
Setelah selesai makan siang, Rey menyuruh Aluna untuk ke ruangannya.
Ceklekkk
"Ada apa om?", Aluna langsung masuk kedalam ruangan Rey tanpa mengetuk pintu.
Rey menatap tajam Aluna, "Tidak sopan sekali kamu ini!"
"Hehehe maaf om ganteng", jawab Aluna sambil menyengir.
"Btw, ada apa om manggil Aluna kesini?", Aluna berkedip polos menatap Rey.
"Ck s*al! Kenapa menggemaskan sekali! " Rey mengalihkan pandangannya, ia ingin sekali rasanya mencubit pipi gadis itu yang berada didepannya sekarang.
"Yakk om!!", teriak Aluna. Membuat Rey tersadar dari lamunannya, yang sedari tadi terus menatap gadis itu.
"Berani sekali kau berteriak didepanku!", Jawab Rey dengan nada yang sedikit membentak.
Aluna terkejut, ia langsung menundukkan kepalanya. "M-maaf om", lirih Aluna.
Rey berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati Aluna yang masih menundukkan kepalanya.
"Berani kamu sama saya hm?", Rey mencengkram kuat pipi Aluna, membuat Aluna meringis menahan rasa sakit dipipinya.
"Ingat baik-baik!", menatap tajam Aluna.
"Kamu ini hanya seorang sekretaris, jadi... Jangan pernah kamu melawan saya, camkan itu!", menghempaskan kasar pipi Aluna.
Rey kembali menenggakkan tubuhnya, ia menatap Aluna yang masih menundukkan kepalanya.
"Aluna takut, Aluna gak mau kerja disini "Batin Aluna menahan air matanya yang hampir keluar.
"Karena kamu sudah berani sama saya, mulai hari ini kamu jadi pacar saya!", ucap Rey dingin dan tegas. Membuat Aluna terkejut dan mendongak menatap Rey.
"A-apa, tapi Aluna gak mau", menggelengkan kepalanya menolak.
"Saya tidak mau tau! Mau tidak mau, kamu harus nurut sama saya!", jawab Rey tegas.
"Ishh... Aluna gak mau pacaran sama om!", Aluna mendengus kesal, ia tidak mau berpacaran dengan bosnya yang terkenal arrogant itu.
"Kenapa kamu tidak mau?", Rey mengangkat satu alisnya, pria itu menatap Aluna datar.
"Karena Aluna gak cinta sama om", jawab Aluna.
Rey yang mendengar jawaban Aluna merasa tidak suka dengan ucapan Aluna barusan. "Ada apa denganku? Kenapa aku merasa tidak suka mendengar ucapannya? "
"Ekhmm!"
"Mulai hari ini kamu tinggal bersama saya!"
"Tapi om A--
"Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus tinggal bersama saya!", jawab Rey tegas.
Aluna menghela nafas pasrah. "Baiklah", ucap Aluna tidak bersemangat.
"Ah iya satu lagi!", Aluna mendongak menatap Rey.
"Hari ini kamu resmi menjadi pacar saya, saya tidak menerima penolakan!", Rey menatap tajam Aluna dengan nada dingin dan tegasnya.
"Huwaaa!! Kenapa harus Aluna sih yang terjebak diposisi ini! "Batin Aluna murung, ia benar-benar tidak mau berurusan dengan bosnya itu, tapi kenapa sekarang dia malah harus pacaran dengan Rey, bosnya itu.
"Apa kamu paham?!", tanya Rey dengan nada sedikit membentak.
__ADS_1
"Paham", lirih Aluna.
"Baguslah, nanti malam saya akan menjemput kamu!", ujar Rey yang diangguki oleh Aluna.
"Barang-barang kamu nanti biar orang suruhan saya saja yang membawanya!", ucap Rey dingin, Aluna hanya menganggukkan kepalanya saja, ia hari ini sangat tidak bersemangat untuk menjahili bos dan teman kantornya.
"Apa kau punya mulut hah!"
"Kamu seperti orang bisu saja yang hanya mengangguk-angguk!"
"Kamu menghargai saya tidak?!"
"Kalau kamu menghargai saya, berbicaralah! Jangan hanya menganggukkan kepala!", tanpa sadar Rey membentak keras Aluna dan hal itu membuat Aluna terkejut. Tidak hanya terkejut saja, tetapi Aluna sudah mengeluarkan sedikit air matanya.
"Masih punya mulutkan hm!", Rey mencengkram erat pipi Aluna, tanpa sadar air mata Aluna lolos begitu saja dihadapan Rey.
"M-masih", jawab Aluna gemetar dan takut.
Rey terdiam, ia menatap kedua mata Aluna, "Dia menangis? "
"Kenapa gue gak suka yaa, lihat dia nangis? "
"Apa gue mulai suka sama nih bocah? "
"O-om sakit hikss", Aluna sudah tak tahan dengan cengkraman Rey. Pria itu langsung tersadar, ternyata tangannya masih mencengkram pipi Aluna.
"Ck! Jangan cengeng!", Rey menghempaskan pipi Aluna kasar, membuat gadis itu menoleh ke samping.
"Pergilah, saya tidak mau melihat wajah cengengmu itu!", ucap Rey dingin yang diangguki Aluna, gadis itu langsung segera pergi dari ruangan Rey.
...----------------...
Sementara itu...
Di ruangan Aluna
"Hikss hikss"
"Aluna gak mau kerja disini lagi hikss!"
"Aluna takut sama om Rey hikss hikss"
"Huwaaaa Aluna mau pulang hikss!"
"Aluna kok jadi ngantuk ya hiks", Aluna menangis sesegukan.
"Aluna mau tidur dulu aja deh, hoam!", Aluna menelungkupkan wajahnya di meja dan ia mulai memejamkan matanya.
...----------------...
Kediaman Reyhan
"Ini rumah om Rey? "
"Menyeramkan sekali rumahnya om Rey, seperti tidak ada kehidupan.", Aluna berkedip polos menatap bangunan yang ada didepannya.
"Masuk!", Rey berjalan duluan meninggalkan Aluna.
"HUWAAA OM TUNGGUIN ALUNA!!", mengejar Rey masuk kedalam.
●
__ADS_1
●
●
"Barang-barang kamu sudah ada dikamar!"
"Kamu bisa langsung ke kamar!", ucap Rey dengan nada dingin.
Aluna masih diam ditempat, membuat Rey bingung dengan gadis yang berada didepannya ini. "Ada apa?", Rey mengangkat alisnya satu menatap datar Aluna.
"Emm.... Kamar Aluna dimana om?", jawab Aluna sambil menatap polos Rey.
"Gimana Aluna mau ke kamar, kalau om aja belum kasih tau kamar Aluna", lirih Aluna.
"Ck, bisa-bisanya gue lupa! ", batin Rey menggerutu kesal.
"Ekhmm, kamar kamu ada dilantai dua! Disebelah kiri dan sebelahnya kamar saya!", ujar Rey dingin.
"Nahh gini dong om! Hehehe", jawab Aluna sambil menunjukkan senyum lebarnya.
"Hmm, pergilah!"
Aluna mengangguk, lalu ia pergi ke atas menuju kamarnya yang diberitahu oleh Rey.
...----------------...
Sekarang Aluna sudah berada dilantai dua, namun tiba-tiba saja ia mendadak lupa kamarnya yang mana.
"Huwaa!! Kenapa Aluna tiba-tiba lupa yaa?"
"Kamar Aluna disebelah mana yaa?", Aluna menatap bingung kedua pintu ruangan yang berada didepannya.
"Kiri atau kanan yaa?", menggaruk tengkuknya yang tak gatel.
●
●
●
"Zergan, saya punya kabar baik!", ucap Rey sambil menyunggingkan senyumnya.
"Wahhh... Kabar baik apa itu, tuan?", jawab Zergan penasaran.
"Saya sudah menembak gadis itu!", Rey tersenyum smirk.
"Gadis siapa tuan?", Zergan bingung apa maksud Rey, bosnya itu.
"Sekretaris saya sekarang siapa?", tanya Rey.
"Aluna tuan"
"Iya, dia Zergan!", ucap Rey menggerutu kesal. Zergan terdiam saat tau bosnya itu berpacaran dengan sekretarisnya, yaitu Aluna.
...----------------...
Sedari tadi Aluna masih berdiri didepan ruangan yang berada didepannya itu. "Ihhh sebenarnya kamar Aluna yang mana sih!", kesalnya karena sedari tadi ia dari tadi belum masuk kamarnya.
"Tau ah, Aluna masuk yang disebelah kanan aja!", Aluna membuka pintu dengan cat yang berwarna hitam.
"Apa ini kamar Aluna?", gumamnya sembari melihat setiap sudut kamar.
"Kenapa hitam semua ya?", lirihnya merinding melihat setiap sudut kamar.
__ADS_1
Tak mau berpikir panjang, Aluna memutuskan untuk mandi, ia sudah tak tahan dengan tubuhnya yang begitu lengket.
Continued