War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 1 - Kejadian Aneh.


__ADS_3

Ada dua hal yang tidak aku mengerti. Kenapa Mama pergi dari rumah ketika aku berumur 7 tahun dan alasan dibalik dua laki-laki yang tak jemu mendekatiku hanya untuk mengajak berteman.


Dua bulan lalu. Ya, dua bulan lalu Ethan dan Melvin datang sebagai murid baru ke kelas ini. Keberadaanku yang jarang diperhatikan dan disadari oleh orang-orang, anehnya oleh mereka berdua aku begitu diperebutkan.


Bukankah itu aneh? Mereka semacam dua kubu yang memiliki sebuah alasan tertentu dibalik keinginan mereka yang menjadikan aku teman. Andai aku tak perlu memilih, aku akan berteman dengan mereka berdua.


Tapi, jika harus memilih satu di antara keduanya, bagaimana bisa? Uh, ini benar-benar menjengkelkan. Gara-gara mereka aku sering menjadi pusat perhatian orang banyak. Identitasku sebagai gadis tomboy hampir dikenal seantero sekolah.


“Jan!”


“Jane!”


Mataku mengerjap beberapa kali. Panggilan tersebut seketika mengosongkan lamunanku. Belum sempat kepalaku menoleh ke sumber suara, tubuhku sudah digoyang-goyangkan oleh seseorang. Deruan nafasnya yang patah-patah sangat terdengar jelas di telinga.


“Eh, ada apa? Apa yang terjadi?” Tubuhku sudah mengarah ke samping, berhadapan dengan Lyman, sahabat dekatku yang memanggilku dengan tak sabaran tadi.


“Dua cowok blasteran yang mendekatimu belakangan ini sedang ribut di tangga dekat perpus. Kali ini cukup parah, kamu harus ke sana untuk melerai mereka, Jan,” paparnya sambil berusaha menstabilkan nafas, peluh begitu membanjiri pelipisnya.


Aku mendesis sesaat, menggerutu dalam hati, mengapa aku yang harus repot mengurusi mereka? Ini bukan sekali dua kali aku harus terlibat dalam pertikaian mereka yang entah apa inti masalahnya.


Berdiri dari kursi, aku berjalan perlahan ke luar meja. Melangkah gontai menuju tempat yang diberitahu Lyman tadi. Tanpa menoleh, hanya mendengar irama sepatu di belakang, aku tahu Lyman sedang berjalan membuntutiku.


Sekitar jarak lima meter sebelum TKP, pandanganku sudah dipenuhi oleh lautan manusia yang sibuk berbondong-bondong untuk menonton. Berjalan membelah kerumunan, tubuh rampingku menyelip di antara tubuh-tubuh manusia yang enggan bergeser memberi jalan.


Kuraup nafas dengan rakus tatkala berhasil memisahkan diri dari gerombolan. Buru-buru aku mendatangi dua cowok yang tampaknya masih berseteru di anak tangga bawah sana.


Dengan langkah tergesa-gesa, aku menuruni tangga. Mataku membulat sempurna, sedikit bergidik merinding ketika melihat Ethan sudah terduduk tak berdaya dengan keadaan berdarah-darah.


Sementara si pelaku, Melvin, seperti biasa dia selalu memasang wajah datar. Padahal saat ini kedua telapak tangannya sudah dipenuhi oleh cairan merah pekat yang bau amis. Tidak ada raut penyesalan, Melvin hanya menatap Ethan dengan tatapan kosong.


“Melvin!” teriakku sambil menarik pundaknya, sontak tubuhnya berbalik ke arahku. Kami berhadapan, kepalaku sedikit menanggah sebab Melvin amat tinggi.


Aku melotot, kali ini aku tidak mungkin diam saja. “Apa kamu gila?! Kesalahan apa yang diperbuat Ethan sampai kamu tega menyakitinya dengan cara seperti ini?”


Melvin membisu. Bahkan bola matanya tidak bergerak, entah dia melihat kemana. Sekarang dia terlihat seperti boneka yang diberi nyawa. Dengan struktur wajahnya yang begitu sempurna, Melvin bisa dikatakan sebagai cowok tampan.


Sayangnya, jika memang dia boneka bernyawa, dia lebih pantas disebut boneka setan. Mengingat sifat dan tingkah lakunya yang sudah seperti bukan manusia lagi.


“Jan, lebih baik kita urus Ethan saja dulu. Kita bawa dia ke UKS. Biar Melvin kita serahin ke guru aja,” usul Lyman, aku lupa kalau dia mengekori sejak tadi.


Mengalihkan pandangan, aku mengangguk. Menatap Melvin sekilas, aku menunjukkan rasa kekecewaan padanya. Berjalan melewati tubuh Melvin, sengaja aku menubruk bahunya hingga membuat tubuh jangkungnya itu bergoyang.


Tanganku mengulur pada Ethan, cowok berkulit putih itu menatapku takut-takut. Tubuhnya gemetaran. Darah yang keluar dari hidung dan kupingnya kian deras membasahi seragam putihnya.


“Ayo, aku antar kamu ke UKS untuk diobati.”


Ethan menerima uluranku. Mengalungkan tangannya pada bahu, aku menuntunnya pelan-pelan menuju UKS. Sementara Lyman, dia mengurus Melvin yang masih mematung untuk diantar ke ruang guru.

__ADS_1


Sebelum berjalan menuruni tangga, kulihat mata Melvin membuntuti pergerakanku. Entah mengapa, tatapan dingin darinya selalu menanamkan perasaan ngeri. Seolah ada aura kelam yang mengiringi sosoknya.


Bisik-bisik riuh dari para murid yang menonton masih terdengar, anehnya kenapa tidak ada guru yang datang? Apa mereka tidak peduli atau tidak ada murid yang melapor?


Sampai di ruang UKS, aku langsung membaringkan tubuh Ethan di atas brankar. Menunggu anggota PMR yang bertugas untuk memeriksa keadaan Ethan. Sedang aku berencana untuk pergi, ingin menghampiri Lyman, penasaran dengan kelanjutan masalah ini.


Tapi belum sempat bokongku naik sempurna dari atas kursi, tangan Ethan yang begitu dingin menahanku. Dia menatapku dengan tatapan memelas, aku jadi kasihan.


“Jane, bisa temani aku di sini?”


Aku mengangguk pasrah. Kembali duduk dengan tenang, menatap Ethan yang mulai diobati. “Boleh aku bertanya?”


Ethan menjawab dengan anggukan.


“Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua? Masalah sebesar apa sampai-sampai kalian harus bergelut hingga separah ini?” Sungguh, sudah lama aku ingin bertanya tentang hal ini.


Ethan mengeluarkan nafas berat, dia menurunkan pandangan. Mengigit bibir bawahnya untuk menahan nyeri. “Bukan aku, Jan. Tapi dia yang memiliki dendam yang entah aku pun tidak tahu karena apa. Dia selalu mencari gara-gara denganku. Dia ingin sekali menyakitiku, dan jika bisa mungkin dia ingin membunuhku.”


Aku menyipitkan mata, merasa aneh dengan jawaban itu. Bukankah tidak masuk akal jika seseorang menyimpan dendam tanpa sebuah alasan? Jika sebelumnya mereka terlibat masalah, seharusnya Ethan sudah tahu apa penyebabnya.


“Jan, aku tidak pernah membalas atau memulai duluan. Kamu tahu sendiri tentang itu. Dan setelah dipikir-pikir, kamu harus segera membuat keputusan,” sambung Ethan, sepertinya dia berusaha meyakinkanku.


Dahiku mengerut bingung. “Keputusan apa?”


“Kamu harus memilih antara— akh.” Ucapan Ethan terpotong karena petugas yang mengobatinya mulai menempelkan kapas basah berisi cairan pembersih luka pada kupingnya yang berdarah, ah itu pasti perih dan menyakitkan.


“Kamu memilih antara aku dan Melvin. Kami berdua menginginkan kamu untuk menjadi teman dekat. Aku punya firasat dia menyakitiku agar dia bisa leluasa untuk mendekatimu,” jelas Ethan kemudian.


Mulutku berdecak, bola mataku ikut berputar malas. “Jika memang karena itu alasannya, maka dia tidak akan pernah bisa menjadi temanku. Aku benci manusia pembuat onar yang arogan dan selalu bersikap semena-mena seperti dia.”


Kedua tanganku disimpan di depan dada, menatap Ethan dengan dagu yang sedikit terangkat. “Aku masih belum mengerti. Apa alasanmu ingin berteman dengan orang sepertiku? Kamu dan Melvin selalu menjadi sorotan banyak orang, kalian populer.”


Aku malas mengakui, tapi terpaksa harus mengatakannya. “Aku hanya gadis biasa yang tidak semua orang tahu. Sementara di sekelilingmu saat ini banyak sekali gadis yang mendambakanmu bahkan rela mengemis hanya agar bisa dekat denganmu. Lalu apa untungnya jika kita berteman?”


Ethan tidak langsung menjawab, dia membentang senyum hingga menampakan gigi rapihnya. “Aku tidak butuh para gadis. Hanya satu alasan kenapa aku ingin berteman denganmu. Ketika aku melihat dua orang laki-laki yang selalu bersamamu, aku merasa ingin ada di antara kalian.”


Dua orang laki-laki? Mungkin yang dimaksud Ethan adalah Lyman dan Magani. Ya, memang mereka berdua adalah sahabat dekatku. Selama hampir dua tahun di sekolah ini, aku hanya memiliki mereka untuk dikatakan sebagai teman.


Sebelah alisku terangkat naik, mataku kian menyipit untuk menyelidik melalui pertanyaan yang akan kulontarkan, “Kenapa hanya aku yang kamu dekati sementara Lyman dan Magani tidak?”


“Aku sudah berusaha mendekati mereka,” jawab Ethan dengan lantang. “Tapi mereka bilang yang memutuskan adalah kamu, Jane. Oleh karena itu aku begitu gigih mendekati kamu. Sungguh, pertemanan kalian membuatku iri.”


“... Aku terbilang tidak beruntung, sebab di sekolahku dulu aku sulit bergaul dengan teman laki-laki. Karena dikelilingi oleh banyak gadis-gadis, aku sering dijauhi. Saat melihat pertemanan kalian, dadaku menghangat. Jadi, apa tidak boleh aku bergabung?”


Termenung, aku berpikir cukup lama. Karena bingung, aku beranjak. “Akan kupikirkan dulu. Sejujurnya, aku malas melayani orang lain. Terlebih orang baru seperti kamu.”


Tubuhku sudah berbalik, siap melangkah pergi meninggalkan ruang UKS. Tapi...

__ADS_1


“Lebih dari itu, aku juga memiliki hobi yang sama seperti kalian.”


Kakiku berhenti melangkah. Tapi enggan menengok ke belakang.


“Sebagai orang yang percaya pada sihir, aku punya banyak kenalan dan tahu beberapa tempat yang bisa kita kunjungi bersama untuk melakukan perjalanan yang luar biasa,” imbuhnya begitu percaya diri.


Aku menyunggingkan senyum jengkel, menduga kalau Magani si mulut ember yang memberitahu soal itu. Tak mau membalas ucapannya, aku memilih berlalu pergi.


Tapi siapa sangka? Baru berjalan beberapa langkah, Melvin yang entah datangnya dari mana tiba-tiba saja mencegatku. Memasang tampang muram tanpa senyum, dia menatapku lekat.


“Kenapa kamu ada di sini? Di mana Lyman?” Aku bertanya heran. Beberapa kali aku celingukan, sepi karena jam istirahat sudah usai beberapa menit lalu.


“Apa aku bisa jadi temanmu?”


Oh, ayolah. Pertanyaan konyol macam apa itu? Aku tak menyangka Melvin begitu santai mengatakan hal itu setelah aku pergoki menyakiti Ethan hingga babak belur.


“Sudah jelas bukan? Meskipun tampangku seperti berandal sekolah, aku tidak mungkin mau berteman denganmu yang bisa menyakiti seseorang hanya karena masalah sepele,” jawabku ketus.


“Tapi aku tidak pernah menyakiti siapapun. Aku tidak bermaksud—”


“Dasar gila. Tutup mulutmu. Selain bukan berandal, aku juga bukan orang dungu yang bisa kamu bodohi begitu mudahnya,” sewotku, lalu melenggang pergi dari hadapannya.


“Jane!”


Suaranya familiar, tapi itu bukan suara Melvin. Aku menoleh, mata minimalisku berkedip-kedip saat melihat Melvin tak lagi ada di tempatnya. Padahal baru beberapa detik yang lalu kami selesai berbicara, kemana perginya dia?


Alih-alih Melvin, yang kulihat adalah Magani. Sahabat dekatku yang identik dengan suara nyaringnya. Dia berlarian ke arahku, rambutnya yang menutupi mata terlihat lucu saat bergerak naik turun. Sedikit memperlihatkan mata sipitnya yang hanya segaris.


“Lyman mencari kamu. Ayo masuk kelas, kamu sudah selesai mengantar Ethan ke UKS, 'kan?”


Kepalaku mengangguk. “Tapi bagaimana tanggapan guru mengenai kejadian ini? Apa Melvin mendapat hukuman?”


Magani menggedikan bahu, kami sudah berjalan beriringan. “Aku tidak yakin. Tapi dia sudah dipulangkan sejak beberapa menit lalu. Ada kemungkinan dia di skorsing.”


“Eh?” Mataku membola. “Dia sudah dipulangkan?”


Magani meyakinkan dengan memberi anggukkan. “Benar, dia diantar oleh salah satu guru yang menjadi tanggung jawabnya. Sayang sekali bukan? Dia baru beberapa bulan di sini, tapi sudah mendapat masalah serius.”


“Kira-kira sudah berapa menit yang lalu semenjak dia dipulangkan?”


Magani tampak berpikir, dia mengusap dagunya. “Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu. Kau tahu? Sepertinya...”


Ucapan Magani setelahnya tak lagi masuk ke dalam telinga, pikiranku langsung menghitam. Aku ingat dengan jelas belum ada lima menit yang lalu aku dengan Melvin sempat berbincang. Aku juga sangat yakin yang kutemui tadi bukanlah hantu.


Tidak mungkin aku sedang berhalusinasi, 'kan?


***

__ADS_1


__ADS_2