Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri

Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri
POV Rita (title: Keturunan Yang Membuatku Merasa Di Surga)


__ADS_3

Keesokan harinya lebih baik... tapi juga lebih buruk. Lebih baik karena hari ini aku sudah di ruang VVIP bukan ICU lagi, meski Aku tau permohonanku bakal ditolak oleh Audrey. Itu lebih mudah bagiku untuk mempunyai keturunan. Audrey menggerakkan tangan dan kakiku, ia mungkin menahan uneg-uneg nya untuk menyuruh ku berhenti memimpikan mempunyai anak yang kecil. Aku menghirup napas dalam-dalam. "Audrey, ku mohon ini demi diriku. Aku ingin anak yang bisa menemani ku dan dirimu." Aku memohon untuk ke dua kalinya.


 


 


"Rita, aku tidak mau kamu mati dan aku sendiri bersama anakmu." Audrey meninggalkanku dan aku menangis di ranjang ruang VVIP. Aku ingin sekali punya anak, jalan-jalan bersama suamiku dan anakku. Namun keadaan membuatku harus pulih dari penyakit bawaan, sampai kapan ada orang yang berniat mendonorkan jantungnya untukku, pikirku. Dan air mata menghabisi pipiku. Ku coba mengangkat tangan namun masih berat. Aku ingat waktu aku umur 11 aku sering kritis dan sampai koma 8 hari. Hal itu juga membuatku sedih karena badan ku terasa kaku dan sulit digerakkan.  Aku terapi jalan, namun jantung ku yang bocor ini membuatku kritis tapi tidak selama 8 hari hanya sejam saja. Lalu orang tua angkatku menggerakkan pelan-pelan kakiku, tetapi aku masih lumpuh. Keajaiban terjadi saat usiaku 15 tahun, saat itu aku bisa jalan tetapi orang tua angkat ku menyuruh aku pakai kursi roda. Mereka khawatir aku pingsan karena epilepsi ku yang kumat dan jantung ku yang lemah.  Dan keajaiban yang ke dua  terjadi yaitu saat aku menikah, suamiku perhatian denganku dan sering merawat ku, yang ke tiga aku bisa berjalan tanpa oksigen walau kakiku dan tanganku masih gemetar. Sekarang keajaiban itu hilang bagaikan sihir ibu peri yang di berikan sinderella hanya sampai jam 12 malam. Sekarang aku terasa lelah dan sulit berpikir. Saat Aku tidur, Audrey membuka pintu kamar VVIP dan membawakan aku bubur serta obat yang harus aku minum secara teratur.


 


 


"Kamu sudah sehat?" tanya Audrey kepadaku.  Aku memegang dadaku. "Dadaku sakit. Oh, ya ku mohon jangan marah. Aku benar-benar ingin punya anak. Cuma ini harapan ku. Aku tidak bisa masak, mencuci, setrika dan lain-lain." Audrey memegang mangkuk yang berisi bubur, dia menghirup napas, dan memutar bola matanya. "Rita, kalau kau mau mempunyai anak. Aku akan menuruti mu dan kita akan melanjutkan program bayi tabung. Maaf aku telah membuat mu tertekan, rasanya menjadi suami siap siaga menemani mu yang sakit membuatku kehilangan kendali." Aku tersenyum "Aku juga tahu, kalau aku di posisi mu aku juga akan melarang kamu pro..."


 


 


pov AUDREY


 


 


Saat Rita bicara, Rita kejang-kejang bagaikan ikan yang di taruh di tanah. Dia memuntahkan makanan yang di makannya. Aku mengambil ponsel ku dan mencari nomer yang ada di ponsel ku menelepon dokter jantung dan syaraf. Monitor ECG menandakan istriku kondisinya memburuk.  Aku mengompres Rita, lima orang rekanku datang dan membuka pintu VVIP. Steven dan dokter yang lainnya membuat CPR untuk membantu ku menyadarkan Rita yang kejang-kejang seperti orang kesetrum. Aku bingung kalau tidak menuruti Rita, penyakitnya kambuh karena istriku mudah terbawa perasaan tetapi kalau di turuti keadaannya semakin kritis. Aku ingat perkataan Steven saat aku meminta izin untuk program bayi tabung, ia mengatakan kondisi istriku tidak memungkinkan untuk proses bayi tabung karena obat hormon bisa memacu kinerja jantung semakin cepat. "Rita, kamu harus kuat melawan penyakitmu," ucap ku. "Kau jangan cemas...." Saat Rita membalas perkataanku, tubuhnya me lontar-lontar dan kejang-kejang seperti kepalanya di setrum. Rita di pasang EEG di kepalanya untuk mendeteksi aliran listrik syaraf di kepalanya dan di dadanya di pasang ECG untuk mendeteksi jantungnya yang bocor jika keadaan membaik atau memburuk, serasa dunia ku tumbang melihat Rita yang kondisinya melemah karena program bayi tabung membuat jantungnya yang bocor bekerja keras ketika tahap pertama. Antara mau dihentikan dan dilanjutkan membuatku semakin bingung untuk mencari solusi. Melihat EEG yang di pasang di kepala Rita saja sudah membuatku malas untuk memiliki seorang anak, tetapi kalau aku tak mengizinkan penyakit jantung Rita bisa kambuh karena stress dan memikirkan diriku.


 


 


"Pah, sedang apa?" ucap Rita kepadaku dengan nada lesu. Tumben Rita menyebut ku dengan kata Pah, biasanya memanggil namaku atau menyebut ku mas. "sedang melihat monitor EEG, mamah tidur dulu ya."Apakah aku harus menuruti istriku? pikir ku untuk kesekian kali. Aku ingin keluar menghirup udara segar supaya tidak stres. Ya Allah selamatkan istriku. Aku hanya dokter umum dan hanya bisa membuat dia tenang tapi penyakit istriku tidak bisa disembuhkan.


 


 


"Mah, Papah izin keluar dulu ya. Mau rapat." Maafkan aku sayang, terpaksa aku berbohong. kalau diriku tidak berbohong kamu cemas dan penyakitmu kambuh lagi, pikir ku. Aku meninggalkan istriku, menuju ke ruang Ayah angkatnya yang sedang di rawat. Namun bukan solusi yang datang membantu ku tetapi malah masalah baru yang timbul, menunggu donor stem cell untuk menyembuhkan penyakit langka Ayah angkatnya sangat sulit. Pikiran ku tambah kacau, melihat kondisi obesitas yang di alami ayah Yudi dan penyakit anehnya semakin membuatku ingin berteriak. Di ruang ICU yang satunya aku berusaha membuat Ayah Yudi sembuh dari kritisnya. Aku menarik napas dalam-dalam dan masuk ke ruangnya. Aku ke ranjang di mana ayah Yudi berbaring dengan kejang-kejang dan kaki serta tangannya yang kaku. Aku memijat perutnya yang seakan mengembang dan mengempis seperti mau meledak, karena Ayah angkat Rita bernafas dengan diafragma bukan dengan laringnya dikarenakan paru-paru nya mengalami pneumonia namun tidak separah anaknya.


 


 


Kini Pak Yudi yang sekarang aku lihat, sedang terbaring namun tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya, matanya menutup, kondisinya makin parah. Aku melihat Pak Yudi kejang-kejang, tangannya tremor. Aku cepat-cepat meninggalkan Pak Yudi dan lari ke luar, aku tak kuasa menahan air mata yang mengalir. Ini yang membuat istriku kritis, dia tahu aku menyembunyikan kesehatan Ayah angkatnya yang kritis dan dia memikirkan kondisi Pak Yudi yang belum membaik sehingga jantungnya memompa darah begitu cepat dan membuatnya kritis ditambah lagi karena efek obat hormon yang ia pakai. Untung istriku bisa melalui masa kritisnya dan dia siuman. Seperti janji ku ke istriku, aku mencari telepon dan menelepon dokter kandungan.


 


 


"Halo, saya Audrey ingin melanjutkan program bayi tabung. apakah bisa di lanjutkan?" Dugaan ku betul sahabatku menyetujui namun tak mau tanggung jawab jika istriku kambuh penyakit syaraf dan jantungnya. Aku mengusap air mataku dan bergegas menemui istriku. Aku menuju ruang ICU, karena istriku kondisinya masih lemah saat dia kejang-kejang. Di ruang ICU cardiovascular berdekatan dengan ICU khusus penyakit syaraf. Ruangan itu VVIP, aku memesannya untuk Ayah angkat dan Rita. Aku membuka pintu dan masuk menemui istriku.


 


 


"Mah, dokter kandungan mau datang untuk mengecek perkembangan kesuburan mamah." Saat aku bicara dengan istriku, sahabatku yang bekerja di poli kandungan datang. Dia masuk ke ruang ICU tempat istriku di rawat.


 


 


"Aku tak ingin tanggung jawab bila terjadi lagi." Aku tahu mungkin rekanku tak mau di tuduh mala praktek. "Aku yang akan bertanggung jawab dan melepas gelar dokter yang ku pakai." Setelah beberapa hari istriku di cek siklus menstruasi dan di suntikkan obat kesuburan nya, sekarang ia perlu di USG apakah perkembangannya sudah lancar. Senua alat di tubuhnya di lepas untuk di USG dan memasukkan human chorionic gonadotropin (hCG). Aku mengantarkan istriku ke kamar USG yang di sediakan oleh dokter stevan di rumah sakit yayasan untuk memantau perkembangan ibu hamil yang mengalami penyakit jantung bawaan.


 


 


"Pah, jangan khawatir mamah kuat kok." Mendengar suara istriku yang lemah dan terpotong-potong karena syaraf otaknya yang lemah akibat kelainan syarafnya membuat aku tidak tega. Sesampai di USG, Rita di periksa rahimnya dengan USG.


 


 


"hasil USGnya bagus, tidak ada kecacatan di rahimnya, dan perkembangannya sudah bisa di suntikan human choronic gunadotropi (hCG), saya sudah mendapatkan tes darah kemarin saat penyuntikan hormon dan hasil USG ternyata bagus tidak ada yang aneh."


 


 


"Makasih dok, atas bantuannya," ucap Rita yang sedang mengobrol dengan dokter Siska. Rekanku yang satunya sedang sibuk jadi ku telpon Siska, dia juga satu rumah sakit dengan rekan ku yang memakai hijab. Dia berbicara dengan Siska terdengar lemah suaranya. "Sebaiknya jangan di teruskan, bu Rika. Ini sangat membahayakan bagi nyawa anda. obat hormon ini bisa membuat jantung ibu tambah parah."


 


 


"Aku tidak apa-apa dok. Tanpa anak, aku tidak akan kuat menghadapi kondisi ku yang semakin hari semakin melemah," ucap Rita dengan nada bergetar dan air matanya menetes ke pipi. Aku memeluk istriku dan menepuk dadanya supaya penyakit jantungnya tidak kambuh, sedangkan Siska sedang menyuntikkan hCG ke tubuh istriku supaya rahimnya subur. "Saya sudah periksa kadar estradol istri anda dan folikelnya juga sudah cocok," ucap dokter Siska. Namun saat penyuntikkan sudah di lakukan, istriku tidak sadarkan diri, tangan dan kaki istriku tersentak tiba-tiba. Aku sudah menyuntikkan obat penghilang sakit. Apakah karena jantungnya yang lemah dan membuat syaraf nya juga terganggu?


 


 


Aku melihat Rita sudah sadarkan diri, dia bisa melalui masa kritisnya. Namun kondisinya semakin parah, Rika teriak-teriak dan kejang-kejang, dia membuka mulut karena susah bernapas.


 


 


"Rita, tenangnya aku akan membawamu ke ICU lagi." Aku mendorong ranjang rumah sakit, Siska juga ikut di belakangku dan mengelus kepala Rita. Steven dan temannya menyusul di belakangku, ketika melihat aku dan Siska membawa Rita yang kritis. setelah sampai di ICU, kami semua memasang EEG dan ECG di kepala dan badan Rita. Aku memasang slang oksigen di lehernya.


 


 


"Steven, istriku tidak lumpuhkan?" Aku Khawatir Rita mengalami kelumpuhan makanya aku bertanya, kalau dia lumpuh program bayi tabung di batalkan dan kondisinya akan memburuk jika permintaannya tidak si turuti.


 


 


"Kondisinya membaik, dia tidak mengalami kelumpuhan," ucap Steven kepadaku. Aku akhirnya bernapas lega, karena kemarin Rita ingin meneruskan terapinya supaya program bayi tabung bisa berjalan dengan lancar.


 


 


POV Rita


 


 


Ya Allah, ku mohon jangan biarkan penyakit ku kambuh. Aku ingin punya anak untuk membahagiakan Audrey, doaku dalam hati. Aku tak sanggup menahan air mataku, aku merasakan sedikit hangat. Aku tau suamiku mengelap air mata di pipiku saat aku menangis dalam keadaan kritis. Aku yang terlahir dengan jantung bocor dan penyakit epilepsi ku hanya bisa pasrah dengan keadaanku yang lemah bila aku sekarang bukan kritis melainkan koma. Ada dua opsi yang buat aku sedih dan tertekan yaitu lumpuh atau sembuh namun penyakit epilepsi ku kambuh. Jika aku lumpuh siapa yang menyemangati suamiku bekerja. Jika aku sembuh namun epilepsiku kambuh bisa membuatku kritis, itu di sebabkan aku dalam tidak sadar dan susah bernafas. Bagi penderita lemah jantung sepertiku, oksigen alami yang terpenting. Jika aku kumat, jantung ku berdetak lemah atau cepat sekali karena kekurangan oksigen dan tekanan darahku turun drastis. Aku harus bicara dengan suamiku, kalau aku di ICU terus aku tidak ada kemajuan sama sekali dan masih terbayang tentang ayah Yudi yang senasip denganku. Hal ini justru akan membuatku kritis bahkan tidak bisa melawan penyakitku.


 


 


"Sayang, aku sudah bilang sama sahabatku bahwa aku akan merawat mu di rumah saja." Syukurlah suamiku berpikir sama denganku, mungkin dia sudah janji kemarin denganku dan berbicara dengan rekannya untuk membawa ku pulang karena kondisi ku di rumah sakit tidak ada perubahan.


 


 


POV Audrey


 


 


Aku berkata pada Rita, bahwa nanti malam dia bisa pulang dari Rumah Sakit. Aku melihat Rita mau makan dan berbicara lagi, namun kondisi Rita tiba-tiba menurun. Aku melihat Rita mengunyah, namun dia belum makan dari tadi pagi. Kaki dan tangan Rita tersentak tiba-tiba.


 


 


"Rita, kamu harus kuat. Kita akan pulang nanti malam." Aku menjadi gelisah sekali, hari ini ulang tahun Rita dan dokter mengizinkan ia pulang namun takdir berkata lain.


 


 


"Suster, apakah dokter syaraf dan jantung belum datang?" tanyaku panik, karena Steven dan rekanku yang lainnya keluar sebentar soalnya ada pasien syaraf dan jantung yang mau periksa. Mereka berdua keluar, setelah membantu ku memasangkan EEG dan slang oksigen. Siska juga sudah pulang, ketika ia, aku dan rekan-rekanku berdiskusi mengenai masalah Rita dan meminta izin supaya Rita di rawat di rumahku.


 


 


"Sebentar lagi dokter stevan datang," jawab suster yang mengecek kondisi Rita. Hanya Aku dan Suster di ruang ICU. Aku sangat panik. Kenapa di saat aku ingin membahagiakan istriku, namun kebahagiaan itu hilang terbawa angin, pikirku frustasi. Aku menyuntikkan obat anti kejang dan penyakit jantung ke tangan Rita, supaya ia bisa membuka matanya. Suara ECG dan EEG membuatku sedih, Rita masih menutup matanya setelah di suntik obat.


 


 


"Mas... aku... kenapa?" suara Rita yang lirih dan Parau membuatku sedih. "Syukurlah kamu sudah siuman." Rita bisa melewati masa kritis, ku pikir dia bakal koma. Aku memijat kakinya. Dia begitu pucat dan lemas. Steven dan rekanku yang lainnya masuk ke ruang ICU untuk mengecek Rita.


 


 


"Rita kamu bisa menggerakkan tanganmu?" tanya steven. Steven berbicara kepada istriku untuk mengecek kondisinya.


 


 


"Dok, apakah donor jantung sudah ada buatku? Aku tidak mau seperti ini hanya duduk di kursi roda dengan keadaanku yang lemah," tanya Rita kepada Steven, dia tidak menjawab pertanyaan Steven. Rita tangan dan badannya yang kurus di penuhi dengan mesin dan infus.


 


 


"Kami sudah mencari pendonor jantung yang sesuai dengan golongan darahmu, tapi hasilnya nihil." Aku mengelus Rita dan memijat kakinya yang sakit, setiap kali dia kesakitan tubuhnya seperti habis kesetrum dan bola matanya memutih serta mulutnya mengeluarkan air liur. "Sayang In Syaa Allah pasti ada jalan dan kamu akan sembuh." Aku mencoba tersenyum supaya penyakit Rita tidak kambuh dan membuat kondisinya kritis.


 


 


POV RITA


 


 


Aku yang terbaring di ICU menahan sakit jantung dan syarafku, cuma hanya bisa pasrah kepada Allah untuk bisa sembuh dari penyakitku. Aku tahu mas Audrey mencoba tersenyum supaya aku tidak kumat.


 


 


"B-b-b-b-b," hanya itu yang bisa kuucapkan sekarang otakku melemah. Ya Allah jangan membuatku cacat lagi. Aku tidak bisa menahan tanganku yang bergerak dengan sendirinya, tiba-tiba saja tanganku tremor dan saat aku ingin memegangnya pandanganku berkunang-kunang lagi. "Rita, kamu harus kuat. Proses bayi tabung belum selesai. Kamu harus bangun dari kritismu."


 


 


Maafkan aku mas, ini bukan kemauanku untuk menghadapi penyakit seperti ini.


 


 


POV Audrey


 


 


Aku tak tahan lagi, Rita bernapas tersengal-sengal, matanya buka tutup seolah ada yang mengendalikannya, bibirnya bergerak seakan dia sedang mengunyah. Aku hanya bisa pasrah dengan penyakit dan kondisi jantung Rita yang bocor. Rekanku membantu ku memasang oksigen di hidung Rita, namun belum membuat Rita stabil. Slang di lehernya sudah di copot oleh suster. Kami menyedot air liur yang keluar dari mulut Rita. Saat itu juga jantung Rita berhenti berdetak, suster memasang kan masker oksigen dan memompanya di mulut Rita sedangkan Steven menekan dada istriku untuk membuat jantungnya kembali berdetak.


 


 


"Ready, sus," desah Steven. Sementara dokter syaraf yang lain menyuntikkan obat ke botol infus Rita. Beberapa kali Rita di beri CPR, layar monitor yang mencatat kondisi jantungnya masih garis lurus, tekanan darahnya menunjukkan 80/60. Steven menyetrum dada Rita, supaya istriku sadar. Sampai kejutan ke empat tekanan darah dan jantungnya sudah normal kembali. Tekanan darahnya menunjukkan 120/80 mm Hg, dan monitor ECG sudah menandakan ada denyut jantungnya yaitu bergerigi atau tidak datar lagi garis di monitor. Namun Rita mengalami koma, dia belum membuka matanya ketika kami menolong dari masa kritis.


 


 


Aku menghela napas dan memegang tangan Rita, ku pijat tangannya supaya tidak kaku dan aku berbisik ke telinganya.


 


 


"Mungkin kamu menganggapku lemah, Rita. Tapi aku tahu, bahwa aku akan ada di sisimu mau kamu sakit dalam keadaan cacat atau sehat aku akan tetap mencintaimu." Kukecup kening istriku. Aku hanya berharapsemoga ia bisa keluar dari ICU tidak memakai alant bantu hidup. Aku keluar ruangan ICU di mana Rita sedang tidur dan tak membuka matanya. Aku menyerah untuk membuat Rita mendengarkan nasihatku tentang membatalkan Program hamil atau bayi tabung. Aku sekarang hanya fokus menuju ke ruang ICU di mana ayah angkat Rita di rawat, saat aku ke ruang sebelah aku melihat Ayah angkat Rita sudah di pindahkan di ICU khusus syaraf saja di sebelah kamar Rita terbaring. Di ruang itu Pak Yudi tertidur dengan kaki dan tangan kaku belum sembuh dari masa kritis. Aku sungguh bingung sekarang, donor stem cell belum datang dari luar negeri, sulit untuk mendapatkannya. Dan itu membuat Pak Yudi penyakitnya kambuh. Setiap detik pak Yudi kejang-kejang dengan tubuh kaku, dan perutnya bergerak-gerak untuk mendapatkan oksigen karena Pak Yudi menghirup banyak CO2. Saat ini kemotrapi ayah angkat Rita di ruang ICU karena keadaannya yang parah, aku mengecek kondisinya belum stabil dan napasnya tersengal-sengal karena penyakit laryngospams. Ayah angkat Rita sedang kritis, dia di ruang ICU sedang terapi obat kejang namun di wajahnya tak ada slang infus terpasang. Ia pernah bilang tidak ingin memakai lat pemacu hidupnya, Pak Yudi ingin belajar bernapas walau harus bertarung melawan penyakitnya. Tapi penyakit steff person syndrome membuatnya tersengal-sengal bernapas. Tangannya tremor sehingga ECG yang berbunyi bip suaranya sangat nyaring dan cepat sekali bipnya berbunyi tidak ada spasi atau jeda sama sekali.


 


 


Sekali lagi aku menghela napas--lebih dalam, lebih panjang, dan lebih penuh penghayatan. Aku berusaha mencari kata yang tepat untuk menanyakan keadaan Pak Yudi ke istrinya yang sedang bersandar di kursi di sebelah pak Yudi terbaring dengan wajah pucat.


 


 


"Kabar, pak Yudi bagaimana?" tanyaku dengan mengelus perut pak Yudi yang besar dan bergerak-gerak.


 


 


"Kabarnya sangat memprihatinkan, Suamiku tak ingin memakai alat bantu napas dan ECG. Saat dia di ruang terapi tiba-tiba tubuhnya tersentak sendiri, ia sudah mencoba untuk tidak tremor dan kejang-kejang dengan menarik napas melalui mulutnya. Dia gagal menghirup oksigen, karena dia terlalu banyak menghirup carbon dioksida terus menerus karena kesusahan bernapas.kata dokter, paru-paru nya basah dan gagal jantung karena penyakitnya yang tidak sembuh." Aku begitu sedih dan kasihan melihat Bu Yudi, ia berusaha tegar menghadapi penyakit pak Yudi dan mencoba untuk tenang ketika Pak Yudi sedang kesakitan. Aku sebagai dokter umum hanya bisa mengobati rasa sakit pak Yudi, melihat perutnya yang besar dan badannya yang gemuk membuatku sedih dan ngeri, Ketika pak Yudi kejang-kejang, perutnya bergerak-gerak karena susah bernapas dan membesar seakan mau meledak karena pak Yudi yang menggunakan diafragma untuk bernapas. Tangannya berguncang-guncang atau tremor seperti orang kedinginan. Pak Yudi sedang mengalami tremor yang begitu kencang, kepalanya terangkat dan kembali ke bantal untuk baring. Kakinya tiba-tiba naik dan membentuk 90 derajat karena penyakit langka nya. Aku sempat membuka internet saat di ruang kerja dan menanyakan kondisi pak Yudi ke rekanku, kemungkinan ia mengalami kelumpuhan permanen karena terapi nya tidak teratur. Untuk operasi jantung dan paru-paru kemungkinan berhasil hanya 1% karena jantung dan paru-paru nya sudah rusak atau cacat.


 


 


Sekarang Pak Yudi di pasang mesin di seluruh tubuhnya, ia sama seperti istriku yang di ruang sebelah terbaring lemah. Saat mulutnya di pasang ventilator ia kesakitan, saat itu suster menyuntikkan obat bius supaya ventilator terpasang dengan benar.  "Apakah Pak Yudi menolak memakai alat ini supaya Rita sehat kembali?" perkataan itu yang bisa ku tanyakan kepada istrinya. Aku melihat istrinya menangis dan mengangguk. Ya Allah, diriku dilema. Istriku sakit dan Pak Yudi juga sakit. Pak Yudi maafkan saya tidak bisa mengobati Rita dan Anda. Saya hanya bisa menghilangkan rasa sakit di tubuh anda dan Rita itu saja hanya sebentar. Ku duduk sebentar di sebelah pak Yudi yang sedang kejang-kejang kemudian aku berdiri dan menuju pintu untuk menghirup udara segar. Aku masuk ke ruang di mana istriku sedang tidur lama sekali. Aku mengelap kening nya dan memijat tangan istriku, saat aku mengecup kening Rita. Istriku tiba-tiba teriak, badannya tersentak, matanya sangat kosong seakan melihat sesuatu. Oh, yang benar saja. Kenapa dia gagal melewati koma? kenapa malah kode blue? Aku lap air liur yang keluar dari mulutnya dan ku sedot supaya dia bisa bernapas. Aku depresi hari ini, donor jantung untuk istriku dan ayah angkatnya belum datang,. setiap detik Rita harus meregang nyawanya, tubuh Rita bergerak seperti kesetrum setiap kambuh, kepalanya gerak-gerak ke kanan dan ke kiri tak terkendali, matanya membuka dan menutup, dan mulutnya mengunyah.


 


 


Aku memijat kepala istriku dan mengelus dadanya ketika epilepsi atau seizure nya kambuh membuat jantungnya kembali lemah. Setiap kali dia mengalami serangan, suaranya seperti ketakutan atau bahagia. Monitor ECG dan EEG menunjukkan jantung dan listrik di otaknya kritis. ECG berbunyi nyaring dan tanpa jeda sama sekali. Ya Allah, berikan jantung dan paru-paru untuk istriku dan Pak Yudi. Rita membuka matanya.


 


 


"Rita, kamu sudah sadar. Bisa pegang tanganku?" ucap ku dengan bangga. "Mas, maafkan diriku yang hanya terbaring lemah di ICU." Ketika mata istriku fokus ke ECG yang bernada tanpa jeda, aku menepuk dadanya supaya dia tenang.


 


 


"Tarik napas, sayang." Akhirnya istriku bisa mengendalikan emosi, dan irama bip nya tidak begitu cepat. Aku mendengar tombol panggilan dan suster yang berjaga menyahut bel di ruang istriku di rawat.Iya, saya akan ke sana."  Tak lama pintu ICU terbuka. "Sus, tolong berikan obat tidur untuk Rita," pinta ku pada suster yang baru masuk ke ruang ICU.


 


 


POV RITA


 


 


Aku belum ingin tidur. Jangan beri aku obat tidur. Saat aku ingin berbicara, tiba-tiba aku mengantuk, Obat tidur yang baru saja di suntik kan ke infus sudah mengalir ke darahku. Audrey memijat kakiku, namun tiba-tiba tubuhku tersentak dan kaku. Aku tak tahu apakah epilepsi ku kambuh, mungkin mataku membuka dan menutup serta mulutku terbuka saat penyakit ku tiba-tiba muncul. Aku mendengar Audrey berbicara namun aku tak bisa membuka mata. Yang Audrey bilang. Mau tidur atau berbicara, penyakitmu kambuh lagi.


 


 


POV AUDREY


 


 


Ini yang ku khawatir kan, Rita tidak bisa mengontrol emosi nya. Membuat penyakitnya datang tanpa di undang." Mau tidur atau mengobrol?"  Aku melihat Rita menjerit kesakitan saat tidur dan dia keselek air ludah, tubuhnya kejang-kejang lagi.  Kenapa kamu lemah sekali sayang? Aku hanya memijat kakimu tapi kondisi mu lemah lagi. Aku tak bisa mengizinkan mu punya anak  kalau kamu masih belum normal keadaanmu.


 


 


POV Rita


 


 


"Mas, tak bisa kah kau antar aku jalan-jalan. Aku tertekan di ICU. Aku juga ingin terapi jalan bisa sembuh." Aku tau aku sedikit egois, tapi aku bosan di ICU dan di rumah. Aku ingin ke taman melihat capung, burung dan bunga. Aku bersyukur mempunyai suami dokter yang baik hati di sat aku membutuhkan support. Andai orang tuaku tidak membuang ku, mungkin aku sudah bersyukur. Aku sedih melihat orang tua angkat ku juga sakit, ingin menolong tetapi aku juga memiliki kelemahan yaitu jantung ku yang lemah atau bocor dan penyakit neurological ku yang aneh ini. Ya Allah, kuatkan aku di saat krisis semangat atau aku mulai melemah. Aku ingin Ayah angkat cepat sembuh dan aku juga ingin hidup sehat. Audrey, terima kasih telah menemani ku. Kau selalu ada saat aku sedang kritis atau koma. Aku akan membujuk suamiku supaya dia mau mengajak ku ke taman.


 


 


Pagi ini aku terbangun dan ruangan nya benar-benar bukan ruangan ICU. Aku berada di rumahku di mana aku dan Audrey tinggal, mungkin dia tadi sore meminta rekannya untuk memindahkan aku di rumah saat aku masih kritis atau koma. Aku tidak tau yang terjadi di hari kemarin yang ku pikirkan taman dan tiba-tiba pusing lalu gelap itu saja. Aku bersyukur suamiku tidak marah lagi dan sekarang dia sedang memegang mangkuk berisi bubur.


 


 


"makan dulu ya mah, nanti di lanjutkan lagi membuat ceritanya." Suamiku menyuap kan bubur ke mulutku, namun aku merasakan penyakit ku tiba-tiba kambuh dan membuatku kritis. "Suster, ambil kan slang yang biasa untuk menyedot mulut." Aku sulit bernafas seperti ada yang menyangkut di tenggorokan ku dan serasa mataku seperti gelap atau berkunang. Kamu siapa?


 


 


"Ya ampun Rita ku, istriku yang ku cintai." mungkin Audrey sedang melihat aku kejang-kejang dan melihat keadaan ECG ku tidak teratur di monitor gambarnya. Atau mungkin Audrey membersihkan mulutku dan membuat CPR supaya jantung ku kembali berdetak.


 


 


"Rita, jangan pergi ku mohon. Kita janji bahwa kita akan program bayi tabung."


 


 


Aku tidak tau mungkin saat ini Audrey sedang apa? sekarang kondisi ku sudah normal. Dadaku tidak sakit, alu juga tidak dalam keadaan seperti melamun atau mengkhayal saat penyakit syaraf ku kambuh. Namun aku belum bisa membuka mataku, sulit sekali untuk melihat dan berbicara. Suamiku maafkan aku tiba-tiba kondisi ku lemah lagi. Aku janji akan memberikan mu bayi meski nyawaku jadi taruhan nya.


 


 


"Mah, tangannya di kasih lotion supaya tidak keriput." Maafkan aku Audrey, aku hanya bisa mendengar suara mu saja. "Tubuhmu bagaikan robot, mah. Kamu harus bangun. Aku sudah memijat dan menggerakkan badan mu." Saat aku mendengar suara Audrey, tiba-tiba aku melihat anak perempuan dalam mimpiku. Anak perempuan itu tersenyum dan jatuh dari pohon. Saat aku buta mata, aku sudah di ruang yang penuh dengan mesin medis. Dan mendengar suara mesin yang membuatku ingin segera keluar dari ruangan ini.


 


 


"Mah, syukurlah kamu sudah siuman dari tidur panjang mu selama 13 jam."


 


 


"Akk... aku kenapa?" suaraku masih lambat. Aku terbaring di ruang yang penuh mesin dan terasa lemas sekali. Menggerakkan tangan dan kaki saja susah. Apakah aku lumpuh? Apakah aku hanya bisa bicara dan tidur di ranjang saja?


 

__ADS_1


 


Saat aku bertanya pada diriku sendiri aura epilepsi ku mulai muncul dan benar epilepsi ku kambuh. Aku tidak tahu apa yang di lakukan suamiku, mungkin suamiku menelepon dokter syaraf dan jantung karena kondisi ku mulai memburuk. Diriku saat ini seperti robot yang di pasang kabel supaya bisa bergerak ketika di gunakan.


 


 


"Rita, kamu harus kuat. Jangan kalah sama penyakit mu." Mungkin suara ECG berbunyi cepat sekali karena aku kembali kritis. Dan mungkin saja mataku bergerak sendiri karena aku seperti melihat seseorang atau yang mengerikan. Aku hanya bisa menerka-nerka apakah kaki dan tanganku kaku, aku susah sekali napas di saat seperti ini. Aku mendengar suara orang lain berbicara dengan Audrey. Apakah itu dokter Steven atau rekan suamiku yang lain?


 


 


"Audrey apakah istrimu sudah di beri obat sakit jantung dan syaraf?"


 


 


"Sudah dengan dosis yang banyak," ucap Audrey.


 


 


"Bisa ambil kan slang penyedot air liur?"


 


 


"Bisa dok," jawab suster yang mengambil slang kepada Audrey. Aku membuka mata lagi dan melihat rekan Audrey tersenyum. Ia menanyakan tentang keadaan ku. Saat aku berbicara bahasa ku gagap dan sulit sekali diriku mengingat kosakata.


 


 


"Pah, bolehkah aku terapi jalan untuk melancarkan jalan dan bicara ku?" tanyaku dengan nada ter bata-bata.


 


 


"Mah, keadaanmu masih lemah. Dan Steven menyarankan kamu tidak boleh banyak olah raga berat," ucap Suamiku, dia memijat kakiku supaya tidak kaku saat di gerakan. Aku hanya bisa terdiam di ruang ICU dan mendengar ECG yang berbunyi menandakan jantung ku sudah normal. Aku ingin sekali jalan-jalan. "Rita, kamu besok akan di pindahkan ruang biasa karena kondisi mu sudah membaik." Ucapan dokter Steven membuatku lega. Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menggerakkan tangan yang lemah ini. Aku ingin pergi bersama Audrey menikmati bulan madu. Aku tidak ingin dadaku sakit di saat aku stress atau tertekan.


 


 


"Mah, terasa tidak saat papa gerakan tangan mamah?"


 


 


"Terasa, namun capek banget pah," ucap ku menahan rasa sakit saat suamiku menolong diriku supaya tidak lumpuh.


 


 


"Pah, mamah tidak mau di kursi roda atau tidur di kasur," tambah ku sambil menangis dan memejamkan mata. Ya Allah tolong jangan membuat penyakit ku kambuh atau kondisi ku semakin kritis. Aku ingin ayah Yudi segera sembuh.


 


 


Aku menarik napas dengan memejamkan mata, dadaku terasa remuk.


 


 


"Pah, aku ingin ke taman supaya tidak stress. Kalau begini-" saat aku ingin melanjutkan kata-kata, aku mulai muntah-muntah dan tanganku tiba-tiba berguncang dan gemetar. Aku ingat pada waktu kecil, saat di asuh oleh ayah angkat ku. Aku muntah-muntah, sehingga Mama Mila menangis dan membawa ku kerumah sakit. Betapa besar pengorbanan ibu angkat ku, ketika merawat diriku di saat kondisi ku memburuk. Dia menangis ketika aku muntah-muntah dan sesak napas, dan tidak sadarkan diri. Sekarang kisah itu terulang lagi, namun saat ini kisahnya sangat rumit karena ayah Yudi dan aku sedang lemah sistem imun tubuh Kami dalam keadaan lemah. Aku menggunakan kata ganti jamak untuk ayah angkat dan diriku.  Saat ini kami harus terbaring di ICU karena paru-paru Ayah angkat ku dan diriku sedang sakit.


 


 


"Pah, minta maaf karena membuat papa repot ketika menolong ku," desah ku.


 


 


"Mamah, minta maaf karena sering muntah." Mata Audrey meneteskan air mata dan ia mengelap bekas muntahan ku dengan raut wajah yang sedih. Dia tahu, aku tak pantas berkata begitu, karena bagi dia diriku adalah segalanya dan Audrey juga bertanggung jawab atas keadaan ku. Dengan keadaan seperti ini, mana mungkin aku bisa menenangkan perasaannya. Aku sangat lemah, penyakit epilepsi muncul dan membuat jantung ku lemah. Aku hanya bisa melihat suamiku dengan penglihatan yang buram, karena mulutku terpasang ventilator untuk bernapas. Audrey yang memasangnya saat aku sesak napas. Audrey saat ini membersihkan ventilator, karena ECG tiba-tiba iramanya tidak teratur. Memang sulit bernapas dengan ventilator, namun dengan alat ini aku tidak kejang-kejang karena sesak napas atau dadaku sakit. Dengan Ventilator, penyakit laryngospams bisa di atasi. Aku mengetik di laptop dengan menggerakkan wajah dan mataku. Laptop ini memang khusus penderita seperti ku.


 


 


"Aku ... ingin sehat normal," suara di laptop berbunyi dengan suaraku yang sudah di proses. Tubuhku mendadak tersentak, kepala dan mataku juga ikut namun aku bisa menahannya. Aku sudah janji sama suamiku, akan selalu sehat dan melawan penyakit ku.


 


 


Saat aku sedang tertidur, suster dan dokter membuka pintu. Mereka mengecek nadi ku dan pernapasan ku. Alat pernapasan di copot, keadaan ku yang tadinya mendadak turun kembali normal berkat aku latihan menahan emosi dan berdzikir.


 


 


Audrey menatap ku dengan keadaan sedih. "Kalau kau mau sehat, kau harus menghentikan program bayi tabung karena pendonor jantung dan paru-paru belum ditemukan."


 


 


"Tapi kemarin aku melihat seorang ibu hamil yang menderita penyakit epilepsi berhasil melahirkan bayinya. Ibu dan anaknya sehat. Walau sang ibu sempat koma beberapa jam dia terbangun." Kenapa Audrey tidak ingin aku melanjutkan program bayi tabung?


 


 


POV Audrey


 


 


Aku bercerita dengan rekanku dan perawat mengenai keselamatan istriku yang ingin program bayi tabung dan melahirkan anak dengan selamat saat di ruang ICU. Mereka belum bisa memutuskan, karena kesehatan Rita berbeda dengan ibu hamil yang menderita epilepsi.


 


 


Rita menatap ku dengan senyuman nya. "Aku akan berjuang untuk kebahagiaan kita berdua."


 


 


"Kebahagiaan kita berdua. Bagaimana dengan orang tua angkat mu dan bagaimana dengan aku. Aku tidak mau dituduh mala praktek hanya menuruti keinginan istriku." Jawabku dengan mengepal tangan. Rita masih menyungging kan bibirnya, ia masih tersenyum manis dengan badan yang di pasang kabel. Aku tahu ini keputusan yang berat antara hidup dan mati.


 


 


"Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu." Tiba-tiba badan istriku tersentak-sentak, matanya membeliak ke atas, dan mulut Rita di penuhi busa lendir liur nya.


 


 


"Rika kamu tidak apa-apa?" Aku berusaha memegang tangannya dan memijat kepalanya. Rita dadanya bergerak-gerak, suara napasnya terdengar memilukan. Aku membersihkan air liur di mulut Rita, supaya ia bisa bernafas. Steven mengambil slang, suster merubah posisi kepala istriku untuk memasang ventilator oksigen. Aku memasang plester di slang supaya tidak terlepas.


 


 


Aku melihat istriku masih terbaring dan ia masih memejamkan matanya


Aku melihat istriku masih terbaring dan ia masih memejamkan matanya. Ia tidur lama sekali, badannya di pasang alat medis supaya ia dapat bernapas. "Rita kamu harus sadar, sayang. Kamu harus kuat melawan penyakit mu," desah ku dengan cemas. Aku mencium kening Rita dan pergi ke ruang ICU yang ada di sebelah. ECG masih berbunyi mulus, namun mata Rita masih menutup. Aku sudah tak sanggup melihat Rita terbaring koma, aku ingin mengecek pak Yudi. Saat aku membuka pintu di mana pak Yudi terbaring dengan mesin medis. Ia dalam keadaan sedang terbaring lemas bahkan kondisinya lebih parah dari pada istriku.


 


 


POV PAK YUDI


 


 


Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan seluruh badan ku karena kondisi ku yang semakin parah. Di saat aku merasa sedih karena aku mengalami kelumpuhan, suami Rita menjenguk ku dan menemani ku di ICU. Apakah Rita semakin parah kesehatannya? apakah ia sekarat? Atau apakah anak angkat ku yang ku cintai akan cacat sama seperti ku dan jantungnya juga tidak bisa di sembuhkan, lalu setiap saat dia kejang-kejang karena syaraf otaknya yang putus? Di pikiran ku cuma kondisi Rita yang tertidur dengan alat medis, badannya kurus, kejang-kejang, matanya tidak fokus, dan keluar busa liur karena epilepsi serta mengalami gagal napas seperti diriku yang lemah saat ini.


 


 


Aku mengalami tremor yang begitu kencang dan untuk bernapas saja aku mengalami kesulitan. Aku bisa menahan rasa sakit yang membuat diriku melemah, tapi aku tidak bisa kehilangan anak angkat yang ku cintai. Dialah yang membuatku harus kuat menghadapi penyakit mematikan ini. Aku takut kehilangan Rita ku yang kecil dan ini membuatku tak bisa menghentikan tremor. Rita kamu jangan sekarat nak, pikir ku dengan menahan rasa sakit yang menyiksa paru-paruku. Oh, aku kehilangan oksigen. Aku butuh bernapas, sakit. Bahkan kakiku semakin sakit, saat Audrey makin berjalan ke arahku. Apakah pikiran ku yang membuat seluruh tubuhku sakit? Ya Allah dadaku sakit, sakit di dadaku saat tremor seperti ada duri yang menusuk paru-paruku. Tremor ini tak bisa ku kendalikan, karena pikiran ku sudah melemah. Bila aku tak bisa menahan emosi dan mengatur kecemasan ku serta membuat diriku semakin parah, siapa yang menolong Rita di saat ia terbaring dengan penyakitnya yang membuat dia tak bisa bergerak?


 


 


"Mmm-hmmmm," aku tak bisa membendung air mataku karena diriku yang cacat ini sulit untuk mengucapkan kata-kata dan abjad. Badan ku yang menggigil membuatku sulit berbicara. Tangan kiri ku tremor dan aku sulit sekali untuk menghirup udara tanpa oksigen. Aku harus berbicara dengan Audrey. Aku memejamkan mata untuk mengingat abjad-abjad.


 


 


"Audrey, bagaimana keadaan Rita saat ini?" suaraku pelan dan terbata-bata karena tremor di tubuhku semakin kencang. Aku mencoba menenangkan diriku, aku menghirup napas dan menghela napas untuk membuat pikiran ku tenang.


 


 


 


 


"Kau siapa?" ucapku dengan nada parau dan terbata-bata. "Namaku Ruslan," muncul suara di laptopnya, persis dengan laptop ku dan laptop Rita. Kepalanya tidak tegak saat aku lihat, dia duduk di kursi roda yang menggunakan remote control dengan posisi tubuh di ikat tali penyangga tubuh. Aku membuka ventilator dan memasangnya ke wajah ku lagi karena tubuhku mulai kejang-kejang dan aku gagal napas. Aku melihat orang itu meneteskan air mata dan memegang perutnya yang keriput dan kempes.


 


 


"Jaga anakku, jangan sampai ibunya mencampakkan nya dan menguras harta yang ia miliki. Jangan sampai istriku melakukan hal yang serupa seperti yang di lakukan oleh ia terhadap ku. Aku ayah biologis Rita atau biasa di panggil Rista Rika," suara komputer itu berkata panjang sekali. lelaki itu menaruh slang oksigen ke mulutnya, slang itu di apit bibir dan rongga mulut. Ya Allah jadi ibu Kandung Rita membuat Ruslan menderita seperti ini dan membiarkannya kritis. Ya Allah, aku bersyukur engkau memberi istri yang baik hati. Audrey sedang mengangkat Ruslan, saat pak Ruslan di angkat, ia mencoba menggerakkan tangannya tiba-tiba dia memejamkan matanya, lalu tangannya yang terangkat berguncang. Ketika aku menanyakan dirinya, suara komputer itu mendahului ku. "Aku di telantarkan istriku saat aku tidak bisa bekerja dan mengidap gangguan pada syaraf motorik. kira-kira aku mengidap gangguan syaraf sekitar 27 atau 28 tahun. Aku di bawa ke rumah sakit oleh istriku namun istriku tak kunjung datang saat aku masuk ke ICU. Aku pikir dia kelelahan karena dia sedang hamil anakku. Paginya aku terbaring dengan kondisi ku yang kian melemah aku tak menemukan istriku. Ku panggil Rita sampai epilepsi dan jantung bocor ku semakin parah. Waktu aku memikirkan Anita itu malah membuat jantung ku kumat dan aku kejang-kejang. Tubuhku lelah rasanya. Dia mencintai ku karena harta bukan menerima aku apa adanya dia memaksa punya anak dengan bayi tabung. Aku turuti karena aku sudah kesakitan ketika menasihatinya. Dia hanya merawat ku saat jantung ku lemah saja dan saat aku masih bisa berjalan." Aku berusaha menahan dadaku yang nyeri, dan berdebar-debar kencang. Aku tersenyum supaya dia tidak sedih. Saat tangannya gemetar ketika dia mencoba bersalaman, Audrey sudah mengangkatnya ke kasur yang terletak di samping kasur ku. "Anakmu aman bersamaku, ia sudah menikah dengan dokter yang mengangkat dan memijat mu barusan, "ucap ku dengan memegang dadaku yang nyeri walau tanganku kaku dan gemetar. Aku memikirkan Rita yang mempunyai dua ayah yang sedang kritis dan mengidap penyakit langka. Aku mengidap kaku tubuh sedangkan ayah kandungnya mengidap gangguan syaraf motorik dan Rita mengalami kerusakan syaraf otak dan jantung. Setiap malam saat kambuh Rita selalu tersentak tiba-tiba tanpa sadar dan menjerit-jerit. "Rita mengalami kerusakan syaraf karena gen dari saya lemah dan dia juga memiliki penyakit jantung bawaan seperti saya. Saya mohon jaga Rita, karena besok saya sudah tidak bernafas dan penyakit epilepsi saya akan kambuh setiap hari. Tubuh saya semakin kurus dan kulit saya semakin keriput seperti kakek-kakek usia 80," ucap komputer yang di ranjang Ruslan. Kasihan benar Pak Ruslan, istrinya tega meninggalkan dia hingga membuat kesehatannya menurun drastis. Saat aku menemukan Rita dan mengadopsi nya, aku melihat Ruslan tersenyum dan air matanya mengalir. Aku pikir dia menangis karena melihat aku sama seperti dia dan mempunyai anak kecil. Tapi dia terharu dan menangis karena anaknya sudah di adopsi oleh diriku.


 


 


"Tolong , jangan buat Rita sedih. Kalau dia mengetahui Ayah biologis nya masih hidup dia akan terbangun dari tidur panjangnya." Aku tak tahan menangis setelah memberi tahu keadaan Rita yang memburuk. Aku susah payah menahan dadaku yang sakit. Pak Ruslan dadanya bergerak-gerak, karena dia kesusahan bernapas karena shock mendengar anak kandungnya sedang berjuang melawan penyakit yang sama seperti dirinya.


 


 


"Rita butuh orang yang membuat dirinya bahagia. Dia keadaannya parah karena ibunya tega meninggalkan anaknya saat sedang kritis di taman mall yang terletak di depan. Saat di bawa ke rumah sakit, dokter mengatakan dia mengalami serangan di paru-paru nya karena paru-paru nya juga terkena pneumonia dan jantungnya yang bocor membawa cairan ke paru-paru. Jantung Rita mengalami kebocoran pada bilik kiri dan kanan jantung." Saat ini kami tiba-tiba mengalami sesak napas dan tidak tahu apa yang terjadi.


 


 


POV Audrey


 


 


Aku mengecek pernapasan Pak Yudi dengan stetoskop dan mendengar detak jantungnya. kedengarannya... ada suara mur-mur persis dengan suara detak jantung Rita dan Pak Ruslan. "Jangan Bilang Ke Rita, kalau kondisi kami berdua sedang memburuk," bisik Pak Yudi. "Iya aku mohon demi anak kandungku,"ucap Pak Ruslan. Aku bisa melihat perjuangan Ayah angkat dan kandung Rita, mereka bertahan meskipun kesehatannya memburuk. Pak Yudi menggenggam tangannya, ia gemetaran dan perutnya bergerak-gerak karena kesusahan bernafas dan ia terpaksa menggunakan diafragma untuk bernapas. Sedangkan suara Pak Ruslan tidak jelas karena penyakit Amotropic Lateral Scoliorsis.


 


 


"Jangan khawatirkan masalah itu pak. Aku akan menjaga ini dari Rita. Kami akan membuat Rita keadaannya stabil, tapi kami tidak bisa menolak Rita untuk menghentikan program bayi tabung."


 


 


Pak Yudi batuk-batuk tersedak air liur dan mengalami laryngospams. Tubuhnya menggigil dan dia berusaha menarik napas. Aku keluar untuk menghirup udara segar. Ku buka pintu dan duduk di depan ruang ICU tanpa memakai alas. Kondisi mereka bertiga semakin parah, kasihan Rita harus menerima kenyataan bahwa ia masih memiliki seorang ayah. Saat itu aku ke ruang Rita, seusai janji biar Pak Ruslan dan Ayah angkatnya yang berbicara dengan Rita.Ku buka kan laptop dan ku setel Vidio confrence dengan suara agak besar.


 


 


"Rita, ini kami nak. Ayah kandungmu masih hidup." Aku melihat pak Yudi menangis dengan memakai oksigen .


 


 


"Rita sayang, anakku tolong maafkanlah diriku. Ini bukan salah ayah atau kamu. Ini sudah takdir. Maafkan Ayah karena telah membawa gen lemah ke darahmu. Ini semua kesalahan ibumu yang menikahi ayah demi harta bukan demi kesehatan Ayah. Kamu harus bangun dari koma nak. Ayah merindukan mu." Aku mengecup kening Rita. Bulan sudah bersinar, saking sibuk nya diriku menjaga Rita saat koma. Aku duduk di samping Rita, melihat hasil rongent mereka bertiga.


 


 


Aku duduk di samping Rita, melihat hasil rongent mereka bertiga


susah banget untuk mendapatkan donor jantung untuk tiga orang


susah banget untuk mendapatkan donor jantung untuk tiga orang. Aku harus memutar otak, karena kondisi Pak Ruslan yang semakin parah dengan penyakit jantung dan ALS, jika tidak di tangani kondisi jantungnya semakin parah. Aku harus memberi tahu Pak Ruslan, supaya masalah ini selesai. Aku ke ruang ICU VVIP dengan berlari ke luar ruang di mana Rita di rawat dan menuju lift, "Halo, kondisi pak Ruslan bagaimana sus?" susah payah aku menelepon susterdengan nafas tersengal-sengal. Susah untuk berbicaradan mencarikata pas menjelaskan donor jantung dan paru-paru hanya ada 2 organ, dan pak Ruslan kemungkinan tidak akan mendapat donor jantung. Aku berhenti di ruang khusus syaraf di mana pak Ruslan di rawat, ke luar dari lift dan mencari kata yang tepat untuk di ucapkan.


 


 


Aku masuk ke ruang ICU khusus penyakit Amotrophic Lateral Scoliorsis. Aku menarik napas dalam-dalam. "Pak Ruslan, kami hanya dapat donor jantung untuk dua orang saja. Maaf kami tidak bisa mengoprasi ketiga-tiga nya."


 


 


"Tidak apa-apa nak, jantung itu untuk pak Yudi dan Rita saja. Aku juga percuma kalau di oprasi otot-ototku semakin lemas," kata pak Ruslan. Pak Ruslan memakai slang dan tubuhnya terpasang mesin untuk mendeteksi kondisi jantung dan slang yang terpasang di tangannya untuk cairan infus. Aku menarik nafas dalam-dalam dan pamit ke Ayah mertua ku.


 


 


"Bapak yang sehat ya, pak. Saya mau ke ruang anak bapak sebentar."


 


 


Aku keluar dan menuju ke lift, setelah sampai di lantai dua aku menuju ruang di mana Rita di rawat. Rita terbaring lemas dan menggigil. Saat aku menunggu Rita pulih, aku mendapat telepon bahwa ayah mertua ku kejan-kejang karena epilepsi.  Aku kecup kening istriku dan pergi ke luar menuju ruang ICU tempat pak Ruslan di rawat. Di ruang yang khusus untuk penderita syaraf.  Saat aku sampai ke ruang itu aku melihat Pak Ruslan kejang-kejang tangannya tersentak, matanya berkedip, mulutnya mengecap seperti sedang makan sesuatu. Aku berlari menuju ayah mertua dan badannya ku miringkan. Suster menyedot air liur yang keluar dari mulut Pak Ruslan. Beberapa detik Pak Ruslan sudah siuman. Dia melihat ku dan menarik napas. "Maaf saya menderita epilepsi saat umur tiga tahun, ya beginilah saya berjuang melawan penyakit saya. Saya juga memeliki jantung bocor sejak lahir. Dan saat saya menikah, istri saya yang selalu membawa saya ke rumah sakit. Dia menyuruh saya untuk program bayi tabung, saya sudah bilang jangan punya anak karena Gen saya lemah. Dia tidak menuruti saya ... dia bawa saya ke dokter kandungan untuk memulai tahap berikutnya setelah proses selesai dan bayinya ke dalam rahimnya. Dia hamil dan dia berkata kalau bayinya sehat karena dia sudah check up setiap saat. Nah pas dia hamil enam bulan, saya menderita ALS atau penyakit langka ini. Saya melihat kenapa setiap saat otot-otot saya kedutan seperti ada sesuatu di dalamnya dan tangannya saya sulit di gerakkan, dada saya sakit sekali. istri saya menelepon ambulance, lalu dia ikut saya ke rumah sakit. Setelah sampai rumah sakit saya di masukkan ke ruang ICU. Saat itu istri saya bilang 'pah, besok mamah ke sini ya.'


 


 


Saya tau raut wajahnya. Istri saya berbohong karena dia mengetahui saya tidak bisa mencari nafkah untuknya lagi. Saat saya sedang tidur  saya mendapat telepon kalau punya banyak utang, malam itu jantung saya kumat dan kondisi saya memburuk dokter bilang saya kritis. Saya hanya bisa mendengar suaranya karena saya sedang menahan sakit jantung dan tidak bagaimana kondisi saya setelah itu karena pandangan saya gelap. Paginya saya melihat kakak dan adik saya menjenguk saya, mereka menangis karena kondisi saya kritis. Saya bilang jangan khawatirkan saya... saya ikhlas di buang sama istri saya. Saya bilang ke keluarga saya ... pikirkan anak yang di kandung istri saya ... khawatirkan anak saya... saya takut nanti dia lahir di buang seperti saya. Kakak saya mengatakan bahwa dia tidak menemukan istri saya. Saya berdoa ke pada Allah meminta keselamatan anak saya... kalau saya tidak seperti ini mungkin sudah saya rawat anak saya saat istri saya mencoba membuangnya." Ayah mertua menangis ketika dia menceritakan aku tentang masa bahagi dan masa menyedihkan saat penyakitnya membuat dia terasingkan. "Pah, Rita sekarang sama saya. Jadi papah jangan cemas." Aku menenagkan ayah mertua, ku tepuk dada Pak Ruslan dengan pelan-pelan.


 


 


"Nak Audrey bila ajal saya tiba. Jaga Rita buat saya. Saya sudah tua dan sakit-sakitan. saya tidak tau berapa lama lagi saya bisa bertahan dengan penyakit ini dan menahan rasa sakit yang membuat saya kritis."


 


 


Aku mengangguk dan memegang tangan ayah mertua yang lemas. "Pah tarik napas pelan-pelan." Ayah mertuaku kejang-kejang dan tidak ada respon darinya. Ya Allah, kasihan pak Ruslan dia berjuang melawan penyakitnya sendiri. Ayah mertuaku masih belum membuka matanya, dia koma karena kesakitan. Tiba-tiba EEGnya tidak normal, aku melihat kepala, mata, dan tangannya tersentak sendiri dan ia seperti ketakutan dan mulutnya mengeluarkan air liur. Epilepsi pak Ruslan tidak normal dia terlahir dengan epilepsi yang mengerikan sampai dia sesak napas. Jantung, paru-paru dan otak pak Ruslan kritis sekali saat aku cek di monitor. Mulutnya terbuka dan matanya buka tutup. Beberapa saat dia sudah melewati masa kritis dan bisa berbicara. "Nak kalau saja tubuhku tidak seperti ini. Pasti anakku tidak kesakitan." Aku tahu pasti sulit bagi ayah kandung Rita untuk menghadapi ujian ini. Saat aku mengecek ECG, mata Pak Ruslan membeliak ke atas. Tubuhnya kejang-kejang, dan mulutnya mengeluarkan cairan airliur sehingga berbusa. Aku menyedot air liurnya dan menyuntikkan obat epilepsi. Lebih buruk karena Pak Ruslan masih kejang-kejang. Aku masih tak bisa keluar karena dokter syaraf belum datang. Lebih buruk karena Pak Ruslan belum berbicara. Menyedihkan karena aku harus mengobatinya, dan sekalinya tidak berhasil, aku malah kehabisan tenaga memompa dadanya. Dan lebih buruk karena pak Ruslan sehabis Kejang-kejang dia tidur tidak sadarkan diri.


 


 


Oh tidak! kondisinya lemah sekali.


 


 


Astaghfirullah, akhir-akhir ini aku sering banyak tugas mengatasi istriku, ayah mertuaku, dan ayah angkatnya. Lihat saja betapa letihnya hari ini, aku menuju tiga ruangan yang berbeda lantai setelah jadwal shiftku di rumah sakit umum tidak ada.


 


 


Aku membuka Catatan saat aku menuju ruangan yang lain, catatan dari Ustad ternama bahwa kebahagiaan dan kesedihan itu harus seimbang. Karena keseimbangan membuat diri kita tidak mudah putus asa dan selalu bersyukur atas Kado yang di berikan sang pencipta. Ya kado itu adalah aku mendapat triple shift dan di imbangi kesedihan karena bila kita berlarut dalam kesedihan Syaiton menguasai diri kita dengan mudah dan saat diri kita juga bahagai syaiton membuat hati kita mati dan tak ada rasa empati atau rasa simpati. Di situlah kita bersyukur bahwa bisa mengenal lelah dan senang saat situasi genting atau dalam keadaan mendesak seperti ini. Walau lelah dan sedih aku bersyukur bisa mengurus, mengawasi kesehatan Tiga orang yang ku cintai dan membuat mereka kuat melawan penyakitnya. Yang aku pikirkan kondisi pak Ruslan sudah tidak tertolong dia mal nutrisi karena diet ketat untuk sembuh dari penyakit gangguan syaraf motorik nya. Saat itu aku ingat pak Ruslan sudah di pindahkan Ruang ICU VVIP, jadi aku harus naik lift tiga kali dan masuk ke kamar yang beda untuk mengecek Pak Ruslan, Rita dan Pak Yudi. Pak Ruslan mengalami kejang-kejang setiap saat jadi terpaksa di pindahkan di ruang VVIP yang peralatan  medis nya lengkap. tidak seperti saat aku menolong Pak Ruslan ke kamar Pak Yudi ruangan ICU itu ruang kelas menengah dan hanya bisa menampung dua orang namun alatnya sangat minim. Aku keluar ruangan dan menuju ke ruang ICU khusus jantung untuk mengecek keadaan istriku.


 


 


POV Rita


 


 


Saat ini aku sedang terbaring di rumah sakit dan aku membuat suami, orang tua angkat ku sedih karena kondisi ku yang kritis. Yang sangat membuatku tertekan yaitu ayah Yudi juga melemah kondisinya, dia terbaring di ruang ICU dekat dengan ruang ICU ku. Dia kritis karena sesak napas dan sering menggigil. Perutnya bergerak-gerak karena kesulitan bernapas sehingga membuat dia banyak menghirup CO2 dan O2 yang ada di darah nya sedikit. Stiff person syndrom yang di derita oleh ayah angkat ku sulit di deteksi penyebabnya. Aku tak tahan seperti ini, ingin sekali aku menggerakkan kakiku dan pergi jalan-jalan melihat bunga, pergi ke mall tapi aku hanya bisa terdiam di ranjang ICU dengan kaki dan tanganku yang kaku. Hanya bisa mendengar suara ECG di ICU , suara yang memberi tahu bahwa kondisi ku masih belum sehat karena paru-paru dan jantung ku yang semakin memburuk. Aku tidak tahu bagaimana kondisi ayahku. Yang ada di pikiran ku perutnya bergerak-gerak dan buncit seakan-akan mau meledak karena kebanyakan makanan dan gas di dalam tubuhnya. Oh tidak,  ada perasaan aku pernah mengalami di mana saat aku kritis dan berkata seperti ini.


 


 


"Rita, kamu baik-baik saja? Bisa mendengar ku?" (Dokter dan Audrey membantu Rita yang tiba-tiba matanya mengarah ke atas dan kejang-kejang. Keadaan Rita semakin memburuk, dia tidak berhenti dari kejang-kejang nya).


 


 


"Sus, tolong ambil slang pembersih air liur? Rita berdarah dan darahnya tercampur liur." Dokter Steven berbicara dengan suster dan memasukkan obat ke slang. Aku tak tahu mereka sedang memasukkan obat apa. Aku masih dalam dejavu. Ya Allah aku hanya bisa melihat pemandangan dan diriku sudah di sini dengan umur ku yang sekarang, aku tidak tahu apakah mereka membawa ku ke ruang lain atau masih di ICU?Mungkinkah aku kritis atau kejang-kejang? Beri aku kesembuhan Ya Allah. ingin sekali rasanya sembuh dan bisa punya anak. Aku tidak mau cacat seperti ini. Syukurlah, aku sudah bisa melihat dengan jelas lagi tidak ada dejavu yang terulang lagi. Dan aku bisa melihat suamiku, dokter Steven, dan suster yang menolong saat aku kritis tadi. Dan dokter syaraf lainnya juga mengecek kondisi ku.


 


 


"Syukurlah, kamu sudah sadar dari masa kritis dan tidak koma," ucap suamiku sambil mengompres kening ku. Aku teringat diriku seperti ini, saat aku kecil dan dewasa Mama Mila tak mengizinkan aku keluar karena membuat otak ku kaget dan penyakit jantung yang aku derita bisa parah. Aku hanya bisa menahan rasa sakit di dada dan pusing karena penyakit ku kambuh. Sebagai seorang istri aku seharusnya memasak untuk Audrey, namun aku memiliki penyakit syaraf dan lemah jantung yang membuat otak ku semakin melemah dan hanya bisa terbaring di ranjang ICU. Untuk menggerakkan tangan dan kaki ku yang kaku, aku harus terapi supaya bisa berjalan.  Ya beginilah menunggu dokter syaraf dan jantung mengijinkan diriku terapi jalan. Aku bukan Wanita yang sempurna untuk Audrey, melainkan Rita yang cacat atau wanita yang tidak bisa apa-apa. Tiap hari Audrey harus menggosok wajah ku dengan kain karena aku muntah dan itu membuat air mata Audrey mengalir setiap melihat aku tidur di ranjang ICU dan muntah-muntah.  Aku tidak bisa berjalan dengan lancar, setiap berjalan ter tatih-tatih dan jantung ku yang lemah kambuh. Hari ini terapi jalan ku di mulai, semoga tidak mengecewakan suster dan Audrey.  Ya Allah sulit sekali, sulit sekali belajar jalan setiap hari. Kalau aku menyerah, suamiku tidak mengizinkan diriku untuk meneruskan program bayi tabung.


 


 


"Istirahat sebentar, kaki ku tiba-tiba tremor, pah," ucap ku dengan berhenti dan melihat ke dua kaki ku yang masih tremor. Aku berusaha menyeimbang kan badan ku yang mau terjatuh karena tremor. Anehnya kaki ku masih spams, dan itu belum berhenti.


 


 


"Mah, kalau jantung mamah sakit atau epilepsi kumat tiba-tiba. bicara ke papa,ya!" Aku tersenyum mendengar perkataan dan ajakan suamiku untuk beristirahat supaya tidak kambuh, di ruang ICU aku belajar berdiri dulu. Sudah seminggu aku tidak bisa jalan karena tiap hari aku kritis. Pemicu aku kritis karena aku tidak bisa melalui masa koma ku dan tubuhku yang lemah mendadak membuat ku tidak bisa menahan sakit. Melalui masa koma sangat sulit karena tiba-tiba penyakit ku justru membuat aku kembali kritis. Saat aku belajar berdiri, ibu angkat ku membuka pintu dan masuk ke ruang ICU, ia berjalan ke arah ku dan memeluk ku. Aku melihat ia menangis dan air matanya tak bisa di tahan. "Rita, ayah angkat mu masih kritis." Aku tahu saat ibu angkat ku meremas baju ku tandanya ia sedang dia sedih karena suaminya belum sembuh. Ibu, jika aku tidak lemah seperti ini pasti akan aku akan menemani mu setiap jam.


 

__ADS_1


 


"Ibu, jangan menangis. Berdoa saja supaya ayah Yudi sehat. Supaya dia bisa melawan penyakit stiff person syndrome dan dokter syaraf bisa menyembuhkan penyakitnya," ucap ku dengan pura-pura kuat. Aku tidak boleh kejang-kejang dan tidak sadarkan diri di sini, harus kuat dengan kondisi ku yang lemah. Saat ini aku belajar jalan dengan di temani ibu angkat ku dan suamiku. Ibu kandung ku tidak datang menjenguk ku saat aku lemah seperti ini. Kenapa saat aku sehat seperti ini ia malah pergi dan ibu angkat ku datang.  Apa karena ia tidak ingin memiliki aku yang lemah?


 


 


"Mas, ibu kandung ku belum jenguk aku , ya?" aku bertanya, namun diriku sangat sedih dan tidak bisa tegar. Air mataku jatuh membasahi pipi ku. Suamiku memeluk ku dan menemani ku belajar jalan, aku melihat ada anak kecil tiba-tiba berjalan ke arah ku.


 


 


"Tante, kenapa leher tante di tutup perban?" tanya anak itu dengan polos. "Oh, ini bekas slang sayang. leher tante sakit. Tak lama kemudian saat aku selesai berbicara dengan anak itu, ibunya menjemputnya, menunduk dan berkata ke padaku.


 


 


"Maafkan anak saya, dia masih kecil."


 


 


"Oh, tidak apa-apa kok. Ibu tenang saja." Aku tersenyum kepada ibu itu. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang pernah ku alami di sini.


 


 


BRUUUKKKK!!!!!


 


 


"Suster, tolong Rita. Epilepsi nya kambuh. Dia kejang-kejang." Maafkan aku Audrey mungkin sekarang kamu sedang panik melihat aku kritis tiba-tiba, namun aku tak bisa menahan penyakit ku. Syukurlah, aku sudah bisa membuka mata karena tidak sadarkan diri. Aku sudah bisa melawan kritis ku.


 


 


"Mah, ayo kita istirahat." Aku hanya bisa mengangguk menuruti suamiku. "Pah, nanti tolong panggilkan dokter kandungan untuk melanjutkan program hamil kan kita baru tahap pertama."


 


 


saat itu dokter Steven berada di belakang suamiku dan Audrey memutar bola matanya ke arah dokter Steven. "Steven, bicara sama Rita. Jelaskan resiko bayi tabung ke istriku." Audrey marah karena ucapan ku.


 


 


"Steven, jelaskan saja. Aku bisa menerimanya," ujar ku dengan menelan ludah.


 


 


"Rita kondisi mu sangat lemah dan resiko bayi tabung lebih parah 100% kemungkinan kamu kritis atau sekarat saat bayi tabung. Penyakit epilepsi mu semakin parah jika itu terjadi saat proses bayi tabung kondisi mu akan turun drastis."


 


 


"Tapi kan bisa diselamatkan dengan pertolongan CPR." Aku mencoba membujuk dokter Steven. Aku mengatakan dengan percaya diri bahwa dengan pertolongan CPR nyawaku dan anak yang ku kandung nanti bisa di selamatkan, bahkan aku juga bisa bertahan dengan mengkonsumsi pil hormon.


 


 


"Ada yang tidak bisa di selamatkan, ketika obat hormon sudah masuk ke tubuhmu maka nyawamu terancam atau lebih tepatnya jantung mu semakin lemah karena memompa darah terlalu keras." Steven meninggalkan aku dan Audrey.


"Audrey ku mohon, maafkan aku. Kamu harus melihatnya dengan berbeda."


"Bagaimana aku harusnya melihatnya, Rita. Sedangkan aku harus bersama anakmu." Suara AUdrey berubah menjadi nada kesal.


"Tapi kamu kan bisa menerima semua ini."


"Sebab kamu tidak memberi ku pilihan. Aku sudah bilang bahwa kamu sebaiknya jangan merencanakan Program hamil. Sebaiknya kita mempunyai anak adopsi itu sudah cukup." Audrey meninggalkan ku dan membanting pintu ICU. Se menit kemudian suamiku membuka pintu dan masuk ke ruang ICU duduk di samping ku.


 


 


"Aku menikahi mu tanpa memberimu sesuatu itu bagaikan diriku adalah duri buat mu. Aku tidak bisa memasak dan apa-apa, makanya aku ingin memberimu keturunan supaya ada kebahagiaan. punya anak membuatku seperti di surga bisa memberimu bunga atau hal-hal yang membuat mu tidak sedih memikirkan diri ku."


 


 


Setiap detik aku sangat menyesal telah membuat Audrey marah padaku. Aku masih memikirkan mempunyai keturunan akan membuat suamiku bahagia ketika dia sedang stress berat memikirkan aku tertidur di kasur dengan tubuh yang rapuh dan penyakit ku yang semakin lama membuatku semakin tersiksa dengan mesin medis yang memompa hidupku. Ketika aku terbaring lemas di ranjang, aku melihat Audrey memegang tanganku dengan tatapan sedih dan khawatir. Tiba-tiba raut wajahnya berubah seperti ia menyesal karena telah membuatku sedih lagi. Ia menghela napas, memutar bola matanya, dan mencium tanganku begitu saja.


 


 


Tapi aku tahu bahwa yang dia lakukan tadi itu benar, tak mungkin aku menangis karena Audrey marah padaku tentang masalah kesehatan ku. Aku membuat diriku seperti robot yang semua mesin nya rusak karena melakukan kegiatan yang berbahaya sehingga mesin itu harus beristirahat supaya bisa berjalan ketika robot itu siap.


 


 


Tapi ketika aku mengelus tangan suamiku--mencoba menjaga jantung ku tidak memompa darah berlebihan karena sedih dan menyesal-- aku menghela napas meski itu sia-sia karena aku masih menggunakan oksigen untuk bernapas, tapi aku tetap mencoba dan tersenyum kepadanya.


 


 


Steven membuka pintu ketika kami sedang bertatap muka untuk menenangkan satu sama lain. Steven berjalan ke arah kami berdua, ia mengecek mataku dan memberikan hasil tes syaraf dan jantung ku.


 


 


"Sekarang dia sudah baikan, tapi dia perlu istirahat lebih banyak karena syaraf dan jantung nya lemah sekali."


 


 


Tapi kenapa tangan dan kaki ku masih sulit di gerakan, aku merasa lumpuh, dan mati rasa ketika berusaha berjalan di ruang terapi. Rasa sakit kembali menghujam. Andai saja aku bisa kuat menahan jantung ku yang tiba-tiba kambuh dan memeluk suamiku supaya dia tidak merasa bersalah.


 


 


Monitor ECG kembali berbunyi ketika aku mengkhawatirkan Audrey. Setiap detik. Aku coba membaca doa supaya jantung ku tidak bekerja terlalu keras.


 


 


Baiklah, aku harus bisa membuat Audrey tidak sedih lagi. Aku berusaha mencoba menghapal huruf-huruf yang memudar di kepalaku dan mengetik nya ke laptop. "Wanita yang kuat bisa menahan rasa sakitnya demi membahagiakan keluarga nya dan dirinya meski itu akan membuat nyawanya hilang karena pengorbanan nya yang begitu besar."


 


 


Aku ini kuat menghadapi penyakit ku. Aku bisa melanjutkan program bayi tabung dengan tenagaku. Dengan menahan jantung ku yang bekerja keras--kuharap aku masih bisa bernapas ketika prosesnya sudah selesai. Aku berharap Audrey akan mendengar apa yang aku katakan di laptop, dan mau berbicara denganku apa yang ia sembunyikan.


 


 


"Aku minta maaf karena emosi ku meluap. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Tapi percuma kamu masih keras kepala. Demi kesehatan mu aku rela menuruti mu dengan mencari solusi supaya kamu tidak sakit ketika proses program bayi tabung di teruskan."


 


 


Ia berbicara sambil menelan ludah. Mungkin itu sulit untuk mengatakannya. Ia mencium kening ku, dan dengan berlalunya waktu, aku jadi tak bisa menahan air mata yang membasahi pipi ku.


 


 


"Aku menyesal telah membuat mu marah karena aku begitu egois dan tidak mencemaskan perasaanmu pada ku." Kalimat itu terucap dengan terlalu banyak perasaan yang membuat dadaku nyeri karena sedih dan kesal atas ucapan ku yang ke kanak-kanak kan.


 


 


"Mas, aku merasakan Aura epilepsi ku mau keluar. Bingung mas." Aku memejamkan mata untuk menarik napas dan menghembuskan nya. Aku masih mendapat gambaran bahwa hal ini pernah kurasakan dan aku pernah di sini seperti usia ku sekarang dengan mas Audrey yang memencet kepalaku dengan tangannya.  Nah, kenapa aku selalu mengalami hal seperti ini.


 


 


"Suster, bantu saya mengubah arah tidur Rita."


 


 


"Dokter Audrey, sebaiknya kita bawa istri anda ke Intensive Care Unit khusus Cardiovascular and Syaraf, Kondisi Nona Rita melemah." Aku mendapatkan ketika aku di sini Audrey memijat tanganku itu pernah ku rasakan saat kami berdebat lagi yang ke dua kalinya lalu aku kambuh namun epilepsi ku kambuh.


 


 


Aku ingin mengatakannya. Aku ketakutan seperti ini. Dengan penyakit ku lalu Audrey memijat ku sambil menangis.


 


 


"Pasangkan masker oksigen,  kabel ERCG, EEG, dan tensi meter sus."


 


 


"Baik, dok."


 


 


"Rita, tarik napas sayang." Aku membuka mata dan suamiku mencium kening ku.  Bicara dengan pelan. Lalu tanyakan suamiku mengapa aku di ruang yang besar dan berbeda. Tidak sulit, bukan. Suasana nya sunyi yang belum aku rasakan adalah terdapat jendela dan ruangan nya sangat luas berbeda ICU yang aku pernah masuk di dalamnya agak sempit namun cukup untuk satu orang. Sayangnya, aku masih pusing dan lemas.


 


 


"Aku kenapa, mas?" tanyaku parau.


 


 


"Kamu tadi tiba-tiba kejang, matamu berkedip, dan seperti ketakutan. Detak jantung mu tidak normal dan pernapasan mu terganggu, sayang."  Baru saja aku ingin menenangkan Audrey, Steven datang membuka pintu ICU. Dia datang bersama seorang dokter yang aku tidak tahu dia bagian apa.


 


 


Maafkan aku Audrey sehingga membuat mu cemas. Maaf karena aku lemah dan hanya bisa tidur di kasur atau kursi roda dengan tubuh yang terpasang infus dan oksigen. Maaf telah menyuruh mu untuk memberikan izin aku ingin punya anak.


 


 


Kali ini bukan tentang diriku, tapi tentang bagaimana pernikahan kita yang tak mempunyai keturunan sedangkan aku tak bisa membuat dirimu bahagia saat kau butuh aku. Mungkin salah satu dari kita harus mengalah, dan aku harus bersikap baik kepada Audrey. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan pikiran bersalah ku, lalu bersikap dewasa.


 


 


"Aku minta maaf. Jika kau ingin aku sehat aku akan menunggu sampai mendapatkan donor jantung dan paru-paru." Aku berharap Audrey memaafkan diriku yang egois dan tidak memikirkan perasaannya.


 


 


Ia tidak mau bicara sampai sekarang, dan membuatku semakin merasa bersalah, akupun memejamkan mata takut penyakit ku kambuh lagi.


 


 


Aku membuka murotal di ponsel ku dengan pelan-pelan. Sampai pemeriksaan ku selesai, Audrey masih belum selesai membaca hasil rontgen tentang otak, jantung dan paru-paru ku. Steven yang mendengarkan aku berbicara langsung menyuruh aku memegang tangannya. Aku menggerakkan tanganku tapi tangan ku berguncang-guncang.


 


 


"Syaraf mu yang rusak membuat mu susah bergerak." Steven teman Audrey kerja, membuka mataku dia menggerakkan tangannya ke arah mataku dan memberi sinar lampu di mataku.


 


 


Sebuah kata keluar dari ucapan Audrey.


 


 


"Aku memaafkanmu, aku juga salah telah menasihati mu dengan emosi yang tak bisa ku bendung." Dari ucapannya yang halus, wajahnya menandakan bahwa ia serius memaafkan aku dan menyetujui permohonan ku yang dewasa. Dia  menyuap kan bubur lewat slang dengan di suntikan nya ke slang yang terpasang di mulutku.


 


 


Tapi ketika aku menelan makanan tiba-tiba aku terbatuk dan memuntahkan makanan itu dengan cairan merah--mencoba untuk tidak batuk berlebihan agar tidak membuat dadaku nyeri dan sesak--aku malah memejamkan mata untuk menahan dadaku yang sakit, tapi malah membuatku membuka mulut lebar-lebar supaya oksigen di masker masuk ke mulut atau hidungku.


 


 


Setelah muntah-muntah aku memegang dadaku dan menangis kesakitan, Tapi percuma saja aku menangis karena sakit yang ku rasakan belum menghilang. Aku memegang kasur sekuat tenaga ku dan pandanganku kabur. Dokter Steven menyuntik obat ke botol infus ku dan sakit itu mulai memudar. Suamiku membisikkan ku ayat Al-Qur'an di telingaku. Headset yang ku pakai sudah di lepas oleh Audrey, aku di bawa ke luar ruangan untuk di pindahkan ke ruang rontgen. Sesampai di lift Audrey menekan tombol, di samping Audrey ada Steven dan suster yang membantu kami ke ruang rontgen.


 


 


"Blood presure Nona Rita menurun. Secepatnya harus di bawa ke ruang ICU dengan segera." Suster membawakan ku ke ruang rontgen , Audrey dan Steven ke ruang lab yang terdapat komputer. Jarak ruang rontgen dan komputer rontgen tidak terlalu jauh.


 


 


"Sus, tolong bilang sama suami ku untuk membawa ku ke rumah nya." Ia tetap memasukkan ku ke alat mesin rontgen dan tersenyum kepada ku. Lalu ia membantu ku melepaskan sabuk yang terpasang di kasur rontgen, suamiku dan Steven pergi menuju ke ruang rontgen. Audrey dan suster mengantarkan ku keluar ruangan dengan memegang kasur dorong menuju ke lift. Di lift Audrey menekan tombol ke lantai atas yang terdapat ruang ICU khusus cardiovascular dan neurogical. Sepertinya aku harus menahan dadaku yang nyeri karena percuma aku bicara dengan Audrey atau suster supaya mengizinkan ku pulang.


 


 


"Triangle Healt, Rita. Kau harus jaga kesehatan otak mu, jantung mu, dan paru-paru mu. Kau harus istirahat yang nyenyak. Kita hampir sampai ke ruang ICU. Kesehatan mu menurun," bisik Audrey, sedangkan aku hanya bisa mendengar bisikan nya karena mataku buram sekali. Sepertinya aku harus menuruti apa yang suamiku sarankan, dan ini akan menjadi masalah besar jika tidak menuruti sarannya. Di rumah sakit aku harus banyak latihan mengontrol emosi, penyakit ku akan menjadi beban buat Audrey bila kambuh. Aku tak pernah mengatur emosi, aku tidak bisa menjaga kesehatan karena setiap kelelahan aku pasti tidak sadarkan diri.


 


 


Aku lega sudah di maafkan atas permintaanku yang terlalu berbahaya, berhubungan aku sekarang memulai bersikap dewasa dan mengatur emosi demi pulih dari penyakit ku. Aku berusaha menahan emosi, tapi aku tidak betah di rumah sakit terus menerus karena terasa membosankan tidak bisa ke taman dan jalan-jalan.


 


 


Betapa egois dan bodoh mengira diriku bisa membuat Audrey tidak tertekan karena memiliki anak yang ibunya harus terbaring di rumah sakit dengan tubuh kejang-kejang dan badan yang kurus. Aku menutup mataku yang sudah tidak tahan lagi untuk istirahat.


 


 


"Aku akan menuruti nasihat mas Audrey, lelah kita berdebat terus. Kondisi ku tidak akan pulih kalau aku tidak mengalah."


 


 


Tapi Audrey sudah memegang tanganku erat-erat. Aku tersentuh ketika dia memegang tangan ku. Lalu setengah membuka mata, aku tersenyum dan tidur.  Tidak mungkin dia mencintai orang cacat seperti ku. Tapi aku tidak bisa terus berprasangka, aku harus mempercayainya.


 


 


Ketika aku sudah di ruang ICU. Langkah Audrey terhenti di samping ku. Dengan tangannya, dia mengangkat kepalaku untuk memasang oksigen. Aku bergegas menghirup oksigen karena dadaku nyeri.


 


 


Kau seharusnya menolak ku untuk jadi istrimu.


 


 


Pandanganku gelap dan sakit sekali dadaku. "Sus, bantu saya pasang NGT. keadaan Rita kritis."  Aku tak bisa menahan sakit ku, yang ku dengar adalah suara suster dan Audrey yang memasang peralatan ICU di tubuhku.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2