Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Pertarungan Melawan Rubah


__ADS_3

Nick menghunuskan pedangnya di hadapan sang monster rubah. Makhluk itu masih bergelung tak beranjak, menatap Nick dengan tajam.


“Apa yang kau inginkan, Manusia?” tanya rubah itu tanpa ekspresi. Monster dengan level tinggi seperti rubah tersebut memang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia.


“Aku ingin bertarung denganmu,” ajak Nick kemudian.


Monster rubah itu menggeram, tanda bahwa ia tidak tertarik. “Kenapa ingin melawanku, Manusia? Aku tidak pernah mengganggu kaummu,” geramnya dengan nada rendah.


“Ini bukan pertarungan untuk balas dendam, Rubah. Kau kuat. Karena itu aku ingin mencoba melawanmu,” bujuk Nick dengan pujian samar.


Rubah itu terlihat senang karena disebut kuat. Ia menggoyang-goyangkan sembilan ekornya dengan riuh, lantas bangkit berdiri dengan empat kaki. “Aku tidak akan berbelas kasihan sekalipun kau adalah manusia,” ujarnya kemudian.

__ADS_1


Nick tersenyum simpul. “Itu yang kuinginkan,” ujarnya sembari mengangkat pedang besarnya.


Sebelumnya, Turpin, pedang besar milik Nick itu, hanya bisa memberikan efek sayatan energi dari tebasannya yang dahsyat. Namun kini, setelah Nick sudah menyerap permata naga, elemen api ditambahkan dalam kekuatannya. Nick merasakan energi membara yang menggebu-gebu, meminta untuk diluapkan.


Maka dengan instingnya yang bekerja secara otomatis, Nick pun memanggil elemen api tersebut dan segera merembet keluar dari tangannya yang menggenggam pedang. Turpin pun membara dilingkupi lidah-lidah api merah yang penuh energi. Api itu akan membakar hangus apa pun yang dikenainya, tetapi sama sekali tidak menyakitkan bagi Nick. Alih-alih, ia justru hanya merasakan sensasi hangat yang nyaman.


Sang monster rubah menggeram sekali lagi. “Rupanya kau punya kekuatan yang lumayan. Karena itu kau begitu percaya diri. Tapi jangan terlalu yakin. Aku sama sekali tidak akan melunak,” ujarnya menyeringai, menampakkan taring-taringnya yang mengerikan.


Lompatan Nick begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Kecepatannya meningkat drastic berkat permata naga. Kini yang bisa dilihat oleh mata normal hanyalah kelebat-kelebat merah yang bergerak sangat cepat mengelilingi Monster rubah itu. Nick menyabetkan pedangnya ke tubuh sang monster. Namun rubah itu pun tak kalah kuat. Makhluk tersebut bisa membaca energi dan segera memanggil angin topan dahsyat untuk melindunginya.


Nick nyaris terlempar ke tanah. Dia mendarat cepat dengan satu kaki, lantas langsung menjejakkan kaki lainnya untuk kembali memelesat. Pedang apinya merobek pusaran angin sang rubah. Nick menyeringai, seolah hal ini sudah ditunggunya sedari tadi. Sembari bertahan di tengah pusaran angin tersebut, Nick menyalurkan energi apinya agar bisa berputar bersama aliran udara.

__ADS_1


Api dan angin pada dasarnya adalah elemen komplementer. Semakin besar angin yang bertiup, lidah api yang menggila dari energi Nick pun semakin membesar. Nick seolah memanfaatkan kekuatan sang rubah untuk membuat semacam jurus pusaran api yang mengerikan. Rubah yang malang itu pun terjebak di tengah-tengah kekuatannya sendiri, yang sudah disabotase oleh Nick.


Di tengah kepanikan tersebut, Nick pun menyeruak masuk dengan pedang terhunus. Satu gerakan cepat dari pedangnya yang terayun menimbulkan efek energi tajam yang nyaris membelah leher monster Rubah tersebut.


Sang Rubah menyadari bahaya itu, lantas ia pun segera mengubah dirinya menjadi wujud mini agar terhindar dari tebasan pedang Nick. Tubuhnya menyusut diikuti bunyi plop keras dan asap tebal. Pusaran tornado api yang sedari tadi melingkupi mereka pun perlahan sirna.


Nick terjun dari ketinggian dan mendarat mulus di atas tanah. Di hadapannya, kini seekor rubah kecil tampak menggeram marah dengan bulu kremnya yang berdiri tegak.


Nick mendengkus pelan, lantas bejongkok di hadapan rubah kecil itu. “Jadi ini wujudmu yang sebenarnya. Kau sudah lama berkultivasi, Rubah. Tapi kekuatanmu tetap tidak sepadan denganku,” ujar Nick menggoda.


Rubah itu masih mendesis-desis marah. “Kau menunggangi jurusku, dasar Manusia Licik! Pertarungan ini belum selesai! Kita ulangi sekali lagi! Aku akan benar-benar mengalahkanmu!” kecam sang rubah kecil marah.

__ADS_1


__ADS_2