War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 7 - Terlempar ke Dunia Lain.


__ADS_3

Setelah Magani berhasil tersedot masuk ke dalam lubang tersebut, kami yang tersisa pun mulai mengikuti jejak Magani. Tubuhku melayang tanpa kutahan, merasa pasrah karena sadar sejak awal ini keputusan yang kupilih.


Memasuki lubang hitam yang sebelumnya kutakuti, aku merasa seperti terlempar ke dalam ruang atau lorong dimensi waktu. Semua kenangan yang pernah terjadi di masa lalu ; kenangan tentang Mama, ditampilkan secara acak dan pelan-pelan bergerak bagaikan kaset rusak.


Aku tak mengerti, anehnya aku malah meneteskan air mata. Aku berpikir bahwa semua kenangan tentang Mama akan terhapus atau ter-riset ulang dikarenakan aku harus menapaki dunia baru, otomatis aku akan hilang ingatan bukan? Setidaknya itu yang aku takutkan.


Beberapa menit kemudian, ketika kenangan yang berputar itu mulai memudar, kedua mataku seperti dipaksa terpejam. Lalu pikiranku menghitam, samar-samar suara angin yang berhembus pun mulai sayup-sayup aku dengar.


Dan aku mulai tak sadarkan diri.


***


Aku mengerjap-ngerjap, indera perasa tubuhku sudah berfungsi. Aku terbaring di hamparan dedaunan kering, pandanganku mengedar menatap bentangan langit yang nyaris menggelap.


Aku tidak tahu ada dimana, tidak tahu juga saat ini pukul berapa. Tapi dilihat dari suasana dan warna langit, rasanya malam akan segera tiba.


Mendudukkan tubuh secara perlahan, aku celingukan. Hanya aku sendirian, dimana teman-temanku? Tapi tunggu, aku pikir aku akan kehilangan ingatan, tapi ternyata aku masih mengingat mereka.


Lyman, Magani, Ethan, lalu Melvin. Ya, aku ingat mereka semua. Bahkan aku ingat mengapa aku bisa berada di sini. Juga ingatan tentang Mama masih tersimpan rapih, setiap detailnya tidak aku lupakan sedikit pun.


Beringsut dari posisi duduk, aku berdiri. Tanganku mengusap-usap bagian tubuhku untuk menepis dedaunan yang menempel, dan aku baru sadar pakaian yang aku kenakan ternyata berbeda dengan yang aku gunakan sebelumnya.


Seperti bersekolah di Akademi sihir, aku mengenakan dress model jumpsuit sebatas lutut dengan bagian dalam berwarna putih dan rompi berwarna merah maroon. Lalu jubah tebal lengkap dengan tudungnya membalut tubuhku, sudah mirip seperti penyihir, hanya kurang tongkat saja.


Aku merasa keren untuk sesaat, tapi mengingat aku masih belum tahu dimana keberadaan teman-temanku membuatku jadi cemas seketika. Aku tidak boleh berdiam diri di sini, jangan sampai aku bermalam di dalam hutan antah berantah yang pastinya dipenuhi oleh hewan buas.


Berjalan tanpa arah, aku hanya mengandalkan insting. Berharap di depan sana aku bisa menemui jalan keluar yang dapat membawaku pada teman-temanku yang lain.

__ADS_1


Meski sejujurnya aku sedikit takut. Takut kalau sebenarnya hanya aku yang terlempar ke dunia ini, sementara yang lain berpencar entah kemana.


Dilihat-lihat, aku masih belum menemukan perbedaan dari dunia dimana aku dilahirkan dengan dunia yang masih belum kuketahui ini. Semuanya sama, hutan tempat dimana aku pertama kali terbangun, sama persis dengan hutan yang pernah aku temui di dunia sebelumnya.


Saat tungkai kakiku mulai terasa pegal, sebab kira-kira hampir satu jam lamanya aku terus berjalan, tapi aku masih senantiasa berkutat di hutan tanpa ada tanda-tanda bahwa aku bisa keluar dari sini. Dan anehnya, langit yang kupikir akan segera berganti malam ternyata masih belum berubah.


Aku ingin menyerah, rasanya aku sudah lelah jika harus terus berjalan tanpa tujuan yang jelas. Tak apa jika pada akhirnya aku harus bermalam di hutan, sudah pasrah jika harus dihadapkan dengan binatang buas yang ingin menerkam.


Jadi untuk melepas penat sejenak, aku memutuskan untuk duduk dan bersandar pada pohon rindang yang terlihat begitu nyaman dan sejuk. Pohon beringin dengan akar pohon gantung yang menjuntai-juntai bergerak lembut diterpa angin.


Memejamkan mata sebentar, aku menikmati udara segar dari angin sepoi-sepoi yang menyapa permukaan kulit. Sampai akhirnya, aku dikejutkan oleh sesuatu yang bergerak di belakang punggung.


Permukaan dari batang pohon yang kusandari bergerak-gerak, lebih tepatnya seperti sedang meliuk-liuk. Saat kubuka mata dan mendongak untuk melihat apa yang terjadi, di detik selanjutnya aku melotot dengan detak jantung yang berhenti sesaat.


“Halo, adik manis!”


“Ada apa? Kenapa kamu terkejut? Apa mungkin kamu penghuni baru dunia ini?” tanyanya kemudian.


Aku hanya bisa mengangguk-angguk tanpa bisa memberi jawaban. Masih membeku karena syok dengan apa yang aku lihat saat ini.


Masih tidak menyangka bahwa aku benar-benar terlempar ke dunia fantasi layaknya dunia dongeng yang sering aku idam-idamkan. Dimana pepohonan dapat berkomunikasi dengan manusia.


“Wah, kebetulan sekali. Kalau begitu kamu harus segera dijemput,” ujarnya yang membuatku mengerutkan kening karena bingung.


Aku lantas menanyakan agar tahu lebih jelas, “Segera dijemput? Oleh siapa?”


Pertanyaanku belum terjawab sebab tiba-tiba saja seekor burung hantu datang dan hinggap di salah satu dahan pohon beringin yang tengah mengobrol denganku.

__ADS_1


“Olehku!” sahut burung hantu tersebut, dari dahan pohon beringin ia terbang ke hadapanku.


Bukan hanya pepohonan, ternyata hewan pun bisa berbicara. Aku benar-benar dibuat takjub, karena keinginanku untuk mendatangi dunia seperti ini sudah terwujud.


Kembali fokus menatap wujud burung hantu tersebut, tak lama sekepulan asap muncul dan menutupi tubuh burung itu. Saat asap hitam hilang dari pandangan, yang terlihat adalah wujud lain.


Seorang pria dengan pakaian seperti seorang penggembara—yang kuyakini adalah burung hantu tadi— menghadap padaku. Rambut gondrongnya yang menutupi telinganya yang runcing berhasil menarik perhatianku.


Pakaian dalam yang ia kenakan berwarna hijau army, dibalut dengan mantel cokelat terang yang menjuntai hingga paha. Celana hitamnya memperlihatkan bentuk kakinya dan sepatu kulit yang ia gunakan menutupi betis.


“Ayo ikut denganku,” ajaknya sambil mengulurkan tangan.


Aku yang tidak mau asal ikut tanpa tahu kejelasannya, tentu reflek memundurkan tubuh sebagai respon pertahanan. “Kemana? Aku bahkan tidak tahu siapa kamu.”


Dia membungkukkan tubuhnya dengan sebelah tangan yang ia simpan di dada, begitu sopan ketika akan memperkenalkan diri. “Perkenalkan, namaku Fred. Penjaga hutan ini. Sebelumnya aku sudah mencari-cari keberadaanmu. Dan akhirnya aku menemukanmu di sini. Yang lain sudah berhasil aku temukan dan mereka sudah berkumpul menunggu kedatanganmu.”


Seperti melihat secercah cahaya di ujung lorong yang gelap, aku merasa diberi petunjuk. Sekaligus bahagia karena tahu teman-temanku ada di dunia ini. Tapi tunggu, apa benar ‘mereka’ yang dimaksud Fred adalah teman-temanku?


“Bisa kamu sebutkan salah satu ciri-ciri dari mereka?” tanyaku untuk memastikan.


“Ada Lyman, kulitnya lebih gelap dari yang lain. Ada Magani dengan ukuran tubuh kecil dan lebih pendek, dia identik dengan mata sipitnya. Dan terakhir Melvin, dia pendiam dan kulitnya putih pucat,” papar Fred dengan detail, membuat keraguan dalam diriku terhempas seketika.


Tapi kalau tidak salah, aku tidak mendengar nama Ethan disebut olehnya. Apa mungkin aku yang tidak mendengar?


“Bagaimana dengan Ethan? Apa dia tidak ada di sana?” tanyaku kembali seraya beranjak dari posisi duduk.


Fred menjawab dengan raut kebingungan, “Itu yang menjadi masalah. Sejak awal Ethan tidak pernah ada di hutan ini atau bahkan tidak ada di dunia ini. Ethan diperkirakan...”

__ADS_1


***


__ADS_2