
"Woonho? Sedang apa kau disini?"
"Justru aku yg harus bertanya. Sedang apa kau disini?"
"Mmm... Aku hanya ingin mencari udara segar saja"
Woonho berjalan mendekati pegar Rooftoop dan merasakan angin yang berhembus.
Saat Yuna akan pergi dari sana. Woonho memanggilnya.
"Yuna"
Langkah Yuna terhenti.
"Mungkin ini yang terakhir aku akan berteman denganmu"
Yuna berbalik.
"Hm... Ini mungkin yg terbaik untukku. Aku akan sedikit menjauh dari gadis-gadis. Aku takut nanti ada seseorang yg berkhianatiku lagi seperti dulu. Apalagi kalau pacaran"
"A-apa maksudmu?"
"Kau tidak perlu mengerti. Tapi,tenang saja. Aku akan terus mengenalmu. Pura-pura kita tidak kenal saja"
Yuna bingung.
@authornyapunbingung 😂
Woonho berbalik dan mendekati Yuna. Yuna merasa takut dan perlahan mundur. Rasa takut dan hati yang bergejolak. Perasaan jadi campur aduk. Sampai akhirnya Yuna sampai ditembok. Dan Woonho sangat dekat dengannya.
Anehnya,saat Yuna ingin pergi. Rasanya kaku sekali. Yuna yang tak sanggup melihat Woonho dari dekat pun menunduk kebawah.
Woonho menghentakan tangan kirinya ketembok.
Takk!
Membuat Yuna terkejut.
Woonho menyentuh dagu Yuna dan mengarahkannya pada pandangannya.
"Yuna,apakau tahu perasaan yang sedang aku rasakan saat kau tidak menjawab pertanyaan cintaku dulu?"tanya Woomho yang menatapnya dengan tajam.
Tapi,Yuna tidak menjawabnya.
"Kau tahu? Rasa sakit itu?"
"Hatiku hancur. Terlebih lagi saat itu aku ditolak oleh Mina. Aku marah padamu saat itu. Dan aku ingin melupakanmu"kata Woonho dengan nada yang agak tinggi.
"Tapi,mengapa? Mengapa perasaan itu muncul lagi? Aku tahu. Kau mencintaiku bukan?"
"Kau masih mencintaiku. Tapi,rasa itu kau pendam. Saat temanmu juga mencintaiku. Kau cemburu bukan?"
Yuna merasa agak marah dan melepaskan tangan Woonho yang memegang dagunya.
"Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi"ucap Yuna.
Woonho kembali memegang dagunya.
"Kau... Kenapa kau tidak katakan saja kalau kau mencintaiku? Huh?"
"Karena aku tidak ingin menyakiti perasaan orang lain!"
"Orang lain? Temanmu juga kan orang lain? Kalau temanmu mencintaiku. Kau juga akan tersakiti?"
"Aku tidak perduli. Aku sudah terbiasa dengan namanya sakit hati dari dulu. Itu kehendak mereka mencintaimu. Dan,aku sama sekali tidak mengerti tentang percintaan"
"Kau..."
"Aku sekarang akan berhenti mencintaimu. Dan aku... Aku akan melupakanmu. Mungkin... Aku juga akan membencimu..."Yuna memelankan suaranya dibagian terakhir.
Dhegh!
Hati Woonho seperti ada yang menusuknya. Mereka terdiam dan saling menatap. Mata Yuna mulai berkaca-kaca.
Woonho melepaskan pegangan pada dagu Yuna dan menarik kembali tangan kiri yg dihentakannya ditembok.
Woonho menatap tajam Yuna.
"Hhh... Dulu sampai sekarang kau masih mencintaiku. Apakah kau mampu untuk melupakanku?"
Woonho memegang kedua pipi Yuna dan menciumnya. Yuna menutup kedua matanya. Woonho menikmati itu. Tapi, Yuna ingin segera pergi dari sana dan melepaskannya.
Woonho pun melepaskan ciumannya itu. Dan kembali menatap Yuna.
"Apakau bisa melakukannya?"
Woonho pun pergi dari sana.
Yuna terdiam dan mulai mengeluarkan air matanya.
Woonho berjalan dengan penuh emosi dan merasa bersalah. Dia berhenti berjalan dan memukul tembok.
Bukk!
"Ah! Apa yang sudah aku lakukan?!"
Dikelas...
__ADS_1
Yuna dan Woonho saling diam. Keduanya merasakan gugup.
Saat pulang pun,Yuna membiarkan Woonho pergi dari sana duluan. Saat Woonho pergi. Yuna terdiam sebentar dan keluar dari kelas itu.
Keluar dari kelas,kedua sahabatnya Yuna menghampiri.
"Hai,Yuna"sapa Eunbi.
Yuna hanya tersenyum.
"Kau kenapa? Marah dengan kami?"tanya Chorim.
Yuna menggelangkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak marah. Aku hanya tidak enak badan saja. Rasanya badanku agak lemas"jawab Yuna berbohong.
"Oh... Apa kau ingin kami antarkan?"tanya Chorim lagi.
"Tidak usah. Oh ya,aku minta maaf tadi pergi meninggalkan kalian dikantin"
"Ah... Tidak apa"jawab Eunbi tersenyum menepuk pundaknya.
"Kalau begitu,aku pergi duluan ya"
"Ya... Dah... Hati-hati dijalan ya..."kata Eunbi dan Chorim berbarengan melambaikan tangannya.
Yuna tersenyum dan melambaikan tangannya juga.
Dijalan menuju rumah...
Yuna terus memikirkan kejadian yang tadi dia alami. Berjalan santai dengan kepala menunduk kebawah.
Dipertigaan menuju rumahnya. Disana ada Woonho dan teman barunya yang bernama Sojun,teman sekelasnya.
Mereka sedang berbicara dibangku panjang disana. Yuna tidak memperhatikan memperhatikan ada orang disana. Hanya menunduk dan sambil memikirkan kejadian tadi.
Woonho yang sedang mengobrol itu melirik ke arah Yuna dan memperhatikannya.
"Woonho? Woonho?"panggil Sojun yang ada disampingnya.
Woonho terus saja melihat Yuna.
Sojun kembali memanggilnya dan menepuk pundak Woonho.
"Woonho!"
"Ah,ya! Ada apa?"
"Kau kenapa terus melihat ke arah gadis itu,huh?"tanya Sojun.
"Ah... Ahaha... Tidak"
"Tidak"
Woonho kembali melihat ke arah Yuna yg sudah berjalan melewatinya.
"Hei,dia itu gadis yang lugu. Dan aku belum pernah melihat dia punya pacar"
"Begitukah?"
"Mm... "Sojun mengangguk
"Dia itu temanku saat aku masih sekolah dasar"
"Benarkah?!"tanya Sojun terkejut.
"Ya"
"Pantas saja kau tadi mengobrol dengannya tanpa berkenalan"kata Sojun mengingat kembali.
"Kau mendengarkan kami?"
"Sedikit..."katanya sambil nyengir.
"Kau duduknya disebelah mana?"
"Dibangku belakang barisan kedua dekat dengan tempat dudukmu"
"Ouh..."Woonho mengangguk-angguk.
"Dan sepertinya Yuna terlihat senang kau datang. Dan seperti ragu-ragu dan gugup"
Mendengar itu,Woonho terkejut dan melihat ke arah Sojun.
"Benarkah itu?"
"Mmm... Sepertinya begitu"sambil mengangguk yakin.
"Dan... Aku tidak pernah melihat dia seceria tadi. Dengan teman-temannya pun dia ceria biasa. Entah kenapa dia tadi seperti itu?"
"Apakau yakin?"
"Ya. Tapi,dia tadi terlihat murung"
"Apakau selalu memperhatikannya?"tanya Woonho mencurigai.
"Y-ya... Mm... Tidak. Bukan hanya dia yang aku perhatikan. Mungkin semua orang"jawabnya dengan pipi memerah.
__ADS_1
Sojun pun berdiri.
"Ah... Ini sudah sore. Lebih baik aku pergi. Sampai jumpa..."Sojun melambaikan tangan dan pergi.
Woonho masih duduk dikursi itu.
"Aku tahu. Dia masih mencintaiku. Tapi, aku harus menjauhinya sekarang. Dan para gadis lainnya juga,mungkin... Maafkan aku..."kata hati Woonho.
Dia pun berdiri dan memasukan kedua tangannya dikedua saku celana sekolahnya. Dia mulai berjalan.
Jalan lumayan sepi. Yuna masih saja terdiam dan memikirkan kejadian tadi. Saat Woonho menciumnya. Dia sama sekali belum melupakan itu. Bagaimana bisa melakukannya,Yuna itu orangnya tidak suka melupakan sesuatu dan terus saja ada didalam pikirannya.
Ada sebuah batu lumayan besar didepannya. Entah dari kapan itu. Dia tersantung dan jatuh.
Blugh!
"Aaa....."
Dia jatuh dan tersungkur disana.
Seseorang datang dan mengulurkan tangannya.
"Kau tidak apa?"tanya seorang pria itu.
Melihat dari seragamnya,itu bukan salah satu murid dari SMA 2 *****.
Yuna meraih tangannya dan memegangnya.
"Aku tak apa-apa. Terima kasih"kata Yuna sambil membersihkan seragamnya yang kotor karena jatuh.
Seseorang itu melihat luka pada lutut Yuna.
"Lebih baik kau duduk dulu"ucap pria itu.
Yuna pun duduk dibangku panjang disana.
Pria itu mengeluarkan plester dan meletakannya dibagian lutut Yuna yang terluka itu dengan berjongkok. Pria itu pun berdiri setelah memakaikan plester pada lutut Yuna.
"Sudah selsai"ucap pria itu.
"Mmm... Terima kasih"
Saat itu Woonho berjalan,dan melihat Yuna dengan seorang pria yang dia kenal.
Woonho menghentikan langkahnya.
"Yuna..."
Yuna pun berdiri.
"Tidak sakit kan?"
"Ya"ucap Yuna tersenyum.
"Oh ya. Perkenalkan,namaku Kim Bum Soo"ucap pria itu mengulurkan tangannya.
"Aku Kim Yuna"kata Yuna menjabat tangannya.
"Oh... Tadi kenapa kau bisa terjatuh?"
"Ahaha... Tadi aku tersandung"
"Kau memikirkan sesuatu?"tanya Bum Soo menyelidiki.
"Ah... tidak. Mm... Lebih baik aku pergi. Terima kasih atas bantuannya"
"Ya,sama-sama. Aku pergi duluan ya. Sampai jumpa"Bum Soo melambaikan tangan.
"Sampai jumpa..."balasnya sambil melambaikan tangannya.
Bum Soo pun pergi.
Woonho mengepalkan ke 2 tangannya dan kembali berjalan.
Yuna masih disana.
"Huh... Kenapa aku sampai terjatuh segala...?"tanyanya dengan pipi memerah.
Woonho pun melewatinya dan berkata tanpa melihat ke arah Yuna.
"Hati-hati dengan dia"
Yuna berbalik dan melihat ke arah Woonho.
Yuna tidak mengerti apa yang dimaksud Woonho. Tapi,dia tak memperdulikannya. Karena dia terlalu benci dengannya.
...*****...
Halo semuanya... Maaf lama up nya... 😊🙇...
Terima kasih yg sudah berkunjung disini... 😊💚
Jangan lupa buat ninggalin jejak... 😊
Sampai jumpa...
..._______________...
__ADS_1
..._________...