Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Menjajal Kekuatan


__ADS_3

Seperti kata Neil, Aerin membaik dengan cepat. Selain karena ia adalah seorang elf penyembuh, juga karena tubuhnya hanya kelelahan biasa setelah menjaga Nick selama berhari-hari. Sejalan dengan kesembuhan Aerin, Nick pun juga pulih lebih cepat. Pemuda itu sudah bisa berdiri dan beraktivitas seperti biasa dua hari setelah ia sadar.


Calada bilang, Nick adalah manusia pertama yang bisa pulih dalam waktu kurang dari satu bulan setelah menyerap kekuatan permata naga. Manusia lain pada umumnya membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan hingga seluruh kekuatan permata bisa menyatu sempurna dengan tubuh dan jiwa mereka. Namun, Nick hanya perlu waktu sepuluh hari.


Tentu saja sihir penyembuh Aerin juga berkontribusi terhadap proses adaptasi. Akan tetapi, alasan terbesarnya adalah karena Nick sendiri sudah memiliki energy core yang cukup kuat dan stabil. Kini, setelah mendapat permata Calada, Nick merasa kekuatan menjadi semakin besar. Pemuda itu pun mulai mencoba berlatih setelah tubuhnya pulih sempurna.


“Kau benar-benar harus berlatih sekarang juga? Istirahatlah beberapa hari lagi sampai benar-benar membaik,” nasehat Neil yang mengikuti Nick keluar gua.


Aerin sedang pergi mencari tanaman obat bersama Calada. Entah kenapa mereka berdua menjadi lebih akrab akhir-akhir ini.


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Neil. Aku belum pernah merasa lebih hidup dari ini,” tukas Nick bersemangat. Setelah mengalungkan pedangnya di bahu, Nick pun menoleh ke arah Neil. “Mau ikut?” ajaknya sembari tersenyum simpul.

__ADS_1


Neil mendengkus pendek, lalu balas tersenyum. “Baiklah. Lebih baik aku mengawasimu dari pada terjadi sesuatu di luar sana,” ujarnya.


Nick tertawa. “Siapa yang harus mengawasi siapa, Neil,” selorohnya.


Detik berikutnya kedua orang itu pun sudah melesat cepat memasuki rerimbunan hutan. Mereka berdua sengaja mencari monster untuk menjajal kemampuan Nick setelah menerima kekuatan dari permata naga.


Tidak ada monster yang cukup kuat yang tinggal di dekat gua naga. Karena itu, mereka berdua harus masuk lebih jauh ke dalam hutan hingga akhirnya Nick merasakan energi kuat dari seekor monster. Sudah lama Nick tidak menyusuri hutan sampai sejauh ini. Akan tetapi, berdasarkan ingatannya, monster yang tinggal di lokasi ini adalah rubah angin berekor sembilan. Elemen yang cocok untuk mencoba kemampuan barunya.


Angin semilir membawa aroma amber yang lembut dan hangat. Tepat di tengah padang rumput itu, seekor monster rubah raksasa setinggi sembilan meter bergelung nyaman dengan ekor-ekornya yang bergerak searah angin.


Nick dan Neil pun menghentikan lagkah mereka dan mengamati dari atas rerimbunan pohon di pinggir padang rumput.

__ADS_1


“Kau serius ingin melawannya?” tanya Neil memperhatikan monster yang berbulu krem muda yang lembut itu.


“Dia lawan yang cocok untuk kekuatan baruku,” jawab Nick kemudian.


“Tapi … dia kelihatannya sangat kuat,” sahut Neil ragu.


Nick menyeringai tipis, lantas mengedik pada rekannya. “Tunggulah di sini dan lihat saja. Sebenarnya aku tidak suka menyerang makhluk lain yang tiadak mengganggu. Jadi ini bukan pertarungan hidup dan mati, Neil. Ini hanya duel biasa untuk menjajal kekuatan,” tukas pemuda itu.


Neil menarik napas panjang. “Terserah kau saja. Kalau ada apa-apa, aku akan membantumu.”


Nick hanya mengangguk sekilas lantas melompat turun dari pohon dan siap menghadapi monster rubah angin raksasa itu.

__ADS_1


__ADS_2