Ussay: Bulan

Ussay: Bulan
Bulan dan Melati


__ADS_3

"Kata lelah memang tidak ditakdirkan untuk mereka yang berkuasa atas dunia ini,"


*********


"Bosen, ngelakuin apa kek yang seru,"ujar Melati yang terdiam lesu disofa milik Bulan.


"Gimana kalau kita main...-"


Kring... Kring...,


Suara nyaring dari ponsel Bulan membuatnya tak melanjutkan ucapannya.


"Sutt!, kamu diem ya!,"titah Bulan kepada Melati agar tak mengganggunya.


"Assalamu'alaikum?," Bulan mulai was- was saat tak mengetahui siapa yang menelponnya ini.


("...................") rupanya yang menelpon Bulan adalah seorang bapak- bapak yang berusia kurang lebih 40 tahunan.


"Iya itu saya, ada apa ya, pak?" Bulan terheran- heran pasalnya ia tak mengenal bapak- bapak ini.


(".....................")


"Ah..., siap- siap bos, saya sangat amat bersedia,"Melihat dari ekspresi yang dikeluarkan Bulan, Melati mengetahui satu hal, yaitu tawaran bekerja paruh waktu lagi.


("................")


"Restoran Jupiter?, ahh..., iya aku tahu letaknya kok pak," melati hanya diam mengamati sahabatnya itu.


("............")


"Oke bos, jam 13.00 di restoran Jupiter, siap." Sungguh Bulan tampak begitu bersemangat mendengarnya.


("............")


"Waalaikumuss...-" tidak sampai mengucapkan salam penutup dengan keseluruanan, sambungan itu malah sudah terputus begitu saja.


"Yeh dimatiin...," Bulan menghembuskan nafasnya," Waalaikumussalam, deh".


Kembali diletakannya ponsel itu.


"Kamu tahu ngga?, tadi it...-"ucapan Bulan terpotong lantaran Melati sudah langsung menjawabnya.


"Panggilan kerjakan?," Bulan mengernyit, emang ketebak ya dari wajah senangnya ini.


"Lah kok tahu?," Bulan dengan ekspresi bingungnya, " jangan- jangan, kamu nguping ya?,"tebakannya pasti tidak salah lagi.


"Ngga sengaja," Bulan ber-oh riya, tebakannya benar ternyata.


"Pokoknya aku seneng banget," Bulan mulai memegang pundak Melati lalu memutarkannya bersamaan dengan tubuhnya yang merupakan suatu tindakan reflek akibat terlalu senang.


"Tidak ada hari yang lebih baik lagi, daripada hari ini," Melati mulai pusing akibat putaran yang dilakukan Bulan.


"Alhamdulillah ya rabb,"Bulan merangkul Melati dengan eratnya,  selain pusing ingin muntah Melati juga merasa sesak nafas akibat pelukan terlampau eratnya.


"Iya..., iya, aku ikut seneng dengernya, sekarang lepaskan aku!, aku ingin muntah rasanya." Bulan yang tersadarpun melepaskan pelukan eratnya itu, Melati berusaha mengatur nafasnya, dan membukam mulutnya agar tak muntah.

__ADS_1


"Maaf," Bulan merasa bersalah akibat perbuatannya itu, tapi ia berani bersumpah jika ia tak sengaja ingin menyakiti sahabatnya ini. Menggaruk- garuk tengkuknya yang tak gatal.


Melati melihat kearah Bulan yang sedang menyesali tindakannya itu, "apa yang kau katakan?, aku baik- baik saja." Melati mencoba meyakinkan sahabatnya itu.


Bulan masih saja tertunduk merendungi tindakannya.


"Kamu ngga siap- siap?, sekarangkan udah ampir jam 12.00." Bulan mendongkak, ia hampir saja lupa akan hal itu.


"Tapi aku harus mencari satu orang lagi yang ingin bekerja bersamaku," Bulan terlihat sedang memikirkan siapa yang akan ia hubungi perihal kerja paruh waktu bersamanya.


"Aku saja, gimana?" Bulan nampak menimbang- nimbang usulan itu.


"Boleh sih," Melati bersorak begitu riya seperti anak kecil berusia 4 tahunan.


"Seneng banget ya?," Bulan terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.


"Ya iyalah," Bulan mengusap pucuk kepala Melati.


"Semangat!," Melati mengangguk paham.


"Yaudah, siap- siap gih!," Melati memberi hormat tanda mematuhi perintah Bulan.


********


"Masih jauh Lan?" Berjalan sejauh 4 kilo meter sudah membuat Melati kelelahan.


"Bentar lagi, yang sabar ya!," itulah jawaban yang selalu Bulan lontarakan tiap kali Melati menanyakan berapa jauh lagi mereka berjalan.


"Berapa lama lagi Lan?,"sungguh Melati sudah tidak mengerti lagi dengan sahabatnya itu, jika berjalan sejauh ini, bukankah lebih baik naik Taxi kan?.


"Boong ya?, dari tadi, bentar lagi, bentar lagi aja, tapi ngga sampai- sampai juga," Melati mula putus asa dibuatnya.


"Yeh nggalah, emang bentar lagi," Melati tak menghiraukannya. Ia berjalan tergesah- gesah meninggalkan Bulan yang tak habis fikir tentang sikapnya itu.


"Mau kemana?, udah nyampe nih," teriak Bulan dari jarak 5cm.


"Mana, dimana?." Melati kesana- kesini, dan memutar arahnya.


"Tuh!," Bulan menunjuk kesebuah restoran yang tak jauh darinya.


"Yeh kok ngga bilang yang ini restorannya?," Bulan menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Akukan udah bilang sebentar lagi sampai, kamunya aja yang ngedengerin," Melati tercengir tanpa dosa.


"Ya mana aku tahu kalau beneran udah deket, kamu sih dari tadi bilangnya bentar lagi, bentar lagi, tapi ngga nyampe- nyampe.


"Yaudah masuk, Yuk!" Melati dan Bulan melangkah dengan beriringan.


Selain besar dan mewah, Restoran jupiter ini sangatlah menawan.


"Wah..., restorannya bagus ya Mel?," Melati setuju akan hal itu.


"Iy Lan, bagus nih restoran." Bulan tak berbohong tentang ini.


Berjalan melewati tempat parkir khusus untuk pembeli di testoran ini.

__ADS_1


"Bulan?," teriak seorang bapak- bapak yang keluar dari dalam.


Bulan tebak itu pasti yang menelponnya dan merupakan pak bosnya.


Buru- buru Bulan dan Melati menghampirinya. "Bapak?, yang telpon saya kan?," bapak itu mengangguk.


"Perkenalkan nama bapak Ahmad  purnama, kalian bisa panggil saya pak bos aja," mereka mengangguk paham.


"Bulan yang ini?," pak bos menunjuk kearah Melati.


"Bukan pak bos, ini temen saya Melati, dan saya Bulan," pak bos ber- oh riya.


"Salam kenal pak bos," Melati membungkukan seperempat badannya.


"Iya, yaudah kalian mulailah bekerja!," mereka melangkah masuk kerestoran itu.


"Ini ruang gantinya, silahkan!" Bulan dan Melati menurutinya.


******


"Ini Mel, ruang gantinya juga luas amat ya" Bulan melelisik dengan penuh kelaguman.


"Pasti si pak bos kaya raya yakan?," Bulan setuju dengan ucapan Melati.


"Ya tentunya."


"Liat nih!, bajunya juga bagus Lan,"


"Iya mel, ngga terbuka lagi." Melati setuju.


Setelah mereka mengganti baju, mereka dijelaskan mengenai tugas- tugas mereka.


Bulan dan Melati bertugas untuk membersihkan seluruh ruangan di restoran Jupiter ini.


"Ternyata kerja cape juga ya, Lan?,"Melati baru tahu lelahnya bekerja, lantaran sudah cukup lama ia tak mengerjakan pekerjaan seperti menyapu, mengepel dan lainnya.


"Yeh didunia ini mana ada sih yang ngga cape," Melati mengiyakan ucapan Bulan, "misalnya aja kita tidur, ngga ngapa- ngapain cuma berbaring terus mimpi tapi pas bangun berasa capekan?." Melati memikirkan ucapan Bulan.


"Iya ya," Melati mengangguk- angguk.


"Semangat!," Bulan bersorak untuk Melati.


"Oke," Mereka buru- buru menyelesaikan tugasnya.


******


"Baru kali ini kakak liat kamu kerja keras kaya gini, dek" seorang pria dengan kacamata hitam lengkap dengan topi hitam pula turut hadir melihat aksi bersih- bersih Bulan dan Melati dari dalam mobilnya.


Pria itu tidak lain adalah Kak Langit.


"Bulan membawa pengaruh buruk untuk kamu dek, kakak ngga suka sama dia" kak Langit merasa gelisah melihat Melati yang tampak kelelahan karna pekerjaannya.


"Aku harus pikirin caranya supaya Melati terpisahkan dari energi negatif yang diberikan Bulan untuknya," jika sudah tak suka dengan satu orang, kak Langit selalu membencinya sepenuh hati, namun ketika ia mencintai seseorang maka orang itu tak akan pernah lepas dari dekapan Kak Langit.


Jangan lupa votenya!!!.

__ADS_1


__ADS_2