
"Benar jika, tidak ada jalan pintas untuk menggapai suatu keberhasilan."
-APJ
****
"Ahh... laparnya,"keluh Bulan mengingat ia tidak jajan tadi saat di sekolah atau lebih tepatnya, gagal jajan, dan tadi ia hanya memakan sepotong roti saja, itupun dikasih Melati.
"Baiklah, mari kita lihat ada apa dikulkas,... telur, telur dan hanya telur, huftt.... aku lupa membeli kebutuhan yang lainnya,"Begitu menyedihkannya kehidupan, bayangkan saja, kita yang sudah berusaha mati- mati untuk belajar dan hendak berpulang ketempat ternyaman untuk beristirahat yaitu Rumah, malah harus berjuang pula untuk bertahan hidup, miris.
Berjalan ke arah lemari yang merupakan tempat rahasia untuk bersemayamnya harta karun terpendam, dibukanya lemari itu hingga memancarkan sinar terang layaknya matahari yang menyilaukan mata,
"Ketemu, akhirnya..."Bulan menarik kata- katanya tentang dunia yang menyedihkan, ia pikir dunia tidak seburuk itu.
"Muach... aku mencintaimu,"mata Bulan berbinar menatap benda yang berharga itu saat ini, menciumnya kelewat senang.
Menyiapkan panci, memasukan air mentah, tunggu hingga sedikiti mendidih, lalu ambil telur tadi didalam kulkas, memasukannya kedalam panci, tunggu hingga setengah matang dan masukan harta karun yang tadi didapatkan Bulan yang tidak lain adalah mie instan, diamkan hingga matang semuanya, setelah matang angkat mie dan telurnya, hidangan siap dinikmati.
"Ussay...huftt..."keringat bercucuran dari pelipis Bulan, Faktanya melakukan sesuatupun sangatlah melelahkan, benar jika tidak ada jalan pintas untuk menuju suatu kesuksesan.
Meletakan paci yang berisi mie tersebut, tak lupa dibarengi dengan semangkuk nasi dan segelas air putih, Btw air putih atau air bening nih?:/
Tak lupa ucapan bismillah dan doa hendak makanpun ia panjatkan hingga berakhir mengusapkan kedua telapak tanganya kewajahnya.
"Selamat makan,"serunya melahap nikmat tuhan yang patut di syukurinya.
Tok... Tok...
"Ya ampun, siapa sih yang datang tanpa diundang ini, jelangkung?,"gerutuk Bulan yang baru saja melahap makanannya tak lebih dari 2 sendok.
"Aku bahkan baru 2 sendok, tidaklah engkau merasa kasihan kepadaku wahai Fullan? (sebutan untuk seseorang yang tidak diketahui identitasnya dalam agama islam, kalo ngga salah😂), kenapa tidak membiarkanku tenang walau hanya sebentar,"Bulan frustasi sekarang.
Tok... tok... tok....
"Apakah ada orang didalam?,"Bulan terpaksa melangkah kearah pintu.
"Dengan siapa, dimana,?"Fullan itu mengernyit bingung.
"Ups... maaf maksudku, mencari siapa?,"Bulan berucap kembali dengan menekan hidungnya hingga membuat suara seperti idghom, mendengung.
"Bulan ada?,"
"Perasaan aku tidak punya hutang apapun kepada siapapun, atau bahkan tidak punya janji temu dengan orang lain, lalu apa maksud kedatanganya ini,"Batin Bulan berucap.
"Maaf saya tidak bisa memberikan informasi mengenai orang yang anda cari,"elak Bulan yang masih dengan suara palsunya. Ingat bukan Fake Love tapi Fake Voice.
"Ah... benarkah,"Fullan itu menghela nafas.
"Datanglah lain waktu nona,"menganggu seseorang yang sedang makan bukanlah prilaku yang terpuji, percayalah.
"Padahal ada yang ingin aku bicarakan dan itu menyangkut hidup serta mati seseorang,"Bulan kaget mendengarnya.
"Apa?, um... siapa namamu?"
"Melati,"ucapnya singkat, Pintu itu yang tadinya tertutup rapat, tiba- tiba terbuka dengan lebar hingga menampilkan sosok yang dicarinya tatkala ia melontarkan namanya.
"Kamu,... ngapain?"Melati tersenyum, membuat Bulan kebingungan dengan kedatangannya lengkap dengan kopernya.
"Ngga disuruh masuk dulu Lan?, aku disini tamu lho,"kekeh Melati,
"Eh... yaudah iya, yuk masuk!,"Bulan mempersilahkannya.
Apartemen kecil dengan satu kamar tidur, kamar mandi, dapur yang terbuka hingga ruang tamu, hanya ada satu sofa didepan tv berukuran mini, dan rak sepatu yang sederhana.
"Kemana dia?"Bulan mengernyit bingung.
__ADS_1
"Apa? Siapa?,"
"Dia, yang tadi memanggilku nona"Ucap Melati terus terang.
Bulan menepuk jitatnya,lantas terkekeh, "ini aku nona,"Bulan memperagakan aksi menutup hidungnya lagi.
Melati terkejut, apakah ia telah ditipu?, kenpa ia tidak menyadarinya, Bodoh.
"Jadi kamu...?"Bulan mengangguk lantas tersenyum.
"Ah iya,... aku tadi baru aja selesai masak, mau bergabung?" Ajak Bulan disetujui Melati.
"Kamu masak apa?"Melati duduk berhadapan dengan Bulan.
"Ada deh, kamu pasti suka,"Bulan menyiapkan satu mangkuk lagi lengkap dengan sendok dan segelas air.
"Ini dia,... "tutup panci itu diangkat olehnya.
"Mie instan,"seru Melati diangguki Bulan.
"Ini yang kamu buat? Cuma ini yang kamu makan?,"Bulan mengangguk,
"Ini kan ngga baik buat kesehatan,"Bulan lagi- lagi mengangguk paham.
"Aku lupa beli yang lainnya, toh ini lebih praktis"
"Jangan sering makan mie instan Lan, ntar sakit gimana?,"Melati ternyata cukup perhatian juga.
"Ngga bakalan sakit Mel, akukan kuat,"cengir Bulan menggaruk tengkuknya.
"Kamu emangnya hulk?,"jengah Melati, temanya ini memang susah kalau dibilangin.
"Bukan, aku hanya bidadari dengan imun tubuh yang kuat,"cerocosnya lagi.
"Terserah deh,"Bulan acuh tak acuh, ia mengambilkan mie itu ke mangkuk Melati,
"Coba dulu, kalau ngga suka, ngga usah dilanjutin lagi deh," Melati mengangguk setuju.
"Aku makan ya," Bulan mengangguk,
"Selamat makan," untuk pertama kalinya Melati memakan mie instan, mana tepuk tangannya?😂
"Oh my oh my... enaknya, kenapa aku tidak tahu jika ada jenis makanan seperti ini,"pikir Melati takjub.
"Gimana enak ngga?"Bulan penasaran dibuatnya.
"Lumayan,"elak Melati tak ingin harga dirinya jatuh.
"Lumayan, atau lumayan nih?, kok lahap bener makannya?," Goda Bulan.
"Yah emang lagi lapar aja sih,"Bulan ragu mendengarnya.
"Ah iya, aku mengerti" Melati mengangguk.
"Um... ini rasa apa Lan?"Bulan tersenyum geli mendengarnya.
"Aku pikir kamu ngga peduli,"Melati bungkam seketika.
"Rasa yang tertinggal,"gurau Bulan terkekeh.
"Emang iya?"
"Nggalah, rasa...
"Udah- udah, ngga mau denger aku,"Bulan terkekeh kembali.
__ADS_1
"Eh iya, kamu kenapa kesini?" Melati berhenti makan.
"Nginep"pekik Melati,
"Hah?"
"Aku kabur dari rumah dan ngga tahu mau tinggal dimana lagi," Melati terlihat sendu.
"Lho, kenapa?"Melati menggeleng, tak ingin menceritakannya.
"Aku paham, cuma apa keluarga kamu ngga khawatir?," Melati menunduk.
"Aku telpon kak Langit ya," Melati mendonggak,
"Jangan,..."Melati memelas.
"Jadi, kamu maunya apa?"
"Tinggal sama kamu boleh ngga? Tenang aja, aku ngga ngerepotin kamu kok, ngga bakal jadi beban kamu kok,"Bulan terdiam sesaat.
"Suttt... masa sama teman perhitungan gitu sih, kamu pikir aku orang yang kaya gimana?," Melati terharu.
"Makasih," Melati berdiri memeluk Bulan.
"Sama- sama" Bulan membalas pelukannya.
"Udah, lanjut makan yuk."ajak Bulan tak ingin mienya menjadi dingin dan tak enak dimakan lagi.
"Iya," Melati terduduk kembali.
"Ini, makan yang banyak" Bulan menyerahkan telurnya di mangkuk Melati.
"Pasti," Melati tersenyum haru.
***
Jam menunjukan pukul 16.05, Melati sudah membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya begitupun Bulan.
"Kamu mau kemana?" Bingung Melati, melihat Bulan yang sudah rapih lengkap dengan jaketnya.
"Kerja,"Melati mengernyit, "jangan tunggu aku pulang!, tidurlah dengan nyenyak!,"Melati mengangguk paham,
"Kerja apa emangnya?,"Bulan terhenti dengan kesibukannya merapihkan pakaiannya.
"Paruh waktu, di Cafe"Melati ber- oh ria.
"Sekarang?," Bulan mendekat kearah Melati.
"Iya,... sebelum aku kembali kuncilah semua jendela dan pintu ya!," Melati mengangguk paham.
"Kapan kamu pulang?,
"Jam 11 malam, dilemari dalam kamar ada satu selimbut lagi, kamu pakai ya," lagi- lagi Melati mengangguk paham.
"Ranjangku cukup kok untuk 2 orang, jadi tidurlah!,"
"Kamu cepat pulang ya!," pinta Melati, ya ampun bukankah pergi kerja juga belum.
"Iya,... di dekat pintu ada besi buat jaga- jaga kalau kamu takut,"Melati mengerti.
"Aku pergi ya," pamit Bulan mendapat anggukan dari Melati,
"Hati- hati ya!,"Bulan memberi hormat pertanda siap laksanakan,
Mengenakan sepatunya dan melangkah pergi.
__ADS_1
****
Jangan lupa votenya! Makasih💜