
happy Reading
seperti biasa shabira kesiangan, entah kenapa semenjak hamil shabira jadi mudah malas untuk berbicara dan melakukan hal hal lainya.
shabira dengan lunglai menuruni kasurnya dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan badanya, memang sehabis shubuh shabira tidur kembali karna rasa nyaman dan ngantuk menyerangnya tiba tiba.
saat keluar kamar ada yang aneh saat melihat barang barang tidak ada yang berantakan dan rapih, seperti habis dibersihkan, shabira mulai melangkah dan berhenti saat melihat perempuan muda mungkin lebih muda dari dirinya dan juga sagara sedang membersihkan meja dengan rambut yang dikepang.
"permisi, kamu siapa ya?" tanya Shabira dengan sopan kepada perempuan tersebut.
perempuan tersebut bangun dan tersenyum sungkan"emh maaf nyonya saya zifa pembantu baru dirumah ini, yang ditugaskan pak sagara untuk membersihkan rumah"jelas Zifa.
shabira mengerutkan dahinya bingung,"mengapa sagara memperkerjakan orang, padahal ada dirinya , apakah sagara marah karna shabira sering kali telat bangun?"shabira bermonolog dalam hati.
shabira manggut manggut mengerti"owhh yaudah saya pamit kebelakang dulu mau masak"ucap shabira dengan tersenyum ramah dan dibalas Zifa juga.
shabira melamun sambil memikirkan ayahnya yang ada dikampung apa kabar, dirinya sudah lama sekali tak mengunjunginya, shabira nanti akan memberanikan diri untuk meminta izin untuk mengunjungi ayahnya yang ada dikampung dan sekalian memberitahu kabar bahwa dirinya sedang hamil.
shabira memasak syur capcai dan lodeh sayur buncis serta menggoreng tempe.
shabira menunggu sagara selesai makan dengan menunggu didapur dengan perasaan tak tenangnya, mengetahui sagara sudah selesai shabira langsung menghampiri nya.
"mas saga" panggil shabira dengan takut takut.
sagara mendongak"apa?".
shabira menarik dan menghembuskan napas terlebih dahulu untuk meminimalisir rasa gugupnya. "saya mau minta izin buat pulang kampung" gugup Shabira.
"buat?"
"mau jenguk ayah saya" lirih shabira takut tak diberi izin.
sagara mengangguk"boleh, gue juga ikut"ucap sagara kemudian berdiri.
shabira memelototkan matanya kaget"jangan!"
"kenapa?'.bingung sagara saat shabira tiba tiba nggeggas kepadanya.
" ohh lo pasti mau bawa kabur anak gue kan, biar gue nggak bisa ketemu kan, ngaku lo!"tudung sagara tanpa belas kasihan.
"bukan itu maksud saya, tapi disana rumahnya sempit kecil juga ditengah tengah kebun bukan perkotaan kaya disini mas" jelas shabira .
"kecil itu mah" sombong sagara.
*+:。.。 。.。:+*
tapi apa lh daya setelah perjalanan yang cukup panjang sagara langsung menggabrukan tubuhnya didipan kayu dengan alas kasur kapuk yang sudah tipis, sagara langsung mengeluh panas dan bertanya.
__ADS_1
"nggak ada AC apa?" tanya sagara dengan mengipasi ngipas menggunakan tanganya.
shabira menggeleng lalu menyerahkan kipas manual yang terbuat dari bambu yang dianyam dan di beri pegangan kayu.
sagara langsung merebut kipas tersebut dan mulai mengipasi dengan tergesa gesa,tak lupa sagara juga membuka kancing kemejanya agar lebih sejuk.
shabira memilih keluar untuk menemui ayahnya yang sedang memberi pakan burung perliharaanya.
"suami mu mana nduk kok ditinggal?" tanya pak samsul kpd shabira.
shabira duduk di kursi bambu buatan ayahnya"itu lagi di kamar yah".
FYI shabira sudah memberi kabar bahwa dirinya tengah mengandung.
shabira membuka kresek putih yang sedari tadi dibawanya.
"yah" panggil shabira pelan.
pak samsul berbalik dan ikut duduk disamping shabira.
"ini shabira ada hadiah kecil kecil buat ayah, biar bisa ngabarin bira dari kampung, bira juga beli.
ucap shabira menunjukan hp jadul yang belum pakai layar sentuh.
pak samsul terenyuh melihatnya" harusnya uang nya ditabung aja nduk buat biaya persalinan".
sore tiba, shabira sudah berkutat didapur yang kecil, sumber apinya memakai tunggu, ada kompor tapi jarang digunakan.
shabira memasak daun singkong rebus, ikan asin, lalapan dan tak lupa sambal.
tak ada meja makan, shabira dan ayahnya biasa makan lesehan dilantai,setelah selesai shabira memanggik sagara yang sedang berbincang hangat bersama ayahnya untuk makan.
"yah, makananya udah siap" beritahu shabira,pak samsul langsung berdiri yak lupa mengajak sagara untuk bergabung bersama.
pak samsul berjalan terlebih dahulu, sedangkan sagara masih termangu ditempat, "mas nggak makan?" tanya shabira dengan hati hati.
sagara langsung berdiri dan masuk kedalam rumah,baru beberapa hari saja sagara sudah mendapati culture shock selama tinggal disini.
sagara dengan hati hati ikut bergabung duduk di lantai yang dingin tanpa dialasi apapun, lauknya pun sederhana, mungkin sagara belum pernah mencobanya.
shabira dengan telaten nasi serta lauk pauk untuk kedua lelaki itu.
mereka makan dengan tenang tanpa ada suara sedikitpun yang keluar kecuali suara ayam yang sedang berkokok mencari makan dihalaman rumah.
»»——⍟——««
sudah 4 hari mereka berada di rumah ayah shabira, malamnya keduanya memutuskan untuk kembali karna pekerjaan sagara yang sudah menggunung dan ada pertemuan penting dengan klien yang tidak bisa ditunda lagi.
__ADS_1
sagara dan shabira secara bergantian mengalami tangan pak samsul.
"sehat sehat dirumah ya yah, kalo ada apa apa telfon shabira".pesan shabira setelah menyalimi tangan pak samsul.
" iya, kamu juga harus sehat jangan stres stress kasian anak kalian.
shabura hanya terkekeh pelan, tanpa diduga sagara memberi pak samsul beberapa lembar uang berwarna merah.
"ini buat ayah,buat beli keperluan rumah sama beli makan burung" ucap sagara menjelaskan saat melihat gerak gerik pak samsul yang akan menolak.
"tapi ini kebanyakan lho".
bayangkan saja sagara memberi pak samsul uang 3 jt cash didepan mata, yang pak samsul tidak pernah nyangka.
shabira dibelakang hanya tersenyum hari, dirinya tidak menyangka bahwa sagara akan peduli pada ayahnya.
setelah beberapa saat mereka melakukan perjalanan yang melelahkan, shabira tak pernah luput dari pemandangan hamparan sawah yang masih di daerah kampungnya,dirinya sangat suka melihat padi yang masih hijau menjulang tinggi.
"mau makan apa?" tanya sagara dengan fokusnya kejalan raya.
"hah?"
"lo mau makan apa?" tanya sagara sekali lagi.
"terserah kamunya apa" balas shabira kemudian memfokuskan pandangan kedepan,pandangan shabira tertuju pada anak laki laki sedang duduk dipinggir jalan.
"mas boleh berhenti dipinggir situ dulu"ucap shabira , sagara menurut lalu meminggirkan mobilnya, shabira langsung turun dan berlari menghampiri anak tersebut.
" dek!"panggil shabira dengan lembut.
anak kecil itu menoleh dengan raut lesunya, terlihat sangat lelah.
"mama sama papa kamu kemana?" tanya shabira dengan iba, pakaian lusu dan wajah yang tak terawat, padahal jika dilihat anak ini memiliki kulit yang putih bersih.
anak itu menggeleng pelan, tapi tiba tiba dirinya dikagetkan dengan ibu ibu yang menepuk punggunya.
"nak kevin itu udah nggak ada orangtuanya, kemaren kena musibah tabrak lari neng" jelas ibu itu.
"kalo si eneng mau adopsi juga nggak papa" ujar si ibu saat melihat raut iba dan kasih sayang di matanya.
setelahnya ibu itu pergi meninggalkan keduanya yang masih termangu"kamu kevin?".
kevin mengangguk setuju.
"kamu tunggu sini ya, inget jangan kemana mana" pesan shabira kemudian pergi menghampiri mobil sagara.
...see you next chapter...
__ADS_1