
Tanpa diduga, urusan dengan Bliss, sang siluman rubah, justru menjadi sangat menguntungkan, terutama bagi Nick. Bahkan Aerin pun tidak bisa menentang keputusan Nick untuk menjalin kontrak dengan spirit rubah. Gadis elf itu tahu bahwa keputusan itu akan memberi banyak manfaat bagi Nick dan segala rencana-rencananya di masa depan.
Kini mereka semua telah disatukan oleh tujuan yang sama: menggulingkan pemerintahan Tadeus dan membuat Nick menjadi Raja Tiberias lagi. Lima hari kemudian, setelah cukup matang membahas strategi, serta Bliss juga sudah sembuh dari luka-lukanya, rombongan Nick akhirnya memutuskan untuk meninggalkan gua naga. Mereka berniat mengunjungi kerajaan elf untuk meminta bantuan. Dipandu oleh Aerin, rombongan tersebut pun berangkat saat fajar menyingsing di hari kelima.
Calada melepas kepergian anak-anak itu dengan tenang. Sang naga memutuskan untuk tidak ikut campur dalam petualangan mereka, dan menunggu di hutan monster sampai tiba saat di mana bantuannya dibutuhkan.
Rombongan Nick melesat cepat menuju ke barat. Mereka menjauhi hutan monster, tetapi tidak melalui jalur yang dihuni manusia. Alih-alih mereka menyusuri pegunungan berkabut yang menjadi perbatasan terluar kerajaan Tiberias. Baik Nick maupun Neil belum pernah menjelajah sampai sejauh itu. Meski begitu, berkat panduan Aerin perjalanan mereka pun bisa dilalui tanpa halangan berarti.
“Kita akan memasuki wilayah hutan sihir. Setelah sampai di sana, kalian harus berhati-hati dengan nyanyian para driad. Peri hutan itu terkadang bisa menyesatkan orang-orang yang lewat dengan suara mereka,” kata Aerin setelah tujuh hari penuh melakukan perjalanan.
“Aku merasakan sihir elf. Ini hutan yang tersembunyi?” Bliss tiba-tiba muncul dari udara kosong.
__ADS_1
Sejak melakukan kontrak dengan Nick, kini Bliss tidak perlu lagi menampakkan wujudnya secara fisik di realitas dunia fana. Dia kembali bisa melakukan kultivasi di alam spirit yang terhubung dengan kekuatan naga di dalam tubuh Nick. Pemuda itu bisa memanggil Bliss kapan saja, dan sebaliknya, siluman rubah itu juga bisa muncul sekehendak hatinya, dalam berbagai wujud sesuai kebutuhan. Saat ini rubah itu menampilkan sosoknya yang mungil dan menggemaskan. Dia melayang di samping Nick dengan kekuatan elemen angin.
“Benar. Sekarang kita sudah berdiri di depan gerbang sihir menuju kerajaan elf. Tidak ada yang bisa membuka gerbang ini selain keturunan murni suku kami,” terang Aerin sembari bersiap di depan bibir hutan.
Setelah mengatakan hal itu, Aerin kemudian mengangkat satu tangannya ke depan, seolah sedang menyentuh sesuatu. Dari bibirnya, dia menggumamkan mantra kuno dalam bahasa elf. Sekonyong-konyong, muncul guratan cahaya hijau muda dari telapak tangan Aerin. Cahaya itu lantas bergerak menyulur membentuk semacam lingkaran sihir yang rumit dan sangat besar. Nick serta Neil mengamati dalam diam. Proses pembukaan gerbang sihir memakan waktu beberapa menit hingga akhirnya muncul sebuah pintu tinggi besar yang terbuat dari ranting pepohonan yang saling berpilin erat menjadi satu.
“Ayo kita masuk,” ajak Aerin sembari mendorong daun pintu yang tebal dan kelihatan berat itu.
“Tempat ini luar biasa. Benar-benar seperti surge,” gumam Neil takjub. Matanya membulat dan mulutnya ternganga lebar saking terpukaunya dia.
“Dulunya semua hutan di benua ini juga menyimpan aspek sihir yang mirip dengan hutan elf. Tapi sejak kami terusir dari dunia manusia, ditambah sihir gelap yang melingkupi tempat tinggal kalian, energi sihir elf pun memudar sepenuhnya,” terang Aerin memimpin jalan. Gadis itu melangkah tanpa kesulitan karena sulur-sulur rambat yang menghalangi, tiba-tiba bisa menyingkir dengan sendirinya, seolah memberi jalan bagi kedatangan mereka.
__ADS_1
“Kenapa kau meninggalkan tempat senyaman ini hanya untuk menjadi target penculikan manusia, Elf?” tanya Bliss tanpa basa-basi.
Aerin mendesis kesal gara-gara komentar Bliss yang tidak sopan itu. “Bukan urusanmu, Rubah,” sahut gadis itu melirik sinis.
Bliss berdecih. “Dasar Elf sombong,” gumamnya pelan.
“Kata-katamu keterlaluan, Bliss,” tegur Nick tegas. Rubah itu pun akhirnya terdiam.
Setelah percekcokan kecil itu, sayup-sayup mereka bisa mendengar suara nyanyian merdu dari kejauhan. Nick langsung tahu bahwa itu adalah nyanyian Driad yang diceritakan oleh Aerin sebelumnya. Pemuda itu memang merasakan ada energi sihir yang mengalun bersama nada-nada nyanyian driad itu. Energi itu terasa seperti membius dan menghipnotis. Namun, berkat kekuatan naga yang tersimpan dalam tubuhnya, Nick menjadi tidak terlalu terpengaruh pada nyanyian peri hutan tersebut.
Sementara Aerin adalah elf yang berada di tingkat lebih tinggi dari para Driad. Karena itu sihir peri hutan sama sekali tidak berpengaruh padanya. Begitu juga Bliss yang kini berada dalam wujud spirit. Akan tetapi, Neil adalah manusia biasa. Sepanjang hidupnya ia sangat jarang bersentuhan dengan sihir. Maka, tanpa disadari teman-temannya, ternyata Neil telah jatuh dalam bujukan para driad.
__ADS_1
Langkah sang ksatria berangsur melambat. Tatapan matanya berubah kosong. Dan ketika teman-temannya sudah berada beberapa meter di depannya, Neil perlahan-lahan membelokkan arah. Tak cukup sampai di sana, kabut tipis mulai melingkupi ksatria itu, mengaburkannya dari pandangan Nick serta Aerin. Segalanya sudah terlambat ketika akhirnya Nick menyadari bahwa salah satu rekan perjalanannya sudah menghilang.