War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 3 - Misteri Pria Bertudung.


__ADS_3

Sedikit malas, aku harus memulai hari baru dengan rutinitas membosankan. Di jam enam pagi, aku sudah bersiap dengan seragam sekolah.


Menuruni anak tangga dengan langkah lunglai, sedikit celingukan untuk memastikan keadaan di ruangan bawah. Berpikir, apakah wanita yang aku lihat semalam masih ada di rumah ini atau tidak.


Dalam jarak lima anak tangga terakhir sebelum menyentuh permukaan lantai, hidungku mengerut-ngerut ketika menghirup aroma pekat yang membuatku pusing. Bola mataku bergerak cepat, langsung mengetahui letak dimana aroma menyengat tersebut berada.


Mungkin sekitar lima botol alkohol kosong berserakan di bawah meja, aku juga melihat karpet berwarna cokelat terang sudah dipenuhi oleh remahan makanan yang bercampur dengan bermacam-macam cairan yang tampak menjijikkan.


Bermenit-menit sudah aku mengamati kondisi ruang tengah yang tak karuan, atensiku teralihkan dengan sapaan Papa yang ternyata sudah menyadari keberadaanku. Aku lihat sebelumnya Papa cukup asik sendiri membersihkan kekacauan di sini.


Meletakan beberapa barang di tangannya, Papa mengusapkan telapak tangannya pada kaus yang dipakainya. Kemudian berjalan menghampiriku.


“Jane, mengenai semalam, Papa—”


Aku reflek mundur, bau alkohol juga sudah melekat pada tubuh Papa. “Pa, aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui alasan dibalik perginya Mama.” Tidak tahu kenapa, aku mendadak menyeret Papa dalam topik pembicaraan ini.


Papa menatapku dengan mata penuh guratan merah, aku melihat ada ekspresi terkejut terpampang di wajahnya. Mengusap dagunya yang penuh dengan jambang, Papa mulai membasahi bibirnya yang pecah-pecah.


“Bagaimana jika kamu sarapan dulu, Jan? Papa buatkan kamu telur dadar kesukaanmu,” tawarnya berusaha mengalihkan pembicaraan.


Aku menghela napas, kemudian mendesis. “Jangan mengalihkan. Lagi pula, bagaimana bisa Papa menyebut telur dadar makanan kesukaanku sementara Papa tidak pernah sekalipun memasak untukku? Bahkan, seingatku Papa tidak pernah bertanya soal makanan apa yang aku sukai.”


Papa menunduk, sebelah tangannya mengepal, bibir bawahnya ia gigit sebelum akhirnya meloloskan napas kasar. “Maafkan Papa, Jan.”


“Bukan kata maaf yang aku mau, tapi aku ingin jawaban,” tegasku tak sabaran.


Papa tidak langsung menyahut, dia mengangkat kepalanya untuk menatapku dalam-dalam. “Apapun alasannya yang akan kamu ketahui, tolong jangan pernah membenci Mama kamu, Jan. Karena sebenarnya...”


Ucapan itu menggantung, aku muak menunggu. Maka akan ku simpulkan sendiri apa alasannya.


“Apa Mama juga melakukan hal yang dilakukan Papa tadi malam?” todongku dengan pertanyaan yang menyudut, berhasil membuat Papa mengerjap gelagapan.


Jika sudah membahas kata benci, pasti ada terselip kesalahan. Aku memang tidak tahu kesalahan apa yang sudah dibuat Mama, bertahun-tahun aku dibayang-bayangi banyak pertanyaan, hingga detik ini pun aku masih belum tahu kebenarannya.


Papa membisu sebentar, saat melihatku yang sudah berbalik badan untuk melangkah pergi, Papa lantas berbicara kembali.


“Jane...”


Kelam, hampa dan nyaris padam. Aku ingin hidup dalam dunia dimana ada Mama yang bisa mewarnai hidupku melalui jemari lentiknya untuk mengundang sihir-sihir luar biasa.


Sesederhana itu. Tapi sayangnya aku harus menerima kenyataan takdir bahwa Mama tidak mungkin pernah kembali ke rumah ini.


***


Meredam rasa kesal di pagi hari karena terlibat percakapan dengan Papa, aku pun sempat terjebak macet, untungnya aku bisa datang tepat waktu ke sekolah. Jika tidak, aku sudah mendumel sambil menjalani hukuman.


Berjalan memasuki kelas dengan raut cemberut, pandanganku langsung menyorot Lyman dan Magani yang sudah nongkrong di bangku milikku. Mereka tidak berdua, ada Ethan yang ikut melambai-lambai padaku.


“Aku pikir kamu tidak akan datang hari ini,” kata Lyman membuka obrolan, aku berjalan masuk ke dalam meja untuk duduk.


Menaruh ransel di atas meja, aku duduk sambil bersidekap di depan dada. “Tadi jalanan macet.”


Magani yang memang sudah duduk di sampingku sejak awal, tubuhnya kian mepet-mepet. “Ayo sapa anggota baru kita!” bisiknya tapi dengan suara nyaring.

__ADS_1


Aku reflek mengerutkan dahi, pandanganku dari Magani berpindah ke depan untuk menatap Ethan yang duduk manis dengan senyum lebarnya. Rasa bingungku semakin bertambah saat merasa ada yang janggal.


Mengamati paras Ethan, aku dibuat bingung. Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa semua luka lebam dan basah kemarin akibat ulah Melvin, sekarang sudah hilang tak berbekas sedikit pun?


“Emm ... Lukamu?” Kepalaku miring mengerjap-ngerjap heran.


Ethan menyentuh wajahnya sendiri, Lyman dan Magani yang tampaknya mulai sadar dengan apa yang aku maksud pun sekarang sudah menyorot Ethan dengan tatapan penuh tanda tanya. Kami semua sama-sama bingung, karena masih ingat dengan jelas bagaimana luka yang terpampang di wajah Ethan, bahkan seharusnya saat ini Ethan tidak masuk sekolah.


“Ini mungkin aneh, tapi keluargaku memproduksi ramuan khusus yang dapat menyembuhkan luka bahkan bisa sampai menghilangkan bekasnya. Prosesnya lumayan cepat, sehingga hari ini aku tampak sehat bugar,” jawabnya semakin membuat rasa penasaranku bertambah.


Lagi, aku melontarkan pertanyaan, “Ramuan khusus?”


Ethan mengangguk, kemudian tubuhnya ia condongkan pada kami untuk membisikkan sesuatu, “Kalian tahu? Ini ada sangkut pautnya dengan sihir, karena dalam ramuan khusus itu keluargaku perlu menggunakan bubuk peri ajaib.”


Bukan hanya aku, tapi Lyman dan Magani pun ikut melotot saat mendengar penjelasan Ethan barusan. Jadi bubuk peri ajaib itu benar-benar ada? Bukan hanya dongeng semata seperti apa yang dikatakan orang-orang?


“Bagaimana bisa keluargamu mendapatkan bubuk peri ajaib?” Lyman bertanya antusias, terlihat dari binar matanya yang begitu cerah.


“Benar, beritahu kami! Dan kalau boleh, izinkan kami untuk melihat ataupun mencari bubuk peri ajaib itu!” Magani lebih heboh karena suara nyaring miliknya berhasil memekakkan telinga, bahkan para murid yang ada di kelas jadi menoleh padanya.


Setelah mendapat delikan mata dari kami, Magani langsung cengegesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Dia duduk dengan tenang kembali, dan kondisi para murid di kelas pun kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


Ketika Ethan hendak berbicara, mendadak teman satu kelasku yang sedang melakukan piket menyibak gorden jendela di samping Ethan. Hal tersebut mengundang jeritan dahsyat dari Ethan yang terlihat sangat takut bahkan menghindari sinar matahari yang lumayan terik pagi ini.


Sebenarnya aku sudah merasa ada yang janggal dengan Ethan sedari awal. Sejak dua bulan yang lalu Ethan datang ke sekolah ini, dia selalu memakai jaket tebal yang menutupi seluruh pergelangan tangannya, dan sekalipun belum pernah aku melihat dia melepas jaketnya.


“Kamu tidak apa-apa?” Lyman langsung bangkit dari kursi, mendekat pada Ethan yang masih meringis.


Tanpa babibu lagi, Lyman segera menutup gorden.


“Kulitmu memerah, bahkan sedikit menghitam,” ujar Magani sambil menunjuk-nunjuk ke arah punggung tangan Ethan.


“Aku sangat kerepotan dengan masalah ini, tapi bagaimana pun juga ini salah satu efek samping dari penggunaan bubuk peri ajaib. Soal detail mengapa dan bagaimana bisa keluargaku bisa mendapatkan bubuk peri ajaib, biar saja kalian datang ke rumahku untuk melihat dan mendengarkan penjelasannya secara langsung,” jelas Ethan, suaranya sedikit terengah-engah.


“Lalu kapan kami bisa datang ke rumahmu?” tanyaku langsung to the point.


Merogoh tissu dari dalam saku untuk mengelap wajahnya yang basah dan memerah, Ethan menjawab, “Hari ini pun bisa jika kalian mau.”


Berbeda dengan Magani yang sudah berjingkrak-jingkrak kesenangan. Lyman tampaknya berpikir keras, dalam kepalanya pasti sudah menyiapkan pertanyaan.


“Hmm.” Lyman berdeham seraya memainkan dagunya. “Setelah tahu bahwa kamu pun sama-sama percaya sihir dan hal-hal yang bersangkutan dengan fantasi, aku punya usulan tentang keinginan yang bisa kita lakukan bersama-sama.”


Aku menarik lengan Magani sambil melotot padanya untuk menyuruhnya kembali duduk dengan tenang. Fokus mendengarkan Lyman yang sedang berbicara serius.


Lyman kembali melanjutkan ucapannya, “Berhubung waktu kita di sekolah ini hanya tersisa kurang lebih satu tahun lagi, aku ingin kita mengungkap satu misteri yang ada di sekolah ini. Mungkin kalian pernah mendengar soal sosok pria berjubah yang pernah berkeliaran di sekitaran sekolah?”


Saat Magani tiba-tiba menjentikkan jari, aku menoleh padanya. “Aku tahu cerita itu.” Punggungnya membungkuk ke depan, aku bergerak mundur agar Magani bisa menatap Lyman yang berada di sebelahku.


“Konon katanya di sekolah ini ada sosok pria berjubah yang selalu menculik para murid. Dan dari cerita yang aku dengar, para murid tersebut dibawa ke dunia lain. Entah dunia seperti apa, tapi jika mengingat pria berjubah itu memiliki kemampuan sihir untuk mengelabui dan memperdaya korbannya, aku berpikir dunia asalnya pasti berkaitan dengan sihir juga,” papar Magani begitu energik.


Lyman manggut-manggut menanggapi. “Benar, itu sebabnya aku ingin sekali mencari tahu asal-usul pria berjubah tersebut. Kalaupun kita diculik, bukankah itu menyenangkan? Kita bisa berkelana di dunia sihir.”


Aku termangu untuk berpikir, sebenarnya aku pernah mendengar cerita pria berjubah itu dari mulut ke mulut. Tapi aku tidak pernah berpikir ingin menyelidikinya, takut kalau jika nanti malah terjebak dalam dunia yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

__ADS_1


Ethan menyahut, “Kalian yakin ingin menyelidikinya? Aku tidak tahu persisnya seperti apa misteri di sekolah ini. Tapi aku bisa membantu kalian jika mau. Kita bisa mengendap-endap untuk bermalam di sekolah ini sampai kita bisa memecahkan misteri itu. Dan tahu apakah hanya bualan semata atau memang benar-benar ada.”


“Kalau begitu, ayo kita lakukan hari ini. Sore ini, aku, Magani dan Jane akan berkunjung ke rumahmu. Bertamu sekaligus memenuhi rasa penasaran soal ceritamu tadi. Lalu kita mempersiapkan beberapa hal sebelum menggali misteri itu tanpa ketahuan oleh pihak sekolah,” final Lyman membuat keputusan.


***


Sesuai dengan kesepakatan bersama, aku dan teman-teman yang lain lantas pulang ke rumah masing-masing setelah jam sekolah usai. Ethan sudah memberi alamat rumahnya, kami bertiga akan datang ke sana setelah bersiap-siap dan membawa perlengkapan.


Aku mungkin akan meminta izin pada Papa karena tidak akan berada di rumah selama beberapa hari dengan alasan ada acara penting di sekolah. Aku tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya, karena pasti aku akan dianggap gila olehnya.


Saat menuju rumah hanya tersisa beberapa langkah lagi, aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tengah berdiri menunggu di samping gerbang. Sebab penampilannya yang begitu misterius, kepalanya menunduk tertutup tudung hoodie hitamnya, aku jadi tidak tahu itu siapa.


“Kenapa kamu tidak membalas pesanku tadi malam?”


Hatiku mencelos. Salivaku tertelan kasar. Dari suaranya aku sudah bisa menebak siapa yang ada dihadapanku saat ini.


“Melvin?”


Dia mendongak sembari menyugar rambutnya hingga tudung hoodienya terlepas ke belakang. Seperti biasa, wajahnya terlihat begitu pucat layaknya mayat hidup, ekspresinya pun selalu datar.


“Pesanku tidak kamu balas.”


Aku berjalan mundur, mendadak sekujur tubuh merasakan kengerian. “Dari mana kamu tahu nomor teleponku dan juga alamat rumahku? Apa kamu seorang penguntit?!”


Melvin menggeleng. “Bukan. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku—”


“Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu. Cukup, apa kamu tidak bosan terus menggangguku? Sekarang aku dan Ethan sudah berteman. Jadi, berhenti mencoba mengajakku untuk berteman. Kamu mengerikan!” sarkasku sebab sudah muak dengannya.


Pasti ia menggali informasi di sekolah, aku punya firasat Melvin mengancam orang-orang yang berwenang memegang data-data siswa dengan tatapan kelamnya itu. Benar-benar menakutkan, hanya beberapa menit berhadapan dengannya sudah membuatku merinding.


Tanpa mau menunggu balasan Melvin, aku bergegas menggeser pintu gerbang. Berjalan masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, tapi sempat terhenyak ketika mendapati mobil yang pernah aku lihat kemarin terparkir di pekarangan rumah.


Anehnya setelah mengetahui hal tersebut aku malah melambatkan langkah kaki. Mengendap-ngendap menuju pintu rumah yang sedikit terbuka, sengaja agar kehadiranku tidak terendus, jika mereka melakukan hal tak senonoh lagi maka aku tak ragu untuk pergi.


Tapi...


Ketika aku mendengar sayup-sayup suara obrolan mereka dari dalam sana, aku jadi penasaran dan langsung menempelkan telinga pada daun pintu. Dan semua yang mereka obrolkan dapat terdengar jelas, berhasil membuatku mematung dengan dada yang seperti dihujani ribuan jarum, amat sakit hingga pandanganku mengabur.


“Aku pun bingung, sayang. Jika bukan karena dia darah dagingku, mana mau aku mengurusnya secara repot-repot. Mantan istriku dulu yang kabur karena alasan tidak jelas, aku yang harus menanggung anaknya.”


Seumur-umur aku tidak pernah menyangka akan mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut Papa. Yang aku tahu, Papa cukup peduli dibalik rutinitas hidupnya yang berantakan itu.


“Begini, aku ada ide. Kamu pamitan pergi padanya dengan alasan memiliki pekerjaan di luar kota. Dia sudah cukup dewasa untuk ditinggalkan, kamu cukup mengiriminya beberapa uang setiap bulannya. Jika begini terus hubungan kita tidak lancar.”


Bisikan dari wanita itu tampak seperti iblis yang berusaha merayu manusia untuk menjerumuskan.


Mereka sangat cocok untuk menjadi sepasang kekasih, dan tanpa perlu menggunakan rencana seperti itu aku sadar diri harus melakukan apa.


“Tidak perlu repot-repot,” ujarku langsung masuk ke dalam obrolan mereka, pintu aku buka lebar-lebar, menghampiri mereka berdua yang langsung beranjak dari sofa sambil memasang ekspresi kaget.


“Aku lebih senang tinggal sendiri tanpa peran Papa. Jadi, tinggalkan saja aku dan hiduplah dengan si wanita sialan itu,” tambahku dengan lantang tanpa rasa takut.


***

__ADS_1


__ADS_2