Tuan Muda Arrogant dan Gadis Lugu

Tuan Muda Arrogant dan Gadis Lugu
Bab 5 Kediaman Alexander


__ADS_3

"Aluna!", panggil Rey.


"Iya om, ada yang bisa Aluna bantu?", tanya Aluna.


"Tidak ada, kamu bersiap-siaplah!", jawab Rey dengan nada dingin.


Aluna mengerutkan keningnya bingung. "Emangnya kita mau kemana om?", Aluna menatap polos Rey.


"Kamu dengar yang saya bilang gak tadi, hahh!", bentak Rey membuat Aluna terkejut dengan bentakan bosnya itu.


"I-iya tuan maafin Aluna, Aluna siap-siap dulu tuan", jawab Aluna takut lalu ia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap, ia tidak ingin membuat Rey marah lagi dengannya.


Rey memijat pelipisnya.


...----------------...


Takk Takk Takkk


Terdengar suara high heels yang menuruni anak tangga membuat Rey yang awalnya memainkan handphonenya menoleh ke arah Aluna yang menghampiri dirinya, Rey terdiam menatap Aluna yang memakai dress pemberiannya dan dengan sedikit polesan make up yang natural membuat Aluna kelihatan sedikit lebih dewasa.


"Emhh... Bagaimana penampilan Aluna?", tanya Aluna sembari menatap Rey meminta jawaban.


"Cantik", lirih Rey.


"Kenapa om? Aluna gak dengar om bilang apa"


Rey tersadar dari lamunannya.


"Om tadi bilang apa?", menatap Rey bingung.


"Ekhmm... Tidak ada, sudah siapkan?", tanya Rey ketus.


"Om gak liat dari tadi Aluna udah berdiri lama disini!", Aluna mendengus kesal.


"Enggak!"


"Ihh om--


"Sudahlah, ayo kita pergi!", Rey berjalan duluan meninggalkan Aluna yang masih kesal.


"Dasar om-om sombong, huhh!", umpat Aluna lalu menyusul Rey keluar.


...----------------...


Mobil Rey memasuki pekarangan rumah yang sangat mewah dan besar.


"Wahh... Ini rumah siapa, besar banget rumahnya! ", batin Aluna menatap takjub rumah mewah yang berada didepan matanya.


"Turun!", seru Rey dengan nadan yang dingin dan ketus.


"Hah?"


"Aluna!", menatap tajam Aluna.


"E-ehh... Iya-iya Aluna turun hehe."


Rey berdecak kesal.


"Ini rumah siapa om?", tanya Aluna yang sudah turun dari mobil Rey.

__ADS_1


"Kau akan tahu nanti!", jawab Rey sembari menutup pintu mobilnya.


"Ayo masuk!", lagi-lagi Rey berjalan duluan meninggalkan Aluna.


"Aluna ditinggal terus, huhh!", gerutu Aluna sembari menyusul Rey masuk kedalam.





"Mom dad!", Rey menghampiri keluarganya yang sedang bersantai diruang tengah, keluarga Rey terkejut melihat kedatangan putra kedua mereka.


"Putraku!", seorang wanita paruh baya berlari kearah Rey dan memeluk erat laki-laki itu.


"Mom... Rey sesak"


Wanita itu langsung melepaskan pelukannya, "hehe maafkan mommy... Mommy terlalu senang karena kamu akhirnya datang!", ucap wanita itu yang bernama Ariella, mommy Reyhan.


"Sebenarnya Aluna dibawa kemana sih... Kenapa banyak orang disini? Huhu Aluna ndak suka! ", batin Aluna yang masih berdiri dibelakang Rey.


"Bang Rey... Dibelakang abang ada siapa?", tanya seorang gadis yang bernama Gabriella, saudara ketiga Rey.


Rey langsung tersadar ketika ia ternyata membawa Aluna kediaman Alexander, keluarganya.


"Ah iya Rey lupa... Ini Aluna pacar Rey!", seru Rey sembari menarik Aluna keluar dari belakang tubuhnya.


"PACAR!"


Keluarga Rey terkejut mendengar ucapan Rey yang ternyata sudah punya pacar.


Rey berdehem.


"Ayo sini sayang duduk, jangan berdiri aja dong!", Ariella menarik tangan Aluna untuk duduk disamping Gabriella, saudara ketiga Rey, Aluna hanya pasrah.


"Kenapa kamu punya pacar enggak bilang-bilang Daddy?", tanya seorang pria paruh baya yang menatap tajam Rey.


"Ngapain Rey harus bilang Daddy? Kalau Rey bilang pasti Daddy suruh Rey putusin pacar Rey!", jawab Rey ketus dan dingin.


"Iya, lagian Daddy mau jodohin kamu sama anak temannya Daddy!", ucap seorang pria paruh baya yang bernama Kendrick, Daddy Reyhan.


"Dad... Udah berapa kali Rey bilang, kalau Rey gak suka dijodohin!", kesal Rey karena Daddynya itu selalu memaksanya.


"Jadi ini alasan om Rey ngajak Aluna pacaran? ", batin Aluna menunduk sedih, ternyata Rey memacarinya dirinya agar terhindar dari perjodohan. Sungguh kenyataan yang menyakitkan bagi Aluna saat tau yang sebenarnya.


"Sayang, kamu pacaran sama Rey pasti dipaksakan sama dia?", ucap Ariella sambil menatap Aluna yang terdiam menatap Rey.


"S*alan, awas saja jika gadis itu berani jujur! ", Rey menatap tajam Aluna. Ariella yang menyadari tatapan Rey tahu apa maksud dari tatapan tajam Rey, putranya.


"Gapapa sayang, kamu jujur aja sama mommy!", ucap Ariella sambil tersenyum menatap Aluna yang masih terdiam.


Aluna menatap Rey, begitu pun sebaliknya. Tatapan Rey semakin menajam menatap Aluna. "Awas saja jika kau bicara jujur, gue akan memberi lo hukuman! ", seolah-olah tahu isi batin Rey, Aluna hanya bisa pasrah.


"E-enggak nyonya", ucap Aluna sambil menggelengkan kepalanya.


"Pasti Aluna dipaksa, hahh! ", Ariella menghela nafas panjang.


"Ah baguslah kalau begitu, mommy jadi senang dengarnya!", ucap Ariella sambil tersenyum.

__ADS_1


Rey menghela nafas lega, "Bagus gadis kecil, kau sangat pintar! ", Rey tersenyum smirk dan puas karena Aluna sudah menuruti ucapannya.


...----------------...


Malam sudah semakin larut, keluarga Alexander sudah pergi ke kamarnya masing-masing, sedangkan Rey dan Aluna masih duduk diruang tengah.


"Ingat Aluna... Jangan pernah kamu jujur kepada keluarga saya, apalagi mommy saya!"


"Paham kamu!", mencengkram kedua pipi Aluna dan menatap tajam Aluna.


"P-paham om", jawab Aluna ketakutan.


"Good!", Rey melepaskan cengkeramannya.


"Ayo kita tidur, saya takut nanti ada yang melihat kita disini!", ucap Rey dingin dan berjalan duluan meninggalkan Aluna yang masih ketakutan karena dirinya.


"Aluna nyesel kerja disini, Aluna enggak mau diposisi ini, huwaa!!"


...----------------...


Keesokan harinya...


"Ada apa om?", tanya Aluna.


"Om-om, kamu kira saya masih om-om hahh!", Rey mendengus kesal.


"Kan emang kenyataannya om, ehh--", Aluna menutup mulutnya dan menyengir tanpa ada rasa bersalah, Rey menatap tajam kearah Aluna.


"Hehe maaf om!"


"Ekhmm... Saya tidak mau basa-basi, langsung saja saya bilangnya!", ucap Rey dingin dan tegas.


Aluna mengerutkan keningnya menatap bingung bosnya itu.


"Karena kamu sudah menjadi pacar saya, mulai hari ini ruangan kamu pindah ke ruangan saya!", menunjuk meja kerja yang tak terlalu besar yang berada disudut ruangan Rey.


Aluna membelalak, "Lohh... Kenapa t--"


"Tidak usah banyak protes!"


"Saya sudah menyuruh Zergan untuk memindahkan semua barang-barangmu!"


"Kamu cukup perlu menurut saja!", tegas Rey.


Aluna hanya bisa pasrah, ia tidak ingin lagi membuat bosnya itu marah besar seperti kemarin.


"Baik tuan!", Aluna mengangguk menyetujui permintaan Rey.


"Bagus, kerjain berkas ini sekarang juga!"


"Saya mau siang ini harus selesai, karena nanti akan ada rapat!"


"Apa kamu mengerti?", ucap Rey dengan nada dingin dan tegasnya.


"Ngerti tuan!", Aluna mengangguk pasrah.


"Cepat kerjakan!", pintah Rey dingin dan tegas.


Aluna mengangguk, lalu ia berjalan kearah meja kerjanya yang berada diruangan Rey.

__ADS_1


"Hahh... Selalu saja seenaknya seperti ini! ", batin Aluna gerutu kesal sambil menatap Rey yang mengerjakan pekerjaannya.


Continued


__ADS_2