Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri

Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri
pengajian di rumah sakit 2


__ADS_3

Berapa hari yang lalu ayah angkatnya mengalami


kesulitan bernafas, ia menolak memakai ventilator. Kami team medis menyuntikkan


obat tidur, namun dia menampis obatnya. Pak Yudi akhirnya berhasil kami atasi


dengan mengikat kakinya, sekarang kondisinya sedang lemah dan belum bangun dia


koma tidak sadar-sadar. Mertua kandung ku mengalami laryngospam membuatnya


kritis dan harus di pasang ventilator. penyakitnya sama dengan Rita, Rita


maafkan aku tidak memberi info tentang penyakitmu. Ini demi keselamatanmu, karena


jantung mu lemah jika mendengar hal yang menyakitkan ini. Tangan Rita berkedut


dan gemetar, Ya Allah tolong beri ia tenaga.


"Aku mau jalan saja kan dekat, mas."


"Apa kau yakin ingin berjalan saja?" Aku


bertanya dengan nada acuh. Tiga keluarga ini seperti di beri kutukan. kau kurus


sekali Rita.


"Mas, aku takut seperti ayah kandung dan angkatku


mengalami gagal napas akut. Belakangan ini aku sering batuk-batuk dan dan


gemetar."


Kau emang mengalami gagal napas parah sayang, aku akan


berusaha membuatmu tetap hidup sesuai pesan ayahmu.


Ia melangkah dengan lemas dan ku paksa menggunakan


kursi roda. Serangan yang di alami Rita lebih parah, bukan ALS, epilepsi,


jantung dan pneumia. namun mengalami Progressive myoclonus epilepsy. Dia tidak


mengalami epilepsi saat berjalan namun dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya


dan setiap berjalan gemetar atau selalu tremor.


"Rita, kamu tidak apa-apa?" aku bertanya


setiap kali dia kelelahan matanya berkedip-kedip dan kepalanya selalu menunduk.


Wajah pucat. Selama sebulan ini dia bersikeras untuk


mengikuti pengajian walau jantungnya sedang kritis. Jadi tidak mungkin aku


membiarkan istriku mengetahui penyakitnya, biar dia saja yang menemukannya bila


dia kambuh. Rita dan Pak rustam mengalami kelainan langka atau disebut


opclomus.


Opsoclonus myoclonus syndrome ( OMS ), juga dikenal


sebagai opsoclonus-myoclonus-ataxia (OMA), adalah kelainan langka tidak


diketahui penyebabnya yang tampaknya merupakan hasil dari proses melibatkan.


Steven juga berkata setelah dia melahirkan nanti


kondisi rahimnya mengalami kerusakan karena dia pernah mengalami penolakan


organ jantung, saat di beri alat bantu di jantung. kondisi yang lemah bisa


memicu sel tumor atau kanker di rahimnya.


Saat usia enam belas tahun, kata ibu angkatnya setelah


mengalami epilepsi hebat matanya tidak bisa diam selalu tidak fokus. Aku sampai


terkejut saat mendengarnya.


"Maukah kau memberitahuku?" pintyanya,


berpegang pada pegangan kursi roda. Rita, aku akan bersamamu dan membuatmu


sehat.


Aku menghela nafas. "Apa yang kau maksud, sudah


jangan banyak mikir. Sesampai di ruang ICU penderita tumor rahim. Kami melihat


pasien wanita itu. Dia terbaring lemah, matanya tidak fokus, perutnya membesar.


"Dokter, te-ri-ma... kassssiiiiih...." dia


berusaha mengucapkan kata-kata dengan tubuhnya yang kejang-kejang.


"Nona Aisyah, kenalkan ini istriku dia ingin ikut


pengajian di sini bersamamu," aku langsung memperkenalkan istriku.


Progressive myoclonus epilepsy (PME) adalah sekelompok


kondisi yang melibatkan sistem saraf pusat dan mewakili lebih dari selusin


penyakit yang berbeda. Penyakit-penyakit ini memiliki ciri-ciri tertentu,


termasuk memburuknya gejala seiring waktu dan adanya kontraksi otot (mioklonus)


dan kejang (epilepsi). Pasien mungkin mengalami lebih dari satu jenis kejang,


seperti petit mal atau grand mal. PME bersifat progresif, tetapi laju perkembangannya


bisa cepat atau lambat, tergantung pada penyakit yang mendasarinya.


Epilepsi mioklonus progresif (PME) berbeda dari


epilepsi mioklonik. Pada epilepsi mioklonik, gerakan menyentak mioklonik


terjadi sebagai bagian dari kejang. Pada PME, mioklonus terjadi secara terpisah


dari kejang, keduanya merespon secara berbeda terhadap obat yang sama, mereka


berevolusi secara berbeda selama sejarah alami penyakit, dan mereka menyebabkan


masalah yang berbeda untuk pasien. Beberapa obat yang baik untuk kejang,


misalnya fenitoin dan karbamazepin, cenderung membuat mioklonus semakin buruk.


itu adalah gejala yang di alami Aisyah dan istriku, aku sempat terkejut ketika


Rita bilang tubuhnya semakin lemah dan takut ada sel tumor yang menyebar


sehingga perutnya membesar ketika setelah melahirkan dua kali.


"Mas Audrey, tubuhku kenapa mas?" tanyanya


dengan ketakutan.


Aku memasukkan cairan obat peng hilang kejang dengan


jarum suntik yang ku tusuk di nadi istriku.


"Aku coba sentuh kakimu ya." Ya Allah,


penyakit Rita sudah semakin parah kakinya mengalami Ensefalomielitis progresif


dengan rigiditas dan mioklonus (PERM).


"Dokter, apakah saya tidak bisa mandiri dan


selamanya di urus oleh suami saya." Saat aku memeriksa istriku suara


laptop berbunyi itu suara Nona Aisyah. Suaminya menolong ia duduk dengan


hati-hati, Aisyah kepayahan duduk karena tumor ganas di rahimnya sudah


membesar.


Aisyah duduk dengan badan tremor sama seperti istriku.


"Aisyah, kita memiliki penyakit yang aneh


ya." Rita tersenyum ketika bertemu dengan Aisyah teman yang sama-sama


menderita penyakit syaraf dan jantung.


"Aisyah, bagaimana perutmu," aku mengecek


suhu badan Aisyah dengan termometer tembak dan suhunya tinggi. "Aku tak


bisa membayangkan suhu badan istriku tadi juga begitu. "Aisyah, coba


sentuh pulpen dan hidung mu." Hasilnya juga sama aisyah gemetaran ketika


menyentuh pulpen dan hidungnya, sama seperti Rita.


Ia menangis.


"Atau lebih baik Aisyah tidur ya. jantung Aisyah


kembali kritis kalau duduk." Suster membantu Aisyah duduk dan memasang


ventilator di mulutnya. istriku menggerakan kursi roda dan menuju ke Aisyah.


"Mbak Rita kita senasip, tapi penyakit ku lebih


parah. liat nih perutku mau meletus. Tapi pas di pegang keras dan sakit. Aku


terlahir dengan cacat tubuh mbak, kata ibuku aku menderita jantung lemah dan


epilepsi sejak bayi karena kekurangan gizi. Saat usia delapan tahun penyakitku


tidak parah tapi saat menikah pas acara resepsi bangun-bangun sudah di ICU


rumah sakit ini. Tubuhku juga kejang-kejang. "


Aku melihat Rita menggerakan kursi roda dengan


tubuhnya yang tremor. ia menuju ke Aisyah dan mengelus perut Aisyah yang besar.


Saat istriku mau menyentuh tiba-tiba laryngospamsnya kambuh dan napasnya


berbunyi. Waktu itu aku sepanjang malam berjaga di ICU tempat istriku di ruang


sebelah, tapi aku sudah mempersiapkan jika istriku mengalami kejang-kejang yang


berkelanjutan.Tepat pada waktu yang di janjikan, Steven datang memeriksa


istriku. Rasanya hatiku sudah remuk karena istriku kepalanya masih belum


berhenti dan matanya bergerak terus-menerus. Wajahnya pucat sama seperti Aisyah


sekarang namun aku tak bisa menebak masa depan istriku bagaimana. Kalau istriku


bakalan seperti Aisyah, aku harus pasrah Steven dan profesor bilang istriku


imun tubuhnya buruk mudah terkena penyakit.


"Rita, kamu marah sama mas. Ya?"


Aku peluk istriku yang mengalami progressive Myoclonic


Epilepsy. Ketika dia mau melepaskan tubuhnya seperti orang yang gelisah,


kakinya juga tremor seperti badannya.


"Aku ingin keluar sebentar, antarkan ke luar.


Dadaku sakit." Kami saling bertatap muka, Rita menangis kesakitan lalu aku


suntikan dia obat anti kejang.


"Kamu sakit di bagian mana?" tanyaku dengan


membawa Rita ke luar ruang ICU. Rita mengelus perutnya yang masih kempis dan


meneteskan air mata, aku tidak bisa berbuat sesuatu hanya bisa memeluknya.


"Kelak, aku akan seperti dia mas. Setelah


mempunyai anak dan bisa berjalan akan ada ujian yang menimpa ku. Karena daya


tahan tubuhku lemah dan sulit untuk melahirkan atau mempunyai anak. Aisyah


bilang rahimnya tidak sakit sebelum keguguran, namun setelah


keguguran...."


Rita tiba-tiba muntah dan kejang-kejang, aku menusuk


jarum suntik yang berisi obat kejang.


"Lagi-lagi kau membahas ingatan tentang


mimpimu," aku peluk ia erat-erat dan menepuk pundaknya.


"Aku selalu mengalami dejafu yang ku katakan barusan,


ku mohon mengertilah diriku."


"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanyaku


penasaran.


Rita melihat wajah ku dengan matanya yang tidak


tenang, bingung, dan seperti biasa tangan dan kakinya masih gemetar.


"Aku sedang berpikir apakah kita bisa hidup


bahagia dengan keadaan ku yang aneh dan cacat." Aku menepuk pundaknya lagi


dan menemani jalan-jalan sambil menunggu pengajian di ruang ICU tempat Aisyah


teman Rita yang baru.


"Apakah kau merasa bersalah menikah denganku yang


sempurna ini?" Aku bertanya dengan nada yang serius untuk membuat Rita


tidak sedih.


"Aku tidak merasa bersalah. Hanya saja aku takut


membuat mu sibuk setiap hari harus membagi tugas di rumah dan kantor, "aku


nya.


Aku tersenyum untuk membuat Rita bahagia. "Apakah


kau ingin pulang besok setelah aku izin?"


Wajahnya kembali bersinar. Selama sebulan ini, dia


menyuruh ku mengecat rambut ku menjadi silver atau putih seperti Dong Hua drama


chinese kesukaannya dan menyuruh ku untuk membacakan buku novel romance. Jadi


tak mungkin ia tampak bahagia setelah beberapa bulan.


"Maukah kau memberitahu ku?" pintaku, aku


memegang tangannya dan memberikan hadiah tasbih kepadanya untuk dia berdoa jika


kesakitan.


Ia mengangguk dan menangis. " Aku bahagia sekali


kau mengizinkan aku pulang dan memberi hadiah ini."


"Itu ide ku supaya kau tersenyum, mungkin ini


tidak seberapa. Oh iya Aisyah besok akan di bawa ke ruang biasa makanya aku


membujuk mu pulang setelah kau juga di pindahkan ke ruang VVIP," ucap ku


dengan memegang wajahnya.


"Kau tidak biasanya begini malah menyuruh ku


untuk opname dan ke ICU karena kondisi ku memburuk."


"kau marah, ya?"


"Aku hanya penasaran kenapa suamiku sekarang


bersikap cuek padaku biasanya dia selalu lembut dan merawat ku."


Aku tersenyum dan mencium kening nya.


"Ada apa?"


"sepertinya kau salah paham lagi denganku."


Aku merubah topik pembicaraan dengan Rita.


"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan,"


katanya dengan sedih. "Lagi pula belakangan ini kau sudah tampak bahagia


dan tak menangis ketika aku sedih dan menderita dengan penyakit ku yang


mematikan dan langka."


"Tidak, kebanyakan orang kalau melihat istrinya


cacat dan tak ada harapan langsung cerai. Tapi kita beda, walau kau marah tapi


marah mu bukan karena menyesal menikah namun marah karena sayang dengan


aku."


"Kau ingat sejarah Nabi siapa yang di Al-Qur'an.


Meski suaminya tidak bisa memberikan keturunan dia sabar dan suaminya juga


selalu memohon sama Allah untuk bisa memiliki bayi walau dia dan istrinya sudah


hidup tua."


"Aku ingat, makanya aku selalu berusaha berdoa


dan menemukan jalan untuk membuat berat badan mu bertambah dan operasinya akan


di laksanakan." Tiba-tiba aku merasa seperti Rita tahu aku menyembunyikan


sesuatu untuknya, dan dia berkata panjang supaya aku terpancing. "Aku


memutuskan untuk meminta izin pulang supaya kau mau makan dan tersenyum lalu


operasi yang tertunda bisa di lanjutkan dan kau juga bisa melanjutkan bayi


tabung."


Ia berpaling melihat wajah ku. Ia sedang konsentrasi


untuk mengendalikan tangannya yang sulit diam dan di gerakan. Rita sedang


mencoba untuk melihat wajah ku dengan bola matanya karena action myoclonic yang


dialaminya sama seperti Aisyah pasien yang mengalami perut besar dan kadang


tidak sadarkan diri karena kejang-kejang.


"Apa mama tidak merasa sakit dan lelah?"


tanyaku, dengan menghilangkan kecemasan yang baru saja aku pikirkan.


"Sedikit, saja." Dia merasa bahwa aku


belakangan ini berubah tidak seperti biasa, dan sekarang tak memberitahu ku


jika kesakitan atau pusing dan sesak napas. "Ayah?"


Dia melihat Aisyah dan suaminya yang di ICU.


"Tidak sakit dan ayah baik-baik saja. Ayah kan


bertanya pada mamah." Ia sulit berbicara dan konsentrasi karena mengalami


cidera di syaraf otak dan sumsum tulang belakangnya. Aku begitu senang bisa


menikahi Rita, semangat melawan penyakit langka membuat hati dan ragaku


tergerak untuk menolongnya namun sekarang semangat di dalam jiwaku telah hilang


karena ia belakangan ini murung tidak mau makan.


"Boleh minta tolong antarkan ke ruang


Aisyah?" pinta nya setelah ia merasa baikkan.


"RITA," KATAKU ketika kami akan masuk ke ICU


sambil memegang tangannya yang dingin dan kurus, "Ada sebuah pelajaran


semua yang kita alami baik hari ini maupun kedepan adalah ujian, jika rumah


tangga kita diterpa badai harus kuat meski kita sedang sakit dan lemah."


Rita dengan tangannya yang gemetar di kursi roda dan


menangis dengan napas yang tidak normal dan dia menunduk terdiam sesaat. Saat


itu di siang hari menunggu ustadz dan jamaah datang untuk membacakan ayat kursi


buat Aisyah yang kritis tidur dengan badan kejang-kejang dan jantung yang


lemah. Di rumah sakit Yayasan Steven matahari telah bersinar dan menjadi kuning


terang karena mendung sudah usai, tetapi di luar dan yang panas menyengat di dekat


tembok ruang ICU masih terlihat lembab bekas hujan.


Selambat-lambatnya Rita berdiri dan belajar jalan di


dampingi aku dengan hati-hati.


"Tergantung kamu jika masih sakit maka aku akan


menghentikan terapi jalan besok, makanya kita coba sekarang."


"Tidak sakit, kok. Aku tidak ingin sia-sia


perjuangan ku, " ia meyakinkan diriku bahwa ia kuat tidak lemah.


Aku menunggu dan penasaran.


"Aku hanya memastikan apakah kau


siap...kalau-kalau lain kali kau mau istirahat supaya menambah energi sebelum


latihan, demi kebaikanmu sendiri. Jadi aku akan memberitahu Steven dan


profesor." Ia masih memandangi kakinya untuk di gerakkan ketika memegang


tembok, berusaha memegang tembok dengan tangannya yang lemah.


"Aku tidak ingin tertunda untuk menjadi seorang


ibu." Aku membantunya untuk berjalan, memapah dengan hati-hati dan


membantu ketika ia mau terjatuh.


"Terima kasih telah menuruti kata-kataku,"


aku tersenyum kepadanya untuk membuat Rita semangat dan mau makan.


Aku memang seorang dokter namun bukan dokter


spesialis. Aku nggak akan pernah nyusahkan istriku yang sakit. Siapapun yang


menyakiti Rita baik orang yang senang padaku akan aku beri pelajaran.


"Audrey! kamu tidak perlu terima kasih, justru


aku yang terima kasih karena kamu tidak bosan dengan ku." Ucap Rita sambil


hendak jongkok di depan ICU. Tetapi ketika ingin berdiri, Rita duduk dan bola


matanya menuju ke arah kakinya yang tremor dan spams. Makanya tangannya yang


tadinya lemas tiba-tiba kaku dan mengejang.


"Aku di sini sayang, jangan takut. Aku tidak akan


pergi meninggalkan mu." Aku tidak kuat melihat Rita tiba-tiba kambuh, ku


peluk dia dan aku menangis di punggungnya ketika ia kejang-kejang sedang


menghadapi epilepsi nya. Saat sadar Rita tiba-tiba menangis dan aku langsung


mengelap air mataku.


"Yang sabar ya sayang, In Syaa Allah kamu bisa di


operasi. Doakan saja supaya berat badan mu naik dan denyut nadi normal, tekanan


darah mu juga normal."


"Pah apakah aku boleh minta satu jawaban sebagai


gantinya papah tadi menanyakan ku?" Pintanya.


"Ya boleh, satu saja."


"Ceritakan satu saja kenapa belakangan ini aku


kalau tidur tiba-tiba suka kejang tanpa sadar?"


Astaghfirullah, "Kamu istirahat ya. Setelah kamu


sembuh baru aku jawab semuanya."


"Kau masih tidak mau memberi ku penjelasan. Ya


sudah tidak apa-apa Audrey. Bisa gendong aku tidak dan taruh aku di kursi roda.


Kalau habis epilepsi aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa."


"Tadi mamah yang bilang mau jalan saja kan,


supaya besok bisa terapi." Ya Allah, jangan buat Rita kesakitan. Aku sedih


kalau melihat istriku begini lagi, dia kambuh dan tiba-tiba senyum sendiri dan


matanya berkedip-kedip lagi.


"Aku baringkan kamu dulu, Ya."


"Mas, pusing dan sesak napas." Syukurlah


epilepsi Rita tidak parah, aku coba periksa jantungnya. Di jam pengukur tekanan


darah masih normal.


Hari ini, Rita tampak begitu ceria, berkenalan dengan


teman barunya di rumah sakit, setelah lebih dari sebulan ia menikah denganku


hanya diam di rumah sakit dan mengobrol jika badannya terasa sakit atau lelah.


"Kamu hari ini berbeda juga sayang. Kamu bilang


aku jarang sedih lagi, kan. Kamu juga sekarang banyak bicara berbeda dengan


sebulan yang lalu. Sini aku bantu kamu duduk di kursi roda." Aku bersyukur


ada kemajuan dengan Rita.


"Mah, mamah tidak apa-apa," sama seperti


biasanya istriku selalu tidak bisa diam karena penyakit langka dan matanya


selalu melihat ke atas jika bangun dari epilepsi. "Aku disini, mamah


jangan takut. Aku akan menemani mu."


Ia duduk di kursi roda masih seperti yang tadi,


seperti orang kesurupan dan bergerak menari.


"Pah... aku takut operasi. Tolong jangan


tinggalkan aku." Rita suaranya seperti kelelahan dan kesakitan, aku tidak


bisa apa-apa dengan keadaannya seperti ini. Aku memapah nya dan mendudukkan ia


ke kursi roda. Subhanallah, kondisi istriku belum juga sembuh aku besok tidak


bisa meminta izin untuk membawanya pulang.


"Mamah jangan takut operasi, ini demi kesembuhan


mamah."


"Aku lelah pah, harus sakit-sakit tan di rumah

__ADS_1


sakit. Belum lagi di operasi."


"Ya sudah, ceritakan alasan mamah bilang kalau


aku ini menyembunyikan sesuatu dari istriku yang tercinta." Aku melihat


istriku dengan penuh kasih sayang.


"Audrey takut kalau aku mengetahui penyakit ku


bisa-bisa aku terkena serangan jantung, dan koma?" Rita nampaknya sudah


tahu tentang semuanya namun belum tahu kenapa dia selemah ini dan belum membaca


hasil lab dari Steven.


"Kamu berlebihan sayang," aku mengolok


istriku.


"Cuma itu yang ada di pikiran mengapa kamu menyembunyikan


sesuatu? itu saja," tukas nya kesal.


"Kelihatannya mamah terlalu banyak pikiran, kan


papa sudah bilang ga boleh berpikir karena mamah lagi sakit."


"Bukan karena aku punya penyakit jantung?"


"Bukan."


"Bukan karena aku juga punya epilepsi?"


"Itu tidak sama sekali."


"Ya Allah," Rita akhirnya tersenyum setelah


aku menggoda nya.


"Mamah hanya kelelahan dan kebanyakan pikiran


saja," aku menyahut apa yang di katakan istriku.


"Papa jangan menertawai mamah," ucapnya


dengan sedih.


Aku berusaha untuk tenang dan tidak tertawa.


"Nanti mamah juga akan mengetahuinya kok."


"Mamah harap, Papah segera memberikan hasil lab


kepada mamah. Mamah ingin mengetahui hasil lab nya."


"Karena apa mah, kenapa mamah mau tau hasil test


kesehatan mamah?"


"Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa lagi jalan


dan aku sakit? bagaimana kalau aku mengalami kerusakan di organ jantung


ku?" Ia tersenyum kepadaku karena aku menggodanya dan membuat dia


bersemangat lagi.


"Oh, masalah itu," kataku, ketika dia


menanyakan tentang penyakitnya yang tak kunjung sembuh. "Aku paham, nanti


kita bahas lagi."


"Syukurlah, kalau kau paham. Aku tidak ingin


menjadi lemah. Aku ingin berguna bagimu," ucapnya dengan serak. Rita masih


kesulitan bernapas karena paru-paru nya mengalami gangguan dan infeksi jadi dia


memakai selang dan membawa tabung kemana-mana. Hanya ini yang bisa ku lakukan


untuk membuat dia tetap bernapas.


"Apakah aku akan mati setelah memiliki


anak?" Ia menebak pertanyaannya, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku


memang menyembunyikan penyakit yang membuat mu sempat hampir sekarat demi nyawamu.


Aku merahasiakan karena ayahmu tidak ingin kamu sedih atas penderitaan yang


kamu alami selama ini.


Aku hanya ingin kamu bahagia, demi kesehatan mu. Ia


tidak mungkin bertanya seperti ini, mungkin saja istriku stress jadi hanya


menebak-nebak saja. Seperti biasanya Rita selalu saja tidak ingin terlihat


sakit walau dia sakit.


"Tapi mungkin aku ada kesempatan untuk


hidup," bisiknya, sambil tersenyum. "Tidak aku tidak percaya kalau


aku sehat-sehat saja."


"Kau salah." Aku menjawab tebakan Rita. Aku


memegang tangan istriku dan memberikan sebuah gelang mutiara. Ia menatap ku


lagi dengan ekspresi sedih. Aku sungguh ingin ia menyadari bahwa dia tak perlu


cemas tentang kesehatannya. Aku melihat wajahnya dia tampak khawatir tentang


penyakitnya. Dia selalu saja membahas hasil lab tentang penyakitnya.


Tak terasa sudah di dekat taman dan kami berjalan


sudah hampir dua jam kalau ga salah.


Ia berbicara dengan nada yang lemah, "Mas,


antarkan aku ke ruangnya Aisyah."


"Maaf, aku membawamu ke taman untuk latihan


berjalan," kataku dengan memapahnya ke kursi roda.


"Tidak usah minta maaf."


"Jangan begitu, kalau kamu kesakitan aku yang


salah. Ini juga kan salah ku." Aku tersenyum karena begitu polosnya Rita


walau ia tampak cerdas dan sopan tetapi masih ada kepolosan di dalam dirinya.


"Alhamdulilah, mas sudah mau senyum." Dia


tersenyum itu yang membuatku tersenyum, selama ini rita tidak mau tersenyum,


makan saja sedikit dan sering muntah darah dan muntah karena makanannya ga bisa


di cerna.


Aku mengalihkan perhatiannya dan membawa ia ke ruang


ICU. "Sudah sampai, tidak jauhkan."


Ia masuk ke ruang dan di ruang dia menangisi temannya


yang sekarang kritis karena penyakit yang sama. ketika ia menangis di dekat


Aisyah, tubuh istriku tiba-tiba mengejang dan aku memberi obat lalu menyuapkan


obat epilepsi ke mulut dengan dosis kecil.


Hanya sebentar epilepsinya, mengingat Rita sudah bisa


mengontrol emosi. Ia memelukku erat dan menangis karena ketakutan tidak bisa


bernapas. Para tamu yang datang untuk mendoakan Aisyah sudah datang, Rita


bersalaman dengan mereka. Suami Aisyah berjalan menuju ke Ustadz, lalu aku


duduk di samping Rita.


Lalu Ustadz membacakan doa buat Aisyah, sedangkan Rita


membaca Surat Yasin dengan hikmat meski ingatannya memudar dan sulit mengingat.


Suami Aisyah mengoleskan minyak ke perut yang besar dan keras, Aisyah masih


kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan busa. Rita yang melihat wanita yang


kejang-kejang dengan perut besar itu tertekan dan ia menangis sambil memegang


tangan Aisyah.


"Insya Allah, Aisyah sadar dari masa kritis. Saya


akan mendoakan kesehatan Rita tadi dia sudah berpesan untuk di doakan saat saya


ke ruang Aisyah di rawat,"kata Ustadz seraya mengambil air zam-zam dan


memberikan ke diriku. Suara ECG terdengar nyaring dan di barengi dengan suara


orang-orang yang ngaji, Rita sedang meminum air zam-zam yang telah di bacakan


doa. "In Syaa Allah, setelah minum air zam-zam campur kurna najwa bisa


berjalan dengan lancar." Aku menepuk dada Rita, setelah minum air zam-zam


dengan kurma najwa istriku muntah-muntah dan kakinya tremor. Ustadz memegang


kaki Rita, dengan tangan yang sudah di lapisi sarung tangan tebal. Kakinya yang


kurus masuk ke dalam baskom air yang sudah aku sediakan, di baskom itu ada air


yang di taburi daun dan garam yang sudah di bacakan doa. "Ini mungkin dia


terlalu sedih, jadi syaiton masuk ke jiwanya. untung dia mau di ruqyah. Dia


tidak bisa berjalan karena gangguan jin yang membuat dia sulit berjalan."


Ia memijat kaki istriku dan menekan titik aku puntur. "Aliran darahnya


kurang lancar dan dia juga menderita jantung bocor yang parah." Ia memberi


madu di mata istriku. Saat Rita di beri madu, tubuhnya tiba-tiba kejang-kejang


dan denyut nadinya semakin melemah.


"Saya akan mengobati nya di ruang Rita di rawat,


dokter Audrey tolong bawa istri anda ke ruangnya." Ia membacakan doa ke


Aisyah, sementara itu aku mengantarkan istriku ke ruangnya. Istriku tiba-tiba


kejang-kejang terus menerus. "Dokter, kami sudah siap kita sama-sama ke


ruang Rita." Ustad dan rombongannya ikut kami ke ruang istriku. Kami


menuju ke ruang ICU untuk menolong Rita, Ustadz yang di luar membacakan doa


kesembuhan Rita.


"Minumkan air zam-zam supaya dia tidak


kejang-kejang, lalu bacakan ayat kursi supaya dia tidak kritis lagi." Ia


memegang kaki istriku dengan tangan yang sudah di pakai sarung tangan tebal.


Rita kejang-kejang dengan posisi seperti orang kayang, tangannya mengepal dan


matanya menghadap ke atas lalu terdengar seperti dia tertawa.


"Kemudian, dokter Audrey oleskan minyak bidara ke


badan Rita atau tangan Rita." Ia selesai dengan bacaan doa dan


menyembuhkan kaki istriku, sekarang ustadz menekan tulang punggung istriku


dengan kayu kecil yang di tangannya. Rita menangis kesakitan berusaha menahan


sakit karena punggungnya di tekan untuk membuat ia bisa berjalan lagi.


"Dia harus di operasi segera di syaraf otaknya,


karena yang membuat dia lumpuh adalah penyakit epilepsi, jadi saya pikir dokter


Audrey harus segera menemukan cara supaya berat badan Rita naik." Ia


menyarankan supaya istriku segera di operasi jantung dan otaknya. "Kalau


sampai telat bisa-bisa istri anda tidak bisa jalan bahkan ajal nya semakin


dekat."


Ia mencuci tangannya di kamar mandi, Rita akhirnya sadar


dari kejang-kejang nya. Istriku masih lemah, ia mencoba bernapas dengan oksigen


dan kuat namun setiap detik dia memejamkan mata karena kelelahan. Di


sekelilingnya, terdapat ECG, selang inpus, dan oksigen. istriku seperti robot


yang akan di buat dan di tes apakah ada mesin yang rusak.Rita tiba-tiba matanya


terarah ke atas dan tubuhnya mengejang. Mulut istriku merot-merot, aku dengan


sabar memijat keningnya dan menciumnya.


"Rita, kau baik-baik saja. Sayang?" tanyaku


dengan hati yang tertekan dan penuh kasih sayang.


"Mas Audrey aku takut mati, ku mohon jangan


tinggalkan aku," katanya lemah, dengan nada yang terputus-putus. Rita


menangis memegang tanganku, epilepsinya cuma sebentar tidak membuat dia koma.


Aku mulai lelah dengan hasil lab yang di berikan


profesor. Ingin rasanya aku pergi ke luar negeri membawa istriku untuk berobat


agar dia bisa ceria dan tidak ngelantur berbicara.


"Apa kau mau dejavu lagi?"


dengan tatapan yang kosong dan aku langsung memberikan obat epilepsi.


"Dokter Audrey saya sarankan untuk setiap hari


istri anda mendengarkan murotal supaya syaraf di otaknya ga rusak," Seru


Ustadz.


Ia mulai sadar setelah Aku dan Ustadz selesai memberi


air zam-zam, untungnya tidak separah bulan lalu.


"Nona bisa menggerakan tangan dengan pelan-pelan


dan kaki nona?" tanya Ustadz.


"Ya," bisik nya sambil menggerakkan tangan


dan kaki. Rita mencoba menggerakkan jari kakinya dengan perlahan dan tangannya.


Sudah ada kemajuan dan itu bisa di lihat.


Rita sepertinya sekarang sudah mulai tersenyum bahkan


dia sudah mulai mencoba menggunakan sendok untuk latihan memegang nya meskipun


masih gemetar.


Ustadz keluar ruang ICU bersama tamu pengajian. Rita


memegang tanganku dengan erat dia masih menahan sakit di dada walau kondisinya


membaik namun jantungnya masih belum sembuh.


Aku mengoles dada Rita dengan salep supaya dia bisa


tidur dengan sedangkan Rita mendengar murotal untuk melatih emosi nya. Ketika


aku membuka baju Rita, di dadanya ada sebuah bekas luka sayatan ketika masih


kecil.


"Biarkan aku memejam mata sebentar, dadaku


sakit," Istriku memohon padaku untuk istirahat. Aku melihat dadanya naik


turun karena pernapasan, di bawahnya bekas sayatan untuk mengeluarkan udara


dari paru-paru nya yang bocor.


"Luka ini aku dapatkan ketika aku sekolah dasar,


saat aku home schooling tiba-tiba aku kesakitan dan tidak sadarkan diri.


Paginya aku mendapat sudah di ruang operasi," katanya dengan polos. Rita


masih lemah. Rita mengarah ke atas matanya masih belum sembuh karena penyakit


syaraf yang langka.


"Aku di sini sayang, cepat


sembuh ya," aku mengelus kening nya dan melatih istriku untuk fokus.


Semenjak Myoclonus nya kambuh Rita tidak bisa tidur dengan tenang, setiap


duduk, berdiri, dan tidur pasti kejang-kejang. Sepertinya mau tidak mau harus


terapi berjalan supaya dia tidak menangis lagi.


"Wow, keponakanku sekarang sudah bisa tersenyum


meski masih lemah." Tantenya datang menjenguk Rita.


"Rita?" aku memanggil dengan lemah lembut.


Rita menangis dan menjerit. Epilepsinya kambuh aku


sangat khawatir, tidak biasanya dia seperti ini, suster dengan sigap menusuk


kulit Rita dengan hati-hati dan jarum suntik yang berisi obat epilepsi dan


jantung sudah di masukkan ke dalam tubuh Rita.


"Apa yang terjadi--apakah dia sakit?"


tantenya mengelus kepala istriku dengan perlahan-lahan. Rita saat sadar


langsung menangis dan melihat ke arah tante nya. Rita nafas nya makin tidak


teratur dan mengalami laryngospams.


Tantenya khawatir banget." Apakah belum bisa di


operasi penyakitnya, aku tidak tega melihat dia seperti ini."


"Rita," aku sudah di sebelah nya memegang


tangan istriku dengan hati-hati dan mengelus dadanya yang sesak.


"Sakit," erangnya. "Aku kesakitan tidak


bisa bernapas. Aku takut mati."


Tiba-tiba saja Rita tidak sadarkan diri. Aku mencoba


untuk CPR ke dadanya. Aku telah menyelamatkan nyawanya, Rita sadar dan membuka


matanya.


"Jangan tinggalkan aku." Dia menangis dan


aku mencium kening yang pucat lalu ku pijat tangannya yang kaku dengan perlahan


serta kakinya. Suster satunya membawakan bubur dan suntikan untuk di suapin ke


Rita melalui selang yang terpasang ke hidungnya. Aku tidak tega melihat istriku


masih belum bisa makan dengan tangannya dan mengunyah. Setiap aku menyuapkan


makanan dari hidung, pasti keluar darah banyak di hidungnya.


"Aku akan pelan-pelan menyuapkan bubur, jika kamu


sakit kamu tinggal bilang," aku menjelaskan dengan nada pelan,


"kelihatannya dia mengalami pendarahan di bagian hidungnya ketika di


masukkan makanan lewat slang." Ia tersenyum padaku meski kesakitan. Dengan


tubuhnya yang kurus dan tidak ada tenaga mungkin jalan terbaik adalah operasi


syaraf otaknya.


Aku menghela nafas, satu-satunya cara terbaik operasi


jantung untuk mencegah terjadinya penyumbatan darah ketika operasi syaraf.


"Sebentar lagi aku bisa operasi ya, mas


Audrey?" tanyanya.


Aku memandangan nya, seakan-akan ia baru mengajukan


pertanyaan yang sudah di ketahuinya yang pernah dia tanyakan.


"Audrey hari ini operasi sudah bisa di jalankan.


Profesor sudah bisa mengatasinya kemarin suster sempat menimbang berat badan


istrimu sudah naik sedikit."


"Terima kasih," Jawabku. "Aku akan


bertugas memeriksa pasien malam ini. "Tolong selamatkan nyawa


istriku."


Tiba-tiba Rita kejang-kejang tak sadarkan diri. Dia di


tolong dengan CPR dan di bawa ke ruang operasi. Aku hampir saja kehilangan


istriku, dia sempat epilepsi tanpa gejala.


"Aku takut di operasi," ia menangis, saat


itu aku mengejar dokter Steven dan suster untung saja belum sampai di ruang


operasi. Apakah Rita ketakutan, jangan takut sayang ini demi jantung mu.


"Ja-ngan-ting-gal-kan-a-ku," dia menyambung


pembicaraan dengan sahutan yang terputus-putus.


"Jangan takut, aku akan menemani mu di luar. Kau


akan kuat." Aku mencium kening nya sebelum dia masuk ke ruang operasi.


"Aku.. mencintaimu...," masker oksigen yang


sudah di beri obat bius di pasang ke wajah Rita, istriku tertidur dan aku


menunggu di luar sedangkan dokter bedah dan suster masuk bersama Rita ke ruang


bedah. Suara ECG berbunyi stabil menandakan Rita masih baik-baik saja.


"Audrey bagaimana Rita?" seorang lelaki


kurus datang menghampiri ku memakai kursi roda elektrik persis dengan Rita. Ia


adalah ayah kandung Rita.


"Ayah mertua, kenapa kamu keluar ICU?"


tanyaku dan mengelus dadanya. Aku membetulkan posisi Ayah mertua, karena dia


mempunyai penyakit langka. Ia dengan kursi roda yang terdapat laptop.


"Waktuku sudah tidak lama lagi...aku sekarang


memakai masker oksigen... badan ku kurus," ucap Ayah melalui komputernya.


Aku memeluk ayah mertua yang menangis karena sedih


melihat penderitaan yang di alami dirinya dan anak kandung yang ia cintai.


"Jangan cemas, In Syaa Allah Rita akan sembuh dan


bisa tersenyum lagi. Dokter sudah mempunyai cara untuk menyelamatkan jantung


Rita supaya kuat." Aku mengantar ayah mertua berjalan di taman sambil


menikmati udara.


"Sudah takdir jalan hidup ayah, nak Audrey. Saat


kecil ayah mengalami bocor jantung dan paru-paru bocor. Sekarang di tambah lagi


penyakit ALS, ingin sekali menggendong Rita saat kecil namun apalah daya saya


terbaring di rumah sakit karena kritis."


"Rita pasti akan sembuh setelah di operasi, tapi


belum bisa menggantikan jantungnya." Aku tahu Ayah mertua pasti sudah


lelah dengan penderitaan yang dia alami dan donor jantung cuma untuk dua orang,


bulan lalu saja dia meminta Rita dan ayah angkatnya di operasi sedangkan


dirinya tidak usah karena penyakitnya yang terlalu parah. Aku tak bisa memaksa


ayah mertua untuk istirahat di ruang ICU, meski dia terkadang mengalami keram


di laring dan susah bernapas tapi iya masih kekeh ingin menjaga di depan ruang


operasi menunggu kepastian, dengan susah payah aku membujuk ia untuk tidak


cemas akhirnya berhasil. Aku mengantar ke taman supaya dia bisa tenang dan


tidak cemas.


"Ayah, apakah merasa baikan. Sus ambilkan tabung


oksigen ayah mertua saya tiba-tiba sesak napas." Ayah kenapa tidak


istirahat, ayah harus kuat demi Rita. Sekarang Rita butuh dukungan ayah, dia


sedang di operasi.


"Sampai kapan keluarga kami seperti ini, aku


lelah sekali. ujian ini terlalu berat." Aku menepuk pundak ayah dengan


perlahan, nampaknya ayah sedih karena kondisinya makin kurus ia tidak mau Rita


bertemu dengannya. Dia tidak ingin Rita mengalami serangan jantung karena


melihat ayah kandungnya sakit seperti ini.


"Ayah! Rita pasti sedih kalau melihat ayah


seperti ini. Kita berdoa semoga Rita kuat saat operasi dan cepat sembuh."


Aku mengelap liur ayah yang menetes, semenjak terkena ALS ayah tidak bisa


berjalan dan melakukan sesuatu dengan sendiri. Otot ayah di serang penyakit


mematikan terkadang aku memeriksa kondisi ayah mertua yang kritis karena sesak


napas atau tersedak kue atau epilepsinya kambuh.


"Audrey! Terima kasih telah merawat dan menjaga


putri semata wayang ku. Rita hanya perempuan yang ku miliki, Saat dia kecil


atau di rahim ibunya aku tidak pernah melihatnya. Aku bertemu saat usianya


menginjak tiga tahun tapi aku masih ragu-ragu. Aku baru mengetahui saat ibunya


pergi diam-diam melihat dia di rawat di rumah sakit," Ayah mertua menulis


di laptop dengan menggunakan matanya karena ototnya sudah lemas.


"Sus ambilkan obat epile[psi, ayah mertua saya

__ADS_1


epilepsinya kambuh." Setidaknya Ayah bisa menahan sesak nafasnya, mulutnya


berkedut dan matanya juga berkedip tidak berhenti. Ayah masih dengan


epilepsinya, aku mengelap air liur yang menetes di mulut ayah dengan pelan dan


ku turunkan ayah dari kursi roda. Aku pangku ayah mertua, ia sudah ku anggap


ayah kandungku.


tanda-tanda yang di alami ayah sungguh membuatnya


kesusahan bernapas.


Kebingungan sementara Mata kosong (bengong) menatap


satu titik terlalu lama Gerakan menyentak tak terkendali pada tangan dan kaki


Hilang kesadaran sepenuhnya atau sementara Gejala psikis Kekakuan ototGemetar


atau kejang, pada sebagian anggota tubuh (wajah, lengan, kaki) atau keseluruhan


Kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan hilang kesadaran secara tiba-tiba,


yang bisa menyebabkan orang tersebut tiba-tiba terjatuh. Beberapa menit


kemudian suster datang dengan petugas medis yang lain, aku ikut mengangkat ayah


mertua ke kasur dorong. Ayah di pakaikan masker oksigen dan di pasang ECG.


Tangan Ayah di pasang infus dan hidungnya di pasang slang untuk memasukan bubur


dan makanan lain. Saat menuju ke ruang ICU laryngospamsme ayah kambuh, sesak


napasnya kumat dan jantungnya kritis. Untung sampai di ruang ICU.


"Kapan dia sering epilepsi dan laryngospamse,


sus?" tanyaku panik.


"Setiap hari dokter. Sus, apakah belum ada donor


jantung untuk Pak Ruslan, ini demi istri saya. Kalau sampai istri saya tau


ayahnya tidak bisa di sembuhkan karena ternyata memiliki komplikasi, Rita akan


kambuh jantungnya. Dia sekarang sedang di operasi jantungnya, dokter belum bisa


mengganti jantung karena takut terjadi gagal jantung atau jantung dari pendonor


menolak."


"Belum, kami sudah mencari pendonor untuk Pak


Ruslan tapi belum ketemu?"


"Oke, makasih sus." Ya Allah aku tak kuasa


melihat ayah mertua kelelahan dan sesak napas. Dia seperti Rita sehabis


epilepsi kambuh tiba-tiba dia tidak bisa seimbang badannya tremor.


"Audrey...


maaf...ayah..merepotkan...kamu..." Tulisan yang di laptop terpenggal


karena ayah sudah tidak bisa fokus menulis dan menulis, temanku bilang syaraf


otaknya sudah parah. Dokter bilang dia bisa membaca Al-Quran namun kemampuan


berpikirnya lemah, setiap dia lelah seperti anak kecil.


"Dokter, kemarin Pak Ruslan dalam keadaan lemah


dia terapi. Saya salut padanya karena kegigihannya. Dia bilang supaya bisa


melihat Rita walau umurnya pendek, dia tidak ingin di kasur terbaring lemah


atau di kursi roda. Saat epilepsi pak Ruslan sudah baikan dia masih ingin


latihan."


"Saya tahu sus, dia seperti ini karena tidak


ingin kehilangan orang yang di cintainya. Dia sudah kehilangan istrinya


sekarang dia hanya punya putri semata wayangnya dan putrinya sakit seperti


dia," Aku menyeka tubuh ayah mertua ku. Ayah tubuhnya kurus dan memakai


pampers karena dia sekarang tidak bisa jalan ke WC dan seperti anak kecil


selalu mengompol.


"Nak Audrey sekarang saya tidak bisa berdiri


sendiri karena penyakit komplikasi yang menyerang otak saya dan sumsum tulang


belakang saya, jadi saya ingin nak Audrey juga merahasiakan dari anak


saya."


Aku hanya bisa menghirup udara dan menelan ludah. Dari


orang yang ku sayang semuanya sakit dan penyakitnya susah di sembuhkan. Setahun


lalu, sehari sebelum aku menikah dengan Rita, ia tampak ceria ketika aku ajak


jalan-jalan saat dia masuk rumah sakit. Tidak tahu sekarang ia menjadi pendiam,


untungnya kemarin ia bisa terenyum dengan teman baru di rumah sakit. Merah


merona pun muncul di wajahnya ketika aku merayu dia untuk makan malam.


"Ayah jangan sedih," kataku. "Karena


dokter yang operasi Rita sudah mengetahui bagaimana supaya jantung Rita tetap


berdetak dengan normal walau jantungnya belum di operasi. Coba ayah istirahat,


maka penyakit ayah tidak akan kambuh lagi. ingat tidak, tadi sore ayah sempat


gagal nafas dan kejang-kejang? Sekarang kondisi ayah masih kritis dan harus


istirahat. Ayah tidak mau Rita menangis kan. Kalau ayah tidak mau Rita menangis


tolong ayah istirahat dan patuh aturan dokter."


"Maaf ayah bertindak egois seperti anak kecil.


Ayah sekarang tidak bisa apa-apa, makan dan semuanya di bantu sama perawat dan


kamu,"katanya.


Dia memejamkan mata dan menghirup oksigen dengan


tubuhnya yang kurus.


"Baru saja aku menerima email dari ibu angkatnya,


kalau Pak Yudi koma. Dia mengalami gagal napas dan belum bangun dari tidurnya,


makanya aku berbicara seperti itu sama ayah mertua. Aku tidak ingin operasi


Rita terganggu. Ayah angkat dan mertua adalah orang yang Rita cintai. Rita


bertahan hidup melawan penyakit itu karena ada ayah. Dia setiap kali epilepsi


menangis karena di bayangannya seperti dia sedang sekarat dengan perut


membesar. Aku sudah menenangkannya dan berkata jangan Suudzon supaya dia bisa


operasi. Tekanan darah tinggi sulit untuk operasi bisa-bisa nyawanya


terancam." Aku mengeringkan air mata yang menetes di pipi dengan sapu


tangan dan menghirup udara sejenak.


"Ayah yang seharusnya minta maaf. Ayah sedih


sekali melihat keadaan ayah seperti ini. Ayah benar-benar lumpuh semua anggota


badan sampai tidak bisa berbicara."


Aku tahu ayah seperti ini karena tidak bisa apa-apa


dan harus memakai popok setiap hari, tapi aku tidak tahan melihat penderitaan


ayah mertua yang seperti ini terkadang sempat kritis, kalau sadar tingkah nya


ke kanak-kanak kan, kadang sempat sesak napas dan batuk-batuk.


Ayah juga mempunyai penyakit ataxia, Koordinasi gerak


yang buruk. Langkah kaki yang tidak stabil atau seperti mau jatuh. Kesulitan


mengendalikan motorik halus, seperti makan, menulis, atau mengancingkan baju.


Perubahan cara bicara. Sulit menelan. Nystagmus atau pergerakan bola mata yang


tidak disengaja. Pergerakan mata ini dapat terjadi pada satu atau kedua mata


yang bergerak ke samping (horizontal), atas-bawah (vertikal), atau


memutar.Gangguan dalam berpikir atau emosi.


"Halo, ada apa ? baik saya segera ke sana."


Aku baru mendapat telepon operasi jantung sukses namun Rita setelah operasi


mengalami kejang-kejang. Keadaannya lemah dan belum bisa menjawab pertanyaan


dari suster.


"Nak Audrey, anak saya kenapa?" Ayah Rita


bertanya dan ia menangis, aku lap air matanya dan menepuk pundaknya.


"Doakan istriku ya pah, semoga dia cepat sadar


dari kritisnya. Dokter bilang setelah selesai operasi tiba-tiba dia


kejang-kejang dan matanya tidak fokus. Sudah dilakukan CPR namun dia belum


sadar." Aku tak kuasa menahan air mata saat memeluk ayah kandung Rita yang


masih kritis. Ayah dan Rita juga mengalami Syndrome of Ocular flatter pada


matanya. Ayah mertua dan Rita mempunyai penyakit sindrom menari mata dan kaki,


matanya selalu tidak bisa fokus dan kakinya tidak bisa diam.


Ayah mertua membuka matanya. Ia memegang tanganku


erat-erat untuk berdiri, dan aku memegang badannya supaya dia tidak jatuh.


Suster datang membawa makanan dan aku mendudukkan ayah di kasur lalu tangan


ayah ku elus dengan pelan setelah itu barulah aku menuju ke ruang tempat Rita


berada. Berlari menuju ruang ICU di sebelah ternyata situasi Rita parah


melebibihi ayahnya, aku mendekat dan menangis. Tak di sangka Opsoclonus


ditandai dengan gerakan mata yang cepat dan tidak disengaja yang tidak teratur


dan tidak terkoordinasi. Membuat Rita setelah operasi jantung makin kacau.


Waktu lalu dokter syaraf memberi tahu kalau Rita ada gejala ALS ringan, namun


karena syarafnya lemah penyakit ALS semakin parah dan memperburuk syaraf otak


dan syaraf tulang belakangnya dan membuat sulit pulih karena Rita mengalami


bocor jantung di bagian katup. Lalu aku putuskan untuk memperbolehkan ia


program bayi tabung karena takut keadaan Rita. semakin parah.


"Dia mungkin merasa tenang pas selesai operasi


dan membuat pikirannya banyak, jadi otaknya mengalami syok dan membuat epilepsi


kambuh," Aku meyakinkan suster yang merawat Rita. "Dia juga kelelahan


karena kemarin habis ikut pengajian dan tadi pagi juga."


Suster yang merawat Rita di ICU akhirnya pergi. Aku


menyetel surat Al-Qur'an supaya detak jantung Rita tenang.


"Nona Rita kemarin tidak seperti ini, tapi


setelah operasi malah semakin parah dan jantungnya kembali kritis."


Aku memeluk istriku yang terbaring lemah di ICU,


sebentar-bentar dia kelelahan tidur.


"Berbaring sebentar saja, ya. Sayang; In Syaa


Allah kamu bisa ke ruang VVIP bukan di ruang ini lagi."


"Aku lelah, dadaku sakit," ucap Rita dengan


laptop yang ia ketik melalui pikirannya. Dia menangis dan memejamkan mata.


"Apakah waktu kecil Nona Rita sering mengalami


laryngospams dan kejang-kejang?" tanya perawat.


"Penyakit saya sudah parah sejak kecil, namun


belum separah ini." Suara komputer itu berbunyi  bahwa Rita ku


mengalami penyakit mematikan ini sejak kecil tapi belum separah yang ia rasakan


seperti ini. Aku mencoba bersalaman dengan Rita namun koordinasi geraknya


memburuk dia gemetar seperti kurang asupan makanan. Istriku memegang dadanya


sambil gemetar mungkin jantungnya sakit lagi.


"Dokter Audrey jangan cemas, saya di sini akan


menjaga istri anda," ia memberi tahu diriku untuk kembali berjaga.


"Saya sudah minta izin dengan dokter Steven dan


profesor untuk cuti menjaga istri saya yang sakit." Aku mengatakan dengan


tegas dan meyakinkan perawat yang mengurus Rita untuk kembali ke tempatnya---


sehingga perawat itu tersenyum kepadaku----ia mengerti apa yang ku maksud.


"Nona Rita, saya akan mengambil obat jantung


untuk anda," perawat berkata kepada istriku, lalu bergegas meninggalkan


ruang ICU.


"Kenapa mas Audrey izin cuti banyak?"


tanyanya kepadaku saat ia memegang pegangan kasur karena kesakitan.


"Aku di sini karena ingin menjaga mu dan kedua


ayahmu sudah meminta ku untuk merawat mu dengan sungguh-sungguh, kau cepat


sembuh supaya kita bisa jalan-jalan. Besok aku akan menelepon dokter kandungan


untuk menyuntik pil hormon."


"Mempunyai anak adalah harapan ku supaya aku bisa


tersenyum saat seperti ini, aku tidak tahu apakah aku bisa jalan atau seperti


ini selamanya." Rita mencoba memejamkan mata namun kelopak matanya


bergerak-gerak ketika ia memejamkan mata.


"Kau sempat membuatku cemas, kata dokter kau


tiba-tiba kejang-kejang setelah operasi selesai," aku ku sangat kaget


karena tiba-tiba dokter mengatakan jantung Rita lemah dan epilepsi kambuh entah


itu karena apa.


Setidaknya, penyakit syaraf pada pak Ruslan dan Rita


tidak membuat mereka menderita dan aku bisa bernapas dengan lega, namun hari ini


tidak sesuai perkiraan ke duanya mengalami masalah di jantung dan syaraf.


Kebersamaanku dengan Rita merupakan sebuah keajaiban


rumah tangga kami karena bagiku Rita adalah wanita yang ku cintai meski dia


terbaring lemah di ICU aku akan tetap merawatnya. untung saat selesai di


operasi Rita di ikat tubuhnya takut penyakitnya kambuh karena penyakit


komplikasi syaraf dia kritis.


"Ku pikir istriku sedang lemah karena operasinya


gagal lagi dan mengalami masalah."


"Penyakit syaraf dan jantung tidak akan membuatku


mati selama aku belum punya anak." Rita posisi tidurnya miring, dan aku


sekarang menutup mata Rita dengan plester karena kondisinya mengerikan.


"Maaf---aku akan menutup matamu supaya kamu tidak


kesakitan. Aku khawatir jantung mu semakin parah karena kamu kelelahan dan


susah bernapas."


"Tidak usah minta maaf, mas. Aku akan menuruti


mas demi menjaga supaya aku tidak stabil."


"Aku ada Rekaman Vidio dari Ayah angkat dan


kandung mu, supaya kamu mendengarkan saja untuk penyemangat mu," Kataku


untuk membuat Rita senang supaya dia bisa pulih dari masa kritisnya.


"Aku selalu beruntung setiap saat. Meski aku


terlahir kelainan syaraf dan jantung lalu ibu kandung membuang diriku namun


Ayah kandung dan ke dua orang tua angkat selalu menyayangi diriku yang cacat


hanya bisa di kursi roda atau terbaring seperti ini di kasur," katanya.


Meskipun Rita masih kritis dia tidak pernah mengeluh untuk bunuh diri karena


baginya penyakit yang di alami istriku ini sebuah kado untuk ketabahan dan


kesabarannya dalam kehidupan.


"Dan ada suamimu ini yang selalu setia dan


pengertian menemani di saat kamu sakit keras." Aku menyetel vidio di


laptop istriku. Dia mendengarkan suara ayah kandung dan angkatnya. Aku baru


ingat siaran live dari ustadz mengenai kunci kebahagiaan.


Intinya kunci kebahagiaan menurut Ali Bin Abi Thalib


adalah keikhlasan. dengan begitu pikiran kita tidak akan terbebani dengan semua


permasalahan hidup yang ada. Serahkan semua sama Allah, Niscaya hidupmu akan


diliputi kebahagiaan dan kemudahan dalam menjalaninya.


"Apakah aku telah merepotkan mu? Ku pikir, Mas


Audrey tidak cuti." Dia nyaris pulih sekarang, meski tubuhnya masih tremor


barangkali dengan diikat begini dia merasa tenang dan mendengarkan ayat-ayat


Al-Qur'an di ponsel nya. Tapi kalau di pikir-pikir, barang kali ada untungnya


kalau aku mengajak jalan-jalan di taman untuk istriku.


"Aku sedang menjenguk ayahmu saat aku di ICU. Waktu


aku lagi menyuap kan bubur untuk ayahmu telepon berdering dan dokter bilang


kondisi mu kritis saat operasi sudah selesai." Rita memegang tanganku dan


tersenyum. Mungkin dia tersenyum karena tidak ingin aku sedih.


Suster datang saat aku dan Rita sedang berbicara.


Suster membawakan vitamin dan suntikan.


"Saatnya minum vitamin." Ia mencabut selang


oksigen di leher Rita, sekarang Rita tidak bisa pakai masker oksigen karena


susah bernapas jadi lewat lehernya dia bernapas. "Alhamdulillah, Nona


sudah ada perubahan. Dia sudah mulai membaik melalui masa kritisnya,"


tambahnya.


"Aku kenapa susah bergerak?" tanya Rita


sambil menahan sakitnya istriku mengerutkan jidat nya. Saat plester di mata


Rita sedang di buka tiba-tiba istriku sedang mengalami kejang-kejang epilepsi


mulutnya bergerak tersenyum miring tangannya bergerak dan kakinya seperti


mengayuh sepeda. Beberapa detik kemudian dia sadar dari epilepsi dan menangis.


Rita tersenyum kepada suster kalau dia masih kuat


walaupun dia susah bergerak, tapi aku yang sedang dilema Rita lumpuh lagi dan


tidak bisa berjalan. Tantenya datang menjenguk istriku yang sedang sakit.


"Keponakan ku tersayang, kamu kenapa


begini?" tanya tantenya ke Rita yang sedang terbaring lemah.


Ia menangis ketika tantenya datang dan tantenya


memeluk ia lalu mengelus rambut istriku kemudian dia membawakan e-book yang


diminta Rita. Rita mengetik ke laptop. "Aku tidak apa-apa tante, aku sudah


terbiasa dengan penyakitku."


Lalu orang tua angkat Rita datang. Ibu angkatnya


mendorong kursi roda yang di tumpangi Ayah Yudi, Ayah angkat Rita duduk dengan


masker oksigen di lehernya juga persis Rita dan Ayah kandungnya. Ibu angkat


Rita mengantar ayah Yudi yang saat ini juga sedang kritis, ayah angkat Rita


yang sangat kuat sedang mengalami masa-masa rumit. Dokter menemukan penyakit


ALS di tubuhnya, Ya Allah jangan engkau membuat istriku menderita dan jangan


ambil nyawanya. Aku hanya punya Rita, tanpa dia aku tak akan sukses dan tabah


dalam ujian ini.


"Subhanallah," gumamku melihat orang yang


membuat Rita bahagia menjadi seperti ini. Untung istriku tidak mengetahui


penyakit ayah angkatnya sama seperti penyakit yang ia derita. "Ayah


sekarang Rita sudah membaik, ayah juga harus kuat demi anak angkatmu. Lihat


Rita sudah tersenyum,kan!"


Rita menatap ayah angkatnya dengan sebuah senyuman


senang karena ayahnya menjenguk ketika dia sedang kritis.


"Rita kamu harus kuat, ayah angkatmu sudah


disini." Aku memberikan semangat untuk istriku.


Rita berusaha bangun dan aku menolongnya lalu mengatur


posisi kasur supaya istriku dapat duduk dengan nyaman. Rita merasakan kalau aku


sedang menolongnya duduk. Tangannya yang kedutan dan lemas membuat dia susah


bergerak dan mulutnya susah berbicara karena terkunci di dalam tubuhnya.


"Kau benar-benar istriku yang penurut." aku


terperangah.


"Aku merasa kram dan dadaku sakit," katanya,


memejamkan mata dan baring dengan kejang-kejang. Ayah Yudi mengalami spasm dan


kedutan di tangannya sejak kemarin dan susah berbicara seperti Rita dan


mertuaku.


"Kan sudah ku katakan, istirahat jangan banyak


bicara kondisi mu belum pulih," bantahku karena Rita masih berbicara


dengan tubuhnya yang lemah dan kondisi badannya yang kritis.


"Aku tidak mau menyusahkan orang. Aku sudah biasa


mengalami kram sejak kecil dan sering pingsan karena jantungku."


Aku menatapnya dalam-dalam.


"Kenapa?" tanyanya. Rita begitu penasaran


ketika aku menatapnya.


"tidak apa-apa, istirahat supaya epilepsi tidak


kambuh."


Lalu ayah Yudi mendekati istriku menuju ke kasur, ia


mengangkat tangan yang satunya dengan yang lainnya secara perlahan-lahan.


Tatapan yang ku lontarkan pada Rita dan ayah angkatnya adalah sebagai tanda


kasih sayang yang mendalam. Ayah Yudi menatap Rita dengan sedu, ia menangis


lalu ku tepuk pundaknya dan ku peluk.


"Anakku kamu istirahat, ayah mau ke ruang ICU ya.


Ayah lelah." Suara itu muncul dari laptop yang di pasang di kursi rodanya


Ayah Yudi. Ya Allah begitu banyak ujian yang ku hadapi.


Aku hanya sanggup membatin sambil menahan kesedihan.


Aku tidak bisa berkata-kata dan mengantarkan Ayah Yudi ke ruang ICU, ibu


angkatnya masih berbicara bersama Rita. Aku menarik nafas dalam-dalam. Apa yang


di katakan Steven benar. Kebanyakan orang luar negeri atau blasteran indonesia


dan luar negeri juga mempunyai penyakit syaraf. Aku berhenti di depan ruang


yang di tempati istriku.


Ayah Yudi menyenggol tanganku dengan tangannya yang


tak memiliki otot dan lemah. Sementara itu, aku jongkok dan mengeringkan muka


Ayah Yudi yang habis terkena liur nya. Sejenak dia tampak sedih. Kemudian ia


memejamkan mata dan tersenyum kembali ke padaku.


"Ayah kenapa sedih tadi?" tanyaku sambil


menyedot air liur di slang yang terpasang di lehernya.


"Aku harus bagaimana?Tolong selamatkan nyawa


Rita, aku rela mati demi anak angkat ku."

__ADS_1


"Ayah harus kuat jangan gegabah. Jantung untuk


ayah dan Rita sudah ada namun kondisi Ayah dan Rita belum stabil."


__ADS_2