Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Kemenangan Beruntun


__ADS_3

Nick menyanggupi tantangan monster rubah itu. Mereka pun kembali berduel dengan sengit. Akan tetapi, kekuatan elemen mereka secara alami sangat kompatibel. Situasi tersebut terutama sangat bermanfaat bagi Nick. Sekali lagi, pertarungan mereka kembali dimenangkan oleh pemuda itu. sang rubah angin dipaksa gigit jari karena Nick selalu bisa dengan cerdik memanfaatkan kekuatan miliknya untuk memperkuat pedang api Turpin.


“Kita akhiri di sini. Sesuai janji, aku tidak akan membunuhmu. Terima kasih atas duel menyenangkannya, Rubah,” ujar Nick setelah hari bergerak malam.


Sang rubah, yang kini sudah terluka parah tetapi tidak mati, menggerung kesal karena berkali-kali dikalahkan oleh seorang manusia. Luka-luka sayatan memenuhi tubuhnya, dan bulu-bulu kremnya sudah separuh terbakar. Menyisakan aroma hangus yang menggantung pekat di udara.


“Dasar monster. Apa tujuanmu menantangku tapi tidak membunuhku? Kau mempermainkanku?” geram sang rubah marah.

__ADS_1


Nick tertawa keras. Pemuda itu tidak sepenuhnya baik-baik saja. Tubuhnya juga terluka oleh cakaran dan serangan pisau angin dari sang rubah. Namun, dibandingkan dengan kondisi monster rubah, keadaan Nick jelas jauh lebih baik.


“Aku anggap itu pujian,” sahut Nick, merujuk pada serapah rubah yang menyebutnya monster. “Seperti yang kubilang sebelumnya, aku hanya ingin mencoba kekuatan baruku. Jadi tidak perlu terlalu sentimental,” jawab Nick sembari mengibaskan pedangnya untuk membersihkan bekas darah yang menempel.


“Aku pergi sekarang. Dengan kemampuan penyembuhmu, luka-luka yang kau terima hari ini akan sembuh besok pagi. Aku tidak menyerang titik vitalmu sama sekali. Jadi beristirahatlah dengan baik, Rubah,” lanjut pemuda itu bersiap pergi.


“Tidak bisa dibiarkan!” gelegar sang Rubah tiba-tiba. “Masa-masa kultivasiku selama ratusan tahun, dipermainkan begitu saja oleh manusia yang hidupnya tidak sampai separuh usiaku. Aku akan membalasmu. Kau … datang kemari besok pagi. Kita akan bertarung sekali lagi,” geram sang rubah dengan emosi membara.

__ADS_1


“Baiklah. Sampai jumpa besok kalau begitu.” Nick menjawab sembari melambai. Pemuda itu lantas melompat pergi menghampiri Neil yang sedari tadi menunggu di balik pohon.


“Aku tahu kau memang luar biasa, Nick. Tapi disebut monster oleh seekor monster? Itu pencapaian yang langka,” puji Neil sembari terkekeh.


Nick hanya tersenyum simpul. “Ayo pulang untuk makan malam. Aku kelaparan.”


“Aerin pasti memarahi kita,” keluh Neil kemudian.

__ADS_1


Kedua orang itu pun melesat pergi menembus hutan dan kembali ke gua naga dengan cepat. Seperti dugaan Neil, Aerin marah besar ketika melihat mereka datang. Tubuh Nick yang penuh luka buru-buru disembuhkan oleh gadis elf itu, sambil diiringi oleh omelan panjang yang seakan tiada akan berakhir.


Nick dan Neil dengan tabah menerima repetan Aerin sepanjang makan malam. Calada tidak berkomentar apa-apa dan hanya tersenyum geli melihat interaksi ketiga manusia di kediamannya tersebut. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mengalami keramaian yang menyenangkan seperti itu di guanya. Meski begitu, Calada berusaha untuk tidak terlalu terikat secara emosional terhadap mereka. Cepat atau lambat, mereka juga akan berpisah pada waktunya nanti. Calada cukup menikmati momen ini sekadarnya. Hingga nanti ia pun harus meninggalkan dunia ini dan bersatu dengan jiwa kaum naga lainnya.


__ADS_2