
"Suamiku Audrey, kau tahu betapa sedihnya aku menghadapi penyakit mematikan yang terus menerus menghantui diriku. Pikiran ku terus berpacu bagaikan mesin yang sedang sibuk untuk mengurus pesanan, lalu karatan karena tak dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya mampu di lakukan. Kehidupan ku cuma duduk di kursi roda atau tiduran saja? Aku sudah lupa dengan bagaimana aku membaca dan menulis pakai tangan; sekarang anak angkat yang aku cintai menderita penyakit ALS yang sama seperti ku dan aku kebingungan karena tak bisa menolongnya. Dan kau malah menyuruh ku tenang,apakah aku bisa tidur tenang ?sementara Ayah kandung Rita dan Rita masih lemas dan kritis sama seperti ku ini. Nah antarkan aku ke ruang dadaku mulai sakit."
Langkah yang sangat ramai terdengar dari ruang
seberang , dan beberapa petugas medis sedang membawa seorang perempuan yang
kritis dengan perut membesar melewati kami; Perempuan itu dengan tidur kayang
dan tubuhnya kaku, ECG berbunyi tidak teratur menandakan detak jantung Aisyah
kritis. Sambil bicara aku melihat Aisyah yang di pacu jantungnya menggunakan
tangan suster, namun aku segera masuk ke ruang ICU takut ayah Yudi berpikir
negatif tentang anak angkatnya.
Ia berusaha menahan sakit yang ia rasakan dan
tersenyum ramah padaku. Aku membuka pintu dan masuk ke ruang untuk mengantar
Ayah Yudi. "Nah, kita sudah sampai ayah. Ayah istirahat dan jangan lupa
berdoa untuk kesembuhan Rita."
Matanya basah dan melihat ke arah ku. Bahasa tubuh
Ayah Yudi menandakan ia masih cemas memikirkan Rita yang semakin parah.
"Saya berterima kasih karena nak Audrey selalu
sabar merawat Rita yang sakit-sakittan." Ia sangat pengertian dengan Rita
dan diriku, bahkan dia tidak sungkan mengucapkan terima kasih kepadaku karena
anak angkatnya sudah ku rawat dengan baik.
Kali ini aku untuk lebih banyak merawat orang yang ku
cintai. Pak Yudi masih duduk di kursi roda membaca buku-buku kantornya.
"Kalau begitu, biar tidak susah membaca buku.
Audrey taruh ayah di kasur ya." Aku menggunakan alat mengangkut orang yang
digunakan rumah sakit. Tubuh Ayah Yudi kini semakin mengurus karena penyakit
ALS. Tubuh ayah Yudi akan seperti Pak Ruslan terus menerus kurus. Besok Ayah
angkat Rita akan operasi jantung untuk pertama, jantungnya akan di gantikan
dengan jantung pencangkokan dan akan di bersihkan paru-paru nya.
"Ayah sekarang ada suster, nanti ayah kalau ada
apa-apa bilang ke Audrey saja. Asalamu Alaikum, aku pamit menjenguk Rita."
Aku melihat ayah untuk terakhir karena besok akan di operasi. Ujian datang
setiap hari bagaikan jerawat yang tumbuh satu persatu, letak kesabaran ada di
dada kita bagaimana kita dapat bertahan dengan situasi yang mudah sampai yang
ter-sulit. Semakin pandai kita dalam menghadapi ujian, maka ujian itu semakin
sulit buat kita dan di situ ada hikmahnya. Perasaan senang, sedih, cemas dan
duka menyelimuti diriku karena Ayah kandung Rita tidak berhasil ku tolong dan
penyakitnya sudah parah kalau di operasi. Dia kemarin sempat menatap ku dengan
sedih karena meninggalkan anak semata wayang nya, dia berpesan untuk menjaga
Rita dan ayah angkatnya ketika dia sudah meninggal.
"KENAPA? ADA Apa?" Aku bertanya nyaring pada
suster yang masuk ke ruang Rita.
"Nona Rita sempat tidak sadarkan diri setelah
kejang-kejang dan mengalami gagal napas." Aku menuju ke arah Istriku dia
terbaring dengan mata tertutup dan telanjang separuh karena habis di kejut
dadanya untuk membuat detak jantung kembali.
Ia masih belum me-respon-ku ketika tangannya ku pegang
dan kakinya ku sentuh, tapi aku tak akan menyerah ku panggil namanya dan ku
bacakan doa supaya dia merespon. "Rita, sadar sayang. Kamu jangan tidur
seperti ini. Aku kangen sama senyum yang biasa kamu tunjukkan ke aku." Ku
kasih obat yang sudah di blender dan di aduk bersama obat-obat lain melalui
slang di lehernya dengan jarum suntik. Ku bersihkan liur yang ada di mulutnya
menggunakan alat penyedot liur.
Ini sama sekali membuatku cemas; kondisinya memang
lemah, dan kejang-kejang yang di alami akibat penyakit ALS dan syaraf lainnya.
Rita tidur dengan mata tidak bisa terpejam dan kepalanya di pasang alat ketik
untuk mengetik laptop dengan menggunakan gerakan otot wajah dan matanya.
Jantung dan syaraf Rita yang kritis selalu membuatnya koma dan kesakitan. Aku
bacakan doa sekali lagi.
للهُ لَا اِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا
تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهٗ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهٖ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ
أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهٖ إِلَّا
بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهٗ
حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Arti Ayat Kursi:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak
mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada
yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui
apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi
Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Ia mendengar aku membacakan Ayat kursi, tangannya
bergerak-gerak dan ia mulai membuka matanya.
"Suster?" aku memanggil suster yang merawat
istriku.
"Ya?" Rita mengedipkan mata dan
kejang-kejang saat pertama kali sadar.
"Coba bersihkan slang di lehernya, mungkin dia
susah napas. Dia kejang-kejang karena susah napas dan jantungnya kembali
melemah. Saya ingin menyuapkan dia makanan, apakah anda bisa menyedot liur yang
menyangkut di slang?" Aku berkata pelan dan lemah lembut karena di ruang
ICU dan tak ingin membuat Rita semakin parah. Suster memasang masker oksigen di
wajahnya, kemudian istriku slang yang terpasang di lehernya di copot dan di
bersihkan. Istriku masih kejang-kejang seperti ikan yang kepanasan di letakkan
di tanah.
"Sudah saya bersihkan dan pasang sekarang, dia
sudah kembali normal. Apakah anda ingin saya bawakan bubur untuk Nona
Rita?" tanya Suster dengan nada yang sopan. Rita menangis melihat kaki dan
tangannya, aku peluk dia dan ku elus keningnya.
"Tolong ambil kan air hangat juga buat mengompres
tangan dan kakinya!"
"Baik, saya akan mengambil air hangat dan kain
kompres untuk Nona Rita," ucap Suster dan keluar meninggalkan ruang ICU.
Rita kembali dengan kejang-kejang dan jantungnya kembali lemah, aku mengelus
dadanya dan kepalanya supaya tenang.
Saat aku mengelus kepala Rita, dia kejang-kejang
dengan bola mata putih tidak ada pupilnya dalam keadaan tidur, istriku juga
sering mengalami PNE seizure seperti ayah kandungnya. Ketika dia gelisah.
"Sayang, tenang aku di sini." Ia kesakitan
dan kelelahan, jantungnya juga lemah. Aku hanya bisa mengelus ketika dia
kesakitan. Aku menghela napas dan mengelus, melihat Rita selalu mengalami
myoclonus dan PNE.
"Sayang, biarkan pergi penyakitnya. Tenang, tarik
napas." Rita masih kejang-kejang, aku letakkan bantal di antara paha atas
dan bawah. Dia memejamkan mata, namun conversion disorder yang ia alami tak
kunjung sembuh. Ya, Allah aku harus gimana? istriku mengalami. Ia menangis dan
tidak bisa mengetik karena kejang-kejang terus, dia kritis.
"Apa kau bisa bernapas sayang, atau aku perlu
izin untuk besok supaya menunda proses bayi tabung?" Karena sekarang aku
hanya bisa membuat dia tidak kesakitan, aku memijat kepalanya. Dia membuka
mulutnya untuk bernapas ketika kejang-kejang karena syaraf otaknya sudah rusak.
Rita bahunya kejang-kejang, dia semakin parah. Sebelum Rita jantungnya
berhenti, aku memberikan obat dari dokter.
"Aku sudah bisa bernapas, jangan cemas."
Ia mengetik dengan pipinya, ketikan itu berisi tentang
penjualan Ibu angkatnya yang berupa jahitan sarung kasur dan baju. Aku
membantunya membacakan dokumen harga-harga tas yang ia ketik, badannya yang
agak kurus tak membuat dia patah semangat. Ia memejamkan mata karena dadanya
terasa sakit yang membuat dadanya terasa seperti ada jarum atau karet yang
mengikat di organ jantungnya. Ia tersenyum senang bisa mengirim email dengan
tehnologi khusus difabel penderita syaraf--pertama kalinya ia menggunakan alat
yang kubelikan---laptop khusus penderita difabel yang ia gunakan.
"Aku bersyukur masih bisa hidup, terima kasih
sudah sabar merawat aku yang cacat." Katanya dengan sebuah ketikan di
laptop. "Maaf, saat pengajian aku tiba-tiba kambuh dan tak sadarkan
diri."
"Aku menolongmu dengan ikhlas, kau adalah belahan
jiwaku. Mana mungkin aku tega membuang mu dalam keadaan seperti ini, aku masih
punya hati nurani dan kasih sayang." Aku mengelus kepalanya dan menyuap kan
vitamin melalui slang di lehernya. Sekarang ia tidak harus menggunakan slang di
hidung.
"Jadi besok aku boleh pulang, nggak? Maksudku
hari minggu atau sabtu ini?" Ia menatap ku penuh harap kalau aku menjawab
Ya. Rita tiba-tiba menoleh ke sebelah kanan dengan kepala posisi miring dan
matanya seperti melihat sesuatu, ia kejang-kejang dan mengalami gagal napas.
Tapi ia sudah sadar dengan cepat, ketika aku mau menyedot air liur nya.
"Sebenarnya kamu sedang mengetik apa?" aku
masih menatap wajahnya yang pucat, dan ku elus kening nya.
"Aku sedang mengetik operasi jantung dengan
bersamaan operasi syaraf bisa di lakukan bersama-sama atau tidak." Ia
melihat wajah ku yang tiba-tiba terkejut, aku langsung memejamkan mata dan menahan
betapa keras kepalanya Rita. Dia tidak bisa operasi begitu saja, namun mungkin
operasi syaraf masih bisa di cegah atau donor sumsum tulang belakang untuk
membuatnya tetap berjalan dengan normal.
Aku menunduk dan melihat wajahnya, dengan senyum
ironis ku. "Dokter bedah tidak mau melakukan operasi yang membahayakan
nyawamu. Besok aku akan mencari pencangkokan sumsum tulang belakang buat kamu,
karena jantung mu sudah tidak parah dan berat badan mu sudah normal walau kamu
masih kurus."
Alat bantu napas Rita berbunyi, sepertinya istriku
menghela napas. "Aku tadi mencoba apakah bisa atau tidak itu saja. Aku
tidak menyuruh mu memaksa melakukan hal yang membuat mu stress."
"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang membuat kesehatan
mu menurun. Kamu tidak ingin operasinya di tunda, kan?"
Aku tersenyum sambil melihat ke jendela, aku menikmati
bahwa Rita sudah berpikir kalau aku menikmati gagasan ini. Ketika aku mengelap
wajah Rita, ia sedang menatapku dengan penuh senyum. Tapi, begitu pandangan
kami beradu, dia tiba-tiba menangis dan aku mengeringkan air matanya yang jatuh
menetes di wajahnya. Rita tiba-tiba kumat, mulutnya seperti orang stroke. Ya
Allah, aku ingin melihat istriku tersenyum bukan menangis seperti ini.Posisi
kepala istriku miring, ia menangis menahan sakit di otot dan jantung yang
membuat dirinya menangis. Rita tidak seperti ini biasanya, sekarang dia
menangis kelelahan dan berhenti untuk bernapas. Aku sangat kebingungan kadang
Ingin mengajak Rita pulang adalah kesimpulan yang sulit, bahkan dokter sudah
menyimpulkan bahwa tidak bisa menolong istriku. Rita adalah seorang wanita yang
giat dia bisa berhitung, membaca Al-Qur'an dan sholat dalam keadaan sakit ia
tetap kerjakan. Tentu sebagai seorang suami aku hanya bisa pasrah karena sifat
Rita yang keras kepala ingin memiliki anak dan mengajar di pondok Yayasan anak
yatim piatu. Pernah saat bulan lalu, dia sudah sehat dan normal minta ke toilet
namun saat kedinginan penyakit syaraf yang satunya muncul, ia membuatku sedih
dan senang. Sedihnya ia tidak mau di bantu jalan ketika penyakitnya kambuh,
istriku berjalan dengan menggigil dan setengah kejang-kejang. Saat aku antar di
kasur dia tiba-tiba kambuh penyakit syarafnya namun dia tidak menangis
sedikitpun sampai akhirnya dia nangis namun masih kuat.
"Ayah, Bunda kuat kok. Tidak usah bantu
jalan." Aku ingat jelas dia berjalan sambil pegangan tembok menahan kaki
dan tangannya yang gemetar dan mau kejang-kejang. Saat itu dia baring di kasur
dengan badan kejang-kejang dan menggigil lalu mau muntah, dada dan perutnya
gerak-gerak tidak bisa diam.Dia tiba-tiba mulai menggerakkan bibir dan
tangannya, bibirnya merot-merot dan tangannya tremor, istriku mengalami gagal
napas dan mau muntah, dia mengangkat satu kaki dan sesak napas, lalu tangannya
satu kaku dan yang satunya memegang perut karena kesakitan. Dia menggigil dan
kejang-kejang sambil menangis namun tidak mau ke rumah sakit di situlah letak
kekagumanku walau dia kesakitan. Aku mengelus kepalanya dengan pelan karena dia
__ADS_1
kesakitan kakinya yang satu menekuk dan kedua tangannya seperti memegang stang
sepeda atau seperti mengangkat besi sambil menarik napas, perasaan ku campur
aduk melihat istriku yang kritis saat itu. Dia tiba-tiba saja menggigil dan tak
sadarkan diri pada jam malam, aku panik dan memanggil ambulance. Tapi hari ini
ALS sudah tidak kambuh, namun tangannya masih lemas dia menangis kesakitan
karena sesak napas dan dadanya sakit mungkin movemont disorder itu dia
mengalami dystonia. Aku belum dapat hasil lab mengenai kelainan syarafnya jadi
mungkin besok aku akan bawa dia ke malesya atau singapura untuk pengobatan.
"Holiday," gumamnya, dia merona karena
tanggal itu adalah kelahirannya dan tak di sangka aku mengajaknya pulang
bertepan dengan hari yang ia nanti. Ia sangat menyukai hari ini akan pulang,
namun ia tidak sadar bahwa kami menyuruh istriku pulang bukan karena dia sudah
sembuh melainkan ingin pergi ke luar negeri.
Sekarang kami sedang mengobrol dengan santai. Namun
istriku tiba-tiba mengangkat tangannya dan memegang pegangan di kasur. Aku
cepat-cepat membantunya. Aku membantu Rita berjalan menggunakan tongkat kruk
nya, tapi Rita malah menggigil dan kejang-kejang tangannya kaku lagi saat aku
sedang mengelus istriku suster datang membawa vitamin, baskom berisi air dan
tali pengikat. Rita menjerit kesakitan, badannya gemetar dan kejang-kejang
dengan di ikuti gerakan kaki yang tersentak.
"Kamu belum sembuh, jangan bergerak dulu. Aku
akan menyeka badan mu." Kataku marah karena istriku nekat mau jalan-jalan,
badannya belum sembuh dari penyakit. Aku mengelap dengan pelan-pelan bagian
tangan dan kakinya, lalu ku ganti dengan air baru yang ada di keran kamar
mandi.
Ia menjawab dengan suara hatinya, aku sudah memasang
pembaca isi pikirannya. "Ke taman rumah sakit, besok kan hari terakhir di
sini."
"Penyakitmu belum sembuh betul. Aku kan sudah
berjanji nanti malam akan mengajak mu jalan-jalan keliling rumah sakit. Pikir
mu aku akan tega membiarkan istriku yang sakit berjalan sendirian tanpa
pengawasan ku?" Aku kesal dan bertanya dengan nada emosi, sebenarnya aku
juga tidak tega mau bagaimana lagi istriku nekat mau jalan-jalan.
"Memangnya kenapa? Apakah kamu ingin aku tidak
sembuh-sembuh?" keluhnya sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Rita terbaring dengan meringis dan matanya
berkedip-kedip terus menerus serta otot pipinya berkedut-kedut tanpa henti. Aku
dan Rita sudah tidak saling marah lagi. Kami sudah bisa saling mengerti, emosi
ini muncul bukan karena benci namun karena saling mencintai dan mendukung satu
sama lainnya. Hanya berbaring dengan badan kejang-kejang yang ia bisa lakukan,
aku ingin menolongnya takut terjadi sesuatu padanya.
"Nanti malam tantemu datang membawamu
jalan-jalan, ibu angkatmu juga akan menemani mu." Sekarang aku mengelus
dadanya karena dia masih kesakitan. Dia membuka matanya sedikit demi sedikit,
aku menyeka kepalanya. Istriku masih belum sadar diri, ia kejang-kejang setiap detik.
Kalaupun ia belum sadar sampai saat ini, aku akan membayar pilot untuk
mengemudikan helikopter untuk pergi ke Malesia atau Singapore karena kondisinya
semakin memburuk semenjak bekas di operasi. Aku di ceritakan oleh ibu
angkatnya, saat berusia sembilan belas tahun Rita semakin melemah dan mengalami
dystonia sampai gagal napas, ia menangis kesakitan dan memanggil ibu
kandungnya. Dan di kirimkan rekaman Video saat Rita kritis, saat itu ia
memegang dadanya dan sambil kejang-kejang. Betapa mengerikan dan sedih,
perasaan ku waktu aku selesai mengadakan acara pernikahan. Ibu angkatnya
bilang, aku harus terlihat ceria jangan timbulkan wajah sedih karena Rita
sensitif kalau terkejut sedikit jantungnya kumat dan penyakit syarafnya juga
datang menghajar tubuh mungil Rita.
"Sakit-Sakit," Rita teriak dalam keadaan
menggigil, beberapa saat penyakitnya berhenti ia bernapas lalu aku mengelus
dada dan kepalanya. ECG berbunyi tidak teratur dan istriku semakin kencang
kejang-kejang. Lalu aku akhirnya menyuntik obat anti kejang-kejang namun obat
itu tidak mumpan, dia menangis karena kelelahan dan mengalami mati rasa di
leher dan pipi kanannya.
"Sesak napas mas, aku mau mati rasanya. Tolong
aku," gerutunya.
"Sayang, jangan takut. Kamu harus tarik napas.
Apakah dadamu sakit?" aku hanya bisa menenagkannya. Lalu aku menyedot air
liur di slang yang terhubung di leher.
"Aku capek sekali, kaki dan tangan sakit seperti
di setrum." Rita baring sebentar-bentar kayang, karena tubunya yang lumpuh
susah untuk menghentikan kejang-kejang. Udara di ruang ICU semakin dingin, Rita
semakin parah penyakitnya, dan ia tidak memakai jaket yang aku pakaikan
kemarin.
Aku memakaikan selimut dari rumah sakit yang tebal dan
mematikan AC karena cuaca di luar dingin dan hujan deras. "Aku akan
mengompresmu, Rita."
Ia masih kejang-kejang belum bisa menjawab
perkataanku. Aku melihat dia menggerakan tangan dan kaki dengan wajah yang
sedih, dia berusaha keras walau tubuhnya masih kejang-kejang. Ia bernapas
sebentar setelah kejang-kejangnya tidak separah seperti tadi.
"Sudah hangatkan. Ku pijit kaki mamah, supaya
bisa bernapas." Aku menekuk kakinya dengan perlahan dan memijatnya.
Ia mencoba menahan sakit ketika aku gerakkan kakinya
secara perlahan-lahan. Usaha untuk menahan sakit tidak berhasil, istriku bola
matanya memutih lagi dan bibirnya merot-merot.
"Pelan-pelan, kaki dan tanganku sakit
sekali," katanya sambil menangis.
Aku mengangguk namun tak bersuara. Dan aku memijat
tangannya dan menggerakkan tangannya dengan pelan-pelan lalu aku pijat bagian
jari-jari tangannya. Aku setelah memijatnya, menyetel murotal di laptopnya, ia
melihatku menekan tombol dengan remot ---wajahnya sangat gembira ketika aku
membuka Murotal di laptopnya----ia terharu ketika aku menyetel surat tentang
pernikahan, dan ia mengungkapkan isi pikiran dan hatinya.
"Surat An-Nisa ayat 1?" tanyanya.
Karena aku terkejut begitu menyetel suart An-Nisa ayat 1 kesukaanku.
"Aku selalu mendengarnya ketika aku berusia
delapan belas tahun," jawabnya. "Saat aku koma, aku mendengar suara
ibuku membaca surat ini. Ibu angkatku membaca ini setiap pagi hingga malam
beserta artinya lalu dia menceritakan kisah percintaan yang bahagia ketika
menemukanku."
"Aku membaca ini saat usia 19 saat itu aku selalu
bertanya ke ustadz, apa arti surat ini secara rinci karena aku sering membaca
ayat ini saat melihat dirimu di rumah sakit." Aku mengelus tangan istriku,
jawabannya ada di kamu sayang. Sejak kita bertemu saat usia muda di rumahmu dan
saat di rumah sakit usia remaja mau dewasa. Kamu adalah jodohku, bukan karena
aku mengagumi kecantikanmu, tapi aku mengagumi kesabaran hatimu dan
kepintaranmu saat menghadapi ujian hidup yang menyakitkan.
Ia mendengarkan ayat 1 surat An-Nisa dengan mata
tertutup dan menghayati dengan santai sambil menangis. Ia begitu damai, tenang,
dan sedih karena kebahagiaan bercampur dengan kesusahan yang kami jalani
bersama. Kondisi yang dingin ini membuat Rita sedih dengan badan yang sakit dan
lemas. Ia mulai menyadari kalau aku memijat kakinya, mungkin saja dia merasakan
pijatanku ini membuatnya kesakitan. Aku jadi ingat begitu banyak ujian yang
kami hadapi, namun kami masih bisa tenang dalam kehidupan seperti yang di
ceritakan oleh Guru Ngaji.
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ،
وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ،
فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ
السُّخْطُ
"sesungguhnya pahala yang besar didapatkan
melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah
akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka
Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah
murka kepadanya."[1]
Allah memberikan kami ujian karena mencintai kami.
Ujian yang aku dan Rita hadapi dari Allah, Sang Pencipta begitu mencintai perjuangan
kami berdua makanya memberi ujian hidup kelak kami bisa bertemu di surga dengan
pakaian ihram. Istriku tidak marah kepada Sang Pencipta Dunia, namun marah
kepada ibunya yang sudah melawan kehendak illahi. Dia pernah berbicara
"hidup itu ada pahit dan manisnya, pahitnya adalah ujian yang belum
terselesaikan datang lagi ujian namun di balik kesabaran ujian ada manisnya
yaitu bisa lahir sampai dewasa dan di adopsi oleh keluarga yang sayang aku,
walau aku cacat." Rita menangis ketika aku tersenyum padanya, mungkin dia
merasa bersalah terhadapku dan takut ketika saat kami mempunyai dua anak namun
dia sudah lelah dan ingin pergi ke surga.
"Kenapa kamu menangis?" aku bertanya
padanya.
Rita memandang wajahku, dengan mata yang basah menetes
di wajahnya.
"Aku sedih karena takut meninggalkanmu selamanya,
terharu karena mendengar ayat ini juga. Antara sedih dan terharu begitu banyak
ujian yang kita lalui bersama dengan sabar sampai sekarang," katanya. Aku
tersenyum dan mengusap rambut istriku. Aku lalu memerhatikan wajahnya ketika ia
mengetik di laptop. "Terlalu banyak manis di kedua orang tua angkatku,
sehingga aku tidak sadar bahwa diriku sedang di uji oleh Allah. Sampai-sampai
aku kelelahan karena bahagia tinggal bersama orang tua angkatku, makanya Allah
menguji aku di usia balita sampai sekarang." Ia berhenti berbicara. Rita
menangis sambil menatap wajahku.
"Ada apa?" tanyaku heran walau aku tau dia
akan berbicara kalau umurnya sangat pendek, salah satu indikator bahwa dia
sedang kelelahan. Aku berhenti menyeka tangan dan kakinya, dan ia tersadar
bahwa aku ikut sedih ketika Rita sedih. Jam sudah menunjukkan jam siang, aku
ada urusan mendadak. Di luar hujan masih turun deras, ia melihatku pergi ke
luar. Rita hanya melirikku tanpa mengucapkan kata-kata yang ia biasa katakan.
"Maaf aku tidak bisa membuatkan teh atau kopi,
maaf umurku pendek dan aku harus tiduran supaya bisa menemanimu." Ia
sangat terpukul dengan kondisinya yang semakin memburuk, Rita tidak menyangka
operasinya akan gagal.
"Tidak perlu minta maaf, aku tahu kamu sakit dan
aku mengerti kok. Aku menikah denganmu itu sudah membuatku senang, tidak perlu
mencemaskan aku yang lelah harus minum teh atau kopi supaya tenang. Jika kamu
sudah membaik dan berat badanmu sudah normal, itu sudah membuatku senang."
Aku dengan terus terang dan nada yang halus serta
sopan berbicara dengan Rita. Istriku tertawa dan tersenyum senang.
"Kamu kenapa masih menangis?" tanyaku sangat
sedih melihat ia masih belum berhenti menangis.
"Aku telah mengalami koma dan mati suri, serta
aku telah melalui masa kritis berlalu. Aku takut tidak bisa bangun
selamanya," katanya. Ia menangis, lalu menghela napas. Penyakit Distonianya
kambuh lagi dan membuat dadanya sakit. Dia menangis sakit dan tidak bisa
bernapas. Ku elus dadanya supaya bisa bernapas, ku kasih minyak kayu putih dan
ku minumkan obat kejang-kejang. Ya Allah, aku tidak tahan melihat Rita seperti
ini. Dia mengalami masa yang sulit sehingga membuat bibirnya merot-merot dan
tubuhnya kejang-kejang. Rita kamu harus sabar ya, besok kita akan pulang dan
membeli tiket ke luar negeri untuk operasi. Aku mengucapkan di dalam hatiku
yang dalam. Tangan istriku yang satu mengepal dan yang satu seperti memegang
sesuatu, tidak bisa di luruskan. Kaki Rita juga kaku, ku pijat pelan-pelan
pakai lotion supaya dia tidak mengalami kelumpuhan lagi. "Sakit mas, aku
ga bisa napas. Bibir dan tanganku sakit. Kakiku juga."Ia menangis dan
mengambil napas sebentar. "Aku belum mau mati mas, tolong aku."
Aku menenagkan istriku dan membimbingnya membaca
istifar.
"Sebutkan Astaghfirullah, sayang. Istifar terus
__ADS_1
tarik nafas."
Ia mengetik di laptop sambil melatih emosinya lagi;
mata istriku berair dan dia kembali tersenyum meski belum berhenti dystonianya.
Ia berhenti sangat lama untuk menormalkan emosinya.
"Astaghfirullah Hal Adzim, Allahu Akbar."
Akhirnya Rita bisa menulis kalimat dzikir dengan pelan-pelan dan emosinya sudah
tenang. Elektro Cardio Gram sudah berbunyi pelan, aku sudah tenang dan bisa
tidur, istriku sekarang jantungnya sudah normal. Syukurlah, meskipun dia masih
kejang-kejang karena dystonia keadaannya tenang. Leher dan pipi Rita masih
kejang-kejang, namun ia dapat tidur dan mengambil napas dengan benar. Slang di
leher masih belum ku pasang karena lagi di bersihkan suster di kamar mandi,
istriku memakai masker oksigen untuk bernapas. Aku tak habis pikir tubuh
istriku seperti mesin di perbaiki, dada, leher, tangan, dan kaki terpasang alat
medis rumah sakit. Ia membuka mata sebentar untuk mengatur napas, lalu
memejamkan matanya. Aku melihat istriku sekarang tidur dengan keadaan yang
lemah, dystonianya semakin parah.
"Ada yang sakit sayang?" tanyaku.
"Aku sudah tidak apa-apa, jangan cemas." Ia
menggunakan suara hati dan pikirannya dengan di barengi senyuman manisnya.
"Kau sungguh kuat sayang. Aku jadi sedikit sedih
melihatmu begitu," ujarku, kagum.
"Kita mau pergi kemana?" Masih dengan suara
hatinya, namun sekarang dystonianya semakin parah dan ia meneteskan air mata
dengan sedikit senyum.
"Jangan malu untuk bersikap lemah sayang, namun
juga jangan terlalu lemah. Kalau ada yang sakit, bilang ke aku. Jangan di
tutupi, kamu masih belum sembuh, masih setengah energimu." Aku
menasihatinya dengan nada sedih yang muncul secara spontan.
"A-pa... ta... ok... be...ar... lang...?"
tanyanya dengan nada tidak jelas. Dia berusaha menggerakan mulut untuk terapi
bicara dan berbicara apakah besok ia boleh pulang. "Ma... ih...
u..dah...ma-u... mem-bu-at-ku... ba-ha-gia." Ucapan terima kasihnya yang
terbata-bata membuatku menusuk jantungku seakan aku ini lemah tak bisa menolong
istriku yang sakit.
"Aku akan membuat suprise untukmu. Suprise kamu
sudah boleh pulang dan hadiah ulang tahunmu. Apa kamu senang?"
"Se-nang... se-ka-li..." Syukurlah dia
senang dengan ucapannya.
"Nanti malam mau jalan-jalan kemana?"
Aku mengabaikan pertanyaan yang pertama dan
melanjutkan menanyakan rencana malam mau pergi kemana? "Masih ada yang
ingin di bicarakan?" Aku mengangkat alis mata dan tersenyum ke istriku.
Ia memejamkan mata, mungkin berpikir apakah aku
bercanda atau serius. Ia menarik napas. "Ka-mu... ti-dak... ma-in ...
de-ngan... u-yap-an... ang... ka-mu... u-cap... kan." Dia begitu
mempercayai ucapanku, aku tidak main dengan ucapanku emang benar, namun di
balik suprise ada sesuatu yang ku sembunyikan. Kemarin aku ingin izin dengan
ayah angkat dan kandungnya namun belum sempat.
"Apakah kau curiga aku menyembunyikan sesuatu
lagi darimu?" Aku tidak bisa menahan wajah ceria karena istriku curiga,
antara jujur atau tidak membuatku bingung dan sedih.
"Ti.. dak... a-ku... per-ca-ya..." ia
berbicara dengan menarik napas. Aku senyum karena istriku percaya.
"A-pa-kah... ka-mu... ma-u... te-rus...
te-rang... de-ngan..a-ku?" Ia bertanya untuk membuatku terpancing, namun
aku bisa menahan emosi dan menjaga rahasia Pak Yudi dan mertuaku.
"Pas-ti... ka-mu... me-nyem-bu-nyi-kan... se-su-a-tu... da-ri-ku?"
Aku tersenyum karena Rita selalu menanyakan hal yang
aneh-aneh. "Apakah aku terlihat seperti menipu dirimu?"
"Tidak, kau adalah suami yang ku percaya."
Suara hatinya berbunyi karena dia kejang-kejang lagi.
"Terima kasih sudah percaya."
Ia melihat dengan serius. "Apakah ayahku kritis
sehingga kamu mengizinkan aku pulang?"
"Mereka sudah membaik, sebaiknya kamu pergi
tidur."
"Maaf buat kamu khawatir tentang
penyakitku."
"Aku bacakan surat Al-Kahfi ayat satu sampai
sepulu, ya?"
Kaki Rita masih kaku dan mungkin dengan membaca surat
Al-Kahfi dia bisa tenang.
"Ma-ka-sih... su-dah... ba-ca-kan...
Al-Kah-fi," ucapnya dengan nada putus-putus. Rita mengalami conversion
disorder tubuhnya kejang-kejang lagi, dengan cepat sampai jantung dan
pernapasannya kritis. Kepalanya mendongak ke atas, dari kepala sampai kaki
mengalami kejang-kejang, aku yang melihat dia menangis kesakitan mengelus
kepalanya. Saat kejang-kejangnya berhenti dia mengambil napas dan menangis
kesakitan.
"Kau masih saki, istirahatlah." Aku
mengompres keningnya dengan handuk kecil. Dia masih belum pulih dengan
kejang-kejangnya. Saat selesai bernapas dia mengalami kejang-kejang susulan
lagi. Sebentar dia menarik napas dengan membuka mulut pelan-pelan tubuhnya
sudah kejang-kejang lagi. Dia bernapas dan kejang-kejang dengan pelan, namun
kejang-kejang istriku semakin cepat dan membuat kritis paru-paru dan
jantungnya. Dia menenagkan dirinya namun mulai kejang-kejang tanpa henti
setelah kejang-kejang berhenti dia menarik napas namun mengalami gagal napas
sehingga kelelahan dan tidak bisa merespon aku, saat kening Rita di elus-elus.
Rita kembali kejang-kejang namun tidak sebantar tadi, dia memejamkan mata untuk
istirahat saat dia menarik napas menggunakan mulut, kejang-kejang Rita mulai
kencang lalu aku pijat tangannya. Kejang-kejang rita berhenti dia tidur dengan
nyenyak dan istriku membuka mata. "Tenangkan dirimu sayang, jangan
menangis."
"Baru pertama kali mengalami kejang-kejang saat
sadar, Mas. Lelah sekali."
"Tenang ya, jangan banyak bicara nanti kambuh
lagi."
"Kakiku tremor mas, sakit sekali." Kaki Rita
mengalami tremor tiba-tiba, Ya Allah aku mohon tolong jangan uji Rita seperti
ini. Aku mohon jangan pisahkan kami selamanya. Aku berdoa sambil memijat Kaki
istrikuyang tremors. Saat Rita menutup matanya seizure di matanya mulai membuat
dia kritis dan kelelahan, dia memegang besi di kasur dan membuat dia
kejang-kejang seketika. Rita menangis kesakitan dan ia kembali kejang-kejang
dengan cepat jantung dan paru-parunya semakin parah. Istriku menangis ketika
kejang-kejangnya semakin kuatsaat berhenti dia menangis nyaring kesakitan , aku
yang ada di dekatnya mengelus dadanya namun kejang-kejangnya kembali dengan
cepat dan ia menangis kesakitan lalu ia membuka mulutnya karena susah bernapas.
Aku mengelus tangannya dan melihat jam di tanganku.
"Aku di sini sayang, jangan nangis dan cemas.
Kamu harus tenang dan tarik napas."
"Lelah, aku tidak tahan lagi. Tolong aku mas, aku
tidak bisa bernapas dan seperti mendekati ajal." Rita berbicara
terbata-bata dengan bernapas saat tremor dan seizure masih berlangsung. Dia
menangis kesakitan sambil kejang-kejang.
"Istirahat ya supaya tidak kesakitan, sebentar
lagi suster akan memasang alat pernapasan trakea." Aku tersenyum pada
istriku namun hatiku sedih dan hancur melihat istriku kembali kritis dan bahkan
setengah sadar.
"Aku benar-benar kesakitan di seluruh tubuhku dan
dadaku sesak." Ia kembali berbicara lewat pembaca pikiran yang aku pesan
untuk di pasang di laptop. Ia kembali menangis karena kejang-kejang mulai
banter.
Aku tersenyu sambil mengusap air mataku. Tawaku hanya
pura-pura supaya istriku tidak sekarat, dia tidak bisa melihat orang lain sedih
atau mendengar berita yang mengejutkan.
"Besok adalah hari spesialmu yang pertama dan
malam ini adalah pembukaannya." Aku memandangi hujan lewat jendela, cuaca
sangat dingin dan Rita kritis.
"Apakah nanti malam kamu ikut?"
"Nanti malam ada rapat, aku dan steven akan
membahas masalah lain dan setelah rapat aku akan meminta izin ayah Yudi dan
ayah kandungmu untuk mengizinkan aku membawamu pulang."
"Apakah harus meminta izin?" Rita tiba-tiba
bertanya apakah aku harus meminta izin, aku tersenyum dan menjawabnya.
"Kamu anak angkat kesayangan Pak Yudi dan kamu
anak perempuan yang di sayangi oleh Pak Ruslan. Kalau ada masalah mereka akan
sedih, jadi aku meminta izin terhadap Ayah angkat dan kandungmu."
Dia tersenyum. Satu menit kemudian Suster selesai
membersihkan slang dan memasannya ke leher Rita. Ventilator ini adalah
penyambung hidup Rita, tanpa alat ini istriku akan mati kesakitan karena
mengalami serangan jantung dan sesak napas yang menyakitkan.
"Semoga rapatnya lancar dan besok kita sudah bisa
pulang." Ia berusaha tersenyum dengan badannya yang kembali kejang-kejang
sambil menutup mata namun matanya tiba-tiba kedutan saat dia memejamkan matanya
dan suara alat pernapasan terdengar kencang di barengi dengan suara ECG yang
sangat kencang. Istriku membuka matanya mengatur pernapasan nya dan emosi.
Dadanya naik turun karena conversion disorder yang ia alami membuatnya gagal
napas.
"Maukah kau melakukan ssesuatu untukku besok
pagi?" Aku menatap istriku, mengelus kepalanya dan mencium keningnya
dengan ciuman yang romantis. Ku kecup kening Rita sangat lama.
Ia mengedipkan matanya.
"Malam ini kau harus menjaga kesehatanmu dan
pakailah jaketmu. Cuaca dingin, suhu badanmu masih tinggi. Besok kamu harus
banyak makan setelah sampai di rumah." Aku mencium keningnya lagi dengan
ciuman yang lembut dan lama.
"Akan ku usahakan dan aku akan makan banyak besok
pagi. Aku akan menjaga jantung dan paru-paruku kuat," Ujarnya dengan
tersenyum lembut.
Ia tersenyum ketika aku melepas ciuman dan pergi
keluar untuk sholat Dzuhur. Ia ku tinggalkan sendirian di ICU---matanya masih
menatapku sangat lama dan ia memejamkan matanya. Aku membalas senyuman ketika
menutup pintu ruang ICU.
__ADS_1
Aku membalas senyuman ketika menutup pintu ruang ICU