
"Ada begitu banyak kata yang sulit terucap misalnya 'Maaf',"
*******
"Kemana perginya dia?," Bulan bingung ketika tak menemukan sosok teman barunya itu ketika sampai dirumahnya.
"Bukankah aku sudah menyuruhnya menunggu?,"lagi- lagi ia berucapa tanpa melati dengar.
"Aku akan menghubunginya nanti, sekarang lebih baik aku mandi terlebih dahulu,"Bulan melangkah kearah kamar mandi setelah menaruh tasnya.
******
Mobil kak Langit melaju dengan kencang, membelah keramaian malam itu.
Gemercik air hujan sayup- sayup terdengar olehnya, sedangkan adiknya itu tidur dengan pulasnya, seperti telah melewati dimensi ruang dan waktu yang menguras habis tenaga, hingga air matanya.
Kilatan- kilatan memori 10 tahun yang lalu terus berputas dikepala kak Langit layaknya benang kusut yang tak beraturan.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh tepat dipipinya, ia merasa jijik dengan jalan yang dipilihnya, dengan takdir buruk yang membelitnya.
Yang paling menyakitkan adalah, hingga detik ini ia tidak bisa berhenti tentang takdir yang dipilihnya ini.
Bukan tak ingin berhenti, dan menemukan titik akhir, namun ia tak tahu bagaimana caranya mengalah.
Ketika terus bergelut bersama kenangan masalalunya ia tak menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumahnya, yang menjadi tempat awal mulanya mimpi buruk ini terjadi.
Ibunya nampak berdiri didepan pintu rumahnya, menanti kedatangannya membawa adik kecil kesayangannya itu.
Digendongnya adik kecilnya itu yang masih terlelap, menaiki satu demi satu anak tangga sebagai penghunbung halaman rumahnya dengan pintu masuk rumah itu.
Sang ibu langsung menyadari kehadiran anak- anaknya, lantas bergegas melanglah dengan gelisah.
"Melati kenapa lang?,"tampak guratan- guratan rasa khawatir muncul diwajah sang ibu yang melihat anaknya tak sadarkan diri lengkap dengan mata yang membengkak.
"Cuma kecapean, bu"terlihat ibunya ini menghembuskan nafas leganya.
"Yaudah,yuk dibawa masuk melatinya!," Kak Langit mengangguk paham, melangkah beriringan dengan sang ibu.
Belum sampai didepan kamar melati, bell rumah malah berbunyi, mungkin sang ayah telah pulang bekerja.
"Ibu bukain dulu pintunya ya, pasti itu ayah kamu lang," Kak langit mengiakan ucapan sang ibu.
Berjalan kedepan hingga menjumpai anak tangga lagi, tepat disebelah kiri, tibalah dikamar sang adik.
Dibukanya knop pintu itu dengan susah payah agar tak membangunkan adiknya ini.
Entah apa yang dimipikannya, hingga tak membuatnya terbangun meski sejenak.
Dibaringkannya ia dengan penuh hati- hati, tak lupa dengan selimbut hangat yang menutupi tubuh rapuhnya.
__ADS_1
Saat kak Langit hendak beranjak, tiba- tiba ada sebuah tangan kecil yang menahanya, diliriknya melati yang ternyata masih menutup matanya.
Tepat setelah itu, keningnya berkerut, deru nafasnya tak beraturan, hatinya seperti gelisah, hingga berucap,"kapan kita bahagia seperti dulu lagi kak?,"tahu- tahu melati sudah terisak dalam tidurnya.
Direngkuhnya tubuh adiknya itu, dikecup keningnya dengan harapan bisa menghilangkan deritanya.
"Tujuan kita sudah dekat, hingga saat itu tiba, kita akan bahagia seperti dulu lagi, bersabarlah sebentar lagi!,"di rasa adiknya ini mulai tenang lagi ia putuskan untuk melangkah pergi, namun dering ponsel adiknya kembali mengurungkan niatnya itu, meraih ponsel itu yang tertera nama"myfreind, Bulan,".
Kening kak Langit mengerut bingung, karna penasaran ia menjawab panggilan itu.
"Hell..-"ucap Kak Langit terpotong.
"Kamu dimana sekarang?, aku khawatir saat tak menemukanmu dimanapun, akukan udah bilang tunggu aku pulang, eh tahu- tahunya kamu malah ngilang,"suara cempreng Bulan membuat kak Langit reflek menjauhkan ponsel itu dari indra pendengarannya itu, ternyata ia wanita yang sangat berisik, tapi ia bersyukur masih ada orang yang peduli dengan adiknya itu, selain keluarganya ini.
"Hello,kamu masih disitu mel?," dirasa tak ada jawaban dari melati membuatnya lantas kembali berucap, namun tiba- tiba sambungan tersebut terputus begitu saja.
"Apa aku salah nomor kali ya?,"itulah yang dipikirkan Bulan, namun saat ia mengeceknya kembali, memang benar itu adalah nomor sahabat barunya itu.
Hingga iapun dilema dibuatnya.
*****
Pagi ini mentari sudah datang lebih awal, mungkin ia rindu dengan seluruh planet- planetnya.
Sinarnya terang mampu menghangatkan setiap insan mahluk hidup.
"Aku kok bisa ada disini?, inikan kamar aku, padahal kemari aku udah tinggal bareng bulan deh," Melati menerka- nerka ingatan tentang kemarin.
"Ah...,iya kemarinkan aku telpon kak Langit, terus liat anak kecil, terus nangis dipelukan kakak dan hus..., ngga inget lagi deh, apa jangan- jangan aku ketiduran ya?," Lengkap sudah ingatannya itu.
Dicarinya ponsel miliknya itu, hingga menemukan 69 panggilan tak terjawab dari sahabatnya itu, dan satu panggilan terjawab namun dengan waktu tak kurang dari 5 menit.
"Kakak!!," teriak Melati memecah keheningan.
"Hatcuh..., perasaanku ngga enak deh,"pikir kak Langit.
******
"Makan dulu dek!," titah Kak Langit yang melihat kedatangan adiknya itu.
"Nanti deh kak, aku buru- buru soalnya?"
"Buru- buru mau kemana?, sekolahkan libur dek,"
"Kakak mau tahu?," Kak Langit mengangguk.
"Ke..., Kepo deh,"gelak tawa memenuhi ruang makan itu akibat kak Langit yang mau aja dibodohin Melati.
"Dasar kamu ini,"
__ADS_1
"Makan dulu nak!,"kali ini sang ibu yang berucap dengan didampingi sang ayah yang berjalan mendekati meja makan.
"Iya, bu"akhirnya melati mau diajak makan.
*****
Tok...Tok...Tok...
Ketukan pintu itu tak didengar Bulan, lantaran ia masih terlelap setelah ia bangun untuk salat subuh.
Tok...tok...tok...
Namun pintu itu kembali diketuk, hingga membangunkan tidurnya.
"Hua..., siapa sih yang ganggu tidur indahku ini?, awas aja kalau cuma orang iseng, aku hunus dia."meski berat melangkah Bulan memaksakan dirinya untyk membukakan pintunya.
Tok...tok...tok...
Lagi- lagi pintu itu bersuara,
"Sebentar!,"dibukanya pintu itu hingga menampilkan sosok yang di khawatirkannya sejak kemari malam.
"Hay Lan,"cengir melati tanpa dosa.
"Kemana aja sih kamu?,"
"Aku..., panjanglah kalau diceritain mah, intinya aku baik- baik saja tanpa kekurangan apapun.
"Syukurlah, aku lega"Melati tersenyum diatas khawatiran Bulan.
"Maaf," itulah kata yang tak sanggup diucapkan semua orang.
"Udah makan?,"dirasa melati benar- benar merasa bersalah, Bulan putuskan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Udah tadi, makan roti."Bulan menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Orang sunda kalau ngga makan nasi, ya bukan makanlah,"Melati mengernyit bibgung.
"Aku mau buat nasi goreng spesial mau?," Melati hendak menolak, namun Bulan tak membiarkannya.
"Kamu pasti suka deh," ditariknya tangan sahabatnya itu, melangkah kearah dapur, dan mulai menyiapkan bahan- bahannya.
"Kamu duduk aja disini, nontonin aku!," Melati mengangguk.
Saat tengah sibuk memasak, Melati malah mengambil Foto Bulan dengan diam- diam.
"Aku tahu kamu pasti datang kesini...,"tanpa sadar seseorang malah mengikuti Melati hingga tiba dirumah Bulan.
Jangan lupa Votenya!!!👌
__ADS_1