Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri

Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri
Pemeriksaan Rutin


__ADS_3

Dalam tidur ku yang nyenyak aku bermimpi hamil dengan tubuhku yang kurus dan badan ku kejang-kejang dan Audrey menemani ku di rumah sakit dengan mata yang basah. Aku tak bisa berbicara karena terpasang slang di mulutku, hanya bisa berbicara di laptop dengan mataku, Audrey memegang tanganku , dia melihat aku tersentak-sentak dan sesak napas. Tak peduli aku menggerakkan tangan dan kakiku,  aku tak bisa menggosok air matanya; tak peduli seberapa keras aku mencoba bangun, tubuhku lemas sekali dan terasa sakit dengan bayi di rahimku. Karena aku takut tak bisa bangun dan bicara, aku bangun dan tiba-tiba aku sesak napas. Setelah bangun dari mimpi, suamiku memakaikan aku masker dan aku menangis. Setelah itu aku selalu bermimpi setiap malam dan tubuhku kejang-kejang, tapi aku tak percaya apakah aku bakal cacat selamanya setelah melahirkan anakku.


Sebulan sudah aku di rumah Audrey setelah ia membawa ku pulang dari rumah sakit. Sebenarnya Aku selalu kejang-kejang ketika habis bermimpi dan susah bernapas. Yang membuatku cemas, aku belum di beritahu tentang penyakit yang membuatku tidak bisa berjalan. Suster selalu mengikutiku ketika aku berbelanja sayur dengan tukang sayur yang biasa lewat di perumahan, aku seperti barang antik yang mudah pecah, harus di jaga bila kemana-mana aku pergi. Program bayi tabung prosesnya selalu membuatku kesakitan ketika tidur dan dadaku perih ketika bermimpi. Bahkan aku jalan menjadi kurang bertenaga, apakah karena jantung ku semakin hari semakin lemah. Ini sudah sepuluh hari, nanti siang dokter kandungan datang untuk memberikan obat hormon yang terakhir. Karena kondisi ku yang  memburuk tanpa sebab, Audrey membatasi ku untuk suntik hormon tidak setiap hari dia memberi jarak seminggu atau setelah tiga hari di suntik lagi. Aku mencoba berbaur dengan tetangga baru ku, meski ini akan membuat mereka melirik dengan tatapan aneh ke arah ku.


Sebelum aku bertemu dengan ibu-ibu di komplek, aku bertemu dengan pasien di rumah sakit khusus saat aku menjalani rontgen dan pengambilan sumsum tulang belakang. Saat ini ibu-ibu di komplek melihat ku duduk di kursi roda elektrik, dengan infus, ECG, dan EEG. Mereka juga melihat suster yang menemani ku.


 


Pertama kali aku tak bisa mengenakan hijab karena kondisi ku yang harus memakai oksigen dan infus. Kesan pertama saat bertemu mereka adalah aku begitu lemah, memakai kursi roda, tanganku masih kaku, dan tiap sesak napas harus memakai oksigen. Dan aku jadi khawatir telah membuat orang curiga kepadaku tentang diriku yang tiba-tiba muncul. Tak seorangpun bertanya aku istrinya siapa? meskipun aku terus menerus mengobrol dengan mereka yang sedang belanja sayur dengan tukang sayur--bagaimana orang-orang tidak peduli dengan tetangga yang baru namun kondisinya cacat. Jadi tolong, jangan kaget ketika ambulance tiap kali datang ke komplek mengantar atau menjemput ku yang setiap hari sakit. Jangan pula bercerita yang tidak-tidak.


Aku berusaha kuat dengan kondisi tubuhku yang tiba-tiba lemah. Tetangga rumah selalu bercerita bahwa dokter Audrey selalu membawa seorang pasien pulang ke rumahnya dan mengantar ke rumah sakit dan mengatakan pasien yang di bawa suamiku itu sakit keras dan tidak bisa di sembuhkan.


Apakah mereka menceritakan diriku. Entah aku tidak tahu penyakit yang membuatku duduk di kursi roda ini penyakit apa. Aku bertanya-tanya mengapa tak seorang pun menjelaskan nama penyakit yang di derita olehku, sebelum aku mencari di internet, dan aku mendadak kritis mengetahui penyakit yang aku alami. Merasa sebal, aku menyadari alasan yang masuk akal--tak seorang pun bisa mengetahui penyakit ku. Mungkin ada yang sekolah sampai SMP atau SMA jadi masih awam tentang penyakit ku. Kalau sudah begitu, kadang aku suka berharap lebih baik mereka tidak menceritakan nama penyakit yang membuatku terkena serangan jantung mendadak karena jantung ku lemah tidak bisa bahagia atau sedih. Tak seorangpun mengetahui bulan lalu Audrey membawa ku ke rumahnya.


Betapa menyedihkan.


Tak seorangpun akrab dengan suamiku di komplek ini dan tidak ada yang mau memeriksa penyakitnya ke Audrey. Orang-orang lebih sering ke dokter lain atau membeli herbal. Tapi, percayalah, jenis orang seperti ini lebih menyenangkan dari pada orang yang sering berkomentar keburukan seseorang mengenai hasil pemeriksaannya. Aku menyudahi untuk mengobrol karena terasa sesak, perawat membayar sayuran yang kubeli dan mengantar ku masuk ke kamar. Audrey pulang awal, dia tidur di kasur dengan wajah kusut dan kelelahan. Tak satupun datanya mengenai hasil lab ku, terutama penyakit yang membuatku susah berjalan.


Ketika ia bangun dari tidurnya ia duduk dan mengangkat ku ke kasur, sepertinya ia ingin aku bersamanya. Hanya kadang-kadang, ketika aku bersamanya dadaku mulai sesak dan perih--membuat ia sedih dan lelah menyeka kening ku, lalu memijat kakiku yang kaku. Entah rasa de javu muncul lagi, aku sekarang tidak tahu apa yang terjadi padaku dan suamiku lagi apa. Aku hanya perlu memakai oksigen dan pulih dari epilepsi baru bisa membuka mata.


"Sus, tolong sedot liur Rita pakai penyedot liur ya. Rita, sadar sayang. Kamu harus kuat," kata Audrey yang panik.


"Sudah saya sedot, dan semuanya normal lagi dok." Suster memberi vitamin.


"Aku kenapa?" tanyaku heran.


"Kamu habis kejang-kejang, epilepsi mu kambuh." Audrey lalu melihat kan rekaman vidio ketika aku kritis. Dari Vidio itu aku terlihat mengerikan dengan badan kejang-kejang, mulut penuh busa, mataku kedip-kedip dan aku kehabisan oksigen. Ia berharap aku tak usah pergi kemana-mana dan mencari di internet tentang penyakit ku. Aku sangat ingin bicara dengannya dan memeluknya erat-erat, menangis di pundaknya. terakhir kali aku menangis dan bertanya tentang penyakit ku saat dia pertama kali membawa ku ke rumah. Aku masih kecewa karena ia tak mau terbuka denganku dan mengatakan penyakit ku, meskipun aku tak akan terbaring dengan mata tertutup setelah mendengar ceritanya. Tapi nyatanya ia masih merawat ku, dan berusaha tidak membuatku sedih. Vidio yang melihat kan aku kejang-kejang, dengan mata menatap ke atas, dan mulut penuh busa, aku tidak akan melihatnya lagi itu akan membuat malam menjadi menyakitkan bagiku karena aku tak tahu apakah aku akan kejang-kejang nanti malam setelah melihat rekaman diriku yang kritis.


Aku lalu iseng mendengarkan lagu-lagu yang enak supaya penyakit ku tidak kambuh.Ya Allah, beritahu apa yang membuatku lemah seperti ini, "Please, don't make me sick. I cant hold it. my soul is weak."


Lalu aku menangis di pundak suamiku tanpa henti. Dan dalam sekejap rasa khawatir menjadi rasa senang karena ditemani Audrey yang selalu siaga.


Ia berdiri dan membantu aku duduk di kursi roda, lalu mengambil baskom berisi air hangat dan memijat kakiku yang kaku. Aku duduk, berharap ia tak kelelahan karena merawat ku.


"Maaf karena kakiku foot drop dan kaku," kataku mencoba untuk tidak membuat Audrey tampak sedih melihat aku yang cacat. Karena aku juga masih memikirkan ayahku yang sakit Amyotrophic lateral scleriosis penyakit langka yang di derita ayahku. Ayahku berkebangsaan Italia dia islam dan keluarganya pindah ke jakarta karena pekerjaan. Mungkin penyakit ALS hanya di derita orang luar negeri atau penyakit bawaan. Aku juga curiga dengan penyakit bawaan ku apakah aku juga memiliki ALS.


"Maafkan aku, Rita. Aku belum bisa menemukan darah yang cocok buat kamu dan ayah angkat mu." Suara Audrey bergetar di pundak ku. "Yeah ... mungkin ini ujian hidupku untuk menahan jantung ku yang sakit. Sudah tidak apa-apa," kataku. Aku mengelus kepala suamiku.


Audrey jangan merasa bersalah karena belum bisa mengobati penyakit yang memakan organ ku.


"Ah, maaf aku menangis." Kenapa kau meminta maaf kepada wanita yang lemah ini. Aku berusaha mengeringkan air mata di pipinya. Menggerakkan tanganku yang gemetar untuk menyentuh wajahnya.


"Ku mohon jangan menangis. Kalau kau menangis, sebaiknya kita cerai saja. Aku tidak ingin buat kamu sedih." Aku memeluk pinggang dan ikut menangis di pelukan suamiku. Ia tiba-tiba memegang tanganku dan menciumnya.


"Audrey, jangan buat aku sedih sebaiknya kau mandi segar kan dirimu." Audrey mencium kening ku dan pergi ke kamar mandi. Ia pergi mandi lama sekali dan aku melihat foto ku dan dia saat menikah di Album pernikahan. Dan itulah kebahagiaan di hatiku, pertama kali menemukan seorang belahan jiwa. Kadang-kadang aku berpikir, tak sanggup membuat dia merasa bersalah dan aku menyalahkan kakiku yang lumpuh dan badan ku yang lemah. Ku perhatikan wajahnya dari hari ke hari semakin kusut.


"Begitu sudah kelihatan segar." Aku tersenyum padanya. "Kalau gini kau tampak Audrey yang ku kenal cakep, pintar, dan baik hati."


Audrey tersenyum padaku dan duduk di samping ku sambil tidur di pundak ku.


"Bersandar di pundakmu rasa letihnya hilang. Tak peduli kau sakit ataupun sehat, kaulah yang membuatku kuat untuk menghadapi ujian ini dan menyemangati diriku di saat lelah ketika selesai kerja."


Berbagai pikiran ingin suntik mati telah hilang dari pikiranku. Aku ingat manusia tidak boleh putus asa dan bunuh diri, itu kata guru ngaji ku. Hmm... hari ini begitu sangat dramatis sekali, entah kenapa Audrey tiba-tiba menangis dan saat aku pulang belanja aku rasanya seperti sudah tidak bisa hidup lagi.


"Kita di ruang tamu ya. Aku ingin melihat matahari dan orang-orang. Hari ini harusnya kita berdua melihat awan atau pergi ke taman." Audrey melongok ke arah ku dan mengantar ku ke teras, kami berdua di teras melihat orang lalu lalang.


Andai saja aku bisa berjalan dan olah raga tadi pagi bersama nya.


"Sudah tenang kan, tidak lelah seperti tadi." Aku menghibur Audrey dan menahan tanganku yang gemetar. "Makasih, telah membuatku kembali seperti biasa lagi. Terima kasih telah mau menikah dengan dokter yang yatim piatu dan hanya seorang diri."


Tapi terima kasih itu membuatku senang sekali, meski tanganku tak bisa berhenti gemetar. meskipun aku berlagak sehat dan bugar, vidio yang di putar Audrey membuat tante ku menelepon di ponsel ku.


"Ada telepon, aku angkat." Audrey membantu ku mengeluarkan ponsel. Tante ku mencemaskan keadaan ku yang kembali melemah, mengkhawatirkan aku. Aku berusaha meyakinkan kalau epilepsi ku karena stress atau terkejut melihat pemandangan di rumah saja.


Setidaknya tante sudah tenang ketika aku dan Audrey baik-baik saja. Ia khawatir karena Audrey memberitahu tante bahwa aku kejang-kejang tiap malam, dan Ayah kandung ku lega mengetahui kalau aku baik-baik saja. Itu terdengar jelas di ponsel suara laptop nya.  Aku mematikan ponsel, namun ponsel itu terjatuh dari tanganku. Audrey jongkok di hadapanku dan mengambil ponsel, ia membersihkan ponsel itu. Aku membuka email dari tante di laptop yang terletak di kursi roda ku menggunakan mataku.


Dear Rita


Tante membuatkan baju yang kamu pesan dan tante tau ukuran bajumu. Besok tante ke rumahmu, jaga dirimu ya. Jangan membuat Audrey sedih.


dari Tante


Hujan di jakarta sudah hilang ketika aku di rumah sakit dan memohon Audrey untuk memberi tahu penyakit ku. Audrey memeluk ku erat dan dia melatih aku berjalan. Aku menangis sepanjang terapi dan sampai pulang ke rumah. Saat paginya aku merengek meminta dia memberi tahu kenapa aku tidak boleh punya anak. Dia memeluk ku dan menangis. Saat itu aku sadar telah memberi beban yang berat ke suamiku. Tante ku bilang suruh ajak Audrey pergi ke Monas untuk istirahat sebentar karena dia sudah kerja tanpa istirahat. Meski begitu sulit rasanya mengajak Audrey ke taman di saat awan tidak mendung.


Ibu angkat ku menyadari betapa berharganya diriku--ia menelepon hari kamis bulan lalu saat aku memeriksakan diri di rumah sakit.


"Rita, apakah kamu masih sering kejang-kejang? Kalau masih sering, di rumah sakit saja. Ibu mengkhawatirkan mu, nak." Nada nya dengan sedih menyuruh aku rawat di rumah sakit.


"Mah, jangan khawatirkan diriku. Aku baik-baik saja cuma vertigo dan shock melihat suasana yang baru," aku menenangkan nya. Aku tak ingin ibu angkat ku sedih, ia masih memiliki kewajiban merawat ayah angkat ku.


"Syukurlah, kalau kamu tidak seperti dulu." Dia ibu yang penuh perhatian karena sempat keguguran tidak bisa memiliki anak dan suaminya yang di usia muda sudah sering sakit karena stiff person syndrome.


"Jaga ayah supaya cepat sembuh, aku merindukan kalian berdua." Aku menitipkan  salam kepada ayah angkat ku.


Ke esokkan harinya aku kaget tante dan ibu angkat ku datang ke rumah menjenguk ku. Mereka menyiapkan aku makanan dan menyeka badan ku dan aku senang mereka tidak sedih. Aku serasa mempunyai dua bidadari pelindung dan malaikat penjaga. Kekhawatiran ku muncul saat mereka berdua mempunyai keruttan di dahi, pasti ada sesuatu yang terjadi sama ayah angkat dan kandung ku.


Suami tante masih mengobrol di luar bersama Audrey. "Tante dan mamah apa yang terjadi?" Suaraku parau dan tidak jelas. "Apakah Ayahku dan ayah angkat sakit lagi?"


"Mereka berdua sempat kritis mungkin penyakitnya membuat sesak napas dan sudah baikan sekarang," ucap ibu angkat ku. Syukurlah, ayahku dan ayah angkat ku sudah membaik.


Ibu masih tidak memberitahu kondisi ayah angkat, wajahnya yang keriput bertanda buruk. Tapi dia tidak memberitahu kondisi ayahku dan ayah angkat di rumah sakit.


Audrey masuk ke kamar ketika melihat aku sudah berpakaian dengan busana muslim. "Rita, kau sangat cantik. Seperti kita menikah dulu."


"Dia sudah selesai ku make up dan ku seka badannya," ucap tante. Audrey menghela napas dan mendorong ku ke luar bersamanya. "Akhirnya aku bisa tersenyum sekarang. Selama ini kau tidak mau berdandan dan makan."


 Aku mengabaikan komentarnya dan tiba-tiba air mataku terjatuh. Dari dalam tas, aku mengualarkan earphone dan menyetel murotal. Saat kami tiba di ruang tamu, Audrey menggendong ku. Aku memegang bajunya dan tante ku membawa kursi roda ku. Seperti biasa, Audrey selalu menangis ketika menggendong ku, ketika sampai di kursi penumpang aku ingin mengelap air matanya dia memakaikan sabuk pengaman untukku.


Sayangnya usaha ku untuk menghiburnya tidak berhasil membuatnya tampak bahagia.


"Sayang, ibu dan tante ke rumah sakit ya." Tante dan Ibu berjalan ke luar pagar dan menunggu sesuatu. "Nak Audrey, jaga Rita Ya."


"Mah hati-hati. Tante juga." Aku dan Audrey pergi dengan mobil ke luar rumah melewati mereka berdua. "Aku tak pantas memakai gaun ini seharusnya dan berdandan cantik. Aku kan jarang keluar."


"Kau pantas memakai apa saja, sayang ku." Audrey menepikan mobilnya di taman komplek sambil mengelap air mata. " Ini ke dua kalinya aku menangis setelah orang tuaku meninggal karena penyakit. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyembuhkan mu. Aku tak menyesal menikah denganmu, tapi aku sedih setiap kau tak semangat dan tersenyum."


Aku membiarkan ia memeluk ku untuk sesaat, meskipun aku lega ia menyayangi ku.Wajahnya kelihatan sedih. Aku merasa bersalah.


"Kenapa kau bicara seakan aku meninggalkan mu?" kubiarkan nada kecewa muncul dari suaraku.


"Aku setiap kali ketakutan melihat mu kritis seakan kau sudah tak bisa hidup," ucapnya. Aku tak bisa menahan air mataku dan tanganku memegang pinggangnya dengan erat. Ya  Allah, beri aku waktu banyak dan bantu aku untuk berjalan. Aku berharap dia sudah selesai menangis. Aku melihat dia sudah berhenti menangis dan menuju ke jalan raya. Saat di jalan raya pertama kali aku melihat kendaraan. Ya Allah, perasaan ini muncul lagi.


"Rika, nanti kita mampir di taman Monas. Rika, Astaghfirullah. Sayang, tenang." Mungkin Audrey sedang sibuk mencari oksigen atau obat untuk mengobati epilepsi ku.


"Kita cari tempat istirahat, ya."


"Mas, aku sudah baik." Audrey memeluk ku dengan erat dan aku mengelus rambutnya yang pendek dengan tanganku yang lemas.


"Apa besok kita ke rumah sakit?" Apakah Audrey bakal mengantar ku rawat inap ke rumah sakit?


"Tidak," Aku meyakinkan. "Aku ingin di rumah bersamamu dan kita istirahat."


"Kenapa tidak mau ke rumah sakit?" tanya Audrey.


Aku tak ingin mengatakan kalau di rumah sakit aku mendadak kritis dan koma selama seminggu, jadi aku memutar otak untuk menyusun rencana.


"Kamu perlu istirahat bersamaku. Kalau kamu pulang pergi ke kantor kamu pasti pulang dan langsung memeluk aku," tutur ku. Lagi pula aku memang ingin Audrey di rumah bersamaku dan tidak ingin dia pulang pergi atau bahkan sibuk mengurus pasien dan diriku di rumah sakit.


"Tak bisakah kau di rumah sakit, kamu kembali melemah dan kesehatan mu memburuk lagi?"


"Maaf, kali ini aku ingin bersamamu berdua saja," kataku. "Jadi kita di rumah dan izin ke profesor atau manajer rumah sakit untuk cuti beberapa minggu."


"Terima kasih sekali lagi. Kau selalu tampak sehat meski penyakitmu belum sembuh," katanya dengan terharu. Aku memejamkan mata dan memegang pundaknya, saat itu air mataku terjatuh. Audrey mencium kening ku dan melepaskan pelukan, ia turun dari mobil dan menyeberang ke supermarket, aku menunggu di mobil dengan tenang sambil memegang oksigen.


Aku menghela napas dan membuka mata yang sembab. Aku menangis senda-sendu telah membuka luka di hati suamiku. Tak lama kemudian Audrey datang dan melihat aku menangis tanpa henti. Ia duduk di kursi pengemudi dan mengelap air mataku. Aku membuka mata dan terkejut suamiku menangis sambil mengeringkan air mata yang membasahi pipi ku. Tak diragukan lagi aku tak bisa berhenti menangis. Dadaku mulai terasa sakit.


"Aku mengenal mu saat menjadi dokter terapi dan pertemuan ke dua ketika kau mengadakan pesta kecil-kecilan ulang tahun. Saat itu kau bergaun indah dan memakai topeng, tetapi bibirmu menandakan kau kurang suka. Aku meminta izin ke orang tua angkat mu dan menemani mu, saat itu kau bersedia jadi pendamping untuk menemani diriku berdansa." Audrey menjelaskan detail saat aku berusia umur dua puluh tahun, saat itu masa-masa aku ingin pesta dan teman namun karena jantung ku yang lemah dan diriku tidak boleh stress atau capek jadi aku remaja berusia 20 tahun yang di rumah tidak ada teman sama seperti aku kecil hanya orang tua angkat ku. Masa di mana aku harus minum obat banyak-banyak dan cek kesehatan jantung ku. Masa yang menyedihkan sehingga malamnya aku harus di bawa ke rumah sakit karena epilepsi ku kambuh dan aku susah bernapas saat itu juga jantung ku berdetak cepat karena mencari oksigen.


"Terima kasih telah menemani ku di saat aku butuh semangat dan kebahagiaan," kataku. Audrey tampak ceria lagi ia melepaskan pelukan dan menyetir mobil mengambil jalur pelan di jalan.


POV Audrey


Kenapa Rita tidak mau jalan-jalan, kenapa dia murung. Setiap kali dia kejang-kejang, hal yang pertama ku pikirkan bagaimana aku bisa menyembuhkan istriku yang sakit. Aku terkejut ketika melihat dia begitu cantik dan sholeha, tapi dia berkata bahwa seharusnya gaun itu di pakai untuk orang yang tidak sakit dan cacat. Aku sempat shock tiba-tiba di perjalanan dia kejang-kejang,  matanya ke atas, dan mulutnya berbusa. Apakah aku salah membawanya untuk pergi ke Monas?


Pesimis seperti biasa, aku berusaha untuk menenang Rita yang masih memakai oksigen di hidungnya,  aku tersenyum karena aku sudah memilih jadi pendamping hidupnya. Tapi aku tak bisa terus menerus tersenyum karena istriku masih lemah dengan tube di hidungnya dan oksigen mask yang ia pakai membuatku jadi pengecut dan pesimis untuk mencari donor darah.


Aku tak mempercayai dia bisa bertahan hidup saat hamil, setiap dia kejang-kejang jantungnya berdetak cepat sekali dan ECG menandakan dia dalam kritis. Aku tak bisa menahan air mataku, tapi Rita selalu memegang dadanya setiap aku sedih.


"Mas, aku ga yakin bisa ke Mona," ucapnya dengan parau. Tangannya yang kurus dan mungil berguncang tanpa henti. Menyedihkan, ini lebih dari menyedihkan ini terlalu berbahaya. Setiap malam kondisi nya kritis, aku mengkhawatirkan jantungnya. Dia kejang-kejang, dan berbusa. Bahkan di saat seperti ini, tiba-tiba dia kesakitan dan ingin pulang. Aku memeluk Rita dan menenangkan nya, sebisa mungkin aku harus kuat demi istriku.


Aku berusaha sangat keras supaya istriku tidak kembali kejang-kejang, dan berhubungan dia masih belum bisa operasi, aku meminum kan obat epilepsi.


"Mas, aku tidak mau minum obat."


"Kan kemarin sudah di cek hasilnya baik, kamu masih lemah Rita. Di minum ya." Aku meminum kan air putih dan Rita mau menelan obat yang ku kasih. Namun saat ku beri ia obat, tiba-tiba Rita melamun dan bibirnya seperti memakan sesuatu. Aku cepat-cepat ke tempat istirahat berikutnya dan ku parkir mobil ku, Aku cabut oksigen di hidungnya dan ku pasang Oximeter fingertip di telunjuk istriku. Ku sedot foaming di mulutnya supaya tidak tersedak dan istriku bisa bernapas lagi. Aku memakaikan oksigen mask di hidungnya, dia masih kejang-kejang dan mengeluarkan foaming di mulut.


"Rita, kamu harus kuat sayang. Ayo sadar sayang," ucap ku sambil memiringkan tubuhnya yang lemah. Ketika dia sudah sadar dari epilepsi, aku menyetir dan menuju jalan besar dan mencari jalan cepat menuju Monas. Ibu angkat Rita bilang padaku, kalau istriku divonis cacat oleh dokter karena sejak usia lima tahun istriku kejang-kejang dan jantungnya bocor, profesor yang mengajar mata kuliah juga bilang padaku umur Rita di ujung tanduk.


"Audrey, maafkan aku yang tiba-tiba kambuh." Rita tampak menyesal, ku lap air mata di pipinya. Seharusnya dia tidak usah meminta maaf, aku sudah bilang berulang-ulang kalau aku tidak di susahkan olehnya.


Perlahan aku melihat jalanan masih macet, belum sampai ke jalan pintas menuju Monas. "Kita akan mengambil jalan pintas, supaya tidak macet lagi," ujar ku.


"Maukah kau menggendong ku ketika sampai di Monas?" tanyanya. Aku mengangguk, saat aku melihat depan mobil yang lain sudah mulai berjalan pelan-pelan. Ku ikuti mobil depan dan ku cari jalan pintas ke Monas.


Aku menemukan jalan pintas menuju Monas dan ku putar mobil ku ke jalan yang tidak macet. Akhirnya kami menemukan jalan yang tidak mace, sambil menyetir mobil aku mencari putaran jalan supaya tidak terlalu jauh untuk memutar. Badan ku terasa pegal aku menepikan mobil di dekat trotoar. Aku melihat Rita kejang-kejang sambil membuka mulutnya. Tangan dan kaki Rita menyentak tidak karuan, matanya buka tutup, mulutnya menganga mencari udara. Aku memberikan dosis sedang untuk Rita supaya kejang-kejang nya berhenti. Setelah beberapa menit, Rita sadar dan bernapas dengan tenang, dadanya tidak bergerak.


"Kau sudah membaik, sayang?"  Rita menjawab kata-kataku dengan mengedipkan mata, aku menyetir kembali mobil dan menuju ke Monas. Saat sampai di depan Monas, aku membuka pintu kursi driver dan turun, lalu ku buka pintu di bagian belakang ku turunkan kursi roda. Ku taruh kursi roda di dekat pintu kursi penumpang di depan. Aku buka pintunya dan ku gendong istriku, badan istriku kurus dan enteng.


Taman Monas.


Aku mendorong Rita menuju taman Monas, ia duduk di kursi roda memakai oksigen masker. Orang-orang tidak ramai di sekitar Monas karena jam kantor.


"Andai aku bisa jalan dan tidak sakit, kita bisa main bulu tangkis di sini," ucapnya dengan suara parau yang lemah.


"Aku sudah bersyukur kamu bisa duduk di kursi roda, sayang." Aku tak yakin Rita berkata seperti itu. Apakah dia minder sama ribuan wanita yang sehat dan tidak cacat? Buatku bukan kesehatan istriku melainkan ketulusan hatinya. "Aku berterima kasih sama Allah, karena kamu masih di beri kesempatan untuk hidup. Setiap malam aku menangis dan takut karena kamu kejang-kejang. Kita tidak tahu kapan kita akan mati."


Aku mengeluarkan bubur di kantong kursi roda, ku masukan ke dalam jarum suntik, lalu jarum suntik yang berisi bubur ku masukan ke slang tube yang panjang di hidung Rita.


"Aku ingin sekali makan nasi atau jajanan lain," kata Rita sambil menangis. Aku memeluknya dan ku elus punggung-punggungnya.


"Kau harus kuat untuk di operasi, besok kita konsul dan terapi jalan di rumah sakit," ucap ku memberi penjelasan ke istriku.


Rita memegang dadanya dengan tangan yang kurus dan sedikit gemetaran. "Kapan aku bisa operasi untuk jantung ku yang cacat dan operasi otak ku?" tanyanya dengan nada lemah. Aku belum bisa menjawab walau donor darahnya sudah ada, namun tekanan darah Rita belum stabil. Aku tersenyum dan menggerakkan tangannya. Ku tekan tangan istriku supaya aliran darahnya lancar. Aku menggendong istriku di pundak ku.


POV Rita


Audrey Menggendong ku, lalu menaruh ku di rumput-rumput dan tangan Audrey memijat kakiku yang kaku.


"Mas sudah dapat Email dari ibu kandungku belum?" aku kangen sama ibu kandungku, aku ingin jalan di Monas bersama Mas Audrey dan Ibu.


Aku memejamkan mata dan menarik napas pelan lewat hidung, sadar aku meneteskan air mata. Ia masih belum bicara.

__ADS_1


"Mas, aku tidak ingin mati di saat aku kangen ibuku. Apakah dia kemarin mengunjungi Ayah kandung ku?" aku bertanya, tangan dan kakiku masih tetap tersentak-sentak dengan sendiri. Ibu, jenguk aku yang sakit. Pikir ku memikirkan ibu.


"Besok kita ke rumah sakit dan menanyakan tante mu apakah dia ketemu ibu kandungmu atau tidak." Ia meyakinkan aku supaya penyakit ku tidak kambuh. "Aku akan mengecek email sesampainya kita di rumah."


Aku akhirnya bisa rileks. Kakiku tidak tremor lagi. Audrey mengangkat ku dan menaruh ku di kursi roda.


"Aku akan berusaha memaafkan nya mas," kataku, dengan senyuman tulus ku.


"Kita keliling Monas ya," ia jalan-jalan sambil mendorong kursi roda yang aku duduki. "Rasanya kalau liburan begini semua kecemasan ku hilang."


Aku dan suamiku istirahat di sekitar taman.


"Mas, aku risih sekali. Mau pergi ke toilet." Audrey mengantar ku ke toilet umum. "Aku belum terbiasa pakai pempers orang dewasa."


Kami berdua pergi ke toilet umum, sesampainya kami di depan pintu toilet Audrey menunggu di luar dan aku masuk sendiri.


"Kalau sudah, nanti kita pulang." Mungkin Audrey khawatir karena penyakit Ayan atau epilepsi sering datang ketika aku stress atau memikirkan sesuatu. "Kalau ada apa-apa, bilang ke aku. Aku tunggu di luar."


"Jangan khawatir aku tidak apa-apa, kok."


Ia tahu kalau aku juga kena serangan jantung mendadak. Ketika aku lagi di toilet, dadaku sakit sekali.


"Sayang, ayo kita pulang. Besok kita mau konsultasi ke dokter jantung kan."


"Sebentar, aku lagi cuci tangan mas," kataku dengan pelan. Aku keluar dan menemui suamiku.


"Kau pucat, kita ke rumah sakit ya!" Audrey membujuk ku ke rumah sakit. Aku memegang tangannya dan menggeleng saat Audrey menelepon mau menelepon rumah sakit. Aku menahan dadaku yang sakit dan kaki ku yang mulai gemetar. Aku pura-pura terlihat lebih baik dengan tubuhku yang terasa sakit, tapi tentu saja tanganku tiba-tiba tersentak sehingga aku susah bernapas. Aku berusaha membuka mulutku untuk menghirup oksigen, sempat berpikir aku akan sekarat di sini. Lalu kejang-kejang yang ku alami sudah sembuh dan epilepsi yang aku derita tidak kambuh. Ia mendorong ku dengan cepat menuju halaman luar Monas, lalu menggendong ku dan meletakkan aku di kursi penumpang di depan. Ia ke tempat driver dan mengemudikan mobilnya, wajahnya cemas.


"Kau tidak usah terburu-buru, aku sudah baikan," kataku menghiburnya.


Ia menepi kembali. "Apakah kau ingin mati, lihat kondisi mu kurang sehat," sahutnya dengan marah. Aku memalingkan wajah dan tidak membalas ucapannya. Audrey menyetir mobilnya mengikuti GPS, aku menghela napas karena sesak dan bersandar di mobil. Kami tidak saling berbicara.


Aku bangun dan mengecek jam di mesin mobil. Audrey mengemudikan mobil, ia membawa ku ke rumah sakit khusus penderita saraf dan jantung, aku tidak tahu mengapa ia tidak jujur. Kadang-kadang aku ingin rasanya mengakhiri pernikahan ini, karena diriku yang lemah dan tidak bisa menyenangkan hati suamiku. Hari ini aku sangat menyesal karena telah berbohong tentang kesehatan ku yang sudah membaik. Aku terus memejamkan mataku tak ingin berbicara dengan suamiku, aku ingin dia yang mengurus ku dan aku mematuhi perintahnya hari ini saja. Kami tiba dengan cepat di rumah sakit.


Seperti biasa, suamiku menggendong ku dan dia meletakkan ku di kasur dorong. Aku nyaris saja pingsan karena jantung ku kambuh, ia segera memasang oksigen di hidungku. Masalah aku tidak boleh mempunyai anak itu bisa di atasi, aku akan menahan rasa sakit selama proses bayi tabung. Aku harus berbicara dengan suamiku, untuk membawa diriku ke kamar VVIP namun bukan di ICU. Ayah kandung ku mungkin marah jika mendengar aku menolak memakai obat dari dokter.


Aku nyaris kejang-kejang di Monas tadi dan mengalami gagal jantung karena takjub melihat pemandangan. Yah, orang tua angkat tidak mengijinkan ku pergi keluar karena aku sakit jantung dan epilepsi. Baru hari ini aku jalan-jalan bersama Audrey dan melihat Monas. Lalu aku merasa ini adalah pemandangan yang indah ketika di Monas. Aku melihat suamiku mengantar ku ke ruang VVIP, mungkin dia tahu aku diam karena tidak ingin memakai obat-obat dari dokter. Sesampai di ruang VVIP, ada rekan audrey dan suster yang sudah menunggu kami berdua.


Aku memejamkan mata.


"Mas, aku ingin berhenti memakai obat," kataku.


"Aku sudah bicara sama rekanku, besok dokter kandungan akan menyuntik obat hormon ke tubuhmu."


"Kenapa kau membawa ku ke rumah sakit sekarang?" tanyaku sambil bernapas pelan-pelan. Aku tidak tahu apa yang ia maksudkan.


"Rita, suamimu tadi malam menelepon ku. Dia meminta tolong padaku untuk mengecek jantung mu, dan aku suruh sehabis jalan-jalan bawa saja ke rumah sakit karena detak jantung mu tidak stabil." Suaranya menjelaskan bahwa kondisi ku semakin memburuk.


"Apakah aku belum bisa operasi jantung. Soalnya aku sulit setiap kali menggerakkan tangan setiap habis penyakit jantung dan epilepsi ku kambuh," kataku dengan ketakutan karena setiap hari  sulit berjalan.


"Nanti sore terapi jalan masih buka, nanti suamimu akan membawamu ke terapi untuk mendeteksi apakah kemampuan berjalan mu semakin membaik atau tidak."


"Mas, jangan pakai obat medis. Aku ingin meneruskan program kehamilan. Aku akan berusaha belajar berjalan." Aku hanya bisa berkata seperti itu, kepalaku sudah kacau karena kemampuan berjalan ku sudah melemah.


"Keadaanmu belum pulih sepenuhnya, Program Hamil harus di tunda. Jika kondisi mu sudah bisa di operasi baru lanjutkan program bayi tabung," ujar Audrey. Dokter Steven ikut setuju dengan pendapat suamiku.


Aku putuskan untuk mematuhi perintah dokter Steven, mungkin Audrey sudah mengetahui kalau kondisi ku memburuk dan penyakit ku lebih parah. Aku menghela napas. "Baiklah, aku akan menyetujui apa yang dokter suruh, aku tidak akan memaksa."


"Syukur, kalau kau menyetujuinya," Katanya. "Nanti kita check jantung mu apa tambah parah atau masih seperti kemarin."


Dengan keadaan ku yang seperti ini hanya bisa berharap ada keajaiban bisa berjalan normal lagi. Aku melihat Audrey sedang mengobrol dengan dokter Steven.


Ia selesai mengobrol dengan dokter Steven dan mengantar ke luar ruangan, aku tak bisa mendengar ia mengobrol yang aku tahu ia izin untuk negosiasi dengan dokter Steven. Aku tak bisa membayangkan apakah bisa melahirkan normal dengan penyakit ku yang belum sembuh?


Aku tidur menunggu suamiku kembali menemani aku di ruang yang serba sumpek. Aku sekarang hanya bisa memikirkan apakah aku bisa mempunyai anak, menjalani masa tua sama Audrey dan mati bersama-sama. Itu yang ku pikirkan. Audrey sudah selesai mengantar temannya, ia membuka pintu dan masuk ke ruang ICU.


"Rita, kau tidak apa-apa?"


"Suamiku, jangan tinggalkan aku sendirian lagi dan tolong aku hanya ingin kita berdua dan menjalani keluarga bersama-sama dengan anak kita nanti," Ku pegang wajah Audrey ketika mataku masih bisa melihatnya saat ini. Aku melihat wajahnya yang tampan di banding wajah ku, dia mencintai ku apa adanya tidak mempedulikan penampilan ku atau keterbatasan ku. Cinta kami seperti cinta burung merpati selalu setia. Ya, Allah tolong beri aku waktu lebih lama, aku ingin menggenggam tangan suamiku dan menemaninya di saat aku masih kuat dan masih bernapas. Aku berdoa untuk cinta kami dengan hatiku yang tulus. Tapi sekarang aku tidak bisa membuatnya tertawa setiap hari dia menangis ketika aku kumat. Aku terlalu buruk untuknya karena aku saat ini hanya bisa di kursi roda. Bukannya aku tidak mau keluar, bagi Audrey aku seperti ini tidak masalah tapi bagi diriku untuk suamiku terlalu menyulitkan. Aku hanya mengecewakan nya dan membuat dia putus asa dengan seperti ini. Aku melirik ke arah Audrey bukan kesal karena dirinya tapi karena kelemahanku yang membuatku kesal. Ketika aku memejamkan mata suamiku mencium tanganku, air di mataku tiba-tiba menetes dan tak kuasa ku tahan. Tanganku basah karena suamiku juga menangis dan air matanya membasahi tanganku yang lemah ini.


Aku mencoba untuk menahan sakit di dadaku dan aku memegang tangan suamiku. Sakit sekali. Aku berhasil menahan rasa sakit dan mengontrol emosi yang membuat jantung ku makin sakit.


"Maaf, aku selalu saja masuk rumah sakit dan di ruang ICU. Aku merepotkan mu." Aku sakit-----jelas dadaku terasa seperti di tusuk dan paru-paru ku seperti ada pecahan beling. Aku sekarang bergantung sama ventilator masker oksigen.


"Kamu tidak membuat ku kecewa. Aku tidak peduli mau kamu sehat atau pun sakit, kamu tetaplah istriku." Audrey mengecup dahi ku.


Ini membuatku tenang karena dia selalu ada menemani ku.


"Nanti profesor ahli jantung akan mengecek kondisi jantung mu, suster sudah membawakan alat pemeriksaan jantung. Profesor masih dalam perjalanan menuju rumah sakit," lanjutnya.


"Aku akan menunggu guru besar yang akan memeriksa jantung ku yang lemah ini." Suaraku agak parau. Aku harus kuat ketika hasil check up nya keluar, karena pemeriksaan bulan lalu aku tidak mengetahui penyakit ku sudah stadium berapa.


"Ya, aku sudah tahu pasti kamu akan menunggu hasilnya," akui nya.


"Aku ingin jangan ada kebohongan lagi."


Ia mencium kening ku dan tersenyum. "Aku ingin kau segera bisa di operasi untuk membuat mu tersenyum lagi."


Aku tahu selama aku menikah dengannya hanya sekali tersenyum namun itu tidak setiap saat.


"Maaf, suamiku," aku berusaha menahan air mata yang menetes di pipi ku. Aku tak bisa menahan tangis ku. "Aku ingin mengetahui kenapa aku harus menunda punya anak?"


"Kau istirahat, sepertinya kelelahan belum tidur kan."


Aku ingin sekali memeluk suamiku dan memasak masakan setiap saat. Lalu kami berempat setelah selesai kerja bisa libur ke luar kota. Aku tak sabar ingin meneruskan program bayi tabung, setelah itu di rumah bersama Audrey.


Dari wajahnya Audrey tampak kusut, mungkin dia seharian menjaga ku takut aku kritis lagi.


Seorang lelaki yang setia menemani ku, perhatian, dan pintar selalu menemani ku yang lemah. Apakah aku cocok untuknya dengan keadaan ku yang cacat seperti ini?


Tak diragukan lagi ia menangis karena harus melihat ku yang setiap jam harus melawan epilepsi. Dadaku mulai sakit ingin rasanya aku memegang....tanganku yang setiap detik makin sulit di gerakkan, aku merasa ingin mati karena kesakitan setiap jantung ku memompa darah setiap aku cemas. Ku pejamkan mataku.


Tapi aku ketakutan serasa aku tidak dapat bangun dari tidur ku, dan rasa nyeri ini semakin menjadi-jadi. Perlahan aku membuka mata, namun aku tidak bisa melihat dengan jelas.


"Rita?"


"Aku cuma sakit sedikit, jangan pernah tinggalkan aku... aku...takut ... sendirian..."


Dengan suaraku yang lemas aku coba menahan sakit yang perih sekali di dadaku. Aku mencoba membuka mataku yang tak bisa terbuka karena menahan sakit, lalu ku coba membuka mulutku untuk bernapas.


"Nona Rita keadaannya lemah pak, dia perlu di suntik obat penghilang rasa sakit." Suara suster bisa ku dengar namun aku tidak bisa berbicara.


Aku tak tau lagi dadaku seperti terdapat beling di jantung ku, aku hanya bisa menangis atau pejam mata setiap kali penyakit itu membuat aku kritis. Untungnya rasa sakit itu hilang, mungkin suster dan suamiku sudah memberi ku obat anti nyeri. Aku membuka mata, Audrey memeluk ku.


"Syukurlah, kau sudah bangun dari masa kritis mu." Yang membuatku kritis mimpi di ingatanku tak pernah hilang ketika aku sedang istirahat, mimpi itu aku mempunyai dua anak namun aku duduk di kursi roda dan tidak bisa bicara atau aku setiap detik mengalami kejang-kejang di rumah sakit. Astaghfirullah, kenapa aku malah pesimis untuk hidup.


Sambil memijat, matanya memandang wajah ku yang sedih--mungkin dia tahu aku sedang banyak pikiran.


"Kau mencemaskan terapi jalanmu yang belum lancar?"


Bukan masalah terapi tetapi aku cemas karena takut lumpuh ketika aku mempunyai dua anak yang manis, ingin mempunyai anak tetapi sekarang malah mimpi buruk itu menghantui ku. Sebenarnya tubuhku kenapa?


Dokter jantung belum datang, aku bisa mengisi waktu dengan terapi jalan di ruang terapi. Ketika aku sedang menggerakkan tangan dan kaki ku yang masih susah di gerakkan, dokter syaraf datang untuk mengecek perkembangan ku untuk terapi. Aku nyaris saja mengangkat tanganku, saat dokter syaraf masuk.


Ternyata ia cuma mengecek kaki dan tanganku dengan memukul tanganku pakai alat pengecek syaraf. Dokter menggerakkan kakiku dengan hati-hati.


"Belum ada kemajuan, kita menunggu hasil scan jantung setelah hasil keluar baik atau buruk nanti saya putuskan untuk kapan mulai terapi jalan. Karena profesor ahli jantung kemarin menelepon bila kondisi jantung membaik boleh terapi tetapi bila kondisi makin parah maka di tunda."


Aku menangis karena penyakit epilepsi ku membuat kemampuan berjalan dan motorik ku membuat aku harus menggunakan kursi roda alat jalan. Aku harus latihan berjalan walau jantung ku semakin parah, demi memperoleh anak dan operasi harus kuat meskipun itu akan membuat aku kejang-kejang terus menerus. Aku masih memikirkan--apakah setelah punya anak aku terkena kanker karena imun ku lemah dan aku setiap tahun masuk rumah sakit, yang aku takut adalah aku seperti di mimpi dan setiap jam melawan penyakit dengan tubuh kurus, perut besar, dan kejang-kejang. Ya Allah, maafkan diriku karena begitu pesimis. Aku pesimis karena operasi jantung tertunda karena tekanan darahku masih rendah. Dan setiap aku senang atau sedih mesti aura epilepsi muncul, aku takut penyakit epilepsi ku parah seperti ayah kandung ku. Berhubungan dokter jantung belum datang, aku akan belajar berjalan lagi demi mempersiapkan operasi jantung. Lagi-lagi aku harus menggunakan kursi roda.


Setelah mencoba bernapas tanpa oksigen, aku harus kuat untuk berjalan. Tapi tangan dan kakiku setiap detik dan hari semakin melemah, mencoba menggerakkan supaya tidak membuat badan ku gemetar seperti ini. Apa yang suamiku inginkan, dengan kondisi ku yang lemah dan terbaring di kursi roda?


Jantung ku berdetak tidak karuan dan aku sulit bernapas ketika konsentrasi ku terganggu. Ia pasti menginginkan aku untuk mengadopsi anak, ia pasti ingin aku berhenti program bayi tabung... karena aku punya penyakit jantung... karena ia ingin kami bisa sukses operasi jantung.


Tentu saja Audrey jelas tidak ingin aku punya anak dan ingin aku berdua dengannya, dadaku nyeri--ini bukan seperti bulan lalu sakit yang ku rasakan lebih perih lagi dan membuatku kesakitan tidak bisa bergerak.


Sebelum aku ke ruang terapi, harus mengontrol emosi karena kesehatan jantung ku lebih penting. Setiap aku berpikir, dada terasa nyeri dan aku hampir pingsan untung aku sudah bisa mengontrol emosi dan menahan sakit karena jantung bocor ku. Berhubungan Audrey ada di samping menemani aku, aku harus kuat untuk berjalan  meskipun kaki ini sulit di ajak bekerja sama--kaki ini harus terlatih. Aku harus kuat berdiri meski kaki ini menolak dan membuat ku gemetar. Ya inilah diriku, mempunyai syndrome epilepsi meski epilepsi yang ku derita tidak kumat tetapi hawa kejang-kejang selalu ada.


Usai memaksakan kakiku untuk berdiri, aku harus duduk di kursi roda karena jantung ku masih terasa nyeri dan setiap jantung ku kambuh ini akan membuatku kejang-kejang. Saat aku duduk, Audrey membantu ku duduk dan dia mengantar ku ke ruang terapi. Dia mendorong ku dan membuka pintu ICU. Aku sengaja tidak pakai ECG dan EEG, bukan karena takut mati tapi suara berisik ECG setiap jantung ku kumat membuat Audrey menangis makanya aku menolak pakai ECG dan EEG.


Audrey berhenti di depan ruang ICU dan dia tiba-tiba memeluk ku dari belakang, "Aku takut kehilangan mu, setiap kali kau kritis pikiran ku kacau balau dan menganggap diriku ini dokter umum yang bodo."


Ku dengar suara Audrey gemetar ketika menangis saat memeluk ku. Aku hanya bisa duduk di kursi roda tidak bisa memeluknya. Aku istri yang cacat sedangkan suamiku lelaki yang sempurna. Aku tidak ingin membuat diriku kecewa. Aku ingin menggerakkan kursi roda namun dadaku nyeri.


Aku membungkuk kesakitan, "Mas, ambilkan obat untuk menghilangkan rasa nyeri." Suaraku tidak jelas dan terputus-putus. Audrey langsung berbalik arah dan jongkok, ia memasukkan obat jantung ke mulutku.


"Kembali ke ICU, ya." Aku menggeleng, "Aku ingin latihan jalan, aku masih kuat."


Aku... harus...kuat...Audrey akan menangis... melihat aku kritis. Aku harus bisa bangkit.  Kekuatanku kembali dari luka dalam penyakit jantung yang ku derita. Aku tidak boleh lemah. Baiklah, ini adalah perang pertama antara aku dan penyakit ku. Kami berdua meneruskan menuju ruang terapi, suamiku mengantar ku ke ruang. Di lorong, aku melewati lorong di sana terdapat team medis menolong seorang wanita yang kejang-kejang dan perutnya membesar.


"Mas, kenapa ibu itu?" Aku memegang dada dan menghirup udara.


"Dia sama seperti mu namun lebih parah lagi. Menderita Epilepsi dan jantung, lalu saat dia menikah dia terkena tumor ganas di rahimnya. Kami tidak bisa operasi karena jantungnya lemah, " jawabnya.


Aku menangis teringat mimpi ku. "Aku mimpi sama seperti ibu bahkan peurut ku bengkak dan aku lumpuh penyakit ku lebih mengerikan." Audrey berhenti dan memeluk ku lagi, "Jangan menjadikan bunga mimpi jadi nyata... kamu harus kuat dan sehat. Aku akan berusaha membuat tekanan darahmu stabil lagi."


Sesaat dia melepaskan pelukan. Lalu kami membantu ku mendorong kursi roda walaupun kursi roda elektrik namun aku masih lemas dan lemah. Aku tahu mungkin ini yang terbaik buat kami. Aku dan Audrey menuju lift, lalu kami masuk ke lift, dan menunggu untuk sampai di tempat terapi. Jarak ruang ICU dan terapi sangat jauh. Aku terharu. Suamiku mencintai ku karena setia dan bukan karena ada maunya. Ia juga memiliki kesukaan yang sama denganku dan bahkan ia yatim piatu. Aku mencintai dia bukan karena dia tampan atau kaya, namun akhlak dan agamanya yang bagus. Setiap dia menemani ku, dia tak pernah lupa untuk sholat.


Ya Allah, aku berterima kasih dengan hadiah yang Allah berikan. Kuharap bisa kuat saat terapi nanti. Cuaca yang lembab membuat kota jakarta tampak segar, hujan menelan kabut asap di seluruh kota jakarta. Alhamdulillah, setidaknya hujan turun supaya aku di rumah sakit jadi betah.


Audrey mengeluarkan cardigan di saku kursi roda. Warna cardigan yang ku suka warna krem. Lalu suamiku memakaikan aku cardigan, ia memakaikan cardigan dengan hati-hati dengan menggerakkan tanganku dengan pelan-pelan, sambil memakai cardigan aku baca doa dalam hati.


Ya Allah, kuatkan aku ketika terapi.  Kami bergerak saat sudah memencet tombol angka lantai 3. Saat sampai dilantai 3 Audrey menekan tombol buka pintu lift. Kami menuju ke tempat terapi syaraf waktu pertama kali aku terapi ruangnya masih di bawah, sekarang sudah pindah ke lantai atas.


Jarak lift dan ruang terapi sangat dekat, jadi tidak memakan waktu banyak waktu. Saat di ruang terapi aku menuju dokter syaraf, dia seperti profesor ahli syaraf dan tulang. Suamiku membuka pintu dan kami masuk ke ruang terapi, di ruang terapi masih ada ruang tempat konsultasi perkembangan terapi. Dokter terapi adalah cewek syukurlah, dan perawat nya juga cewek. Audrey menunggu di luar setelah konsultasi kami selesai. Pembicaraan kami mengenai masalah pada kaki dan tangan ku yang masih sulit di gerakan.


Tapi, tentu saja ini membuatku cemas. Suster menempelkan di kakiku yang sakit dan di punggung juga.  Waktunya sangat lama, ia juga memasang kan oksigen yang ada di kursi roda karena aku suka sesak tiba-tiba dan batuk berdarah. Aku akan kuat jangan sampai epilepsi ku kambuh. Aku akan selamat menjalani terapi elektrik ini, namun kalau terapi jalan itu aku serahkan ke Allah yang mengetahui semua kejadian dan isi hati semua manusia. Aku memikirkan kapan aku bisa mendapatkan jantung yang sehat dan memiliki anak, serta merawat ayah kandung di masa tuanya dengan penyakit langka nya. Audrey masuk ke ruang terapi menemani aku baring di kasur. Dia duduk sambil membaca Al-Qur'an yang ia pegang.


Saat dokter syaraf masuk dan memanggil Audrey. Wajah suamiku tiba-tiba muram ketika mengetahui raut wajah dokter syaraf. Aku tak bisa mengetahuinya karena aku masih dalam masa terapi waktu di terapi juga lama sekali. Tapi suamiku orang yang tabah, aku tak boleh membuatnya sedih atau cemas ketika dia masih dalam raut wajah cemas. Aku mendengar suara suamiku mengucapkan terima kasih ke dokter syaraf, ia masuk ke bilik yang di pasang tirai yang terbuat dari kain yang menutupi tempat aku tidur. Aku se bisa mungkin memasang wajah senyum untuk membuat suamiku senyum.


"Pah, lanjutkan lagi baca Al-Qur'annya. In Syaa Allah jika membaca Al-Qur'an pasti hatimu tenang. Apapun yang terjadi di waktu berikutnya aku sudah pasrah dengan resikonya. Aku juga sudah pasrah jika mimpiku menjadi kenyataan karena aku masih punya tenaga untuk menemani mu."


Ternyata waktu terapi elektrik tidak terlalu lama. Perawat perempuan melepas kabel yang di pasang di kaki, tangan, dan punggung ku. Aku duduk dengan hati-hati. Audrey memegang pinggang ku, aku menggerakkan kaki dan tangan semampu yang aku bisa. Aku harus kuat walau terjatuh dan hawa epilepsi datang. Sepertinya aku mampu.


"Mas... Aku... akan terus berusaha... berjalan supaya dapat operasi jantung dan melanjutkan bayi tabung." Keringat di seluruh tubuhku keluar, aku berhenti dan istirahat. Aku paling sebal banget kenapa tangan dan kakiku susah diajak kerja sama.


"Kamu harus kuat, tolong demi aku jangan lakukan program bayi tabung."  Audrey kenapa kamu selalu buat aku sedih.  Lalu dokter Steven datang dan menanyakan kabar tentang perkembangan kesehatan syaraf otak dan tulang belakangku. Aku terus berjalan walaupun tubuhku susah di gerakkan, tapi aku harus kuat ini demi program bayi tabung dan demi keluarga kecil ku.


"Mas Audrey?" Aku berhenti untuk mengumpulkan tenaga dan menenangkan jantung ku yang membuat dadaku seperti di tusuk.


"Ya, Rita. Ada Apa?" Audrey balik bertanya ke padaku.


"Mmmm... aku ... sesak ... suasana ... epilepsi ku ingin kambuh."


(Gangguan ketika aktivitas sel saraf di otak terganggu, yang menyebabkan kejang.


Epilepsi dapat terjadi sebagai akibat dari kelainan genetik atau cedera otak yang dialami, seperti trauma atau stroke.Selama kejang, seseorang melakukan perilaku, merasakan gejala, dan sensasi abnormal, kadang-kadang termasuk kehilangan kesadaran. Terdapat beberapa gejala di antara kejang.Epilepsi biasanya ditangani dengan pemberian obat dan dalam beberapa kasus dengan operasi, alat, atau perubahan pola makan).


"Kamu tidak apa-apa, Rita?" Maaf mas aku mulai kambuh, mungkin kamu sekarang lagi menanyakan bagaimana diriku tapi aku sedang kambuh dan aku melihat aku terkena tumor ganas di rahim sekarang dan dokter memvonis ku tidak lama hidup.


"Denyut nadinya lemah, dokter segera bawa ke ICU." Orang-orang pada tidak takut dengan penyakit sedangkan aku ingin hidup sehat dan bebas dari epilepsi serta jantung lemah. Aku tidak ingin menyusahkan suamiku---itu membuatku hanya beban baginya---tapi aku hanya bisa berteriak ketakutan melihat di dalam pikiran ku sekarang.

__ADS_1


"Sayang, bangun sayang. Kembalilah ke aku. Tarik napas sayang." Syukurlah aku sudah tenang dan bisa bernapas namun susah sekali.


"Sus, segera buka pintu lift dan arahkan tubuh istri saya ke samping."  Aku hanya bisa terdiam karena rasanya tubuhku lumpuh. Aku tidak bisa bergerak dan masih blank. Setelah beberapa menit barulah aku bisa melihat suamiku.


"Mas, aku takut sendirian. Jangan tinggalkan aku." Itu ucapan pertama yang ku ucapkan karena bayangan saat aku tidak sadar atau epilepsi ku kambuh sungguh sulit di jelaskan.


"Aku di sini, mah. Kamu tidak sendirian." Suamiku memegang tanganku yang lemas dan aku hanya terbaring di ranjang dengan infus, mukaku di pasang masker oksigen. Audrey tampaknya kelihatan senang karena aku baru saja sadar dan aku melihat ada rasa sedih di wajahnya karena keadaan ku.


"Apa aku boleh belajar dan mencatat laba perusahaan restoran ayah angkat ku." Aku sudah lama tidak memeriksa website ayah angkat ku, hanya kami yang bisa membuka websitenya. Yah, aku menggunakan kata jamak untuk ke dua orang tua angkat ku dan diriku. Aku ingin memastikan apakah ada beberapa dana untuk pengobatan ayah angkat ku.


"Kenapa emang nya?" ia terkejut, seperti mengkhawatirkan kesehatan ku yang mengalami penurunan drastis.


"Aku beberapa bulan belum melihat peningkatan laba restoran milik ayahku, dan aku juga ingin mencari topik pengajian siapa tau bisa membantu ku untuk lebih tenang mengatasi penyakit ku." Aku beberapa bulan belum melihat hasil penjualan ayah angkat dan di tambah lagi aku harus banyak membaca buku kajian untuk mengetahui lebih jelas maksud yang di jelaskan oleh Pak Ustadz waktu aku berumur lima belas tahun. Bukan berarti aku tidak mematuhi suamiku, aku cemas dengan kondisi ayah angkat dan ayah kandung ku. Biaya berobat sangat mahal dan tante ku hanya seorang Aparat Sipil Negara uangnya tidak cukup untuk berobat.


"Kalau kau mencemaskan kondisi ayah angkat dan kandungmu, mereka sudah mendapat bantuan biaya dari BPJS dan biaya operasi sudah ku tangani semua," katanya, yang mengetahui kecemasan ku.


"Aku tidak akan lembur cuma bantu ayah angkat mempromosikan resep makanannya yang baru saja dan melihat pengeluaran dan pemasukan nya saja."


"Apa nanti malam kau akan ke taman? aku akan menemani jika kau ingin bersantai biar tidak ada pikiran. Malam ini kau istirahat setelah mengecek laporan keuangan dan mencari materi dari ulama-ulama." tanya, ia mungkin ada sesuatu yang sangat romantis yang ingin di bicarakan.


"In Syaa Allah, aku akan istirahat." Saat aku mengobrol dengan suamiku di lift, lift sudah menunjukkan lantai bawah di ruang ICU.


"Kondisi Nona belum begitu pulih--- kalau di paksa kan, itu akan bertambah buruk buat kesehatan nona. Profesor ahli jantung sudah ada di bawah dan di ruang rontgen." Kami bertiga menuju ruang rontgen untuk memeriksa jantung ku yang bermasalah.


Aku masih cemas dengan keadaan ayah Yudi yang masih di ICU belum sadarkan diri karena mengalami gagal napas. Aku ingin menjenguk ayah angkat. Dia adalah orang yang telah membesarkan ku dan mempertemukan ayah kandung di rumah sakit ketika kami sedang di rawat.


Beberapa perawat menolong ku ketika memasuki ruang rontgen. Mereka sibuk mencabut infus dan oksigen, sambil memakaikan baju khusus rontgen dan membantu ku berdiri. Ya, aku semakin letih dan setiap berdiri tubuhku selalu tremor. Bila berdiri pasti selalu terjatuh atau tubuhku seperti kejang-kejang.


"Rita aku akan menemui profesor, kamu dengan perawat ya." Suara lembut Audrey terdengar menyedihkan saat dia berbisik di kuping ku.


"Jangan cemas dan sedih, ubah suara mu jadi ceria. Aku tidak akan mati."


"Kau mau aku temani saat belajar?"


Aku berusaha menghiburnya ketika dia mencemaskan diriku.


"Aku akan baik-baik saja, profesor menunggu mu. Kalau ada masalah aku akan kirim bel di ICU nanti."


"Hati-hati, sayang."


Aku tersenyum. pura-pura seperti kuat untuk membuat suamiku tersenyum. Tak lama, suster membantu aku tidur di ranjang rontgen dan tempat itu sudah di set saat aku sudah di ikat pakai seat bell. Lalu aku masuk ke dalam rontgen yang gelap. Dan, bahkan seperti ini dadaku masih nyeri, bagaimana aku bisa membuat Audrey tersenyum setiap jantung ku berdetak terasa sakit. Dah irama di jantung tidak karuan. Aku pernah mendengarkan irama jantung ku saat di rumah, saat itu suamiku lagi tidur dan aku memakai stetoskop. Audrey sempat shock dan dia membantu aku mendengar. Aku berkata padanya jantung ku aneh dan tidak seperti suara jantung mu.


Ya Allah, jangan sampai mengingat itu. Kalau aku sampai sekarat di sini, Audrey bisa depresi karena keadaan ku yang parah.


"Nona, sudah selesai pemeriksaannya." Aku terbangun ketika perawat membangunkan ku. Audrey sudah di samping ku dan membantu aku naik di ranjang dorong. Hidung dan tanganku di pasang slang untuk memberi asupan supaya aku tidak kejang-kejang.


"Terima kasih." Aku tersenyum.


"Nona Rita apakah anda memakai obat kesuburan?"


Profesor  jantung, dosen yang mengajar suamiku tiba-tiba bertanya.


"Ya, saya memakai obat hormon untuk program bayi tabung." Apakah ada sesuatu yang salah dengan jantung ku? Apakah aku bakal mati karena terlalu berlebihan?


Ya, Allah tolong berikan kesempatan hidupku. Aku ingin punya anak dan membuat Audrey bahagia. Jangan ambil nyawaku. Berilah aku kekuatan untuk berjalan dan operasi, Ya Allah.


Aku hanya makhluk yang lemah dan teringat saat penjelasan oleh guru agama bahwa kita hidup di bumi ini hanya sebentar, semua yang kita capai sisanya kita serahkan ke Allah sang pencipta alam semesta dan isinya. Isi ceramah saat aku belajar agama di rumah dengan orang tua dan guru agama isinya.


Manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan, sangat lemah. Sebagaimana Allah menyatakanhal itu dalam Al-Qur'an,


يُرِيدُ اللّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً ﴿٢٨﴾


"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nisa: 28).


Kita bisa melihat bagaimana tidak berdaya nya manusia, bagaimana lemahnya manusia,Ketika seorang yang sebelumnya masih sehat, seorang yang masih mempunyai fisik kuat dan jasmani nya, tiba-tiba dia sakit. Dan selanjutnya ia pun dibawa ke rumah sakit. Berlalu hari, berlalu waktu. Kita menemukan orang yang tadinya sehat, kuat, gemuk tersebut terbaring diatas tempat tidur. Dalam keadaan lemah, sedikit demi sedikit dia menjadi pun menjadi kurus. Bahkan dia tidak bisa mengangkat tangannya. Hingga berlalu waktu dia tidak bisa lagi menyuap dan mengangkat suapan sendok ke mulutnya. Bahkan, dia harus dibantu supaya bisa minum. Dan kita melihat bagaimana manusia meredam nyawa? Bagaimana Allah memperlihat kan betapa manusia itu lemah? Kalau kita tidak katakan hina! Ketika betis bertaut dengan betis, ketika nafas tersengal, nyawa pun akhirnya di kerongkongan.


Ia menghela napas. "Kondisi mu semakin memprihatinkan, saran saya kita tunda dulu program kehamilan untuk membuat denyut nadi mu normal kembali," Kata dokter jantung yang sudah gelar S3 di luar negeri.


keesokan paginya ketika aku bangun dari tidur, leher ku sudah terpasang selang dan tubuh terasa lemah. Kalau aku menanyakan kenapa aku jadi seperti ini, suamiku tidak akan menjawab pertanyaan yang membuatnya tercengang. Ketika aku tersedak, aku mendengar suara suamiku memanggil suster dan mereka membersihkan selang di leher ku. Aku sudah bisa membuka mata lagi dan tidak mengalami gagal jantung.


"Kapan kamu memindahkan aku ke sini?" tanyaku.


"Di infus sudah di masukkan obat tidur. Dokter menyarankan kamu istirahat karena paru-paru dan jantung mu butuh istirahat. " Aku menangis karena terlalu lemah untuk membuka mata. Audrey menggosok air mata di pipi ku.


"Kau masih tidak menjelaskan apa yang terjadi padaku?" tanyaku yang ke dua kali dengan sebal. Sampai-sampai ECG berbunyi tidak normal.


"Maksudmu apa sayang?" tanyanya sambil memijat kakiku. Ketika aku membuang muka, Audrey mencium kening ku. Ku ketik di laptop khusus orang difable.


"Kau menyembunyikan penyakit ayah angkat, kandung dan penyakit ku dari aku."


"Rita, kau masih lemah dan emang itu yang terjadi. Kau harus istirahat saja. Penyakitmu cuma kau kelelahan saja." Seperti biasanya, dia tidak mau menjawab pertanyaan ku dengan suara intonasi nya yang tenang dan tidak terlihat kaget.


Sebuah email dari guru agama masuk. Beliau mengirimkan aku ayat dan hadist supaya di pahami. Dan aku membuka website ayah angkat, penghasilannya ada kenaikan. Grafik laba di website menunjukkan dari bulan ke bulan mengalami kemajuan. Sebuah resep baru dari ibu angkat ku laku terjual dan menambah uang yang masuk bulan ini.  Menu itu berjudul dalogna coffe dan Sapi lada hitam.


Seperti dugaan ku. Audrey mematikan laptop ku dan dia menyuap bubur dengan jarum suntik, lalu di pasang ke slang yang terhubung ke hidungku. Ya, aku masih belum bisa mengunyah makanan keras karena sulit sekali. Ku tatap wajahnya yang begitu tampan. Rambutnya di cat putih untuk membuatku senang, karena aku suka lelaki yang warna rambutnya putih. Lalu aku menangis karena Audrey begitu setia dan membuat suasana serasa romantis.


"Kenapa, Mas Audrey tidak merawat aku di rumah?" tanyaku sambil membuka laptop. "Kan kalau di rumah mas jadi bisa tenang kalau di sini kan sibuk tidak bisa mengurus ku."


"Ibu angkat mu menelepon ku, dia menyuruh kalau kamu sakitnya kambuh ke rumah sakit saja yang banyak perawat dan jadi bisa mengurus dua orang sekaligus." Ia menghela nafas dan mengecup kening ku.


"Baiklah, terima kasih." Aku memejamkan mata sesaat karena dadaku kembali sakit. Aku tak bisa bersuara cukup jelas karena di leher ku di pasang alat bantu nafas. Seharusnya ibu tidak perlu cemas karena ayah angkat juga di rumah sakit. Ia seharusnya merawat ayah, kalau merawat aku dan ayah Yudi pasti repot.


"Dan aku tahu pasti kau mencemaskan ayah angkat dan kandungmu," lanjutnya.


"Bagaimana kondisi Ayah Yudi dan ayah kandung ku ? Mengingat aku seharian penuh belum membuka Vidio call?"


Aku tiba-tiba sulit melihat dan tersedak air liur, hanya suara Audrey yang terdengar sedang berbicara dengan suster.


"Rita, kamu tidak apa-apa? Kamu bisa melihat ku?" tanyanya dengan suara serak dan cemas.


Aku susah bernapas dadaku sakit dan tidak kuat. Aku berusaha memegang kasur dengan tanganku yang lemas. Begitu suster menyedot air liur di slang, rasanya aku kembali hidup. Aku biasanya tidak separah ini. Aku memegang dada ku dan suster memasukkan obat ke slang infus ku.


"Kau membuatku cemas, sayang."  Dia mengelus rambut ku. Aku mencoba memegang wajahnya dan melihat wajahnya yang cakep. Tapi suamiku malah menurunkan tanganku.


"Kau mau kan di rawat di rumah sakit, demi aku dan orang-orang yang mencintaimu." Dia kembali mencium kening ku begitu lama dan aku merasakan ada tetesan membasahi ku. "Aku akan berusaha membuat kamu tetap sehat, supaya kamu bisa sehat lagi," lanjutnya "Kalau perlu aku menemani kamu terapi."


Seorang lelaki berbadan kurus, otot lengannya yang berkedut setiap saat, dan memakai slang di leher sama seperti ku membuka pintu bersama tante ku.


"Anakku, Rita."  Suara di laptop persis suara ayah kandung ku. "Aku mendapat kabar kamu masuk rumah sakit lagi."


"Tante, bagaimana kesehatan ayah mertua?" Aku melihat tante mengirim pesan ke seseorang, ponsel Audrey berbunyi dan ia sangat shock.


"Kenapa ayah tidak istirahat? jangan cemaskan Rita. Rita hanya ingin ayah dan ayah Yudi sembuh." Ia meneteskan air mata. Aku tak tahu ada apa dengan ayah kandung ku.


"Aku ingin melihat anakku, apakah dia sehat atau kritis. Begini akan tenang." Tante menundukkan muka dan pamit ke pada kami, ia membuka pintu ICU dan mengantar ayah kembali ke kamarnya.


"Bolehkah aku kembali mengobrol denganmu?" tanyanya. Aku mengedipkan mata dua kali sebagai tanda iya. "Aku ingin bicara denganmu, tapi istriku cantik ini kemarin masih marah karena aku tidak jujur." Ia menyeka tanganku. Sepertinya Audrey ingin menghilangkan stres dengan mengajak aku berbicara.


"Aku marah karena suamiku main rahasia-rahasia, jadi aku tidak mau bicara." Aku menjelaskan kenapa aku kemarin malas berbicara.


"Kan sudah ku bilang, jangan cemas. Kamu hanya kelelahan jadi otak dan jantung mu sedikit shock sehingga kamu kejang-kejang."


Aku memejamkan mata sebentar. "Oke, aku akan percaya kepada suamiku seratus persen. Terus apa yang ingin kau bicarakan."


"Besok kan aku libur, jadi aku minta dokter untuk mengizinkan mu ke puncak. Aku akan siaga jika istriku tiba-tiba pingsan."


"Aku setuju saja, ikut denganmu. Aku tidak marah kok. Mungkin akan membuatku terasa nyaman." Air mataku tiba-tiba menetes karena ajakan romantis nya.


 Ia menggosok air mataku. "Sudah, ini tidak begitu romantis."


Aku mengedipkan mata tiga kali, sebagai bukti aku tidak menangis. Aku tahu suamiku berniat membuatku semangat untuk hidup, di puncak juga tempat yang cocok untuk terapi. Wajahnya berseri tidak seperti biasanya. Sambil memberi body lotion di kakiku, Audrey memijat dengan lembut.


"Aku takut seperti pertama kali bertemu denganmu, kau sampai kritis dan hari berikutnya kau koma karena stress atau tertekan di rumah sakit."


Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang engkau berikan.


"Apakah di izinkan, jika kita keluar besok?" Aku tak yakin jika dibolehkan ke luar rumah sakit.


"Apakah mamah tidak mau melihat pemandangan di puncak?"


"Apakah di sana juga ada alat medis?" aku menanyakan perlengkapan di sana.


"Tentu saja lengkap, kan di sana juga dekat puskesmas atau rumah sakit." Ia mengucapkan dengan jelas, tak ingin membuatku cemas atau sedih bila terjadi sesuatu yang tak terduga. Dan perlengkapan itu pasti sama persis dengan di ICU, diriku seperti robot yang sedang di repair ulang.


Aku masih tak bisa bicara.


"Aku suamimu, tentu aku harus melengkapi setiap kekuranganmu. Mau itu sakit atau senang kita harus mendayung perahu sampai sukses."


"Walau kau suamiku, tapi aku tetap membuat mu kecewa karena aku cacat dan tidak seperti wanita yang lainnya," ucap ku dengan nada lemah lembut.


"Di Al-Qur'an kan sepasang suami istri harus saling melengkapi. Kau sudah melengkapi jiwaku dan sekarang aku melengkapi apa yang kau perlukan, Rita." Ia memegang tanganku.


"Aku bersyukur bisa bertemu dengan mu, aku juga memilih karena Kamu kepala keluarga yang akan membawa ku ke surga." Aku sekarang merasa senang dan bersyukur memiliki suami yang kuat agamanya.


"Sistem Imun akan mempengaruhi kesehatan mu, makanya aku membawamu ke puncak."


"Alhamdulillah, kita dipertemukan ya mas." Aku merasakan nikmat yang begitu banyak, belajar mencontoh Rasul Sayiddina Muhammad dan sekarang bertemu dengan seorang pendamping hidup yang benar-benar menaati Al-Qur'an dan Hadist. "Aku cemas karena ku pikir pernikahan ini karena kamu terpaksa dan makanya kamu sedih."


"Aku sudah bilang kan, kamu adalah wanita yang memenuhi ruang kosong yang di pikiran ku. Aku waktu itu berminat melamarmu, tapi usia mu belum 20 tahun."


"Maaf aku terlalu egois dan berprasangka buruk. Aku cemas takut kamu kecewa karena aku cacat." Ini sudah membuatku tenang. Aku sadar terlalu banyak pikiran negatif karena pernikahan yang mendadak sekitar sebulan yang lalu. Itu juga ibu kandung ku yang membohongi Audrey. Kami sekarang saling melengkapi bukan karena terpaksa, tapi kami sudah di takdir kan untuk bersatu. Aku banyak belajar dari Al-Qur'an untuk bersabar setiap kali mahligai kami di terpa badai, itu akan membuat perjalanan ini ada hikmahnya. Yang jelas, ini sudah membuatku bahagia karena suamiku lelaki yang selama ini ku cari.


"Akan lebih baik, besok kita naik helikopter yang ku sewa. Karena ke puncak naik mobil sulit untuk menaikkan kursi roda atau kasur dorong dari rumah sakit," ia menjelaskan. "Tidak usah cemas,  di sana ada tempat mendarat nya."


Ini adalah momen pertama yang aku inginkan, sekian lama aku sudah tidak keluar rumah hanya di rumah dan di rumah sakit itupun aku harus terpaksa tidur karena kondisi ku tiba-tiba menurun. Aku sampai tak bisa berbicara banyak kata.


Mungkin aku sekarang sedang mimpi.


"Maukah kau menemani ku di puncak , hanya kita berdua saja?" tanyanya, ia memberi ku sebuah gelang manik-manik. Jantung ku berdegup kencang dan dada terasa sesak. Aku mengangguk dan mengedipkan mata. Ia mengecup ku dan kembali ke kantornya.


"Jangan banyak pikir dan istirahat buat besok, jadi kita bisa pergi." Ia keluar ruang ICU.


Selama beberapa detik, suster tersenyum ke arah ku. Dia mengecek ECG dan EEG di monitor.


"Nona bersyukur, dokter Audrey adalah dokter yang ramah dan sholeh di rumah sakit ini. Dia juga cerdas dan baik hati."


Suster setelah berbicara, pergi ke luar ruangan dan menutup pintu meninggalkanku. Dan, aku tidur dengan nyenyak menunggu suamiku selesai kerja.


.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2