Wanita Pilihan Daddy'S (Suami Biadab 2)

Wanita Pilihan Daddy'S (Suami Biadab 2)
Pesan Bijak Uncle Sean


__ADS_3

Albert yang juga kesal tidak mengejar Elizabeth, dia membiarkan calon istrinya pulang sendiri.


Hal ini tentu tidak disia-siakan oleh Hans, sesampainya di apartemen dia datang ke unit apartemen milik Elizabeth.


Hans mencoba menenangkan Elizabeth, dirinya berusaha menjadi tempat bersandar saat Elizabeth sedih.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mungkin calon suami kamu hanya kesal saja," bujuk Hans.


"Tapi tidak begitu caranya, seharusnya dia mengajak aku terlebih dahulu ke dalam ruangan bukannya langsung memarahiku di tempat, dilihat banyak orang siapa sih yang nggak malu," sahut Elizabeth.


"Iya sih aku juga menyayangkan sikapnya yang seperti itu, seharusnya dia menghargai kamu," timpal Hans.


Untuk mencairkan suasana hati Elizabeth yang buruk, Hans mengajak Elizabeth ke sebuah tebing yang letaknya cukup jauh dari apartemen Elizabeth.


"Tapi bagaimana kalau Albert pulang?" tanya Elizabeth.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri, kapan lagi bisa keluar dengan teman seperti ini."


Hans terus saja membujuk Elizabeth sehingga mau nggak mau Elizabeth tidak memiliki opsi untuk menolak.


"Baiklah," ucap Elizabeth.


untuk mencapai tebing tersebut mereka memerlukan waktu sekitar dua jam.


Setelah melihat keindahan tebing, suasana hati yang tidak baik seperti marah kesal kecewa lenyap sudah tak berbekas.


Elizabeth keluar dari mobil lalu berdiri dan berteriak sekeras kerasnya.


"Kamu bersemangat sekali Elizabeth," kata Albert.


"Iya, Aku ingin menumpahkan risalah hatiku disini," sahut Elizabeth.


Hans dan Elizabeth nampak menikmati keindahan tebing bersama, humble yang Hans miliki benar-benar membuat Elizabeth merasa betah.


Hingga matahari akan terbenam mereka masih betah duduk bersama di ujung tebing.


Keindahan sunset dari atas tebing membuat mereka ingin menikmati sejenak keinginan alam yang sangat memukau tersebut.


"Ayo kita pulang, aku tidak ingin kamu ada masalah lagi dengan calon suami kamu," ajak Hans.


"Dia begitu menyebalkan," sahut Elizabeth.


Meskipun Albert sangat menyebalkan tapi Elizabeth harus tetap pulang, tidak mungkin mereka menginap di tebing itu sampai pagi.


Sepanjang perjalanan pulang, Hans membuat candaan untuk Elizabeth. Hans yang sejatinya seorang Casanova tentu pandai sekali merayu apalagi bercanda membuat lelucon.


Tak terasa mobil sudah tiba di basement apartemen, mau nggak mau mereka harus mengakhiri obrolan mereka yang asik.


"Terima kasih untuk hari ini Hans," kata keluar dari mobil Hans.


Hans tersenyum melihat Elizabeth yang berjalan menjauh, entah mengapa dirinya tidak rela melihat Elizabeth pergi.


Setelah Elizabeth tidak terlihat lagi, Hans keluar dari mobil dan menuju unit apartemennya.


Saat dirinya masuk, di dalam ternyata ada Daddy nya yang duduk menunggu dirinya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Daddy Hans.

__ADS_1


"Dari luar Dad," jawab Hans.


Dariel memberikan info terkait kekasih Daniel, dia telah menemukan dimana kekasih kakaknya tinggal yang tak lain adalah apartemen sewaan Elizabeth dulu.


"Lalu bagaimana? apa Daddy bertemu dengan kekasih paman?" tanya Hans.


"Kekasih Paman kamu telah meninggal sedangkan anaknya telah pergi dari apartemen tersebut," jawab Dariel.


"Lalu sekarang dia tinggal di mana?" tanya Hans.


"itulah permasalahannya, tidak ada yang tahu dimana dia tinggal sekarang," jawab Dariel.


"Oh ****," umpat Hans.


"Andaikan kita bisa bertemu dengannya," kata Dariel.


*******


Di balkon apartemennya, Elizabeth memandangi foto Albert, meski tadi dia sangat kesal dengan Albert tapi malam ini dia sangat merindukan calon suaminya.


Elizabeth mencoba menghubungi Albert berkali-kali tapi tidak satupun dari panggilannya yang dijawab oleh Albert.


"Maafkan aku," kata Elizabeth sambil menitikkan air mata.


Hingga larut Elizabeth tetap berdiri di balkon apartemen, dia berharap Albert datang ke apartemen malam ini namun kelihatannya harapannya sia-sia.


"Ya sudahlah,"


Elizabeth nampak pasrah jika Albert masih marah dan tidak datang ke apartemen malam ini.


Di sisi lain, aku juga berdiri di balkon rumahnya dia juga merindukan calon istrinya tapi sakit Hati yang dia rasakan membuatnya enggan untuk menerima panggilan dan menemui Elizabeth.


"Ada masalah apa?" tanya Uncle Sean.


"Tidak ada Dad," jawab Albert.


"Tidak mungkin kalau tidak ada masalah," sahut Uncle Sean.


Albert tersenyum sambil mengeruk kepalanya yang tidak gatal karena dirinya ketahuan berbohong.


"Iya uncle, sebenarnya ada masalah sedikit dengan Elizabeth," ungkap Albert.


Uncle Sean tersenyum lalu menepuk punggung Albert, dalam suatu hubungan wajar jika ada pertengkaran.


"Bertengkar, ngambek, saling cuek, saling rindu adalah hal yang wajar dalam suatu hubungan," jelas uncle Sean.


"Iya uncle, Albert hanya tidak suka dia dekat dengan cowok lain," kata Albert.


"Jadi ceritanya kamu ini sendiri cemburu?" goda Uncle Sean.


Albert tertawa karena terciduk cemburu lalu dia menceritakan semua apa yang terjadi tadi siang.


Uncle Sean nampak manggut-manggut dengan cerita anaknya.


"Kamu wajar kalau cemburu, uncle juga akan cemburu kalau melihat Mommy Rara dekat dengan pria lain tapi kesalahan kamu adalah memarahi Elizabeth di depan umum,"


Albert menatap Uncle Sean dengan tatapan tak biasa. Menurutnya itu adalah short terapi untuk Elizabeth agar tidak mengulangi perbuatannya kembali.

__ADS_1


Uncle Sean tersenyum lalu dia merangkul anaknya, beliau menjelaskan kalau tidak begitu memberi short terapi karena Apa yang dilakukan Albert justru membuat Elizabeth malu dan sakit hati.


"Lebih baik mana, memarahi Elizabeth di depan umum atau memarahinya setelah kamu membawanya ke ruangan kamu,"


Ucapan Uncle Sean membuat Albert berpikir, sedikit demi sedikit dia paham kalau dirinya juga bersalah.


"Renungkan itu, jika sudah besok temui Elizabeth dan minta maaf," ucap Uncle Sean lalu pergi meninggalkan Albert.


Hampir tiga puluh menit, Albert memikirkan hal itu pantas setelah dia memarahi Elizabeth di depan umum Elizabeth langsung pergi meninggalkannya begitu saja.


"Astaga,"


Albert mengusap rambutnya dengan kasar, dia baru sadar kini kalau apa yang telah dilakukannya membuat calon istrinya sakit hati.


Kembali lagi wanita adalah makhluk yang lemah, mereka yang sejatinya terbuat dari tulang rusuk laki-laki memiliki bentuk agak bengkok, jika terlalu ditekan dia akan patah dan jika terus dibiarkan dia akan bengkok.


Keesokan harinya, Albert pergi ke apartemen Elizabeth sebelum pergi ke kantor, tapi saat dia masuk ke dalam apartemen Elizabeth dia tidak menemukan calon istrinya.


Tangannya seketika mengepal, rasa cemburu yang sudah padam kini berkobar kembali.


"Apa kamu pergi dengan Hans?" gumam Albert.


Saat bersamaan Paman David menghubungi Albert, awalnya panggilan Paman David diabaikan tapi Paman David terus menghubunginya.


"Ada apa sih paman,"


Albert yang kesal berbicara dengan nada agak tinggi dengan pamannya.


Meski dalam sambungan telpon tapi paman David tahu kalau Albert kini dalam keadaan marah.


"Jangan marah-marah dulu, Paman menghubungi hanya ingin bilang kalau ada Elizabeth di sini," kata Paman David lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Albert tersenyum dengan malu, rasanya ingin sekali menertawakan dirinya sendiri yang gampang sekali memutuskan sesuatu.


Dengan langkah cepat Albert keluar apartemen dan pergi pulang, dirinya sudah tidak sabar untuk menemui Elizabeth.


Keliatannya Tuhan menguji Albert, mungkin Tuhan juga kesal dengan Albert yang selalu berpikiran negatif terhadap calon istrinya.


"****, apa-apaan ini," maki Albert.


Di depan sana, ada sebuah kecelakaan yang membuat jalanan macet total, mobil Albert terjebak di tengah, maju nggak bisa mundur nggak bisa.


"Arrrrgggg, brengsek,"


Albert terus mengumpat sambil memukul-mukul setir mobilnya, dirinya sangat kesal sekali.


Tak ingin Elizabeth pulang dari rumahnya, Albert mengambil ponselnya lalu menghubungi Elizabeth.


"Sayang jangan pulang dulu, aku masih terjebak macet," kata Albert.


"Iya tenang saja, Aku akan menunggu kamu sampai kamu pulang," sahut Elizabeth.


Albert kini nampak lega karena Elizabeth akan menunggunya sampai dia pulang, dia benar-benar malu kepada Elizabeth.


Kemacetan terurai setelah satu jam kemudian, Albert yang sudah tidak sabar melajukan mobilnya cukup kencang, dia seorang pembalap yang bermain di sirkuit yang terus mendahului mobil yang ada di depannya.


Tak memerlukan waktu lama untuk tiba di rumahnya, sesampainya di rumah aku langsung pergi ke kamarnya untuk menemui Elizabeth.

__ADS_1


"Sayang,"


__ADS_2