Ussay: Bulan

Ussay: Bulan
mie goreng kuah


__ADS_3

seperti mentari berganti purnama, seperti pagi berganti malam, seperti terang berganti gelap, seperti itu pulalah manusia, mudah berubah.


*Benar jika, m**anusia adalah mahluk tuhan yang paling sempurna ketika dibandingkan dengan mahluk citaan tuhan yang lainnya.


Namun ketika manusia dibandingkan dengan manusia lainnya, maka tidak akan ada yang sempurna*.


******


"Lapor, semua tugas yang diberikan pak bos sudah selesai sampai ke akar- akarnya," Bulan dan Melati melaporkan hasil dari kerja kerasnya itu, tak lupa dengan jari tangan yang sejajar dengan alis, sebagai bukti hormatnya dan merupakan ciri khas apabila kita sedang mekapor.


Pak Ahmad sungguh takjub atas apa yang mereka laporkan, ia tak menyangka jika dua bocah ingusan ini amat berbakat dalam melakukan tugasnya.


"Kerja bagus, nak." Bulan dan Melati bangga sekaligus senang mendengarnya.


"Karna kerja kalian tidak mengecewakan, saya kasih kalian bonus." Pak Ahmad merogoh saku celananya, hingga menampakkan benda berbentuk persegi panjang berwarna putih.


"Ah..., terima kasih banyak pak bos."Bulan dan Melati menerima upahnya dengan penuh rasa syukur, tak lupa mereka menyalami pak Ahmad dengan senyum merekah.


"Sama- sama." Pak Ahmad tersenyum ramah atas kesopanan yang diperlihatkan mereka.


"Pokoknya jika pak bos butuh pekerja tambahan lagi, kami siap sedia 24 jam."Melati mengangguk- angguk atas iklan yang Bulan tawarkan.


"Baiklah, saya akan menghubungi kamu lagi nantinya."Bulan dan Melati sungguh berharap akan itu.


"Sekali lagi makasih pak bos, kalau gitu kami pamit dulu," pamit Melati dan Bulan setelah pak Ahmad mengiyakannya.


"Iya, hati- hati!." Mereka mengangguk seray berlalu ke luar dari restoran Jupiter.


Berjalan dengan beriringan berpadu angin malam yang menyejukan, bersama bayang bulan purnama yang menyedihkan.


Kendaraan roda 4 mendominasi jalanan malam ini, lampu lalu lintas menyala dengan amat teratur.


"Em..., ini bagian kamu Mel,"Melati mengerutkan keningnya melihat 2 amplop yang salah satunya adalah miliknya, pasalnya kenapa Bulan memasukan bagian miliknya kedalam amplopnya.


"Lho, kenapa dimasukin Lan?, ini kan punya kamu?," Melati hendak memberikannya kembali, namun Bulan menolaknya dengan halus.


"Eh jangan, itu untukmu, siapa tahu aja kamu banyak kebutuhan yang kamu perlukan, lagi pula uang segini udah lebih dari cukup untukku kok."Tolak Bulan memasukan kembali uangnya.

__ADS_1


"Ya ngga bisa kaya gitu dong Lan, kamu kan juga cape kerja, ini ambillah!." Lagi- lagi Bulan menolaknya, membuat Melati terharu.


"Kamu simpen deh tuh uang, suatu saat nanti pasti butuh." Tak ingin semuanya berujung perselisihan karana sama- sama keras kepala, akhirnya Melati pun mengibarkan bendera putih, ia menyerah.


"Baiklah, kali ini aku terima, tapi lain kali kamu jangan kaya gini lagi ya!," Bulan mengangkat bahunya, tak ingin berjanji akan hal itu, menurutnya Melati mungkin lebih membutuhkan uang itu daripada dirinya.


"Itulah mengapa aku menyukaimu, Rem- Bulan." Melati bergumam kecil melihat punggung mungil sahabatnya itu yang berjarak beberapa langkah darinya.


Dirasa Melati tak mengikuti langkahnya, Bulan putuskan untuk memastikan kebenarannya.


"Yeh malah bengong disitu lagi, ntar kesambel lho," kekeh Bulan yang melunturkan senyum memuja Melati untuknya.


"Ihh..., nyebelin deh" gerutuk Melati kesal. Bulan tertawa melihat tingkah kesal Melati yang lebih mirip anak umur 4 tahunan.


Melati berlari ingin menyamakan langkahnya, namun Bulan sudah lebih dulu berlari darinya, hingga terciptalah aksi lari- larian seperti di Film bolywood.


"Ternyata ini rasanya berlari mengejar sosok lentera, ternyata ini rasanya kala jantung itu berdegup lebih kencang dari biasanya, jadi ini rasanya bahagia yang sederhana, berbaur dengan keramaian yang diterpa angin liar, serta pancaran sinar dari rembulan yang ikut membumi." Rasa bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, membuat Melati amat bersyukur atas kehadiran Bulan  disisinya.


******


"Akhirnya sampai juga kita," sorak Bulan saat mereka berdiri di depan pintu kosan Bulan setelah melewati banyak hal yang membuatnya lelah.


Bulan segera membuka pintu kosannya itu, masuk dengan rasa lelah yang menjadi satu, begitupun Melati.


Bersandar dengan letih di sofa putih itu, lantas membangunkan sifat manusiawi Bulan, ialah rasa Lapar.


"Laper ngga sih?," Melati mengangguk dengan begitu cepatnya.


"Mau mie?," Melati mengangguk ngiler mendengarnya, Bulan berjalan kedapur, diikuti Melati di belakangnya.


"Kamu siapin panci sama kasih airnya, Mel!," Melati menuruti ucapan Bulan, namun yang membuatnya bingung adalah seberapa banyak air yang harus ia isi didalam panci itu?.


Tolong jangan tanyakan P-E-T-A!.


Melati menggunakan instingnya untuk mengisi panci itu dengan air yang lebih dari cukup, ia rasa lebih banyak air akan lebih baik dan pasti akan lebih cepat matangnya mie itu.


1 2 3, bukan sulap bukan sihir, kompor gas itu langsung menyala kala Melati menekannya.

__ADS_1


Sedangkan Bulan tengah sibuk memilih rasa mana yang akan ia coba malam ini.


"Yang goreng atau kuah ya?,"sungguh Bulan amat bingung tak bisa memilih antara keduanya.


"Goreng atau kuah?,"kali ini ia putuskan untuk bertanya kepada sahabatnya yang berdiri tak jauh darinya.


"Goreng, tapi pengen ada kuah- kuahnya gitu sih," Bulan mengernyit atas jawaban ambigu yang dilontarkan Melati.


"Goreng, tapi berkuah?," Bulan berpikir dengan keras kali ini, hingga ia menemukan ide yang sangat terang benderang.


"Gimana kalau mie goreng rasa ayam geprek yang diberi kuah?, tidak buruk." Bulan begitu bangga akan ide cemeelangnya ini, mungkin suatu hari nanti ia akan terkenal atas idenya ini, semoga.


"Gimana, udah mendidih?" Bulan berjalan menghampiri sahabatnya itu.


"Udah kaya ya," Melati memastikannya terlebih dahulu.


Bulan ikut memastikannya jika air itu sudah mendidih, " ya ampun Mel, kamu...-"kali selanjutnya Bulan tertawa tak tertahan melihat panci yang berisi air melimpah itu.


"Kenapa sih?," Melati yang kebingungan pun tak mengerti kenapa Bulan tertawa sambil memegang perutnya.


"Kamu...-" Bulan terus saja tertawa tanpa melanjutkan kata- katanya dengan lengkap.


"Bentar, bentar, bentar...-"Bulan hendak mengakhiri tawanya.


"Kamu..., aduh airnya kebanyakan Mel," Melati ber- oh riya, jadi ini toh sumber permasalahannya.


Bulan langsung mengambil kain lap yang tahan panas, mulai mengangkat panci itu dan membuang airnya hampir setengahnya, lantas menaruhnya kembali seperti sedia kala.


"Nah, airnya segini Mel." Melati mengangguk paham, sebelumnya ia memang tak pernah memasak mie instan, malahan keluarganya melarangnya untuk tidak mengkonsumsi mie instan itu karna alasan tidak baik untuk pencernaan.


"Step yang ke 2, masukkan mie instan ini kedalam panci tersebut," entah sejak kapan Bulan menjadi guru tutor memasak mie instan untuk Melati.


"Setelah itu, tunggu mie hingga matang, jangan lupa masukkan juga bumbu pelengkapnya!" Melati mengangguk- ngangguk atas tutor yang diberikan Bulan.


"Jika sudah matang, mie goreng kuah siap di sajikan," Melati bertepuk tangan, akhirnya rasa laparnya akan hilang sebentar lagi.


Karna rasa lelah dan lapar, membuat mereka sangat lahap menyeruput mie instan itu dengan berirama.

__ADS_1


*****


Jangan lupa votenya!.👌


__ADS_2