
Di sebuah kamar yang mewah dan besar Elizabeth terus saja menggedor pintu, dia berteriak meminta agar dilepaskan tapi tidak ada satupun orang yang membukakan pintu.
"Lepaskan aku!" teriak Elizabeth.
Lelah berteriak Elizabeth memutuskan untuk minum, di dalam kamarnya ada lemari es empat pintu yang full dengan makanan serta minuman.
Si penculik Elizabeth benar-benar tidak ingin Elizabeth kekurangan apapun, semua telah disediakan disana.
"Sebenarnya siapa yang menculik aku?" Elizabeth bermonolog dengan dirinya sendiri.
Seingatnya setelah mencicipi masakan Hans di taman apartemen, dirinya memutuskan untuk kembali ke unit apartemennya. Saat membuka pintu semua menjadi gelap dan setelah bangun dia sudah berada di sebuah kamar mewahnya saat ini.
Beberapa waktu kemudian, pintu kamar Elizabeth terbuka seseorang yang Elizabeth kenal berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
"Bagaimana kabarmu hari ini Elizabeth?" tanya Hans.
Elizabeth melongo menatap Hans, pria yang cukup dekat dengannya lah yang telah menculiknya.
"Maafkan aku Elizabeth baru bisa mengunjungi kamu, dari kemarin aku sangat sibuk membantu Albert mencari kamu," kata Hans dengan tertawa.
Dari mata Elizabeth tersirat kebencian untuk Hans, dirinya sungguh tak menyangka kalau Hans selicik itu, dia yang menculik tapi dia masih bisa pura-pura untuk ikut mencari.
"Aku sungguh tak menyangka kalau kamu licik sekali Hans, bisa-bisanya kamu ikut mencari aku padahal kamu sendirilah yang telah menculik aku," kata Elizabeth.
Hans tertawa mendengar ucapan Elizabeth, itu adalah pengalihan dan juga trik jitu agar terbebas dari kecurigaan.
"Dengan begitu Albert tidak akan mencurigai aku," sahut Hans.
Elizabeth yang kesel mendorong tubuh Hans lalu dirinya berlari keluar kamar, dia ingin kabur dari Hans tapi saat ingin membuka pintu depan Hans sudah menangkap tubuhnya.
"Mau kabur?" tanya Hans.
"Sebenarnya apa mau kamu Hans?" tanya Elizabeth balik.
"Aku hanya ingin bersama kamu," jawab Elizabeth.
"Kamu gila, aku ini memiliki calon suami dan sebentar lagi kami akan segera menikah," sambung Elizabeth.
"Justru itu aku berusaha memisahkan kalian," timpal Hans.
Elizabeth meronta dia juga meminta agar Hans mau melepasnya namun semua itu sia-sia karena Hans yang sudah cinta mati dengannya tentu tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Aku mohon Hans, lepaskan aku. Di dunia ini masih banyak wanita kenapa kamu harus membuang tenaga kamu untuk mencintai aku yang tidak mencintai kamu," kata Elizabeth.
__ADS_1
Lagi-lagi Hans tertawa mendengar ucapan Elizabeth, cintanya sudah cukup untuk mereka berdua, meski Elizabeth tidak cinta jika mereka selalu bersama dia yakin cinta akan muncul dengan sendirinya.
"Jika kita selalu bersama aku yakin kamu akan bisa mencintaiku," sahut Hans.
"Asal kamu tau Hans, tingkat tertinggi dari mencintai adalah merelakan orang yang dicintai bahagia meski tidak dengannya" timpal Elizabeth.
"Bodoh, tertinggi mencintai adalah melakukan apapun agar bisa bersama orang yang dicintainya, seperti diriku yang berani menculik kamu agar bisa bersama," tukas Hans.
Merasa kesal dengan ucapan Hans, Elizabeth berusaha kabur kembali tapi dengan cepat Hans menangkap tubuh Elizabeth dan menggendongnya di atas pundak.
"Lepaskan aku Hans," teriak Elizabeth.
Elizabeth yang kesal memukul-mukul punggung Hans bahkan dia juga menggigit punggung Hans dengan kuat sehingga Hans memekik kesakitan.
Bug
Hans yang kesakitan melempar tubuh Elizabeth ke atas tempat tidur.
"Lepaskan aku! aku ingin pulang!" teriak Elizabeth.
"Jangan membuat kesabaran aku hilang Elizabeth," maki Hans.
Elizabeth terus berteriak sehingga membuat Hans benar-benar hilang kesabaran.
Elizabeth yang takut jika Hans melakukan sesuatu padanya memilih diam lalu menangis.
Tangisannya membuat Hans tak tega, dengan tatapan nanar dia menatap Elizabeth.
"Diam lah aku akan keluar, maafkan sikap kasar aku tadi," ucap Hans.
Bukannya diam Elizabeth malah menangis semakin kencang, dirinya terus memohon kepada Hans agar dilepaskan.
"Tidak," sahut Hans.
Tak ingin banyak drama dan debat yang bisa membuatnya marah, Hans memilih keluar tak lupa dia mengunci pintu kamar agar Elizabeth tidak bisa keluar.
"Brengsek kamu Hans, aku membencimu," teriak Elizabeth.
Di sisi lain Albert terus mencari keberadaan Elizabeth yang tak kunjung ditemukan, para Daddy juga tak berhenti mencari calon mantu mereka.
Semua maskapai penerbangan miliknya dilarang beroperasi bahkan beberapa bandara miliknya ditutup, mereka takut kalau Elizabeth dibawa keluar negeri atau luar kota.
Semua pihak berwajib seluruh negeri juga diminta untuk mencari keberadaan Elizabeth di setiap wilayah mereka masing-masing, tak tanggung-tanggung biaya yang dikeluarkan untuk mencari Elizabeth mencapai jutaan poundsterling.
__ADS_1
"Kamu dimana sih sayang," kata Albert sambil menatap foto Elizabeth di ponselnya.
Hilangnya Elizabeth membuat sebagian jiwa Albert juga ikut menghilang bahkan dia tidak mengurusi perusahaan sama sekali sehingga mau nggak mau para Daddy yang menggantikan sementara.
**********
"Tuan sedari tadi pagi, Tuan muda tidak mau makan sama sekali," lapor kepala art.
Para Daddy yang tidak ingin terjadi apa-apa segera pergi ke kamar Albert dan berapa kagetnya mereka saat masuk ke dalam kamar Albert.
"Apa yang kamu lakukan Albert?" tanya Uncle Sean.
Mereka bertiga menghela nafas karena di dalam kamarnya Albert minum banyak alkohol sehingga keadaanya tidak karu-karuan.
"Lihatlah dirimu, kamu pikir dengan begini Elizabeth akan ditemukan?" Maki Daddy Daffa.
Sedari dulu Daddy Daffa sudah mewanti-wanti Albert untuk tidak meminum alkohol, tapi kini tak hanya satu botol Albert malah mengabiskan lebih dari tiga botol.
"Sudahlah Daffa, kita pahami saja keadaanya saat ini, lebih baik kita pindahkan dia ke atas tempat tidur," sahut Paman David.
"Aku akan mengganti bajunya," timpal Uncle Sean.
Para Daddy yang melihat anak semata wayangnya tak karuan-karuan turut bersedih, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, semua yang bisa mereka lakukan telah mereka lakukan tapi Elizabeth tak kunjung ditemukan.
"Kira-kira siapa yang menculik Elizabeth?" tanya Daddy Daffa.
"Entahlah Daffa," jawab Uncle Sean.
Paman David terus berpikir, kira-kira siapa yang kemungkinan menculik Elizabeth.
"Setahuku Albert tidak memiliki musuh, kalaupun ada itu hanya rival dalam bisnis," ucap Paman David.
"Kalau iya bearti musuh Albert seperti Daniel, dia tidak langsung menculik Albert tapi dia lebih memilih Elizabeth sebagai sasarannya," sambung Paman David.
Ketiga Daddy sangat panik, dia takut kalau peristiwa berapa tahun yang silam terulang kembali, di mana Daniel berusaha membunuh Albert.
"Apa mungkin si penculiknya akan membunuh Elizabeth?" tanya Uncle Sean.
"Semoga saja tidak," jawab Daddy Daffa.
Setelah mengganti baju anaknya, Uncle Sean mengajak Paman David dan Daddy Daffa keluar, mereka membiarkan Albert istirahat dengan tenang.
"Besok akan aku selidiki satu persatu rival maupun partner bisnis Albert," kata Paman David.
__ADS_1