Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri

Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri
pengajian di rumah sakit 1


__ADS_3

Aku sedang tidur di kamar ICU sambil mendengarkan murotal. Aku bahkan tidak sadar, setiap di rumah sakit ada doa bersama.


 


 


"Kita mulai dengan doa Al-fatihah, untuk kesembuhan Rita." Seorang ustadz mengangkat tangan dan berdoa.


 


 


Banyak Tamu yang datang berdoa mendoakan kesembuhan ku. Ketika doa Al-fatihah berakhir, Ustadz menyuruh membaca surat ayat kursi. Aku merasakan tenang, tetapi ada kesedihan karena selalu masuk rumah sakit. Inilah nikmatnya hidup ada kesulitan dan kebahagiaan. Doa berlangsung lama, lalu lanjut membaca surat Al-Ikhlas. Doa yang ku dengar dari ibu-ibu begitu merdu dan tenang. Melihat ibu pengajian berbaju gamis, seperti di surga. Hujan di perkirakan tidak akan turun, dan itu berarti aku bisa ke taman siapa tahu ada yang meminta ku.


 


 


Rasa bersalah menjalar di relung hatiku. Membuat suamiku sedih karena operasi ku tertunda sebab tekanan darahku terlalu rendah. Aku memikirkan cara untuk membuat Audrey tidak tertekan dan cemas.


 


 


"Apa setiap hari diadakan doa bersama, bila ada yang di ICU?" tanyaku dengan sopan. "Bisakah saya minta tolong, setiap hari jumat tolong ke ruang Ayah angkat saya di kamar VVIP khusus penyakit syaraf?"


 


 


Sisa pagi itu berlangsung dengan tenang dan damai. Sulit di percaya, bahwa hari ini adalah hari yang sangat tenang tanpa pikiran apapun. Barangkali ini nikmat Allah yang ke delapan dengan memberikan suasana tenang di rumah sakit. Aku bahkan masih ingin terus mendengarkan lantunan Ayat suci yang di baca ibu-ibu pengajian.


 


 


Jadi aku merasa tidak sabar ingin terapi jalan lagi karena merasa sudah baikan. Aku ingin mengobrol dengan pasien-pasien untuk menghibur mereka dan menjenguk Ayah ku yang sakit, aku ingin mendoakan kesehatan ayah kandung supaya dia cepat sehat. Atau barang kali aku bisa mengompresnya, walau tanganku masih kaku.


 


 


"Saya rasa ibu harus banyak istighfar supaya cepat sembuh," Komentar ustadz ketika aku tidur terbaring di ICU, aku mengangguk dan berterima kasih kepada guru agama yang datang di ruang ICUKU. Betapa tenangnya hati ini bisa mendengar pengajian meski tangan dan kakiku sulit untuk di gerakkan.


 


 


Penyakit ini membuatku stress, sehingga beberapa jam aku meregang nyawa karena menahan sakit. Suasana di ICU yang biasanya membuatku kritis kini menjadi seperti di surga penuh bacaan Al_QUR'AN, kalau saja jantung ini masih kuat untuk beraktivitas pasti aku akan duduk dan ikut mengaji walau tampak pucat. Di rumah sakit khusus penderita penyakit dalam ini, ada banyak pasien yang koma dan kritis sampai-sampai membuatku tertekan di rumah sakit dan hampir setiap malam suhu badan naik dan membuat aku terkena epilepsi yang mengerikan. Sekarang lebih tenang, berkat doa dari ibu-ibu pengajian. Setiap selesai pengajian, Ustad memberiku air zam-zam dan kurma Ajwa untuk di jus. Para jamaah pengajian bergantian bersalaman dan kemudian bersalaman dengan aku. Di sini aku merasa ada kepedulian antara ibu-ibu pengajian dan diriku.


 


 


"Cepat sembuh ya, Bu Rita," ucap seorang berpakaian gamis dengan warna hijau muda. kebahagiaan yang kurasakan semakin membuatku terlihat tenang. Sepuluh orang wanita berbaris menyalami tanganku yang kaku. Yah, karena penyakit syaraf aku jadi mengalami kelumpuhan ringan. Kapan aku bisa ikut pengajian ibu-ibu? Kapan aku bisa membantu ibu angkatku? Aku bersalaman dengan ibu-ibu yang antre bersalaman. kutanyakan kepada perawat apakah jamaah dan guru ngaji sudah di beri tahu untuk membacakan doa di ruang sebelah. Sebagai jawaban, perawat itu mengangguk dan sudah memberi tahu kamar ayah angkat dan kandung ku.


 


 


"Apakah Nona ingin ikut pengajian di kamar sebelah, saya bisa mengantar nona, " katanya sambil membantu aku duduk dan bersalaman. "Tubuh Nona masih lemah, sebaiknya istirahat saja." Dadaku terasa makin sakit karena belum sembuh seratus persen. Tanganku tak berhenti gemetar. Aku berjabat tangan dengan ibu-ibu yang masih mengantre.


 


 


Aku menggerakkan mata untuk mengetik di laptop, karena daya ingat ku mulai berkurang. Saat bersalaman aku mengalami susah bernapas.


 


 


"Bu Rita tidak apa-apa?" tanya perempuan berbaju gamis coklat.


 


 


"Aku tidak apa-apa, ini biasa terjadi hanya sebentar. Jangan cemaskan saya. Makasih atas kunjungannya dan lantunan doanya." Ya, akhirnya aku bisa bicara menggunakan laptop. Aku ingin sehat seperti wanita yang lain, aku tidak ingin jadi beban.


 


 


"Mah, sudah baikan belum," suara suamiku terdengar di luar. Dia membuka pintu dan bersalaman dengan tidak menyentuh tangan jamaah wanita kecuali Ustad. "Kalau mamah ingin ikut pengajian, nanti biar papa yang bicara sama suster. Jadi kalau mama kesakitan, papa yang nanti beri mama obat."


 


 


"Mama ingin ikut sekalian jenguk Ayah Yudi dan ayah kandung ku." Penyakit ini memang aneh, saat usia enam tahun ibu angkat ku bercerita, mula-mula aku sesak napas, gelisah, melamun, tiba-tiba kejang-kejang tak bisa berhenti. Kata Ibu angkat, aku tak sadarkan diri sampai lima hari. Dan perawat yang merawat ketika aku di rumah sakit berkata setiap hari aku di bacakan doa dan ini sudah berlangsung lama acara pengajian. Mungkin aku lupa karena aku yang suka sakit.


 


 


"Wah, dokter setia banget sama istrinya," kata seorang ibu-ibu yang ingin bersalaman denganku. Suara ibu itu membuat lamunan ku hilang seketika.


 


 


"Tidak kok bu, ini tanggung jawab saya sebagai seorang suami. Kami harus saling melengkapi."


 


 


Aku menahan rasa mual yang membuatku ingin muntah. Aku bersalaman dengan ibu-ibu seterusnya dan sampai urutan akhir, lalu Audrey memapah ku ke kursi roda. Begitu kami mengikuti rombongan ibu-ibu, aku tertuju ruangan di sebelah kananku. Ada seorang wanita, tubuhnya kejang-kejang, tidak merespons, dadanya naik turun susah bernapas. Perut wanita itu besar, mungkinkah itu seorang wanita yang ku lihat minggu lalu.


 


 


kepala dan matanya tertuju ke atas, aku melihat di luar ruangan saja membuat kakiku tiba-tiba tersentak dan dadaku sakit. Kasihan wanita itu, dia juga mengalami gagal napas sampai-sampai dia harus membuka mulutnya untuk bernapas. Setiap detik aku melihat wanita itu menutup mulutnya karena kelelahan. Dan setiap detik dia membuka mulutnya karena susah bernapas.


 


 


"Namanya Bu Arina, dia mengalami gagal jantung dan sakit syaraf otak. Penyakitnya sudah stadium empat sekarang dan rumah sakit kekurangan darah yang ibu itu butuhkan. Darah ibu itu langka. Rita masih ingat kan, saat periksa hari kemarin. Dia juga bagian dari organisasi sama seperti mu. Dia tidak memiliki anak karena setiap dia melahirkan dia kritis, saat bayinya di keluarkan lahir prematur bayinya juga mengalami gagal napas dan meninggal. Jadi dia adopsi anak, namun saat usianya sekarang penyakit yang di derita menjadi banyak dan nyawanya di ujung tanduk suaminya hanya pekerja paruh waktu."


 


 


"Paruh Waktu?"


 


 


"Iya, dia kerja saat di butuhkan saja, karena separo hidupnya untuk istrinya yang cacat."


 


 


"Aku merasa prihatin. Aku juga sama persis di posisinya. Aku tidak tahu nasip ku ke depan sama seperti wanita itu atau tidak."


 


 


"Nah, ayo kita ke ruang ayah kandungmu ada di sebelah kiri. Soalnya masih banyak yang harus di temui oleh jemaah pengajian. Kita bahas itu besok saja."


 


 


Waktu itu aku melihat wanita itu sedang kejang-kejang, dan mulutnya mengeluarkan busa. Ketika aku masuk ke ruang ayah ku setelah melihat pasien yang penyakitnya sama denganku, Audrey membawa ku ke ruang yang sangat memilukan.


 


 


"Rita, ayahmu kritis nak saat dia menemui kamu. Dia bilang rindu sama kamu karena sudah lama tidak berjumpa. Saat keluar ruangan dia mengalami gagal napas. Karena tersedak lendir. jantung dan paru-paru nya kritis."


 


 


Rasanya begitu sedih dan dadaku semakin sakit melihat dada ayah yang kurus dan naik turun ketika bunyi pip begitu kencang, karena penyakit ayahku tidak ada obatnya, tubuhnya yang kurus dan pucat di pasang alat medis, aku semakin tidak bisa menahan kakiku yang tremor.


 


 


"Mungkin dia butuh aku di sampingnya. Aku akan membacakan doa untuk ayahku." Aku memeluk tante dengan tubuh yang pucat ini. Sorot mata tante selalu membuatku tenang dan melupakan kesedihan. Dia mengenakan baju gamis bergambar sakura dan warnanya pink, sepatu nya pantofel. Semua ini menunjukkan betapa agamis nya tante ku. Sosok wanita yang membuat suaminya sangat mencintai karena dia ramah, sopan, dan penuh kasih sayang. "MM, sebaiknya tante istirahat. Doakan ayah semoga sembuh."


 


 


Aku merasakan tatapan tante begitu cemas ketika ayah kejang-kejang. Setibanya aku di samping ayah yang terbaring lemas dan kejang-kejang, lantunan ayat kursi yang di bacakan oleh ibu-ibu itu aku mengikutinya dan membacakan di dekat telinga ayah. Mas Audrey ikut membacakan ayat kursi. Kasihan ayah di buang oleh ibu dan sekarang harus menghadapi penyakit kronis sendirian tanpa seorang pendamping hidup.


 


 


"Rita, kamu tidak apa-apa?" Audrey berlari ke arah ku dan melepaskan Al-Qur'an di tanganku.


 


 


Aku menarik napas pelan-pelan. Dengan hati-hati aku duduk sambil istirahat. Sulit di percaya, kedua kaki dan tanganku tremor.


 


 


Gemetar atau bergerak tanpa sadar, mulai dari ringan sampai berat, dan umumnya terjadi pada tangan, kaki, wajah, kepala, atau pita suara. Tremor dapat disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit. Contohnya meliputi kelelahan otot ekstrem karena olahraga atau efek samping obat.


 


 


keadaan ku tiba-tiba melemah di saat ayahku kritis dan muntah-muntah. Aku khawatir penyakit ku juga seperti ayahku, dan membuatku kurus di saat aku menjalani rumah tanggaku.


 


 


Ia sepertinya sangat perhatian dengan ayah dan diriku.


 


 


"Aku cuma tremor, paling-paling sudah sembuh," akhirnya aku bisa menenangkan diri dan mengucapkan kata demi kata.


 


 


"Kondisi bapak ini sangat memprihatinkan. Setiap malam alarm code blue berbunyi dan tubuhnya kejang-kejang sehingga jantungnya bekerja keras karena kekurangan oksigen," ucap suster yang memasukkan obat ke dalam infus.


 


 


"Astaghfirullah...." suamiku tiba-tiba shock dan berhenti istighfar. "Apakah dia kemarin sempat koma sebelum bertemu istriku?"


 


 


Aku mencoba mengontrol emosi ku. Pikiranku tiba-tiba berubah.


 


 


"Mas aura epilepsi mau keluar, ambilkan obat epilepsi." Aku memejamkan mata dan Audrey menusuk jarum suntik ke infus ku. Akhirnya aura itu hilang.


 


 


"Rita kamu tidak apa-apa, tarik napas sayang."


 

__ADS_1


 


"Syukurlah, kamu cuma sebentar kejang-kejang. Ayo kita kembali ke ICU."


 


 


"Aku... masih... ingin ... menemui ... ayah angkat ku."


 


 


"Baiklah, aku akan di sini bersamamu dan siap siaga jika kamu butuhkan." Ia mencium kening ku.


 


 


Aku, ayah Yudi dan ayah kandung melawan penyakit syaraf yang membuat nyawa kami terancam. Meski aku kejang-kejang, harus kuat demi ayah kandung yang masih kritis. Hari ini adalah pertempuran melawan penyakit mematikan yang kami derita.


 


 


"Ku rasa ayahmu akan sedih bila melihat mu ikut sakit, kita istirahat dulu saja ya."


 


 


"Ku mohon, biarkan aku mengeluarkan tenaga ku demi orang yang ku cintai." bisa kurasakan Audrey begitu cemas melihat ku tremor mendadak.


 


 


"Aku akan beri dosis berat untukmu, jika ingin menjumpai ayahmu. Kamu juga harus nurut berhenti untuk program bayi tabung," katanya sambil melihat infus ayah kandung yang tergantung di tiang.


 


 


Aku berdiri dan memegang ranjang, dengan keadaan ku yang kelelahan tenaga dalam tubuh lemah ini tak membuat ku berhenti untuk berdiri.


 


 


"Ayah... ayah harus bangun... kata tante ayah ingin terapi jalan bersamaku. Ayah jangan menyerah." Aku tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan Audrey menangkap tubuhku yang terjatuh. Ia meletakkan ku di kursi roda. Di kasur ayah tiba-tiba tertawa dan tubuhnya kejang-kejang, epilepsi itu membuat ku merasa seperti aku juga melihat hal yang sama namun hanya aura yang muncul. Dan aku bisa bernapas lega, tapi ayahku tidak berhenti kejang-kejang. Buih di mulut ayah keluar dan membuat ayah tersedak buih air liur serta mengalami serangan jantung. pengajian akhirnya di tunda, kami keluar menunggu dokter selesai menyetrum dada ayah.


 


 


"Rita, kita kembali ke ruang mu. Kamu masih lemah." Audrey mengantar aku ke ruang ICU, belum sempat melihat ayah yang terbaring lemas air mata sudah mengalir dan membasahi pipi. Aku mengelap air mata dengan tangan yang lemah, suamiku berhenti dan memeluk ku.


 


 


"Rita bagaimana aku meyakinkan cintaku untukmu dan membuat dirimu bahagia?"


 


 


Dia berkata seperti itu mungkin mengerti perasaan ku yang gelisah dan mengkhawatirkan penyakit mematikan yang merenggut jiwaku. Aku menarik napas dan menenangkan diri.


 


 


"Aku lemah dan tak bisa berbuat apa-apa? sedangkan kau seorang dokter banyak wanita yang mencarimu."


 


 


"Lihat aku Rita. Aku sudah mengecat rambut ku menjadi abu-abu supaya kau sehat dan tidak sedih."


 


 


Aku memikirkan Ayah kandung dan angkat ku, mereka selalu membuat aku tertawa dan tidak merasakan kesakitan ketika aku kritis.


 


 


"Rita, boleh tante bicara sebentar saja?" Tanteku muncul di saat aku sedang berpelukan dengan suamiku.


 


 


"Tante mohon kamu jangan membuat tubuhmu makin lemah. Ini pesan ayah kandungmu. Ia tidak akan sembuh bila melihat kamu sakit juga."


 


 


Ya Allah. Hanya tante yang mengkhawatirkan aku berlebihan, dia menganggap aku sebagai anak kandungnya sejak ayah kandung ku menemukan aku masih hidup dan satu rumah sakit bersamanya.


 


 


"Terima kasih tante---aku tahu ayah masih kritis dan aku tidak melakukan hal bodoh demi ayah." Dari semua keluargaku tante yang paling perhatian bulan lalu baju muslim yang cantik tante belikan untukku supaya aku terlihat ceria. Dia mengajak ibu angkat ke rumah suamiku untuk mendandani wajah ku yang pucat, sekarang dia merasa sedih dan memohon untuk ayahku supaya aku sehat.


 


 


Tante ku menangis saat memegang tanganku, "Tante tidak tahu lagi harus berbuat apa? Ayahmu tiap hari kejang-kejang sampai kritis dan sekarang belum sadar juga."


 


 


Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi ku yang masih belum pulih dari penyakit mematikan ini.


 


 


 


 


Ku tatap rambutnya yang berwarna silver. Dia mengecat rambut demi membuatku semangat untuk hidup. Lalu aku memegang wajahnya, dengan tanganku yang lemas.


 


 


"Kenapa kau masih tidak jujur padaku tentang penyakit ku?" tanyaku sambil menatap wajahnya. "Ku pikir seharusnya kau memberi tahu ku tentang kondisi ku, bukannya merahasiakan penyakit yang aku derita selama dua puluh tahun ini."


 


 


"Penyakitmu belum jelas kemarin sudah aku tanyakan dengan dokter ahli dan mereka masih belum menemukan penyakitmu," ucapnya.


 


 


Jadi aku merasa seperti Audrey menyembunyikan sesuatu dariku. Aku ingin menanyakan kondisi ku yang semakin memburuk. Aku ingin tahu apakah ia masih tidak jujur dan suka menangis ketika penyakit ku kambuh, seperti yang ku ketahui suamiku tidak bisa menahan air mata di saat aku kumat. Atau barang kali aku sudah membuat Audrey menyesal telah menikah denganku yang cacat dan suka kejang-kejang mendadak. Tante mengirim pesan kalau kondisi ayah semakin memburuk dan jantungnya kritis, ayah selalu kejang-kejang ketika dadanya sakit bahkan mengalami gagal napas----Ibu angkat juga mengirim pesan kondisi ayah angkat kemarin membaik sekarang keadaannya memburuk dan belum sadarkan diri. Ini yang aku takut kan kalau tiba-tiba dadaku terasa nyeri apakah aku bisa menahan epilepsi yang membuatku koma sampai sebulan.


 


 


Kesedihan itu mulai membuatku depresi ketika aku melihat Audrey dengan telaten memijat tanganku yang tidak bisa berhenti gemetar.


 


 


"Mas, aura epilepsi datang lagi," ucap ku sambil melihat keatas.


 


 


"Rita, kamu harus tenang dan tarik napas. Suster tolong berikan obat epilepsi."


 


 


"Baik dok."


 


 


"Aku ada di sini sayang, kamu harus kuat sayang. Ya Allah, Rita denyut nadi nya memburuk. Sus tolong obat jantungnya."


 


 


Aku tiba-tiba sudah berada di pelukan suamiku ketika membuka mata. "Syukurlah, kamu sudah sadar sayang." Keempat petugas medis sedang mengobati ku. Apakah aku sempat kritis tadi?


 


 


"Dokter Audrey dari tadi menangis melihat nona tidak sadarkan diri dengan tubuh kejang-kejang," ucap suster berpakaian biru. "saya mencoba membantu dokter Audrey memasukkan tablet obat jantung dan epilepsi ke mulut anda, obatnya sudah saya jadikan puyer jadi gampang."


 


 


Ku lihat jam di tangan Audrey sudah menunjukkan jam delapan malam berarti aku sudah tidak sadarkan diri sudah lama. Aku melihat Audrey mencium kening ku dan memeluk ku erat, dia sekarang tersenyum mungkin karena dari tadi pagi setelah dari ruang intensive ayahku keadaan ku sudah menunjukkan gejala epilepsi. Begitu kami saling bertatap muka Audrey tersenyum namun aku yang malah sedih karena membuat dia cemas. Ketika air mataku mengalir, suamiku mengusap pipi ku yang basah.


 


 


"Saya kembali ke ruang saya ya, dok." Suster dan tenaga medis yang lain menuju pintu dan meninggalkan kami berdua.


 


 


"Terima kasih sus, atas pertolongannya." Aku memegang tangan Audrey dengan tenaga ku yang masih tersisa. "Apakah aku tadi mengerikan, mas?"


 


 


Aku merasa bersalah karena membuat suamiku cemas dan menangis. Setibanya di ruang intensive tempat aku di rawat, tadi pagi aku tidak merasakan ada aura muncul namun saat jam sepuluh pagi baru terasa.


 


 


"Kau mengecap, matamu berkedip tanpa henti dan tanganmu seperti memegang sesuatu. Aku sempat ketakutan kamu tidak berhenti kejang-kejang, untung saja Steven bilang karena kamu banyak pikiran jadi jantung dan epilepsi mu kritis tapi tidak sampai parah." Dia bangun dari duduknya dan meletakkan uap air yang beraroma kan lavender. Itu aroma terapi yang ku suka.


 


 


Aku hanya bisa melihat dia karena masih lemas dan nyeri di dada. Ia begitu perhatian sampai ingat aroma terapi kesukaanku. Sulit di percaya lelaki yang tampan dan baik hati ini menikah dengan aku yang cacat dan hanya bisa baring di ranjang. Aku khawatir tidak bisa membuat dia bahagia karena epilepsi dan jantung ku sering kumat tiba-tiba.


 


 


Ia sepertinya tidak seperti yang dulu sering kusut mukanya.


 


 


"Maaf, membuat mu repot dan sedih." Hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan.


 

__ADS_1


 


"Aku tidak seperti biasanya karena Steven telah menemukan cara supaya kamu tidak kaku ketika epilepsi mu menyerang. Aku sedih saat kamu kejang-kejang dan tertawa seperti memikirkan sesuatu itu yang buat aku sedih. Aku akan memikirkan cara untuk mengoperasi jantung dan kepalamu supaya kamu tidak murung seperti ini." Senyumnya seperti ada yang aneh tentang penjelasan yang ia bicarakan ke aku. "Kuputuskan untuk mencari cara supaya kamu bisa tersenyum tidak sedih lagi, kemarin aku tugas memeriksa kondisi pasien di kamar satunya. Pasien yang pernah kita temui mengalami koma karena tumor di perutnya membuat gagal napas, kejang-kejang sampai epilepsi kambuh dan jantungnya kritis. Suaminya terpukul karena tidak bisa menolong istrinya berharap uangnya bisa menyelamatkan nyawa istrinya."


 


 


Aku mengerti mengapa kemarin suamiku masih tidak semangat, Audrey mungkin juga merasakan hal yang sama. Waktu pun berlalu.


 


 


"Kenapa kamu begitu heran, jika aku seperti wanita itu suatu saat. Jangan buat aku sedih karena kamu menangis tidak bisa mengobati diriku. Kamu tahu, kan. Aku terlahir dengan badan yang lemah aku sudah siap jika aku terserang penyakit lain," akhirnya aku bisa menghibur Audrey dan tersenyum.


 


 


"Aku tahu kamu pasti akan berkata begitu," ia tak memperhatikan apa yang aku bicarakan.


 


 


"Ku rasa percuma saja aku memberi dukungan untuk kamu tetap bersemangat berjalan dan ceria seperti saat muda."


 


 


"Setiap aku epilepsi, aku seperti wanita itu dengan perut besar dan kesakitan. Lalu perutku seakan mau pecah karena tertusuk jarum dan dadaku juga kesakitan serta pikiranku aku sudah sekarat. Itu yang kurasakan saat epilepsi kambuh, bahkan saat tidur aku bermimpi sama seperti seperti wanita itu. Kamu tahu kan, sayang. setiap malam aku selalu kejang-kejang dan kritis. penyebabnya mimpi-mimpi yang aneh dan aku sudah pernah merasakan seperti sekarang." Bisa kurasakan betapa depresi memikirkan hal yang tidak masuk akal.


 


 


"Aku mungkin saja bisa seharian tidak kerja karena merawat mu sehari penuh," katanya sambil memegang tanganku yang masih tremor.


 


 


Aku menelan ludah.


 


 


Ia mencium tanganku yang tremor. "Kau tampak lelah, tidur lah besok kita terapi untuk membuat mu kuat saat operasi.


 


 


"Tidak," kataku, tapi sekarang tanganku tiba-tiba tidak bisa berhenti dari tremor. "Sebenarnya apa yang membuat begitu bersemangat sekarang?"


 


 


"Sudah ku bilang--- aku lelah harus menasihati mu untuk membatalkan program hamil dan suruh istirahat total, makanya aku bertanya ke guru besar supaya kamu bisa di operasi." Ia masih mencium tanganku, aku merasakan ada yang hangat di tanganku mungkin air matanya.


 


 


"Lelah karena obsesi ku untuk mempunyai anak?" tanyaku kebingungan.


 


 


"Ya---menyerah dan menuruti kemauan mu supaya tidak terlihat murung. Sekarang aku akan menuruti apa yang kamu minta asal tidak membahayakan nyawamu dan mencari cara supaya program kehamilan bisa di teruskan." Ia kembali meneteskan air mata ketika menjelaskan, dan suaranya terdengar serius.


 


 


"Lagi-lagi kau menangis."


 


 


Ia kembali tersenyum dan mengelap air mata dengan jarinya.


 


 


"Jangan khawatir aku akan membuat jantung ini berdetak dan mencoba berbagai cara terapi supaya bisa operasi." Meski aku harus menahan sakit untuk membuat jantung ku berdetak ketika program bayi tabung atau operasi.


 


 


"Aku akan memegang ucapanmu, Rita."


 


 


"Jadi, sekarang apakah kamu mau menemani ku melihat wanita yang di rawat di kamar sebelah?"


 


 


"Ya jelas aku..." jawabnya dengan ragu-ragu dan cemas.


 


 


"Kau pasti tidak mau membawa ku melihat ayah atau wanita yang di kamar sebelah, kan!" Aku menjawab keraguan yang terlihat di wajah Audrey.


 


 


Ia memejamkan mata lalu tersenyum dan mencium kening ku lagi. "Aku mengizinkan mu untuk melihat ayah kandungmu dan wanita yang berada di kamar sebelah, tapi kalau kamu kesakitan tolong panggil aku. Aku tidak ingin kau kritis lagi, ingat kesehatan mu lebih penting dari pada kunjungan mu ke ruang ICU tempat ayahmu di rawat." Di balik kasih sayangnya, peringatan itu sungguh nyata.


 


 


"Kau sering menasihati ku seperti itu," aku mengingatkannya, berusaha mengabaikan jantung ku yang tiba-tiba tidak normal dan menahan dadaku yang sakit.


 


 


"Ya, karena mamah tidak mendengarkan ayah. Jadi ayah mengingatkan bahwa mamah tidak boleh sakit. Kalau pintar, kamu pasti akan mengerti maksud yang ku bicarakan."


 


 


"Kurasa penilaian mu tentang prestasi yang ku raih cukup jelas." Mataku menyipit.


 


 


Ia mengelus tanganku dan tersenyum menyesal.


 


 


"Jadi, selama aku adalah...orang yang tidak pintar, kita akan meneruskan program bayi tabung?" aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini dengan otak ku yang mulai susah berpikir.


 


 


Ada semacam sesuatu yang membuatku cemas ketika epilepsi menyerang. Aku tidak bisa bernapas dan mati rasa setelah bangun dari epilepsi, bahkan sekarang aku lambat berpikir dan berjalan. Ada yang aneh setiap kali aku berdiri pasti lelah, gemetar, dan jantung ku berdetak tidak teratur membuat dadaku terasa sakit. Aku bahkan sempat nekat untuk terapi listrik kemarin agar bisa berjalan, kalau sedang frustasi.


 


 


"Kedengaran nya masuk akal."


 


 


Aku menunduk memandang kakiku yang coba untuk bergerak, tak yakin apa yang harus kulakukan. Ya Allah, jangan buat aku lumpuh seperti ini.


 


 


Selain penyakit jantung dan kerusakan syaraf otak, aku juga mengalami penurunan daya ingat dan bicara ku kurang jelas. Walaupun suamiku membantu diriku untuk bisa kuat berjalan demi kelancaran operasi, tapi kalau masih belum ada hasilnya sia-sia saja.


 


 


"Apa yang kau pikirkan, Rita?" tanya Audrey sambil mengeringkan air mata yang menetes di pipi ku.


 


 


setelah mengusap air mataku, ia kembali mengecek denyut jantung ku. Memulai kerja dengan hati-hati yang akan di serahkan ke gurunya dan suara hujan yang turun membuatku terasa nyaman lalu mendengarkan ayat Al-Quran di ponsel untuk melatih emosi ku supaya bisa mengatur detak jantung ketika operasi.


 


 


Aku tidak berhenti menangis saat Audrey menggerakkan tanganku. Walau aku bisa menahan epilepsi dan penyakit jantung mematikan yang membuatku kritis, disambung lagi memikirkan kapan aku bisa berjalan dan makan di rumah makan bersama suamiku, dan memasak masakan kesukaan Audrey lalu ia menyanjung ku.


 


 


Aku terus berpikir sampai tak tahan untuk menangis. Mungkinkah aku akan terus di kursi roda dan suamiku menyuapi bubur. Dan saat memiliki dua anak gadis aku menderita tumor ganas, Ya Allah tolong jangan ingatkan mimpi itu. Aku takut tidak pernah bisa berjalan lagi dan hanya melihat anakku belajar di ruang ICU. Tolong kuatkan aku untuk operasi dan meneruskan bayi tabung. Kata dokter kemungkinan untuk berjalan lima puluh persen, karena aku cedera di kepala bagian dalam.


 


 


sepuluh detik setelah aku melamun dan berpikir saat Audrey menggerakkan tanganku yang masih tremor---sungguh malang diriku, Epilepsi membuatku semakin lemah dan menjadi sulit berpikir bahkan berjalan aku harus merangkak seperti bayi.


 


 


sebulan yang lalu Audrey menemani aku terapi jalan, aku bilang padanya biarkan aku berjalan sendiri. Audrey sempat menangis melihat aku merangkak untuk menuju ke besi yang biasa ku pegang untuk latihan berjalan. Sempat mengalami kejang-kejang waktu itu, di ruang terapi ada CCTV jadi aku ingin melihat bagaimana aku berjalan tanpa walker, ternyata mengerikan beberapa jam kemudian aku kejang-kejang dan mulutku berbuih. Aku sempat di bawa ke ICU dan mengalami koma selama dua hari, itu yang di ceritakan suamiku.


 


 


"Kau mau aku antarkan ke ruang wanita yang kemarin kita bertemu?" lamunan tentang hal yang tragis menghilang saat Audrey bertanya.


 


 


Clow Audrey


 


 


Aku tidak tega untuk bilang ke istriku, Kemarin aku sempat bertanya ke guru ngaji karena istriku ternyata mengidap penyakit komplikasi dan penyakit ALS atau mematikan. Steven berkata umur lima SD rika pernah di operasi sumsumnya dan terapi sumsum untuk mencegah kelumpuhan. Namun operasi itu gagal dan membuat jantung dan paru-paru nya marah mengalami gagalan.


 


 


Guru ngaji bilang jangan membuat imannya lemah karena dia sudah mengalami banyak penderitaan di penyakitnya. Ayah kandung dan angkatnya juga bilang, jaga rahasia penyakit anakku dan diriku jangan sampai anakku seperti aku. Aku memandang mata rika yang tidak fokus. "Aku akan ikut masuk ke ruang ICU denganmu, jadi kalau sakit atau mengalami masalah apa-apa kau bisa tenang."


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2