mencari kata-kata.
"Terima kasih atas obat herbalnya, bagaimana kalau saya mengjakmu makan jalan-jalan ke taman rumah sakit sebagai balas budiku, " kataku. Aku balas dan senyuman wanita itu dan pergi mengambil headset. Walau di rumah sakit khusus membuatku sakit, tapi begitu banyak kebaikan di rumah sakit ini.
"Oh, terima kasih," jawabnya. Ia kembali memijat suaminya. "Suamiku kecelakaan dua tahun yang lalu, dia sudah dua tahun di rumah sakit sini. Makanya setiap ada pasien baru aku selalu membagikan obat herbal, berkat banyak orang di sini yang baik aku jadi tidak lelah dan putus asa. Jadi itu untuk semangat hidupmu juga, obat herbal yang aku berikan." Ia berbicara denganku sambil memijat suaminya. Aku hanya bisa mendengar wanita itu, karena setiap sesak napas pandanganku kabur.
Kemudian ibu angkatku datang dan mengecek kondisiku, memijat kaki dan tanganku, dan dia meminumkan jus buah. Pada waktu jam dua belas malam nanti aku harus kuat. Ia membantuku duduk dan menyuapkanku bubur. Aku mencari kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan ibuku.
"Mah aku takut akan gagal tranpaltasi jantung." Ketika aku menangis, ibu angkatku menarik napas dan mengedarkan pandangan. "Kamu harus bertahan hidup, kamu sudah ku anggap sebagai anak kandungku. Jangan buat suamimu sedih." Aku memejamkan mataku, namum tiba-tiba terasa sakit dadaku. Aku menahan rasa sakit. Aku senang dan bersyukur bisa hidup sampai saat ini, orang tua angkat yang baik, suami yang sigap, dan pernikahan kami yang sederhana. Di tempat aku di lahirkan, mungkin tidak seperti ini kebanyakan mereka yang percaya tahayul menyebut penyakitku kutukan.
Melihat orang yang sakit sepertiku sudah hal biasa bagiku. Di sini, tempat aku di besarkan banyak kenangan indah dan sedih. Aku ingat saat guru ngajiku menerangkan bahwa kita sakit itu ujian atau penghapus dosa. Tetap saja bagiku ini adalah suatu kenikmatan dalam hidupku, sehingga aku bisa bersyukur bagaimana kami berjuang menahan sakit dan hampir mendekati maut.
Sambil memejamkan mata aku mengingat kata-kata guru ngajiku. "Bersabarlah saat di timpa musibah atau di uji, jika kita bersabar dan ikhtiar In Syaa Allah kita akan lulus dan mendapatkan nilai dari Allah." Aku mempelajarinya setiap aku tidur. Ada kalanya kita sebagai mahkluk harus bisa tahan ujian. Tapi masih banyak di bumi ini yang tidak tahan di uji. Ujian ada untuk membuat hati kita terbuka dan tidak menutup ke pada sesama dan orang yang membutuhkan.
Aku membuka mata sudah jam dua belas siang, berusaha untuk bangun; berharap aku bisa terapi tanpa mesin dan infus. Suster dan ibu angkatku membantuku. Suster melepaskan slang infus, oksigen, dan ECG. Serta ECT di kepalaku di lepaskan.
Aku belajar jalan menggunakan walker di sisi kanan dan kiri, ibuku dan suster membantuku berjalan. Kakiku tetap gemetar, namun rasa letih tidak membuatku hilang semangat. Ibuku melepaskanku dan membuka pintu. Saat aku berjalan, aku yakin aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya, aku membohongi diriku. Tak ada yang menghalangiku untuk menghentikanku berjalan dengan walker. Akhirnya aku bisa berjalan tanpa mesin medis dan berjalan dengan penuh semangat. Kubiarkan aku memakai piyama, karena aku tidak ingin memakai baju rumah sakit, aku menyadari saat aku di luar ada suamiku yang tanpa ekspresi.
Begitu aku berjalan menuju ruang terapi, suamiku menyusulku. Tulisan "semangat" yang di tulis seorang wanita membuatku bangkit dari kelemahan ketika aku di ruang ICU kelas biasa sedang berdiri untuk memakai walker. Aku mendapati napasku yang sulit. Aku berusaha menggunakan mulut untuk bernapas.
Kakiku masih gemetar. Orang-orang yang melihatku menyemangatiku di luar untuk memeberikan dukungan kepadaku supaya aku bisa hidup sehat dan menerima ujian hidup ini. Aku membayangkan jika aku bisa berjalan dan mempunyai anak, pergi tamasya bersama anak dan suamiku. Saat aku mengalihkan pikiranku, namun suamiku sudah menatapku di depan.
Ibu dan suster memapahku, Audrey mncium keningku dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Aku mencoba menggerakan kakiku sedikit demi sedikit. Tapi setidaknya aku bisa berjalan walau harus perlahan-lahan, sulit bagi Audrey melihatku yang kelelahan. Aku berjalan dan Audrey mengambil kursi elektrik yang di dekatku, walker di pegang ibu angkatku.
Aku sudah pernah mengalami kesulitan seperti ini. Menyusahkan ... dan menyedihkan. Aku membayangkan lagi apakah aku bisa berhasil transpaltasi jantung atau bisa berjalan dan membawa anak-anakku pergi ke pantai. Aku meneteskan air mata sementara Audrey mendorongku ke ruang terapi.
Ketika sampai di ruang terapi. Audrey memegang tanganku, memuta bola matanya, dan menarik napas dalam-dalam. Ia berbicara kepadaku.
"Aku minta maaf kemungkinan oprasinya akan berhasil namun kamu bisa bertahan atau tidak?" tanyanya dengan mendesah. Ia kelihatannya tak sanggup tadi melihatku gemetaran.
"Serahkan semuanya ke Allah, kita ikhtiar In Syaa Allah berhasil oprasi jantungnya." Aku menenangkan Audrey. Semua orang di ruang terapi adalah semangatku untuk terus hidup selama oprasi jantung.
"Bukan itu, maksudku apakah kau yakin bisa oprasi sesar karena kemungkinannya sangat kecil melihat kondisimu yang lemah." Mata Audrey meneteskan air mata.
Aku mencoba mataku tetap bisa melihat. "Aku akan menjaga jantungku berdetak selama proses progam bayi tabung, saat masa kehamilan, dan saat oprasi sesar," janjiku.
POV Audrey
"Rita, sadarlah. Apa kamu bisa melihatku." ucapku panik. Aku menggendong Rita menuju ruang ICU Khusus cardiovascullar. Aku tak bisa membuat Rita menderita jika dia belum sadar.
"Audrey, jangan membuat impianku sirna." Rita memegang dadanya dan aku membuka pintu ICU. Rekan-rekanku menolongku di ICU, tetapi Rita masih kejang-kejang. Aku memasangkan oksigen, steven memasangkan kabel ECG dan ECT, suster memasangkan slang infus. Aku melakukan CPR, namun hasilnya gagal. Ku coba nyalakan pacu jantung, dan menyetrum dada Rita. Monitor ECG menunjukkan jantung Rita berdetak.
"Kau suami yang sigap, Audrey." Steven menepuk pundakku. Sambil mengompres Rita, aku mencium dan memanggil namanya.
"Kumohon, ayolah Rita Bangun. Kamu janji akan bersamaku. Jika kamu sembuh kita akan ke kebun binatang." Kami berempat mengecek kondisi Rita, sementara Rita masih belum membuka matanya.
"Apakah Rita bisa melahirkan dengan selamat?"
"Aku tidak bisa meyakinkan, Audrey. Kondisi Rita sangat sulit untuk melahirkan."
"Aku mohon, selamatkan istriku. Panggil dokter kandungan untuk sesar itu saja."
Saat aku mengobrol Rita membuka matanya. Aku melepas ventilator di mulutnya dan memasangkan ventilator khusus di lehernya.
"Rita, kumohon kau harus hidup di saat kehamilanmu berusia delapan bulan. Aku sudah menelepon rekanku." Aku meninggalkan Rita tak tahan melihatnya selemah ini.
"Maafkan aku yang egois," Suara Rita parau dan terbata-bata, tubuhnya kejang-kejang. Sambil memijat kaki Rita aku menyetelkan murotal. Ia memandangku dan mengetahui aku menangis. Aku mendesah. kelihatannya aku begitu rapuh. Tidak bisa menyembunyikan kesedihanku di saat "Kesehatan" Rita yang belum stabil.
Suatu hari nanti aku akan ajak kamu jalan-jalan. Dua jam telah berlalu melewati masa krisis, aku berhasil membuat Rita sadar kembali.
"Kamu menangis karena aku. Aku sudah bisa menebak ketika kamu melihatku berjalan kamu menahan air mata dan mencari kata-kata." Kupandangi wajah Rita dan mengelap air mataku yang mengalir. Aku bergegas keluar, ke depan ICU, terduduk lemas dan aku tak bisa menahan tangisanku. Sambil menutup wajahku, aku melihat hasil rongent yang kirim steven ke hapeku. Aku berdir dan berjalan menuju ruang kerjaku. Beberapa hari saja, aku sudah stress karena keadaan Rita yang tidak menentu. Aku membuka pintu dan berjalan ke ruang tempat Rita di rawat, saat aku masuk Rita kembali kejang-kejang dan muntah darah. Aku memakaikan masker oksigen dan menyuntikkan morfin.
"Kau mau di rawat di rumah?" tanyaku dengan lembut kepada Rita.
"Ya, aku mau di rumah bersamamu," jawabnya. Dia mengedipkan matanya, dan meringis kesakitan. "Semoga kamu dapat biaya untuk oprasiku," katanya ketika aku mengompres keningnya yang panas. "Barang kali aku akan sukses menghadapi oprasiku." Ia berharap.
Aku membacakan Novel Romeo and Juliet kesukaannya. Ku bacakan bagian Romeo. But soft, what light through yonder window breaks? It is the east, and Juliet is the sun. (II.ii.) . "Terima kasih telah membacakan novel Romeo dan Juliet," katanya dengan suara parau.
"Jadi, setelah kamu bisa berjalan maukah pergi ke pasar bersama-sama?"tanyaku.
"Tentu."
"Bisakah kau menunda proses kehamilan demi kesehatan jantungmu?"
"Itu aku tidak bisa, aku ingin kita berdua memiliki anak."
"Kalau proses bayi tabungnya menunggu kamu sehat kembali bagaimana?"
"setuju," ujarnya.
"Kau masih tampak lemas dan belum sehat sekarang."
"Walaupun aku lemah namun aku akan tetap berusaha belajar berjalan. Meski dirimu mencegahku."
Ia masih belum sembuh betul, dan aku mengecek suhu tubuhnya. Aku mencari kata-kata yang tepat untuk membuat Rita menghentikan program bayi tabung.
"Rista Rika, apakah kau tega meninggalkanku bersama anakmu?" aku menanyakan pertanyaan yang membuat Rita tidak berkata apa-apa. Namun, ada sesuatu yang ingin di omongkannya saat aku belum mengajukan pertanyaan.
"Maafkan aku. Aku bersikap egois tidak mementingkan perasaanmu. Atau begini saja kau membiusku supaya aku tidak merasakan sakit saat proses bayi tabung." Tatapan Rita melekat padaku.
Aku tersenyum sinis. "Jika rekanku bisa mempertahankan jantungmu berdetak aku akan meneruskan program bayi tabung. Dan membiarkanmu mempunyai dua anak. Tapi kalau dia gagal aku akan menghentikan proses bayi tabung." Aku keluar ruangan dengan keadaan marah, karena istriku tidak mau menuruti perkataanku. Ia terlalu keras kepala mempertahankan proses bayi tabung. Aku berjalan menuju ke ruang kerjaku. Aku lemas sekali, tak yakin apa yang di inginkan oleh Rita. "Harusnya aku sadar, perkataanku tidak di dengar oleh istriku. Harusnya aku mendapatkan donor jantung dengan cepat," gumamku saat melewati ruang ICU biasa. Stevan menemuiku, dia berjalan di belakangku dan menepuk pundakku.
"aku akan telepon profesor Ahmed, yang kerja di rumah sakit dubai," katanya ketika aku menangis. "Barangkali profesor Ahmed bisa menangani kasus Rita." Ia berharap.
Aku menghapus air mataku dan menuju ke kantorku untuk ke dua kalinya. Aku membuka laptop dan mencari jalan keluar apakah bisa di oprasi jika si penderita memiliki seizure.
Hamil dengan Epilepsi, Benarkah Berisiko?
Bukan tidak mungkin epilepsi membuat ibu lebih sulit untuk mendapatkan kehamilan. Inilah mengapa ibu epilepsi memiliki lebih sedikit anak dibandingkan dengan ibu sehat. Tingkat kesuburan ibu epilepsi setidaknya 25 hingga 35 persen lebih rendah. Mengapa demikian? Ini beberapa alasan yang mungkin:
Ibu dengan epilepsi memiliki kondisi yang lebih tinggi yang menyebabkan infertilitas. Salah satunya adalah (PCOS).Ibu dengan epilepsi lebih cenderung memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur, yang dapat membuatnya lebih sulit hamil.Ibu dengan epilepsi cenderung memiliki siklus menstruasi yang tidak menghasilkan sel telur atau disebut anovulasi.Beberapa obat antikejang dapat memengaruhi hormon di rahim, yang juga memengaruhi fungsi reproduksi.Ibu dengan epilepsi lebih cenderung memiliki kelainan pada hormon yang terlibat dalam kehamilan.
Jika kejang ibu tidak terkendali, kesuburan juga berpengaruh. Apabila seorang wanita mengalami kejang di sekitar tubuh ketika siap berovulasi, mereka dapat mengganggu sinyal yang membuat proses tersebut terjadi. Setelah hamil, lebih penting bagi ibu untuk mengendalikan kejang.
Pasalnya, kejang atau epilepsi saat dapat berpengaruh pada kesehatan bayi. Ibu bisa saja terjatuh, atau bisa juga bayi mengalami kekurangan oksigen selama ibu kejang, dan kondisi ini dapat melukai bayi dan meningkatkan risiko keguguran atau kelahiran mati.
"itu begitu rumit, semoga saja epilepsi Rita sudah tidak kambuh lagi." Selesai mencari di file kiriman rekanku, aku ketempat rita di mana ia berbaring lemah. Aku membeli minum di kantin dan kubuka botol itu. Rasanya segar setelah kerja di kantor tanpa istirahat. Aku meneguk ludah. Kupandangi jam, tak terasa sudah jam dua siang. Aku bayar minuman dan menuju ke ruang ICU, ku masuk dan melihat Rita yang pucat dengan kerudung terbaring lemas di lehernya di pasang slang oksigen. Syukur ku cek rekaman rongen kepala Rita sudah sembuh karena Rita mengaji dan mendengarkan murotal.
Sisa air minum kuhabiskan dan aku keluar sebentar. Saat aku masuk Rita tiba-tiba melirik ke kiri, mulutnya mengecap seperti orang mengunyah, matanya kedutan. Ku telepon rekanku untuk mengecek kesuburan Rita. Rekanku berbicara di telepon, kesuburannya dilihat sekitar empat minggu. Tangan dan kaki Rita bergerak dan kaku. Aku mengompres keningnya dan ku gerakkan tangan dan kakinya. Aku menghembuskan napas, wajahku penuh keringat saat memberikan bubur ke slang yang di mulut.
Setelah 2 obat sudah di suntikkan ke infusnya, aku menelepon steven. Aku mencari huruf di ponselku. Steven mengangkat nomerku. "Aku bisa minta izin, supaya istriku di bawa ke rumah saja?" tanyaku. "Oh, terima kasih." Ku masukan ponsel ke sakuku. Aku sudah memasang head set dan menyetel murotal Rita masih saja epilepsi. Matanya kedip-kedip tanpa henti, mulutnya menganga lebar, kaki dan tangannya bergerak-gerak. Ku sedot liurnya melalui slang di leher dan ku pasang kembali. Selalu ada keajaiban saat aku menemani Rita. Rita sudah tidak kejang-kejang, dan dia mulai berbicara.
"Mas, Audrey sudah lama di sini?" tanyanya dengan suara parau. Rita hanya berbicara sedikit saja. "Sayang, nanti kita pulang ke rumahku ya!" ajak aku.
"Iya, mas." Aku sudah terbiasa melihat orang sakit yang setiap hari menjadi pemandangan saat aku bekerja, namun melihat istriku yang setiap kali epilepsi membuatku sedih dan bersalah. Aku mencoba mengalah, tapi secara keseluruhan aku tak bisa membiarkan istriku melukai dirinya sendiri demi mendapatkan keturunan. Telepon bergetar, aku keluar dan menerimanya.
"Halo, Okta. Apa istriku tidak boleh pulang?" aku kaget ketika Okta rekan kerjaku di bagian jantung mengatakan kesehatan Rita belum stabil. Setidaknya itu telah membuatku tenang, jika aku terlambat aku akan bermasalah dengan Okta karena membantah dia. Seorang suster masuk ruangan ICU, dia mencabut slang-slang yang terpasang dan membawa Rita pergi.
"Saya akan pindahkan Rita ke ruang VVIP, karena dia sudah tidak perlu pakai semua ini hanya jika kondisinya masih kritis." Aku mengikuti suster membawa ke kamar Anggrek Ruang VVIP. Saat sampai ruang VVIP, aku memakaikan sweter hangat ke tubuh Rita meski sudah memakai baju rumah sakit. Cuaca di jakarta sekarang dingin, hujan turun jam satu siang.
"kurasa kamu belum tidur dari tadi siang. Aku akan menemanimu di sini." Rita memegang tanganku. Aku terdiam, karena kaget Rita tiba-tiba memegang tanganku. "Aku mohon, kalau ibu kandungku menemuiku jangan biarkan dia masuk. Itu akan membuatku sakit dan merepotkan ibu angkatku." Suara Rita parau dan lemah. "Rita akan aku bilang ke ibumu dan untuk pulang ke rumah menunggu kondisimu sehat," janjiku dan mengecup kening Rita. Aku menuju ke ruang ayah angkat Rita dirawat di ruang ICU ruang bawah. Aku berjalan menuju ruang lift dan menekan tombol 1. Aku sudah berada di lantai bawah dan menuju tempat ayah angkat Rita. Hari ini aku tugas jaga pasien. Saat aku masuk, aku melihat ibu angkat Rita sedang mengompres dan memijat tangan suaminya. Wanita itu menunduk saat melihatku. Di sanalah, duduk menemani suaminya, ketika aku masuk dan mengecek ECG dan slang infus. Aku mencari kata yang tepat supaya tidak keceplosan berbicara.
"Stem Cell transpalant sudah ada, bisa tolong Pak Yudi di bawa ke ruang terapi." Mungkin aku seharusnya berkata jujur, tapi aku takut membuat Rita sedih melihat Ayahnya kambuh lagi. Tangan Pak Yudi keras dan membentuk cakar ayam. Aku mengantarkan pak Yudi ke ruang terapi, saat di depan ku serahkan Pak Yudi ke dokter steven dan suster. Di ruang bersih, aku melihat tangan pak Yudi mengepal dan kakinya kaku sekali. Kaki pak Yudi juga mengepal, saat pak yudi akan di gantikan pakaian oleh istrinya, suster Steven menutup korden. Saat korden sudah di buka, mereka mencabut oksigen namun tiba-tiba pak Yudi tremor. Aku masuk dan membantu rekanku, aku menyuntikkan obat bius dan memasang stem cell tranplant. dari monitor ECG, kelihatan paru-paru dan jantung pak Yudi agak lemah. Di dada pak Yudi di pasang slang yang berisi cairan stem cell trasnplant. Pak yudi sudah tidak tremor dan dia tidur tanpa gemetaran. Tapi bukan ini yang membuatku masih tertekan.
Aku menuju ke luar dan mencuci tanganku, menuju ke ruang donor dan menanyakan donor buat Rita dan Pak Yudi sudah ada atau belum. Ada seorang suster berbaju biru yang berjaga di ruang donor. Dia senyum dan berbicara kepadaku.
"Mau mencari apa, dok?" tanyanya. "Aku ingin mencari donor jantung dan paru-paru untuk Pak Yudi dan Rita. Tepat pukul setengah empat sore, aku menuju ke kantorku dan masuk ruangan. Di Rumah sakit khusus aku kerja jaga shift malam atau pagi. Seorang suster masuk dan menyerahkan ruang kerja.
POV Rita
Aku menulis diaryku. Mengeluarkan pulpen. Terima kasih Allah, telah memberiku kebahagiaan di saat aku di telantarkan oleh ibu kandungku. Mereka semua adalah semangat hidupku. Padahal aku berharap penyakitku sembuh ketika mereka mengadopsiku, di saat itu ujian datang dan aku kritis. Mereka mempunyai sepupunya, tante Ami setiap aku sakit selalu menjengukku. Bahkan jam setengah empat tadi dia membelikan kaus kaki. Tubuhnya indah, memakai gaun gamis warna pink dengan bunga sakura, sosok yang membuat setiap orang melihatnya begitu tenang seakan ada bidadari penenang di hidupku. Dia membawa anaknya , gadis bertumbuh pendek rambutnya keriting dan terdapat bendo bunga di kepalanya. Saat aku mau tidur, Audrey sudah membuka pintu.
"Ini di makan dulu buburnya," Audrey mengecek denyut nadiku. "Jantungmu sudah pulih, kamu butuh makanan sehat untuk kesehatan jantung dan otakmu." Namun toh percuma saja Audrey berkata begitu, yang membuatku bahagia mempunyai dua anak dan menghilangkan kesedihanku. Mata audrey basah, aku tahu mungkin Audrey keluar supaya aku tidak sedih dan penyakitku kambuh makanya keluar sebentar. Seolah-olah aku ini hanya dianggapnya patung yang terbuat dari kaca. Terlepas dari emosiku, sekarang aku merasa lega dan bisa tidur.
Tapi bukan masalah ini yang membuatku sedih. Aku tak ingin menyusahkan Ayah Yudi dan Ibu Angkatku. Aku memandangi wajah Audrey yang berwarna putih, namun aku ingin menanyakan tentang keadaan ayah angkatku. Pikiran itu aku hilangkan dan aku membuka buku novel Romeo dan juliet. "These violent delights have violent ends And in their triump die, like fire and powderWhich, as they kiss, consume"― William Shakespeare, Itu kata-kata yang ku ingat saat melihat wajah ibuku yang tega menyiksa ku dan membuat Audrey terpukul karena ibuku memaksanya untuk menikahi wanita yang cacat , berbeda dengan orang tua angkatku. Mereka semua adalah malaikat tanpa sayap, kecuali ibuku yang tak pernah menceritakan di mana ayah kandungku. Atau menceritakan bagaimana keadaan nenek kandungku. Sulit memutuskan untuk membenci ibuku, jika membencinya membuat dadaku seperti ditusuk pisau. Ketika aku berpikir, ada yang aneh dengan diriku. Tidak mungkin hanya penyakit epilepsi dan jantung saja. Setiap detik aku tiba-tiba tremor dan epilepsi juga kambuh. Ketika aku tidur, suster bertubuh gemuh dengan pakaian biru masuk ke ruang dan mengecek kondisiku. Gerakannya sangat hati-hati ketika memberikan aku vitamin ke slang yang terpasang di tenggorokanku. Aku melihat Audrey yang memijat kakiku dan menutup slang yang di tenggorokan. Ternyata aku masih susah menelan makanan dan vitamin. Mataku tertuju ke Audrey, yang sedang mengompresku.
"Kamu sudah janjikan, mau menceritakan apa yang membuatmu sedih." Aku memegang tangan Audrey dengan tanganku yang lemah. Ketika ia memegang tanganku--meskipun dia belum mau berbicara denganku--tiba-tiba ia duduk dan menetskan air matanya menets ke pipinya.
"jantung dan paru-parumu melemah, jadi aku belum bisa menempati janjiku." Ia memberikan sebuah laptop khusus untukku, aku tau setelah aku memiliki anak aku tak bisa apa-apa. Sekarang saja aku lambat dalam berkata. Ia menancapkan kabel sensorik ke kepala dan wajahku yang terhubung ke laptop.
"Aku ingin hidup dan bersamamu selamanya," kataku di laptop khusus penderita syaraf. Ia mengecup keningku dan menyuntikkan obat supaya aku tidak kejang-kejang. Sekilas wajah Audrey menunjukkan bahwa ia letih dan sedih karena belum menemukan yang ia cari. Namun seperinya, usahaku untuk menenangkan Audrey sia-sia.
"Kau tau tidak program hamil bisa membuat jantungmu tidak berdetak, jika dosis obat epilepsi tidak di pakai itu juga membuat jantung atau janinmu tidak bergerak." Air mata Audrey menetes deras, ia mengelap air matanya. Aku berusaha menggerakan tanganku dan menghapus air matanya. Tanganku gemetaran dan dadaku sakit.
"Aku mohon biarkan aku tidak meminum obat epilepsi, demi janinku. Dan jangan kasih aku morfin." Ia mendesah. Saat itu orang tua angkatku datang dan menjengukku.
__ADS_1
"Rita, kenapa kamu tidak bilang sama Ayah dan Ibu?" tanyanya, Ayah Yudi duduk di kursi roda. "Aku tidak ingin membuat Ayah dan Ibu sedih," kataku di laptop. Namun aku merasa sedih karena melihat Ayah dan Ibu angkatku datang ketika kondisiku melemah saat ini.
"Kau harus sembuh, aku datang untuk memberimu semangat." Maaf Yah, kamu harus melihatku seperti ini, pikirku. Semoga nanti malam aku tidak kritis, karena tidak memakan obat epilepsi dan morfin. Aku akhirnya bisa membuat mereka menjadi tersenyum. "Aku akan kuat meski tidak minum obat epilepsi dan morfin. Ayah kembali ke ruang terapi saja." Di rumahku, Ayah dan ibu angkatku yang membuatku semangat hidup, sekarang giliranku untuk membuat Ayah Yudi harus sehat dan bisa membeli obat terapi yang harganya mahal. Kedua orang tua angkatku ke luar dan meninggalkan aku.
"Ja-ngan... ka-sih... tau... me-re-ka... ka-lau... a-ku... mem-per-ta-ruh-kan... nya-wa-ku." Dengan susah payah aku membujuk Audrey supaya merahasiakan program kehamilanku. "Kau istirahat ya." Audrey menelan ludah setelah menyuruhku istirahat. "Kau harus kuat menahan sakitmu. Kalau kau tidak bisa menahan sakit, terpaksa kami mengobati dengan morfin." Audrey menggunakan kata jamak untuk rekan medisnya. Tapi kalau aku koma, pasti Audrey memberitahukan orang tua angkatku dan membujuk mereka untuk memintaku tidak memiliki anak. "Asal ada kamu disini aku tidak akan takut saat bangun tidur," ucapku di laptop. "Aku sudah tahu kamu menyembunyikan sesuatu darikukan."
"Maaf ini demi kesehatanmu, aku tidak ingin kamu kritis."
"Aku sudah tahu penyakitku mungkin parah. Tapi kumohon jangan pasang wajah sedih dadaku sakit ketika kamu menangis karena aku."
"Besok aku akan membelikan obat hormon untukmu. Kau harus tidur dan banyak makan makanan bergizi."
"Demam Anda naik-turun, Nona." Seorang suster memberiku vitamin dengan di suntikkan ke infus. Suster meninggalkan kami berdua dan menutup pintu.
"Mereka adalah keluarga yang baik sekali. Aku tidak ingin sampai Ayah Yudi kambuh atau sedih. Kau tahukan penyakitku kambuh saat stress atau sedih."
"Steven bilang, paru-parumu mengalami pneumia karena jantungmu yang bocor.," ujarnya sambil tersenyum palsu. Dari cara berkatanya dia sedang menyembunyikan hasil lab otakku atau sarafku, namun hasil itu belum pasti. Aku mengenal Audrey tidak bisa berbohong persis aku tidak bisa berkata bohong. Untung kami punya kesamaan. "Kurasa kau harus istirahat, kau kejang-kejang dan kaku." Audrey memasangkan headset ke telingaku, aku tidur meski tidurku tidak nyenyak. Ya Allah apakah penyakitku ALS atau stiff person syndrome atau epilepsi atau bartonella atau lyme disease?
"Pah, aku mau muntah." Tiba-tiba aku tak bisa menahan muntahku, maaf beginilah kondisiku. Audrey mengelap mulutku. Sepanjang aku di rawat di ICU, penyakitku tidak seperti ini. Audrey memasangkan slang ke leherku supaya aku bisa bernafas. Aku masih kesulitan bernapas, tapi bisa mendengar suster dan yang lain membuka pintu. Dalam keadaanku yang kritis pandanganku buram, dan mendengar suara yang membuatku untuk hidup--suara merdu suamiku. Mereka berkata kalau sebentar lagi aku tiba di ICU.
"Apakah kau sakit, Rika?" tanya Audrey. Sistem kekebalan tubuhku sedang menurun. Aku sudah terbiasa dengan kondisiku yang tidak menentu. Ntah tubuhku sedang kejang-kejang dan mungkin Audrey sedang menyedot air liurku dan suster sedang memberi obat epilepsi dengan dosis rendah.
Aku membuka mataku dan Audrey tidur di sampingku. "Sudah... berapa hari aku tertidur?" tanyaku dengan lemas. "Baru 10 jam kamu tertidur karena koma." Audrey membantuku duduk. Aku merasa pusing di mataku terlihat agak buram, sekaligus tanganku masih kaku. Buram dan tidak jelas ntah kenapa? semenjak epilepsi dan tremorku kambuh setiap saat. Audrey sedang mengobrol di telepon. Setelah itu dia menyuntikkan obat hormon ke tubuhku. Saat aku mendengar murotal dadaku sakit dan tiba-tiba gelap. Audrey maafkan aku, jika aku tidak selemah ini mungkin aku akan tahan dengan obat hormon, pikirku. Dan saat aku bisa melihat lagi, Audrey mengompresku. Rasanya ujian hidupku begitu berat, aku tidak bisa melihat orang sakit karena penyakitku. Sekarang sudah malam, tapi aku masih tremor. Sakit sekali dengan keadaan seperti ini, tubuhku tidak bisa di atur oleh otakku.
Saat aku memejamkan mata, kejang-kejang yang kecil menyerang tubuhku, salah satunya kepalaku bergerak tanpa sadar, tubuhku berguncang-guncang ketika aku tidur. Ini yang sekarang membuatku sulit berjalan dan leherku mati rasa. kadang-kadang kelalahan seperti ini. Audrey memijatku dan mengompresku. Aku membuka mulut dan mencoba bernapas, sementara Audrey menyedot liurku yang mengumpul di selang. Ini sudah menjadi makanan sehari-hari bila waktu malam tiba tubuhku tiba-tiba tersentak tanpa sengaja dan membuatku kelelahan. Ketika pelan-pelan aku bernapas, Audrey menangis.
"M-M-M-M-M," sulit sekali untuk berbicara, tak tahan menahan air mata karena kepalaku juga tersentak dan bergerak tanpa perintahku. "Sayang, kamu harus kuat." Audrey mencabut selang di leher dan memasangkan masker oksigen ke wajahku. Setiap jam aku merasa, geli, tremor, dan lelah. Ayah kandung, tolong aku. Aku kesakitan, aku sudah SMS ibu tapi tidak di jawab.
"Rita, aku disini kamu tidak sendirian." Suara merdu itu, Audrey tolong aku. Dadaku sakit dan aku letih.
"Dok, jantung dan paru-parunya kritis."
"Sus, sedot air liurnya." Aku mau muntah dan lemas.
"Pasang Stem cell transplant. Ini untuk pencegahan Sus."
Aku mencoba bernapas disela-sela penyakitku kambuh, dan masih saja setiap jam tremorku kambuh, tapi tidak begitu parah seperti tadi. Namun saat ini ototku geli seperti di dalam ada sejenis elektrik dan kemudian tubuhku mulai menyentak atau berguncang, itu seperti berbelit-belit. Rasanya air mataku tidak bisa berhenti menetes, aku sedih bila orang tua angkatku tau aku kambuh karena tidak meminum obat. Aku harus berhenti berguncang, supaya mereka tidak sedih ketika menjengukku.
"Syukurlah, denyut nadimu dan paru-parumu sudah normal kembali." Audrey menangis melihatku siuman dari masa kritis. Aku membayangkan pergi ke pesta bersama Audrey di saat aku masih lemas seperti ini. Aku memegang ranjang rumah sakit untuk menahan sesak napas. Lalu aku tersenyum untuk memastikan aku sudah sembuh dari masa kritisku. Meskipun sentakan itu masih ada, itu tidak akan membuatku sedih.
"Maaf badanku seperti ini," ucapku di laptop.
"Maafkan aku juga, tidak bisa menghentikan kejang-kejangmu." Ia sudah memijatku ketika meminta maaf kepadaku, tapi rasanya aku merasa sedih karena menikah dalam keadaan cacat seperti ini, seakan-akan aku memaksa Audrey untuk menikah. Beberapa menit kemudian Audrey dan suster meninggalkanku. Tak diragukan lagi mereka membicarakan kesehatanku--bahkan aku tidak boleh mengetahui keadaanku dan duduk di taman. Aku kecewa kenapa Audrey menyembunyikan penyakitku. Yang membuatku stress, harus tertidur di ICU dan badanku terasa berat tidak bisa di gerakkan.
Audrey membuka pintu dan berjalan ke arahku. "Jangan cemas dengan tangannmu yang gemetar." Audrey mungkin melihatku menangis karena tanganku tremor atau istilahnya movement disorder. "Aku... masih... ingat... ini... jam dua... belas malam... dan hari ini... musim hujan." Aku menggigil, suaraku melambat. "Aku mungkin di sihir sama orang yang tidak menyukaiku." Aku menduga-duga. "Jangan Suudzon, Rita. Ini bukan sihir." Kecup Audey di keningku, ia mengompres aku.
"Ke-mam-pu-an-ber-bi-cara-ku... ter-se-rang-oleh... penyakitku..." Susah payah aku berbicara dengan keadaanku yang gemetar dan lelah karena sulit untuk bernafas. Ini mulai untuk naik sedikit-dikit.
"huft... huft... huft." Aku mencoba bernapas. Penyakit langkaku menyerang sistem neurogical dan membuat susah berjalan saat berlatih tadi pagi. Namun hasilnya nihi, sekarang jantungku mendesak rusuk dan membuat dadaku sakit.
"Dok, jantung Nona Rita Kritis lagi. Paru-parunya juga kritis." Ucap Suster yang memeriksaku.
"Kondisinya masih melemah. Kita butuh obat kejang dan jantung yang dosis rendah."
"Rita, kamu harus kuat sayang," Audrey mengelap keringat yang di keningku dan mengupas Apel. Ia menyuapkan sepotong apel yang sudah di potong kecil-kecil.
"Saya rasa kaki dan tangan Nona Rita membengkak tuan, kalau proses bayi tabung di teruskan nyawa Nona Rita terancam, " Ujar Suster, dan dia kelihatan sedang menyedot liurku yang di slang oksigen yang terpasang di leherku. "Saya rasa Nona Rita, harus di minumkan obat tidur."
"Apakah keadanku memburuk, mas?" tanyaku. Aku tidak bisa mengontrol hentakan tubuhku dan sekarang badanku terasa panas.
"Keadaanmu agak memburuk, sayang," kata Audrey, nadanya mengindikasikan bahwa penyakitku tiba-tiba kambuh, bahkan membuat aku sulit tidur. "Kulitmu berwarna biru, karena kondisimu yang lemah dan rapuh."
Saat aku tidur, yang buat aku kesakitan adalah dadaku yang sakit, membuatku kejang-kejang, Audrey mengompres dadaku dengan diletakkan buli-buli panas ke tubuhku yang tertutup baju tidurku. Ketika pelan-pelan aku menarik napas, rasa amis kelurdari mulutku saat aku batuk.
"Mas tidak pergi tidur?" tanyaku. Air mataku mulai menetes ketika suamiku menyuapkan minuman dengan selang, ia masih menemaniku, dan ia masih menjagaku di ruang ICU, tapi tidak berhenti sedikitpun--ekspresinya sedikit cemas dan sedih.
Aku kembali memejamkan mata.
"Aku tugas malam hari ini dan sudah izin ke Steven kalau aku ingin merawatmu." Audrey mendesah, sikapnya sangat mencurigakan belakangan ini. Aku membayangkan kapan aku bisa mengelus kepala suamiku. Aku memandang wajah Audrey saat dia tidur di sampingku dengan kursi. Aku tidak ingin membuatnya merasa sedih karena kondisiku yang kritis. Salah satu suster yang tadi memeriksaku masuk membuka pintu dan menuju ke arahku, ia membersihkan air liur di mulutku. Ia mengubah tetesan infus menjadi sedikit. Audrey terbangun dan melihat rekaman medisku.
Tapi apa pendapat Audrey --terutama setelah melihat hasil medisku yang ia lihat sekarang ini?
Ketika kami berhadapan, Audrey langsung mengelap air mata yang membasahi pipinya, nyaris saja aku kambuh ketika melihat Audrey menangis. Ia sudah kembali tersenyum walau senyuman itu hanya senyuman palsu. Malah sebenarnya, senyuman itu masih membuat jantungku mendesak rusuk dan membuat dadaku semakin sakit.
Tubuhku tiba-tiba tersentak dan aku langsung menutup mataku untuk menahan dadaku yang sakit.
"Audrey, jangan membuatku sedih. Kumohon demi aku."
Audrey memegang tanganku dan menarik napas dalam-dalam. "Bila kau tak mau menunda program bayi tabung sampai kondisimu membaik, aku tak mau punya anak. Dan, aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini." Audrey melepaskan tangannya yang memegang tanganku, memperlihatkan wajahnya yang tertekan karena melihat aku yang tak bisa berhenti kejang-kejang. "Sungguh sayang, karena kondisimu yang memburuk niatku untuk mengajakmu ke museum bahari tertunda karena kondisimu sekarang memburuk. Pikirku kalau kau boleh pulang dan sehat aku akan mengajakmu liburan."
Aku menatap suamiku yang di sampingku, kehilangan kata-kata untuk merayu Audrey istirahat sambil membayangkan Aku berada di rumah bersama Audrey. Di sampingku, aku melihat Audrey terlihat muram dan mengenal wajahnya yang sedih, dari wajahnya yang tidak secerah kemarin, ia kelihatan sedang dilema karena aku belum berbicara tentang bayi tabung.
Saat aku memegang tangannya dan menyuruhnya duduk di sebelahku, Audrey melepaskan tanganku. Ketika aku melihatnya, ia membuang mukanya dan tidak melihatku. Ia duduk di samping ku lagi dengan sepasang mata yang basah. Bergegas aku mengetik laptop.
"Aku akan menyetujui untuk menunda suntik hormon, dan di lanjutkan saat kondisiku sudah membaik," tulisku di laptop. Karena Audrey tidak berbicara, aku terpaksa menurutinya. Audrey juga sudah menuruti keinginanku untuk mempunyai anak. Aku tersedak ludah dan nyaris pingsan hingga monitor ECG berbunyi tidak normal. suster yang masih mengecek aku, kembali menyedot obat dari botol dengan jarum suntik dan mensuntikan ke slang infus. Aku dengar suaranya, namun saat mendengarkan suara suster aku masih kesakitan karena dadaku sakit dan sesak nafas. Audrey menyapu kan tangannya di kening dan leher ku.
"Suhu mu panas lagi, kau mau aku mengambilkan minum.?" Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Audrey. Tubuhku kembali menggigil dan aku cemas, tanganku mulai bergunjang atau tremor. Audrey berjalan, duduk di kasur, dan mengelus kepalaku.
"tubuhnya gemetar, sus ambil kan selimut tebal di kursi." Audrey maafkan aku, pikir ku dengan tubuh tremor. Steven dan rekannya membuka pintu, saat tubuhku tidak bergetar lagi.
"Jantungnya lemah, apakah kau sudah memohon Rita untuk menunda program bayi tabung?" tanya Steven. "Dia sudah mau menuruti ku. Dan menunggu sampai kondisinya pulih," jawab Audrey dengan wajah bahagianya bibirnya menyungging penuh kebahagiaan. Aku bangun dan menyambung obrolan steven dan Audrey
"Aku sudah menuruti perkataan Audrey. Jadi tenang saja, jangan cemas ste..,," tidak tau kenapa tiba-tiba aku sulit berbicara dan napasku tersentak. Saat aku sesak napas Audrey langsung mengelus punggungku dan memijat punggungku.
POV Audrey
Rita sepertinya kejang-kejang, punggungnya melengkung di atas ranjang ICU.
"Aku cuma sesak," Kata Rita terengah-engah, "Ini tidak parah," Bibir Rita Pucat, dan Ia memegang ranjang kuat-kuat seperti berusaha menahan sakit untuk tidak teriak, Aku mengelus kepala Rita dengan kedua tanganku.
"Steven, Rita kenapa?" tanyaku dengan cemas. "syaraf otaknya yang putus, membuat dia kejang-kejang," jawab Steven dengan menyuntikkan morfin di infus Rita. "Ototku," ujar Rita, napasnya napasnya terengah-engah dan pendek. "Ini cuma serangan kecil yang terjadi di ototku. ototku di serang dan aku merasakan geli di ototku." Tubuhnya yang rapuh membuatnya mudah kritis, tapi perjuangannya melawan penyakit membuatku kagum.
"Kurasa kamu tidak kejang-kejang lagi, setelah minum obat epilepsi." Aku bersyukur Rita bisa melalui masa kritisnya. Steven memeriksa EEC Rita, dia membuka dan menyenter mata Rita. Bisa kukatan steven ahli penyakit neurogical yang handal, kami ketemu di Universitas saat bertugas. Tentu saja dia bisa mendeteksi seseorang melalui pupil dan bola mata seseorang, gerakan seorang bila di pukul, dan di sentuh. Aku memegang tangan Rita, ketika ia sedang tertidur pulas dengan tubuhnya yang kurus dan di pasang alat medis. Sulit sekali membujuk Rita, nada memohonnya yang ia Gunakan ketika kondisinya kritis tadi yang menggambarkan bahwa penyakitnya sudah menjadi makanan setiap harinya atau vitamin semangat hidup.
Tapi bodohnya diriku saat mengecek kondisinya yang masih lemah saat ini, sesuatu yang membuatku tak bisa berpikir logis. Meski begitu aku tetap memeriksa jantung Rita dan mengecek layar monitor ECG bila keadaan darurat atau pun sedang normal.
Aku tak bisa tidur dan sesekali aku terbangun meski Steven bilang kejang-kejangnya tidak membuat keadaannya semakin memburuk. Sepanjang tidur malam, Rita tak pernah tidur pulas, badannya tidak bisa diam karena tiba-tiba tersentak dan kejang-kejang. Aku mengompres kepalanya yang panas dan menyedot air liurnya supaya dia bisa bernapas.
"Tanganku bergeraklah, bergeraklah. Kenapa seluruh badanku lemas?" Rita meneteskan air mata dan tubuhnya melengkung ketika matanya fokus pada tangannya yang kaku. "Rita, sayang. Istifar... aku di sini. Tarik napas pelan-pelan." Aku teringat Rita ketika belajar jalan saat usianya delapan belas tahun dia mengatakan. "Aku belajar jalan supaya aku bisa membantu ibu angkatku berjualan makanan di rumah makan yang sederhana." Rita mengucapkan sambil memejamkan mata dan menyunggingkan bibirnya. Untuk yang satu ini, aku tidak akan mengizinkannya belajar jalan. Kondisi jantung dan paru-paru nya kritis. Kaus kakinya yang tebal sampai berlapis-lapis, karena dia menggigil dan kejang-kejang. Ia tidak pernah meneteskan air mata dengan banyak ketika kondisnya buruk. Barukali ini aku lihat dia teriak dan melirik ke tangannya lalu berbicara dengan tangannya.
"Besok pagi tolong antarkan aku terapi, pah," katanya --- masih dengan nada memohon--- masih tersengal-sengal, "Kau itu masih lemas, jangan egois hanya karena kamu tidak boleh punya anak. Kita bisa mengadopsi anak itu malah tidak membahayakan nyawamu ketimbang melahirkan anak dan membuatmu koma atau kritis," sembur ku saat Rita menatap ku dengan mata basah. Saat aku memijat tangan Rita, tangannya tiba-tiba menyentak dan tubuhnya kejang-kejang, saat aku melambaikan tangan ke mata Rita. Pupil nya tidak merespon, dan saat aku cubit tangannya yang kurus Rita tidak menjerit kesakitan. Rita belum menggerakan bibir saat aku menyetel kan murotal. Apa karena Rita Koma atau karena dia lumpuh? Tangannya masih kaku dan tidak bergerak, ia tidur di ranjang Intensive Care Unit khusus penderita jantung dengan tubuh kurus dan matanya yang masih membuka.
Kenapa dia tidak jujur? Apakah ia tidak mau melihat ku menangis? Aku mempertanyakan kenapa istriku masih menganggap dirinya sehat. Barangkali aku yang tidak peka terhadap Rita.
Tak mungkin aku kurang perhatian sama istriku. Ia sama sekali tidak mau membuatku cemas dan sedih. Sekali lagi aku membacakan ayat Al-Qur'an dan menggerakkan tangannya supaya tidak kaku dan lemas. Ia sedang terdiam, matanya terlihat kosong, pupil nya tidak ada perubahan. Ketika aku mengelap keringat yang mengalir di wajahnya, orang tua angkatnya datang, dan menangis. Jantungku seakan mendesak paru-paru ku dan membuat dadaku sakit, ketika melihat mereka menangisi Rita. Aku tak kuasa menahan air mata yang meluap. Aku tak bisa melihat istriku yang sakit, ku jalan menuju pintu dan duduk di lantai. Dengan luwes nya Steven duduk menemui ku.
Aku duduk lemas, menutup wajah ku. "Audrey, kamu harus sabar. Kita sudah berusaha tinggal kamu berdoa semoga Rita normal kembali," katanya. Ia berdiri dan menyapu bajunya. Seorang keluar dengan kursi roda, di susul dengan wanita berbaju biru. Aku melihat dan rupanya orang tua angkat Rita.
"Kau kenapa keluar, ruangan?" Pak Yudi kelihatan orang yang baik, dia juga mengkhawatirkan diriku yang sedih.
"Aku tidak ingin Rita melihat wajah ku yang kusut dan mataku yang basah," Aku menenangkan Pak Yudi. Aku tahu Ia mengkhawatirkan Aku dan Anak angkatnya. Bu Yudi atau biasa ku panggil dengan nama Mama Mila, ia sangat keibuan dan baik hati, melihat menantunya yang sedih dan cemas. Bu Yudi memberikan makanan untuk aku, karena aku belum makan malam dan sibuk mengurus kondisi Rita yang kritis.
"Habis ini Audrey ada pasien lain yang di rawat?" tanyanya.
Aku melihat jadwal jaga di ponsel ku. "MM, jadwalku pagi dan malam. Siangnya sudah minta izin ke rekanku untuk merawat Rita." Aku tahu mungkin tak seharusnya aku terlalu cemas karena ada suster dan dokter jaga yang lain.
"Saya akan mengantar Pak Yudi ke ruang khusus syaraf. Saya permisi dulu." Jelas tipe ibu yang perhatian dengan anak angkat dan suaminya.
"Rita, sudah membaik nak. Kalau misal ada apa-apa telepon nomerku," bisiknya.
Aku menunduk dan menegakkan badanku."Tidak usah repor-repot Mama Mila. Aku tidak keberatan, kok." Aku berbisik ke Mama Mila, supaya Pak Yudi tidak mengetahuinya. Ya, kalau sampai ayah angkat Rita mengetahui bahwa kondisi anak yang ia adopsi selama dua puluh tahun ini memburuk, pasti itu akan membuat jantung pak Yudi kambuh. Pak Yudi selain memiliki riwayat penyakit langka atau stiff person syndrom, jantungnya mengalami pembengkakan karena pak Yudi mengalami obesitas.
"Oh iya, bisa ku cek kondisi pak Yudi. Soalnya Rita masih belum sadar juga." Aku berniat untuk memeriksa kondisi Pak Yudi. Ku dekatkan stetoskop ke dadanya.
"Tarik napas pelan-pelan pak Yudi," ucapku. Paru-parunya tidak parah namun keadaan jantungnya yang cukup memprihatinkan.
"Apakah paru-paru saya keadaannya parah?" tanyanya. "Paru-paru pak Yudi tidak parah, pneoumonia nya sudah membaik. Rajin terapi uap supaya napasnya lancar. Ini karena Laryngospams saja. Kalau kondisi jantungnya yang perlu di jaga. Jantung pak Yudi mengalami pembengkakan." Saat aku mencoba menggerakkan tangannya, ia mulai gemetar dan berguncang cepat, air matanya sampai membasahi pipinya.
"Saya ikut sama Pak Yudi dan Bu Mila ke ruangan ya." Kami bertiga menuju ke ruangan pak Yudi.
"Pak Yudi apakah aku harus...?" kata-kataku terputus dan aku menyadari ia tak ingin Rita sedih karena melihat ayah angkatnya yang belum sembuh dan makin memburuk seperti keadaan Rita. Aku yakin, Pak Yudi tertekan karena melihat Rita yang belum membuka matanya dan membuat Pak Yudi kambuh. Ia stress karena tak bisa menolong Rita dengan kondisinya yang sama cacat dengan Rita. Ku harap aku bisa membuat Pak Yudi tenang dan tidak stress.
"Pak Yudi, saya beri obat supaya jantungnya tidak sakit ya?" Aku menyuntikkan cairan kimia yang membuat jantung pak Yudi sakit. Ia sekarang tidak separah tadi. Sepanjang perjalanan pak Yudi tertekan lagi dan lagi memikirkan anaknya. Saat tiba di ruang ICU khusus penyakit neurogical, aku membantu Pak Yudi terapi. Ia melepaskan oksigen dan berjalan dengan menyeret kakinya.
"Suami saya terkena stiff person syndrome saat usianya masih muda sebenarnya. Saat itu dia menemani saya kerja di rumah makan. Dia sedang mencuci piring dan tiba-tiba teriak. Saya menemukan dia sudah kejang-kejang dan tangan dan kakinya kaku," ujar Bu Mila. Ia memegang Pak Yudi di kiri dan aku di kanan. Mata Bu Mila Fokus ke badan pak Yudi. "Waktu itu Pak Yudi sudah membaik, cuma terapi stem cell transplant harus rutin karena Pak Yudi mengalami obesitas. Saat itu dia rutin terapi kondisi membaik. Di rumah sakit ini pas saya bayar uang terapi, saya menuju NICU dan menemukan seorang bayi cewek yang di pasang alat medis. Saya berniat untuk mengadopsinya. Dokter bilang kondisinya belum boleh di bawa pulang, dan saya membayar perawatannya." Bu Mila meneruskan ceritanya dan ia meneteskan air mata. Ia berjalan pelan-pelan memegangi pak Yudi. Sepertinya perjuangan Pak Yudi dan istrinya sangat sulit. Kubantu Pak yudi duduk di ranjang dan diam-diam aku membuka kepalan tangan pak Yudi namun hasilnya masih nihil. Sepanjang terapi Pak Yudi tidak memakai oksigen dan kejang-kejang. Aku memasang oksigen, namun stiff person syndrome pak Yudi kambuh dan membuatnya gemetar serta dadanya bergerak karena kekurangan oksigen.
Stiff peron syndrom adalah Gangguan neurologis yang langka terdiri dari fluktuasi batang dan kekakuan anggota tubuh, kejang otot yang menyakitkan, fobia khusus-tugas, respons kejutan yang berlebihan, dan deformitas ankylosing seperti hiperordosis lumbar yang menetap.
" Saat itu aku melihat istriku bahagia, aku membelohkannya mengadopsi Rista," ujarnya dengan Nada pelan dan napas tersengal-sengal di sertai badan gemetar. Untuk yang satu ini, kondisi pak Yudi membuatku tambah stress. "Pak Yudi, Rita akan sadar. Jadi Pak Yudi jangan cemas. Kesehatan Pak Yudi akan membantu Rita cepat sembuh." Aku membuat Pak Yudi bernapas dengan pelan-pelan, tubuhnya tidak kejang-kejang tapi kakinya masih kaku. Bu Mila duduk dan kembali bercerita. "Yang membuat saya sedih ketika saya tidak bisa punya anak dan suami saya kejang-kejang, setiap hari saya kompres dan beli oksigen menunggu obat terapi yang mahal keluar. Itu saja kalau telat, Pak Yudi bisa kambuh. Waktu kami duduk di ruang TV, Pak Yudi tremor dan menangis kesakitan. Saya bilang yang sabar Mas Yudi, Obatnya langka datang dari singapura dan dokternya juga datang dari singapura. Setiap dia kesakitan saya pijat kakinya supaya tidak tremor dan saya pijat tangannya. Pas malam saya baru di telepon kalau sistem transpalant sudah datang. Saat itu saya bawa suami saya dan sesampai di rumah sakit dia di pindahkan ke ICU karena kondisinya melemah dan paru-paru nya di pasang selang alat medis untuk mengukur seberapa parah. Itu sudah buat saya speeclest dan tiap berdoa saya menangis karena suami saya koma walau sudah di pasang obat terapi dan lain-lain. Dia sadar dan sudah membaik saat mencapai satu bulan. Nah pas bayar semua perawatan di RS, saya melihat bidadari yang membuat saya tersenyum kembali. Jadi saya tidak stress memikirkan suami saya terapi berulang kali dan menunggu obat sampai yang membuatnya kambuh. Namun di saat usia Rita menginjak satu tahun, saat dia di rumah ujian datang. Rita kejang-kejang dan masuk ICU, dia koma biaya di ICU mahal. Suami saya merelakan kesehatannya demi Rita. Kami mengirit, saat kondisi Rita masih koma karena kritis itu membuat luka di hati saya terbuka dan shock berat. Suami saya walau sudah sehat namun belum bisa jalan, dan kalaupun terapinya di tunda bakal kambuh lagi karena suami saya mengalami obesitas dan sumsum nya harus di ganti." Ketika bu Mila menangis, aku menarik napas dalam-dalam.
"Bu Mila, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Pak Yudi dan Rita. Saya harap Pak Yudi jangan stress dan Bu Mila jangan sedih. Karena jantung Rita dan Paru-paru nya kritis. Saya sudah membujuk Rita untuk tidak membuat kondisinya parah," bisikku. Aku mengecek suhu badan pak Yudi. Perlahan-lahan aku mengecek alat sistem cell transplant. Pak Yudi bangun.
"Nak Audrey, tolong jangan bilang kondisi saya melemah ke Rita. Biarkan saya dan istri saya yang melalui ini," ucap Pak Yudi dengan suara parau.Aku mengangguk ke Pak Yudi. Untuk beberapa alasan emosi ku melekat erat dengan saluran air mataku. Kesedihanku melihat Pak Yudi melebihi kecemasan ku bahwa Rita anak satu-satunya yang di miliki oleh Pak Yudi dan Bu Mila. Aku mengangkat kepala dan melihat pupil mata Pak Yudi. Seorang suster datang dan memasukkan slang ke tubuh pak Yudi. Slang itu tersambung ke mesin sistem Stem cell transplant. Aku melihat Pak Yudi tiba-tiba spasm saat stem cell transplant menetes deras ke tubuhnya.
"Sus, bisa kurangi tetesan stem cell transplant. Mungkin jantung pak Yudi kambuh." Aku menyedot air liur Pak Yudi di mulutnya, kondisi Pak Yudi menurun meski sudah di pasang stem cell transplant. Apakah ini karena kondisi jantung Pak Yudi yang membengkak? Ia masih kejang-kejang. Ia tidur di kasur dengan menangis.
"Audrey!" ucap Steven saat masuk ke ruang.
"Aku di sini karena Pak Yudi tiba-tiba kambuh saat menjenguk Rita yang di ICU khusus penyakit jantung," aku menjelaskan kondisi sebenarnya.
"Apa kau sudah menanyakan donor jantung, buat Pak Yudi?"
"Sebenarnya tadi aku mau ke sana, tapi aku khawatir keadaan Pak Yudi yang tiba-tiba memburuk."
"Tadi aku ke tempat donor organ, jantung untung Pak Yudi dan Rita belum datang. Dan Kata dokter Ahmed ada alat baru untuk membuat paru-paru Rita tidak kritis. Dokter Ahmed mengirimkan alat medis ke rumah sakit kemarin pagi."
"Terima kasih, Kondisi Pak Yudi sudah membaik saat suster suntikan obat paru-paru, jantung, dan obat untuk sumsum tulang belakang." Ia tampak serius saat melihat mata pak Yudi dan mengamati tremor yang menyerang pak Yudi.
Kami memeriksa kondisi Pak Yudi; ia ternyata teman yang sangat baik dan ceria--kebanyakan pembicaraan kami memudahkan aku untuk memeriksa kondisi Pak Yudi. Ia tinggal di jakarta timur satu komplek denganku, jadi ia setiap hari menjadi mentor saat aku sedang COAS. Dari pembicaraan kami, aku jadi tahu ia juga mengkhawatirkan jantung pak Yudi yang membengkak. Ia orang yang membuatku tenang sekarang. Aku melihat Bu Mila menarik napas dalam-dalam.
"Suamiku saat stress kondisinya kambuh, saat waktu itu saya hanya bisa mengobati seadanya. Waktu kami belum membeli kursi roda terpaksa pakai tongkat saat mau periksa ke rumah sakit umum. Saat turun tangga dia tengkurap dan menuju garasi dia merangkak, saat berdiri dia gemetaran. Dia tidak mau saya menolongnya. Ini luka karena dia merangkak dan sering terjatuh." Aku terdiam dan menangis. Jadi , bukan aku yang satu-satunya yang cemas kondisi Pak Yudi. Aku memutuskan untuk meminta maaf.
"Saya minta maaf karena ke luar saat Ibu menjenguk Rita," aku menelan ludah.
"Tidak apa-apa, nak," katanya. "Saya menceritakan penderitaan saya, supaya saya tidak stress dan sedih."
"Ibu bisa curhat ke saya kalau sedih," timpalku. "Aku bisa menemani Ibu jika butuh sesuatu."
"Yang membuatku sedih, suamiku berjalan dengan foot drop. Saat dia tidak kuat, dia terjatuh dan merangkak." Bu Mila kondisinya stress, ku sodorkan botol ke arahnya supaya dia tenang. "Makasih, aku tidak apa-apa. Aku akan merawat suamiku. Nak Audrey ke ruang Rita di rawat, siapa tahu dia sudah sadar."
Aku tersenyum padanya sebelum ke luar ruangan. Ponselku bergetar dan saat aku mengeluarkan ada rekaman Ayah Yudi sedang makan dengan tangannya yang tremor, ia berusaha makan dan nasinya tumpah. Saat ku baca siapa pengirimnya, ternyata steven. Mungkin dia dikirim Vidio oleh Bu Mila. Ia mungkin mengirimnya untuk aku pelajari apakah penyakit Pak Yudi bisa sembuh atau tidak?
Dosen Biologiku, profesor Syarif, memberikan tugas lewat email. Di kantorku di rumah sakit umu aku hanya punya 1 shiftt itu saja pagi, kalau di rumah sakit khusus mempunyai 2 shifft kadang siang dan malam; pagi dan siang; pagi dan malam; dan sore . Secera harfiah, Aku tertekan bukan karena pernikahanku dengan Rita melainkan permintaan egoisnya yang membuatku seperti terperangkap di Goa yang tidak ada makanan.
Berturut-turut aku mengecek rongen Rita. Mengingat kondisi Rita yang sangat parah-- dan masih terbaring koma--ketika Steven mengirimku hasil rongent terakhir paru-paru dan jantung Rita saat aku memintanya mengirimkan karena sedang merawat Pak Yudi, jadi belum sempat ke ruang ICU di mana Rita di rawat.
Akhirnya aku bisa istirahat. Aku pergi ke kafetaria untuk makan malam. Di Kafetaria buka 24 jam, karena di rumah sakit. Aku membuka kotak bekal dari Bu Mila, isinya sate dan nasi uduk. Aku cuma bisa makan dua sendok. Aku menuju ke ruang reservasi untuk menuju ke lift, aku menekan tombol tempat Rita di rawat. Sesampai Aku di depan Ruang ICU, aku memakai baju APD. Ketika aku membuka pintu, Rita sudah bangun dari komanya. Perasaan senang itu melesat merayapi kedua tanganku. Rita menyipitkan matanya, aku tahu dia tersenyum saat aku datang.
Sepertinya dia menungguku datang. Aku menghampiri Rita, dan duduk di sebelahnya.
"Kau sudah sehat?" tanyaku. Rita mengedipkan matanya dua kali untuk menjawab pertanyaanku. Tangan Rita yang lemah memegangi tanganku, tubuhnya yang kurus dan biru membuatku tak kuasa melihatnya. Dengan perlahan aku mengelus kepalanya. Ia sedang baring dengan terapi stem cell transplant. Aku sama sekali tak percaya ia bisa menahan sakit saat cairan stem cell masuk ke tubuhnya supaya aku tidak menangis dan cemas.
Pasti dia sudah memikirkan matang-matang, sebelum aku menemuinya. Raut wajahnya sedang gembira. Tak mungkin dia bisa sekuat ini. Aku mungkin membuatnya sedih jadi dia berusaha menahan sakit karena stem cell yang masuk ke tubuhnya sangat membuatnya kesakitan jadi dia hanya memejamkan mata dan memegangku. Suster yang masuk ke ruangan Rita langsung mengecek kondisi Rita.
Aku menoleh ke suster dan menanyakan kondisi Rita. "Apakah dia tadi sudah sadar?"
Dia hanya menjawab sedikit. "Iya, dok."
Tapi kondisi Rita tampak segar sekarang, dan perlahan ia menggerakkan tangannya yang gemetar, tangannya tampak terlihat sangat kaku-- kakinya kaku dan tersentak-sentak serta tremor. Seketika aku merasakan kesedihan yang membuatku menyesal, hingga air mataku tidak bisa ku tahan. Tangannya yang berguncang mengelap air mataku. Ia mulai mengetik di laptop yang di sediakan di ruang ICU.
"Aku sudah membaik, jangan khawatirkan aku. Oh, Ya bagaimana kondisi Ayah Angkatku?"
"Dia tadi menjengukmu. Sekarang dia lagi terapi sama seperti dirimu. kondisinya sudah pulih," jawabku dengan bohong. "Kau jangan cemas Ayahmu orang yang kuat dan ibumu orang yang tabah."
Dan ia mengedipkan matanya 3 kali yang berarti terima kasih.
Aku berusaha menahan rasa bersalah dan menahan air mataku. Ketika ia memejamkan matanya dan memegang tanganku dengan kuat. Aku memutar murotal, supaya dia tidak kesakitan atau menangis karena terapinya yang sangat perih. Aku mengompres kepala Rita, dan memijat tangannya. Tapi aku butuh teman untuk curhat supaya aku tidak sedih dan membuat istriku sehat kembali. Di kepalaku, berbagai hal yang kulihat hari ini mulai membuatku sedih, bagaikan kaca yang berharga tiba-tiba terjatuh karena kesalahanku sendiri. Aku meneguk ludah. Dan meskipun Rita tersenyum, perlahan duniaku yang bahagia bisa menikah dengan Rita dan merawatnya pecah dalam ruangan yang gelap. Aku keluar ruangan sambil menahan air mataku yang menetes.
__ADS_1