Want To Be A Lazy Lady

Want To Be A Lazy Lady
episode 5


__ADS_3

Elvan? Siapa? Putra Mahkota? Saat ini? Di sini? Sial kenapa hari ini aku sial sekali


'kakak Elvan!' panggil Rean


Kenapa dipanggil dasar adikku yang lucu, apakah kamu tidak tau masalah kakakmu yang satu ini dengan kakakmu yang sana? nangis. Elvan melihat arah sini, ugh ekspresinya keliatan tidak suka aku juga ada di sini. Masa bodo emang istana ini punyamu hah?! Sial dia kemari


'hallo kakak!' sapa Rean


'hormat kepada putra mahkota saat ini semoga anda selalu diberkati' ucapku sambil membungkuk


'hah? Putra mahkota? Dia akhirnya jadi gila?' batin Elvan


'hallo kalian, apa yang kalian lakukan kemari?' ucap Elvan


'Rean bermain dengan kak Natha' ucap Rean


'...dengan Natha?' tanya Elvan, iya kau kira disini ada siapa lagi selain kami berdua, buta ya?


'iya, Apakah kak Elvan sibuk? Apakah kakak mau bermain dengan kami?' ucap Rean, aa? Gila ya jangan sampai, cih aku gatau bakalan ketemu Elvan disini tau gini gak kuijinin Rean minta main ke danau, lihatlah wajah Elvan dia keliatan gamau ikut karena aku.


'Rean, putra mahkota sedang sibuk, bagaimana kalau kita bermain berdua saja?' ucapku

__ADS_1


'putra mahkota lagi?' batin Elvan


'ah baiklah' ucap Rean


'Aku akan menemani kalian, aku sedang tidak sibuk' ucap Elvan


Apa? Bukankah dia sangat membenciku? Seharusnya dia pergi kan? Apa yang dia pikirkan, sial aku jadi bersama dengan tokoh utama novel. Sebaiknya aku kabur aja, lagian kalau aku tidak bersama mereka tidak ada bedanya.


'Rean karena putra mahkota akan menemanimu, kakak akan kembali ke istana kakak' ucapku


'eh kenapa kakak?' tanya Rean


'kakak tiba tiba ada urusan' ucapku, tentu saja aku berbohong


'tidak, bukan begitu, tapi putra mahkota kan menemanimu' ucapku


'kalau kak Natha ingin ke istana, Rean juga mau ke istana!' ucap Rean, oh my.. bagaimana ini


'kau ikutlah bersama kami, Natha' ucap Elvan


't-tapi..' kau gila ya?

__ADS_1


'urusanmu kan bisa diselesaikan nanti' ucap Elvan, sial dia memotong pembicaraanku


'baiklah' ucapku, cih gaada pilihan lain


'yey-! kakak bagaimana jika menaiki perahu?' tanya Rean


'terserah padamu' ucapku


'baiklah' ucap Elvan


Pelayan Elvan menyiapkan perahu mewah milik kerajaan yang siap tersedia kapan saja. Kami menaiki perahu, Rean berada di depan dan berdiri melihat air. Aku duduk paling belakang, tolong abaikan aku, tolong jangan lihat aku. Tapi sialnya Elvan malah duduk disebelahku. Apa sih yang dia rencanakan. Bagaimana kalau aku pindah? Dia tidak akan tersinggung kan? Pastinya iya. Baiklah aku akan duduk diam dan tidak memperhatikanmu, dan tolong jangan perhatikan aku juga jangan ajak aku bicara. Perahu ini berjalan dengan kami bertiga sebagai penumpang. Rean bersenang senang di depan sedangkan aku sengsara di belakang sini. Oh tolong Rean, tolonglah kakakmu ini hiss.


'kenapa kau diam saja?' sial kenapa kau tidak diam saja sih, bisakah jangan ajak aku bicara


'karena saya ingin diam yang mulia' ucapku


'kenapa kau memanggilku yang mulia?' tanya Elvan, dia ga bisa diam aja ya


'dan kenapa kau berbicara formal pada kakakmu?' tanyanya lagi


'bukankah itu yang anda inginkan? Dan sejak kapan anda mengganggap saya adik? pfft' tawaku, dia selalu mengabaikan Natha dan tidak pernah menganggapnya bahkan ketika Natha mati, ia tidak sedikitpun meliriknya, dia bilang dia seorang kakak? jangan bercanda deh

__ADS_1


'bisakah kau melihatku?' ucap Elvan, benar dari tadi aku melihat danau dan tidak sedikitpun melirik wajah serta tubuhnya


__ADS_2