Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Kontrak Spirit


__ADS_3

Nick keluar tepat pada waktunya. Begitu dia melangkahkan kakinya melewati pintu depan gua naga, sosok pembawa energi besar itu sudah sampai di hadapannya. Makhluk raksasa berbulu yang penuh dendam. Siluman rubah yang kemarin dilawan oleh Nick.


“Aku tidak mengira kau akan datang berkunjung. Apa kau merindukanku, Rubah?” tanya Nick enteng.


Sang rubah menatap Nick dengan tatapan bengis. “Aku memang datang ke sini untuk mencarimu. Kita masih punya urusan yang belum selesai,” desisnya marah.


“Aku terharu. Kau bahkan berani mendatangi gua naga dengan kakimu sendiri, disertai hawa membunuh yang pekat. Apa kau berniat menantang sang naga juga?” tanya Nick memprovokasi.


“Aku tidak ada urusan dengan makhluk suci itu. Naga cukup bijaksana untuk mengetahui masalah yang harus kita berdua selesaikan tanpa perlu ikut campur,” ujar sang rubah tak gentar.


Nick mendengkus. Seperti yang diharapkan untuk ukuran rubah berusia ratusan tahun. Makhluk itu cukup paham bagaimana sifat-sifat alami para naga.


“Aku putra naga terakhir yang tinggal di sini. Kau tetap berani menantangku?” pancing Nick sekali lagi.


“Kau menantangku lebih dulu, Manusia,” geram sang rubah. “Ini adalah pertarungan yang adil,” imbuhnya.


Nick berdecih pelan sembari tertawa kecil. “Kaummu terkenal licik. Bisa-bisanya kau bicara soal keadilan.”


Sang rubah menggeram marah. “Aku sedang mengumpulkan benih energi untuk menjadi makhluk suci. Tapi kau mengacaukannya dengan membuatku marah. Bertanggung jawablah dan jangan banyak bicara! Aku akan melawanmu sampai salah satu dari kita mati,” ancam sang rubah sudah benar-benar murka.

__ADS_1


“Baik, baik. Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi,” sahut Nick sembari mencabut Turpin, pedang besarnya yang perkasa.


Seringai lebar tersungging di wajah Nick. Tentu saja dia tidak akan melewatkan pertarungan hebat ini sia-sia. Hari ini, sang rubah sendiri yang menawarkan nyawanya pada Nick. Pemuda itu tentu harus menerimanya dengan gembira.


Dengan gerakan cepat, sang rubah menerkam Nick tanpa ragu. Nick melompat menghindar sambil melakukan manuver serangan dengan pedangnya. Siluman rubah itu meliuk gesit untuk menghindar. Elemen angin membuatnya bisa bergerak sangat cepat, nyaris tak terlihat. Meski, begitu, Nick tetap bisa mengimbanginya.


“Kau sedikit lebih cepat dari sebelumnya, Rubah,” ujar Nick setelah memperhatikan gerakan lawannya.


“Tentu saja. Aku sudah memangsa puluhan jantung monster sebelum datang ke sini. Tidak mungkin aku datang tanpa persiapan,” ujar sang rubah galak.


“Bukankah itu artinya kau merusak kultivasimu sendiri? Kau tidak boleh membunuh jika ingin menjadi makhluk suci,” komentar Nick menanggapi. Keduanya terus bertarung sambil bercakap-cakap.


Nick menangkis jurus cakaran angin rubah itu dengan pedangnya. Ia lantas menggunakan elemen andalannya, api, untuk melapisi Turpin sehingga serangan perdangnya akan menghasilkan kerusakan yang lebih besar.


“Kau sendiri yang memutuskan untuk jatuh dalam dendam, Rubah. Aku semata-mata menantangmu bertarung bukan untuk menghinamu,” ujar Nick tajam.


Pertarungan berlajut dengan lebih sengit. Keduanya lantas bergerak menjauhi sisi gua dan mulai masuk ke dalam hutan. Pepohonan tumbang, tanah hancur oleh ledakan. Pertarungan dahsyat itu telah merusak area hutan yang mereka lewati. Nick mulai kewalahan, karena faktanya rubah itu memang menjadi lebih kuat setelah menyerap energi monster lagi dengan memakan jantung mereka.


Meski begitu, Nick juga sedikit bersimpati pada siluman rubah itu. Padahal makhluk itu sudah berkultivasi selama ratusan tahun untuk mendapat kekuatan suci. Namun, kini rubah itu justru kembali jatuh dalam lumpur kegelapan. Seluruh usahanya selama bertahun-tahun itu menjadi tak berguna hanya karena satu kesalahan yang membuatnya tenggelam dalam kegelapan. Sikap rubah itu membuat Nick belajar agar tidak mudah terpengaruh dengan emosi, baik itu emosi negatif mau pun positif. Keduanya bisa menyesatkan makhluk hidup ke dalam jurang kegelapan jika tidak berhati-hati.

__ADS_1


Karena rasa iba itu, akhirnya Nick berniat untuk segera mengakhiri pertempuran itu sebelum sang rubah menjadi semakin tenggelam dalam kemarahan. Pemuda itu melepaskan lebih banyak energi api hingga melingkupi tubuhnya dalam radius setengah meter. Ia lantas melesat cepat menyerang sang monster rubah, sebelum makhluk itu sempat menghindar. Memanfaatkan elemen cakaran angin milik sang rubah,  Nick membuat serangan apinya menjalar semakin besar hingga akhirnya berhasil membakar bulu-bulu rubah itu.


Sang monster meraung keras. Api yang disabetkan melalui pedang oleh Nick itu tidak akan bisa padam sebelum pemuda itu memerintahkan. Karena itulah siluman rubah tersebut sudah langsung kalah begitu api Nick berhasil mengenai tubuhnya.


“Dasar manusia sialan! Aku tidak akan memaafkanmu meski aku mati sekalipun! Aku akan membunuhmu!” raung sang rubah mulai terbakar di seluruh tubuhnya.


Nick menatap lawannya dengan sedih. Melihat sang rubah yang tersiksa dan semakin marah, justru membuat Nick merasa semakin iba. Sedikit banyak, dia jugalah yang sudah membuat monster itu menjadi seperti itu. Padahal selama ini rubah itu tidak pernah mengganggu makhluk lain dan telah menahan diri selama ratusan tahun. Pantaskah dia mati di tangan Nick?


“Hei, Rubah! Aku akan memberimu penawaran. Aku akan membantumu untuk mengembalikan periode kultivasi yang hilang itu, dengan membagikan energi suci yang kudapat dari naga. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjalin kontrak spirit denganku selama sepuluh tahun saja,” kata Nick kemudian.


Itu bukan tawaran kosong. Sepuluh tahun untuk menggantikan masa ratusan tahun yang sudah hilang sangatlah ringan. Meski begitu, sang rubah tidak mudah dibujuk, terutama ketika seluruh bulunya terbakar dan dia kesakitan juga marah.


“Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Manusia licik?!” sergah sang rubah.


“Aku bertanggung jawab atas kata-kataku. Kau bisa mempercayai janjiku. Tapi kalau kau memang itu tidak cukup, kita bisa melakukan perjanjanjian darah untuk dimasukkan dalam kontrak kita,” ujar Nick sembari mengangkat tangan kirinya, memerintahkan agar api yang membakar tubuh rubah dapat padam secara perlahan.


Sang rubah meringkuk lemah dengan seluruh tubuhnya berasap dan terluka. Ia menatap Nick dengan tajam dan masih menyiratkan amarah. Meski begitu, sepertinya tawaran Nickuntuk memberikan energi suci naga cukup menarik baginya.


“Bliss. Itu namaku,” ujar si monster rubah lantas menyusut menjadi wujud kecilnya.

__ADS_1


Nick tersenyum. Memberi tahu nama asli rubah sama artinya dengan menyetujui tawaran kontrak spirit dengan Nick. Tanpa diduga, pemuda itu justru mendapatkan seekor spirit angin kuat yang sangat cocok dengan kemampuan apinya. Dengan bantuan rubah itu, maka kekuatannya dapat dilipatgandakan.


__ADS_2