Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri

Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri
KOMPLIKASI


__ADS_3

Ketika aku membuka mata, Audrey tidur di samping ku menemani hingga berjam-jam. Aku tahu mungkin dia tidak kerja karena menemani saat kritis. Kami menjadi seperti anggota badan yang tidak dapat di pisahkan, jika yang satunya sakit anggota badan yang lainnya ikut sakit atau merawat. Seperti Jantung dan paru-paru.


 


 


"Kau seharian penuh kritis, pagi ini kondisi mu sudah membaik." Audrey menyejukkan kepalaku yang masih panas. "Syukurlah, kamu sudah pulih dari kritis meski badan mu masih belum turun panasnya."


 


 


Aku melihat ke jendela. Ada burung pipit terbang. Masih subuh Aku terbangun dari masa kritis ku. Setelah menahan penyakit ini, aku belum boleh melanjutkan program bayi tabung. Aku menyadari betapa sayangnya Audrey pada diriku. Aku memegang tangan Audrey kuat-kuat, lalu menyalakan laptop dengan gerakan mataku. Kami harus saling berbagi kesedihan dan kebahagiaan untuk saling menyemangati.


 


 


"Apakah ayah kandung ku sudah melewati masa kritis?" Aku menulis pertanyaan di laptop dengan emoticon sedih. Selama di ruang ICU aku tidak bisa menjenguk ayah kandung ku, tentu aku harus kuat ini untuk memotivasi ayah kandung dan ayah angkat ku supaya mereka tidak sedih dan kondisinya kembali kritis. Selama beberapa tahun aku tidak pernah melihat kondisi ayah angkat ku yang satu rumah sakit dengan ku. Satu bulan dan beberapa tahun aku sibuk memeriksa kesehatan ayah Yudi dan diriku yang suka sakit-sakit an.


 


 


Slang dan kabel di dadaku yang lengkap memenuhi badan ku, memberi informasi tentang tubuh ku, dan membuat suasana menjadi mengerikan atau sedih. Penyakit jantung yang sering datang sudah sembuh--membuat pagi ini bisa bernapas meski harus di bantu dengan ventilator, dan menjadikan paru-paru sakit dan sesak. Yang membuat badan ku bergantung pada ventilator ketika lemah, batuk, tersedak, dan sesak napas harus sedia ventilator. Aku sendiri harus sabar dan ikhlas dengan ujian yang begitu berat, jadi aku harus mengatur napas dan mengaji supaya badan ku yang rapuh dan lemah ini kuat ketika penyakit datang membuat otak, jantung, dan paru-paru di badan ku jadi sakit.


 


 


Penting untuk, menjaga kesehatan ku supaya tetap stabil. Jika saja ada orang yang mau donor jantung saat aku kecil mungkin aku tidak terlambat menikah dan mempunyai seorang anak. Audrey hari ini ada jam kerja, dia menyerahkan ku ke suster dan menyuruh suster memantau setiap kondisi ku.


 


 


Aku menulis rincian uang kas rumah makan orang tua angkat ku sambil menunggu sarapan bubur. Hal itu penting, mengingat kondisi ayah angkat yang sering menurun menyebabkan kondisi perekonomian keluarga angkat ku menurun dan terancam bangkrut.


 


 


Posisi ku sebagai anak angkat dan sebagai penyemangat ayah kandung ku harus bekerja keras selama masa pemulihan kondisi ku dan menjaga supaya tidak menurun. Aku tahu tidak boleh memaksakan diri untuk  bekerja keras mengingat penyakit yang aku derita ini sering kambuh, itupun aku harus mencuri waktu luang untuk mengecek keuangan usaha rumah makan ayahku. Kalau mau jujur, aku egois karena tidak betah di rumah sakit. Semuanya terasa sesak. Melihat ayah Yudi dan ayah kandung yang sakit membuat mu seperti kaca yang pecah jika keadaan semakin memburuk. Semua keluarga yang mencintai ku merelakan dirinya demi keadaan ku yang sering menurun, hanya aku satu-satunya yang mereka butuhkan.


 


 


Aku seharusnya mematuhi nasihat keluarga ku setelah mengetahui ibuku pergi tidak pulang selama beberapa hari. Semua mencemaskan diriku yang selalu mengigau ketika kesehatan ku menurun dan harus memakai slang ventilator. Dan ini sangat menyakitkan, ketika tubuhku tiba-tiba tersedak air liur atau makanan.


 


 


Dan yang membuatku merasa bersalah, kenapa ibu kandung ku tidak mengatakan ayahku menderita penyakit langka di rumah sakit? Aku masih marah dengan ibuku yang membohongi ku dan membuat ku semakin lemah, dan aku tak sanggup bertemu dengan ibu kandung ku setiap kali aku berbicara syaraf ku yang rusak membuatku hilang kesadaran dan membuat jantung ku semakin sakit. Aku sadar mungkin ayah kandung dan diriku membuatnya di cela oleh tetangganya, tapi kenapa harus berbohong aku di buang oleh ayah ku karena ayah ku tidak mau ibu kandung ku di usir di kampung.


 


 


Jadi tak harus aku kesal kepada ibu kandung ku ketika dia membuang ayah dan diriku. Aku nyaris sekarat ketika marah dan mengetahui ayah kandung ku ada di rumah sakit yang sama seperti diri ku,  tapi aku tahu bahwa aku tak boleh membenci ibu kandung ku itu akan membuat diri ku di siksa Allah. Jelas hari ini akan menjadi hari yang menyedihkan.


 


 


Aku terlalu parah untuk ketemu ibuku. Mungkin lebih baik aku memaafkan nya namun aku tak ingin melihat mukanya. Kurasa aku harus berbicara dengan ayah ku di Vidio Confrence. Detik berikutnya saat aku menyalakan vidio dan terhubung ke ayah kandung ku dia kritis dan di ruang ICU aku melihat seorang cewek yang mirip dengan ayahku. Mungkin itu bibi ku.


 


 


"Mengapa dengan ayah, tante? Ayah kenapa kejang-kejang seperti ku dan badannya kurus? Apakah ayah sakit keras?" Dengan mataku yang basah aku tak tahan dengan penderitaan ayah.


 


 


Sambil berbicara dengan tante aku memohon dengan Allah. Ya Allah jika engkau mendengar suaraku, jangan membuat ayah ku menderita. Aku tak bisa melihat orang yang ku cintai menderita seperti ini, karena aku tak bisa menahan jantung, paru-paru dan otak ku yang lemah berpikir terlalu keras. Aku yakin mungkin malam nanti aku bakal kena epilepsi dan jantung ku melemah lagi.  Barangkali ayah ku mempunyai penyakit epilepsi sama seperti ku yang membuatnya kritis dan ayah juga memiliki penyakit jantung bawaan sama seperti ku. Mungkin karena aku baru mengenal ayah, aku belum menemukan penyakit yang ayahku miliki saat ini.


 


 


Mataku membuka tab di internet. Mencari penyakit yang membuat ayahku kurus dan lengannya bergerak-gerak sendiri di otot nya. Dengan hati-hati aku cari satu persatu penyakit yang membuat otot ayahku bergerak-gerak dan membuat badannya kurus. Aku cari ketikan lengan berkedut-kedut dan melemah. Ku cari satu-satu gejala penyakitnya dan saat aku membaca penyakit Lou gehrig aku menemukan kecocokan yang sama.


 


 


Penyakit sistem saraf yang melemahkan otot-otot dan memengaruhi fungsi fisik. Pada penyakit ini, sel-sel saraf rusak, yang mengurangi fungsi pada otot yang disuplai. Penyebabnya tidak diketahui. Gejala utamanya adalah otot melemah. Pengobatan dan terapi dapat memperlambat ALS dan mengurangi ketidak nyamanan, tetapi tidak ada obatnya.


 


 


Mungkin ayah tidak ingin membuat anak kandungannya melemah seperti kesehatannya, membuatku setiap detik harus menahan epilepsi dan sesak napas. Apapun alasannya aku tidak marah dengan ayah angkat dan kandung ku yang merelakan dirinya sakit. Aku tak yakin dengan organ tubuh ku yang rusak masih dapat bertahan nanti malam atau tidak.


 


 


Jantung dan otak ku sepertinya tidak kambuh ketika aku membaca penyakit ayah kandung ku. meski begitu, aku bisa menahan emosi dan tetap tenang karena mendengar ayat Al-Qu'ran yang membuat hatiku tenang.


 


 


"Rita doakan ayahmu ya! Dia menderita penyakit lemah jantung, epilepsi, dan ALS." Aku menutup internet dan membuka camera ku, lalu aku mengangguk ke tante ku yang mengajak berbicara. Ketika aku berbicara dengan ayah kandung yang pandangannya sama kacau denganku, aku sudah bisa menebak penyakitnya dan mengapa dia juga memakai ECG sama seperti diriku.


 


 


Aku melihat ayahku melawan kritisnya, dan aku menepuk dadaku supaya kuat karena aku tidak mau membuat ayah kandung sekarat ketika mendengar suster datang ke kamar ku mengetahui kalau aku juga semakin melemah dan kritis sama seperti ayah ku. Ada obat di infus ku yang membuat penyakit ku tidak kambuh. Audrey telah bangun  entah lah aku tidak tahu kapan dia memberi obat di infus ku. Aku tak bisa menjadi bebannya setiap hari, dan kesedihan suamiku membuat jantung di badan ku membuat luka semakin parah.


 


 


Aku sedang mendengar murotal untuk membuat jantung dan pikiran ku sehat, berjuang melawan emosi dan penyakit mematikan ini, ketika harus menerima berita yang menyedihkan di saat tubuhku sedang di perbaiki.


 


 


itu alat yang sangat lengkap, yang membuat aku masih hidup. Aku bersyukur masih hidup, walau setiap hari aku harus berada di rumah sakit.


 


 


Aku melihat Audrey datang. Tidak seperti biasanya dia berwajah sedih. Sebaliknya otak ku malah tiba-tiba mau konslet, untung cuma aura nya. Dan saat aku kembali ke layar, ayah separo membuka mata dan terpejam lagi belum sadar dari penyakit epilepsi.


 


 


Audrey masuk ke ruang ku dan berdiri di dekatku dengan jarak 5 cm dariku, melepaskan alat ECG, EEG, dan tensi di lengan ku. Wajahnya tampak bahagia dari pada hari kemarin. Tapi yang lebih membuatku berpaling dari wajahnya adalah melihat ayahku yang sedang bernapas dan membuat dirinya ter sadar. Penyakit ayah ku nyaris membuat ayahku sekarat, dan aku tak tahan melihat dia kesakitan. Aku bahkan hampir pingsan tadi.


 


 


Bibir Audrey mereng dengan senyum kasnya. "Bila aku tak sibuk pagi ini, kita akan pergi tadi lebih awal untuk pulang."


 


 


"Jangan memaksakan kehendak. Aku masih lemah dan harus di rawat di rumah sakit." Aku menggunakan majas hiperbola untuk membuat Audrey tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.


 


 


"Aku sudah tidak ada jadwal. Para petugas medis yang jam siang sudah datang. Mereka juga menyuruh ku untuk membawamu pulang karena kesehatan mu meningkat walau tiga organ mu keadaannya parah."


 


 


Aku mendesah. Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan ayah Yudi dan ayah kandung ku.


 


 


"Kau mengajak ku pulang karena cemas, kan? Karena aku sudah tahu kondisi ayah ku dan kau cepat-cepat minta izin, kan?"


 


 


Dia mengangkat ku dan meletakkan ku di kursi roda, lalu dia duduk jongkok di depanku. Dia memandang ku, seakan-akan dengan pertanyaan ku yang tiba-tiba akan membuat aku kejang-kejang.


 


 


"Maafkan aku telah menyembunyikan penyakit ayah kandungmu," dia mencium tanganku dan mengelus tanganku. "Aku tidak ingin kau sakit lagi. Kau janji untuk sembuh."


 


 


Ya Allah. Aku begitu terharu. Betapa baiknya suamiku terhadap aku yang cacat. Rupanya dia benar-benar tidak peduli dengan aku yang cacat fisik, dia mencintai aku apa adanya, dan-- ya ampun! Ke egois an, membuat diriku tak bisa menerima ketulusan hatinya. Dadaku terasa seperti ada detak yang tak menentu, dan aku merasakan dadaku sakit karena suara murmur. Aku duduk di kursi roda dengan menutup mataku. Tapi aku tak separah kemarin, apakah obat di infus membuat aku jadi kelihatan bersemangat. Otak ku memikirkan penyakit yang aku derita ini kenapa begitu banyak, aku sempat sedih karena ayah kandung dan angkat ku penyakitnya juga bukan hanya satu melainkan tiga atau empat sama seperti ku.


 


 


Aku tahu bagaimana rasanya memiliki jantung lemah dan syaraf otak yang satunya rusak. Begitu sadar terasa sakit kepala, leher, dan dada. Mungkin yang di alami ayahku sekarang malah lebih parah karena Ayah kandung ku seperti di tabung untuk membantu bernapas berbeda dengan diriku yang memakai slang di leher atau di hidung.


 


 


Audrey mendorong ku, sehingga lamunan tentang ayah angkat dan kandung ku menghilang. Sepasang tangan yang tertutup sarung tangan dokter membawa ku ke luar rumah sakit, dan aku melihat tante ku mendekat kearah ku ketika ke luar ruang ICU, tante ku untungnya tidak sedih mungkin dia sudah melalui masa berat saat kecil hingga dewasa. Dia wanita yang kuat menghadapi ujian.


 


 


Lalu tante ku mendekat ke arah kami dan memeluk ku. Tante ku memberi kan semangat kepadaku. "Kau harus bisa melawan penyakitmu, nak. Terima kasih tidak membenci ayah kandungmu."


 


 


Aku menjawab ucapannya. "Aku sayang sama orang tua kandung ku, terutama ayah biologis ku. Dia tidak bersalah atas penyakit mu. Mungkin aku harus kuat karena di lahirkan ibuku yang kejam dan melihat penderitaan ayah yang menyakitkan." Setelah aku selesai berbicara, tante ku memeluk dan menepuk dadaku.


 


 


"Yang sabar, nak. Kau membuat ayahmu berjuang melawan penyakitnya mengetahui kau masih hidup." Tangannya yang satu tiba-tiba mengelap air mataku, begitu hangatnya kasih sayang tante kepada aku yang cacat.


 


 


"Apakah ayah kandung ku tidak bisa berjalan lagi?" tanyaku dengan sedih. "Ayahmu otot nya lemah, doakan saja supaya dia tidak kritis ya. Ayahmu sudah siap menghadapi penyakitnya dan dia tidak sedih karena tiap hari harus di ICU atau ruang biasa. Dia sudah pernah kejang-kejang terus menerus di rumah sakit. Bahkan jantungnya sangat parah saat itu."


 


 


Suara burung di pagi membuatku tenang, dan aku bisa mengerti situasi ayahku saat ini,  lalu saat aku melihat burung -- tante pergi ke ruang lain untuk menemani ayahku, aku tahu tante pasti sangat sedih dan marah mengetahui kondisi ku yang semakin lemah karena ibu kandung ku.


 


 


Benar-benar kejam sekali ibuku membuat tante harus menangis dan melunasi hutang ayahku. Dalam kondisi ayah dan diriku yang lemah, dia nekat pergi. Tidak ada surat atau pemberitahuan bahwa ia ke mana. Telepon yang ku pegang tak pernah aku matikan untuk mengecek apakah ibuku mengirim email atau pesan ketika ia meninggalkan kami berdua, masih kosong email dan pesan, ku telpon tak ada yang mengangkat. Tapi aku tidak sedih bila itu emang kemauan ibuku, dan saat aku membuka email Audrey menanyakan penyakit yang ku derita masih kambuh atau tidak?


 


 


"Rita? Apakah dadamu sakit atau aura epilepsi sering muncul?"


 


 


"Dadaku sudah tidak separah minggu lalu, epilepsi sering muncul namun kejang-kejang nya cuma sebentar." Suaraku terdengar parau dan bicara ku terputus-putus karena ingatanku mulai berkurang. Aku mencoba untuk mengingat hari dan ia langsung memeluk ku.


 


 


"Sudah, istirahat saja. Jangan di pikirkan. Nanti kita terapi jalan dan bicara." Ia menyuruh ku untuk istirahat dan mencari solusi terbaik supaya aku bisa bicara lancar dan berjalan dengan baik. "Kurasa rumah adalah tempat yang cocok untuk pengobatan mu."


 


 


Aku merasa bersalah karena membuat suamiku kerepotan.


 


 


"Ayahku apakah bisa sembuh?" tanyaku pada Audrey.


 


 


"Kita akan cari solusi buat Pak Ruslan. Dokter spesialis syaraf belum menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ayahmu." Suara Audrey seperti menjelaskan bahwa Ayah kandung ku tidak bisa sembuh dan usianya hanya sampai 70 tahun atau 66  tahun.


 


 


"Aku sudah tahu kalau..." suaraku tiba-tiba menghilang karena dadaku terasa sakit sekali. Aku berusaha menahan rasa sakit yang membuat dadaku sesak, mengumpulkan tenagaku. "Aku sudah tahu kalau ayah pasti tidak bisa di sembuhkan."


 


 


"Sudah jangan bahas itu lagi. Ayo kita pulang. Ambulance sudah menunggu di luar," ucapnya. Nada nya memperingatkan ku kalau suamiku tidak ingin aku di ICU lagi.


 


 


Aku mencoba menyembuhkan dadaku,  Audrey mengantar ku ke lift dan masuk ke ruang setelah itu kami di lift. Aku membaca Al-Qur'an dan mengobati penyakit ku, dan aku mencoba untuk mengatur emosi yang membuat penyakit ku kambuh. Apakah aku tidak boleh depresi atau senang?


 


 


Lalu kami sampai ke lantai dasar dan ke luar dari rumah sakit di tempat parkir ambulance suamiku mengangkat diriku dan memasang kan slang oksigen.


 


 


"Kenapa wajahnya pucat lagi?" seseorang bertanya ke suamiku.


 


 


"Dok, sebaiknya di rawat di rumah sakit kondisinya belum pulih." Terdengar suara orang yang memberi saran ke Audrey. Beberapa suster memasang kabel ECG di dadaku, dan yang satunya memberi obat di botol infus ku.


 


 


Aku mencoba berpikir dan mengetik laptop, tapi aura epilepsi ku datang.


 


 


"Mah, apakah leher mamah mati rasa dan mamah kebingungan lagi."


 


 


"Pah aura itu datang," aku mengeluh. Aku tidak bisa mengobrol karena kebingungan. Ada suara dalam pikiran ku.


 


 


"Sudah mendingan, cuma aura epilepsi saja." Aku kembali sadar setelah kebingungan. "Pah, jangan bawa mamah ke rumah sakit ya. Kalau tiba-tiba kondisi mamah memburuk."


 


 


Ekspresi nya berubah sedih. "Baiklah, kalau itu yang kau inginkan."


 


 


"Aku takut tidak bisa bangun dari tidur ku." Aku tidak ingin membuat semua orang sedih ketika aku sekarat atau kritis. Aku ingin ayah angkat dan kandung ku sembuh dari penyakitnya.


 


 


"Rita, tapi kalau kau sakit telepon aku atau beri tahu suster yang merawat mu di rumah. Ya?" Ia menyuruh ku untuk terbuka bila aku memerlukan sesuatu.


 


 


"Iya, pah." Aku bisa tenang karena bernapas dengan slang oksigen lagi.


 


 


Tangannya memegang tanganku dengan lembut. "Ku mohon, sebaiknya kita mengadopsi anak."


 


 


"Apa yang salah denganku?" tanyaku dengan curiga.


 


 


"Demi ayah Yudi dan Pak Ruslan," ia memohon supaya aku mau menuruti kemauannya.


 


 


Aku bisa mendengar suara Ibu angkat ku dari dalam mobil.

__ADS_1


 


 


"Aku mohon ceritakan kenapa aku, ayah Yudi, dan Ayah biologis ku harus mendapatkan donor jantung dan kenapa aku batuk berdarah dan semuanya. Ceritakan penyakit yang kami derita?"


 


 


"Akan ku coba nanti," dia tidak mengatakan kalau dia berjanji menceritakan detail penyakit yang di derita ayah Yudi, ayah kandung, dan diriku.


 


 


Tapi kepada Audrey aku hanya bertanya dengan jelas. "Ada apa dengan kami?"


 


 


Aku duduk di kasur dorong khusus untuk pasien pulang. Butuh empat petugas medis mendorongnya Suster, Audrey, rekan Audrey dan sopir ambulance mengangkat kasur dorong ke rumah Audrey. Audrey tidak berbicara denganku kali ini, dan aku membuka Al-Qur'an supaya penyakit ku tidak kambuh, tapi aku masih cemas mengapa Audrey tega menyembunyikan penyakit yang aku derita. Aku nyaris sesak napas karena kesal pada Audrey.


 


 


Sepertinya akan sia-sia saja menyembunyikan keluhan ku dan bersikap baik-baik saja, ketika Audrey marah dan menyembunyikan sesuatu. Audrey mengantar ku ke kamar kita berdua. Aku tahu mungkin dia tidak ingin mematahkan janji ayah angkat dan kandung ku. Aku bisa menebak ekspresi wajah suamiku ketika ada yang di sembunyikan.


 


 


Ketika aku sudah di kasur dan memegang tangannya, Audrey berbalik dan tersenyum padaku.


 


 


"Kau mau aku di sini menemani mu?" tanyanya.


 


 


Aku menjawab dengan suara tidak jelas. "Iya, ku mohon tetaplah di sini. Jangan pergi."


 


 


Yang membuatku lebih kesal lagi, ketika aku dan Audrey sedang marah ada pesan masuk kalau aku mendapat utang dari ibu kandung ku dan dadaku terasa sakit ketika mengetahui itu, tubuhku kejang-kejang namun bukan karena epilepsi.


 


 


"Ada apa, Rita?" tanyanya.


 


 


"Dadaku sakit, tubuhku gemetar, dan pegal," keluh ku. "Aku tidak mau mati atau kritis di rumah sakit lagi."


 


 


Ia memasang kan headset yang terpasang di ponsel ku ke telingaku. Aku berusaha untuk mengatur napas dan emosi yang melanda ku supaya dadaku tidak sakit lagi. Karena aku perlu sehat untuk mencari informasi penyakit yang di alami ayah angkat, kandung, dan diriku. Ketika Audrey melepas jas putih dokter yang ia kenakan, ia mendekati ku dan menepuk dadaku.


 


 


Ibu angkat ku masuk ke kamar dengan membawa baskom berisi air panas di tangannya. Ia mengompres kening ku dan memijat kaki ku.


 


 


Aku berusaha mengumpulkan kata-kata walau ingatanku yang hilang. Audrey memasang kabel di kepalaku yang terhubung di laptop. Ia mengetahui kalau bicara ku mulai lambat. Tentu saja pertanyaan ku tidak di jawab oleh ibuku jika aku menanyakan. Aku merasa seperti kaca yang rapuh yang harus di rawat supaya tidak retak. Yang membuat lebih buruh, kenapa ayah kandung ku sampai tidak memberi tahu penyakitnya dan penyakit ku.


 


 


Audrey tersenyum padaku. "Coba, alat robot ini yang bisa membuat mu lancar bicara?"


 


 


Aku mencoba laptop baru yang suamiku belikan untuk aku bicara.


 


 


"Mah, ada apa dengan ayah Yudi, aku dan ayah kandung ku?"


 


 


Mereka tak menjawab pertanyaan ku sama sekali, bahkan suster dan dokter yang bersama suamiku juga tidak menjawab pertanyaan yang ibu angkat ku tak menjawab. Aku mengenali ibu angkat ku ketika dia menangis pasti ada hal yang sulit di bicarakan ke diriku.


 


 


Ibu angkat ku memijat tanganku. Dia mengeringkan air mata yang membasahi matanya. Wajahnya begitu kerut karena kelelahan.


 


 


"Sayang, mamah mau ke rumah sakit lagi ya. Ayah Yudi butuh bantuan mamah. Kamu di rumah sama Nak Audrey saja, ya!"


 


 


"Iya mah, aku tidak apa-apa kok di tinggal sama Audrey kan sudah ada perawat," jawabku. Ibu angkat ku keluar bersamaan dengan rekan Audrey dan sopir ambulance. Audrey menyuap kan aku bubur karena aku sudah bisa menelan. Begitu bubur di masukkan ke mulutku, tiba-tiba aku memuntahkan nya. Audrey membersihkan pakaian dan wajah ku, lalu ia keluar kamar untuk menunggu aku ganti baju. Suster menutup pintu dan menggantikan bajuku, lalu menyeka tubuhku. Ia memasang pakaian dan memakaikan kerudung ku. Setelah aku selesai ganti pakaian, suster meninggalkan ku dan ke luar kamar. Kadang penyakitku membuat badanku lemas, namun saat ini aku merasa sudah baik dan sehat. Apakah ini pengaruh aku baca Al-Qur'an atau mendengar murotal?.


 


 


Mereka mengecek ku dengan membawa obat morfin, obat yang tidak boleh di gunakan untuk orang yang sedang program bayi tabung. seorang juru rawat menyedot obat dengan jarum suntik di botol obat morfin. Karena tak ada yang menuruti keinginan ku untuk mempunyai anak, kuputuskan tak perlu memberi obat morfin, ativan, dan obat jantung. Ketika juru rawat akan memasukkan obatnya ke infus, aku menggeleng dan mengangkat tanganku dengan perlahan-lahan supaya juru rawat atau suster mau menuruti perintahku. Juru rawat itu melihat kode tangan yang aku berikan, lalu dia membuang morfin di jarum suntik itu. Aku tahu obat morfin bisa membuat tubuhku tak kejang-kejang lagi, namun yang paling mujarab adalah Ayat Al-Qur'an dan pengaturan emosi ku.


 


 


Di Al-Qur'an di jelaskan bahwa salah satu untuk mengobati penyakit dengan rajin membaca Al-Qur'an dan di selingi dengan ke dokter, jadi aku membaca surat Yunus ayat 57 yang berbunyi


 


 


Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.


 


 


―QS. Yunus [10]: 57


 


 


Saat aku membaca Al-Qur'an Audrey membuka pintu kamar dan masuk menemui ku, ia kelihatan cemas dan sedih. Aku mengenali raut wajahnya yang cemas itu pasti dia sudah tahu kalau aku tidak mau minum obat. Ia menatapku dengan sedih.


 


 


"Rita, kenapa kamu tidak mau menggunakan morfin? Kamu belum sembuh benar."


 


 


"Aku tidak ingin membunuh anak kita dengan obat itu. Aku ingin mempunyai anak yang sehat dan tidak cacat seperti ku karena menggunakan obat-obat yang membuatnya sakit atau cacat. biarkan aku cacat. Kau tidak marah, kan?" Ketika kami bicara ada sebuah nada pesan masuk, aku membuka ponsel dan pesan itu dari tante ku.


 


 


Dear Rita


 


 


Ayah kandung dan Ayah angkat sudah pulih dari kritis. Dia menyetujui usulan Audrey untuk merawatmu di rumah.


 


 


From tante


 


 


Syukurlah ke dua ayahku sudah sembuh dari kritis. Audrey mengelus kepalaku. "Kau mau aku buatkan jus atau bubur! Aku akan ke dapur dan membuatkan mu jus." Ia mengecup kening ku ketika aku mengangguk.


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Kau belum pulih benar."


 


 


"Aku akan menjaga kondisi ku supaya tetap stabil. Sudah sana, katanya kamu mau masak."


 


 


Ia terlihat ragu-ragu. "Apa kau masih menggigil?"


 


 


"Kalau aku menggigil nanti aku panggil kamu, mas. Aku tidak separah yang dulu sudah sana." Aku tak mau Audrey cemas karena penyakit ku sering kambuh, kalau dia cemas aku susah mempunyai keturunan.


 


 


"Jus nya mau yang rasa apa? Aku akan bawakan saat makan siang nanti."


 


 


"Rasa mangga tanpa gula dan susu. Tolong bubur nya pakai kecap dan telur ceplok ya."


 


 


Aku tahu keputusanku untuk menghentikan pengobatan akan membuat kondisi ku semakin memburuk. Tubuh ku yang tadi sehat mendadak menggigil. Audrey mungkin marah kalau aku seperti ini, tapi aku harus kuat supaya dia tidak marah.


 


 


Siapa yang berani membuatnya kesal?


 


 


Pikiranku dipenuhi bayangan bersalah yang membuat diriku gemetar, merasakan lemas yang berlebihan dan pegal-pegal serta membuatku susah bernapas.


 


 


Astaghfirullah.


 


 


Lalu Audrey datang dan membantu ku berdiri. Kukatakan kepada Audrey kalau aku menggigil jangan memaksa aku minum obat tapi bacakan aku Al-Qur'an atau setel kan speaker murotal. Aku tidak mau membuat yang lain cemas. Aku bertanya apakah dokter kandungan mau datang lagi, tapi Audrey tidak menjawab pertanyaan ku. Jadi aku belajar berdiri dengan perlahan-lahan, mencoba tidak gemetar an, dan stress karena penyakit ku yang makin membuat organ tubuhku rusak satu per satu.


 


 


"Langkah kan, kaki pelan-pelan." Suara Audrey lembut dan perhatian. Aku mengikuti perintahnya, berusaha mengatur napas ku. Tak peduli berapa kali aku megap-megap karena sesak napas dan sakit jantung ku, aku harus melatih kaki dan tangan ku untuk operasi cangkok jantung. Akhirnya aku bisa menenangkan jantung yang berdebar terlalu cepat dan mengatur napas ku meski tadi sempat sesak napas. Ia tersenyum kepadaku ketika aku sudah bisa menggerakkan anggota tubuhku.


 


 


"Aku bisa berjalan tanpa infus dan oksigen kan!" Aku mencoba memutar badan ke arah nya dan melepas pegangan di walker. Audrey memegang ku dengan cepat-cepat.


 


 


"Aku bisa kok, tanpa walker." Aku meyakinkan Audrey dengan badan ku yang kurang seimbang dan lemas. Audrey memegang pinggang ku dan meraba kening ku.


 


 


Aku memegang wajahnya dengan tangan ku yang kurus dan gemetar. Yah, sebenarnya cukup sulit menggerakkan tanganku. Tidak mudah untuk tetap tenang karena penyakit yang aku derita membuat aku menggigil atau cemas berlebihan.


 


 


"Audrey, bisa aku bicara sebentar. Ini tentang istrimu dan program kehamilan yang ia jalankan." Dokter kandungan berbicara di depan pintu dengan Audrey.


 


 


Audrey membantu aku berdiri dan meletakkan ku di kursi roda.


 


 


"Sebentar, ya. Aku segera datang. Kita bicara di luar saja." Audrey keluar kamar. Aku membaca Al-Qur'an  menunggu suamiku ke kamar. Beberapa jam kemudian, ia ke kamar dan dokter kandungan datang.


 


 


"Aku akan antar kamu ke kasur." Audrey mengangkat ku dan meletakkan ku kasur.  Dokter memasukkan obat hormon ke tubuhku, dan mengambil darah di tanganku. Dokter kandungan memeriksa rahimku dengan USG. Dia tersenyum padaku dan berkata bahwa sel telur ku bagus dan aku subur.


 


 


"Apakah ini tahap terakhir, dok?" tanyaku. "Ini masih tahap ke tiga atau empat sayang. Kita harus sering memeriksa kandunganmu dan kondisi jantung, paru-paru, dan syaraf mu. Supaya bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya. "Jangan berhenti program bayi tabung, aku janji akan tetap sehat," ucap ku dan tak tahan menahan air mata.


 


 


"Kalau itu yang kau butuhkan, aku tidak akan memaksa mu pakai obat lagi." Dia berbicara dengan nada kasar seolah aku telah berpamitan dan tak akan pernah bertemu dengannya lagi. "Tapi akan ku usahakan untuk terapi supaya proses berikutnya bisa berjalan dengan lancar. Dan kau bisa memiliki bayi tabung. Jangan pikirkan yang macam-macam, kesehatan mu belum pulih."


 


 


Lalu suster yang merawat ku datang dan membawakan aku makanan dan minuman. Aku tak tahu apakah aku masih muntah-muntah atau tidak. Aku mengalihkan pandangan ke samping, berharap suamiku tidak marah dan memberi tahu tentang penyakit yang aku derita. Dokter kandungan itu tersenyum padaku, dia masih muda dan sudah menikah. Wajahnya bagaikan dewi yang memberi ku semangat hidup. Meski ia muda namun ia berpikir secara matang tentang sesuatu yang harus ia lakukan tanggung jawab istri dan seorang dokter kandungan, beda denganku yang masih ke kanak-kanak kan. Aku tak berniat membuat dokter kandungan merasa bersalah atas permintaan yang ku ajukan. Untungnya aku tidak kejang-kejang seperti minggu lalu atau bulan lalu.


 


 


"Jika jantung mu masih sakit, tolong telepon aku untuk menunda program bayi tabung. Aku bersedia untuk menunggu keadaan Nona Rita pulih kembali," rekan Audrey berbicara dengan penuh perhatian ke diriku. "Apakah dadamu sudah tidak sakit?"


 


 


"Aku sudah agak membaik," kataku, mudah-mudahan malam ini tidak kambuh penyakit ku karena efek obat hormon yang membuat jantung ku memompa darah terlalu cepat. Ia membaca pad yang Audrey berikan tentang foto rontgen jantung dan paru-paru ku.


 


 


"hasil rontgen mu tidak terlalu parah dan sudah membaik." Apa dadamu masih sakit? Kata Audrey, kondisi mu belum pulih seratus persen." Dia memeriksa hasil USG yang tadi dia cek. Monitor USG menunjukkan tidak ada yang salah dengan rahimku.


 


 


"Syukurlah, aku bisa mempunyai keturunan. Apakah aku menderita penyakit keras?" aku bertanya sambil mengelus perutku. Jemari lentik dokter kandungan meraba mataku dan ia melihat bola mataku dengan senter.


 


 


"Apakah kau suka kejang-kejang mendadak?" tanyanya.


 


 


"hanya waktu tertentu." Kejang-kejang ini berbeda dengan kejang-kejang yang ku alami saat kecil atau usia 18 tahun. Saat itu aku sampai koma delapan hari kata ibu angkat ku.


 


 


Audrey masih tampak depresi karena aku yang ceroboh, dan ia memegang tanganku yang kurus dan lemas. Ia mencium tanganku. Aku masih marah dengannya.


 


 


"Kau seharusnya senang mempunyai suami yang setia, Nona Rita. Dia selalu ke kantorku untuk memberikan mu waktu istirahat tahap bayi tabung supaya kamu pulih total dari penyakitmu. Tapi aku menolak karena penderita jantung bisa kapan saja mati jika aku menyuntik kan obat hormon ke tubuhnya."


 


 


"Bisakah dokter melanjutkan program bayi tabung?" tanyaku, memikirkan apa penyebabnya aku tidak boleh punya anak dan program bayi tabung.


 


 


"Aku akan meninggalkan mu dengan Audrey. Aku ada urusan di rumah sakit." Dokter kandungan meninggalkan kami berdua. Aku menatap Audrey. "Terima kasih atas bantuannya." Aku menyetel murotal lagi dan memejamkan mata.

__ADS_1


 


 


"Audrey, jika ini berakit fatal bagi istrimu segera berhenti proses bayi tabung." Entah aku tak tahu apa yang dibicarakan Audrey sama rekannya. Aku sibuk mengatur emosi, dadaku kembali perih dan aku memasang ventilator dengan tangan yang gemetar. Di susul suara tenang murotal membuatku rileks, dan ayat itu tentang surat kursi.


 


 


Belum sampai semenit, aku tiba-tiba sesak napas. Aku membuka mulutku untuk bernapas, mencoba menghirup oksigen.


 


 


Audrey memegang tanganku. "Kita ke rumah sakit ya. Rekanku masih di sini. Dia membawa mobil," ucap Audrey dengan cemas.


 


 


"Nona Rita, kita ke rumah sakit ya. Audrey akan menemani dirimu di mobil ku." Dokter kandungan menimpali perkataan suamiku. "Kondisi mu melemah sekarang."


 


 


"Jangan, aku bisa menahannya. Sekarang sakitnya sudah mulai menghilang," ucapku dengan lemah dan ter bata-bata.


 


 


"Baiklah, kalau kau bisa melalui masa kritis." Dokter kandungan keluar dari kamar. Aku melihatnya dengan samar-samar di mataku. Aku mencoba membuka masker oksigen dan bernapas tanpa bantuan alat.


 


 


"Audrey ku mohon jangan cemaskan aku." Aku berdiri dengan kakiku yang kaku dan mencoba duduk di kursi roda elektrik. Terlalu cepat aku terjatuh, dan Audrey menangkap ku lalu meletakkan ku di kursi roda. Ia tampak sedih.


 


 


"Aku baik-baik saja, ini cuma masalah foot drop." Aku meyakinkan lagi. Mendadak kakiku susah di gerakan. Kaku seperti ada yang salah di sumsum tulang belakang atau syaraf otak ku. Tak perlu memberitahu nya bahwa kakiku yang tak bisa di gerakan dan mataku yang kabur ada hubungannya dengan penyakit jantung dan syaraf ku.


 


 


"Kau jangan banyak bergerak, baru saja sembuh dari kritis," ia memberikan aku saran.


 


 


"Kakiku seperti ini mungkin karena belum sempurna terapi jalan," aku berkeras.


 


 


"Kedengaran nya kau sudah tidak separah yang dulu," kata Audrey, tersenyum dan merendam kakiku di baskom.


 


 


"Ini karena kau memberi harapan hidup untuk diriku yang hampir menemui ajal." Aku tersenyum ke Audrey berkat ia aku tidak seperti dulu muram dan sedih karena hanya bisa duduk di kursi roda dan ibu kandung ku membuang ku tanpa belas kasihan.


 


 


"Sakit tidak?" tanyanya. Suamiku memukul kakiku untuk mencoba syaraf kakiku yang kaku. Lalu ia memegang tanganku dan membuat tanganku saling berhadapan.


 


 


"Aku akan menelepon rekan kerjaku di bagian syaraf untuk mengecek kondisi mu." Ia mengambil ponsel dan menekan kata demi kata lalu mengirim ke nomer yang aku tidak kenal. Dua detik kemudian Audrey berbalik menoleh ke arah ku yang sedang duduk di kursi roda ia melihat diriku dengan raut sedih, seperti orang yang terkena petir di siang bolong. Aku melihatnya seperti ada sesuatu.


 


 


"Bisakah aku bicara sebentar denganmu? Aku kenapa?" aku berbisik. Ia tak memperhatikan aku, lalu Audrey menggendong dan meletakkan ku ke kasur. Ia memakaikan aku masker oksigen. Saat aku sedang tidur, dokter syaraf dan jantung masuk ke kamar ku. Kapan dia sampai? mungkin aku asyik mendengarkan murotal.


 


 


"Kau besok akan ke rumah sakit untuk terapi, rontgen dada, kepala, dan pengambilan sumsum. Sekarang rekanku akan memasukkan tub ke lambungmu." Ia menatap ku dengan kesal, lalu pergi meninggalkanku. Rekan-rekannya ikut keluar. Aku nyaris saja kambuh. Tugas ku adalah mencari tahu apa yang aku derita selama aku di lahirkan. Begitu aku membaca Al-Qur'an, Audrey dan rekannya sudah memakai baju operasi. Audrey membawa jarum suntik yang berisi cairan.


 


 


"Ini bukan obat yang membuat kesuburan mu gagal. Ini obat bius dan kau tidak sakit apa-apa." Nada nya datar dan ia masih belum memberitahu ku. Tatapan nya dingin. Sikapnya tak baik seperti meremehkan sesuatu. Kata-kata itu membuatku sedih.


 


 


"Kita sudah janji untuk saling terbuka," aku mengingatkannya. Kami saling diam untuk beberapa saat.


 


 


"Kau tidak sakit keras hanya penyakit jantung dan syaraf saja."


 


 


Aku kesal dan marah, namun rasa marah itu berakhir saat dokter jantung memberi obat bius.


 


 


"Audrey kau janjikan tidak ingin aku sedih."


 


 


"Kau ini sedang di bius, sebaiknya tidur." Dokter jantung menambah dosis bius dan aku terlelap. Aku tak tahu sekarang mungkin aku sedang di masukkan tube. Namun pada saat itu aku belum tidur pulas dan masih membuka mata.


 


 


(Langkah pertama yang dilakukan dokter, perawat, atau petugas kesehatan saat memasukkan nasogastric tube adalah meminta Rita untuk berbaring di tempat tidur dengan kepala diangkat atau duduk di kursi. Mereka mungkin akan meminta Rita untuk menekuk kepala, leher, dan tubuh pada berbagai sudut saat mereka memasang tabung melalui lubang hidung, ke kerongkongan dan ke dalam perut.


 


 


Gerakan-gerakan ini membantu memudahkan tabung masuk dalam posisi yang tepat, tanpa menyebabkan Rita merasakan sakit atau tidak nyaman. Mereka meminta Rita untuk menelan atau meminum sedikit air ketika tabung mencapai kerongkongan untuk membantunya agar lebih mudah ke perut Rita.


 


 


Setelah nasogastric tube terpasang, petugas kesehatan harus segera mengambil langkah-langkah untuk memeriksa penempatannya. Sebagai contoh, mereka mungkin mencoba mengeluarkan cairan dari perut Rita atau mereka mungkin memasukkan udara melalui tabung, sambil mendengarkan perut Rita menggunakan stetoskop.


 


 


Untuk menjaga agar nasogastric tube tetap pada tempatnya, dokter akan merekatkan ke wajah Rita dengan perekat, seperti selotip. Mereka juga mengatur ulang posisinya jika Rita merasa tidak nyaman.)


 


 


Emosiku meluap-meluap setelah bius nya mulai berkurang, aku memegang dada yang sakit. "sekarang sudah selesai kan pemasangan tube nya, jelaskan kenapa teman-temanmu datang ke rumah dan kau membawa ku pulang?"


 


 


Ia menghela napas. "Kau belum sembuh istirahatlah."


 


 


"Ayah angkat, ayah kandung dan aku sakit apa?" tanyaku. Aku mau tahu kenapa kamu tidak mengizinkan ku menjenguk Ayah kandung dan angkat ku sebentar saja."


 


 


"Apakah kau masih ingin berdebat dengan kondisi mu yang belum stabil?" tanyanya dengan ketus. Lalu semua yang aku cari di laptop keluar begitu saja.


 


 


"Aku ingin menjelaskan kenapa aku tidak boleh punya anak, meminum obat hormon, dan kenapa operasi ku di tunda bersamaan dengan Ayah Yudi. Jadi jangan curiga kalau aku mengetahui aku punya tiga penyakit. Paru-paru, jantung dan otak, serta aku mengetahui penyakit ayah angkat dan kandung ku. " Aku bisa saja kritis lagi karena omelan ku, namun saat itu tidak ada rasa apa-apa. Aku begitu stress sehingga tak bisa mengontrol emosiku dan air mata mulai menetes di pipi ku.


 


 


Dokter jantung menggeleng. Tapi, saat suamiku ingin membuatku tenang dengan memberitahu apa yang terjadi Dokter syaraf berkata, "pasang kan ECG dan EEG supaya hasilnya bisa di ketahui bila dia kambuh lagi." Ia memasang kan ECG dan EEG ke anggota tubuh yang bermasalah.


 


 


"Detak jantung mu kembali bermasalah. Istirahatlah." Ia membaringkan aku dengan pelan-pelan. Itu seperti kalimat yang membuatku tidak puas dengan penyakit ku. Audrey masih belum jujur. Aku menghela napas dan memegang tangannya.


 


 


"Jangan memaksakan pikiranmu bekerja terlalu keras, kau punya penyakit jantung dan syaraf." Suaranya terdengar memerintahkan sekarang.


 


 


"Aku janji akan sehat bila kau jujur dan aku janji akan menjaga jantung ku terus berdetak." Aku mengucapkan dengan pelan dan suara yang parau. Mengontrol emosi ku supaya jantung tidak berdetak cepat.


 


 


Wajahnya tampak bingung. "Kau sudah membahayakan dirimu dan kenapa kau masih tidak berhenti?"


 


 


"Aku tidak mau seperti kaca yang retak aku tegar. Ini juga demi kita semua dan demi mu," desak ku. "Dan rahasia yang kau sembunyikan itu akan membuatku tenang bila kau terus terang padaku."


 


 


"Tak bisakah kau tidur dan menunggu hari esok untuk terapi?"


 


 


"Aku akan tidur dan menuruti kemauan mu." Aku menahan amarah dan menunggunya berbicara. Aku tetap akan mencari. Biarkan saja. Hari ini aku akan membuka laptop ku.


 


 


"Kau masih ingin mencarinya dan tak menyerah sama sekali?"


 


 


"Tidak."


 


 


"Kalau begitu ... kau harap mau membatalkan program bayi tabung yang kau jalani."


 


 


Kami saling diam dan tak memandang. Akulah yang membuatnya cemas. Karena sudah mengetahui penyakit ku satu demi satu tapi belum mengerti istilah penyakit yang menyerang organ tubuhku dengan banyak itu apa?


 


 


Rekan medis suamiku pamit dan meninggalkan kami berdua. Audrey mengecek ECG yang terus berbunyi tidak karuan. Dia memeluk ku dan menangis. Rasanya seperti dia berkata bahwa aku bakal punya anak namun keadaan ku jadi kacau.


 


 


"Kenapa kau mau merawat aku yang cacat?" tanyaku cemas. Ia berhenti memeluk dan sekarang memegang tanganku.


 


 


"Ada sesuatu yang tak bisa ku katakan kenapa aku peduli sama kamu," bisiknya.


 


 


Lalu ia menyedot bubur dan memasukkan bubur ke tube yang sudah terhubung. Darah ke luar dari hidungku. Aku menangis dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Setelah rasa sakit di hidungku sudah mereda dan darah di hidungku tidak mengalir lagi aku berbaring.


 


 


Aku menyalakan laptop dan membuka vidio percakapan. Sepertinya Ayah Yudi dan ayah kandung ku memakai tube juga di hidungnya. Ayahku menangis melihat ku dan tante ku juga.


 


 


"Ini bukan salah kalian, ingat Ayah dan tante bilang ini ujian." Aku berusaha membuat mereka tidak sedih karena aku tidak ingin melihat mereka sedih. Langit yang tadi cerah berubah menjadi kelabu, menerbangkan ingatanku kembali pada hujan di kota Jakarta yang panas.


 


 


"Apa kata suamimu, sayang?"


 


 


"Audrey bilang ini mungkin aku stress dan vertigo saja. Jadi di pasang tube untuk makan bubur." Aku menghela napas. Orang tua angkat ku juga sedih dengan tubuhku yang seperti orang koma.


 


 


"Sudah Ayah Yudi dan Mamah angkat ku, aku masih bisa bernapas kok."


 


 


Aku mematikan vidio dan menarik napas. Kakiku berguncang tanpa perintahku. "Pah, tolong dekat ke aku." Kakiku mulai bergerak-gerak jari jarinya dan menekuk. Aku memeluk erat ke suamiku dan menangis ketakutan karena kakiku tiba-tiba aneh. Rasanya sangat lega bisa mempunyai suami yang perhatian. Aku berbaring dan bernapas dengan oksigen, tubuhku tersentak-sentak tak berhenti tapi tak separah kemarin.


 


 


Seminggu penuh di rumah sakit dan baru hari ini boleh pulang itu membuatku bertanya-tanya. Aku sangat tertekan karena orang yang ku cintai tidak ingin aku masuk rumah sakit dan dia berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. Aku yakin Audrey masih marah padaku kalau aku berusaha mencari penyebab aku tak bisa memiliki anak dan sering kejang-kejang.


 


 


Ketika aku tidur di kasur, Audrey akhirnya bicara sedikit kata padaku.


 


 


"Rita, kau harus istirahat. Kau masih belum sembuh benar." Ia mencium kening ku."


 


 


Aku merasa bersalah. "Maafkan aku karena membuat mu cemas seperti ini."


 


 


"Aku sedikit stress, karena belum mendapatkan donor darah untuk operasi jantung dan syaraf mu."


 


 


Aku bangun memeluk suamiku dengan badan ku yang kurus. Audrey mengelus punggungku dengan pelan-pelan. Aku tak pernah merasa bahagia seperti ini. Audrey mengambil jarum suntik dan memasukkan bubur ke jarum suntik lalu memasukkan bubur ke tube. Aku harus membuat Audrey tidak stress. Ia melirik ku dan aku berdiri menuju ke ruang televisi dengan walker ku. Aku tersenyum sambil memberikan isyarat supaya suamiku mau ke ruang televisi. Dan ia mengikuti ku sambil memegang punggungku dan mengantarkan aku ke ruang televisi.


 


 


Ya Allah jangan buat aku lemah, aku ingin membahagiakan suamiku. Pikir ku dengan memohon supaya Allah memperpanjang usia ku. Aku tidak ingin Audrey sedih ketika melihat ku lemah, dia satu-satunya yang membuatku terus bertahan hidup dengan penyakit yang membuatku setiap hari menjadi orang yang lemah.


 


 


Sebelum aku duduk, Audrey mengangkat ku dan meletakkan ku ke sofa, lalu ia melebarkan selimut ke tubuhku. Aku duduk namun kejang-kejang itu muncul. Audrey mengelus punggungku dengan hati-hati. Audrey mengambil obat herbal buat penderita jantung dan epilepsi. Aku tidak tahu kapan aku bisa berjalan normal dan pergi ke supermarket bersama suamiku dengan perutku yang besar. Entah sebulan lagi atau dua bulan proses bayi tabung akan selesai. Yang jelas, hari ini aku masih penasaran kenapa aku memiliki tiga organ yang rusak dan membuatku cacat tidak bisa berjalan dengan normal. Suamiku memberikan obat herbal di infus ku, ini membuat aku tidur nyenyak di sofa bersamanya.


 


 


Itu adalah malam pertama aku di rumah bersama suamiku dan pikiran ku masih fokus kenapa aku menjadi semakin lemah? Kenapa aku boleh pulang? Sepanjang yang ku tahu, pikiran itu terus membuatku semakin ingin tahu sampai sekarang.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2