
“Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?!” Ethan langsung menyerobot, dia sudah maju mendekati Melvin dengan memasang ekspresi tidak suka.
“Memangnya kenapa?” Melvin menanggapi seperti tidak merasa ada yang salah.
Melvin yang selalu mendadak hadir dan menunjukkan keberadaannya tanpa disangka-sangka, memang sangat misterius. Dia bisa datang dan pergi tanpa membuat orang di sekitarnya sadar, seolah dia hantu betulan.
Ugh, aku jadi merinding!
“Kamu itu tidak diundang, lebih baik kamu pergi! Jangan ikut campur, kamu tidak pernah bisa masuk ke dalam pertemanan kami!” sungut Ethan, dia begitu menyolot sementara Melvin masih setia dengan ekspresi dinginnya.
Lyman maju selangkah, memegang bahu Ethan untuk menenangkan, tapi pandangannya lurus menatap Melvin. “Lagi pula bagaimana bisa kamu tahu kami datang ke sekolah malam ini? Kalaupun kamu menguping, bukankah kamu tidak datang ke sekolah? Siapa yang memberitahu kamu soal ini dan seberapa jauh kamu tahu mengenai rencana kami?”
Dicecari banyak pertanyaan oleh Lyman, Melvin tampaknya santai-santai saja. Saking santainya dia hanya mematung seolah memang tidak berniat untuk menjawab.
“Aku jadi curiga dia punya mata-mata di sekolah untuk memantau kita,” tuduh Magani sambil melayangkan tatapan sinisnya.
“Bukan. Aku tidak seperti itu.” Melvin hanya bisa menyangkal tanpa mau memberikan jawaban yang pasti, tentu saja hal tersebut membuat kami kesal.
Kedua tanganku dilipat di atas dada, lalu ikut mengomentari tindakan Melvin yang mencurigakan, “Dengar ini, apa yang akan kami lakukan malam ini bukanlah urusanmu. Dan juga ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Kami bukan mengadakan acara kemah ataupun sedang menguji nyali. Bukankah sebelumnya sudah aku tegaskan? Menjauhlah, kamu mengerikan!”
Oke, aku tersulut emosi sampai-sampai sulit mengontrol perkataanku. Tapi jujur, ini benar-benar membuatku muak. Melvin dengan tingkah aneh dan tidak jelasnya selalu berhasil membuatku bingung, malas menerka-nerka apa sebenarnya maksud dari tujuannya itu.
“Tinggalkan saja dia. Jangan pedulikan si idiot itu,” sarkas Ethan, aku tidak menyangka dia bisa seberani itu. Padahal kan sebelumya aku merasa dia menjadi korban karena tidak bisa melawan.
Berjalan duluan, Ethan menubruk bahu Melvin yang menghalangi jalan. Ethan dengan segera menaiki dahan-dahan pohon sebagai pijakan untuk menggapai dinding tinggi yang siap dipanjat.
“Kenapa kalian melamun? Ayo ikuti aku!” Ethan memanggil tak sabaran, dia begitu risih dengan kehadiran Melvin.
Satu per satu kami pun mulai membuntuti langkah Ethan, padahal sebelumnya kupikir dia tidak memiliki keahlian dalam memanjat. Lyman di barisan paling belakang, dia yang terakhir berhasil melewati dinding, meninggalkan Melvin yang kuyakini masih membeku tanpa ekspresi.
Kami mulai berjalan mengendap-endap dengan Lyman yang menjadi pemandu jalan, melewati lorong-lorong sepi dengan lampu kelap-kelip seperti dalam film horor. Semuanya berlangsung baik-baik saja sampai akhirnya Magani mendadak mengeluh mulai merasakan hawa aneh hingga membuatnya ketakutan tanpa sebab.
Kesal sebab digelayuti terus oleh Magani, aku mendorongnya karena mulai rikuh. “Aish! Kenapa kamu jadi penakut begini? Itu hanya suara pintu tua yang terbuka karena angin, suaranya memang begitu. Tidak usah berlebihan!”
“Ta-tapi...” Magani terus berusaha mendekatkan tubuhnya padaku, meminta perlindungan.
Lyman yang berjalan di depan sana langsung menoleh. “Kenapa kamu jadi penakut? Kita bahkan belum bertemu pria berjubah yang kita cari-cari. Ini hanya sekolah, yang membedakan hanya gelap dan minim orang saja.”
Ethan menempelkan telunjuknya pada bibir, menyuruh kita untuk tidak berisik. “Ssst! Satpam sekolah pasti sedang patroli, dari pada ribut-ribut lebih baik kita percepat saja langkah kita. Tapi pertama-tama, kita mesti menyelinap masuk ke dalam ruang guru untuk mencari kunci gerbang taman terbengkalai yang akan kita datangi.”
Dan selang beberapa menit setelah Ethan memperingati, kami yang harus memasuki area ruangan guru pun langsung terdeteksi kehadirannya oleh satpam karena cahaya senternya mengarah pada kami. Karena kaget kelabakan, kami malah berpencar-pencar.
Lyman dengan Magani belok ke koridor kanan, sementara aku dan Ethan menaiki tangga menuju lantai dua. Saking paniknya, aku bingung harus apa dan bagaimana.
__ADS_1
Untungnya Ethan langsung menarik lenganku untuk masuk ke salah satu kelas yang pintunya tidak terkunci. Ethan tidak mengajakku bersembunyi di bawah meja, tapi dia langsung mendorongku masuk ke dalam lemari tua kosong yang bau lembab dan berdebu, dia pun ikut masuk dan buru-buru pintu ditutup.
“Dasar anak-anak nakal!” gerutu Pak satpam diiringi langkah kakinya yang tergesa-gesa, suaranya kian mendekat.
Entah karena perasaan atau firasat satpam tersebut kuat, ruangan tempat dimana kami bersembunyi pun ia datangi. Ketika derit pintu kelas pertanda ada seseorang masuk, aku sudah was-was takut kalau ketahuan.
Dari celah pintu yang jaraknya hanya satu jengkal dengan hidungku, pandanganku menangkap cahaya terang dari senter yang sudah diarahkan pada lemari tua yang kami huni, aku yakin wajahku sudah pucat dan pasrah saja jika semisal harus tertangkap.
“Dimana kalian bersembunyi? Cepat keluar dan jangan bermain-main! Sekolah tidak boleh dimasuki oleh murid ketika malam hari, itu peraturan wajib yang seharusnya kalian taati!” omelnya sambil mulai memeriksa meja satu per satu.
“Jangan panik, Jan,” bisik Ethan, aku reflek menggulir ekor mataku untuk menatapnya.
“Bagaimana kalau kita ketahuan?” balasku yang sudah semakin panas dingin.
Hal yang membuat perasaanku sedikit teralihkan adalah ketika Ethan tanpa diduga malah menggenggam tanganku. “Aku akan mengajakmu kabur, tugasmu hanya perlu mendorong satpam itu. Kudengar tenagamu cukup kuat,” kekehnya diakhir ucapan.
Aku hanya angguk-angguk saja dan mulai berpikir untuk tetap tenang dan melakukan apa yang dikatakan Ethan jika memang harus tertangkap nantinya. Tapi tiba-tiba...
“Hei, Pak! Dua anak lainnya sudah diamankan.” Aku mendengar ada seseorang lain yang bicara. “Lebih baik kita mengurus mereka dan desak mereka untuk memanggil teman-temannya yang lain. Kita juga bisa mulai menginterogasi mereka untuk mengetahui apa maksud kedatangan mereka malam-malam begini ke sekolah.”
Gelap, cahaya senter yang menyorot ke arah lemari sudah berpindah. Sepertinya satpam yang mengejar kami tadi sudah menghampiri rekannya dan mulai meninggalkan kami di sini.
“Sepertinya sudah aman, ayo keluar,” ajak Ethan, dia begitu hati-hati membuka pintu lemari. Menyembulkan wajahnya sedikit demi sedikit untuk melihat keadaan sekitar.
“Kita kembali ke ruangan bawah saja dulu, memastikan apakah benar mereka berdua tertangkap. Kalau memang iya, berarti waktu kita harus terbuang untuk menyelamatkan mereka lebih dulu. Atau jika kamu mau, kita bisa pergi tanpa mereka.”
Aku cukup terkejut sekaligus tidak menyangka dengan pilihan terakhir yang disarankan Ethan. Mana mungkin aku bisa meninggalkan mereka berdua, karena melakukan semua ini tidak lepas untuk mewujudkan keinginan mereka juga.
“Hanya becanda.” Ethan menyerengeh seraya mengangkat kedua jarinya. Kemudian mulai memandu jalan, aku membuntutinya.
Ketika sudah menuruni tangga dan hendak mencari dimana keberadaan Lyman dan Magani, langkah kami terhenti ketika menangkap suara bisik-bisik yang memanggil kami. Kepalaku reflek menoleh dan mataku melotot saat mendapati kedua temanku yang katanya sudah ditangkap ternyata sedang bersembunyi dibalik tembok, tangan Magani melambai-lambai.
Aku menarik kerah Ethan untuk menghentikan pergerakannya yang terus saja melaju, lalu tanpa babibu langsung mengajaknya mendekat pada mereka berdua. Lyman menunjukan sebuah kunci dengan wajah sumringah, dapat dipastikan itu adalah kunci yang sedang kami butuhkan untuk membuka gerbang belakang.
“Bukankah kalian ditangkap oleh satpam?” tanyaku kebingungan.
Lyman dan Magani saling tatap menatap, secara bersamaan keduanya mengangkat bahu. Sepertinya keadaan mereka tidak seperti yang terjadi, karena jika memang mereka ditangkap sudah pasti mereka tidak ada di sini.
“Tidak, kami aman. Saat ruang guru tidak sedang dijaga oleh satpam, kami buru-buru menyelinap masuk. Justru aku pikir kalianlah yang sudah tertangkap, karena beberapa satpam sebelumnya mengobrol bahwa ada dua orang yang tertangkap,” ujar Lyman menjelaskan, Magani angguk-angguk meng-iyakan.
Ethan langsung masuk ke dalam pembicaraan. “Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik kita langsung bergegas menuju ke taman belakang sebelum para satpam tadi menemukan kita kembali.”
Benar, daripada membuang waktu hanya untuk memikirkan hal ini, lebih baik kita fokus ke tujuan awal. Berjalan rombongan, kali ini Lyman kembali menjadi pemandu. Berjalan mengendap-endap, berusaha semaksimal mungkin agar tidak ketahuan.
__ADS_1
Sampai di taman belakang sekolah, kami disambut oleh angin kencang yang berhembus. Menerbangkan dedaunan kering, aku reflek menutup mata agar tidak kelilipan.
“Hawa dan suasananya sangat berbeda sekali. Aku dapat merasakan bahwa di sini aliran sihir begitu terasa,” ujar Lyman, ia memejamkan matanya seraya menghirup udara dalam-dalam.
Magani mengangguk-angguk. “Benar. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Yang kutahu, bukankah kita perlu melakukan ritual pemanggilan? Karena kita tidak mungkin menunggu pria berjubah itu untuk berinisiatif datang sendiri kan?” tanya Ethan, aku jadi ikut penasaran.
Lyman memindahkan tas ranselnya ke depan, tangannya merogoh sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah buku usang yang lembar bukunya sudah koyak dan menguning, entah itu buku apa.
“Benar. Kita akan melakukan ritual pemanggilan. Aku tidak tahu apa yang akan kita tanggung nantinya setelah ritual pemanggilan berhasil dilakukan, tapi...” Lyman menggantungkan ucapannya, mulutnya komat-kamit membaca halaman dari buku yang ada di tangannya.
Magani berbisik padaku, “Itu buku yang Lyman dapatkan di ruang guru, buku semacam panduan untuk melakukan pemanggilan pria berjubah yang kita cari.”
Aku hanya mengangguk saja untuk menanggapi, pandanganku fokus mengamati Lyman bersama buku tersebut.
Sesaat kemudian, Lyman mengangkat kepalanya untuk melihat kami semua secara bergantian. Perubahan ekspresinya terlihat jelas, membuatku langsung merasa penasaran apa yang terjadi.
“Kenapa?” tanyaku mewakili dua temanku yang pastinya juga merasa penasaran.
“Jumlahnya kurang,” jawab Lyman lesu.
“Jumlah apa?” Ethan kali ini yang bertanya.
“Jumlah untuk melakukan ritual. Kita butuh satu orang lagi.” Lyman mengangkat bukunya, menunjukkan pada kami. Memperlihatkan sebuah halaman yang memiliki gambar sebuah bintang dengan penjelasan yang tak bisa aku baca sebab tulisannya amat kecil.
“Kalian lihat?” Jari Lyman menunjukan gambaran bintang di buku tersebut. “Sudut dari bintang ini ada lima. Jumlah orang yang dibutuhkan tentunya harus lima. Sementara kita di sini hanya berempat.”
“Jangan khawatir!”
Bariton yang mendadak menyerobot masuk ke dalam obrolan, berhasil menarik seluruh atensi kami. Kepala kami pun menoleh ke sumber suara karena reflek.
“Melvin?!” Dan kami semua secara serempak menyebut nama dari seseorang yang lagi-lagi selalu muncul dan menghilang dengan tiba-tiba.
“Aku bisa membantu kalian. Aku yang akan menjadi pelengkap dan kita semua bisa segera melangsungkan ritual ini. Tidak perlu sungkan, toh sebelumnya aku sudah membantu kalian,” jelas Melvin begitu percaya diri.
Aku mengerutkan dahi. “Membantu kami?”
Melvin mengangguk mantap. “Soal satpam tadi.”
Pikiranku langsung berputar-putar, tapi tetap saja tidak mengerti bagaimana cara Melvin melakukannya. Rasanya segala hal tentangnya memang selalu misterius dan di luar nalar.
“Jadi bagaimana?” Melvin menunggu jawaban. “Kalian tidak punya pilihan untuk menolak, 'kan?”
__ADS_1
***