
...❤️Happy reading ❤️...
"Rumah bapak dimana pak"
Pak Devan menoleh kearah ku dengan sorot mata tajam nya.
"Kenapa kamu tanya-tanya" katanya.
"Ah gak saya cuma nanya aja kok" kata ku.
"Kamu gak perlu tau" ia kembali fokus kelaporan nya.
Aku mendengus kecil, lalu aku hanya diam. Beberapa saat kemudian pak Devan mengembalikan laporan nya.
"Bagus, kamu ternyata ahli dalam hal ini" katanya memuji.
Aku senang karena dipuji, tapi aku mencoba menetralisir nya biar tak terlalu terlihat didepan pak devan.
"Kalau begitu saya boleh permisi pak" kata ku.
"Hmm oh iya silahkan" katanya.
Aku melihat jam di handphone ku, hari sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan sekolah juga sudah sepi. Aku masih menunggu didepan gerbang sekolah, tapi jalanan juga sudah mulai sepi, tak ada lagi angkutan umum yang lewat.
Tin tin
Aku terkejut saat seseorang mengelakson ku, aku melihat kearah suara. Ternyata itu pak Devan, ia melambaikan tangannya, menyuruh ku untuk ketempat nya berdiri saat ini.
Aku berlari kearah nya, tapi....tunggu dulu. Mobil ini kayaknya aku kenal deh, Tapi aku cuek aja dulu.
"Iya pak"
"Kamu belum dijemput" katanya.
"Iya"
"Hmm, naiklah. Saya akan antar kamu pulang" katanya Tampa basa-basi.
"Serius pak" kata ku senang.
"Ternyata pak Devan tak sekejam itu" kata ku dalam hati.
"Iya ayo naik, sebelum saya berubah pikiran"
"Haa oke aku tarik perkataan ku, kalau pak Devan tak kejam" batin ku.
Aku mengangguk lalu masuk kedalam mobilnya, setelah beberapa saat aku masuk mobil itu masih belum Jalan juga.
"Pak saya sudah naik" kata ku.
"Pakai sabuk pengaman mu" kata pak Devan.
"Oh iya aku lupa, tapi aku tidak tau cara pakainya, selama ini selalu abangku yang memakai kannya" aku panik sendiri didalam hati.
"Ah itu...pak,,,,anu saya gak tau cara pakainya" kata ku ragu.
Pak Devan melihat ku, lalu mendengus kecil. Ia menarik tali sabuk mobil itu dari samping tubuhku, otomatis wajahnya akan berada tepat didepan wajahku.
Deg deg deg
Oh tidak.....jantung ku berdetak kencang lagi. Aku harap suaranya tak terdengar oleh pak Devan.
Aku menutup mataku, lalu beberapa saat kurasakan tidak ada lagi pergerakan. Aku membuka mata ku perlahan,,,,
DEG
Oh tidak, kini wajah pak Devan benar-benar berada didepan ku. Ia menatapku dengan pandangan sendu, oh tuhan sangat dekat, hingga deru nafas pak Devan bisa kurasakan. Aku kembali menutup mata ku....
Cup
Aku lansung melotot, saat bibirku dicium oleh pak Devan. Aku terdiam sesaat karena terkejut, aku tidak melawan karena aku sedang syok. Tapi tak beberapa lama kurasakan bibirku dilumat oleh pak Devan.
Aku segera mendorong tubuh pak Devan kerena takut, kalau ciuman itu terlalu dalam.
Duukk
"Aawww" pak Devan meringis saat kepalanya terbentur dengan langit-langit mobil.
"Kamu apaan sih, gak sopan banget sama guru sendiri" katanya.
Aku tak menjawab, kini wajah ku benar-benar panas. Aku hanya melihat keluar jendela agar mata ku tak melihat pak Devan.
"Haaa, ya udah deh"
Pak Devan melajukan mobilnya, menembus jalanan sore.
................
Aku termenung didepan tv, sambil memakan camilan. Kebetulan aku sedang menonton drama romantis Korea. Dan pas adegan romantisnya, aku lansung teringat kejadian tadi sore.
Wajahku lansung terasa panas, jantungku berdebar saat mengingat masa itu kembali.
"Aaawwww" kata ku, aku memegang dadaku dan tersenyum. Seakan-akan ada seseorang yang sedang menembakkan panah cinta tepat didadaku.
"Haha hmmm" aku tertawa dan tersenyum sendiri.
Saat sedang senang hanyut dalam halu ku, tiba-tiba Abang ku mengagetkan ku dari belakang.
"Huwaaaa"
"Kyaaaaa" aku berteriak sekeras-kerasnya.
Abang ku lansung menutup mulut ku, karena sepertinya teriakan ku sangat keras.
Haha betul sekali, saat sedang terkejut aku bisa teriak sekeras-kerasnya. Sampai-sampai aku bisa memecahkan kaca rumah ku hanya karena teriakkan ku.
"Kamu tuh ya, bisa kecilin gak sih volume nya" kata Abang ku.
__ADS_1
"Hmm mmpphh"
"Bicara apaan sih"
Aku menarik tangan Abang ku dari mulut ku, "kebiasaan gua, emangnya Napa"
"Kamu ya, gak sopan sama abang sendiri"
"Biarin, mbeee" aku menjulurkan lidah ku padanya, lalu berlari kekamar ku.
Aku menutup pintu kamarku, lalu berbaring diatas kasur kesayangan ku.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Devan memakirkan mobilnya di garasi rumahnya, hari ini ia merasa sangat lelah. Ia masuk kedalam rumahnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Haaa hari yang melelahkan" ucap nya.
Beberapa saat kemudian ia pung bangkit dari duduknya, ia menuju ke kamarnya lalu kembali mendarat kan tubuhnya di pinggir kasurnya.
Ia mengambil sebuah foto yang ada di atas nakas. Sesekali ia mengusap foto itu dengan lembut.
Tak terasa air mata mulai mengalir di pipinya "bunda....", Ia menangis dalam keheningan.
Beberapa menit kemudian ia meletakkan foto itu kembali, lalu bangkit dari duduknya. Ia pun melangkah ke kamar mandi.
Taka butuh waktu lama ia pun keluar dengan handuk yang melilit di pinggang nya, lalu ia becermin sambil mengeringkan rambutnya.
Cup....
"Hah" tiba-tiba saja Devan teringat kejadian tadi sore saat bersama syakila.
Ia menatap dirinya di cermin, lalu memegang bibir nya "apa....benar tadi sore bibir ini mencium nya"
Devan masih memegang bibir nya, lalu menggeleng-geleng kan kepalanya seakan tidak mau mengingatnya.
Sesudah ia mengeringkan rambutnya ia pun memakai piyama nya, lalu menaiki kasur nya. Ia pun membaringkan tubuhnya, dan mencoba untuk tidur.
Tapi baru beberapa saat ia menutup matanya, ia pun kembali membuka matanya. Wajah syakila terbayang-bayang di kepalanya saat ini. Seketika wajahnya berubah kesal dan sedikit memerah.
"Syakila shabrihan" gumam nya.
.................
Pagi ini akan ada rapat OSIS, aku menyuruh abangku untuk mengantar ku. Haha untungnya abangku tidak menolak.
Sesampainya di sekolah aku segera ke ruang OSIS karena anggota lain sudah menunggu.
Setelah aku sampai kami lansung berdiskusi tentang perayaan 17 Agustus.
Kami berencana untuk membuat banyak lomba, dan juga ada pentas seni nya. Tapi karena itu membutuhkan biaya yang banyak. Jadi kami berinisiatif untuk buat perayaan dan lomba yang meriah tapi murah.
Lalu setelah itu semua selesai kami pun di suruh kembali ke kelas masing-masing.
"Hmm syakila, soal biaya nanti tolong diskusi dulu dengan pak Devan ya" kata kak Leon selaku ketua OSIS.
Kak Leon, adalah ketua OSIS. Ia kelas 11 IPS 2. Dia anak yang baik dan ramah, ia juga populer disekolah. Tak sedikit siswi perempuan yang mengidolakan dia. Termaksud aku.
"Haaa kak Leon, udah baik, ganteng, lembut lagi. Gak kayak pak Devan tuh" kata ku dalam hati.
Aku melangkah keluar dari ruangan OSIS
Buk
"Aww sakit ta..u..." Aku terkejut saat melihat pak Devan berada di depan ku.
Wajahnya sangat mengerikan sekarang, lebih mengerikan dari pada yang biasa aku lihat.
"Pagi pak...." Kata ku.
Ia tak menjawab, ia hanya menatap ku dengan tatapan membunuh. Lalu ia melangkah kakinya kedepan, tentu saja aku terkejut dan lansung mundur.
Kami masuk kembali ke ruangan OSIS yang udah sepi itu, lalu ia menutup pintunya dengan keras. Hingga membuat aku terkejut setengah mati.
"Kamu syakila shabrihan...." Katanya.
Suaranya terdengar begitu menyeramkan, aku terlalu takut untuk melihatnya kali ini. Aku memutuskan untuk menundukkan kepalaku. Aku terus mundur dan pak Devan terus maju. Sampai akhirnya aku menabrak sofa dan terjatuh hingga aku berbaring di atasnya, aku menutup mataku.
Aku benar-benar takut, apa kah pak Devan akan melakukan sesuatu.
"Kamu tau, gara-gara kamu saya tidak bisa tidur semalaman" bisiknya tepat di telinga ku.
Lalu ia menakup wajahku, hingga mata kami saling bertemu. "Kenapa kamu semalaman harus ada di kepala saya hah" katanya membentak.
Aku takut sekali, aku benar-benar takut. Aku hanya diam dan perlahan air mata ku mengalir keluar.
"Ma...maaf pak"kata ku. Hanya itu yang bisa ku ucapkan sekarang.
Pak devan hanya diam, lalu wajahnya berubah sendu. Aku masih menangis, lalu ia mengusap air mata ku. Seakan-akan tak sanggup melihat ku menangis.
"Jangan menangis" katanya.
Ku tatap matanya, hingga pandangan kami saling bertemu. Lalu ia mendekat kan bibir nya dan mencium bibirku sekilas.
Aku yang tadinya takut berangsur-angsur tenang, entah mengapa ciuman pak Devan terasa hangat dan menenangkan saat itu.
Entah sadar atau tidak aku pun, membalas ciumannya. Aku mengalungkan tangan ku dileher nya.
Beberapa menit kemudian pak Devan melepaskan ciumannya, ia menatap ku. Lalu mengusap air mata ku dan bibir ku.
"Mungkin malam ini saya juga tidak akan tidur nyenyak"
Brukk
Pak Devan pingsang diatas tubuhku.
"Aduh pak bangun, ih berat pak" aku mencoba untuk mengakat tubuh pak Devan.
__ADS_1
Badannya lebih tinggi dari ku, dan tentu saja lebih berat. Sekuat tenaga aku membantunya untuk berbaring diatas sofa. Setelah aku baringkan, aku pergi kekantor guru untuk melapor kalau pak Devan pingsan.
"Buk, pa Devan pingsan di ruang OSIS" kata ku pada wali kelas ku buk cinta.
"Hah, kok bisa?? Sekarang pak Devan nya masih disana" tanya buk cinta.
"Iya buk"
"Ya udah, sekarang kamu kekelas. Pak Devannya biar ibuk dan guru lain yang urus" kata buk cinta.
Aku mengangguk lalu aku berjalan keluar dari kantor guru. Aku berlari kearah toilet, aku tidak lansung masuk kekelas.
Aku memutuskan untuk membasuh wajahku terlebih dahulu, dan menghapus jejak dari ciuman ku dan pak Devan.
...............
Ke esokan harinya aku hanya rebahan di kasurku. Hari ini hari Minggu, aku hanya malas-malasan di rumah.
Ibu dan ayah ku sedang keluar kota untuk pekerjaan nya, dan abangku!! Dia ke kampus. Haaa padahal hari ini dia tidak ada jadwal, apa salahnya kalau dia bawa aku keluar kek.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, aku sudah merasa bosan. Aku memainkan handphone ku, aku hanya menonton drama dan membaca novel.
Lima belas menit kemudian aku benar-benar bosan, aku bangkit dari kasurku lalu memutuskan untuk mandi. Setelah mandi aku merapikan kamar ku dulu, dan kebetulan sudah mau siang aku pun pergi keluar untuk cari makan siang. Haha untungnya uang jajan pemberian ibu dan ayah ku belum habis.
Aku berjalan mencari jajanan pinggir jalan, aku menyusuri setiap jalan menggunakan sepeda ku. Setengah jam kemudian akhirnya aku mendapat kan beberapa jajanan, aku pun berhenti di salah satu taman.
Aku memakan jajanan yang aku beli, sambil menikmati indahnya taman kota. Sesekali aku juga melihat beberapa pasangan yang begitu mesra, sampai pandanganku tertuju pada sepasang kekasih yang sedang memakan es krim.
"Hooo pantas aja, rupanya dia pergi pacaran"
Aku berdecak sebal, ternyata itu kenapa abangku pergi dengan alasan kekampus. Rupanya dia pergi pacaran, haaa yang benar saja, aku memakan jajanan dengan sedikit kesal. Sampai aku tersedak.
"Uhuk uhuk"
Tiba-tiba sebuah tangan kekar memberikan aku minuman botol, tentu saja aku lansung mengambil nya. Aku lansung meminumnya. Setelah lega aku pun baru sadar "tangan siapa tadi" tanya ku dalam hati.
Aku mendongak kepalaku keatas, aku terkejut saat melihat pak Devan menatapku.
Aku lansung berdiri dan mencoba untuk kabur, tapi segera pak Devan menahan tanganku.
"Pak lepaskan saya" kata ku.
Wajahnya tampak bingung, tapi walau pun begitu tetap saja wajah seramnya lebih menakutkan sekarang.
"Hey,,,tenanglah. Aku tidak akaan melakukan hal yang aneh-aneh"
Aku tertegun di tempat ku, lalu pak Devan melepaskan genggamannya. Lalu ia duduk dibangku taman yang ku dudukki tadi.
Ia melihat ku yang masih berdiri lalu menepuk-nepuk bagian bangku taman yang kosong.
"Duduklah" katanya.
Aku menelan saliva ku dengan sudah payah, lalu duduk disamping nya. Beberapa detik kami saling diam dan tidak saling bicara.
"A-apa rumah bapak disekitar sini" tanya ku untuk memulai pembicaraan.
"Hmm, oh iya. Rumah saya dekat sini" katanya.
Lalu kami diam lagi, beberapa saat kemudian ia berdiri "mau berkunjung ke rumah saya?"
Deg
Ouh sumpah, aku mau. Aku juga penasaran bagaimana orang dingin dan galak ini hidup.
Aku mengaguk, lalu aku mengambil sepeda ku dan mengikuti nya dari belakang. Tidak sampai lima belas menit perjalanan, kami pun tiba.
Btw pak Devan pake sepeda juga ya🤭, aku berdiri di depan rumahnya. Rumah yang bagus, indah dan besar. Rumah berwarna putih itu tampak sangat bersih. Di halaman nya juga di tumbuhi beberapa tanaman hias, dan ditengah-tengah taman itu juga tersedia air pancur kecil.
"Rumah bapak bagus banget" kata ku.
Pak Devan hanya tersenyum miring, lalu mengajak ku masuk. Saat masuk kurasakan rumah itu terasa sangat adem. Disetiap sudut rumahnya hampir dipenuhi dengan bunga melati dan tanaman hias.
Dan ada satu hal yang membuat ku menarik, ya itu di pajangan dindingnya yang juga lukisan bunga melati.
"Bapak suka Bunga ya" kata ku.
Pak Devan hanya diam, lalu ia menyuruh ku untuk duduk. Ia pun pergi meninggalkan ku sendiri. Selang beberapa lama ia kembali dengan dua gelas jus jeruk dan beberapa cemilan kecil.
"Bunda saya dulu suka bunga" kata pak Devan sambil duduk di depan ku.
"Oohh......terus bunda pak Devan dimana?" Tanya ku.
Tiba-tiba wajah pak Devan berubah, wajahnya terlihat sendu. Matanya terlihat sangat sedih. Aku yang melihatnya merasa bersalah.
"Ah maaf pak, kalau saya menyinggung perasaan bapak" kata ku.
Pak Devan lalu menatapku, ia tersenyum.
"Hmm gak apa-apa, kalau kamu penasaran. Bunda saya sudah meninggal setahun yang lalu, dan ayah saya?? Dia pergi entah kenapa" kata kak Devan.
Nadanya bicara nya terlihat sangat sedih.
.
.
.
.
.
JANGAN LIKE KOMEN DAN TEKAN ❤️ NYA YA.
MAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.
SYUKRON 🙂🐭
__ADS_1