Ussay: Bulan

Ussay: Bulan
janji kelingking


__ADS_3

"waktu selalu berlalu sangat cepat, itulah salah satu hal yang tidak bisa dipungkiri lagi,"


-APJ


"Apaan sih kak, lepasin!,"Melati berontak. "Sakit kak,"kali ini ia memelas, hingga kak Langit melonggarkan genggamannya.


"Masuk mobil!,Melati menurutinya.


"Kenapa lari dari rumah?, bunda nyariin tuh,"Melati terdiam.


"Kamu tega buat bunda khawatir?,"kesal dengan melati yang tak kunjung menjawab membuat kak Langit mencengkram bahunya.


Yap, benar.


mereka adalah kakak beradik.


"kakak lagi ngomong sama kamu, tolong dijawab!"bentak kak Langit semakin kencang cengkramannya.


"Aku udah gede kak, aku berhak memilih jalan aku sendiri,"kak Langit tercengang, adik manjanya ini apa sudah dewasa ya.


isak tangis mulai terdengar samar- samar,


"a. aku...,"


"jangan menangis!, kakak tahu ini sulit untukmu, begitu juga kakak," kak Langit mersa menyesal telah membentaknya, bagaimanapu n juga ia masih gadis kecil kesayangannya.


"kamu tinggal dimana?, bersama siapa?,"isak itu mulai memudah seiring dengan nada lembut yang kak Langit ucapkan.


"beritahu kakak, alamatmu!," Melati mendongkak, kak Langit menghapus bekas tangisnya.


"jangan buat kakak khawatir," dibelainya pipi Melati lembut,


Yah, melati merupakan adik kak Langit yang selalu ia manjakan,


"maaf,"bibir itu bergetar,


"aku..., aku hanya ingin membuat bunda sadar dan mulai memperhatikanku, kak"Kak Langit terteguh mendengarnya.


"aku, ingin dia mengecup keningku saat hendak terlelap, dan berucap 'mimpi indah anakku,"


"aku...,


sruttt, jari telunjuk kak Langit menempel dibibir Melati,


"asal kamu tahu, bunda begitu menyayangimu, dek" pelukan kak Langit menenangkan hati gundah Melati.


"jika tidak, mana mungkin ia repot- repot mengutus kakak untuk menjemputmu pulang,"di elusnya rambut Melati.


"ia sangat mengkhawatirkanmu, pulanglah!," Melati menggeleng, membuat pelukan itu tiba- tiba terlepas sepihak.


"kenapa dek?,"


"aku ingin bebas kak, aku ingin hidup mandiri dan merasakan bagaimana kejamnya dunia ini kak,"tekad Melati.


"apa kamu yakin?,"


"tentu saja, aku ingin melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda tapi, dari mata yang sama," Melati menunjuk- nunjuk matanya itu, guna meyakinkan kak Langit,


"Ngelindur, ya" mencubit pipi Melati,


"aish...ah... apaan sih kak, sakit tahu," kak Langit menarik tangannya, sedangkan Melati terus menggosok- gosok pipinya.


"udah bangun ternyata,"kekeh kak Langit membuat Melati sebal,


"aku bukan anak kecil yang manja lagi kak, aku sadar, aku inggin membanggakan ibu dan ayah bersama dia,"kak Langit mengerutkan keningnya,bingung.


"dia?, Melati mengangguk pasti,


"Bulan, kak" kak Langit terkejut.


"disaat semua orang ingin datang hanya karna aku anak orang kaya, ia malah datang dengan hati yang tulus"

__ADS_1


"aku mengaguminya kak, selain cerdas, ia juga memiliki tekad yang kuat dan api semangat yang membara, ia sangatlah berbeda dari yang lainnya,"kata- kata mutiara itu terus terucap darinya.


"aku ingin berjuang untuk menang bersamanya kak," final Melati penuh keyakinan.


"apa kamu yakin?, sepertinya dia akan sangat merepotkanmu,"


hatcuhh....


"siapa yang membicarakanku,"Bulan.


"aku yakin kak, aku ngga ingin dicap sebagai anak kaya yang tak berguna,"


"baiklah, adik kakak ini udah besar tenyata,"kekeh kak Langit mengelus kepala Melati gemas.


"aduh... nanti kusut kak, jelek tahu"rajuk Melati.


"eh iya, kamu belum jawab pertanyaan kakak,"Melati mengingat- ingat,


"yang mana kak?,


cletak...


"ahh... sakit kak, btw dari tadi kakak menindas aku terus lho,"gerutuk Melati.


"Ya maaf, abisnya kamu buat kakak khawatir terus dek"


"pokonya kakak ngga usah khawatir, aku akan baik- baik saja, percayalah"


" ngga mau kasih tahu nih?," Melati menggelengkan kepalanya.


"yaudah iya, asalkan kamu baik- baik aja udah bikin kakak lega kok,"Melati teharu, bagaimanapun juga, kakaknya ini amat peduli padanya, ia selalu menjaganya hingga tidak ada yang berani menyakitinya, sekalipun itu nyamuk.


"aku tinggal di hotel kak," akhirnya adik kecilnya ini menjawab pertanyaannya tadi.


"hotel mana?," Melati menggeleng tak ingin kakaknya ini ikut campur lagi urusannya.


kak Langit paham maksud dari melati,


" eh iya, lupa" cengir Melati.


"jangan lupa telpon kakak!," Melati mengangguk setuju.


"nih, kakak tahu kamu lapar," kak Langit menyondorkan Roti coklat kesukaannya.


"makasih kak, pokoknya kakak yang terbaik deh,"peluk Melati penuh kasih sayang,


"eh iya kak, jangan kasih tahu Bulan kalo aku ini adik, kakak dan anak orang kaya ya kak, pliss"Pinta Melati,


"lho, kenapa?"


"akukan udah bilang kalau Bulan itu berbeda kak, dia ngga suka orang kaya, jadi aku ngga mau kalau dia tahu dan ngga mau berteman sama aku lagi kak,"


"iya, iya, sana gih!"


"dan satu lagi, jangan ikutin aku ya kak,"pinta Melati sambil memelas, membuat Kak Langit pasrah dibuatnya.


"janji kelingking?"


"iya, janji kelingking."


******


"Melati dibawa kemana sih, kok belum muncul- muncul ya,"Bulan mulai khawatir,mondar- mandir didepan pintu kelasnya.


"lagi ngapain kak?,"


"lagi nungguin..-


wet...wet... wet... kaya kenal nih suara, diliriknya orang yang bertanya tadi,


"kamu, kemana aja sih?, lama banget deh aku udah nungguin kamu dari tadi lho," Rajuk Bulan.

__ADS_1


"Maaf," cengir Melati merasa bersalah,


"kamu udah jajan?," Bulan menggeleng.


"kan nungguin kamu, Mel" Melati terharu, sampai segitunya dia,


kringg.... kringgg....


"yah udah bell tuh, ngga jadi jajan deh, padahal udah lapar," rengek Bulan.


"Maaf ya, gara- gara aku,...


"bukan masalah kok, aku bisa tahan sedikit, terus minum yang banyak udah bikin aku kenyang,"


"Yaudah masuk yuk," ajak Bulan menarik tangan Melati dan duduk dibangkunya masing- masing.


"Mau ngga?" Bulan menengok kearah Melati,


"ngga usah, buat kamu aja, aku rasa kamu juga belum jajan kan?"


"kita bagi dua gimana?"Bulan tampak menimang- nimang,


"Boleh deh," Melati tersenyum.


"oke, kita bagi dua, nah ini untukmu,"Bulan menerimanya.


"makasih,"Melati mengangguk,


*****


kebebasan untuk seorang pelajar adalah detik- detik mereka pulang dari sekolah.


"aku ikut kamu pulang bareng ya," melati memelas melebarkan matanya, mengedip- ngedipkannya lucu, dibantu dengan kedua tangannya bersatu seperti memohon.


"eh... iya iya," melati puas akan jawaban dari Bulan, ia bersorak ria dalam hati.


"yaudah, sapii go!" Bulan tertawa mendengarnya begitupun Melati.


******


"kita naik apa?"tanya Melati ketika sampai di gerbang sekolahnya,


"naik kaki,"Melati mengernyit bingung.


"maksudnya jalan kaki?," ya ampun bagaimana ini, apakah berjalan kaki akan aman untuk gadis cantik sepertinya?, pikir Melati.


"wek wek,"Bulan berucap menirukan suara bebek, Membuat Melati bingung namun ingin tertawa pula secara bersamaan.


"apaan tuh?,"


"Ayo kita pergi," Melati terheran- heran, bukannya tadi Bulan berucap hanya 2 kata sajakan?, tetapi kenapa jadi 3 kata?, ya ampun temannya ini ternyata bisa bahasa hewan juga. Luar biasa.


Diraihnya tangan Melati, berjalan diantara gang- gang sempit, Bulan bilang ini yang dinamakan jalan pintas.


"nah sampai, yang disana itu kamar aku," Bulan menunjuk satu bangun dengan banyak kamar ruangan,


"aku duluan ya," pamit Bulan, Melati mengangguk.


"eh iya, kamu tinggal dimana?, dideket sini?"


"hah... eh... iya tapi masih jauh," Bulan mengangguk paham,


"Yaudah, bye" Bulan melambaikan tangannya, "sempai bertemu besok,"sambungnya tersenyum melangkah menjauh.


Melati membalas lambaiannya serta senyumannya,


"jadi Bulan tinggal ditempat yang seperti ini," Gumam Melati pergi menjauh.


******


jangan lupa Votenya! makasih💜

__ADS_1


__ADS_2