
Entah sudah berapa lama aku termenung, sampai-sampai satu pelajaran tak bisa membuatku fokus. Pikiranku ke mana-mana, berpikir banyak hal hanya karena kejadian janggal mengenai Melvin tadi.
Sebenarnya sedari awal sosok Melvin memang sudah tampak aneh. Aura yang menguar dari tubuhnya tampak menyeramkan, menutupi ketampanan dari wajahnya yang sempat diagung-agungkan para gadis di sekolah.
Sekalipun aku belum pernah melihatnya tertawa, bahkan seingatku Melvin tidak pernah mengangkat kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Sepanjang waktu di sekolah, Melvin hanya memasang ekspresi dingin dengan nada bicaranya yang datar.
Selain karena akhir-akhir ini Melvin kedapatan melukai Ethan secara brutal dan terang-terangan, mungkin karena sosoknya pula yang amat misterius dan tingkah anehnya orang-orang jadi menjauhinya. Bahkan bagiku, sejak awal Melvin terlihat seperti seorang psikopat yang haus akan darah.
Atau memang tujuannya datang ke sekolah ini untuk melakukan pembantaian hingga akhirnya menjadikan sekolah ini menjadi genangan darah? Oke, mungkin itu agak berlebihan. Karena begitu kentara yang diincar Melvin hanyalah Ethan saja.
“Sshh!” Aku mendesis saat benda dingin yang menyengat menempel pada pipi kananku.
Menoleh, kulihat Magani tengah melebarkan cengiran tanpa bersalahnya setelah menempelkan satu botol minuman ke pipiku. “Terima kasih,” ucapku seraya mengambil alih minumannya.
Menyeret kursi, Magani duduk dihadapanku. “Habis dari kantin bersama Lyman tadi. Jam pelajaran selanjutnya sebentar lagi dimulai, kenapa kamu masih sibuk melamun?”
Belum sempat menjawab, Lyman datang dari arah samping untuk mengisi kursi kosong di sebelahku. Dia berbicara sambil menggigit ujung sedotan minumannya, “Dia pasti pusing memikirkan kejadian hari ini. Dua laki-laki itu selalu melibatkan Jane dalam permasalahan apapun. Kita lihat beberapa hari ke depan setelah Melvin tidak masuk sekolah, sepertinya keadaan sedikit damai.”
Meneguk minuman dingin rasa kopi pemberian Magani tadi, aku mengamati botol berembun itu, lalu berbicara, “Aku harap begitu. Tapi sebelumnya, apa kalian pernah berbicara dengan Ethan mengenai keinginannya yang meminta bergabung dalam pertemanan kita?”
Magani mengangguk-angguk. “Kalau tidak salah, sekitar dua atau tiga mingguan yang lalu. Ethan mendatangi kami berdua.”
Delikan sinis kuarahkan pada Magani, “Dan kamu juga kan yang memberitahu soal kegiatan kita yang selalu memburu hal-hal mengenai sihir padanya?” tuduhku yang tak mungkin meleset.
Buktinya, saat ini Magani tersenyum bagaikan kuda sembari menggaruk leher belakangnya. Bersendawa cukup kencang, Lyman mengambil alih perhatian kami.
“Aku sudah memikirkannya, Jan,” ungkap Lyman, mimiknya berubah serius. Tubuhnya pun menghadap ke arahku.
Aku memandanginya seraya bertopang dagu, menunggunya melanjutkan ucapan.
“Kenapa kita tidak menerimanya untuk menjadi teman kita? Dengar-dengar, keluarga Ethan itu bukan sembarangan.” Lyman mulai bercerita, suaranya agak mengecil sehingga kami berdua lebih mendekat padanya. Pertanda bahwa ada informasi darinya yang tak boleh bocor.
“Kalian tahu? Orang tuanya pemilik perusahaan besar yang terkenal. Kalau tidak salah namanya Scoups Group's. Ethan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dia juga mungkin akan mendapat bagian untuk menjalankan perusahaan. Selain itu, bagian paling terbaiknya dia punya banyak koneksi untuk membantu kita mencari hal-hal yang berhubungan dengan sihir di dunia ini.”
__ADS_1
Di sepanjang Lyman bercerita, aku melongo tanpa berkedip. Lyman memang paling jago mencari tahu informasi, dia bisa diandalkan untuk mencari tahu sesuatu layaknya seorang intel. Dan hampir 80 % kebenarannya akurat.
Magani geleng-geleng kepala sambil bertepuk tangan, ekspresinya terlihat sedang kagum. “Aku tidak akan bertanya dari mana kamu mencari tahu semua informasi itu. Tapi apa kamu bisa menjamin kita bisa diuntungkan setelah berteman dengan Ethan?”
Lyman bersidekap dada, punggungnya sudah menempel ke sandaran kursi. “Apa yang perlu diragukan? Selama ini kita selalu kekurangan dana saat akan mencoba berpergian untuk menyelesaikan misi kan? Jika Ethan bergabung, kita bisa memanfaatkannya. Selain itu, dia memiliki kenalan-kenalan atau komunitas dengan jangkauan luas mengenai hal yang kita sukai.”
“Selama ini sudah berapa banyak kita ditertawakan dan dianggap gila karena percaya sihir serta dunia fantasi yang didalamnya dihuni oleh peri-peri cantik? Daripada menyalahkan hantu atas pintu yang tertutup sendiri padahal tidak ada angin yang berhembus, kita lebih percaya bahwa itu ulah peri yang jahil kan?” final Lyman, dia mengemukakan pendapatnya yang menuntun kami agar mau berpihak.
Setelah dipikir-pikir, aku cukup setuju. Tidak ada salahnya mencoba, setidaknya aku berharap setelah menjalin pertemanan dengan Ethan, kami semua bisa menemukan hal-hal luar biasa yang mampu membayar ekspektasi kami selama ini.
Sempat hening beberapa detik, aku menggebrak meja secara perlahan, tapi mampu membuat kedua temanku langsung mengerjap kaget. Tubuhku berdiri, memandangi mereka berdua secara bergantian.
“Baiklah, sudah aku putuskan bahwa kita akan berteman dengan Ethan. Besok, kita semua akan berbicara dengannya,” ujarku dengan lantang, membuat Magani heboh sampai jingkrak-jingkrak senang, sedang Lyman tetap cool dengan senyuman manisnya.
***
Mengembuskan nafas berat, aku termangu beberapa saat sebelum kembali menggerakan kedua kakiku untuk masuk ke dalam pekarangan rumah. Langit jingga di sore hari tidak mampu memberi kehangatan pada rumah tua yang tampak kosong seperti tidak ada kehidupan dari luar.
Samar-samar aku mendengar suara decakan yang saling bersahutan, seperti suara film dewasa yang tak sengaja aku dengar dari kamar Papa sewaktu tengah malam. Suara decakan tersebut disusul oleh suara erangan yang membuatku ingin muntah.
Jika bukan karena rasa penasaran, tanpa pikir panjang aku memilih untuk pergi. Menuju ruang tengah, aku lebih dibuat terkejut oleh pemandangan yang menjijikan. Dua orang dewasa tengah bercumbu mesra di sana.
Untuk pertama kalinya aku mendapati Papa membawa seorang wanita ke rumah. Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat adegan yang membuatku mual secara langsung, terlebih Papaku langsung yang mempraktikannya.
Kehadiranku terdeteksi, bola mata Papa mengarah padaku, langsung membelalak karena menyadari aku sedang menonton dengan mulut bungkam. Buru-buru Papa mendorong tubuh perempuan yang berada di atas pangkuannya, bangkit dari kursi untuk menghampiriku.
Enggan terlibat dalam percakapan, aku menunduk dan segera berjalan tergesa, menaiki tangga menuju kamar. Aku tak menggubris panggilan Papa dari bawah sana, fokus berjalan tanpa sekalipun menengok padanya.
Menutup pintu kamar rapat-rapat, tak lupa menguncinya. Takut Papa menyelinap saat malam hari untuk memberi penjelasan, toh sebenarnya aku tak butuh penjelasan untuk semua kejadian tadi.
Menurutku wajar saja, pasti selama ini Papa kesepian. Semenjak Mama pergi tanpa alasan yang jelas saat aku berumur 7 tahun, Papa seperti kehilangan arah. Dan baru sekarang aku lihat Papa mau menjalin hubungan dengan perempuan lain, ya setidaknya itu yang aku tahu.
Dibesarkan tanpa kasih sayang yang cukup, aku tumbuh sebagai gadis yang lebih banyak memendam tanpa mau membuang-buang waktu dengan bicara dan mengeluh pada orang lain, bahkan jika itu pada Papa. Sebagai tulang punggung yang harus memenuhi segala kebutuhanku, aku tidak mau menuntut banyak waktu padanya.
__ADS_1
Berjalan mendekat ke arah cermin, aku mematut diri. Kupandangi pantulan wajahku yang tampak kusam dengan sedikit bekas luka di bawah mata. Bukan mencoba membandingkan dengan gadis lain, tapi aku memang paling anti merias diri selayaknya naluri perempuan yang ingin dipandang cantik.
Inilah aku, gadis berambut bondol dengan penampilan dan tingkah laku macam laki-laki, setidaknya begitu menurut komentar orang-orang di sekeliling. Mungkin karena sejak kecil aku tidak pernah bergaul dengan perempuan, aku jadi nyaman berpenampilan seperti ini.
“Hufft!” Dadaku sesak, jadi berkali-kali kubuang nafas secara paksa agar lebih lega.
Memiringkan kepala, aku mengusap dagu. Sejenak pikiranku teralihkan pada hal lain, teringat pada cermin ajaib yang ada dalam cerita dongeng. Aku jadi berpikir sesuatu, apa mungkin sebenarnya di dunia ini memang ada cermin seperti itu?
“Wahai cermin ajaib, siapa manusia paling bahagia di dunia ini?” Aku bertanya dengan percaya diri, berharap cermin di depanku memang benar-benar bernyawa dan bisa menjawab pertanyaanku.
Tapi nihil. Cermin itu tidak menunjukkan perubahan walau sedikit. Meski begitu, aku tetap percaya bahwa di dunia ini memang terhubung dan tergabung dengan sihir ataupun segala macam hal yang dianggap orang lain fantasi.
Berjalan menuju rak buku, aku mengambil salah satu buku usang yang terhimpit di antara buku lain. Buku yang selalu aku simpan dan kubaca berulang kali tanpa bosan, ini adalah buku dongeng milik Mama dulu.
Sejak kecil aku beberapa kali mengalami kejadian tak masuk akal, aku melihat Mama melakukan sihir. Seperti memanggil burung-burung dengan suara nyanyian indahnya, lalu menari dengan para pepohonan hingga meliuk-liuk, bahkan hebatnya Mama bisa berubah menjadi putri duyung saat menyelamatkanku yang nyaris mati tenggelam.
Aku sempat berpikir, apa mungkin sebenarnya Mama adalah bidadari dari kayangan? Sehingga dia pergi karena waktu di dunia sudah habis. Aku pernah menanyakan hal itu pada Papa, tapi aku malah ditertawakan. Katanya, sewaktu kita kecil memang segala hal yang tak masuk akal bisa saja terjadi di dalam imajinasi kita.
Cukup jauh aku kembali mengenang masa kecil, aku merebahkan tubuh di atas kasur. Kembali terbayang usulan Lyman mengenai Ethan di sekolah. Jika memang Ethan mampu membawaku pada hal-hal sihir yang selalu dibilang tak masuk akal oleh orang-orang, maka aku tak akan ragu menerimanya untuk menjadi temanku.
Ting!
Suara notifikasi karena ada pesan masuk membuatku sedikit terperanjat, tanganku bergerak-gerak menggapai tas sekolah yang lumayan jauh. Merogoh ke dalam, mencari benda pipih tersebut untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Menatap layar, dahiku mengerut. Ternyata ada pesan dari nomor tak dikenal. Saat membuka pesannya, aku menelan ludah susah payah, jantungku seketika memburu hingga memunculkan degupan luar biasa.
“Apa aku bisa jadi temanmu?”
Rasanya aku pernah mendengar kata-kata itu. Perasaanku jadi tidak enak, tanpa mau berpikir panjang langsung aku blokir dan hapus pesan tersebut. Ponsel pun kembali aku masukan ke dalam tas.
Tiba-tiba saja terpikirkan satu nama untuk menduga si pelaku, tapi jika memang benar, dari mana dia mendapatkan nomorku?
***
__ADS_1