Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri

Tongkat Dan Mantra Untuk Cinta Seorang Puteri
Pengajian Di Rumah Sakit bagian 3


__ADS_3

"Suamiku Audrey, kau tahu betapa sedihnya aku menghadapi penyakit mematikan yang terus menerus menghantui diriku. Pikiran ku terus berpacu bagaikan mesin yang sedang sibuk untuk mengurus pesanan, lalu karatan karena tak dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya mampu di lakukan. Kehidupan ku cuma duduk di kursi roda atau tiduran saja? Aku sudah lupa dengan bagaimana aku membaca dan menulis pakai tangan; sekarang anak angkat yang aku cintai menderita penyakit ALS yang sama seperti ku dan aku kebingungan karena tak bisa menolongnya. Dan kau malah menyuruh ku tenang,apakah aku bisa tidur tenang ?sementara Ayah kandung Rita dan Rita masih lemas dan kritis sama seperti ku ini. Nah antarkan aku ke ruang dadaku mulai sakit."


 


 


Langkah yang sangat ramai terdengar dari ruang


seberang , dan beberapa petugas medis sedang membawa seorang perempuan yang


kritis dengan perut membesar melewati kami; Perempuan itu dengan tidur kayang


dan tubuhnya kaku, ECG berbunyi tidak teratur menandakan detak jantung Aisyah


kritis. Sambil bicara aku melihat Aisyah yang di pacu jantungnya menggunakan


tangan suster, namun aku segera masuk ke ruang ICU takut ayah Yudi berpikir


negatif tentang anak angkatnya.


 


 


Ia berusaha menahan sakit yang ia rasakan dan


tersenyum ramah padaku. Aku membuka pintu dan masuk ke ruang untuk mengantar


Ayah Yudi. "Nah, kita sudah sampai ayah. Ayah istirahat dan jangan lupa


berdoa untuk kesembuhan Rita."


 


 


Matanya basah dan melihat ke arah ku. Bahasa tubuh


Ayah Yudi menandakan ia masih cemas memikirkan Rita yang semakin parah.


 


 


"Saya berterima kasih karena nak Audrey selalu


sabar merawat Rita yang sakit-sakittan." Ia sangat pengertian dengan Rita


dan diriku, bahkan dia tidak sungkan mengucapkan terima kasih kepadaku karena


anak angkatnya sudah ku rawat dengan baik.


 


 


Kali ini aku untuk lebih banyak merawat orang yang ku


cintai. Pak Yudi masih duduk di kursi roda membaca buku-buku kantornya.


 


 


"Kalau begitu, biar tidak susah membaca buku.


Audrey taruh ayah di kasur ya." Aku menggunakan alat mengangkut orang yang


digunakan rumah sakit. Tubuh Ayah Yudi kini semakin mengurus karena penyakit


ALS. Tubuh ayah Yudi akan seperti Pak Ruslan terus menerus kurus. Besok Ayah


angkat Rita akan operasi jantung untuk pertama, jantungnya akan di gantikan


dengan jantung pencangkokan dan akan di bersihkan paru-paru nya.


 


 


"Ayah sekarang ada suster, nanti ayah kalau ada


apa-apa bilang ke Audrey saja. Asalamu Alaikum, aku pamit menjenguk Rita."


Aku melihat ayah untuk terakhir karena besok akan di operasi. Ujian datang


setiap hari bagaikan jerawat yang tumbuh satu persatu, letak kesabaran ada di


dada kita bagaimana kita dapat bertahan dengan situasi yang mudah sampai yang


ter-sulit. Semakin pandai kita dalam menghadapi ujian, maka ujian itu semakin


sulit buat kita dan di situ ada hikmahnya. Perasaan senang, sedih, cemas dan


duka menyelimuti diriku karena Ayah kandung Rita tidak berhasil ku tolong dan


penyakitnya sudah parah kalau di operasi. Dia kemarin sempat menatap ku dengan


sedih karena meninggalkan anak semata wayang nya, dia berpesan untuk menjaga


Rita dan ayah angkatnya ketika dia sudah meninggal.


 


 


"KENAPA? ADA Apa?" Aku bertanya nyaring pada


suster yang masuk ke ruang Rita.


 


 


"Nona Rita sempat tidak sadarkan diri setelah


kejang-kejang dan mengalami gagal napas." Aku menuju ke arah Istriku dia


terbaring dengan mata tertutup dan telanjang separuh karena habis di kejut


dadanya untuk membuat detak jantung kembali.


 


 


Ia masih belum me-respon-ku ketika tangannya ku pegang


dan kakinya ku sentuh, tapi aku tak akan menyerah ku panggil namanya dan ku


bacakan doa supaya dia merespon. "Rita, sadar sayang. Kamu jangan tidur


seperti ini. Aku kangen sama senyum yang biasa kamu tunjukkan ke aku." Ku


kasih obat yang sudah di blender dan di aduk bersama obat-obat lain melalui


slang di lehernya dengan jarum suntik. Ku bersihkan liur yang ada di mulutnya


menggunakan alat penyedot liur.


 


 


Ini sama sekali membuatku cemas; kondisinya memang


lemah, dan kejang-kejang yang di alami akibat penyakit ALS dan syaraf lainnya.


Rita tidur dengan mata tidak bisa terpejam dan kepalanya di pasang alat ketik


untuk mengetik laptop dengan menggunakan gerakan otot wajah dan matanya.


Jantung dan syaraf Rita yang kritis selalu membuatnya koma dan kesakitan. Aku


bacakan doa sekali lagi.


 


 


للهُ لَا اِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا


تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهٗ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ


مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهٖ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ


أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهٖ إِلَّا


بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهٗ


حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


 


 


Arti Ayat Kursi:


 


 


Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)


melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak


mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada


yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui


apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak


mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi


Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara


keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.


 


 


Ia mendengar aku membacakan Ayat kursi, tangannya


bergerak-gerak dan ia mulai membuka matanya.


 


 


"Suster?" aku memanggil suster yang merawat


istriku.


 


 


"Ya?" Rita mengedipkan mata dan


kejang-kejang saat pertama kali sadar.


 


 


"Coba bersihkan slang di lehernya, mungkin dia


susah napas. Dia kejang-kejang karena susah napas dan jantungnya kembali


melemah. Saya ingin menyuapkan dia makanan, apakah anda bisa menyedot liur yang


menyangkut di slang?" Aku berkata pelan dan lemah lembut karena di ruang


ICU dan tak ingin membuat Rita semakin parah. Suster memasang masker oksigen di


wajahnya, kemudian istriku slang yang terpasang di lehernya di copot dan di


bersihkan. Istriku masih kejang-kejang seperti ikan yang kepanasan di letakkan


di tanah.


 


 


"Sudah saya bersihkan dan pasang sekarang, dia


sudah kembali normal. Apakah anda ingin saya bawakan bubur untuk Nona


Rita?" tanya Suster dengan nada yang sopan. Rita menangis melihat kaki dan


tangannya, aku peluk dia dan ku elus keningnya.


 


 


"Tolong ambil kan air hangat juga buat mengompres


tangan dan kakinya!"


 


 


"Baik, saya akan mengambil air hangat dan kain


kompres untuk Nona Rita," ucap Suster dan keluar meninggalkan ruang ICU.


Rita kembali dengan kejang-kejang dan jantungnya kembali lemah, aku mengelus


dadanya dan kepalanya supaya tenang.


 


 


Saat aku mengelus kepala Rita, dia kejang-kejang


dengan bola mata putih tidak ada pupilnya dalam keadaan tidur, istriku juga


sering mengalami PNE seizure seperti ayah kandungnya. Ketika dia gelisah.


 


 


"Sayang, tenang aku di sini." Ia kesakitan


dan kelelahan, jantungnya juga lemah. Aku hanya bisa mengelus ketika dia


kesakitan. Aku menghela napas dan mengelus, melihat Rita selalu mengalami


myoclonus dan PNE.


 


 


"Sayang, biarkan pergi penyakitnya. Tenang, tarik


napas." Rita masih kejang-kejang, aku letakkan bantal di antara paha atas


dan bawah. Dia memejamkan mata, namun conversion disorder yang ia alami tak


kunjung sembuh. Ya, Allah aku harus gimana? istriku mengalami. Ia menangis dan


tidak bisa mengetik karena kejang-kejang terus, dia kritis.


 


 


"Apa kau bisa bernapas sayang, atau aku perlu


izin untuk besok supaya menunda proses bayi tabung?" Karena sekarang aku


hanya bisa membuat dia tidak kesakitan, aku memijat kepalanya. Dia membuka


mulutnya untuk bernapas ketika kejang-kejang karena syaraf otaknya sudah rusak.


Rita bahunya kejang-kejang, dia semakin parah. Sebelum Rita jantungnya


berhenti, aku memberikan obat dari dokter.


 


 


"Aku sudah bisa bernapas, jangan cemas."


 


 


Ia mengetik dengan pipinya, ketikan itu berisi tentang


penjualan Ibu angkatnya yang berupa jahitan sarung kasur dan baju. Aku


membantunya membacakan dokumen harga-harga tas yang ia ketik, badannya yang


agak kurus tak membuat dia patah semangat. Ia memejamkan mata karena dadanya


terasa sakit yang membuat dadanya terasa seperti ada jarum atau karet yang


mengikat di organ jantungnya. Ia tersenyum senang bisa mengirim email dengan


tehnologi khusus difabel penderita syaraf--pertama kalinya ia menggunakan alat


yang kubelikan---laptop khusus penderita difabel yang ia gunakan.


 


 


"Aku bersyukur masih bisa hidup, terima kasih


sudah sabar merawat aku yang cacat." Katanya dengan sebuah ketikan di


laptop. "Maaf, saat pengajian aku tiba-tiba kambuh dan tak sadarkan


diri."


 


 


"Aku menolongmu dengan ikhlas, kau adalah belahan


jiwaku. Mana mungkin aku tega membuang mu dalam keadaan seperti ini, aku masih


punya hati nurani dan kasih sayang." Aku mengelus kepalanya dan menyuap kan


vitamin melalui slang di lehernya. Sekarang ia tidak harus menggunakan slang di


hidung.


 


 


"Jadi besok aku boleh pulang, nggak? Maksudku


hari minggu atau sabtu ini?" Ia menatap ku penuh harap kalau aku menjawab


Ya. Rita tiba-tiba menoleh ke sebelah kanan dengan kepala posisi miring dan


matanya seperti melihat sesuatu, ia kejang-kejang dan mengalami gagal napas.


Tapi ia sudah sadar dengan cepat, ketika aku mau menyedot air liur nya.


 


 


"Sebenarnya kamu sedang mengetik apa?" aku


masih menatap wajahnya yang pucat, dan ku elus kening nya.


 


 


"Aku sedang mengetik operasi jantung dengan


bersamaan operasi syaraf bisa di lakukan bersama-sama atau tidak." Ia


melihat wajah ku yang tiba-tiba terkejut, aku langsung memejamkan mata dan menahan


betapa keras kepalanya Rita. Dia tidak bisa operasi begitu saja, namun mungkin


operasi syaraf masih bisa di cegah atau donor sumsum tulang belakang untuk


membuatnya tetap berjalan dengan normal.


 


 


Aku menunduk dan melihat wajahnya, dengan senyum


ironis ku. "Dokter bedah tidak mau melakukan operasi yang membahayakan


nyawamu. Besok aku akan mencari pencangkokan sumsum tulang belakang buat kamu,


karena jantung mu sudah tidak parah dan berat badan mu sudah normal walau kamu


masih kurus."


 


 


Alat bantu napas Rita berbunyi, sepertinya istriku


menghela napas. "Aku tadi mencoba apakah bisa atau tidak itu saja. Aku


tidak menyuruh mu memaksa melakukan hal yang membuat mu stress."


 


 


"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang membuat kesehatan


mu menurun. Kamu tidak ingin operasinya di tunda, kan?"


 


 


Aku tersenyum sambil melihat ke jendela, aku menikmati


bahwa Rita sudah berpikir kalau aku menikmati gagasan ini. Ketika aku mengelap


wajah Rita, ia sedang menatapku dengan penuh senyum. Tapi, begitu pandangan


kami beradu, dia tiba-tiba menangis dan aku mengeringkan air matanya yang jatuh


menetes di wajahnya. Rita tiba-tiba kumat, mulutnya seperti orang stroke. Ya


Allah, aku ingin melihat istriku tersenyum bukan menangis seperti ini.Posisi


kepala istriku miring, ia menangis menahan sakit di otot dan jantung yang


membuat dirinya menangis. Rita tidak seperti ini biasanya, sekarang dia


menangis kelelahan dan berhenti untuk bernapas. Aku sangat kebingungan kadang


Ingin mengajak Rita pulang adalah kesimpulan yang sulit, bahkan dokter sudah


menyimpulkan bahwa tidak bisa menolong istriku. Rita adalah seorang wanita yang


giat dia bisa berhitung, membaca Al-Qur'an dan sholat dalam keadaan sakit ia


tetap kerjakan. Tentu sebagai seorang suami aku hanya bisa pasrah karena sifat


Rita yang keras kepala ingin memiliki anak dan mengajar di pondok Yayasan anak


yatim piatu. Pernah saat bulan lalu, dia sudah sehat dan normal minta ke toilet


namun saat kedinginan penyakit syaraf yang satunya muncul, ia membuatku sedih


dan senang. Sedihnya ia tidak mau di bantu jalan ketika penyakitnya kambuh,


istriku berjalan dengan menggigil dan setengah kejang-kejang. Saat aku antar di


kasur dia tiba-tiba kambuh penyakit syarafnya namun dia tidak menangis


sedikitpun sampai akhirnya dia nangis namun masih kuat.


 


 


"Ayah, Bunda kuat kok. Tidak usah bantu


jalan." Aku ingat jelas dia berjalan sambil pegangan tembok menahan kaki


dan tangannya yang gemetar dan mau kejang-kejang. Saat itu dia baring di kasur


dengan badan kejang-kejang dan menggigil lalu mau muntah, dada dan perutnya


gerak-gerak tidak bisa diam.Dia tiba-tiba mulai menggerakkan bibir dan


tangannya, bibirnya merot-merot dan tangannya tremor, istriku mengalami gagal


napas dan mau muntah, dia mengangkat satu kaki dan sesak napas, lalu tangannya


satu kaku dan yang satunya memegang perut karena kesakitan. Dia menggigil dan


kejang-kejang sambil menangis namun tidak mau ke rumah sakit di situlah letak


kekagumanku walau dia kesakitan. Aku mengelus kepalanya dengan pelan karena dia

__ADS_1


kesakitan kakinya yang satu menekuk dan kedua tangannya seperti memegang stang


sepeda atau seperti mengangkat besi sambil menarik napas, perasaan ku campur


aduk melihat istriku yang kritis saat itu. Dia tiba-tiba saja menggigil dan tak


sadarkan diri pada jam malam, aku panik dan memanggil ambulance. Tapi hari ini


ALS sudah tidak kambuh, namun tangannya masih lemas dia menangis kesakitan


karena sesak napas dan dadanya sakit mungkin movemont disorder itu dia


mengalami dystonia. Aku belum dapat hasil lab mengenai kelainan syarafnya jadi


mungkin besok aku akan bawa dia ke malesya atau singapura untuk pengobatan.


 


 


"Holiday," gumamnya, dia merona karena


tanggal itu adalah kelahirannya dan tak di sangka aku mengajaknya pulang


bertepan dengan hari yang ia nanti. Ia sangat menyukai hari ini akan pulang,


namun ia tidak sadar bahwa kami menyuruh istriku pulang bukan karena dia sudah


sembuh melainkan ingin pergi ke luar negeri.


 


 


Sekarang kami sedang mengobrol dengan santai. Namun


istriku tiba-tiba mengangkat tangannya dan memegang pegangan di kasur. Aku


cepat-cepat membantunya. Aku membantu Rita berjalan menggunakan tongkat kruk


nya, tapi Rita malah menggigil dan kejang-kejang tangannya kaku lagi saat aku


sedang mengelus istriku suster datang membawa vitamin, baskom berisi air dan


tali pengikat. Rita menjerit kesakitan, badannya gemetar dan kejang-kejang


dengan di ikuti gerakan kaki yang tersentak.


 


 


"Kamu belum sembuh, jangan bergerak dulu. Aku


akan menyeka badan mu." Kataku marah karena istriku nekat mau jalan-jalan,


badannya belum sembuh dari penyakit. Aku mengelap dengan pelan-pelan bagian


tangan dan kakinya, lalu ku ganti dengan air baru yang ada di keran kamar


mandi.


 


 


Ia menjawab dengan suara hatinya, aku sudah memasang


pembaca isi pikirannya. "Ke taman rumah sakit, besok kan hari terakhir di


sini."


 


 


"Penyakitmu belum sembuh betul. Aku kan sudah


berjanji nanti malam akan mengajak mu jalan-jalan keliling rumah sakit. Pikir


mu aku akan tega membiarkan istriku yang sakit berjalan sendirian tanpa


pengawasan ku?" Aku kesal dan bertanya dengan nada emosi, sebenarnya aku


juga tidak tega mau bagaimana lagi istriku nekat mau jalan-jalan.


 


 


"Memangnya kenapa? Apakah kamu ingin aku tidak


sembuh-sembuh?" keluhnya sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.


 


 


Rita terbaring dengan meringis dan matanya


berkedip-kedip terus menerus serta otot pipinya berkedut-kedut tanpa henti. Aku


dan Rita sudah tidak saling marah lagi. Kami sudah bisa saling mengerti, emosi


ini muncul bukan karena benci namun karena saling mencintai dan mendukung satu


sama lainnya. Hanya berbaring dengan badan kejang-kejang yang ia bisa lakukan,


aku ingin menolongnya takut terjadi sesuatu padanya.


 


 


"Nanti malam tantemu datang membawamu


jalan-jalan, ibu angkatmu juga akan menemani mu." Sekarang aku mengelus


dadanya karena dia masih kesakitan. Dia membuka matanya sedikit demi sedikit,


aku menyeka kepalanya. Istriku masih belum sadar diri, ia kejang-kejang setiap detik.


Kalaupun ia belum sadar sampai saat ini, aku akan membayar pilot untuk


mengemudikan helikopter untuk pergi ke Malesia atau Singapore karena kondisinya


semakin memburuk semenjak bekas di operasi. Aku di ceritakan oleh ibu


angkatnya, saat berusia sembilan belas tahun Rita semakin melemah dan mengalami


dystonia sampai gagal napas, ia menangis kesakitan dan memanggil ibu


kandungnya. Dan di kirimkan rekaman Video saat Rita kritis, saat itu ia


memegang dadanya dan sambil kejang-kejang. Betapa mengerikan dan sedih,


perasaan ku waktu aku selesai mengadakan acara pernikahan. Ibu angkatnya


bilang, aku harus terlihat ceria jangan timbulkan wajah sedih karena Rita


sensitif kalau terkejut sedikit jantungnya kumat dan penyakit syarafnya juga


datang menghajar tubuh mungil Rita.


 


 


"Sakit-Sakit," Rita teriak dalam keadaan


menggigil, beberapa saat penyakitnya berhenti ia bernapas lalu aku mengelus


dada dan kepalanya. ECG berbunyi tidak teratur dan istriku semakin kencang


kejang-kejang. Lalu aku akhirnya menyuntik obat anti kejang-kejang namun obat


itu tidak mumpan, dia menangis karena kelelahan dan mengalami mati rasa di


leher dan pipi kanannya.


 


 


"Sesak napas mas, aku mau mati rasanya. Tolong


aku," gerutunya.


 


 


"Sayang, jangan takut. Kamu harus tarik napas.


Apakah dadamu sakit?" aku hanya bisa menenagkannya. Lalu aku menyedot air


liur di slang yang terhubung di leher.


 


 


"Aku capek sekali, kaki dan tangan sakit seperti


di setrum." Rita baring sebentar-bentar kayang, karena tubunya yang lumpuh


susah untuk menghentikan kejang-kejang. Udara di ruang ICU semakin dingin, Rita


semakin parah penyakitnya, dan ia tidak memakai jaket yang aku pakaikan


kemarin.


 


 


Aku memakaikan selimut dari rumah sakit yang tebal dan


mematikan AC karena cuaca di luar dingin dan hujan deras. "Aku akan


mengompresmu, Rita."


 


 


Ia masih kejang-kejang belum bisa menjawab


perkataanku. Aku melihat dia menggerakan tangan dan kaki dengan wajah yang


sedih, dia berusaha keras walau tubuhnya masih kejang-kejang. Ia bernapas


sebentar setelah kejang-kejangnya tidak separah seperti tadi.


 


 


"Sudah hangatkan. Ku pijit kaki mamah, supaya


bisa bernapas." Aku menekuk kakinya dengan perlahan dan memijatnya.


 


 


Ia mencoba menahan sakit ketika aku gerakkan kakinya


secara perlahan-lahan. Usaha untuk menahan sakit tidak berhasil, istriku bola


matanya memutih lagi dan bibirnya merot-merot.


 


 


"Pelan-pelan, kaki dan tanganku sakit


sekali," katanya sambil menangis.


 


 


Aku mengangguk namun tak bersuara. Dan aku memijat


tangannya dan menggerakkan tangannya dengan pelan-pelan lalu aku pijat bagian


jari-jari tangannya. Aku setelah memijatnya, menyetel murotal di laptopnya, ia


melihatku menekan tombol dengan remot ---wajahnya sangat gembira ketika aku


membuka Murotal di laptopnya----ia terharu ketika aku menyetel surat tentang


pernikahan, dan ia mengungkapkan isi pikiran dan hatinya.


 


 


"Surat An-Nisa ayat 1?" tanyanya.


 


 


Karena aku terkejut begitu menyetel suart An-Nisa ayat 1 kesukaanku.


 


 


"Aku selalu mendengarnya ketika aku berusia


delapan belas tahun," jawabnya. "Saat aku koma, aku mendengar suara


ibuku membaca surat ini. Ibu angkatku membaca ini setiap pagi hingga malam


beserta artinya lalu dia menceritakan kisah percintaan yang bahagia ketika


menemukanku."


 


 


"Aku membaca ini saat usia 19 saat itu aku selalu


bertanya ke ustadz, apa arti surat ini secara rinci karena aku sering membaca


ayat ini saat melihat dirimu di rumah sakit." Aku mengelus tangan istriku,


jawabannya ada di kamu sayang. Sejak kita bertemu saat usia muda di rumahmu dan


saat di rumah sakit usia remaja mau dewasa. Kamu adalah jodohku, bukan karena


aku mengagumi kecantikanmu, tapi aku mengagumi kesabaran hatimu dan


kepintaranmu saat menghadapi ujian hidup yang menyakitkan.


 


 


Ia mendengarkan ayat 1 surat An-Nisa dengan mata


tertutup dan menghayati dengan santai sambil menangis. Ia begitu damai, tenang,


dan sedih karena kebahagiaan bercampur dengan kesusahan yang kami jalani


bersama. Kondisi yang dingin ini membuat Rita sedih dengan badan yang sakit dan


lemas. Ia mulai menyadari kalau aku memijat kakinya, mungkin saja dia merasakan


pijatanku ini membuatnya kesakitan. Aku jadi ingat begitu banyak ujian yang


kami hadapi, namun kami masih bisa tenang dalam kehidupan seperti yang di


ceritakan oleh Guru Ngaji.


 


 


إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ،


وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،


 


 


فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ


السُّخْطُ


 


 


"sesungguhnya pahala yang besar didapatkan


melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah


akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka


Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah


murka kepadanya."[1]


 


 


Allah memberikan kami ujian karena mencintai kami.


Ujian yang aku dan Rita hadapi dari Allah, Sang Pencipta begitu mencintai perjuangan


kami berdua makanya memberi ujian hidup kelak kami bisa bertemu di surga dengan


pakaian ihram. Istriku tidak marah kepada Sang Pencipta Dunia, namun marah


kepada ibunya yang sudah melawan kehendak illahi. Dia pernah berbicara


"hidup itu ada pahit dan manisnya, pahitnya adalah ujian yang belum


terselesaikan datang lagi ujian namun di balik kesabaran ujian ada manisnya


yaitu bisa lahir sampai dewasa dan di adopsi oleh keluarga yang sayang aku,


walau aku cacat." Rita menangis ketika aku tersenyum padanya, mungkin dia


merasa bersalah terhadapku dan takut ketika saat kami mempunyai dua anak namun


dia sudah lelah dan ingin pergi ke surga.


 


 


"Kenapa kamu menangis?" aku bertanya


padanya.


 


 


Rita memandang wajahku, dengan mata yang basah menetes


di wajahnya.


 


 


"Aku sedih karena takut meninggalkanmu selamanya,


terharu karena mendengar ayat ini juga. Antara sedih dan terharu begitu banyak


ujian yang kita lalui bersama dengan sabar sampai sekarang," katanya. Aku


tersenyum dan mengusap rambut istriku. Aku lalu memerhatikan wajahnya ketika ia


mengetik di laptop. "Terlalu banyak manis di kedua orang tua angkatku,


sehingga aku tidak sadar bahwa diriku sedang di uji oleh Allah. Sampai-sampai


aku kelelahan karena bahagia tinggal bersama orang tua angkatku, makanya Allah


menguji aku di usia balita sampai sekarang." Ia berhenti berbicara. Rita


menangis sambil menatap wajahku.


 


 


"Ada apa?" tanyaku heran walau aku tau dia


akan berbicara kalau umurnya sangat pendek, salah satu indikator bahwa dia


sedang kelelahan. Aku berhenti menyeka tangan dan kakinya, dan ia tersadar


bahwa aku ikut sedih ketika Rita sedih. Jam sudah menunjukkan jam siang, aku


ada urusan mendadak. Di luar hujan masih turun deras, ia melihatku pergi ke


luar. Rita hanya melirikku tanpa mengucapkan kata-kata yang ia biasa katakan.


 


 


"Maaf aku tidak bisa membuatkan teh atau kopi,


maaf umurku pendek dan aku harus tiduran supaya bisa menemanimu." Ia


sangat terpukul dengan kondisinya yang semakin memburuk, Rita tidak menyangka


operasinya akan gagal.


 


 


"Tidak perlu minta maaf, aku tahu kamu sakit dan


aku mengerti kok. Aku menikah denganmu itu sudah membuatku senang, tidak perlu


mencemaskan aku yang lelah harus minum teh atau kopi supaya tenang. Jika kamu


sudah membaik dan berat badanmu sudah normal, itu sudah membuatku senang."


 


 


Aku dengan terus terang dan nada yang halus serta


sopan berbicara dengan Rita. Istriku tertawa dan tersenyum senang.


 


 


"Kamu kenapa masih menangis?" tanyaku sangat


sedih melihat ia masih belum berhenti menangis.


 


 


"Aku telah mengalami koma dan mati suri, serta


aku telah melalui masa kritis berlalu. Aku takut tidak bisa bangun


selamanya," katanya. Ia menangis, lalu menghela napas. Penyakit Distonianya


kambuh lagi dan membuat dadanya sakit. Dia menangis sakit dan tidak bisa


bernapas. Ku elus dadanya supaya bisa bernapas, ku kasih minyak kayu putih dan


ku minumkan obat kejang-kejang. Ya Allah, aku tidak tahan melihat Rita seperti


ini. Dia mengalami masa yang sulit sehingga membuat bibirnya merot-merot dan


tubuhnya kejang-kejang. Rita kamu harus sabar ya, besok kita akan pulang dan


membeli tiket ke luar negeri untuk operasi. Aku mengucapkan di dalam hatiku


yang dalam. Tangan istriku yang satu mengepal dan yang satu seperti memegang


sesuatu, tidak bisa di luruskan. Kaki Rita juga kaku, ku pijat pelan-pelan


pakai lotion supaya dia tidak mengalami kelumpuhan lagi. "Sakit mas, aku


ga bisa napas. Bibir dan tanganku sakit. Kakiku juga."Ia menangis dan


mengambil napas sebentar. "Aku belum mau mati mas, tolong aku."


 


 


Aku menenagkan istriku dan membimbingnya membaca


istifar.


 


 


"Sebutkan Astaghfirullah, sayang. Istifar terus

__ADS_1


tarik nafas."


 


 


Ia mengetik di laptop sambil melatih emosinya lagi;


mata istriku berair dan dia kembali tersenyum meski belum berhenti dystonianya.


 


 


Ia berhenti sangat lama untuk menormalkan emosinya.


 


 


"Astaghfirullah Hal Adzim, Allahu Akbar."


Akhirnya Rita bisa menulis kalimat dzikir dengan pelan-pelan dan emosinya sudah


tenang. Elektro Cardio Gram sudah berbunyi pelan, aku sudah tenang dan bisa


tidur, istriku sekarang jantungnya sudah normal. Syukurlah, meskipun dia masih


kejang-kejang karena dystonia keadaannya tenang. Leher dan pipi Rita masih


kejang-kejang, namun ia dapat tidur dan mengambil napas dengan benar. Slang di


leher masih belum ku pasang karena lagi di bersihkan suster di kamar mandi,


istriku memakai masker oksigen untuk bernapas. Aku tak habis pikir tubuh


istriku seperti mesin di perbaiki, dada, leher, tangan, dan kaki terpasang alat


medis rumah sakit. Ia membuka mata sebentar untuk mengatur napas, lalu


memejamkan matanya. Aku melihat istriku sekarang tidur dengan keadaan yang


lemah, dystonianya semakin parah.


 


 


"Ada yang sakit sayang?" tanyaku.


 


 


"Aku sudah tidak apa-apa, jangan cemas." Ia


menggunakan suara hati dan pikirannya dengan di barengi senyuman manisnya.


 


 


"Kau sungguh kuat sayang. Aku jadi sedikit sedih


melihatmu begitu," ujarku, kagum.


 


 


"Kita mau pergi kemana?" Masih dengan suara


hatinya, namun sekarang dystonianya semakin parah dan ia meneteskan air mata


dengan sedikit senyum.


 


 


"Jangan malu untuk bersikap lemah sayang, namun


juga jangan terlalu lemah. Kalau ada yang sakit, bilang ke aku. Jangan di


tutupi, kamu masih belum sembuh, masih setengah energimu." Aku


menasihatinya dengan nada sedih yang muncul secara spontan.


 


 


"A-pa... ta... ok... be...ar... lang...?"


tanyanya dengan nada tidak jelas. Dia berusaha menggerakan mulut untuk terapi


bicara dan berbicara apakah besok ia boleh pulang. "Ma... ih...


u..dah...ma-u... mem-bu-at-ku... ba-ha-gia." Ucapan terima kasihnya yang


terbata-bata membuatku menusuk jantungku seakan aku ini lemah tak bisa menolong


istriku yang sakit.


 


 


"Aku akan membuat suprise untukmu. Suprise kamu


sudah boleh pulang dan hadiah ulang tahunmu. Apa kamu senang?"


 


 


"Se-nang... se-ka-li..." Syukurlah dia


senang dengan ucapannya.


 


 


"Nanti malam mau jalan-jalan kemana?"


 


 


Aku mengabaikan pertanyaan yang pertama dan


melanjutkan menanyakan rencana malam mau pergi kemana? "Masih ada yang


ingin di bicarakan?" Aku mengangkat alis mata dan tersenyum ke istriku.


 


 


Ia memejamkan mata, mungkin berpikir apakah aku


bercanda atau serius. Ia menarik napas. "Ka-mu... ti-dak... ma-in ...


de-ngan... u-yap-an... ang... ka-mu... u-cap... kan." Dia begitu


mempercayai ucapanku, aku tidak main dengan ucapanku emang benar, namun di


balik suprise ada sesuatu yang ku sembunyikan. Kemarin aku ingin izin dengan


ayah angkat dan kandungnya namun belum sempat.


 


 


"Apakah kau curiga aku menyembunyikan sesuatu


lagi darimu?" Aku tidak bisa menahan wajah ceria karena istriku curiga,


antara jujur atau tidak membuatku bingung dan sedih.


 


 


"Ti.. dak... a-ku... per-ca-ya..." ia


berbicara dengan menarik napas. Aku senyum karena istriku percaya.


 


 


"A-pa-kah... ka-mu... ma-u... te-rus...


te-rang... de-ngan..a-ku?" Ia bertanya untuk membuatku terpancing, namun


aku bisa menahan emosi dan menjaga rahasia Pak Yudi dan mertuaku.


"Pas-ti... ka-mu... me-nyem-bu-nyi-kan... se-su-a-tu... da-ri-ku?"


 


 


Aku tersenyum karena Rita selalu menanyakan hal yang


aneh-aneh. "Apakah aku terlihat seperti menipu dirimu?"


 


 


"Tidak, kau adalah suami yang ku percaya."


Suara hatinya berbunyi karena dia kejang-kejang lagi.


 


 


"Terima kasih sudah percaya."


 


 


Ia melihat dengan serius. "Apakah ayahku kritis


sehingga kamu mengizinkan aku pulang?"


 


 


"Mereka sudah membaik, sebaiknya kamu pergi


tidur."


 


 


"Maaf buat kamu khawatir tentang


penyakitku."


 


 


"Aku bacakan surat Al-Kahfi ayat satu sampai


sepulu, ya?"


 


 


Kaki Rita masih kaku dan mungkin dengan membaca surat


Al-Kahfi dia bisa tenang.


 


 


"Ma-ka-sih... su-dah... ba-ca-kan...


Al-Kah-fi," ucapnya dengan nada putus-putus. Rita mengalami conversion


disorder tubuhnya kejang-kejang lagi, dengan cepat sampai jantung dan


pernapasannya kritis. Kepalanya mendongak ke atas, dari kepala sampai kaki


mengalami kejang-kejang, aku yang melihat dia menangis kesakitan mengelus


kepalanya. Saat kejang-kejangnya berhenti dia mengambil napas dan menangis


kesakitan.


 


 


"Kau masih saki, istirahatlah." Aku


mengompres keningnya dengan handuk kecil. Dia masih belum pulih dengan


kejang-kejangnya. Saat selesai bernapas dia mengalami kejang-kejang susulan


lagi. Sebentar dia menarik napas dengan membuka mulut pelan-pelan tubuhnya


sudah kejang-kejang lagi. Dia bernapas dan kejang-kejang dengan pelan, namun


kejang-kejang istriku semakin cepat dan membuat kritis paru-paru dan


jantungnya. Dia menenagkan dirinya namun mulai kejang-kejang tanpa henti


setelah kejang-kejang berhenti dia menarik napas namun mengalami gagal napas


sehingga kelelahan dan tidak bisa merespon aku, saat kening Rita di elus-elus.


Rita kembali kejang-kejang namun tidak sebantar tadi, dia memejamkan mata untuk


istirahat saat dia menarik napas menggunakan mulut, kejang-kejang Rita mulai


kencang lalu aku pijat tangannya. Kejang-kejang rita berhenti dia tidur dengan


nyenyak dan istriku membuka mata. "Tenangkan dirimu sayang, jangan


menangis."


 


 


"Baru pertama kali mengalami kejang-kejang saat


sadar, Mas. Lelah sekali."


 


 


"Tenang ya, jangan banyak bicara nanti kambuh


lagi."


 


 


"Kakiku tremor mas, sakit sekali." Kaki Rita


mengalami tremor tiba-tiba, Ya Allah aku mohon tolong jangan uji Rita seperti


ini. Aku mohon jangan pisahkan kami selamanya. Aku berdoa sambil memijat Kaki


istrikuyang tremors. Saat Rita menutup matanya seizure di matanya mulai membuat


dia kritis dan kelelahan, dia memegang besi di kasur dan membuat dia


kejang-kejang seketika. Rita menangis kesakitan dan ia kembali kejang-kejang


dengan cepat jantung dan paru-parunya semakin parah. Istriku menangis ketika


kejang-kejangnya semakin kuatsaat berhenti dia menangis nyaring kesakitan , aku


yang ada di dekatnya mengelus dadanya namun kejang-kejangnya kembali dengan


cepat dan ia menangis kesakitan lalu ia membuka mulutnya karena susah bernapas.


Aku mengelus tangannya dan melihat jam di tanganku.


 


 


"Aku di sini sayang, jangan nangis dan cemas.


Kamu harus tenang dan tarik napas."


 


 


"Lelah, aku tidak tahan lagi. Tolong aku mas, aku


tidak bisa bernapas dan seperti mendekati ajal." Rita berbicara


terbata-bata dengan bernapas saat tremor dan seizure masih berlangsung. Dia


menangis kesakitan sambil kejang-kejang.


 


 


"Istirahat ya supaya tidak kesakitan, sebentar


lagi suster akan memasang alat pernapasan trakea." Aku tersenyum pada


istriku namun hatiku sedih dan hancur melihat istriku kembali kritis dan bahkan


setengah sadar.


 


 


"Aku benar-benar kesakitan di seluruh tubuhku dan


dadaku sesak." Ia kembali berbicara lewat pembaca pikiran yang aku pesan


untuk di pasang di laptop. Ia kembali menangis karena kejang-kejang mulai


banter.


 


 


Aku tersenyu sambil mengusap air mataku. Tawaku hanya


pura-pura supaya istriku tidak sekarat, dia tidak bisa melihat orang lain sedih


atau mendengar berita yang mengejutkan.


 


 


"Besok adalah hari spesialmu yang pertama dan


malam ini adalah pembukaannya." Aku memandangi hujan lewat jendela, cuaca


sangat dingin dan Rita kritis.


 


 


"Apakah nanti malam kamu ikut?"


 


 


"Nanti malam ada rapat, aku dan steven akan


membahas masalah lain dan setelah rapat aku akan meminta izin ayah Yudi dan


ayah kandungmu untuk mengizinkan aku membawamu pulang."


 


 


"Apakah harus meminta izin?" Rita tiba-tiba


bertanya apakah aku harus meminta izin, aku tersenyum dan menjawabnya.


 


 


"Kamu anak angkat kesayangan Pak Yudi dan kamu


anak perempuan yang di sayangi oleh Pak Ruslan. Kalau ada masalah mereka akan


sedih, jadi aku meminta izin terhadap Ayah angkat dan kandungmu."


 


 


Dia tersenyum. Satu menit kemudian Suster selesai


membersihkan slang dan memasannya ke leher Rita. Ventilator ini adalah


penyambung hidup Rita, tanpa alat ini istriku akan mati kesakitan karena


mengalami serangan jantung dan sesak napas yang menyakitkan.


 


 


"Semoga rapatnya lancar dan besok kita sudah bisa


pulang." Ia berusaha tersenyum dengan badannya yang kembali kejang-kejang


sambil menutup mata namun matanya tiba-tiba kedutan saat dia memejamkan matanya


dan suara alat pernapasan terdengar kencang di barengi dengan suara ECG yang


sangat kencang. Istriku membuka matanya mengatur pernapasan nya dan emosi.


Dadanya naik turun karena conversion disorder yang ia alami membuatnya gagal


napas.


 


 


"Maukah kau melakukan ssesuatu untukku besok


pagi?" Aku menatap istriku, mengelus kepalanya dan mencium keningnya


dengan ciuman yang romantis. Ku kecup kening Rita sangat lama.


 


 


Ia mengedipkan matanya.


 


 


"Malam ini kau harus menjaga kesehatanmu dan


pakailah jaketmu. Cuaca dingin, suhu badanmu masih tinggi. Besok kamu harus


banyak makan setelah sampai di rumah." Aku mencium keningnya lagi dengan


ciuman yang lembut dan lama.


 


 


"Akan ku usahakan dan aku akan makan banyak besok


pagi. Aku akan menjaga jantung dan paru-paruku kuat," Ujarnya dengan


tersenyum lembut.


 


 


Ia tersenyum ketika aku melepas ciuman dan pergi


keluar untuk sholat Dzuhur. Ia ku tinggalkan sendirian di ICU---matanya masih


menatapku sangat lama dan ia memejamkan matanya. Aku membalas senyuman ketika


menutup pintu ruang ICU.


 

__ADS_1


 


Aku membalas senyuman ketika menutup pintu ruang ICU


__ADS_2