
Hai,namaku Woonho,Park Woonho. Aku adalah seorang murid SMA dan umurku baru 18 tahun sebentar lagi menginjak umur 19 tahun.
Sore ini aku pergi ketoko pamanku. Karena aku ingin mengambil kunci villa disana. Malam ini aku akan menginap divilla pamanku.
Paman Jinwoo satu-satunya yang bisa diandalkan.
"Ya,kenapa tidak? Sekarang aku ingin tinggal divilla mu itu. Disana sangat sepi bukan?"tanyaku.
"Ahaha... Kau benar. Villaku sepi. Kau boleh tinggal divilla ku. Ini"kata pamanku memberikan kuncinya.
Aku pun mengambil kunci itu dan pergi.
Sore itu,aku sedang tidak enak badan. Rasanya aku ingin muntah saja. Aku memegang kepalaku yang agak sakit itu.
"Ah... Kenapa harus terjadi padaku?"
Aku mengacak-acakkan rambutku.
...*****...
Dirumah Yuna,dia sedang membereskan barang-barang dan pakaiannya kedalam tas. Sore ini Yuna akan pergi ke villa pamannya Woonho untuk bekerja. Disana Yuna bekerja sebagai seorang pelayan. Yuna juga tidak lupa membawa buku diarynya yang baru dibeli tadi.
Yuna pergi kebawah melewati anak tangga. Langkahnya terhenti oleh seorang asisten rumah tangganya yang bernama bibi Gayong.
"Nona!"panggil bibi Gayong.
"Ah,bibi? Iya,ada apa bi?"tanya Yuna.
"Ini nona,bibi membawa makanan ringan untuk nona. Tadi bibi membelinya saat pergi membali kebutuhan dapur"kata bibi Gayong memberikan sebungkus makanan ringannya itu.
"Wah... Terima kasih bi..."kata Yuna sambil tersenyum dan mengambil makanan ringannya diberikan bibinya itu.
"Oh,ya bi. Aku pamit untuk bekerja ya" kata Yuna.
"Baik,nona. Apa mau diantarkan oleh sopir?"tanya bibi Gayong.
Yuna menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah,bi. Aku akan pergi dengan menaiki bis saja"jawab Yuna.
"Baiklah kalau begitu"
"Ya. Aku akan berangkat sekarang ya,bi. Terima kasih untuk makananya"kata Yuna sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati nona!"kata bibi Gayong yg juga melambaikan tangan.
Yuna pun pergi. Dia menunggu bis dihalte. Dia duduk dibangku panjang yg ada disana.
Beberapa menit kemudian,bis pun datang. Ada beberapa orang juga menunggu bis bersama Yuna. Yuna pun masuk kedalam bis bersama orang-orang itu. Dia duduk dibangku belakang dekat dengan jendela bis. Dia duduk dengan salah seorang yg tadi menunggu bis bersamanya.
Divilla,Woonho sedang melamun dikamarnya.
Tiba-tiba,ada suara dari depan yang membuat lamunannya pudar.
"Permisi!"
Dan ternyata itu Yuna. Dia sedang berada didepan villa. Woonho langsung pergi kedepan.
"Siapa yang datang kesini malam-malam?"tanya Woonho yang sedang berjalan itu.
Woonho menghampiri Yuna.
"Siapa kau?"tanya Woonho.
Yuna pun berbalik dan membuat tercengang membuat hatinya berdetak sangat kencang.
"Di... Dia...?"tanya Yuna dalam hati.
"Dia seperti orang yang aku kenal. Tapi tidak mungkin. Pasti dia mirip saja dengan wajahnya"kata Yuna dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
"Hei,kau kenapa?!"tanya Woonho.
"Euh,maaf. Apa ada tuan Jinwoo?"tanya Yuna.
"Tuan Jinwoo? Ya,ada. Memangnya kau siapa?"
"Aku seorang pelayan divilla ini"jawab Yuna apa adanya.
"Pelayan? Sejak kapan paman mempunyai seorang pelayan disini?"tanya Woonho bingung dalam hati.
"Kau tunggu dulu disini. Aku akan panggilkan tuan Jinwoo"lanjut Woonho yang pergi kedalam.
Woonho... Woonho... Bisakan biarkan Yuna masuk dulu. Kasihan dia ada diluar. Sudah malam lagi.
Woonho kembali menghampiri Yuna bersama pamannya itu.
"Selamat malam tuan..."sapa Yuna.
"Selamat malam... Woonho kau ini tidak sopan. Suruh dia masuk"kata pamannya.
"Iya,maaf-maaf... Silahkan masuk"kata Woonho.
Yuna berpikir dan berhenti melangkah sejenak.
"Woonho?"tanyanya dalam hati.
Yuna pun melanjutkan langkahnya.
Didalam,tuan Jinwoo menyuruh Yuna untuk istirahat terlebih dahulu.
"Yuna,lebih baik kau istirahat terlebih dahulu. Setelah itu baru kau bisa memasak makan malam untuk kami"kata tuan Jinwoo.
"Baik,tuan"
Yuna pun pergi keatas untuk beristirahat diruangannya. Dia membuka dan meletakan tasnya dikasur.
"Ah... Sekarang aku mau istirahat dulu" katanya sambil menjatuhkan badannya kekasur.
Yuna membuka matanya dan terbangun. Dia menepuk keningnya sendiri.
"Oh ya ampun... Aku baru ingat"katanya.
Dia mengendus dan mencium seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Blee... Aku lupa kalau aku belum mandi sehabis pulang sekolah..."katanya yang terburu-buru mengambil handuk dari tas bawaannya dan pergi kekamar mandi.
Dikamar Woonho,dia kembali melamun.
Kruukkk...
Suara perutnya bergemuruh meminta makanan.
"Ah... Lapar sekali. Aku harus meminta pelayan itu untuk membuatkan makan malam"katanya bangkit dari kasur.
Woonho pergi keatas kekamarnya Yuna. Dan dia mengetuk pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Woonho terus mengulangi ketukan itu.
"Ck! Kemana pelayan itu?"tanya Woonho didepan pintu.
Woonho pun membuka pintu kamarnya. Ternyata tidak dikunci. Woonho masuk kekamarnya. Tapi,tidak ada siapa-siapa. Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi.
"Mungkin dia sedang mandi"kata Woonho.
Dia mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya.
Tok! Tok! Tok!
Yuna mendengar suara itu dan mematika showernya.
"Sepertinya ada yang mengetuk pintu?" tanya Yuna.
Terdengar suara yang memanggilnya.
"Pelayan! Pelayan! Apakau disana?!"teriak Woonho.
Yuna pun menjawabnya.
"Iya!"
"Nanti setelah kau mandi,tolong buatkan aku makan malam. Perutku sudah keroncongan!"kata Woonho.
"Baik,tuan!"
"Cepat mandinya! Aku sudah tidak tahan lagi ingin segera makan!"teriaknya lagi.
"Baik!"kata Yuna dari dalam kamar mandi.
Woonho pun kembali kekamarnya dan kembali melamun. Pintunya tidak tertutup rapat. Pamannya yang sedang melewati kamar Woonho pun melihat keponakannya yang sedang termenung didepan jendela sambil melihat kearah langit yang sangat gelap saat itu. Tidak ada satupun bintanga yang bersinar.
"Langit malam ini seperti hatiku sekarang"kata Woonho.
Pamannya tidak sengaja mendengarkan kata-katanya itu. Pamannya membuka pintu dan masuk kedalam kamar Woonho ingin memeriksa apa yang terjadi dengan keponakannya itu.
"Woonho"panggil pamannya.
Woonho pun berbalik kearah pamannya.
"Paman? Sedang apa paman disini? Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Woonho.
"Ah,kau tidak perlu tahu. Ini bukan urusanmu"kata Woonho memalingkan wajahnya.
"Baiklah... Tapi,kalau kau mempunyai masalah. Cobalah bercerita. Mungkin paman bisa memberi solusi"kata pamaannya lembut.
"Tidak. Aku tidak mempunyai masalah. Aku hanya sedikit tidak enak badan" katanya.
"Baiklah,kalau begitu"kata pamannya mengangguk dan memegang pundak Woonho lalu pergi.
Setelah mandi,dan memakai baju pelayan. Yuna menyisir dan mengikat rambut panjangnya. Lalu dia pergi kedapur untuk memasak makan malam.
Beberapa menit kemudian,makan malam sudah disajikan dengan rapi dimeja makan.
Yuna segera memanggil tuan Jinwoo yang berada diruang tamu sedang menonton acara televisi.
"Maaf tuan,makan malamnya sudah aku siapkan"kata Yuna sopan.
"Oh,baiklah. Terima kasih"kata tuan Jinwoo.
Yuna pun kembali kedapur untuk membersihkan barang-barang yang tadi dipakai untuk memasak.
"Woonho! Woonho! Makanannya sudah selesai!"teriak tuan Jinwoo memanggil Woonho.
"Iya!!!"jawab Woonho dari kamarnya.
Woonho segera pergi keruang makan. Dan mereka mulai makan malamnya.
Saat itu masih berada didapur sedang mencuci perabotan yang tadi sudah aku pakai.
Kruukkk... Kruukkk...
"Ah... Perutku sudah lapar. Tadi aku hanya memakan mie instan saja dikantin. Pulang kerumah juga aku tidak makan. Apa aku keluar sebentar untuk mencari makanan disekitar sini. Tapi,disini tidak ada yang berjualan. Didepan villa juga ada pantai"katanya.
Yuna terpaksa menahan perutnya yang bersuara itu.
Tuan Jinwoo memanggil Yuna dari ruang makan.
"Yuna!"
Yuna segera menghadap tuan Jinwoo.
"Ya,tuan,ada apa?"tanya Yuna.
"Tolong ambilkan gelas yang sering aku pakai dilemari"perintah tuan Jinwoo.
"Baik"
Yuna pergi kedapur untuk mengambil gelas yang sering dipakai tuan Jinwoo.
Setelah itu,aku segera kembali lagi.
"Ini tuan,gelasnya..."kata Yuna memberikan gelas itu.
"Ok. Tolong tuangkan air kedalamnya" pintanya.
Yuna segera menuangkan air putih kedalam gelas itu.
__ADS_1
Tiba-tiba!
Kruukkk... Kruukkk...
Suara perutku kembali bergemuruh.
"Ah... Aku mulai keroncongan lagi..."kata Yuna dalam hati.
Woonho dan pamannya mendengar suara itu. Yuna pura-pura tidak mendengarnya.
"Yuna,apakah itu suara perutmu?"tanya tuan Jinwoo curiga.
"Ah,hahaha..... I... Iya,tuan..."kata Yuna malu.
"Kalau begitu,makanlah bersama kami" ajak tuan Jinwoo.
"Mmm... Tapi,tuan..."
"Tidak apa-apa. Silahkan duduk dan makan bersama kami. Kalau kamu tidak makan,kau akan menyiksa dirimu sendiri" kata tuan Jinwoo.
"Mmm... Baiklah....."kata Yuna mengangguk.
Yuna duduk didekat Woonho.
"Ya ampun... Aku membuat malu saja" kata Yuna dalam hati.
Yuna pun menerima ajakan tuan Jinwoo. Dan Yuna pun makan malam bersama mereka.
Setelah makan malam selesai. Yuna berdiri dan membungkukkan sedikit badannya berterima kasih.
"Tuan,terima kasih sudah mengajakku makan malam"kata Yuna.
"Ya,sama-sama"jawab tuan Jinwoo tersenyum.
Woonho hanya terdiam saja dan langsung pergi kekamarnya setelah makan malam.
Disana,Woonho kembali melamun. Dan memandangi pantai yang airnya mulai naik saat itu.
Sleeerrr.....
Angin malam meniup pelan wajah Woonho. Gorden juga tertiup oleh angin itu. Malam semakin dingin. Saat itu waktu menunjukkan pukul 21:30.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak melakukannya sama sekali"kata Woonho.
Woonho pun membantingkan badannya kekasur. Dia merebahkan badannya dan melihat kearah langit-langit. Dia berbalik kearah kiri memeluk guling.
Dikamar Yuna...
Dia sedang memakan camilan yang tadi diberikan bibi Gayong.
Kraukkk... Kraukkk... Kraukkk...
"Nyam... Mmm... Bibi Gayong tahu apa yg aku suka... Mmm..."kata Yuna sambil memakan makanan ringan itu.
Woonho terbangun dari kasurnya. Dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Ah... Aku butuh sesuatu sekarang"kata Woonho.
Woonho pun keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Dia mencari sesuatu didalam lemari es.
"Ah!"dia menutup lemari esnya dengan agak kencang.
"Apa dia mempunyai sesuatu yang aku inginkan sekarang?"tanya Woonho dalam hati.
Woonho pun pergi keatas lagi dan pergi kekamar Yuna.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu.
"Huh? Siapa yang datang kesini malam-malam?"tanya Yuna yang langsung turun dari kasur dan meletakkan camilannya diatas kasur.
Yuna membuka pintu.
"Tuan? Ada apa tuan kesini?"tanya Yuna.
"Mmm......"Woonho menengok kearah kasur Yuna.
"Apakau masih punya camilan?"tanya Woonho.
"Mmm... Aku hanya membawa satu bungkus"jawabnya.
"Tapi,apakah itu masih ada?"tanyanya lagi yang menengok kearah camilan itu.
"Ma... Masih ada tuan"
"Apakah aku boleh memintanya?"tanya Woonho.
"Boleh. Tapi,apakah tidak apa-apa?"tanya Yuna.
"Tidak apa-apa. Berikan saja padaku. Aku sedang ingin camilan"kata Woonho.
"Ba... Baiklah..."
Yuna pun mengambil camilan itu dan memberikannya pada Woonho.
"Ini tuan..."
"Terima kasih"kata Woonho menerima camilan itu lalu pergi.
"Aa..... Camilanku satu-satunya... Tapi, tidak apa-apalah. Mungkin dia tidak mempunyainya"kata Yuna.
Setelah itu Yuna pun menutup pintunya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan wajah dan menggosok gigi.
...*****...
Halo semua.... 😄😊
Maaf ya episode 2 ini saya post ulang... Karena ada kesalahan waktu itu... Eps 2 nya kehapus... Maaf...🙇🙏
Terima kasih buat kalian yang sudah baca...
TERIMA KASIH...😊❤💕
__ADS_1