War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 8 - Misi Pertama.


__ADS_3

“Diperkirakan apa?” tanyaku tak sabaran sebab Fred menggantungkannya ucapannya.


“Ethan diperkirakan hilang. Jejaknya tidak terendus atau mungkin sengaja dihilangkan oleh si penculik,” terang Fred, aku termangu sejenak.


Fred kembali mengulurkan tangannya padaku. “Jangan banyak berpikir, sekarang kamu ikut saja dulu denganku. Biarkan masalah ini dirundingkan bersama teman-temanmu yang lain nanti.”


Aku mengangguk setuju. “Baiklah.”


Ketika aku sudah menerima uluran tangannya, tubuhku ditarik oleh Fred sehingga tubuh kami saling berdempetan. Aku sedikit terkejut ketika lengan Fred turun untuk memegangi pinggulku.


“Maaf, tapi hanya dengan ini cara kita bisa berteleportasi,” jelas Fred buru-buru, mungkin takut aku salah paham.


“Lalaladuna!” Kalimat yang entah apa artinya itu Fred ucapkan, di detik berikutnya raga kami seperti ditarik ke atas awang-awang, mataku melotot saking terkejutnya.


Serupa mengedipkan mata, waktu sesingkat itu bisa membuat kami berpindah tempat. Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam sebuah rumah tua yang diisi oleh barang-barang antik.


“Janeee!” Aku cukup terkejut saat mendengar panggilan dengan suara yang amat nyaring, berhasil membuat jantungku berdebar tersentak.


“Jane, akhirnya kamu datang juga.” Dari suaranya ini pasti Lyman.


Aku membalikan badan, menatap kedua temanku yang sudah menungguku sejak tadi. Magani langsung berlarian ke arahku, menghambur dengan pelukan eratnya.


“Aku pikir aku tidak akan melihatmu lagi,” ungkap Magani sambil terus mendusel-duselkan wajahnya padaku, dia begitu manja.


Aku terkekeh. Menyentil dahi Magani sekilas lalu mendorong tubuhnya agar menjauh. “Ayolah, jangan berlebihan.”


Lyman datang padaku, dia ikut mendekat. Aku cukup kagum dengan pakaian yang dikenakan olehnya, ditambah penampilan Lyman semakin menarik dengan kacamata bulat yang bertengger di hidung mancungnya.


“Kamu cocok dengan pakaian itu, Jane.” Lyman memujiku lebih dulu, jelaga hitam miliknya mengamatiku sambil membentang senyum.


Aku tersenyum simpul. “Kamu juga cocok dengan pakaian itu. Mirip sekali dengan tokoh laki-laki dalam film fantasi bertemakan sihir yang menjadi favorit banyak orang.”

__ADS_1


Kami semua mengenakan jubah hitam yang menjuntai, benar-benar mirip dengan pakaian para murid akademi sihir. Andai saja kami juga bisa mengendalikan sihir. Tapi rasanya mustahil, kami datang ke sini bukan untuk hal itu.


“Bagaimana denganku? Bukankah pakaian ini juga cocok untukku?” Magani berputar-putar, membuat jubah hitam yang berpadu dengan warna hijau tua itu mengembang indah. Sementara kemeja dan celana pendeknya seragam dengan Lyman, yang membedakan hanya model jubah dan perpaduan warnanya saja.


Sederhananya begini, aku hitam dan merah maroon, sementara Magani hitam dan hijau army, lalu Lyman hitam dan cokelat tua. Entah mengapa seragam kami tidak di sama ratakan warna dan modelnya.


“Kenapa tidak ada yang memujiku?” Magani merajuk, merasa diabaikan sebab di antara kami tidak ada yang merespon. Aku dan Lyman hanya cekikikan melihat ekspresinya itu.


Fred berjalan mendekati kami, membuat gelak tawa kami melenyap seketika. Fred memandangi wajah kami satu per satu, mengamatinya dengan tatapan serius. Aku mendadak merasakan ketegangan dalam suasana ini.


“Aku membawa kalian ke sini bukan untuk membahas hal yang tidak penting. Teman kalian, Ethan, menghilang. Kalian tidak mau mencarinya? Bisa saja ini petunjuk dari penguasa semesta bagi kalian sebagai pendatang baru untuk menyelesaikan misi,” papar Fred memberitahu.


Lyman mengangguk-angguk. “Benar, kita harus mencari keberadaan Ethan. Karena tanpa Ethan kita tidak bisa mendapatkan bubuk peri yang sejak awal kita inginkan.”


Baru saja aku akan membuka mulut untuk memberi suara, tapi...


“Aku rasa kalian telah dibodohi.” Suara yang tak asing di telinga tiba-tiba saja masuk ke dalam obrolan.


Mengangkat kepala sambil menurunkan tudungnya, nampaklah wajah Melvin yang menjadi dugaanku sebelumnya. Seperti biasa, kehadirannya itu memang tak pernah bisa langsung disadari, membuatnya selalu terlihat misterius.


Berbeda dengan kami, pakaian yang dikenakan Melvin seluruhnya berwarna hitam, jubahnya pun lebih lebar dan panjang menjuntai hingga betis. Juga dia tidak mengenakan kemeja dengan celana pendek layaknya Lyman dan Magani yang menampilkan sebagai siswa. Baju serta celana yang melekat pada tubuhnya tersebut mirip seperti seorang penyihir yang kharismatik.


“Saranku, lupakan saja Ethan. Tidak ada bubuk peri di dunia ini. Semua itu dusta. Apa yang dia katakan tidak bisa dipercaya. Setelah terlempar ke dunia ini, tujuan kalian tak lepas untuk mengembalikan apa yang hilang dari dunia ini.”


“Apa maksudnya itu? Justru yang terlihat sedang berdusta dengan bualan kosong itu adalah kamu,” sergah Magani tak terima.


Aku melipat kedua tangan di depan dada sambil melepaskan nafas jengkel, lagi-lagi muak dengan sikap Melvin yang selalu menggiring orang lain untuk membenci Ethan. “Omonganmu itu tidak bisa dimengerti. Apa yang akan kami lakukan biar saja itu urusan kami. Sebelumnya terima kasih karena telah membantu kami untuk bisa sampai ke sini. Dan apa yang kamu katakan tadi, lakukan saja sendiri.”


Lyman menyelinap di antara tubuhku dan Magani, kedua tangannya merangkul bahu kami. “Itu benar, Melvin. Biarkan kami melakukan apa yang kami mau lakukan. Ethan sudah menjadi bagian dari pertemanan kami, dan sudah seharusnya kami membantunya.”


Magani mencibir dengan tatapan julidnya, “Dan juga tidak usah sok tahu. Kami sudah melihat sendiri soal bubuk peri yang kamu sebut tidak ada. Ethan lebih tahu tentang itu.”

__ADS_1


Fred yang sebelumnya menjauh dari kami tiba-tiba datang tergesa-gesa untuk bergabung dengan kami kembali. Di tangannya ada sebuah batu dari liontin yang terpasang di lehernya. Fred berdiri di tengah-tengah, lalu menunjukkan benda tersebut pada kami.


“Lihat! Aku menerima sinyal, apakah ini Ethan yang kalian maksud?” tanya Fred sambil memperlihatkan batu liontin yang mirip seperti hologram, dimana liontin tersebut menampilkan rekaman kejadian di suatu tempat.


Kami semua melihat Ethan tengah terduduk lesu dengan tali yang mengikat tubuhnya sehingga ia tidak bisa bergerak. Kepalanya menunduk, sepertinya Ethan dibuat tak sadarkan diri.


“Datangi kastil dibalik gua keabadian sebelum bulan purnama ke tujuh terjadi. Jika kalian telat, maka teman kalian ini sudah tidak lagi bernyawa,” ujarnya dengan ancaman yang tidak main-main, dan setelah mengatakan hal itu batu liontin milik Fred tak lagi menampilkan apa-apa.


“Apa kamu tahu dimana tempat gua keabadian, Fred?” ujarku langsung bertanya.


Fred mengangguk. “Jauh sekali. Mustahil kalian bisa sampai ke sana. Karena setelah keluar dari hutan ini, kalian akan dihadapkan dengan hutan kematian yang mana sulit untuk kalian lewati. Banyak rintangan dan serangan dari berbagai arah sehingga mungkin kalian lebih dulu tumbang sebelum sampai di kastil milik penyihir terkenal yaitu Mrs. Triona.”


Melvin langsung menyahut, “Sudah kubilang, tidak usah kalian datang ke sana. Lagi pula, siapa itu Mrs. Triona? Dia bukan penyihir, dia itu—”


“Kami tidak butuh komentarmu, Melvin,” sanggah Lyman cepat. “Kami akan tetap datang ke sana bagaimanapun caranya.”


“Kamu yakin, Man?” Magani bertanya memastikan.


“Kenapa? Kamu takut? Tidak perlu ikut jika kamu takut, dan lupakan saja soal bubuk peri yang bisa menyembuhkan adik perempuanmu itu,” jawab Lyman tegas, kelihatannya ia begitu bersemangat tidak peduli bahwa yang akan dihadapi bukanlah hal yang mudah.


“A-apa?! Tentu saja aku akan ikut. Bagaimana denganmu, Jane?” Magani menyorotku.


Meski tidak tahu se-berbahaya apa rintangan yang akan kami hadapi, dan se-mustahil apa keberhasilan yang bisa kami raih, aku tetap memilih untuk percaya. Bahwa selagi dengan mereka berdua, hal yang tidak mungkin terjadi sekalipun pasti bisa terjadi.


Menatap mereka berdua secara bergantian, lalu aku menjawab, “Aku juga akan ikut dengan kalian. Tidak mungkin aku diam di sini sendirian, kan?”


“Kalau begitu ayo kita bersiap, hari ini juga kita pergi ke sana. Fred, bisa kamu beri kami peta sebagai petunjuk jalan?” Lyman menatap Fred yang tengah kebingungan karena kami yang tetap kukuh ingin pergi meskipun tahu resikonya tinggi.


“Tunggu dulu. Jika kalian pergi tanpa persiapan apa-apa, itu sama saja seperti kalian pergi hanya untuk menyetor nyawa secara cuma-cuma. Jadi, mari ikut sebentar. Ada yang ingin aku berikan pada kalian,” ajak Fred, tubuhnya sudah berbalik dan berjalan duluan untuk memandu kami.


***

__ADS_1


__ADS_2