
Papan Pengumuman FKIP
Berita menghebohkan di FKIP membuat semua Mahasiswa bergerumun agar tidak ketinggalan berita terbaru. Kevin yang melihat kerumunan itu tidak memperdulikannya dan memutuskan untuk berbelok ke arah kiri menuju kelasnya. Namun sesorang menariknya tanpa mengatakan apapun menuju kerumunan itu. Orang-orang yang mengetahui kehadiran Kevin menghindar dari papan pengumuan itu. Benar saja, terpampang wajah Kevin di sana, bukan berita memalukan, namun Kevin terpilih menjadi Calon Pangeran Kampus perwakilan Fakultasnya. Melanie hanya memperhatikan wajah Kevin yang sangat terkejut dengan terpilihnya ia dan mengikutinya menuju kelas. Irfan datang mendapati Kevin yang meninggalkan kerumunan, sebelum mengikuti Kevin dan Melanie, Irfan menyempatkan waktu untuk melihat papan pengumuman itu dan kemudian berlari menyusul Kevin.
Di dalam kelasnya, Kevin merasakan keanehan, tidak seperti biasanya seluruh teman sekelas memandangi Kevin yang menuju tempat duduknya. Kevin hanya berjalan ragu sambil meletakkan tas di kursinya.
******
Beberapa hari setelah pengumuman itu alih-alih kehidupan Kevin akan lebih baik karena sudah menjadi Calon Pangeran sekarang karena sebelumnya ia sangat terganggu dengan beberapa terror. Namun ini malahan memperparah keadaan, setiap langkan kakinya di Kampus menuai cibiran dari yang mengatakan ketidakpantasan sampai Kevin di bilang menjadi parasit bagi Irfan karena sebelumnya Irfan lah Calon Prince. Ketika Kevin ingin duduk, terdapat tulisan di sana Kami tidak akan mendukung Raja Rimba, pangeran dari selokan. Kevin melihat sekeliling kelas untuk memastikan siapa yang menulis ini, namun Kevin menahan amarahnya.
*****
Di Kantin
Kevin, Irfan dan Melanie sedang berbincang sembari duduk menikmati santapannya.
"semua orang ngeliatin elu vin." seru Irfan.
"gak usah lu kasih tau dia juga udah pasti sadar." ujar Melanie yang menjawab pertanyaan yang harusnya di jawab Kevin.
"gue beli minum dulu." ujar Kevin yang beranjak. Namun secara sengaja seseorang menumpahkan minumannya ke dada Kevin, sontak membuat Melanie dan Irfan terkejut dan menghampiri Kevin.
"maaf pangeran, saya tidak sengaja saya minta maaf." ujar pelaku degan nada tertawa. Melanie membantu membersihkan bajunya Kevin.
"lu sengaja, gua liat!" ujar Irfan yang sangat jelas melihat itu kesengajaan dengan nada menatang.
"Asistennya marah woy!" ujar gerombolan anak Teknik yang berada satu meja di sebelah meja Kevin.
"asisten apa pangeran gagal? atau pangeran yang di tumbalin?" seru pelaku penyiraman air itu yang juga Mahasiswa jurusan Teknik dengan nada meledek.
"bang*at!" ujar Irfan yang memberikan pukulan keras di wajah pelaku hingga tersungkur. Rekan-rekannya yang sebelumnya tertawa kini diam. "Bubar lu an*ng!" lanjut Irfan dengan berjalan menuju meja itu dengan penuh emosi yang meledak, dan gerombolan itu pun bubar. Tontonan yang sangat menarik untuk pengunjung kantin karena semuanya benar-benar hanya memperhatikan ini, tanpa ada yang berinisiatif memisahkan. Setelah itu Irfan mencoba melihat sekeliling kantin, dari kejauhan terlihat Pangeran Kampus dan gerombolnnnya berjalan menuju ke arahnya lalu Irfan pun pergi mengikuti Melanie yang menuntun Kevin keluar dari kantin.
*****
Di Toko Ice Cream
"menurut lu ini terlalu berlebihan gak sih?" tanya Melanie
"gue juga curiga sih ada dalang di balik semua ini." ujar Kevin yang memangku dagunya di etalase Ice Cream
"jangan bilang?" ujar Irfan yang berprasangka lagi
"tapi bisa jadi sih, kalian semua kan liat. Di setiap sesudah kejadian, pasti ada dia" ujar Melanie
"tapi pas kemarin gue kepuncak bareng kelurganya, dia emang dingin orangnya. tapi untuk sampai ke sana gue gak yakin" ujar Kevin berbicara sambil menghampiri Melanie dan Irfan kemudian duduk bersama mereka.
"ke puncak bareng keluarganya?" tanya Irfan dan Melanie bersamaan dengan terkejut.
"jadi nyokapnya pelanggang kue nyokap gua, dan gua udah sering kerumahnya selama ini." ujar Kevin yang kemudian melanjutkan bercerita mengenai liburannya ke puncak bersama keluarganya Pangeran.
*****
Di Pagi hari
Papan Pengumuman Keguruan.
Segala tindakan melukai fisik atau kegiatan atau tindakan tanpa persetujuan orang yang bersangkutan (Anggota Kerjaaan dan Calonnya) akan di kenakan sanksi yang berlaku.
"gue berharap setelah ini gak ada orang gila lagi yang melakukan hal-hal aneh ke elu lagi Vin" ujar Irfan seraya menujukan foto di HPnya yang merupakan jepretan dari papan pengumuman Keguruan
"Iya. gue juga lebih tenang ngeliat ini, ini tuh kayak angin segar yang telat sehari gitu." ujar Melanie yang juga sedang mengunjungi kelas Kevin.
*****
Jam Pulang Kuliah
__ADS_1
Kevin sedang membereskan bukunya bergegas menuju perpustakaan yang di sana ada Melanie dan Irfan sedang menunggunya. Ketika ia sedang melakukan kegiatannya itu ada beberapa orang yang melempari Kevin dengan gumpalan kertas basah dari luar kelas, beberapa lemparan itu tepat mengenai kepala dan wajah Kevin. Tidak tinggal diam Kevin mencoba mengejar pelakunya, namun ada kaki yang terlihat oleh Kevin di depan pintu, kaki itu terlihat akan menghadang Kevin dengan menyelengkatnya. Kevin mampu menghindari itu dengan melompatinya, namun naas, di lantai tempat ia mendarat dari lompatanya ternyata sudah di siram oleh sabun cair yang membuat Kevin malahan terperosok ke dalam selokan kering di samping Koridor sekolah. Kevin hanya meringis kesakitan lengkap dengan bajunya yang kotor dan menjadi tontonan.
"lemah kan lu? mana itu Asisten dan selir lu?" ujar seorang pelaku. "gua gak mau Keguruan di wakilkan oleh orang yang lemah seperti elu, kalau lu emamg gak lemah, besok kita tanding di lapangan badminton, gimana? siap gak? apa emang elu takut?" lanjutnya. tanpa memberi Kevin kesempatan berbicara ia melanjukan lagi. "dah bubar-bubar, gak bakal berani dia. lemah!" namun Kevin mengeluarkan kata-katanya sambil berdiri membersihkan dirinya.
"Gue terima tantangan lu." ujar Kevin. Kemudian pelaku pergi bersama yang menontonnya.
Di Perpustakaan Irfan dan Melanie masih menuggu Kevin.
"mana sih dia belum dateng juga?" tanya Melanie.
"perasaan gue gak enak nih." ujar Irfan.
"Iya sih, tapi kan kita gak perlu khawatir soalnya Kevin udah dalam perlindungan" ucap Melanie yang membuat mereka berdua mengucapkan kata perlindungan itu lagi bersamaan lengkap dengan bertatapan. Lalu mereka berlari menuju kelasnya Kevin. Karena mereka lah pelindung Kevin di kala pulang sekolah seperti ini, di mana beberapa peraturan tidak berlaku.
Sesampainya di depan kelas, Melanie dan Irfan terkejut melihat koridor kelasnya Kevin berantakan dan mendapati Kevin sedang duduk dekat selokan seorang diri.
"elu kenapa? kepeleset?" tanya Melanie. Kevin hanya meringis dengan kakinya yang pincang. Dan Irfan memandangi sekitar mencari pelaku.
******
Kevin di antarkan pulang oleh Irfan dengan motor pinjaman Irfan. Seampainya di rumah, Kevin mencoba berjalan normal di depan Ibu dan adiknya.
"Kevin, baju kamu kok kotor? kamu kenapa?" tanya Ibu.
"kecipratan tadi di jalan" ujar Kevin
"kehujanan" Irfan ikut menjawab.
"memang hujan? di mana?" tanya Ibu yang memperhatikan luar rumahnya yang terang dengan matahari.
"di Kampus" ujar Irfan.
"di jalan" Kevin juga menjawab. "hujannya dari kampus, di perjalanan menuju rumah sudah reda" lanjut Kevin. Kemudian Kevin meminta Irfan untuk pulang dengan mengatakan bahwa dirinya ingin beristirahat.
"gue gak sekali dua kali kerumah lu Kev." ujar Irfan yang mendadak muncul dari persimpangan.
"kok lu belum balik? ngapain di sini?" tanya Kevin.
"gua gak percaya kalo elu langsung tidur, cepet naik. Gua anterin" ujar Irfan yang mengantarkan Kevin dengan motornya ke alamat tujuan di kue itu.
*****
Kevin yang masih mendapat perlindungan walau tanpa pengawalan itu memilih untuk pergi ke danau di jam istirahatnya, karena semua teman di kelasnya tidak ada yang mau mengajaknya berbicara.
Sesampainya di danau, Kevin memilih duduk di bangku panjang. Di sana ada Mahasiswi yang sedang memegang pena berwarna merah muda di tangan kirinya dan tangan kanannya melempar batu ke arah danau.
Sedang menikmati sejuknya udara menjelang siang di danau itu. Kevin seperti sedang diajak bicara oleh Mahasiswi itu.
"kamu ngomong sama siapa?" tanya Keving sembari melihat sekelilingnya yang tidak ada orang selain mereka. Kevin bingung dan terus memandangi wanita itu yang berbicara sendiri. Kevin mendengar wanita itu mengatakan Kevin? siapa? dia? aku gak kenal? kamu aja yang tanya.
"memang kamu namanya Kevin?" tanya wanita itu. Kevin menjawabnya dengan menganggukan ragu kepalanya. Dan wanita itu seperti membicarakannya dengan seseorang sesekali mencuri pandang ke Kevin, tapi faktanya tak ada orang lain di sana selain Kevin dan wanita itu. Calon Prince? siapa? Dia? Ya Tuhan!(berbicara sendiri) . Wanita itu menghampiri Kevin dan duduk di sebelahnya, di barengi dengan Kevin yang menggeser posisi duduknya karena Kevin sedikit ragu berada di dekatnya.
"Kamu Calon Prince?" Tanya wanita berambut panjang itu.
"Iya" jawab Kevin.
"apa yang sudah kamu alami? hilang uang? pulpen? patah tulang?" tanyanya yang membuat Kevin terkejut dan mengarahkan pandangan padanya.
"semuanya benar, kecuali hilang uang." ujar Kevin "kamu tau darimana?" lanjut Kevin bertanya.
"teman ku yang bilang, teman ku juga pernah mengalami hal seperti mu, tapi dia menyerah." ujar wanita itu sembari menunjuk gedung tertinggi di Univeritasnya yang berada di dekat danau.
"ohh keluar gitu dari sekolah?" ujar Kevin yang seakan bertanya.
"dia mengatakan Calon Princess/Prince yang sudah terpilih tidak bisa menolak, kalaupun ingin menolak atau menyerah yaitu dengan cara keluar dari Maharaja atau berakhir disana, seperti dia." ujar Wanita itu dan lagi-lagi menunjuk gedung itu dengan pena merah mudanya.
__ADS_1
"iya benar sekali" ujar Kevin.
"pasti hari-hari mu sangat berat ya Kevin. Ingat kata-kata ku, kamu sudah berjuang sejauh ini jangan menyerah. Anggaplah semua perjuangan akan berakhir hari ini dan besok adalah kemenangan, maka kau akan meggunakan sepenuhnya kekuatan mu hari ini." ujar wanita itu.
"iya, terimaksih." ucap Kevin dengan terseyum, dan wanita itu berkata lagi.
"teman ku, dia berakhir di sana. Padahal besoknya ia peraih nilai tertinggi kumulatif sebagai seorang Princess" ucapnya wanita itu dan kemudian pergi dengan tingkahnya seperti bercanda dengan seseorang.
*****
Di lapangan Badminton ini Kevin berhadapan dengan orang yang menantangnya kemarin. Kursi penonton lumayan ramai bukan dengan pendukung Kevin, tapi lebih teaptnya musuh-musuh Calon Prince itu. Dengan raket yang di genggamnya, Kevin berduel dengan penantangnya itu walaupun Kevin sadar ia masih merasakan sakit di kakinya akibat terjatuh dari selokan kemarin.
Ketika lawannya mengarahkan shuttle di dekat net, Kevin mencoba meraihnya padahal jaraknya sedang jauh di belakang, membuat dirinya harus berlari ke arah depan dan mulai merasakan sakit di kakinya karena gerakan mengejutkan itu.
Rival Kevin terus memberikn bola-bola jauh yang sulit di jangkau, membuat Kevin sangat bekerja keras mengambilnya dan pada akhirnya Kevin terjatuh di poin tertinggal 15 - 9. Lawannya itu sangat mengetahui bahwa sekarang Kevin sedang menahan sakit di kakinya, dan terus memberikan pukulan yang sulit di raih. Shuttle di pukul jauh ke belakang membuat Kevin terjatuh-jatuh mengambilnya dengan berjalan pincang. Di dekatkan lagi dengan net pukulan itu membuat Kevin menyeret paksa kakinya untuk mengambil shuttle cock itu dengan sorakan dan makian dari penonton lengkap dengan peluh yang mengalir di wajahnya dan rasa sakit yang di rasakan kakinya. Tiba-tiba penonton melempar botol berisi air minum mengenai kepala Kevin yang membuat Kevin meringis kesakitan di poin 18 - 15.
"bagaimana? menyerah?" tanya penantangnya itu kepada Kevin yang duduk memegangi pergelangan kakinya. "lihat Calon Prince kita? yang lemah seperti ini akan mewakili Keguruan?" lanjutnya dengan suara lantang lengkap dengan tawa yang puas di tengah ketidak berdayaan Kevin saat itu.
******
Di Kelas 2A. Kelasnya Irfan
pukul 15.00
"Ibu minta maaf yah sudah meminta pergantian kelas mendadak." ujar Ibu Shinta yang kemudian pergi mengakhiri kelasnya. Irfan dengan cepat berlari menuju kelas Kevin namun sudah kosong, mencoba mengirim pesan kepada Melanie namun belum di balas.
Melanie yang sedang membaca buku di perpustakaan baru mendapatkan notifikasi dari Irfan, dan terkejut melihat jam di Handphonya yang menunjukan pukul 15.00. Melanie juga harus bertemu Irfan serta Kevin, dan Irfan bertemu Melanie di persimpangan koridor.
"Kevin di mana? gue daritadi di perpus." Tanya Melanie dengan nafas yang terengah-engah
"di Kelasnya juga gak ada." ujar Irfan bingung. Lalu ada 2 Mahasiswi yang sedang memperhatika Live di Instargram dengan seorakan yang sangat berisik membuat Irfan dan Melanie penasaran untuk melihatnya dan mengintip. Di Live itu terlihat sangat jelas kamera yang di arahkan ke Kevin yang sedang meringis di tengah lapangan Badminton membuat Melanie dan Irfan membelalakan matanya seraya bertatapan satu sama lain. Irfan dan Melanie pun langsung berlari menuju lapangan Badminton.
*****
Di ketidak berdayaanya Kevin dengan sorakan yang di lemparkan oleh penoton kepadanya. Kevin melihat ke arah pintu yang terbuka dan mendapati Pangeran Kampus berada di sana dan kemudian pergi. Kevin memejamkan matanya dan Kevin teringat oleh kata-kata Mahasiswi di danau tadi.
Anggaplah semua perjuangan akan berakhir hari ini dan besok adalah kemenangan, maka kau akan meggunakan sepenuhnya kekuatan mu hari ini.
Mendengar kata-kata itu selalu terlintas di fikiran Kevin, Kevin seperti mendapatkan kekuatannya lagi.
Kevin pun berdiri dan melanjutkan permainan, mengabaikan semua sorakan yang di lemparkan kepadanya. Tidak merasakan kesakitan di kakinya, Kevin memberikan Smash keras ke arah lawannya berkali-kali sampai lawannya menyerah kesakitan. Lawannya merasakan kesakitan karena setiap poin dia khiri dengan Smash keras mengenai tubuhnya, dan lawannya itu menyerah di poin 18 - 21.
Lawannya mendapat sorakan dari penonton atas kekalahannya. Penonton dan penatang Kevin pun keluar dari gor Badminton, lalu Kevin mengalihkan pandangannya ke pintu, ia melihat wanita yang tadi danau berada di depan pintu bergaya seakan memberikan semangat dan selamat kepada Kevin yang membuat Kevin tersenyum di tengah peluh wajahnya. Tak lama Melanie dan Irfan datang menghampiri Kevin membantunya berjalan meninggalkan gor.
*****
Toko Ice Cream
"jadi sebenernya kemarin tuh ada apa di lapangan badminton?" tanya Irfan
"jadi gue di tantang suruh ngebuktiin bahwa gue layak jadi Calon Pangeran" ujar Kevin kepada Melanie dan Irfan
"dengan keadaan kaki lu begitu dan elu mengIyakan tantangan dia? gila lu" ujar Melanie kepada Kevin
"kenapa elu gak ngasih tau kita sih?" tanya Irfan
"gue pengen ngasih tau, cuma waktunya gak tepat" jawab Kevin
"Please, ini yang terakhir. Gue gak mau lagi denger elu ada rahasia yang kita gak tau, bukan masalah elu yang ngerasakannya. Tapi kita di sini sebagai sahabat lu merasa gak berguna kalau lu kayak gini. inget lu masih punya gue dan Irfan" ujar Melanie yang menceramahi Kevin
"iya, gue minta maaf deh" seru Kevin. Di tengah perbincangan mereka 2 orang yang sedang berboncengan dengan mengejutkan melempar batu ke toko Ice Cream Kevin hingga kacanya pecah berantakan. Irfan keluar toko dan mengejar dengan motor pinjamnnya. Melanie pun ikut keluar tapi untuk menahan Irfan, namun gagal. Kevin sangat terkejut dan bingung, cobaan apa lagi ini, dalam benaknya.
Kevin pun melihat kertas yang di ikat pada batu tersebut, Kevin mengambil dan membacanya. Kertas itu bertuliskan 'Pangeran sampah, Berhenti berharap dan segera pergi dari Maharaja' . Melanie menghampiri Kevin dan Kevin memberikan kertas itu kepada Melanie, dan Kevin terduduk lemas setelahnya.
******
__ADS_1