Zona Nyaman

Zona Nyaman
Episode 8


__ADS_3

"Maaf mas," Chand melepas genggaman cowok itu pada tangan Billa. "Dia mau pulang,jadi biar pegawai saya saja yang akan mengantarkan minuman yang di pesan."


Selaku pemilik dan pengelola cafe,Chand berusaha bersikap profesional berbicara pada lawan bicaranya. Pelanggan yang memang sudah beberapa kali datang ke cafe ini. Bahkan,Billa dan yang lainnya tak asing dengan lelaki itu.


Billa yang merasa risih jika harus berhadapan dengan lelaki itu pun sedikit memundurkan tubuhnya. Menjauh.


El yang berdiri di belakang,diantara Billa dan Chand menatap tak suka. Kupluk dengan warna kecoklatan yang tergenggam di tangan dari semenjak hendak keluar ruangan ditaruhnya di kepala. Memakai lebih tepatnya. Raut mukanya terlihat tidak santai.


Berdiri di sebelah El,Dhea sudah tak heran lagi dengan bagaimana reaksi orang di sampingnya ini merespon hal yang sedang terjadi itu. Ia lantas menarik benda yang berada di kepala El hingga bergeser. Menjadi miring beberapa senti. Gadis itu lebih memilih tak menanggapi lelaki yang mengganggu Billa tersebut. Menganggap orang yang mencari perhatian itu hanya sebagai 'lalat pengganggu'. Terlebih lagi sudah ada Chand yang menangani hal itu.


Tak terkecuali Abyan,walaupun dirinya berjalan lebih dulu di depan,rupanya ia juga menghentikan langkahnya dan memutar haluan. Berjalan mendekati mereka.


"Sebentar aja," lelaki itu hanya menatap Chand selintas lalu. "Ya?" mencoba meraih tangan Billa. Kembali ingin menggenggam tangan gadis itu.


Tak sempat tergapai,El sudah bergerak maju menepis tangan tak tau diri itu. "Jangan pegang-pegang,situ kira tangannya barang yang sedang dijual?"


Tersenyum sinis,saat El mengatakan kalimat itu.


"Walaupun dijual,setengah harga aja gak ada yang bisa membayarnya. Apalagi berniat ingin membelinya. Dan itu hanya untuk sebelah tangannya aja" lanjut El. Membenarkan posisi kupluknya yang miring.


Dikarenakan sikap dan perkataan El,lelaki itu berdiri dari tempatnya. Memasang tampang tak senang menanggapi hal barusan. Matanya terlihat samar menjadi merah.


"Rupanya rasa takut dari dadanya sudah diambil,padahal kita disini berempat." teman yang duduk di samping laki-laki itu menyusul berdiri,berkata dengan angkuhnya. Mendahului lelaki tersebut yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Menunjukkan rasa tak terimanya.


El lantas melebarkan senyuman di wajahnya. Seperti yang akhirnya mendapatkan hal yang sudah lama ditunggunya.


Suasana berubah menjadi sedikit menegangkan di dalam cafe,beberapa orang yang terlibat dengan situasi dan percakapan ini mendadak tersulut emosinya. Udara di sekitar yang mereka rasakan agak menjadi pengap.


Tak sedikit pengunjung yang sedang menikmati minuman bahkan makanan di atas meja memperhatikan kejadian itu. Ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Udah," Dhea menyentuh dada El,agak mendorongnya ke belakang. "Gak usah meladeni hal yang sama sekali gak penting,orang waras mengalah."


Sempat sekilas,Dhea menyirit mata menatap laki-laki yang menurutnya menyebalkan itu.


Tak berkata apa-apa,Billa hanya mengambil tangan El dan kemudian menggenggamnya. Berniat menenangkan.


"Akhirnya lo bicara juga," lelaki itu menyeringai menatap Dhea. "Siapa nama lo?"


Lurus. Dhea membalas lelaki itu dengan tatapan datar. Tak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan.


Tiba-tiba beberapa lembar uang berwarna merah terlempar di meja yang lelaki itu tempati. Tergeletak kesana kemari pada benda yang permukaannya bulat tersebut. Satu,dua,lima lembar uang yang dikeluarkan Abyan dari dompetnya.


"Kalau tak cukup bilang saja," Abyan menggeser tubuhnya. Berdiri tepat membelakangi Dhea. "Asal kalian pergi meninggalkan tempat ini segera. Semua yang telah kalian pesan,saya yang akan membayarnya."


"Lo kira gue miskin,ha?!" lelaki itu menggebrak meja.


"Kalau mas membuat keributan disini,terpaksa saya panggilkan satpam." kali ini Chand yang berbicara.

__ADS_1


Mengepalkan tangan. Berdecak. Lelaki itu berjalan cepat menuju pintu keluar. Teman-temannya lantas saling pandang,kemudian dengan lekas menyusulnya keluar cafe.


Satu persatu orang yang dari tadi memperhatikan mereka kembali dengan fokus masing-masing.


Billa terduduk pada kursi di depannya.


"Kok dilepas?" El bertanya. Sebab sebelum duduk,Billa melepaskan genggamannya pada tangan El.


Menarik napas. Memutar bola mata. Billa tak membalas pertanyaan El.


"Maaf sudah membuat kalian gak nyaman di tempat ini." Chand menatap mereka berempat satu persatu. Merasa bersalah.


"Gak masalah," Abyan memasukkan dompet ke saku belakang celananya. "Yang penting lain kali lo harus bersikap lebih tegas pada orang-orang seperti tadi. Kasian Billa jadi korban."


Chand memandang Billa khawatir. Gadis itu pun membalasnya dengan tersenyum. Menunjukkan dirinya baik-baik saja.


"Itu duit mau dibuang aja? gak dimasukkan lagi ke dalam dompet?" El bertanya pada Abyan.


"Dibuang?" Chand mengulang apa yang dikatakan El. "Lo kira duit bisa ngambil dari pohon?"


Nada sarkastik terdengar dari mulut Chand.


"Billa sama Dhea mau gak? lumayan buat tambahan uang jajan." Abyan menawarkan.


Billa hanya mengangkat bahu. Mengumpulkan uang itu,lalu meletakkan kembali susunan uang itu di atas meja.


"Chand aja yang nyimpen,duitnya buat kita jalan-jalan aja nanti." Dhea mengusulkan.


"Benar juga sih." Abyan menganggukkan kepalanya berulang. "Eh,tapi mereka gak bayar kan? bayarin ke pesanan mereka aja,Chand. Sisanya baru buat kita jalan-jalan.


"Biarlah itu,duitnya buat kita nanti aja." Chand menatap Abyan.


"Jam berapa nih?" seru El menyeletuk.


"Jam sembilan lewat sedikit." saut Dhea,setelah sebelumnya mengetuk layar ponselnya.


"Ayo,Bil. Kita pulang." ajak Abyan.


Billa mengangguk. Yang tadinya duduk,kini berdiri. Beranjak keluar mendahului mereka berempat.


"Hati-hati." Chand berucap setelah mereka sudah di parkiran.


Mereka lantas saling bersalaman,tetapi ada perbedaan khusus ketika sesama perempuan dan sesama laki-laki saat melakukannya. Tak sedikit laki-laki yang menghantamkan bahu mereka masing-masing saat bersalaman,sedangkan perempuan yang lebih sering terlihat berpelukan jika hendak berpisah.


Kini giliran Billa berpamitan dengan Chand.


"Maaf ya,Bil." Chand yang tak enak hati karena kejadian barusan.

__ADS_1


"Iya,santai aja kenapa sih?" ucap Billa tertawa.


Meraih kepala Billa,Chand mendaratkan ciuman pada kening gadis di depannya itu. Tertahan beberapa detik.


Billa tersenyum setelah Chand memundurkan kepalanya.


"Giliran aku." El menggeser Chand dengan tubuhnya.


"Awas kalo di pipi." Billa menunjukkan tinjunya.


El lantas mulai mendekatkan wajahnya. Billa yang melihat El mengincar pipinya pun dengan cepat merendahkan tubuhnya. Membuat ciuman El terkena di rambut Billa.


"Malah di rambut doang." El memundurkan kepalanya. "Ulang,kamu gerak tadi,Bil."


Memegang kepala Billa dengan kedua tangan agar tak bergerak,El berniat kembali menciumnya.


"Gak ada ulang-ulang." ucap Billa menggerak-gerakkan kepalanya. Melepaskan dari tangan El.


"Mau pulang nih." lanjut Billa agak cemberut.


Kini El dan Dhea melajukan kendaraannya,disusul Abyan yang juga melajukan mobil dibalik kemudi,dengan Billa yang duduk di samping.


###


Dering telepon terus berbunyi mengganggu telinga,setelah sebelumnya juga terdengar dentingan beberapa kali yang sepertinya beberapa pesan telah masuk.


Bangun dari tidurnya,Billa mengambil ponsel miliknya. Memutuskan menerima panggilan telepon yang terus masuk tersebut.


"Kenapa baru bangun,honey." suara dari seberang telepon,yang tak lain ialah El.


"Bukan baru bangun,tadi udah bangun. Terus baru aja tidur lagi." ucap Billa mengoreksi. Suaranya sangat jelas sekali habis bangun dari tidur.


"Pantas aja dari tadi gak jawab-jawab ditelpon. Taunya lagi nyenyak-nyenyaknya." ucap El di seberang. "Jogging yok."


"Udah jam setengah tujuh,kesiangan tau,belum lagi aku siap-siap." Billa memberitahu dengan nada malas. Matanya yang belum terbuka lebar,sesekali terpejam beberapa detik.


"Kamu dichat dari jam enam lewat gak baca-baca juga,ditelpon berapa kali baru diangkat."


"Ya.. kebiasaan sih kalo apa-apa itu sering mendadak,jadi gak bisa nyalahin aku." gerutu Billa.


"Kalo gitu video call dong,aku alihin nih."


Di layar ponsel Billa pun muncul permintaan persetujuan pengalihan ke video call,namun dengan cepat ditolak sang pemiliknya.


"Kok ditolak? aku mau liat wajah my honey."


"Gak mau,aku belum mandi." jawab Billa jujur.

__ADS_1


"Gak bakalan sampai ke sini baunya,lagian aku menerima apapun dari kamu,bahkan yang menurut kamu orang lain gak akan suka sekalipun."



__ADS_2