Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Rencana


__ADS_3

Hari selanjutnya, Nick tidak berniat untuk melakukan pertarungan apa pun. Ia sudah cukup yakin dengan kemampuannya, terutama setelah melawan siluman rubah di hutan. Alih-alih, hari itu ia memutuskan untuk mulai menyusun rencana membebaskan Tiberias dari kekuasaan Tadeus yang kejam.


Nick duduk bersama Calada, Aerin serta Neil di balai kediaman naga. Mereka membahas beragam cara untuk bisa menaklukkan seluruh pasukan Tadeus dan merebut kembali tahta kerajaan Tiberias.


“Aku tidak punya cukup pasukan untuk memulai peperangan. Perlukah kita mulai merekrut ksatria?” tanya Nick pada Neil.


“Itu tidak sulit. Aku bekerja untuk beberapa guild terselubung yang tersebar di seluruh penjuru Tiberias. Jika kau membutuhkan, aku bisa langsung memanggil mereka. Orang-orang guild itu akan dengan senang hati menghancurkan raja lalim tersebut. Tapi, tetap saja, aku tidak merasa jumlah mereka cukup untuk mengatasi pasukan kerajaan. Bahkan jika mereka cukup kuat, sudah pasti peperangan pecah sebelum ini. Tidak, Nick, aku tidak menyarankan kau untuk hanya mengandalkan kekuatan para ksatria dari guild. Mereka bisa menjadi bantuan berharga, tapi itu saja tidak cukup,” terang Neil panjang lebar.


Kata-kata Neil benar. Jika para ksatria manusia memang cukup kuat untuk menggulingkan pasukan Tadeus, sejak dulu mereka pasti akan melakukan pemberontakan.


“Kurasa ini bukan semata-mata tentang kekuatan, tapi para manusia itu belum menemukan sosok yang dapat mereka percaya untuk menggantikan raja yang sekarang. Pemberontakan mereka tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada orang yang memimpin dan menyatukan mereka. Karena itulah, keberadaan Nick bisa mengubah situasi politik di tengah para ksatria maupun anggota guild.” Calada menyela dengan memaparkan kebijaksanaannya.


Sekonyong-konyong Neil tampak tercerahkan. Matanya melebar seolah mendapat pemahaman baru yang berharga. “Anda benar, Nyonya Calada. Jika kami memiliki Putra Mahkota sebagai jenderal perang, maka situasi bisa berbalik. Pemberontakan menjadi lebih terpusat karena kami memiliki sosok yang dapat kami andalkan,” ujarnya bersemangat.


“Meski begitu, kalian tetap tidak boleh gegabah. Tadeus juga menguasai ilmu hitam, yang mana dapat menggunakan hal itu untuk menciptakan monster bahkan wabah penyakit. Jika kalian ingin melakukannya dengan benar, kalian harus berlatih dalam waktu yang tidak singkat,” nasehat Calada lagi.


“Ibu benar. Selain mengumpulkan orang-orang yang bersedia berperang bersamaku, kita juga harus membangun pasukan secara diam-diam agar tidak terendus oleh pihak kerajaan,” tambah Nick tenang.


“Itu tidak masalah. Kita bisa menggunakan waktu sebanyak yang kita butuhkan. Guild-guild itu memiliki tempat tersembunyi yang tidak bisa dijangkau oleh kerajaan. Mereka bahkan melatih asasin untuk memata-matai para bangsawan secara berkala,” timpal Neil tetap optimis.


Nick kembali memikirkan orang-orang tak bersalah yang telah lama menderita sepanjang pemerintahan Tadeus. Desa-desa yang hancur dipenuhi bau kematian. Para budak yang diperlakukan lebih rendah dari serangga. Bahkan para makhluk sihir yang harus hidup bersembunyi di bawah bayang-bayang ketakutan. Haruskah mereka menunggu lebih lama lagi untuk diselamatkan? Kenapa baru sekarang Nick disadarkan akan kondisi dunia yang sudah hancur lebur seperti ini?


Pikiran-pikiran buruk itu secara perlahan memecah ketenangan Nick. Pemuda itu mengepalkan tangannya menahan amarah. Dadanya sesak oleh kemarahan. Ada rasa sesal yang menelusup di relung jiwanya. Kenapa dia tidak bertindak sejak dulu? Kenapa baru sekarang setelah semuanya terlambat?

__ADS_1


“Nick.” Suara Calada memanggilnya dengan lembut. Sang naga meraih tangan Nick yang terkepal secara perlahan, seolah mengingatkan putranya untuk tetap tenang dan menguasai diri.


“Semua hal yang sudah terjadi, itu di luar kuasamu. Segalanya sudah ditakdirkan, termasuk kejatuhan Tiberias dan penderitaan para rakyat. Itu bukan salahmu, atau salah siapa pun. Segalanya sudah ditetapkan untuk membuat bangsamu menjadi lebih memahami tentang perjuangan dan cinta kasih. Percayalah akan takdirmu sendiri,” ujar Calada sembari menatap putranya lekat-lekat.


Seketika kemarahan di dada Nick melebur. Ketenangan kembali mengisi hatinya. Tidak ada gunanya menyesal. Semua sudah terjadi. Kini saatnya untuk bangkit dan melakukan yang bisa dia lakukan.


“Terima kasih, Ibu. Maaf karena sesaat aku nyaris kehilangan kesabaran,” ujar Nick kemudian.


Calada mengangguk, lalu melepaskan genggamannya dari tangan Nick. “Kau harus bisa mengendalikan diri, Nick. Dengan kekuatan besar yang sudah kau miliki, kau bisa kehilangan dirimu dan dikuasai oleh kegelapan. Sangat mudah tergelincir dalam kejahatan. Berhati-hatilah dengan tanggung jawab yang kau emban. Atau kau juga akan berubah menjadi tiran yang sama seperti raja kalian yang sekarang,” pesan naga itu sungguh-sungguh.


Selama beberapa waktu, keheningan melingkupi mereka. Kata-kata Calada bukanlah ucapan kosong. Manusia adalah makhluk yang berdiri di ambang jurang baik dan buruk, seperti berjalan di atas seutas tali yang sangat rapuh. Sedikit saja Nick melakukan kesalahan, dia mungkin bisa tenggelam dalam kegelapan selamanya.


“Aku akan berhati-hati, Ibu,” ucap Nick setelah beberapa detik terdiam.


“Suku elf,” ucap Aerin tiba-tiba. “Nyonya Naga, maksud saya, Calada, saya pikir suku elf pasti bersedia membantu jika para manusia benar-benar berniat melakukan pemberontakan. Seperti yang sudah diketahui, kami hidup tersembunyi dan harus menanggung banyak kesulitan setelah raja terdahulu wafat. Jadi, jika kita bisa menemui suku elf, mereka pasti bersedia mengulurkan tangan. Terlebih jika Nick adalah putra Raja Tiberias sebelumnya. Hubungan raja kami dengan Raja Tiberias sangat baik secara turun temurun. Keberadaan Nick akan membawa harapan juga bagi suku kami,” lanjutnya memberanikan diri bicara.


“Itu adalah saran paling bermanfaat yang pernah kau ucapkan, Aerin. Selama ini kami kesulitan menghubungi kalian, terlebih para elf membenci manusia sejak Tadeus memerintah. Tapi kalau ada kau dan Nick, kerja sama dengan para elf sangat memungkinkan. Rupanya kau bisa juga memberi saran yang berguna ya, Aerin. Tidak hanya marah-marah saja,” ujar Neil terkekeh.


Aerin cemberut sambil menatap Neil dengan tajam. “Aku memang sudah lama memikirkan tentang hal ini. Tapi baru sekarang bisa kuungkapkan,” protesnya.


Nick dan Calada tersenyum kecil. “Bisakah kau memandu kami menuju kerajaanmu, Aerin?” tanya Nick kemudian.


Aerin mengangguk mantap. “Tentu saja. Kebetulan aku punya hubungan dekat dengan anggota kerajaan suku elf.”

__ADS_1


“Kau? Jangan bilang kau putri raja elf atau semacamnya?” tanya Neil pura-pura terkejut.


Aerin hanya mendesis kesal karena gurauan Neil. “Seharusnya kau memperlakukanku dengan baik sejak awal,” ujarnya sembari melirik tajam.


Pembicaraan itu lambat laun menemukan titik terang. Setidaknya sekarang Nick sudah tahu apa-apa saja yang harus dia lakukan. Bantuan dari suku elf akan sangat berguna, serta bisa memperbesar peluang kemenangan mereka. Bahkan jika ia bisa menemui sang raja elf, gerakan pemberontakan bisa segera dilakukan tanpa perlu memakan waktu lama.


Semangat Nick pun mulai berkobar lagi. Kini mereka mulai merencanakan perjalanan menuju kerajaan suku elf yang tersembunyi, sambil menghubungi para ksatria yang terbuang dari guild terselubung.


Sayangnya, di tengah percakapan menarik itu, mendadak Nick merasakan kedatangan energi besar yang bergerak cepat menuju ke tempat mereka berada. Sontak pemuda itu pun berubah wasapada. Ia menajamkan seluruh inderanya untuk menangkap energi besar yang terasa bermusuhan itu. Dan bukan hanya Nick, Calada sang naga juga merasakan lonjakan hawa membunuh yang kasar sedang bergerak mendeat.


“Ada apa dengan kalian?” tanya Neil yang tidak memiliki kepekaan insting setajam Nick. Ia dan Aerin menatap bingung ke arah Nick serta ibunya yang kini duduk tegak tampak penuh kewaspadaan.


“Bukan apa-apa,” jawab Calada berubah kalem. “Teman baru Nick tampaknya datang berkunjung. Biar putraku saja yang menyambutnya,” lanjut naga itu seolah sudah tahu siapa yang hendak muncul membawa hawa membunuh yang kuat.


“Ah, rupanya dia,” ujar Nick menanggapi. Pemuda itu mendengkus pelan lalu mengurangi ketegangannya. Ia beranjak berdiri sembari menyambar pedangnya dengan tenang.


“Hah? Apa maksudnya? Siapa yang datang? Kau punya teman di sini?” tanya Neil masih belum bisa merasakan apa pun.


Akan tetapi, detik berikutnya, saat sosok di luar rumah itu sudah cukup dekat, akhirnya Neil serta Aerin bisa merasakan ancaman.


“Nick … jangan bilang kemarin kau melawan makhluk sekuat ini …?” tanya Aerin terbelalak.


Nick hanya tersenyum simpul. “Dia tidak sekuat itu. Jangan khawatir,” ujar Nick ringan lalu melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2