
Fred masih berjalan memandu kami untuk mengelilingi atau room tour rumah gubuk yang kupikir begitu sempit dan dipenuhi oleh barang-barang antik saja. Tapi setelah menjelajah beberapa bagian, rumah yang dihuni cukup luas jika untuk ditinggali sendiri.
“Apakah ini rumahmu, Fred?” Lyman bertanya di sela-sela perjalanan.
“Bisa dibilang begitu. Tapi aku jarang pulang,” jawab Fred tanpa memindahkan pandangannya dari depan.
“Kenapa?” Magani bertanya ikut penasaran.
“Aku sibuk memantau hutan ini. Setidaknya dalam sebulan, pasti selalu ada orang-orang seperti kalian yang datang. Ada yang sendiri, ada pula yang berkelompok. Tapi baru kalian yang datang dengan raut wajah ceria dan bersemangat, sebelum-sebelumnya mereka semua mengeluh dan meminta ingin dikembalikan. Misi mereka yang dijalani pun beragam, dari yang termudah dan yang paling tersulit,” papar Fred membuat kami semua mengangguk-angguk paham.
Karena ada pertanyaan yang mengganjal, akhirnya aku pun bertanya, “Jika boleh tahu, apa misi tersulit yang paling diterima sejauh ini?”
Fred lantas menatapku, pandangannya membuatku agak bergidik. “Misi yang kalian terima.”
Kami bertiga saling memandang. Magani langsung memasang wajah kalut.
Kembali menatap lurus ke depan, Fred menyambung ucapannya, “Entah karena kalian datang berkelompok, jadi misi yang kalian terima bisa dibilang sulit karena harus berhadapan langsung dengan penyihir jahat dan terkenal di negeri ini.”
Aku hanya bisa menghela napas. Sudah sejauh ini, tentunya kami tidak bisa mundur begitu saja. Aku masih ingat tentang omongan pria berjubah tak berwajah yang membukakan portal sampai kami semua bisa terlempar ke dunia ini, siap tidak siap kami semua harus menjalani apa yang sudah diperintahkan.
“Lalu, ketika kami berhasil menyelesaikan misi, apakah kami semua bisa kembali ke dunia asal kami?” Lyman kembali bertanya.
Fred tidak langsung menjawab, dia seperti sedang berpikir serius. “Hmm, aku tidak bisa menjamin. Dan itu bukan tugasku untuk menjawab. Aku hanya ditugaskan untuk mengarahkan orang-orang seperti kalian agar memiliki petunjuk untuk melakukan sesuatu.”
Tubuh Magani mendesak ke arahku, kemudian dia berbisik, “Bagaimana jika kita tidak bisa kembali, Jan? Kita akan terperangkap di dunia ini selamanya. Di dunia antah berantah yang segalanya masih tertutup misteri.”
Aku mendesis pelan, Magani terlalu menunjukkan rasa takutnya secara berlebihan. “Memangnya kenapa? Bukankah ini dunia yang kita mau? Setelah menyelamatkan Ethan, kita bisa melakukan perjalanan untuk mencari bubuk peri. Jika memang tidak bisa kembali, kita bisa hidup di dunia sihir dan tentunya kita bisa belajar menguasai macam-macam sihir. Bukankah itu menyenangkan?”
Bukannya merasa terhibur, Magani justru semakin terlihat sedih. Kepalanya menekuk, bahunya melesu. “Mungkin bagimu, bagi orang yang tidak memiliki tanggungan apa-apa atau tujuan khusus, jika tidak bisa kembali pun tidak masalah. Tapi bagiku, yang memiliki satu-satu nya anggota keluarga dan tengah mengalami sakit parah tentu saja sangat ingin kembali sembari membawakannya bubuk peri. Aku ingin dia sehat kembali.”
Oh, tidak. Aku sudah melukai hatinya. Aku benar-benar tidak menyadari hal itu. Benar, aku yang memang sejak awal melakukan perjalanan untuk melarikan diri dan untuk kesenangan semata tidak bisa di sama ratakan dengan Magani juga Lyman yang memiliki tujuan.
“Hei, sudahlah.” Lyman mencoba menyudahi obrolan kami. Tangannya merangkul Magani yang masih cemberut. “Kenapa sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi? Kita lakukan satu per satu saja dulu, dan jangan memikirkan hal lain sebelum apa yang akan kita lakukan bisa terselesaikan.”
“Benar, kunci agar hidup kalian tenang adalah jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi,” Fred berujar, menyumbang omongan. “Aku suka semangat kalian sebelumnya. Pertahankan itu. Tidak mudah bertahan di dunia ini. Jika ingin kembali, pastikan kalian selamat dan aman sampai misi berakhir. Setidaknya lakukan itu saja dulu.”
Kami bertiga diam, hanya memberi anggukan setuju.
Setelah beberapa menit hampir memutari seisi rumah, akhirnya Fred membawa kami untuk memasuki sebuah ruangan yang dari pintunya aku bisa menyimpulkan bahwa ruangan tersebut adalah gudang. Gagang pintu berkarat, daun pintu kotor dan penuh dengan debu yang tebal.
“Silakan masuk.” Fred membukakan pintu, Lyman lebih dulu masuk dan disusul olehku dan Magani.
Semerbak bau lembab dengan hawa yang dingin langsung menyerap masuk ke dalam indera perasa, mataku mengabsen seluruh penjuru ruangan berdinding kayu yang dipenuhi oleh sarang laba-laba yang menghuni setiap sudut ruangan dan mengelilingi atap.
“Maaf jika berantakan, karena ruangan ini tidak pernah aku cek selama beberapa waktu. Aku membawa kalian ke sini karena misi yang harus kalian jalani begitu sulit. Itu sebabnya aku ingin membantu kalian dengan memberikan beberapa barang yang mungkin bisa kalian gunakan nantinya,” terang Fred, dia berjalan mendekati rak yang diisi oleh barang-barang yang tidak kuketahui namanya.
Fred mengambil sebuah kendi berukuran kecil lalu menunjukkannya pada kami, tapi pandangannya berhenti dan jatuh pada Magani. Ia memandang Magani begitu lekat, seperti sedang mengamati dan berpikir.
“Kenapa? Tatapanmu membuatku bertanya-tanya.” Magani tersenyum kikuk, tampaknya ia agak risih.
“Mendekatlah,” titah Fred.
__ADS_1
Magani memandangku dan Lyman secara bergantian, kemudian barulah menghampiri Fred dengan langkah takut-takut.
“Aku sudah menduganya,” papar Fred.
“Menduga apa?” Dahi Magani berlipat tanda kebingungan.
Fred menunduk, menatap kendi yang sudah dibuka, bahasa tubuhnya membuat Magani ikut menunduk untuk melihat. Karena aku tidak tahu apa isi dari kendi tersebut, aku hanya bisa menerka mungkin isinya sesuatu yang luar biasa hingga membuat tatapan Magani berbinar-binar.
“Bubuk peri?!” pekik Magani, kaki pendeknya itu hampir akan melompat.
Tapi tertahan sebab Fred langsung buru-buru menyahut, “Bukan.” Fred memasukan lengannya ke dalam kendi, mengambil segenggam serbuk bercahaya kebiruan yang juga ditunjukkan pada kami.
“Ini bukan bubuk peri. Ini adalah bubuk sihir. Aku akan memberikannya padamu. Melihat bahwa kamu tidak cukup pemberani, maka aku menyarankan kamu menggunakan bubuk sihir ini jika ingin melakukan pertahanan diri,” jelas Fred menerangkan.
“Bagaimana cara menggunakannya?” Meski tahu bukan bubuk peri, rasa antusias Magani tidak pudar.
“Bubuk sihir berwarna biru gelap, yang sedang aku pegang ini, bisa membuat lawanmu buta selama 15 detik. Bubuk sihir ini bisa kamu gunakan dalam kondisi darurat.” Fred menaruh kendi itu, lalu mengambil kendi lain.
“Dan ini bubuk sihir berwarna kuning menyala. Fungsinya mirip seperti bubuk peri, ini bagaikan penawar luka. Hanya saja tidak semua luka bisa diobati. Untuk luka apa saja yang bisa ataupun tidak bisa diobati aku tidak tahu persisnya, tapi bisa kamu buktikan sendiri nantinya. Pesanku satu, jangan mentang-mentang kamu memiliki bubuk ini kamu tidak bersikap hati-hati atau sengaja menciderai diri sendiri. Ingat, bubuk ini jumlahnya lebih sedikit.”
“Dan yang terakhir...” Fred kembali mengambil kendi yang lain. “Ini bubuk sihir berwarna merah. Hanya bisa kamu gunakan di kondisi darurat saja dan pastikan jangan menggunakannya sampai habis. Sebab kegunaan dari bubuk sihir ini adalah bisa membuat diri tidak terlihat dalam jangka waktu yang terus bertahap tergantung berapa kali penggunaan. Resiko jika menggunakan sampai habis, bisa saja kamu terus menghilang dan tidak bisa terlihat lagi.”
Magani manggut-manggut, penglihatannya fokus mengamati bubuk sihir yang ada di tangan Fred. “Cara memakainya hanya ditaburkan saja, 'kan?”
“Benar, ditaburkan sesuai dengan penggunaanya.” Fred memasukan tiga kendi yang berisi bubuk sihir tersebut ke dalam tas selempang berwarna cokelat, lalu mengalungkannya pada Magani. “Gunakan dengan baik, aku percaya padamu.”
“Terima kasih.” Magani tampak terharu. Dia tak henti-hentinya memandangi tas selempangnya tersebut. Dia kembali ke barisan, giliran Fred memanggilku atau Lyman selanjutnya.
Sementara itu, Fred beralih dari rak ke sebuah lemari tua yang dikunci oleh gembok. Selesai membuka gemboknya, Fred membuka dan menunjukkan apa isinya pada kami semua.
Terpampang jelas bahwa di sana penuh dengan beberapa busur panah yang berjejer rapih dengan beragam bentuk yang membuatku terpana. Terangnya sinar dari pernak-pernik yang menjadi aksesoris dalam busur dan panah tersebut sedikit menerangi ruangan gudang yang minim pencahayaan.
Aku meneguk ludah, apakah aku mungkin ditunjuk untuk menjadi pemanah?
“Lyman. Kemarilah,” panggil Fred, langsung mematahkan ekspektasiku sebelumnya.
Sudah jelas bahwa yang akan menjadi pemanah adalah Lyman dan bukan aku. Ada sedikit perasaan kecewa, tapi mungkin Fred punya alasan khusus mengapa memilih Lyman.
“Pilih busur panah mana yang kamu sukai,” titah Fred, membuat Lyman langsung kebingungan dan senang dalam satu waktu.
Lyman menggunakan gaya andalannya —mengusap dagu dengan alis yang bertaut. Tak lama, tangan Lyman terulur ke depan untuk menunjukkan pilihannya.
Sebuah busur berwarna hitam legam tetapi nampak berkilau tersebut menjadi pilihan Lyman. Bentuk busur tersebut bagaikan dua sayap burung yang lebar, karena berwarna hitam pekat jadi sayap itu mirip seperti burung gagak yang lebarnya setara dengan elang.
Sementara bagian pegangan busur tersebut berwarna coklat yang senada dengan garis di jubah Lyman. Dan untuk ujung panahnya dihiasi oleh tiga bulu berwarna hitam, lalu di bagian mata panah yang amat runcing sepertinya terbuat dari emas, setidaknya itu yang bisa kusimpulkan setelah melihat warnanya.
“Semua panah yang akan kuberikan padamu akan ditaruh dalam kantong panah ini.” Fred memperlihatkannya pada kami. Kantong panah itu terbuat dari bahan kulit berwarna coklat, ukiran yang terpampang menampilkan sayap burung berwarna hitam.
“Kamu hanya diberi 30 buah panah dalam satu kantong ini. Dan dari 30 buah panah ini terbagi dalam tiga kategori. Bisa kamu bedakan dari bagian panah yang memiliki bulu ini. Satu bulu, dua bulu dan tiga bulu.” Ketika Fred menjelaskan ini, aku baru sadar kalau ternyata panahnya tidak sama.
“Panah dengan bulu satu, ini yang paling terendah. Dalam artian hanya bisa kamu gunakan dalam skala kecil. Contohnya ketika kamu sedang berusaha melarikan dari kejaran binatang buas, panah ini bisa memberi reaksi melumpuhkan selama beberapa waktu. Dan jumlah panah ini hanya ada 20 buah.”
__ADS_1
Mengambil panah lain, Fred kembali menjelaskan, “Dan panah dengan bulu dua, ini satu tingkatan di atas panah tadi. Bisa kamu gunakan untuk membunuh jika kamu bisa memanahnya secara tepat sasaran. Jumlahnya hanya ada 17 buah saja.”
Menaruh dua panah di tangannya, Fred mengambil panah lain yang menyita perhatianku sedari awal. “Tiga panah terakhir ini, dengan jumlah bulu tiga sebagai aksesoris di atasnya, hanya boleh kamu gunakan ketika sedang melawan Mrs. Triona. Ini langkah terakhir, dan bisa kupastikan penyihir itu lumpuh dalam beberapa waktu karena racun yang tersebar dalam tubuhnya. Bisa dikatakan racun dalam panah ini dosis tinggi, jadi pastikan bahwa kamu menggunakan panah ini hanya untuk penyihir jahat itu.”
Lyman langsung melontarkan pertanyaan, “Hanya bisa melumpuhkan saja?”
Fred mengangguk. “Benar. Tapi kalian bisa melakukan perlawanan combo untuk bisa benar-benar membunuhnya. Ketika kamu berhasil memanah penyihir itu, temanmu yang lain melakukan penyerangan juga.”
Pandangan Fred menggulir, mendarat padaku. “Sekarang giliranmu, Jane.” Tangannya menyuruhku mendekat, aku dengan penuh semangat langsung berlarian kecil untuk mendekat padanya.
Fred menarik peti dari bawah meja, peti yang sudah dilapisi debu yang tebal tersebut membuatku bersin-bersin. Peti berwarna putih yang mulai menguning itu mirip seperti peti mati.
Tidak mungkin di dalam peti tersebut ada mayit, 'kan?
Dan untungnya memang tidak ada. Ketika Fred membuka peti itu, yang ada di dalamnya hanyalah sebuah senjata kapak besar dengan tinggi yang nyaris menyamai tubuhku. Kapak dengan ujungnya yang runcing tersebut berwarna ungu kehitaman.
Entah bagaimana konsep dan bentuk dari kapak besar tersebut. Tapi di bagian pangkal kapak terdapat sebuah tengkorak kecil yang mungkin menjadi aksesorisnya agar tampak lebih mengerikan dan menarik.
Sementara dibagian pegangan kapak seperti terbuat dari kristal keunguan, amat berkilau. Dan diujung pegangan ada simbol bulan separuh yang tampak cantik.
“Bagaimana menurutmu? Kamu menyukainya?” Pertanyaan Fred membuyarkan pikiranku.
Hanya dengan sekali melihat, aku langsung jatuh hati pada senjata itu. Meski aku tidak tahu dan tidak punya pengalaman untuk menggunakannya, tapi aku sangat ingin menjadi pengguna dari senjata tersebut.
“Aku sangat suka. Tapi jika dilihat dari ukurannya itu sangat berat.” Tanganku perlahan terulur, ingin menyentuh permukaan dari kapak tersebut. Rasanya dingin, dan belum lama aku menyentuhnya, kapak itu mengeluarkan sinar yang menyilaukan mata dan itu terjadi hanya seperkian detik.
“Kapak itu akan sangat cocok denganmu. Kapak dengan ukuran besar ini memang berat, tapi aku percaya kamu dapat membawanya. Sinar yang muncul ketika kamu menyentuhnya tadi sebagai bentuk respon bahwa kamu memiliki bakat untuk menggunakan senjata ini,” tanggap Fred yang membuatku semakin ingin segera melakukan sesuatu dengan kapak itu.
“Boleh aku angkat?”
Fred mengangguk. “Silakan.”
Ketika aku mengangkat kapak itu, dugaanku yang sebelumnya bahwa kapak itu akan terasa berat ternyata langsung terpatahkan. Aku begitu mudah mengangkatnya, bahkan aku sanggup menaruhnya pada bahu.
“Hei, kamu kuat sekali, Jane,” ujar Magani, dia berlari kecil, menghampiriku. “Boleh aku mencoba untuk memegangnya?”
“Tentu saja.” Aku menyerahkannya pada Magani dengan mudahnya. Tapi ternyata, belum sepenuhnya kapak itu aku lepas, Magani sudah kewalahan dan nyaris akan menimpa tubuhnya sendiri jika tidak aku tahan.
“A-akkh, ini berat sekali! Bagaimana bisa kamu mengangkatnya tanpa mengeluarkan ekspresi?” Magani masih berusaha menahan, urat-urat di lehernya muncul dan wajahnya mulai berubah merah.
Lyman yang sepertinya penasaran, buru-buru mendekat untuk memegang kapaknya. Dan sama halnya dengan Magani, Lyman yang bisa dibilang cukup perkasa untuk mengangkat beban, nyatanya loyo juga.
“Kapak itu sudah memilih Jane sebagai penggunanya, oleh sebab itu orang lain yang berusaha mengangkat atau ingin mencurinya pasti akan kesulitan,” kata Fred menjelaskan.
“... Dan sekarang, setelah kalian semua diberi masing-masing barang sebagai alat untuk pertahanan diri, apakah kalian siap untuk berkelana ke dunia luar yang begitu kejam dan terkenal tanpa ampun?”
Kami bertiga saling melempar pandangan, lalu dengan percaya diri kami sama-sama mengangguk untuk menjawab ucapan Fred. “Siap!”
“Tapi tunggu.” Aku berbicara kembali, “Apakah kapak ini punya ketentuan khusus layaknya barang yang dimiliki Lyman dan Magani tadi?”
***
__ADS_1