Untold Story Of Tiberias

Untold Story Of Tiberias
Penyiksaan


__ADS_3

Rasa sakit luar biasa mendera Nick. Dadanya seperti terbakar hingga ke ulu hati. Darah menyembur dari seluruh lubang di kepalanya, mulut, hidung, telinga bahkan kedua matanya. Nick berusaha tetap bertahan. Ia mengatur napasnya sedemikian rupa agar aliran energinya tidak bocor. Kebocoran energi bisa membuat segala proses penyerapan gagal, dan permata naga itu justru hancur berkeping-keping.


Nick berusaha bertahan dalam posisi duduk bersila. Namun kini, rasa sakit di tubuhnya justru semakin menjadi-jadi. Pemuda itu akhirnya tidak tahan lagi dan mulai berteriak keras, mengerang kesakitan.


“Bertahanlah, Nick! Permata energinya baru terserap separuh!” seru Calada mencoba menguatkan.


Nick masih terus mengerang. Tubuhnya yang bertelanjang dada sudah bersimbah darah. Seluruh persendiannya merasakan nyeri luar biasa. Tulang-tulangnya seperti diremuk dengan paksa dan otot-ototnya ditarik hingga nyaris putus.


“Perhatikan napasmu, Nick. Kendalikan diri!” Calada kembali berseru di tengah-tengah rapalan mantranya.

__ADS_1


Cahaya merah benderang melingkupi tubuh Nick. Lingkaran sihir yang terukir di bawah tubuhnya turut menjadi katalis agar penyerapan energi bisa sempurna dilakukan. Setelah permata itu sudah nyaris masuk seluruhnya ke dada Nick, tubuh pemuda itu pun mulai melayang beberapa sentimeter dari atas lantai batu gua.


Suara erangan Nick semakin keras, sejalan dengan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Darah segar terus mengalir dari setiap sudut wajahnya, hingga akhirnya, proses mengerikan itu pun berakhir. Seluruh permata berhasil terserap sempurna di dalam tubuh Nick, menyatu dengan jiwa dan setiap sel yang membentuk badannya.


Nick telah berhasil menyerap seluruh energi permata naga. Namun, sebagai gantinya, pemuda itu pun kembali jatuh tersungkur di lantai gua. Ia kehilangan kesadaran karena tak kuasa menahan rasa sakit.


Perlu waktu sepuluh hari penuh sampai akhirnya Nick bisa kembali sadar. Selama waktu itu, tubuhnya dilanda demam tinggi dan muntah darah beberapa kali. Bahkan dalam kondisi pingsan, Nick mendapat mimpi buruk yang mencekam.


Beruntung pemuda itu akhirnya bisa bangun setelah Aerin yang terus mengiriminya energi penyembuh tanpa terputus. Gadis elf itu juga tampak kepayahan setelah sepuluh hari penuh mendampingi dan merawat Nick siang dan malam. Nick mendapatinya tengah duduk di samping tempat tidur sambil memejamkan mata dan mengulurkan kedua tangannya untuk mengalirkan energi emas penyembuh ke tubuh Nick.

__ADS_1


“Aerin … ,” desah Nick dengan suara parau.


Sontak Aerin pun membuka matanya. Wajahnya yang pucat dan tirus pun menampakkan ekspresi lega luar biasa. “Nick … kau sudah sadar … ,” gumam gadis itu dengan air mata menggenang. Ia berusa memeluk Nick, tetapi rupanya Aerin juga sudah berada di batasnya sendiri.


Gadis elf itu pun jatuh pingsan karena kelelahan. Dengan sigap, Neil, yang juga berada di ruangan tempat tidur Nick, menangkap tubuh Aerin yang melorot jatuh dari kursi.


“Syukurlah kau sudah sadar, Nick. Aerin benar-benar mencemaskanmu,” tukas Neil yang juga ikut merawat Nick siang dan malam.


“Aerin … apa dia baik-baik saja?” tanya Nick yang masih lemah dan sulit bergerak.

__ADS_1


“Dia hanya kelelahan. Jangan khawatir. Setelah istirahat yang cukup, Aerin akan kembali seperti biasa,” jawab Neil sembari membopong tubuh Aerin lantas membawanya ke kamar lain.


__ADS_2