
Dhea pun mulai mengendus beberapa kali wajah El,tepatnya pipi lelaki itu. Masih dengan tangan Abyan yang menutupi mulut gadis itu,karena tak mau bibir Dhea menyentuh permukaan kulit laki-laki di depan mereka berdua yang tak lain ialah Elramdan Rabbani.
El hanya bisa diam di tempatnya seperti patung,sebab walau dia bergerak sedikit saja,maka Billa akan mengencangkan jambakan pada rambutnya. Seolah melampiaskan rasa kesalnya tadi,Billa memanfaatkan kesempatan saat ini untuk membalaskan perbuatan jahil yang El lakukan padanya.
Di saat Abyan yang terlihat waspada hingga membuatnya melakukan tindakan itu,Billa yang masih diselimuti rasa kesal ketika membalaskan dendamnya,dan El yang pasrah saja dengan yang dilakukan Billa meskipun ada setitik rasa kesal karena merasakan sakit,sebab dia tahu gadis itu melakukan hal ini akibat ulah dia juga. Lain hal dengan Chand yang malah tertawa mengamati orang-orang ini,merasa ada kelucuan dengan itu semua.
"Gak ada baunya." ucap Dhea yang sudah selesai memastikan sesuatu,setelah sebelumnya melepaskan tangan Abyan dari mulutnya dan lalu memundurkan kepalanya.
"Sebelahnya lagi." pinta El.
"Duh! sakit Billa." ringis El yang rambutnya sempat dijambak Billa semakin kencang,ketika lelaki itu memalingkan wajahnya.
"Otomatis nih." Billa nyengir.
"Kan Dhea sudah mundurin kepalanya,gak mungkin juga kena mulutnya." ucap El.
Dhea lantas kembali melakukan hal yang tadi,ia mendengus jengah begitu Abyan kembali meletakkan tangan di mulutnya.
"Kayaknya disini deh." Dhea memberi tahu selepas Abyan menurunkan tangan dari mulutnya.
"Tadi kan aku nyium El sebelah situ,ke toilet lagi deh." gerutu Billa,lalu melepaskan jambakannya.
"Dimananya?" El meminta kejelasan.
"Deket hidung." tunjuk Dhea.
"Pantas kecium baunya." El beranjak dari hadapan Dhea dan ingin keluar dari ruangan itu.
"Kemana?" tanya Billa yang membuat El menghentikan langkah.
El membalikkan badannya menghadap Billa,menatapnya sambil bersedekap dada. "Toilet,mau ikut?"
"Nanti dulu,setelah kami aja ke toiletnya." Billa menarik tangan Dhea. "Ayo,Dhea. Temenin aku ke toilet."
"Aku ke toilet pria juga,gak ke toilet kalian tuh." El menaikkan kedua alisnya.
"Pokoknya jangan!" teriak Billa yang menarik Dhea bergegas keluar.
Ruangan yang baru saja ditinggalkan kedua gadis itu kini hanya menyisakan keheningan. Abyan,Chand,dan El terdiam di tempatnya. Larut dengan pikiran mereka masing-masing.
"Belum mau mengambil tindakan,nih?" Chand yang menepuk bahu Abyan mulai duduk di samping cowok itu.
Mendengar hal itu,Abyan menatap Chand sejenak. El yang menyimak pun ikut duduk pada sofa di seberang mereka.
"Entahlah,sepertinya gue sedikit pengecut untuk urusan seperti ini." Abyan tertawa hambar.
"Apapun keputusan lo,kami akan selalu mendukung." ujar Chand yang sempat melihat ke arah El.
__ADS_1
"Tapi sebaiknya lebih pertimbangkan lagi risikonya,kalo berakhir baik untung." El menyisir rambut dengan tangan. "Gak kaya gue yang terlalu ceroboh dan tergesa-gesa,sulit dan perlu waktu untuk berusaha mengembalikan seperti semula."
"Lo juga terlalu yakin dengan diri sendiri." ejek Chand.
"Setidaknya gue pernah mencoba." El menunjuk dirinya dengan jempol tangan.
###
"Jam berapa,Bil?" tanya Dhea begitu mereka keluar dari toilet.
Billa berhenti di tempat,menatap jam tangannya sejenak. Lalu kembali berjalan. "Jam sembilan belas lewat sebelas menit."
"Kita ke atas ya." ajak Dhea.
Billa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mau ke atas?" tanya El yang melihat mereka mulai menaiki anak tangga,karena dia yang memiliki tujuan ke toilet pasti melewati tangga tersebut.
Tak perlu menjawab Dhea hanya mengacungkan jempolnya.
"Jangan dekat-dekat." Billa mengedepankan tangannya,yang biasanya digunakan orang-orang sebagai tanda menyuruh berhenti.
"Iya iya." ucap El tertawa. Menggeleng-gelengkan kepala setelahnya.
###
"Kok rapih banget?" tanya Chand yang entah dari mana baru masuk ruangan mereka berkumpul itu.
"Bentar lagi kami mau pulang." saut Billa sehabis mengenakan sweaternya.
"Gak tau El sama Abyan mungkin masih lama lagi." Dhea menarik resleting jaket kulitnya hingga tertutup setengahnya menimpali.
"Kami itu maksudnya kalian berdua aja?" tanya Abyan memastikan.
"Bukannya Billa tadi kesini sama Abyan?" belum terjawab pertanyaan Abyan,Chand malah menambahi.
"Emang kalian pulangnya naik apa? mending kami yang antar." El menopangkan dagu di tangan. Menarik bibirnya ke sebelah kiri.
Dhea menggeleng begitu mendengar pertanyaan yang silih berganti itu.
"Naik motor lah,Dhea kan bawa motor. Tadi dia bilang waktu di atas." balas Billa mengambil kunci motor di kantong jaket Dhea. Menunjukkannya pada El seakan pamer.
"Iya,kami berdua." Dhea menatap Abyan. "Karena Billa katanya mau pulang sama aku." mengalihkan pandangan pada Chand.
Abyan berdiri dari duduknya,berjalan menghampiri Billa. Kemudian menyodorkan tangannya pada Billa.
"Kunci." Datar. Intonasi ataupun ekspresi Abyan saat bicara dan menatap gadis itu.
__ADS_1
Tertunduk. Tanpa suara. Tanpa melihat laki-laki itu,Billa perlahan menyerahkan benda yang dipinta ke tangan Abyan.
Abyan mengusap kepala Billa,meskipun tidak ada senyuman di wajah lelaki itu.
"Kalian gak boleh pulang berdua aja,ini sudah malam." ucap Abyan menatap Dhea dan Billa bergantian.
"Ini belum lewat dari jam sembilan." protes Dhea.
"Tetap aja." suara Abyan sedikit meninggi.
Semuanya terdiam. Chand mendekat pada mereka dan menepuk pundak Abyan,setelahnya berjalan menuju sofa.
"Menurut aja,kalian berdua itu cewek." ucap Chand mulai duduk.
Abyan menghela napas perlahan. Menyerahkan kunci motor pada pemiliknya,Dhea.
"Mendingan aku aja yang antar kalian,motor Dhea tinggal disini aja." Abyan merendahkan suaranya. Meskipun tak menunduk ia mengarahkan pandangannya ke bawah.
"Gak perlu," Dhea meletakkan kunci motor ke tempatnya semula. "Mama udah beri pesan jangan terlalu malam pulangnya,karena tadi aku langsung ke sini gak ke rumah dulu."
El setengah berlari menghampiri ketiga orang itu,berakhir dengan merangkul Billa.
"Kalo gitu lo antar Dhea aja,biar gue yang antar Billa." ucap El pada Abyan.
"Billa ke sini sama Abyan,jadi pulangnya juga sama Abyan." saut Dhea.
"Males naik motor sport kamu,El. Apalagi aku pake rok." Billa sedikit mengangkat roknya yang di bawah lutut dengan sebelah tangan. Tanpa melepas rangkulan El di pundaknya.
El lantas tertunduk lemas,dan menyandarkan kepalanya pada kepala Billa.
"Aku pake mobil Abyan,gimana?" El menatap Billa. "Abyan pake motorku." berganti menatap Abyan.
"Gak bisa," Chand yang tiba-tiba berdiri di belakang melepaskan rangkulan El pada Billa. "Kalo aja lagi gak rame nih cafe,gue aja yang antar Billa.
"Ya sudah,yang pertama antar kamu dulu aja," Abyan menatap Dhea. "Baru antar Billa."
Dhea mendengus. "Aku tau Billa harus nyampe rumah sebelum jam setengah sepuluh,kalo ke rumahku dulu makan banyak waktu,dan lagi jauh dari cafe ini. Sedangkan rumah Billa lumayan deket dari sini."
"Karena rumah kamu jauh dari sini,jadi harus di antar." Abyan memijat dahinya. "El aja deh yang antar,tapi jangan boncengan."
Abyan membalikkan badannya,berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
Tak lama keempat orang itu pun menyusul Abyan,ikut keluar.
"Eh? Billa." sapa seseorang saat Billa berjalan melewatinya. Laki-laki itu menggenggam tangan Billa. "Pesan minum ya,kayak biasa."
"Bukannya lo baru mesan,bro. Itu minuman aja belum habis." celetuk teman di seberangnya.
__ADS_1
"Gak apa,tiba-tiba ngerasa haus aja." Lelaki itu belum melepaskan genggamannya,bahkan malah menggenggam sebelah tangan Billa dengan kedua tangan.