
"Sudah sering dibilangin jangan terlalu jail ke Billa." Abyan mengawali pembicaraan. "Ini cafe,jangan bikin kegaduhan.
"Dengerin tuh!" timpal Chand disertai menjitak kepala El.
"Lo juga,Chand." tatap Abyan tanpa ekspresi.
"Makanya,jangan seolah-olah lo gak ada bedanya sama gue." El melakukan pembalasan pada Chand. "Kalo memojokkan orang aja rajanya lo."
Tak terima dibalas,Chand seketika membawa kepala El ke bawah ketiaknya. Ditahannya kepala El agar mencium aroma tubuhnya.
"Gelut sini!" tawar El setelah berhasil memberontak dan menarik kepalanya.
"Lo jual gue beli." Chand menepuk dada busungnya sembari terbahak.
"Mau gue ambilin pisau? atau apa? sebut aja gue siap sedia." ujar Abyan menatap Chand dan El.
"Apaan sih? ngomporin aja bisanya." Akhirnya Dhea berucap,sebab sedari tadi kedua cewek itu memilih diam.
Sementara Billa hanya bersungut-sungut di samping Dhea. Perasaan kesalnya belum juga hilang.
"Becanda doang,De." Abyan memegang kepala Dhea dan mendekatkan ke pundaknya,namun Dhea menarik kepalanya kembali tak ingin bersandar.
"Lagipula ini cafe milik Chand,gak mungkin dia biarin ada keributan disini." lanjut Abyan tersenyum manis pada Dhea.
"Bil,kamu diapain sama dia?" tunjuk Chand pada El. Berdiri dari duduknya berniat menghampiri Billa.
"Kemana lo?" El menarik tangan Chand hingga membuat cowok itu terduduk lagi. "Kalo gue gak bisa dekat-dekat sama Billa,lo juga gak boleh."
"Sirik aja lo." ucap Chand.
"Diapain,Bil?" tanya Dhea.
"Aku ternoda," mendengar perkataan Billa,Chand seketika menatap El tajam. "Bibir aku mencium pipi dia."
"Berani kotor itu baik." El berujar,mengacungkan jempolnya.
"Cuma pipi ternyata." gumam Chand namun terdengar oleh semuanya.
"Apa?! gue aja belum pernah dicium Billa. Lo dicium?" Chand baru tersadar.
"Billa loh yang nyium gue." El menunjuk pipinya.
Chand menatap Billa dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Bukan aku yang mau,dia yang sengaja biar kecium." bantah Billa.
__ADS_1
"Kalo Billa gak mau nyium lo,gak usah dipaksa,El. Rajin banget lo usilin dia." sindir Abyan.
"Jangan nasihatin,kalo sering ngusilin Billa juga." balas El.
"Gue gak usil." kilah Abyan.
"Terus apa yang biasanya itu?" tanya El. Mengingat kejadian-kejadian yang lalu.
"Godain aja lah." Abyan berucap.
"Serah lu dah." El menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Minta maaf sama Billa gih." suruh Dhea menatap El.
El lantas mengatupkan kedua telapak tangannya. "Maaf ya,honey."
Billa hanya diam,tak mau menatap laki-laki itu. Menunjukkan dirinya masih kesal atas perbuatan yang dilakukan padanya.
"Yang benar." tegur Chand menyikut lengan El.
"Billa,maaf ya atas perlakuanku yang membuat kamu kesal. Kalo kamu gak terima juga,aku dengan senang hati menerima jika kamu ingin membalas." ucap El terlihat tulus dengan menyunggingkan senyumnya.
"Serius?" seru Billa antusias.
"Gak gitu!" sungut Billa tak terima.
"Enak di elo." Chand menyentil bibir El.
"Sakit gobe." kesal El.
"Gimana kaki gue aja yang gantiin bibir Billa lakuin itu?" Abyan menaikkan sebelah kaki ke atas pahanya.
El terlihat mencari-cari sesuatu,mengendus-ngendus udara. Melihat ke samping kanan dan kiri.
"Chand,kok gue nyium bau asem ya? jangan-jangan bekas ketek lo tadi?" tanya El menaikkan bibirnya ke hidung.
"Kocak banget ekspresinya." tunjuk Dhea pada El tertawa.
"Sembarangan lo,cium nih gak bau malah wangi." ucap Chand mengangkat tangannya.
Ingin memastikan,El pun mengendus ketiak Chand beberapa kali.
"Emh,bau!" El memundurkan wajahnya.
"Masa sih,bau apa?" Chand penasaran.
__ADS_1
"Bau harum,sih." jawab El nyengir.
"Iyalah." Chand berucap lega.
"Tapi kok masih ada baunya ya?" El bingung. "Bil,kamu kan tadi belum bantuin aku,bantuin dong,janji deh gak kayak tadi lagi."
"Apaan? gak boleh." sanggah Chand sebelum Billa sempat bicara.
"Mastiin doang,hidung gue yang bermasalah atau emang masih ada bau sampah tadi." terang El.
"Suruh Chand aja,ulah dia juga." Abyan memberi saran."
"Ogah,geli deket-deket gitu,kalo cewek gak apa gue." Chand memalingkan muka.
Mendapat penolakan dari Chand,El pun melihat ke arah Abyan,menatap penuh harap.
"Apalagi gue." jawab Abyan lekas.
"Billa masih kesal,tinggal.." El melihat pada Dhea. "Dhea,mau ya?" pinta El memohon.
"Jangan mau,De." Abyan menatap Dhea seraya menggelengkan kepalanya.
"Yaudah,kasian." jawab Dhea menganggukkan kepalanya.
"Gue tonjok lo kalo macem-macem." ancam Abyan.
El pun beranjak dari duduknya menghampiri Dhea. Sementara Chand juga mengikutinya.
Melewati Abyan,El akhirnya duduk pada meja di depan Dhea. Mencondongkan sebelah mukanya pada cewek itu,Dhea lantas berdiri membungkukkan badannya lalu mulai mendekatkan wajahnya pada El.
Belum benar-benar dekat dengan wajah El,Abyan seketika menutupi mulut Dhea dengan tangan.
Dhea mengernyit pada Abyan dan bekata samar."Ngapain?"
"Jaga-jaga." jawab Abyan.
Chand yang berdiri di depan Billa pun ikut waspada dengan cara menjambak rambut El yang sedikit ikal itu,menahan kepala tersebut agar tak bergerak.
"Tega banget sih sama gue." cicit El.
"Bil,kamu aja deh nih." Chand menunjuk kepala El. "Biar hilang kesalnya.
Menganggukkan kepalanya semangat, "Oke." Billa pun mengambil alih apa yang dilakukan Chand.
"Kenceng amat,Bil. Dendam lama kayaknya nih." rintih El.
__ADS_1