Wakepsek Berwajah Tampan Itu Adalah Jodohku

Wakepsek Berwajah Tampan Itu Adalah Jodohku
#03#


__ADS_3

...❤️ HAPPY READING ❤️...


DEVAN PO'V


Dulu bunda ku sangat menyukai tanaman hias, seperti bunga. Salah satunya bunga melati.


Setiap pagi aku pasti selalu melihat bunda menyiram bunga nya, karena dijaga dengan baik bunga itu tumbuh kembang dengan baik dan akan segar setiap paginya.


Terkadang aku juga suka melihat bunga melati yang disiram bunda, karena melihatnya Sega begitu sehabis disiram bunda membuat ku semangat setiap pagi.


Hingga beberapa waktu kemudian ha yang tak pernah kubayangkan saat itu adalah perginya bunda dari hidup ku untuk selamanya.


....................


Hari itu ayah ku lembur setelah beberapa hari, dan beberapa hari itu juga ia menginap dikantor.


Pagi itu ayah ku pulang, dan pagi itu terasa sangat dingin. Untungnya hari itu adalah hari Minggu, jadi setiap Minggu aku lah yang akan menyiram tanaman bunda.


Jujur saat itu aku sangat malas, karena pagi itu sangat dingin bahkan untuk kena air saja aku tidak mau.


Saat aku menyiram tanaman tiba-tiba ayah ku datang. Wajahnya terlihat kusut dan lelah.


"Ayah..." Aku berlari kearah ayah ku.


Tampa disengaja air yang begitu dingin itu mengenai ayah ku, aku terkejut. Aku melihat kearah ayah. Seketika itu juga wajahnya kesal.


Mungkin akibat lelah jadi emosinya cukup tinggi, ditambah lagi pagi itu air nya sangat dingin.


"Ayah maaf" kata ku.


Ayah terlihat kesal sekali, ia pun hanya diam lalu masuk kedalam dengan penuh emosi.


Aku pun mengikuti langkah ayah dari belakang, berharap mendapat maaf dari ayah.


"Mas sudah pulang" ibu ku lansung menyambut ayah ku saat ia masuk.


Ayah masih kesal, tapi ia tetap mencoba untuk senyum pada bunda. Lalu ia pun berlalu ke kamarnya.


Aku berlari kearah bunda lalu memeluk bunda.


"Devan, apa kamu membuat kesalahan dengan ayah" kata bunda.


Aku takut, tapi mengaguk juga. Lalu bunda berjongkok di depan ku dan tersenyum sambil menatap mataku. Ia mengelus rambut ku dengan lembut.


"Sayang, kesalahan apa yang udah Devan buat sama ayah" tanya bunda.


"Devan....Devan gak sengaja nyirammin air kearah ayah" kata ku takut.


"Ta-tapi Devan udah minta maaf kok" sambung ku.


Bunda hanya tersenyum kecil, lalu mengaguk. Ia pun bangkit.


"Jangan di ulangi lagi ya" kata bunda.


Aku mengaguk, lalu bunda pun pergi. Selang beberapa Minggu kemudian. Entah apa yang terjadi bunda dan ayah sering sekali bertengkar. Dan semenjak saat itu juga bunda tak lagi menyiram bunga melatinya.


Aku juga tak menyiram nya, karena takut. Sehabis ayah dan bunda bertengkar. Pasti ayah akan keluar dengan memecahkan semua barang-barang di rumah.


Dan pertengkaran itu terus berlanjut, hingga suatu ketika. Ayah keluar dari kamar lalu keluar entah kemana.


Sudah sebulan sejak hari dimana aku menyiram ayah. Sebenarnya dua Minggu sebelum itu ayah dan bunda juga sering bertengkar. Dan ayah juga sering tak pulang. Setiap aku bertanya pada bunda pasti bunda hanya menjawab kalau ayah lemur dan harus menginap di kantor.


Aku segera berlari kekamar bunda, dan apa yang ku lihat saat itu benar-benar tak pernah kubayangkan dalam hidup ku.


Aku melihat bunda yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Aku segera berlari kearah bunda dan mencoba untuk membangun kan nya.


Aku menangis sambil memegang kepala bunda yang terus mengeluarkan darah.


"Bunda" aku tak tau lagi apa yang harus dilakukan.


🌹🌹🌹🌹🌹


Syakila PO'V


Aku terdiam didepan rumah ku, saat aku melihat pak Devan sedang menungguku di depan gerbang rumahku.


"Loh pak Devan"


Wakepsek killer itu melihat kearah ku.


"Bapak kok disini" tanya ku sekali lagi.


Ia memutar bola matanya, lalu melihatkan jam tangannya.


"Ini sudah jam 07.15, kamu terlambat 15 menit, dan sekarang kamu baru mau berangkat" katanya.


"Maaf pak"


"Saya sengaja jemput kamu" kata pak Devan sambil menatap lurus kedepan.


Aku mengernyit heran "maksudnya" kataku.


Ia hanya diam, lalu menyuruhku untuk masuk ke mobilnya. Sepanjang perjalanan hanya ada hening diantara kami.

__ADS_1


"Apa bapak punya pacar"


Buakk


Rasanya aku ingin menampar diri ku sendiri saat pertanyaan itu terlintas dan tiba-tiba keluar dari mulut ku.


"Ah maaf pak" kata ku segera meminta maaf.


Pak Devan hanya diam wajahnya serius kedepan melihat jalanan kota yang ramai.


Aku merasa bersalah, lalu beberapa detik kemudian ia pun menjawab pertanyaan ku.


"Saya tidak punya pacar" katanya.


Aku lansung menatap pak Devan, entah mengapa ada rasa senang saat mendengar perkataan nya.


"Tapi saya punya orang disukai"


Aku menundukkan kepalaku, ada rasa sedih yang terbesit dihatiku saat ia mengatakan itu.


Tapi aku mencoba untuk tidak memperlihatkannya.


"Ouh baguslah" kata ku.


Lalu kami kembali diam, sesampainya di sekolah aku lansung menuju kelasku. Sepanjang perjalanan menuju kelas aku terus memikirkan siapa yang di sukai oleh pak Devan.


Tringg


Saat sedang sibuk memikirkan pak Devan tiba-tiba handphone ku berbunyi, aku lansung membuka handphone ku.


Yee baru juga ketemu udah ngirim pesan aja nih orang, ya itu pak Devan yang mengirim chat.


"TEMUI SAYA DI TAMAN BELAKANG, SAAT SEPULANG SEKOLAH"


Haaaa, apa lagi ini Tuhan.... Guman ku dalam hati.


Sore hari telah tiba, tapi awan seperti nya ingin menurunkan hujan. Dengan langkah berat aku melangkah ke taman belakang sekolah.


Saat melewati koridor sekolah terasa sedikit menyeramkan karena sangat gelap. Lagian ini juga sudah sangat sore dan tidak ada lagi siswa di sekolah.


Aku akhirnya duduk dibawah pohon sambil menunggu pak devan. Tak beberapa lama pak Devan pun datang.


"Sudah lama menunggu" tanya pak Devan.


"Lumayan" jawab ku ketus.


"Ada apa pak, sampai suruh saya kesini" tanya ku.


Lalu pak Devan tersenyum kecil, whattt aku terkejut. Benar-benar terkejut, ia tersenyum?? Benar-benar tersenyum.


"Saya cuma mau ngajakin kamu pulang bareng lagi" kata pak Devan.


Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik, seperti ada yang aneh dari pak Devan hari ini. Aku mendekat kan wajah ku padanya lalu menatapnya.


"Hmm, apa anda benar pak devan yang saya kenal" kata ku.


Seketika ekspresi nya lansung berubah datar, ia menjauhkan wajahku darinya dengan tangannya.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau....." Lalu pak Devan berdiri dan berjalan beberapa langkah kedepan.


Lalu ia berbalik melihat ku "dan saya masih Devan Wijaya yang kamu kenal" katanya. Sambil melanjutkan langkahnya.


Deg


Jantung ku lansung terkejut saat ia berkata seperti itu, aku bangkit dari duduk ku lalu mengejarnya dari belakang. Aku lansung menggandeng tangannya.


"Haha untung lah masih pak devan yang sama" kata ku.


Kami pun berjalan menuju parkiran, baru saja sampai diparkiran udara dingin. Telah menyerang tubuhku. Aku mengusap-usap tangan ku.


"Kamu kedinginan" tanya pak devan yang seperti nya memperhatikan ku.


Aku mengaguk, lalu pak devan melepaskan jas yang ia pakai. Lalu memakai kan nya pada ku.


Deg deg


Oh tuhan, rasanya seperti menjadi iron men eh salah, maksudnya seperti menjadi pemeran utama wanita dalam flim romantis.


Jantungku tak berhenti berdetak kencang, wajah ku terasa panas. Lalu sebuah tangan kekar juga membantu menutup kepala ku saat air hujan sudah turun.


Aku mendongak kan kepala ku keatas, melihat kak devan yang dengan serius untuk melindungi ku dari hujan. Lalu kaki nya mulai melangkah sedikit cepat, aku mencoba untuk mengikuti langkahnya.


Dibawah hujan yang mulai deras itu, kami berlari menuju parkiran mobil. Aku masih menatapnya dengan jantung yang masih berdetak dengan kencang.


Lalu setelah sampai di parkiran, kami pun lansung masuk kedalam mobilnya. Lalu ia mulai melaju kan mobil nya dibawah derasnya hujan.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Aku duduk diatas bangkar UKS yang tidak terlalu tinggi itu. Dan didepanku kini sedang ada seorang yang terhormat yang sedang mengobati kaki ku yang berdarah.


Ya,,,,,itu pak Devan sang wakil kepsek dan pembina OSIS disekolah ini. Ia berjongkok di depan ku sambil mengoleskan obat pada kaki ku yang terluka.


Tadi pagi saat jam pelajaran olah raga.....

__ADS_1


Flashback on...... AUTHOR PO'V


"Awaasss"


Buakk


Gadis itu terjatuh kedepan saat kakinya mencoba untuk menahan tubuhnya yang hampir terlungkup kedepan akibat lemparan sebuah bola yang mengenai pundaknya.


"Awww" ia memegangi lututnya yang terluka


"Pak ada yang kenal bola" teriak salah satu siswa yang sedang berolah raga.


Sang guru olahraga yaitu pak Rio lansung berlari kearah siswi yang terkena bola.


Dan di sisi lain seorang pria tinggi dan tampan juga sedang berlari kearahnya. Ternyata Devan lah yang sampai terlebih dahulu, ia lansung mengendong syakila gadis yang terjatuh akibat bola itu.


"Ah, pak biar kami yang bawa muridnya" kata Rio tak jauh dari posisi Devan yang sudah berjalan menuju UKS.


"Tidak usah, lanjutkan saja kegiatan kalian, biar saya yang urus dia" kata pria itu dingin.


Rio lansung terdiam, walaupun lebih tua dari Devan tapi ia juga sedikit takut pada pria bertubuh tinggi itu.


Devan berlari menuju UKS sambil mengendong syakila yang masih menahan sakit.


Saat sampai UKS ia segera mendudukkan syakila diatas bangkar. Lalu mengambil obat untuk luka syakila.


Ia lansung berjongkok di depan gadis itu dan mengoleskan obat dengan lembut.


Flashback off....... SYAKILA PO'V


"Ini gimana ceritanya, kok bisa luka" tanya pak devan.


"Tadi saya numpang lewat pak, terus tiba-tiba ada orang yang teriak AWAS. Trus waktu saya mau noleh kebelakang eh tiba-tiba tuh bola udah kena aja sama bahu saya" jelas ku.


Pak Devan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membersihkan luka ku. Lalu ia memberikan obat pada lutut ku yang terluka, lalu yang terakhir ia memberikan antiplas untuk menutup luka ku.


Setelah itu ia pun berdiri, lalu melihat ku dengan tatapan iba pada anak kecil. Aku mendogak kepalaku dan menatapnya, aku memasang wajah cemberut saat ia menatapku seperti itu.


Aku melipat kedua tangan ku didepan dada, lalu mengalihkan pandangan dari nya.


"Kenapa lagi?" tanya oak Devan, yang seperti nya menyadari kalau aku sedang kesal.


"Gak kenapa-kenapa" jawab ku ketus.


Lalu ia mencubit pipi ku, oh tidakkk jantungku lansung deg degan saat itu juga. Ia mencubit kedua pipi ku dengan gemas. Sedikit sakit tapi rasa itu hilang saat jantungku kini tengah maraton.


Aku pun melepaskan tangan pada Devan dari pipi ku, lalu aku mengusap-usap pipi ku, bukan karena sakit tapi karena ku rasa pipi ku merona saat ini. Aku takut kalau pak Devan tau dan mengejekku.


Lalu ia tertawa kecil, dan mengusap-usap kepala ku. Dan ikut duduk disamping ku.


"Kamu kenapa lagi hmm, apa kaki nya masih sakit" tanya oak Devan sekali lagi.


"Bapak kenapa natap saya kayak gitu tadi" kata ku masih memegang kedua pipi ku.


"Hmm emangnya saya natap kamu kayak mana?"


Aku langsung menatap pak Devan dengan kesal "itu tadi, tatapan bapak tadi itu kayak iba sama anak kecil. Emangnya saya ana kecil apa" kata ku kesal.


"Haha kan kamu memang anak kecil,,,,," ia berdiri didepan ku.


Aku kembali melipat kedua tangan ku di depan dada.


",,,,,,Anak kecil bagi saya" bisik pak Devan tiba-tiba tepat ditelinga ku.


Deg


Aku bergidik ngeri saat suaranya yang berat itu berbisik di telingaku. Dan juga deruan nafas nya yang terasa hangat membuatku semakin merinding.


Aku sontak menutup telinga ku, lalu ku lihat pak Devan tersenyum puas. Sungguh saat ia tersenyum entah kenapa rasanya aku juga ikut senang dan senyuman nya yang manis itu bisa membuat ku salting sendiri hihihi 🤭.


Lalu ia meletakkan obat-obatan yang sudah ia ambil tadi, kini jantungku rasanya ingin lompat keluar, rasanya sangat mendebarkan saat itu. Dan tiba-tiba juga saat itu ada sebuah pertanyaan besar yang terlintas dikepala ku.


"Kenapa bapak perhatian sekali pada saya" kata ku masih memegang telinga ku.


Ku lihat pak devan terdiam di tempatnya, ia tak bergeming saat aku bertanya. Diam beberapa detik lalu ia memasukkan kotak obat itu kedalam lemari kaca yang ada dihadapannya.


Aku menundukkan kepalaku saat aku merasa kalau pertanyaan ku ini salah. Lalu ku dengar langkah kaki pak Devan menuju tempat ku saat ini. Aku sedikit takut, gimana kalau ia marah.


Lalu ia berdiri di depan ku, aku hanya sanggup melihat kakinya. Dan....aku merasa sebuah tangan kekar mencoba untuk mengakat dagu ku keatas.


Pak Devan mengakat dagu ku hingga pandangan kami berdua bertemu. Ia begitu tinggi, lalu ia menurunkan wajahnya hingga jarak wajah kami begitu dekat.


.


.


.


.


.


JANGAN LIKE KOMEN DAN TEKAN ❤️ NYA YA.

__ADS_1


MAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.


SYUKRON 🙂🐭


__ADS_2