Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Penyerapan


__ADS_3

Setelah tubuhnya pulih dan mendapat cukup tenaga, Nick akhirnya siap untuk melakukan langkah selanjutnya menyerap energi dari permata naga. Sekali lagi ia dipanggil untuk menghadap Calada di ruang latihan. Kali ini Calada tidak akan berubah menjadi naga. Ibunya akan mengajari Nick cara untuk menyerap energi Permata Naga ke dalam tubuh.


“Energi naga dalam permata itu sangat besar. Saat kau tidak sadarkan diri kemarin, aku sudah menyerap mutiara yang diberikan oleh Ladon sebagai ganti permata yang kau ambil. Bagi sesama naga, proses itu tidaklah sulit. Tapi, untuk tubuh manusia sepertimu, mungkin akan timbul efek samping yang cukup berat. Kau akan merasakan kesakitan luar biasa saat permata ini terserap masuk ke tubuhmu. Itu karena aliran energi besar yang tiba-tiba menyatu denganmu. Kalau kau tidak cukup kuat untuk menahannya, kau mungkin bisa mati. Bagaimana, Nick? Apa kau tetap akan melakukannya?” tanya Calada kemudian.


Nick terdiam sejenak sembari mengamati permata merah yang dibawanya. Ia tahu bahwa di dalam permata itu tersimpan energi yang sangat besar. Ia tentu bisa menolak tawaran ibunya, dan memilih jalan aman untuk tidak menggunakan permata tersebut. Toh ia sudah cukup kuat sekarang.

__ADS_1


Akan tetapi, jika tujuannya adalah menjadi seorang raja di kemudian hari, maka bantuan dari permata itu amatlah penting. Yang dibutuhkan Nick bukan hanya kekuatan semata, tetapi juga kebijaksanaan dan wawasan yang luas sebagai seorang raja. Kekuatan permata Calada tentu akan memberinya banyak kekuatan sihir yang semula tidak dia miliki.


Dengan kemampuan itu, ditambah kebijaksanaan yang muncul menyertainya, Nick akan mampu mengemban tugasnya sebagai Raja para manusia dengan lebih baik. Ia tidak akan terperdaya oleh kekuasaan, atau terjebak keserakahan. Permata naga akan selalu membuat jiwanya suci dan tidak terpikat pada kecantikan atau nafsu duniawi apa pun. Karena itu, penderitaan atau kemungkinan kematian adalah harga yang pantas untuk dibayar demi mendapat hal-hal baik tersebut.


Akhirnya, dengan penuh keyakinan, Nick pun mengangguk. “Aku siap, Ibu,” jawabnya tegas.

__ADS_1


“Baiklah. Sekarang, duduklah bersila di tengah lingkaran sihir yang sudah kubuat ini. Pegang permataku di atas pangkuanmu. Kau cukup memejamkan mata dan berkonsentrasi pada napasmu. Aku akan mulai membaca mantra setelah kau siap,” perintah Calada kemudian.


Nick menurut dan melakukan sesuai arahan sang ibu. Ia duduk bersila di atas sebuah lingkaran sihr rumit yang diukir dengan huruf-huruf dalam bahasa naga. Nick meletakkan permata merah yang indah di pangkuannya, sambil tetap menyentuhnya dengan kedua tangan. Pemuda itu lantas menutup mata dan mulai mengatur napasnya agar berirama dan lebih tenang.


Beberapa detik kemudian, Calada pun membuka buku sihir naga kuno dan mulai merapal mantra. Lingkaran sihir di bawah tubuh Nick perlahan bersinar dengan pendar merah yang redup. Makin lama cahayanya makin terang hingga mengeluarkan semacam aliran energi serupa desau angin yang lembut dan semakin kencang.

__ADS_1


Nick merasakan permata yang ada di pangkuannya perlahan melayang. Matanya masih tertutup. Namun secara instingtif, ia tahu bahwa permata itu kini sudah terbang persis di depan dadanya. Rasa hangat mengaliri setiap jengkal badan Nick, hinga secara perlahan, permata itu mendekat dan mulai merasuk ke tubuhnya.


__ADS_2