
❤️ HAPPY READING ❤️
"Bang siapa dia"
Devan menoleh kearah anak kecil yang memegang bajunya.
"Oh Abang gak kenal, dia cuma ngasih Abang pulpen yang jatuh nih"
................
Aku terbangun saat ada sesuatu yang berat diatas tubuh ku. Aku membuka mata ku perlahan dan ternyata itu adalah tangannya pak devan.
"Mas" aku menggoyang-goyangkan tubuh pak Devan.
Tangannya yang kekar kini berada diatas perut ku, aku mengakat nya perlahan tapi tiba-tiba tangan itu membawa ku kedalam pelukan pak devan.
Aku hanya diam, kini wajah ku tarasa panas. Apa lagi kini kepala ku menghadap dada bidang yang di tutupi oleh baju itu.
"Selamat pagi sayang" pak Devan membisikkannya tepat di telinga ku dengan suara khas bangun tidur nya.
Deg
Jantung ku lansung berdetak kencang, suara bangun tidur nya itu sungguh membuat jantungku selalu berdebar-debar. Aku mencoba menjauh dari pak devan tapi segera ia menarik ku kembali kedalam pelukannya.
"Jangan pergi dulu" katanya.
Aku tak peduli, dan dengan paksa aku menjauh dari pak Devan dan bangkit dari tidur ku. Aku segera mandi dan menyiapkan pakaian sekolah dan pakaian untuk pak devan.
"Mas mandi sana, aku kebawah dulu" kata ku.
Aku segera turun kebawah, aku segera memasak. Tapi tentu saja kali ini berbeda, aku akan masak lebih banyak dari biasanya karena sekarang yang tinggal di rumah ini kan tiga orang.
"Jadi bagiamana dengan tadi malam"
Aku terkejut saat mendengar suara reyhan dari meja makan. Aku segera meliriknya lalu membuang muka dan kembali memasak.
"Kalian udah ngapain aja selama beberapa bulan ini"
Deg.
Aku tak mengerti apa maksud pria ini, aku tak bergeming dan tetap melanjutkan masakan ku. Entah mengapa aku merasa kalau pria yang sedang duduk dimeja makan ini bukanlah orang yang baik. Ya memang dia dan pak devan adalah saudara, tapi mereka hanya sepupu. Jadi hanya kecil kemungkinan sikap yang dimiliki oleh pak devan ada di dirinya.
"Kamu cuekin aku" kata reyhan sekali lagi.
Aku masih tak menjawab, aku membasuh alat-alat masak yang kotor dan....
Grepp
Reyhan memegang tangan ku dan mengakat nya keatas.
"Aku tanya sudah sejauh apa kalian melakukan nya" kata reyhan sedikit membentak.
Aku terkejut, sudah kuduga pria ini bukan orang baik-baik seperti pak Devan.
"Maksud kamu apa" balas ku tak kalah emosi.
"Haa gak usah sok polos deh" katanya remeh.
Aku menepis tangannya dengan kasar, lalu membuang muka darinya.
"Untuk apa kamu tau itu, itu urusan kami. Kamu gak perlu tau" kata ku.
Reyhan kembali menarik tangan ku hingga aku terjatuh dalam dekapan nya. Ia lansung mendekatkan bibirnya ke bibirku. Aku yang tersadar akan hal itu Tampa pikir panjang langsung menampar nya.
Plakk ....
Kini rasa takut ku sudah memuncak dan hal itu membuat air mata ku mulai mengalir. Ia masih tetap menatap kelantai saat aku menampar nya.
Lalu reyhan melapaskan tangan ku dan memegang pipinya.
"brengsek" kata ku.
Aku berlari keatas, aku segera membuka pintu kamar ku, aku lansung menemukan sosok pak Devan yang tengah merapikan pakaiannya saat itu.
Tampa pikir panjang aku pun lansung memeluknya dari belakang dengan erat, ia ya g menyadari aku memeluknya dengan keadaan menangis, segera membalas pelukan ku.
Dalam dekapan pria tinggi itu, aku meluapkan semua perasaan ku. Rasa takut akan sepupu nya itu . Pak Devan mengelus kepala ku dan menghapus air mata ku.
Ia membawa ku dalam Ketengan, lalu kulepaskan pelukan ku dan menatap nya. Mata nya terlihat teduh ia tersenyum pada ku, lalu mengecup kening ku.
"Kamu kenapa" tanya nya.
__ADS_1
Aku menggeleng, aku menghapus air mata ku dan kembali memeluknya.
"Aku kurang enak badan mas" kata ku.
Ia lalu menatap ku "ya udah hari ini kamu libur aja ya" katanya.
Aku mengangguk "ya udah, kamu istirahat, mas mau siap-siap dulu"
Ia melepaskan pelukannya, segera aku menahannya agar tidak pergi. Aku masih nyaman dalam dekapan yang hangat itu.
"Mas libur juga ya" pinta ku.
Lalu pak devan tersenyum dan mengaguk "ya udah deh"
...............
Aku hanya menatap langit-langit kamar ku dalam dekapan pak devan. Sudah satu jam aku terus berada disampingnya, aku tidak tau apakah reyhan sudah pergi atau belum, tapi yang aku mau saat ini hanya kenyamanan darib pria yang kucintai ini.
Gyut....
Aku mengeratkan pelukan ku saat wajah reyhan terbayang di kepala ku. Wajah yang polos itu kenapa bisa memiliki sifat yang kurang ajar seperti itu.
"Syakila"
Aku mendogak kepalaku keatas menatap pak devan saat ia memanggil nama ku.
Cup....
Ia mengecup bibirku sekilas, lalu tersenyum manis. Wajah ku seketika terasa panas. Aku menundukkan kepala ku.
Lalu tangan kekar nya membawa wajah ku untuk memandang nya, ia mendongakkan kepala ku ke atas dengan lembut, hingga pandangan kami saling bertemu.
Aku menutup mataku saat wajah pak devan mendekat, lalu kurasakan sedikit pedih di bagian leher ku, seperti digigit. Aku membuka mata ku ternyata pak devan sedang menggigit leherku, entah apa yang ia lakukan. Lalu ia mencium bekas gigitan itu dan tentu saja itu meninggal jejak. Ia mengulanginya dibeberapa bagian disekitar leher ku, dan semakin turun hingga ke dada ku.
Pak devan menarik sedikit baju ku kebawah hingga belahan dada ku bisa terlihat sedikit, ia juga meninggalkan bekas kissmark disana.
"Ekkhmm....mas"
Pak devan segera mengakat kepalanya, dan berhenti dari aktivitas nya. Ia merapikan baju kembali.
"Maafin mas ya" katanya lalu menarikku kedalam pelukannya.
Aku hanya diam saja, kenapa dia malah minta maaf. Kalau pun lebih tidak apa-apa kan. Toh kita juga udah sebagai pasangan suami istri.
"Ke kamar mandi bentar" katanya.
Aku hanya mengaguk lalu ia pun pergi, aku memegang bekas gigitan pak devan tadi, lalu kulihat juga disekitar dada ku.
"Banyak banget" kata ku dalam hati saat melihat begitu banyak kissmark yang ia berikan.
Untungnya mungkin bisa di tutup sama seragam besok pagi.
Aku membenamkan wajah ku ke bantal karena malu mengingat kejadian tadi.
✨✨✨✨✨
REYHAN PO'V......
"Bang dia siapa"
Bang Devan, ia sepupu jauh ku. Aku yang saat itu masih berumur sepuluh tahun dibawa olehnya ke Yogyakarta untuk pertama kalinya, saat itu aku harus tinggal disana karena dinas ayah ku, dan kebetulan disana keluarga besar kami tinggal.
"Hah dia, bukan siapa-siapa cuma anak kecil yang ngasih pulpen Abang yang jatuh"
Aku tak menggubris perkataan nya, aku hanya menatap gadis kecil itu dari jauh.
Keesokan harinya......
"Eh eh udah tau ga, dikelas sebelah ada anak baru. Cantik dan imut"
Aku melirik para siswa yang sedang berbisik-bisik didepan pintu. Aku mendengar sekilas perkataan mereka, yaa namanya juga anak-anak tentu aku juga penasaran.
Aku mengikuti mereka untuk melihat anak baru di kelas sebelah, aku menyipitkan mataku saat melihat gadis yang tak asing bagi ku itu.
"Loh dia kan yang kemarin" kata ku dalam hati.
Dia memang cantik dan imut, ia juga mempunyai senyum yang manis.
Bel istirahat berbunyi,,,,,aku keluar kelas dan menuju kantin. Namanya juga waktu SD dan seorang siswa tentu saja jam istirahat pertama akan penuh di kantin. Begitu juga yang kurasakan, tapi untungnya aku bisa lolos dari desakan itu.
Aku membawa beberapa bungkus roti, dan minuman gelas, aku memang tidak minta kantong plastik karena sudah terdesak diantar siswa itu.
__ADS_1
Brukk
Minuman ku jatuh saat dua orang anak sekolah ku berlari di koridor sekolah. Tentu saja minuman ku itu pecah dan roti ku terjatuh.
"Eh....aduh kamu kenapa"
Suara yang asing itu mendekat, sebuah tangan kecil membantu ku untuk memungut minuman dan roti ku yang berjatuhan.
"Ah ini, kamu tidak apa-apa kan"
Aku berdiri lalu menerima roti yang ia kumpulkan, "iya terima kasih"
Saat itu juga jantungku berdebar kencang, aku memang tidak tau artinya saat itu. Hingga saat aku menyadarinya, ia sudah pindah sekolah, aku tidak tau pindah kemana dan tidak tau juga alamat rumahnya.
5 tahun kemudian, aku pun mendengar namanya dari seseorang, ya yaitu dari Abang sepupuku.
"Abang akan menikah, bilang pada mama dan papa Abang akan nikah" kata bang Devan dari seberang sana.
"Oh ya, siapa nama kakak itu" tanya ku.
"Syakila, namnya syakila shabrihan. Dia seumuran kamu, kapan-kapan mainlah kesini. Abang tutup telfonnya, waktu......."
Tut.....
Sambungan ku putus sepihak saat namanya kembali terdengar.
malam harinya aku kembali menelpon Abang sepupuku itu, aku memintanya untuk mengirim foto syakila. Ternyata benar saja, orang yang sama. Walau pun sudah lima tahun berlalu tapi dia tetap tidak berubah, dia tetap manis dan cantik.
Beberapa Minggu kemudian, papa ku akan pergi dinas Keluar kota lagi. Papa mau mengajak ku karena jika aku tetap tinggal di Jakarta sampai mereka pulang, mama dan papa aku akan khawatir.
Aku berpikir sejenak dan menawarkan "bagaimana kalau aku di Yogyakarta aja pa"
Papa dan diam sejenak lalu memandang satu sama lain, dan akhirnya mengaguk. Awalnya aku memang tidak punya maksud lain untuk datang ke Yogya, tapi setelah kuingat lagi kalau istri Abang sepupuku itu adalah syakila......tersirat sebuah maksud besar, ya aku ingin merebutnya. Dan menjadikan milikku satu-satunya.
.................
"Devan....." Aku dan pak devan menoleh kebelakang, saat terdengar suara seorang wanita memanggil suami ku.
Wanita itu berlari kearah pak devan dan lansung memeluknya.
"Devan....gak nyangka ya kita ketemu disini" wanita itu melepaskan pelukannya dan memandangi wajah pak devan.
Aku hanya mengernyit heran melihatnya, memang ada rasa kesal di hati ku. Tapi aku jauh lebih penasaran siapa dia.
"Maaf pak, ini teman bapak" kata ku, sukses membuat dua orang itu melihat ke arah ku.
Wanita itu tersenyum lalu menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan ku "aku Siska, teman kuliah nya Devan. Dulu kami dekat bahkan kami dibilang pacaran" katanya.
Deg
Jantungku terasah sesak saat mendengar kata pacaran dari mulut wanita itu. Aku membalas kabat tangannya dan tersenyum "saya syakila anak muridnya" kata ku perlahan.
Wanita itu lalu kembali fokus pada pak Devan, jantungku makin sesak saat melihat wanita itu memegang wajah pak devan dan merapikan dasinya, walaupun pak Devan menolak. Tapi melihat mereka berdua rasanya aku sangat marah.
Dengan menahan emosi, aku pun akhirnya permisi. Aku segera berbalik badan dan melangkah meninggalkan mereka berdua. Aku tak tau gimana reaksi pak devan tapi yang pasti kini aku sedang marah.
Aku berlari ke pohon besar belakang sekolah, mencoba menetralisir kemarahan ku akhirnya aku pun menghidupkan musik dengan volume yang besar.
Aku baringkan tubuh ku dibawah pohon besar itu, sambil merentangkan kedua tangan ku. Ku pandangi pohon itu dari bawah "indahnya"
Aku menutup mata ku, mencoba untuk menyatu dengan suasana sekitarnya. Baru saja aku menutup mata, kurasakan sebuah tangan kekar mengusap perut ku, aku terbangun dan betapa terkejutnya saat seseorang lansung mencium bibirku.
Aku membulatkan mata ku, dan mencoba untuk melawan. Tangan pria itu menarik tengkuk ku dan mendalam kan ciumannya. Sedangkan tangannya yang satu lagi mencoba untuk membuka kancing baju ku.
Beberapa saat kemudian ia melepaskan ciumannya, aku mengatur nafasku begitu juga Dengan nya. Lalu ia mendongak kepalanya dan menatapku.
"Mas....." Aku memukul dada bidang pria itu. Ya kalian tau lah kan siapa itu.
"Aku minta maaf" katanya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Aku salah....aku minta maaf" katanya sekali lagi.
Aku hanya diam saja, lalu menakup wajahnya yang tampan. "Lain kali jangan gitu lagi, aku kaget" kata ku.
"Apa" ia menaik kan satu alisnya.
"Jangan cium tiba-tiba gitu, aku kaget" kata ku.
Ia tersenyum lalu mendekat tubuhnya ke tubuhku. Ia lalu mengakat ku untuk duduk di pangkuan nya.
"Kalau gini boleh".....
__ADS_1
............
ya Jangan lupa like komen dan klik ❤️ nya ya.