Wakepsek Berwajah Tampan Itu Adalah Jodohku

Wakepsek Berwajah Tampan Itu Adalah Jodohku
#04#


__ADS_3

... ❤️HAPPY READING❤️...


AUTHOR PO'V


"Paman, paman" panggil seorang gadis kecil yang masih berumur 10 tahun.


Orang yang dipanggil lansung menoleh kebelakang, ia melihat gadis kecil yang manis. Lalu hadis kecil itu memberikan sebuah pena bewarna biru.


"Ini punya paman jatuh" kata gadis kecil itu.


Devan....saat itu juga lansung menerima pena itu dan tersenyum pada gadis kecil itu.


"Terima kasih" katanya sambil mengelus kepala gadis itu.


Lalu mereka pun berpisah, gadis kecil itu berlari kearah kedua orang tuanya sambil melambaikan tangannya pada Devan....


🐰🐰🐰🐰🐰


Beberapa Minggu kemudian.....


Hari ini adalah hari dimana kami akan pergi study tour, Maksudnya angkatan ku akan pergi study tour.


Aku berangkat pagi-pagi sekali dari rumah, saat sampa disekolah hal yang tak terduga bisa kulihat. Nah biasanya kan yang akan menemani siswa siswi study tour itu hanya guru-guru. Tapi yang anehnya hari itu adalah pak Devan juga ikut mengawasi kami. Iya sih dia juga guru tapi jabatannya kan bukan guru lagi tapi sebagai pembina OSIS dan wakepsek.


Aku memutar bola mataku malas saat melihat pak Devan dikerumuni oleh siswi-siswi pecinta cogan, haha ya aku juga sih.


Beberapa menit kami semua menunggu akhirnya kami pun berangkat menuju lokasi. Kami melewati perjalanan selama kurang lebih 3 jam. Dan akhirnya kami pun sampai ketempat tujuan dengan selamat.


Kami sampai di lokasi sudah sore, karena kami berangkat di siang hari. Akhirnya kami pun memutuskan untuk lansung ke hotel yang sudah dipesankan. Sebenarnya memang perjalanan kami selama 1 hari 1 malam.


Satu kamar berisi 4 orang, aku akhirnya sekamar dengan Dila,Caca dan auren. Sebelum malam kami memutuskan untuk mandi lalu turun kebawah untuk makan bersama dengan para guru dan anak seangkatan. Lalu jam 19.30 kami kembali kekamar.


............


Jam sudah menunjukkan pukul 21.45 dan ketiga orang yang sekamar dengan ku itu masih saja bicara tentang oak Devan yang tiba-tiba ikut study tour bersama kami.


Akhh sumpah ya, aku benar-benar lelah malam itu tapi mereka masih saja semangat membicarakan orang yang bahkan bisa mereka lihat tiap hari.


Aku memutuskan untuk keluar "loh syakila mau kemana" kata auren.


"Aku mau cari angin bentar ya" kata ku.


"Ya udah jangan lama-lama ya, jangan jauh-jauh juga hati-hati" kata Dila.


Aku mengiyakan nya lalu pergi keluar dari kamar, aku memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar hotel. Aku memutuskan untuk duduk di bangku taman yang tak jauh dari perkarangan hotel.


Saat sedang asyik menikmati angin malam, tiba-tiba saja seseorang mendekati ku. Bukan, bukan, itu bukan oak Devan. Tapi dia seorang pria yang berumur lanjut. Ia tampak aneh jalan nya saja kayak orang mabuk. Ia mendekat kerah ku.


"Hei...Adek manis... Mau main sama om gak" katanya.


Iiuhh bau alkohol, aku menutup hidung ku lalu beranjak dari duduk ku. Aku hendak pergi tapi tiba-tiba orang itu menahan tangan ku.


"Kok pergi Adek manis...mendingan main sama om yuk"


Aku mencoba untuk memberontak, tapi genggamannya terlalu kuat. Ia menarik hingga aku duduk kembali di atas kursi.


"Om lepasin" kata ku.


Tapi itu orang malah ikut duduk disamping ku, dan kini tangannya yang satu lagi mulai meraba paha ku dari balik celana training ku.


"Lepasin" bentak ku.


Pria paruh baya itu lalu terkejut dan melepaskan genggamannya. Ia menatapku kesal, wajahnya tampak marah. Aku berdiri dari dudukku lalu hendak lari, tapi segera orang itu menahan kaki ku hingga aku terjatuh ketanah.


Aku ingin berdiri, pria paruh baya itu tiba-tiba duduk diatas ku. Ia menggegam kedua tanganku dan mengakat nya keatas. Lalu tangan satunya mulai masuk kedalam hodie yang aku gunakan. Kini aku benar-benar takut, saat itu sudah sangat larut dan tidak ada lagi orang yang lewat.


Aku berteriak saat tangan kasar itu mulai kurasakan menyentuh kulit ku. Tapi rasanya benar-benar percuma karena disana sangat sepi. Ku rasakan tangannya mulai keatas menyentuh kedua dada ku.


Aku benar-benar takut dan air mata ku mulai keluar membasahi pipi, dan aku mulai menutup mata ku, dan berharap apa yang aku takutkan tidak akan terjadi.


Buakk


Pria aneh itu terhempas ketanah saat seseorang memukul nya dari samping. Aku membuka mata ku, samar-samar ku lihat wajah pak devan. Ia lalu membantu untuk berdiri dan merapikan pakaian ku yang sudah berantakan dan kotor.


"Kamu gak apa-apa" kata pak Devan.


Aku mengaguk "pak awas" teriak ku saat pria paruh baya itu melayang satu pukulan nya.


Untung nya pak Devan segera menghadangnya, lalu melawan pria itu. Hingga pria itu terjatuh ketanah.


"Pergi Lo, atau gua laporin Lo ke polisi" tariak pak devan.


Pria itu segera pergi dan meninggalkan kami berdua, pak devan segera menanyakan keadaan ku. Aku yang masih syok hanya bisa menangis.lalu pak Devan membawa ku untuk duduk kembali.


Ia mencoba untuk menenangkan ku, ia membawa ku kedalam pelukannya lalu mengusap-usap punggungku dengan lembut. Aku mulai tenang dan nangis ku pun reda.


💔💔💔💔💔

__ADS_1


Zrassss


Kini aku dan pak Devan sedang berteduh di sebuah toko yang sudah tutup dan tidak jauh dari hotel.


Hujan tiba-tiba saja turun membuat kami berdua panik dan akhirnya harus berlari ketoko ini. Jalanan sudah sepi dan toko-toko sekita sini pun sudah tutup.


Aku melihat sebuah kursi plastik yang tak jauh dari tempat ku, tapi hanya ada satu sedangkan kami berdua. Aku terus menatap kursi itu, lalu pak Devan mengambil nya dan memberikan nya pada ku.


"Duduk lah" katanya.


Aku mengaguk lalu duduk di kursi itu. Sedangkan pak devan, ia berdiri disampingku.


Malam itu udara terasa sangat dingin, mungkin karena sudah malam dan ditambah lagi hujan. Aku memasukkan tangan ku kedalam hodie ku.


Tiba-tiba tangan pak Devan juga ikut masuk kedalam hodie ku lalu menggegam kedua tangan ku didalam sana.


Aku terkejut lalu menoleh kebelakang, rupanya pak devan sudah berjongkok di belakangku dan menyamakan posisi nya dengan ku.


"Mmm...pak.." aku mencoba untuk melepaskan genggamannya.


"Kamu pasti dingin, gak apa-apa kan kalau saya menghangatkan tangan kamu sedikit" kata pak Devan.


Kini wajah ku terasa panas, dan jantungku berdegup kencang. Memang benar tangan pak Devan sangat hangat. Tangannya yang besar benar-benar membuat ku hangat.


Deg


Ku rasakan deruan nafas pak devan saat ia menyadarkan kepalanya di bahuku. Terasa menggelikan karena deruan nafas pak devan terasa tepat di leherku.


"Pak..." Kata ku mencoba untuk menyingkirkan kepalanya dari bahuku.


Benar saja pak Devan mengakat kepalanya, tapi kini nafasnya terasa di telinga ku. Lalu satu tangan pak Devan keluar dari hodie ku, melepaskan genggamannya dari tangan ku.


Tapi tangan nya mulai mengarah ke pipi ku, ia memegang pipi ku lembut lalu mencoba untuk membawa kepalaku menoleh kebelakang, yaitu menghadap kearah nya.


Benar saja, saat kepala ku sudah menoleh kebelakang. Wajah pak Devan berada tepat didepan ku, matanya terlihat sayu. Sungguh ini adalah wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya dari pak Devan.


Lalu matanya yang sayu menetap ku intens, tangannya yang tadinya dipipiku kini Turun kebibirku. Ia mengusap nya dengan lembut.


"Haaa saya kalah, seperti nya saya sudah jatuh cinta pada mu.... syakila shabrihan" kata kak devan.


Ia mulai memejamkan matanya dan mulai mendekat kan bibir nya pada bibirku ku. Aku juga mulai menutup mata ku, mungkin ini akan lebih sedikit menghangatkan dari pada hanya genggaman tangan pak Devan.


Cup....


Yup, satu ciuman terjadi malam itu diantara kami berdua.


"Aku mencintai mu, syakila"


Kata-kata itu kembali terdengar samar-samar ditelinga ku, saat kan Devan melepaskan ciumannya.......


,,,,,,,,,,,,


Aku menatap wajah ku di kaca kamar mandi. Apa ini... bibir ku terlihat aneh pagi itu.


Deg


Seketika ingatan tadi malam lewat di kepala ku, aku segera mencuci bibirku. Tapi tetap saja hal itu tak membuat bibir ku kembali seperti semula.


Beberapa saat kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Untung nya kamar udah sepi. Lalu aku turun ke lantai satu untuk sarapan bersama anak-anak seangkatan.


Aku turun mengunakan masker, tentu saja pagi itu aku menjadi bahan pertanyaan terutama ketiga teman sekamar ku.


Aku membuka masker ku, untungnya bibirku tidak terlalu mencolok. Tapi perhatian bagi tiga teman sekamar ku dan seorang pria muda yang berada di tak jauh dari meja ku, Ia tersenyum kecil saat melihat kearah ku.


"Loh bibir kamu kenapa" tanya Dila yang selalu perhatian pada ku.


"Oh ini, tadi waktu lagi mandi gak segara kecium dindin" kata ku.


"Ooohhh" ketiga teman ku itu kembali melanjutkan makannya.


Setelah sarapan kami pun mulai berjalan menuju museum tempat study tour kami.


Kami mulai belajar tentang isi-isi museum yang hampir setengah nya tentang kehidupan masa kerajaan. Mulai dari peninggalan kerajaan dan sejarah tentang kerajaan itu sendiri.


Setelah berkeliling akhirnya kami dibolehkan istirahat, aku hendak membeli minum karena rasanya sangat haus.


Saat aku berjalan keluar gedung, tiba-tiba tangan ku ditarik oleh seseorang ke tempat yang agak sepi, aku hendak teriak tapi segera orang itu menutup mulut ku dengan tangannya.


"Sstttt Jangan berisik, ini saya"


"Loh bapak" kata ku saat aku tau ternyata yang menarik tangan ku adalah pak Devan.


Aku menepis tangan pak Devan "apaan sih pak" kata ku kesal.


Ia hanya tertawa kecil, lalu ia menatapku serius. Aku yang ditatap juga ikut serius. Ia menatapku bibirku ku, lalu mengusap nya. Aku segera menepis tangan nya.


"Jangan lagi deh pak" kata ku.

__ADS_1


Ia kembali menatap mata ku "haaahh, ini bukti kalau" katanya tiba-tiba.


"Hueekkk bukti apa" guman ku dalam hati.


"Ini bukti kalau saya, jatuh cinta pada mu syakila"


Deg


Jantungku berdetak lebih cepat saat aku mendengar kata-kata itu dari pak devan.


Lalu pak Devan meletakkan kepalanya di bahuku.


"Saya benar-benar menyukai mu, haa...." Pak Devan menghela nafas nya.


"Jadilah istri saya"


DEG


WHAT!!!!! Aku segera mendorong kak Devan, ia mendongak kepalanya. Menatap ku penuh harap.


"Maksud bapak apa" tanya ku sedikit panik.


"Ya maksud saya, menikah lah dengan saya" katanya.


"Tapi saya masih sekolah pak" kata ku.


"Begini syakila, saya sangat menyukai mu. Saya tidak mau pacaran, tapi saya mau lansung menikah mu. Saya takut kalau kita pacaran kamu akan berpaling dari saya dan meninggalkan saya sendiri" jelas oak devan.


Aku terdiam, tapi benar juga yang pak Deva katakan. Sebenarnya aku juga menyukai nya, aku senang akhirnya persaan ku terbalaskan. Tapi apa ini tak terburu-buru.


"Oh kamu tidak mau ya" katanya.


"Kalau kamu tidak mau, juga tidak apa-apa. Karena umur kita yang beda jauh, mungkin kita gak bisa menjadi pasangan pada umumnya" kata pak Devan kecewa.


Aku menundukkan kepalaku, aku merenung sebentar. Kami berdua saling diam.


Lalu pak Devan hendak pergi, tapi aku segera menahannya dan lansung memeluknya.


"Saya mau, saya mau pak" kata ku.


Pa Devan melepaskan tangan ku dari pinggangnya, lalu ia berbalik dan menatapku. Ia tersenyum "kalau begitu seminggu lagi saya akan datang melamar kamu" katanya dengan senyuman manis yang akhir-akhir ini sering ia lihat kan pada ku.


...............


Satu Minggu kemudian.....


"Jadi maksud saya datang kesini,,,,saya ingin melamar anak bapak"


Pak Devan mengatakan nya dengan percaya diri, aku yang sedari tadi duduk disamping abangku hanya diam.


Ayah dan bunda saling melempar pandangan heran, dan Abang ku.....ia menyenggol-nyenggol tangan ku, seperti meminta penjelasan dari ini semua.


"Anda yakin, adik saya masih kecil loh. Bahkan saya aja masih jomblo massa iya adik saya dulu yang mau nikah" kata abangku.


"Abang ku sayang, coba siniin telinga nya" kata ku meminta abangku untuk mendekatkan telinganya.


Ia pun menurut "Abang jangan sok-sok jomblo. Aku tau Abang punya pacar, mau aku aduin sama ayah dan bunda" kata ku


Abang sontak terkejut dan lansung diam.


"Tapi nak Devan, putri saya masih kecil" kata ayah.


Pak Devan melihat ku lalu dengan beraninya sekali lagi ia berkata "bapak jangan khawatir, saya tidak masalah dengan umur nya"


Ayah dan bunda kembali saling menatap, tampaknya mereka bingung sekali. Aku juga jadi tidak enak melihat ayah dan bunda seperti itu.


Lalu aku beranjak dari duduk ku dan berjalan ke arah ayah dan bunda. "Pak maaf, seperti nya kedua orang tua saya masih bingung. Gimana kalau kasih kami waktu, setidaknya seminggu untuk berfikir" kata ku.


Pak Devan tersenyum lalu mengangguk "baiklah, kalau ibuk dan bapak butuh waktu akan saya berikan"


Lalu pak Devan pun pamit untuk pulang setelah pembicaraan yang rumit itu.


.


.


.


.


.


JANGAN LIKE KOMEN DAN TEKAN ❤️ NYA YA.


MAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.


SYUKRON🙂🐭

__ADS_1


__ADS_2