
Jodoh itu tidak ada yang tau, bisa saja dia adalah orang yang pernah kita kenal. Atau bahkan orang yang belum kita kenal dan tidak pernah bertemu sebelumya. Dan itu lah yang dirasakan gadis cantik berusia 15 tahun ini, ia berjodoh dengan wakil kepala sekolah nya sendiri. Tidak pernah ia bayangkan akan bertemu dengan jodoh nya secepat itu bahkan ia pun tak pernah punya rencana untuk pacaran selama ini.
.................
❤️HAPPY READING❤️
Hai nama ku syakila shabrihan, tahun ini umur ku 15 tahun. Aku masih sekolah kelas 1 SMA, dan hari ini adalah hari pertama sekolah ku. SMA Nusantara, adalah SMA favorit di kota Yogyakarta. Aku berhasil masuk sekolah bergensi dan elit ini karena beasiswa yang sudah ku perjuangan sejak SMP dan kini hasil kerja keras ku sudah didepan mata.
Kini aku berdiri didepan gerbang sekolah, dengan pakaian dan atribut lengkap dari sekolah. Aku melangkah masuk dengan senyuman yang selalu mengembang sejak pagi ini.
Aku melihat sekeliling sekolah, sungguh ini adalah sekolah elit yang sangat bagus. Bahkan sekolah ini sudah mendapat penghargaan dari pemerintah atas keberhasilan nya yang sudah banyak meluluskan siswa yang berprestasi dan membanggakan negara ini terutama kota Yogyakarta.
"Tolong semuanya berbaris" aku menoleh saat seseorang berteriak untuk siswa kelas 10.
Aku dan angkatan ku lansung berbaris tepat didepan orang itu. "Tolong perhatian nya, sekarang adalah hari pertama MOS kalian. Jadi tolong tertib dan tidak membuat keributan"
"Baiklah semuanya, di tangan saya sudah ada nama-nama siswa yang terdaftar beasiswa. Yang namanya saya sebutkan tolong segera masuk ke aula dan menemui kakak-kakak OSIS disana"
Kami mengaguk, dengan konsentrasi aku menyimak semua nama yang terucap oleh kakak kelas itu. Mulai dari yang terakhir hingga yang pertama.
"Baiklah siswa pertama yang menerima beasiswa atas nama syakila shabrihan"
Semua mata tertuju pada ku saat nama ku disebutkan, walaupun disini juga banyak yang menerima beasiswa, tapi sekolah ini cukup unik. Sekolah ini mengurutkan penerima dari nilainya yang paling tinggi hingga yang bisa dibilang layak dapat beasiswa peringkat sepuluh.
Dan aku ada diperingkat pertama, aku berjalan menuju aula. Setibanya di depan pintu aku lansung menemui kakak-kakak yang akan membantu ku untuk menemukan kursi.
"Anu permisi kak, saya syakila shabrihan. Kursi saya dimana ya kak" tanya ku pada seseorang kakak kelas.
Kakak itu menoleh kearah ku "oh syakila shabrihan ya, ah iya ikuti kakak. Biar kakak tunjukkan kursi kamu"
Aku mengikuti langkah kakak itu, hingga tiba di kursi yang paling depan. Aku sedikit kaget karena disana hanya ada tiga Kursi dan letaknya juga paling depan.
"Kamu di sini ya"
"Terima kasih kak"
Lalu aku duduk, beberapa menit kemudian MOS pun dimulai.
🍂🍂🍂🍂🍂
Hari ini adalah hari keempat setelah aku masuk kesekolah ini. Dan hari ini adalah hari pemilihan anggota OSIS yang baru, setiap kakak kelas akan masuk ke setiap kelas. Lalu mereka akan mencatat data siswa yang mengajukan diri untuk menjadi anggota OSIS.
"Baiklah lansung saja ya, silahkan angkat tangan jika kalian ingin mengajukan diri" kata kakak kelas yang sudah berdiri didepan kelas ku.
Aku melihat sekeliling tapi hanya ada dua orang yang mengakat tangan.
"Syakila coba lihat, kayaknya baju dibaju kamu kotor" ucap teman sebangku ku Dilla.
Aku reflek melihat baju ku, dan mengakat sedikit tangan ku "kak syakila juga mengajukan diri"
Aku terkejut saat suara Dilla menyebut nama ku.
"Oh oke, bagus itu"
Aku masih bingung, tapi ku lihat kakak kelas itu mencatat nama ku di kertas yang dipegangnya.
"Baiklah, dikelas ini tiga orang. Bagi yang namanya ada disini, nanti kalian akan mendengar pengumuman nah setelah itu kalian silahkan datang ke lapangan. Oke"
"Baik kak"
Semua kakak kelas itu berlalu, aku menoleh ke arah Dilla. "Dilla tadi maksud nya apa" kata ku masih bingung kenapa kakak tadi mencatat nama ku.
"Hmm, oh itu. Tadi aku mengajukan kamu untuk jadi anggota OSIS" kata dilla.
"Hah apa, yang benar aja. Aku gak mau Dil"
"Ihh kila, dengarin dulu. Kamu itu pintar mungkin tahun ini kamu jadi anggota tapi tahun depan bisa aja kamu jadi ketua kan"
"Dilla aku gak mau......" rengek ku.
"Perhatian semuanya, bagi calon anggota OSIS tolong berkumpul di lapangan. Sekali lagi bagi calon anggota OSIS tolong berkumpul di lapangan, terima kasih"
"Nah tuh, sekarang kamu kesana gih" Dilla mendorong tubuh ku.
Dengan berat hati aku melangkah keluar dari kelas, aku berjalan kerah lapangan. Disana sudah banyak siswa yang berkumpul, aku ikut duduk dibawah bersama mereka.
"Oke semuanya tolong tenang, kita tunggu pembina OSIS dulu ya"
"Baik kak"
Dari kejauhan ku lihat seorang pria berwajah tampan sedang berjalan kearah kami, dahinya berkerut seperti orang yang kesal dan walaupun wajahnya tampan ia juga tampak dingin pada setiap orang.
"Kyaaa ganteng banget" teriak salah satu siswi.
Semua siswa melihat kearah pria itu, seketika suasana lansung riuh. Ku lihat para siswa perempuan berteriak kagum pada pria itu.
Lalu pria itu berdiri didepan kamu semua, wajahnya terlihat sangat kesal saat siswa perempuan mulai berbisik tentang ketampanan nya.
"Diam semua nya" bentak nya.
Seketika itu juga Susana hening, para siswa terkejut kecuali kakak kelas yang mungkin sudah terbiasa dengan hal itu.
"Saya Devan Wijaya, wakil kepala sekolah dan pembina OSIS, saya harap kalian semua bisa serius untuk menjadi anggota OSIS di tahun ini. Saya tidak suka jika anggota yang bermain-main, karena OSIS adalah organisasi penting dalam sekolah. Jadi jangan Kalian kira menjadi OSIS itu hal yang mudah, karena saat OSIS masih dibawah naungan saya, kalian tidak boleh bermain-main. MENGERTI"
"Mengerti pak"
Lalu setelah mendengar penjelasan dari pembina kami melanjutkan diskusi tentang organisasi OSIS ini, dan aku ditunjuk sebagi bendahara OSIS. Untuk pelantikan anggota baru dan ketua serta wakil akan dilakukan Minggu depan.
Setelah diskusi kami pun diminta kembali ke kelas masing-masing, "baiklah kalian boleh kembali, untuk bendahara OSIS yang lama dan calon bendahara OSIS yang baru tolong tinggal sebentar"
Aku berdiri ditempat ku, lalu aku seseorang menghampiri ku. Ia menepuk pundak ku, aku menoleh "hai, syakila kan" ia tersenyum manis.
"Ah iya kak" aku gugup.
"Aku Cici Maharani, aku bendahara lama OSIS" katanya dengan ramah.
Aku mengaguk, lalu aku memperkenalkan diri. Kami berbincang-bincang sesaat.
"Kalian berdua ayo ikut saya" aku dan dan kak Cici menoleh saat pak Devan memanggil kami.
Aku dan kak Cici mengikuti langkah pak Deva, hingga kami berhenti di depan ruangan. Yang di sana terdapat tulisan RUANGAN OSIS.
Kami bertiga melangkah masuk, lalu aku dan kak Cici di suruh duduk. Aku mengikuti kak Cici yang duduk diatas sofa.
Pak Devan berjalan kerah rak buku tinggi yang berada disudut ruangan, ia mengambil sebuah buku. Lalu kembali menghampiri kami.
"Ini buku kas untuk bendahara OSIS, sekarang kamu yang pegang. Tapi ini yang baru, yang lama akan dibawakan oleh Cici besok" kata pak Devan sambil memberikan buku itu pada ku.
"Oh, saya bawa buku Sekarang kok pak" kata kak Cici tiba-tiba.
"Benarkah, kamu bisa ambil Sekarang"
"Baik pak"
__ADS_1
Kak Cici beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar ruangan, kini hanya aku dan pak Devan yang tinggal. Oka Devan berdiri lalu berjalan menuju rak buku tinggi itu, aku hanya berdiam ditempat lalu membuka buku kas yang diberikan pak Devan tadi.
"Syakila bisa kemari sebentar"
"Ah iya pak"
Aku lansung menutup buku ku, lalu berdiri. Aku berjalan kearah pak Devan berdiri, saat hampir sampai entah apa yang terjadi. Kaki ku tersandung oleh kaki ku sendiri, tubuhku lansung tak seimbang. Aku terhuyung kedepan dan...
Hupp
Ya, tangan kekar milik pada Devan sedang menahan tubuhku.
"Hah hah, huuu hampir saja" kata ku bersyukur.
Aku rasa tangan pak Devan sedang menahan perut dan dada ku, aku terkejut. Aku menoleh kearah pak Devan, aku lebih terkejut lagi saat ku lihat wajahnya merah padam. Wajahnya yang seram itu hilang seketika, hanya ada rasa canggung dan malu yang ku lihat di wajahnya.
Nyutt
"Akh, ah maaf pak"
Aku lansung berdiri kembali, lalu sedikit membungkuk didepan pak devan.
"Saya minta maaf pak" kata ku berulang kali.
Pak Devan tak menjawab, lalu aku mendogak kepalaku keatas, ku lihat wajahnya masih merah padam.
"Pak" aku mencoba menyadarkan pak Devan yang masih mematung.
Aku melambaikan-lambaikan tangan ku didepan nya.
"Ah iya iya" pak Devan mengusap wajah nya.
Aku merasa bersalah, aku hanya menunduk. Kami saling diam sejenak hingga aku mendengar suara pintu terbuka.
"Pak ini bukunya"
Pak Devan berjalan kerah kak Cici lalu menerima buku yang dibawakan kak Cici, wajahnya langsung berubah, aku bisa melihat kembali kalau dahi pak Devan itu berkerut kembali.
_______________
Bebarapa hari kemudian hari pelantikan anggota OSIS yang baru pun terlaksana, dan juga sekalian hari pelantikan ketua dan wakil ketua OSIS yang baru.
Setelah acara selesai, aku memutuskan untuk istirahat sejenak di taman belakang sekolah.
"Huuhh baru juga masuk sekolah udah sibuk aja, padahal dulu waktu SMP gak kayak gini deh" kata ku menggerutu sendiri.
"Ini SMA, tentu saja beda dengan SMP....."
Aku terkejut saat mendengar suara seorang pria, aku menoleh kearah suara.pak Devan sedang berdiri di belakangku, ia berjalan kedepan ku lalu ikut duduk disamping ku.
"Disini sudah mandiri, yang ngurusin acara besar sekolah itu siswa. Bukan guru lagi kayak di SMP, mengerti kamu" kata pak Devan dengan nada kesalnya.
"Mengerti pak" sumpah aku takut banget, kalau ketemu pa Devan sejak hari itu.
Aku langsung berdiri saat rasa canggung mulai menyerang ku "saya permisi dulu pak"
Aku hendak pergi, tapi tiba-tiba pak Devan menahan ku. "Saya minta maaf" katanya tiba-tiba.
Aku terkejut, tunggu-tunggu ini bukan tentang yang kemarin kan, aku mohon jangan tentang itu lagi.
"Soal yang kemarin saya minta maaf" katanya.
Deg
Aku kembali hendak pergi tapi sekali lagi kaki tertahan "apa kamu benar-benar ingin melupakan hal itu"
Deg deg
Flashback on.
Nyut
Kurasakan tangan pak Devan sedikit meremas dadaku, aku yang merasa sedikit terkejut dan sakit lansung berdiri dan menjauh dari tangan pak Devan.
"Akh, ah maaf pak"
Aku lansung berdiri kembali, lalu sedikit membungkuk didepan pak devan.
"Saya minta maaf pak" kata ku berulang kali.Wajah ku memerah saat itu juga.
Flashback off.
"Ah itu kan sudah berlalu, jadi lupakan saja pak. Saya juga sudah tidak ingat kok" kata ku.
Tapi jujur dalam hati ku berkata "dasar, padahal aku sudah bersusah payah melupakan nya"
"Tapi saya masih ingat"
Deg deg deg
Oh tuhan, cabut saja nyawa ku. Aku benar-benar malu, bisa-bisa guru killer kayak pak Devan masih mengingat nya, apa dia tidak tau Semerah ala wajahnya saat itu.
"Pak, saya mohon lupakan saja itu. Kalau bapak masih mengingat nya itu akan membuat bapak malu sendiri, jadi tolong lupakan saja" kata ku mencoba memelas.
"Saya tidak bisa"
"Akhhh oke-oke kalau bapak gak bisa melupakannya seterah bapak. Intinya saya tidak mau mengingat nya lagi oke. Saya permisi" kata ku kesal.
Aku berjalan dengan kesal meninggalkan pak Devan sendiri.
Malam harinya aku baru saja selesai mandi, selesai mandi aku makan. Setelah itu aku lansung rebahan di kasur ku.
Aku menarik handphone ku yang berada diatas nakas, lalu memainkannya.
Drrttt
Aku terkejut bahkan handphone ku hampir lepas dari tangan ku. Akhh hampir saja, kalau tidak mungkin ini handphone sudah jatuh diatas wajah ku.
0812xxxxxxx
Aku mengerutkan dahi ku, saat nomor tak dikenal tertera dilayar handphone ku. Akhirnya dengan terpaksa aku mengakat nya.
"Halo"
"Halo ini no syakila bukan?"
Deg
Jantungku berdebar kencang saat mendengar suara seseorang dari seberang sana, suara yang berat tapi terdengar tidak asing.
"Iya ini siapa ya" kata ku hati-hati.
"Haaa apa kamu sudah lupa dengan saya" katanya, nadanya terdengar kesal.
__ADS_1
"Ah maaf, tapi ini siapa ya" ucap ku sekali lagi.
"Huh saya Devan Wijaya, pembina OSIS disekolah mu"
Ouh pantas saja suaranya terdengar tidak asing, dan nada kesal itu. Oh ya pasti itu pak Devan.
"Ah iya pak, maaf hehe"
"Simpan nomor ini, saya akan lebih sering menelpon kamu mulai hari ini" katanya.
"Iya pak baik"
Tut Tut
Aku berdecak kesal, sungguh guru yang sangat kejam. Bahkan ia tak bisa bicara dengan nada lembut sekali pun.
Tidak mau ambil pusing akhirnya aku memutuskan untuk tidur, aku letakkan handphone ku kembali, lalu aku menarik selimut dan mulai menjelajahi dunia mimpi.
.................
Pagi ini sudah turun hujan, sebenarnya dari tadi subuh. Tapi pagi ini lebih lebat, dengan langkah berat aku pun pergi ke sekolah.
Saat tiba didepan gerbang sekolah aku membuka payungku lalu berjalan menuju gedung Besar itu.
Baru saja aku melangkah beberapa langkah tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan cepat masuk kedalam perkarangan sekolah.
Byurr
Mobil itu menginjak genangan air yang berada tepat disampingku, dan hal itu membuat air itu menciprat kearah ku.
Baju ku basah dan kotor, dan yang parahnya lagi mobil itu bahkan tidak berhenti. Ditambah gerbang sekolah sudah sepi jadi tidak ada yang melihat kejadian itu.
Aku hanya menahan kesal dan mengelus dada ku "sabar, sabar syakila cantik. Orang sabar disayang Tuhan" kata ku.
Aku segera berlari ke toilet sekolah, setelah menemukan toilet aku lansung masuk dan membersihkan pakaian ku.
"Haaaaa, apa hari ini hari kesialan ku ya. Udah pagi hujan, gak diantar dan sekarang baju ku malah kotor" kata ku.
Sambil membersihkan baju, aku menggerutu sendiri didalam toilet. Aku terus membersihkan baju ku, dan mengeringkan rambutku yang juga ikut basah. Aku tidak peduli lagi apa aku akan terlambat atau tidak, tapi yang penting baju ku harus aku bersihkan dulu.
Kkrrttt
Dari dalam aku mendengar suara pintu toilet terbuka, aku lansung diam dan melanjutkan pembersihan atas rambutku.
"Haaa pagi-pagi udah hujan aja"
Aku terkejut saat yang kudengar adalah suara seorang pria.
"Pria, wah gak betul nih. Pasti dia orang mesum, ini kan toilet cewe" kata ku dalam hati.
Dengan berani aku keluar, ternyata benar saja dia seorang pria. Ia sedang mencuci tangannya diwastafel. Aku bersiap memukul nya dari belakang, tapi reflek tangan ku berhenti dan aku sangat terkejut saat pria itu mengakat kepalanya dan bercermin. Matanya melihat ku dari pantulan kaca, karena sama-sama terkejut kami berdua pun berteriak.
"Kyaaaaaa" kami berteriak histeris dan terkejut saat melihat wajah satu sama lain.
Pria itu lansung berbalik badan menghadap ku, aku semakin terkejut saat orang itu ternyata adalah pak Devan.
"Loh syakila" kata pak Devan.
"Hah pak Devan, bapak ngapain disini. Bapak mau lihat saya ya. Oh ternyata bapak orang mesum ya, haa iya kan" kata ku.
"Lah kok nyalahin saya, kamu yang salah, ini tuh toilet pria" kata nya sambil menunjuk pintu.
Aku melihat kebelakang, tapi aku tetap keras kepala, aku tidak percaya dengan pak Devan.
"Akh saya gak percaya, bapak yang salah nih" kata ku.
Dahinya kembali berkerut, wajahnya kelihatan kesal. Sorot matanya berubah, seketika nyali ku untuk melawannya lansung menciut.
"Eh iya-iya pak kayaknya saya yang salah saya minta maaf ya" kata ku cengengesan.
Aku kembali masuk kedalam toilet untuk mengambil tas ku. Tapi baru aku mau keluar tiba-tiba pak Devan masuk ke dalam toilet, ia lansung menutup mulut ku dan mendorong tubuh ku hingga aku terduduk diatas WC duduk itu.
Aku terkejut, aku memberontak. Tapi ia lansung melihat kearah ku "sssttt diam sebentar, diluar lagi ada orang" katanya dengan berbisik.
Aku hanya diam, ya aku mengerti maksudnya gimana. Aku pun tidak lagi memberontak, tapi jantungku yang memberontak kali ini. Karena dari bawah sini aku bisa melihat wajah pak Devan yang sedang serius.
Wajahnya yang sedang serius tampak sangat tampan, aku melepaskan tangan pak Devan dari mulut ku.
"Haaa bapak ganteng banget" Tampa kusadari kata-kata itu keluar dari mulut ku.
Aku lansung kembali menutup mulut ku, pak Devan yang mendengar suara ku tadi melihat kearah ku. Aku mendogak kepalaku keatas dengan maksud untuk minta maaf. Tapi saat aku melihat keatas ternyata pak Devan menatap ku, dan mata kami saling bertemu. Hening seketika dan beberapa detik kemudian kami saling tersentak, aku membuang pandangan ku dari pak Devan begitu juga sebaliknya.
Pak Devan menjauh dari ku, ia keluar dari tempat ku. Ia melihat keadaan sekitar lalu memberi kode pada ku.
"Keluar lah" katanya.
Aku merapikan pakaian ku, dan menata rambutku kembali. Aku lansung keluar dari toilet itu Tampa pamitan pada pak devan karena aku terlalu malu kalau bicara dengannya. Aku berjalan kekelas dengan wajah yang memerah.
,,,,,,,,,,,,,,,,
Sore harinya, aku sedang menunggu jemputan didepan gerbang sekolah.
Aku menelepon abangku, tapi ia tak kunjung datang, aku berdecak kesal. Karena kesal sekali aku bahkan hampir melempar handphone ku ke tanah, tapi tangan ku lansung berhenti saat handphone ku berbunyi.
Aku melihat layar handphone ku, ternyata itu pak Devan. Aku kembali kesal " Haaah sial, apa lagi sih nih guru killer" kata ku sambil menjambak rambutku sendiri.
Aku mengakat telpon darinya....
"Hal......"
"KAMU DIMANA, KAMU TAU HATI INI HARI APA"
Suara pak Devan menggelegar dari seberang sana, aku berfikir sejenak.
"Ah iya pak, saya tau. Maaf pak saya lupa, sekarang saya ke ruang OSIS ya pak" kata ku.
Hari ini adalah hari untuk mengumpulkan laporan keuangan OSIS selama beberapa Minggu ini. Aku bergegas masuk kembali kedalam sekolah, dan menuju ruang OSIS. Benar saja ternyata disana sudaha ada oak Devan dengan wajah seramnya. Aku menelan saliva ku dengan kasar.
Glek
"Haha maaf pak saya lupa" kata ku mencoba mencair kan suasana.
"Ya sudah segera keluarkan laporan nya" katanya dengan nada kesalnya.
Aku lansung mengeluarkan laporan nya lalu menyerahkan nya pada pak Devan, ia melihat laporan itu dengan serius. Aku sesekali melirik pak Devan yang sedang serius itu, hingga suatu ide muncul dikepala ku.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
HAI READERS, GIMANA NIH CERITA NYA. MAAF YA KALAU GAK NYAMBUNG ATAU BANYAK TULISAN YANG TYPO.
JANGAN LIKE KOMEN DAN TEKAN ❤️ NYA YA.
MAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.
__ADS_1
SYUKRON 🙂🐭