War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 11 - Buah Aneh.


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Magani asik merutuk sendiri. Terus saja mengoceh dan memaki-maki Melvin yang saat ini sudah tidak lagi kelihatan batang hidungnya.


Magani berdecak, “Bagaimana jika aku mati karena dehidrasi?”


“Tergantung suasana hati,” timpal Lyman sambil melirik singkat pada Magani.


“Apa hubungannya dengan suasana hati, huh?” tanya Magani penasaran, aku hanya menyimak saja.


“Jika suasana hatiku baik, maka aku akan menguburkan jasadmu dengan layak. Kalau tidak, ya aku tinggalkan atau bahkan dengan senang hati memberikannya pada binatang buas di hutan ini,” gurau Lyman, kekehannya membuat Magani mencebik kesal.


Aku menoyor belakang kepala Magani sambil ikut terkekeh. “Maka dari itu, untuk menghemat tenaga, alangkah baiknya jika kamu diam. Memangnya yang haus hanya kamu saja? Kami pun sama. Tapi bersabarlah dulu. Moga-moga sebelum memasuki hutan kematian kita bisa mendapat asupan makanan untuk persediaan juga nanti.”


Magani tidak menimpali. Dia hanya sibuk menggumamkan sesuatu dengan ekspresi kesalnya.


Ketika merasa lelah dan tidak kuat berjalan lagi, kami semua memutuskan untuk beristirahat sebentar. Sesekali kami juga dihampiri binatang-binatang lucu yang bisa berbicara.


Kelinci dengan ukuran besar tidak seperti yang biasa kami lihat, tiba-tiba saja membawakan sebuah wortel, dia mengatakan bahwa wortel yang dibawanya mampu membantu meredakan rasa lapar. Serta pepohonan muda yang baik hati pun memberikan air embun untuk kami minum.


Setelah dirasa energi sedikit terisi, kami melanjutkan perjalanan kembali. Agar saat pagi nanti kami semua sudah bisa keluar dari hutan ini dan bisa segera memasuki hutan kematian.


Tidak terasa hampir semalaman penuh kami berjalan, semakin lama tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami. Hanya ada kesunyian yang diisi oleh sayup-sayup suara binatang malam dan deru nafas kami yang ngos-ngosan saling bersahutan.


Hutan yang rimbun berhasil kami lalui, sehingga ketika sinar mentari yang baru muncul ke atas cakrawala mulai menelusup masuk ke celah-celah hutan dan perlahan menyingkirkan kegelapan yang menyelimuti.


Kami bertiga berdiri berjajar di tepian akhir hutan yang berhasil kami lalui, lalu secara bersamaan kami membuang nafas dengan sekali hentakan ke udara. Dengan rakus menghirup udara, begitu dingin dan menyegarkan.


Lyman mengangkat telunjuknya, mencoba memberitahu kami sesuatu. “Lihat, plang di sana menunjukan bahwa hutan kematian sudah ada di depan mata kita.”


Pandanganku mengikuti arah telunjuk Lyman, plang yang terbuat dari papan kayu tersebut sudah dipenuhi lumut pekat, bahkan kelihatannya kayunya sudah rapuh dan lembab. Plang papan itu bertuliskan ‘Hutan ini >> neraka kecil-kecilan’


“Meski nerakanya kecil-kecilan, tetap saja itu neraka,” ujar Magani, tubuh pendeknya bergidik, mepet ke arahku.


“Tidak apa-apa. Anggap saja ini simulasi bagimu sebelum menempati tempat abadi setelah kematian nantinya,” ledek Lyman, dia tidak henti-hentinya menjahili Magani yang penakut.

__ADS_1


Aku geleng-geleng kepala ketika mereka mulai beradu mulut. Aku memilih bergerak masuk lebih dulu. “Ayo masuk. Ingat, kita punya aroma yang bisa menolak marabahaya selama tiga hari. Jadi manfaatkan waktu itu untuk bisa segera keluar dari sana.”


Lyman langsung berlarian kecil, dia menyusul langkahku, tubuh jangkung nya kini sudah melewatiku seolah ingin dirinya yang memandu jalan. “Sudah seharusnya aku yang berjalan di depan. Bagaimanapun juga, kamu adalah perempuan, Jan. Biarkan aku yang mengambil tanggung jawab dalam hal ini.”


Aku memutar bola mataku sambil menghela napas. “Ya, terserah kamu saja. Kamu pantas menjadi ketua dalam tim ini.”


Lyman menggelak tawa singkat. “Bukan ingin terlihat ingin mengambil peran. Tapi karena hanya ada dua laki-laki di sini, dan tidak mungkin Magani yang penakut itu menjadi pemimpin, jadi aku dengan suka rela melakukannya. Setidaknya aku tidak takut mati.”


Kami pun mulai membuntuti Lyman, area hutan kematian sudah berhasil kami masuki. Benar-benar hawa dan suasananya sudah berbeda, padahal pagi baru saja menyambut, tapi di dalam hutan kematian yang berkabut dan gelap aku tidak merasakan ada cahaya mentari yang masuk.


“Apa mungkin karena masih pagi, hawanya begitu dingin, ya?” tangan sebelahku yang menganggur kupakai untuk mengusap-usap bulu kudukku yang merinding.


Lyman menoleh. “Aku rasa kita harus terbiasa dengan udara dingin yang membuat kita bergidik merinding. Karena memang beginilah suasana di dalam hutan kematian.”


Magani yang langkahnya mulai tertinggal di belakang tidak bersuara, dan pelan-pelan telingaku tidak menangkap suara langkah kakinya. Karena khawatir, aku pun membalikkan setengah tubuhku, pandanganku langsung jatuh ke bawah, tepat dimana Magani sudah tersungkur di atas dedaunan kering dengan memasang wajah meringis.


“Kamu baik-baik saja?” Dengan segera aku menghampiri Magani, Lyman yang menyadari pun ikut menghampiri.


“A-aku ... Lapar,” keluh Magani sambil mengusap-usap perutnya, wajahnya memucat.


“Belum ada setengah perjalanan kita di dalam hutan ini, kita tidak bisa tahu apakah ada makanan yang bisa dimakan. Bertahanlah sedikit lagi, ayo kita harus segera melanjutkan perjalanan,” bujukku, berharap Magani mau bertahan sedikit lagi.


Ketika atensi kami berdua diambil oleh Magani, mendadak pendengaran kami semua menangkap suara aneh, seperti suara semak-semak yang bergoyang karena sesuatu. Tentu saja hal tersebut membuat semuanya reflek menoleh ke sumber suara, dan pandangan kami langsung jatuh pada Melvin yang tengah memetik buah-buah kecil yang langsung dia makan begitu saja.


Entah memang Melvin lebih dulu sampai, tapi memang sejak awal kehadirannya itu tidak bisa kami prediksi. Tahu-tahu muncul, tiba-tiba menghilang, dan sekarang dia dengan santainya memakan buah yang entah apa namanya sambil sesekali melirik pada kami.


“Aku mau juga!”


Aku terkesiap ketika Magani beringsut secepat kilat hanya untuk mendatangi Melvin dan tanpa basa-basi lagi langsung memakan buah tersebut dengan lahapnya. Buah yang bentuk dan rupanya mirip dengan anggur tapi berwarna merah terang, memang kelihatannya tampak menggoda untuk kami yang sedang kelaparan ini.


“Mau coba makan juga, Jan?” tanya Lyman, sorot matanya menunjukan sedikit keraguan.


Aku menunduk, mengusap-usap perutku yang mulai bersuara keroncong. Lalu pandanganku naik kembali, menatap Magani yang amat rakus melahap habis buah-buahan aneh di sana.

__ADS_1


“Tidak ada pilihan lain, bukan? Untuk bertahan hidup, terkadang kita harus melakukan apa saja. Magani dan Melvin tampaknya biasa-biasa saja, mereka tidak menunjukkan reaksi aneh setelah memakan buah itu. Jadi, ayo kita makan juga.” Aku bangkit, bergerak ke tempat Magani dan disusul oleh Lyman.


Pohon yang mirip dengan pohon beringin, bedanya akar menggantungnya dipenuhi oleh buah-buahan berwarna-warni. Tapi lebih dominan berwarna merah, dan buah itu yang dimakan oleh Magani dan Melvin.


Berdiri di samping Magani, aku pun bertanya seraya mengamati wajahnya yang penuh dengan cairan merah dari buah yang dimakannya. “Bagaimana rasanya? Apakah itu enak?”


Magani manggut-manggut antusias. “Ini enak. Tap— eh!”


Kami semua sama-sama melotot. Magani menutup mulutnya sendiri, syok karena mendengar suaranya yang berubah.


Suara Magani berubah, mirip seperti suara perempuan. Semakin mendukung penampilannya yang memang agak kemayu.


Bluk.


Aku menoleh ke belakang, menatap Lyman yang juga syok mendengar perubahan suara Magani. Lyman menjatuhkan buah yang baru setengah ia makan. Berbeda dengan Magani, buah yang dimakannya berwarna hijau.


“Kamu memakannya?” tanyaku memastikan.


Lyman mengangguk takut-takut.


“Coba kamu bicara,” titahku, aku ingin tahu bagaimana efek dari buah yang berwarna hijau.


Lyman membuka mulutnya, sebelah tangannya mengusap-usap tenggorokannya, seperti sedang berusaha untuk berbicara. Tapi tetap suaranya tidak ada yang keluar sedikit pun.


“Sepertinya Lyman menjadi bisu,” ujar Magani, aku sempat ingin tertawa karena mendengar suaranya yang begitu nyaring dan amat feminim, tapi tertahan karena teringat nasib Lyman saat ini.


“Bisu?” Dahiku mengerut.


Lyman menepuk-nepuk dadanya, berjalan bolak-balik secara gelisah, melakukan apa saja agar suaranya bisa keluar. Tapi sayang seribu sayang, meski wajahnya sudah memerah pun tetap saja mulutnya yang mangap-mangap itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


“Bagaimana ini?” Magani merengek, aku jadi semakin bingung.


Ketika bola mataku bergulir ke samping, orang yang kucari sudah tidak ada lagi di tempatnya. Melvin, ya Melvin tidak ada lagi di sana, dia menghilang tanpa jejak. Padahal ingin kumintai penjelasan, seolah-olah memang dia ingin menjebak kami semua.

__ADS_1


“Melvin! Dimana kamu?!” Tubuhku berputar, mataku dengan cepat mengabsen seluruh tempat untuk mencari keberadaannya.


***


__ADS_2