
Seperti yang dijanjikan oleh investor pada kontrak, pagi ini Om Marsel sudah bersetelan jas seperti hari hari ketika perusahaan berjaya. Dan tiba tiba terlihat mobil keluaran terbaru memasuki halaman dan parkir seperti semestinya.
Hah secepet itu Papa udah beli mobil baru? Wah parah sih, katanya buat perusahaan tapi kok..
"Pa... "
Belum sempat Stela memanggil sang Papa terlihat seorang pria tinggi badan sekitar 185 cm mengenakan jas biru dongker, inner putih dan dasi hitam keluar dari mobil itu.
Tanpa banyak basa basi pria itu langsung masuk dan bersalaman dengan Om Marsel dan kini duduk berhadapan. Tak terdengar apa yang dibicarakan mereka berdua karena posisi Stela yang sedang dilantai dua.
Tante Jiu yang melihat Stela sontak memanggil agar ikut bergabung dalam pembicaraan mereka. Sedikit menolak namun tetap bergabung.
Setelah duduk berhadapan baru Stela sadari bahwa pria itu sangat tampan, kulit yang putih dan bersih, arom parfum yang memikat, postur tubuh yang ideal sangat enggan mata untuk menolaknya.
"sayang kenalin ini nak Julio" ucap Papa dengan sangat antusias
"halo, gue Stela Caramel Ian" berjabat tangan
"halo saya Julio Adrian, senang bertemu denganmu semoga kedepannya dapat lebih dari gue" senyum yang tipis tapi menawan dan membuat candu
Jadi ini si investor, keliatannya masih muda. Tapi tunggu, k-kenapa dia bilang lebih dari gue? Maksudnya apa coba?
"Ok saya suka, jadi apakah minggu ini bisa kita mulai pernikahannya?"
Julio tiba tiba membuka pembicaraan dengan kata kata yang ambigu, membuat Stela bingung berkali kali lipat ditambah lagi hari ini Sabtu dan besok Minggu. Apakah Minggu besok adalah Minggu ini yang dia maksud?
"boleh Pak boleh, lebih cepat lebih baik. Kan Bapak sendiri sudah bertemu dengan Stela secara langsung"
"ok minggu ini kami urus"
__ADS_1
"tunggu, apa maksudnya pernikahan? Kenapa bawa bawa Stela? Kalian sembunyiin apa dari aku Pah Mah"
Julio yang melihat reaksi Stela justru tersenyum tipis, menurutnya cara Stela memberontak sangat lucu dan imut
"kami ga sembunyiin apa apa sayang, kami cuma lupa bilang kalo nak Julio ini adalah calon suami kamu. Dan pernikahan akan diadakan besok" jelas Tante Jiu sambil menyibakan rambut Stela yang kira kira sepanjang tulang belikat
"calon suami? Pah Mah aku masih kelas 3 SMA, belum juga ujian kenapa malah nikah. Please Pah Mah yang logis" dengan mata berkaca kaca dan napas yang tidak beraturan Stela berusaha menolak perjodohan sebelah pihak ini terlebih lagi atas dasar bisnis.
"tapi nak kamu sudah tanda tangani kontraknya"
"dan semua uang sudah diklaim oleh Papa mu, jadi kontrak akan terus berjalan. Saya tidak mau dengar keributan lagi karena saya sibuk, besok pagi supir saya akan menjemput kalian dan kita lakukan pernikahannya" sambil berdiri mengancingkan jasnya dan berjabat tangan dengan semua orang kecuali Stela karena Ia masih syok dan tidak menghiarukan semuanya.
Stela kira dua kali sial, satu kali hoki lah yang tepat ternyata dibalik hoki yang Ia dapat, juga mendapatkan kesial yang bahkan sangat sial.
Sebelum Stela pulang sekolah
akal Julio memang tiada habisnya jika membahas bisnis. Pantas saja dia termasuk salah satu orang terkaya karena kelicikannya dalam berbisnis yang tidak pernah mau rugi walau 0,1% pun
"hm anak semata wayang kami masih kelas 3 SMA. Tapi bagaimana dengan sekolahnya?"
__ADS_1
"itu bukan masalah, semua akan kami urus, yang penting anak bapak tanda tangani kontrak ini dan dana akan cair keesokan harinya"
Bagaikan tertusuk pedang tepat di jantung, Stela sangat tidak percaya bahwa kedua orang tuanya tega menjual Ia kepada investor kaya demi kelangsungan perusahaan.
Ingin rasanya membunuh dan memakan orang tapi tidak akan berguna, besok tetap Minggu dan besok tetap menikah.
Stela yang berlari ke kamarnya dan membanting pintu, membuat Tante Jiu dan Om Marsel merasa bersalah namun hanya itu yang bisa mereka lakukan agar kehidupan anaknya baik baik saja.
Air mata yang sedari tadi dibendung pun akhirnya menetes. Ini kah yang namanya takdir? Dan ini kah yang tidak bisa diubah? Drama kebangkrutan perusahaan, penghianatan sahabat, bullying, penghianatan keluarga hingga pernikahan paksa semua dialami Stela layaknya kelinci percobaan.
Cita citanya yang ingin kuliah di luar negeri kini pupus ditangan orang tuanya sendiri. Keinginannya untuk membeli mulut Sindy dan teman temannya pun sirnah. Bahkan keinginan sesimpel *graduation* SMA pun sirnah.
Menangis hingga terisak isak membuat Stela perlahan kelelahan dan mulai tertidur. Yang tanpa Ia sadari, ketika Ia tertidur waktu menuju hari Minggu akan semakin cepat.
Sekitar satu jam pernikahan tertutup ini pun berakhir. Tidak tampak kebahagiaan diraut sepasang pengantin ini, terlebih lagi Stela yang selama proses selalu menangis. Kini Stela berjalan dengan arah yang berbeda dengan orang tuanya, dan tinggal dengan atap yang berbeda pula.
__ADS_1
Masih seperti mimpi, namun cincin berlian yang tersemat dijari Stela membuatnya sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Kehidupan yang pahit.