Ussay: Bulan

Ussay: Bulan
bad-day


__ADS_3

"Nyatanya, waktu selalu merubah seseorang, tanpa sadar kita malah menjauh secara perlahan dari mereka yang selalu terukir dengan jelas dihati ini,"


                                                    -APJ


*****


Ussay perginya Bulan, Melati hanya terdiam, ia bingung harus melakukan apa.


"Apa yang harus aku lakukan?,"gumamnya.


"Ah iya aku tahu,"Melati merogoh sakunya mengambil ponselnya, tekan +628...-, terhubung.


Tut... Tut...


Diangkat,


"Ini aku kak,"


("..............")


"Di taman B, setengah jam lagi,"


("..............")


Klik tombol merah dan Tot, terputus.


Melati berlari kearah kopernya mengambil tasnya dan melangkah kearah cermin, merias sedikit wajahnya agar tak terlihat pucat.


"Sempurna,"tutur Melati melihat pantulan dirinya tersenyum cantik.


Melangkah pergi, menjauh dari kediaman Bulan, berjalan dikeramaian membuatnya kelewat senang, pasalnya ia tak pernah berjalan berkerumun di tempat umum lagi semenjak ia berumur 6 tahun, ia selalu memakai mobil mewahnya untuk membelah keramaian tersebut.


"Ternyata ini cukup menyenangkan,"gumamnya seperti seekor anak burung yang terlahir dan langsung terkurung disangkarnya, hingga terlepas dari kekangan serta terbang nan jauh dalam kebebasan.


Berjalan memutar, melihat sekelilingnya, "Dunia tampak ramai dari dugaannya". Meraih tiang- tiang penghias jalanan lalu bergelantungan ria, hingga sebuah adegan kecil menghentikan aksinya.


"*Ibu atu nin icim (ibu aku ingin ice cream),"pinta seorang anak kecil berusia sekitar 3-4 tahunan, berjenis kelamin perempuan dengan rambut keritingnya, memelas kepada ibunya minta dibelikan ice cream, ibunya memangguk membuat anak itu kelewat senangnya bersorak ria.


"Atu inin cotet, pmay(aku ingin coklat, paman)" Melati dibuat gemas dengan tingkahnya, begitupun mereka.

__ADS_1


"Aduh,... putri ibu sudah pintar sekarang,"anak itu tersenyum bangga,


"Aa atu dah sal?, (apa aku udah besar?)" Ibunya mengangguk.


"Tentu saja,"kecupan tak luput dari pucuk kepala anaknya itu.


"Baiklah, ini untukmu yang lucu" puji paman ice cream mengelus kepalanya.


"Maacie (makasih),"anak itu tersenyum lugu*.


Ah, Melati jadi teringat masa lalunya, dulu keluarganya tidaklah kaya seperti sekarang ini, hidup berkecukupan dalam kesederhanaan, mereka dulu begitu bahagia hanya dengan sebuah kembang kol untuk makan sehari- harinya, jauh dari keramaian, jauh dari kata kaya raya, ingin rasanya ia pergi ke masa lampau itu, ia tidak pernah mempermasalahkan tentang harta, ia tidak pernah minta dibelikan apapun, ia hanya ingin disayangi dengan kaya dan berlimpah cinta.


Waktu telah merubah segalanya, atau dunialah yang mengubahnya, akupun bingung karnanya.


Sedih rasanya jika mengingat ia hanya sendirian sekarang, berlimpah harta tak membuatnya bahagia, justru kasih sayang yang sederhana yang membuatnya amat bahagia.


Jika dulu mereka sibuk dengan saling menjaga dan membahagiakan, sekarang mereka selalu sibuk mengumpulkan harta dan bersaing dengan orang lain,dan ingin jadi yang terbaik didunia.


Melati terisak berjongkok ditengah keramaian, memori- memori indah masa lalu terus berputar di kepalanya.


"Bunda menyayangimu, sekarang tidurlah putriku!,"tak lupa Melati mendapat kecupan selamat malam dari sang ibu.


"*Putri ayah?, dimana kamu?,"seru sang ayah mencari keberadaan putrinya yang bersembunyi dalam permainan petak umpat.


"Ketemu,"seru sang ayah mengangkat putri kecilnya keatas- tangkap- diputar, Kala itu gelak tawa mereka terdengar tulus dan menyenangkan*.


Ingin rasanya gelak tawa itu hadir, bergema kembali mengisi ruang sepi nan kosong yang bersemayam di rongga rindunya.


"Jika ada yang menggangumu menjeritlah, ucapkan nama kakak, berlarilah, maka kakak akan datang dengan cepat, mengerti?,"Adik kecil itu mengangguk paham atas apa yang dikatakan sang kakak kala itu.


Apakah kata- kata itu masih berlaku hingga sekarang?, jika iya maka ia pasti sangatlah senang.


"Akhh..." Melati menjerit tak tertahan atas ingatan- ingatan yang terus berputar layaknya film di bioskop yang menjadikannya ilus dikala sekarang,


Menjerit dikeramaian membuatnya dipandang berbagai macam spekulasi tentangnya, namun mereka hanyalah angin lalu yang tak mengerti perasaannya.


Menjambak rambut indahnya yang tertata rapih kala memori masa lalunya tak kunjung pergi dari isi kepalanya.


"Mengapa?,"bibirnya bergetar hebat disertai isak tangin yang begitu memilukan.

__ADS_1


"Mengapa berlinang harta membuat kalian lupa akan kisah indah yang kalian ciptakan sendiri,"bibir pilu bergetar itu kembali berucap sendu.


"Kenapa dunia mengubah kalian begitu cepatnya,"siapakah yang patut ia salahkan jika sudah seperti ini?, takdir, waktu, dunia atau keluarganya sendiri?.


"Mengapa kita tidak seperti dulu lagi?," ada banyak harapan yang selalu ia lontarkan kala memohon di dalam doa tulusnya, namun hanya kata inilah yang tak pernah berubah, mungkin semoga saja.


"Mengapa,... kenapa,... mengapa,"Melati sungguhlah frustasi dibuatnya, ingin rasanya ia mengadukan takdirnya pada sang pencipta, skenario yang diciptakan tuhan untuknya sejak dulu kala, bisakah ia merubahnya meski hanya sedikit?.


Ketika kalian yang hanya mahluk lemah, berjalan tak tentu arah langkah, tak ada tempat berkeluh kesah, tak ada tempat berteduh, tak ada bahu untuk bersandar, tak ada peluk kasih sayang, lalu untuk apa dunia masih berbaik hati padanya, hapus saja ia dari program kehidupan ini, ia akan sangat ikhlas jika itu terjadi.


"Aku lelah..., hiks... hiks...,"Melati putus asa, kepada siapakah ia menceritakan kisahnya, kepada siapakah ia berharap, jika tak ingat akan tuhannya (hanya Allah), mungkin ia sudah tidak ada sejak lama sekali.


Beban yang dipikulnya seorang diri membuatnya perlahan menjauh dari orang- orang tercintanya tanpa sadar, berada dititik yang tak diinginkan, menciptakan jurang kesepinan yang penuh luka.


Jika bisa ingin rasanya ia mengibarkan bendera putih tanda ia sudah menyerah akan kehidupan ini, namun tuhan tak mengizinkannya, masih banyak waktu yang harus ia tempuh, yang harus ia rengkuh untuk mengubah keluarganya seperti dulu kala.


"Kamu ngapain nangis sama jongkok disini?," Melati mendongak, melihat siapakah orang datang disaat ia rapuh.


"Kenapa?, ceritakan sama kakak," akhirnya ada orang yang bersedia menjadi tempatnya berbagi kisah, kakaknya ini selalu saja jadi orang pertama yang ada untuknya.


"Kakak...,"ucapnya serak setelah lama terisak, kak Langit mengusap air matanya.


Ia sadar betul dunia yang kejam ini tidak cocok untuk adiknya yang berhati malaikat ini.


"Kakak sudah disini sekarang,"dipeluknya tubuh rapuh Melati, memberinya ketenangan lewat detak jantungnya, tak lupa rasa nyaman diam- diam merayap hingga kerelung rindunya.


"Maaf,"kak Langit terucap pelan namun penuh dengan rasa bersalah.


Ia juga selalu menyalahkan dirinya sendiri yang tanpa sadar berubah menjadi monster yang haus akan kekuasaan.


Hingga melupakan apa yang terpenting untuknya, bisakah ia kembali ketika dirasa ujung kekayaan di depan matanya.


Menangis sekitar 45 menit membuat Melati kelelahan dan tanpa sadar tertidur di dekapan sang kakak yang merupakan tempat ternyaman untuknya.


Dirasa tak terdengar isak tangis lagi membuat kak Langit sadar jika adiknya ini sudah tertidur tanpa beban lagi.


Di gendongnya ia masih dalam dekapan kak Langit, berjalan membelah keramaian seakan waktu berhenti seperkian detiknya.


Membawanya pergi menjauh dari luka tak berdarah, benar jika dunia atau waktulah yang telah merubahnya namun, yang tidak akan berubah adalah janjinya untuk selalu melindungi keluarganya ini.

__ADS_1


Jangan lupa votenya! makasih💜.


__ADS_2