
"Sudah, siap berangkat Cel ?"
tanya Bella.
"Sudah. Tinggal nunggu yang lain,
mereka belum datang, ya, Bel ?"
"Tinggal nunggu si Pedro, Ikbal,
Parto dan Akhmad. Cowok-cowok cupu itu mesti telat padahal bentar lagi mobil
kita datang," Yulia menimpali.
"Trus, si Joan ?" tanyaku.
"Tuh, lagi makan," ujar Hudi
sambil menunjuk Joan yang sedang duduk santai di warteg tak jauh dari tempat
kami berdiri.
Aku tersenyum melihat Joan yang
sekalipun ia banyak makan namun, badannya tetap tidak bisa gemuk. Bukannya, dia
cacingan atau apa, namun sudah perawakannya yang atletis seperti Pemeran Tokoh
serial Xena Warrior Princess yang pernah populer ditayangkan oleh salah satu
stasiun tv swasta. Tubuh Joan memang mirip Lucy Lawless.
Saat aku menatapnya, secara kebetulan
sepasang mata kami bertemu. Ia tersenyum, melambaikan tangannya lalu
memanggilku, "Hei, Cella... kemarilah,"
Aku segera menghampirinya dan saat
mataku tertuju pada piring berisi 2 potong daging babat, telur, sayur dan
sambal goreng kacang, tempe dan buncis yang masih mengepulkan asap tipis
membuat cacing-cacing dalam perutku berontak. Semenjak bangun tidur, mandi dan mempersiapkan
diri untuk berangkat KKN ke kota sebelah, aku sama sekali belum mengganjal
perutku meski sepotong roti dengan mentega serta susu yang sudah dipersiapkan
oleh Mbak Sus dari jam setengah lima pagi tadi.
"Kau belum makan, bukan... ini
kebetulan aku memesan lauk-pauk & minuman kesukaanmu itu. Ayo, makan
bersama-sama denganku... mereka sudah aku tawari, namun, menolak takut muntah
di jalan katanya. Ayo, ambil. Tidak usah sungkan. Aku sudah bayar
semuanya," sahut Joan sambil menyodorkan sebuah piring dan sendok.
"Terima kasih, Joan... aku memang
tadi bangun kesiangan ga sempat makan," kataku sambil mengambil nasi dan
lauk yang sudah disediakan di tas meja. Kami berdua makan dengan lahap sekali.
***
Kami seakan naik rollercoaster manakala
mobil yang kami kendarai dengan kecepatan tinggi melewati jalanan yang tidak
rata, lubang disana-sini, tikungan yang tajam sementara di sebelah kanan adalah
dinding gunung yang sewaktu-waktu bisa longsor sementara di sebelah kiri jurang
yang dalam menganga. Meski kami ketakutan setengah mati, kami sekaligus takjub
dengan pesona pemandangan alam yang tersaji di depan mata kami.
Berulang kali Bella memperingatkan Pak
Dadung, sopir mobil untuk mengurangi kecepatan saat melewati tikungan tajam dan
jalanan menurun. "Tenang, saja, non... bapak sudah berpengalaman melewati
jalan-jalan seperti ini," kata Pak Dadung.
Jalanan semakin menikung dengan tajam,
sopir berusia kepala 5 itu segera membelok, jalanan menurun, di depan sana
sebuah truk melaju dari arah yang berlawanan, kami semua terkesiap di kanan
tebing, di kiri jurang di depan truk menghadang, sekalipun Pak Dadung ahli
dalam mengendarai mobil namun tidak bisa menghindar dari kendaraan raksasa
tersebut. Pak Dadung memilih untuk melintasi bibir jurang.
Roda mobil terlalu tipis untuk
menggilas jalanan sempit di bibir jurang untuk sesaat kami menahan nafas
berharap tidak jatuh ke jurang akan tetapi, jalanan itu rapuh dan mobil kami
condong ke kiri hingga akhirnya....
Mobil berguling-guling, kami semua
berpegang pada apa saja yang bisa kami pegang untuk menahan supaya kami tidak
terlempar keluar, tak ada yang bisa kami lakukan selain berteriak dan menangis
hingga akhirnya pandangan kami gelap, sebelum mataku terpejam aku sempat
melihat sosok-sosok bayangan berdatangan dan terdengar suara...
"Dorong-dorong terus, mereka hanya
luka-luka dan gegar otak ringan tak ada yang mati, tapi, sopirnya tergencet
badan mobil nyawanya tak bisa diselamatkan lagi, kita harus membantunya
keluar,"
Aku bersyukur sekali mendengarnya,
setidaknya teman-temanku selamat... setelah itu pandanganku berkunang-kunang,
tubuhku lemas karena sakit tak tertahankan di bagian pelipis kananku.
***
Saat aku membuka mata, kudapati tubuhku
terbaring di sebuah pembaringan yang empuk, dan tercium aroma harum menyengat bercampur
dengan aroma masakan tepat di samping tempat tidur.
"Kau sudah sadar ?" seorang
wanita yang duduk disamping kanan pembaringan, umurnya sekitar 45 tahunan,
wajahnya tampak begitu ramah, pandangan matanya menunjukkan kasih sayang dan
saat kami beradu pandang, aku merasa nyaman sekali, "Kau pingsan selama 2
hari," katanya.
"Dimana saya berada, bi ?"
tanyaku lemah, "Lalu mana teman-teman saya yang lain ?"
"Kau berada di desa Nakampe
Gading. Jangan khawatir, keenam temanmu, selamat. Penduduk desa telah
menempatkan mereka di rumah tamu tak jauh dari sini. Pulihkan kesehatanmu
terlebih dahulu baru kau bisa menemui mereka, nak," kata wanita itu sambil
menyelimutiku dan aku mendengar perutku bersuara aneh. Wanita itu tertawa,
"Oya, ibu hampir lupa," katanya sambil mengambil beberapa potong
daging kecap lalu menaruhnya di dalam lemari.
"Karena kau belum sehat betul,
maka, sini biar Bi Midar yang menyuapimu," ujar wanita itu sambil
mengambil sebuah piring, mengisinya dengan nasi dan menambahkan daging kecap yang
masih mengeluarkan asap tipis, "Daging kecap ini, enak dimakan selagi
hangat-hangat begini. Ayo, buka mulutmu,"
Aku segera membuka mulutku dan ujung
sendok yang sudah diisi nasi beserta lauknya perlahan-lahan masuk ke dalam
mulutku.
"Astaga rasanya enak sekali. Belum
pernah aku memakan daging seenak ini," seruku dalam hati.
Wanita itu tersenyum, "Bagaimana,
nak, rasanya enak, tidak ?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Enak, bi... kalau
boleh tahu apa nama masakan ini ? Dan siapa yang membuatnya ?" tanyaku.
"Oh, orang-orang di desa ini suka
sekali memasak krengsengan daging. Hampir semua orang di desa Nakampe Gading
ini bisa memasaknya... tapi, tak seenak, bi Midar," katanya setengah
berbisik lalu ia tertawa, "Kalau mau, biar Bi Midar mengajarkannya padamu,
makanya, cepat sembuh, ya, nduk..."
"Tentu saja saya mau, bi..."
sahutku untuk kemudian Bi Midar kembali menyuapiku. Seorang wanita yang ramah
dan baik. Dia bagaikan almarhum Ibuku yang meninggal 13 tahun yang lalu.
Mengingat kasih sayangnya, tanpa sadar mataku berkaca-kaca, membuat wanita yang
kupanggil dengan sebutan Bi Midar itu salah tingkah.
"Lho... lho... lho... kenapa
menangis, nduk ?" tanyanya sambil buru-buru meletakkan piring dan menyeka
airmata yang membasahi pipiku. Perbuatannya ini malah membuatku makin menangis
hingga akhirnya ia kebingungan.
"Wah, kalau begitu ada ucapan Bi
Midar yang salah, ya ?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku,
__ADS_1
"Tidak, Bi... saya hanya teringat akan almarhum ibu saya," sahutku.
"Oalah..." kata Bi Midar
sambil memeluk dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang, "Kalau
begitu, kau bisa menganggap ku sebagai ibumu, nduk," sambungnya.
"Terima kasih, Bi..." ujarku
sementara Bi Midar kembali menyuapiku, "Masakan ini benar-benar
enak," kataku sambil terus mengunyah dan mengunyah hingga akhirnya piring
di tangan Bi Midar yang tersisa ada bekas-bekas kuah kecap,
"Mau nambah, nduk ?"
tanyanya.
Aku malu mau mengatakan
"Iya," akan tetapi, perutku memang masih berontak, karena sudah
beberapa hari tidak terisi. BI Midar tersenyum, lalu kembali mengambil dan
mengisinya dengan lauk yang sama lalu kembali menyuapiku.
***
Saat aku membuka mataku, aku berada di
sebuah hutan yang cukup luas. Pohon-pohon tumbuh berjejer di sekelilingku,
tingginya mungkin lima kali lipat dari tinggi orang dewasa pada umumnya.
Rimbun, begitu rimbunnya hingga cahaya matahari hanya bisa menyisakan
garis-garis sinar putih keperakan di sela-sela ranting dan dedaunan. Menerangi
jalanan berumput hijau tempatku berpijak.
Titik-titik embun yang sebagian
membasahi daun dan rerumputan, membuatku seakan berjalan di tengah berlian yang
berkilauan. Jalanan itu panjang dan luas, sejauh mata memandang yang tampak
hanyalah rerumputan hijau membentang bagaikan permadani. Aku tak ingat
bagaimana bisa sampai di tempat ini. Akan tetapi, bagaikan digerakkan oleh
kekuatan tak kasat mata, membuat kaki-kaki ini melangkah. Ringan seakan tanpa
beban atau bobot. Melangkah menyusuri jalanan tersebut. Jalanan itu berakhir
pada sebuah desa kecil, mungkinkah itu desa Nakampe Gading seperti yang
dibilang oleh Bi Midar ? tanyaku dalam hati.
Aku terus berjalan, hingga akhirnya
sampai pada 2 buah gapura yang terbuat dari batu alam setinggi 6 meter. Pada
bagian atas gapura itu terukir sebuah patung makhluk raksasa. Bentuk patung itu
aneh sekali mirip hewan seperti kerbau, memiliki 2 tanduk besi pada sisi kanan
kiri kepalanya, juga bagian tengah. Matanya terbelalak lebar, bola matanya
seakan keluar dan memancarkan sinar merah membara.
Patung itu serupa dengan patung pada
gapura sebelah kanan. Diantara 2 gapura itu terpasang sebuah banner raksasa
sepanjang 15 meter pada ujungnya terikat oleh tali yang diikatkan pada salah
satu sisi tanduk besi patung makhluk raksasa yang aneh dan menyeramkan itu.
Ada beberapa kalimat tertera pada
Banner tersebut.
"SELAMAT DATANG DI DESA NAKAMPE
GADING Butuh pengorbanan untuk maju dan berkembang "
Semboyan yang bagus, menurutku. Masa
bodoh dengan segala semboyan, yang penting adalah aku harus tahu dimana aku
berada sekarang, bagaimana pula bisa sampai di tempat ini, lalu kemanakah Joan
dan yang lain, mengapa aku bisa sendirian di tempat ini.... kepalaku pusing
memikirkan berjuta-juta pertanyaan yang mengganjal di dalam diriku. Aku terus
melangkah dan aku tak mendapati siapapun di tempat ini, padahal aku sudah
berjalan jauh sejak dari gapura itu sampai di tempat ini.
Mendadak, tampak olehku sesosok
bayangan tengah berjalan ke arah Timur melewati jalanan setapak berbatu tak
jauh dari tempatku berada.
"Hei, tunggu dulu..." seruku
sekeras mungkin sambil berlari mendekat. Bayangan itu seakan tak mendengar
teriakanku, ia terus berjalan. Aku tergerak untuk mengikutinya, maka,
kuputuskan untuk mengejarnya. Mendadak langkah kakiku terhenti di hadapanku
mendadak muncul seorang pria yang, bagiku sudah sangat familiar sekali Si Pedro,
jangkung kurus dan kulitnya gelap, siapa dia.
"Pedro, kemana saja kamu ?!"
sapaku.
"Jangan kau kejar lagi, Cella
..." katanya, "Dia sengaja memancingmu, untuk masuk lebih ke dalam
lagi... maka, kalau sudah begitu jiwamu akan terjebak di sana selamanya,"
"Kau bicara apa, dro ? Aku tak
mengerti,"
"Untuk kali ini percayalah padaku,
Cel... Kau dan teman-teman segeralah pergi dari desa terkutuk ini, please...
percayalah padaku," rengek Pedro perlahan-lahan tubuhnya menghilang dan
membuatku heran, "Dro... Pedro, kau ada dimana ? Jawab aku, dro,"
Tidak ada jawaban, pandanganku menyapu
ke sekeliling yang kulihat hanyalah rimbunan semak belukar. Pedro tidak ada,
apakah aku berhalusinasi ? Tidak barusan dia ada di depanku lalu mengapa kini
hilang bagai ditelan bumi.
"Kemarilah, nak..."
Suara itu terdengar diantara hembusan
angin yang menggesek ranting dan dedaunan. Aku menoleh kesana-kemari, mencari
sumber suara tapi, tak ada siapapun ditempat itu.
"Datanglah kemari, nak...
kemarilah... kami menunggumu,"
Lagi. Suara itu terdengar, ada suara
tapi tak ada wujud, mungkinkah aku salah dengar ? Tidak. Aku yakin ada suara
yang memanggilku. Aku bisa mendengarnya dengan jelas.
8 meter di depan sana, tampak olehku
sebuah bayangan hitam, ia duduk membelakangiku. Bayangan aneh itu mengenakan
pakaian hitam compang-camping, kurus dan sedikit membungkuk.
"Pak... pak... kalau boleh tahu,
dimana sekarang saya berada ?" tanyaku saat sudah berdiri di belakang
sosok itu. Sosok itu tak menjawab, telingaku mendengar suara "Kraus...
Kraus... Kraus..." sepertinya orang itu tengah memakan sesuatu.
Soal makan, aku dan teman-teman memang
gampang tergoda. Terlebih, apabila melihat seseorang yang makan dengan lahap,
membuat perut kami mudah sekali tergoda untuk turut menikmati makanan tersebut.
Terlebih seperti saat sekarang ini, aku seperti telah berjalan cukup jauh, dan
menguras seluruh energiku, perut mudah sekali merasa lapar.
"Pak... Kalau boleh tahu dimanakah
saya berada sekarang, " ulangku, kali ini aku memberanikan diri untuk
menyentuh bahu sosok itu. Ia menengadah, perlahan-lahan ia menoleh. Dan...
Aku menjerit tertahan, tak percaya
dengan pandangan mataku. Tulang dahinya menonjol ke atas sepasang matanya kecil
tampak liar berwarna merah, tidak memiliki hidung dan tulang bibir, ia
menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang tajam dan runcing pada
ujung-ujungnya dihiasi cairan berwarna merah bercampur air liur.
Aku mundur beberapa tindak, sementara
sepasang mataku menatap jari-jemarinya yang berwarna hitam lagi runcing
mencengkeram sebatang tulang. Tepat, diantara pangkal pahanya, terdapat
potongan-potongan daging bersimbah darah dan itu bukanlah daging kerbau, sapi
atau ayam namun, itu adalah potongan tubuh manusia. Ternyata, ia memakan daging
manusia. Hilang sudah selera makanku, kini digantikan oleh rasa takut merayap
di sekujur tubuhku.
"Daging lezat dan menggiurkan...
he...he...he..." katanya dengan suara menyeramkan. Ia perlahan-lahan
berdiri, tubuhnya tinggi sekali mungkin lebih tinggi daripada pepohonan di
sekeliling tempat ini dan berjalan menghampiriku.
Aku jatuh terduduk, makhluk itu makin
__ADS_1
lama makin dekat, sebisa mungkin aku harus menjauhinya.
Makhluk itu membuka mulutnya
lebar-lebar, gigi-giginya yang runcing dan basah oleh air liur. Aku terus
menarik tubuhku mundur, mundur dan mundur, saat sudah berada agak jauh dari
makhluk itu, barulah aku bisa berdiri dan lari sekencang-kencangnya.
Namun, tanah tempatku berpijak seakan
bergetar hebat, aku tak peduli, sebisa mungkin menjauh dan terus menjauh.
Hingga tibalah aku di sebuah tanah lapang yang cukup luas, hanya sebentar saja
menghela nafas lega sebelum akhirnya, tanah tempat ku berpijak seakan melesak
ke dalam dan tubuhku masuk ke dalam tanah, setelah itu suasana gelap gulita,
tak tahu mana atas, mana bawah, mana kiri, mana kanan. Tubuhku ini seakan
meluncur dengan derasnya hingga....
Saat aku membuka mata, wajah Bi Midar
yang pucat pasi sudah berada di hadapanku, bukan cuma dia akan tetapi, Joan,
Bella, Yulia dan yang lain juga menatapku dengan tatapan cemas.
"Kau membuat kami khawatir,
Cel...," ujar Yulia.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi
hingga membuatmu pingsan dalam waktu yang agak lama ?" tanya Bella.
"Apakah aku pingsan lagi ?"
tanyaku.
"Tubuhmu kejang-kejang beberapa
saat lalu pingsan. Bi Midar kebingungan lalu meminta kami untuk menjagamu
sementara, beliau orang untuk memeriksa keadaanmu," ujar Julia.
"Aku tidak apa-apa ? Beberapa hari
ini kalian kemana saja ? Lalu dimana Pedro, Ikbal, dan Parto ?"
"Mereka menghilang, penduduk desa
ini sudah mencarinya kemana-mana, tapi, belum ada kabar sampai sekarang,"
jawab Hudi.
"Kita harus ikut mencarinya,"
sahutku.
"Ya, kami semua berencana untuk
mencari mereka. Kami tidak akan bisa mencarinya saat kau sendiri masih
terus-menerus bersantai ria di pembaringan ini," tegas Hudi.
"Iya, aku mengerti. Terima kasih
atas perhatian kalian,"
Dalam perawatan Bi Midar, kesehatanku
pulih begitu cepatnya, selain masakan krengsengan daging, sop daging dan banyak
masakan asing yang menggugah selera makanku, Bi Midar juga memasak beraneka
ragam sayuran. Semua masakan Bi Midar lezat dan bergizi, teman-teman sesekali
juga menginap di rumah wanita itu. Semuanya diperlakukan bagai anak sendiri,
kami merasa betah tinggal disana.
***
Malam itu, desa Nakampe Gading tampak
lengang, tak nampak seorang penduduk pun. Ini sudah malam ketiga kami tinggal
di desa tersebut. Bi Midar sendiri tak kelihatan, biasanya ia duduk di tungku
api sambil memasak sesuatu. Padahal malam ini begitu indah dengan cahaya bulan
purnama menggantung di langit dan bintang-bintang bertaburan mengelilinginya.
Aku dan teman-teman duduk-duduk di
serambi depan sambil menikmati pemandangan alam yang mempesona itu. Sebab, di
rumah tempat kami lahir, jarang sekali diperlihatkan pemandangan seperti ini.
Mendadak dari kejauhan tampak sesosok
bayangan berjalan mendekat, dari postur tubuhnya, kami bisa mengenali siapa
pemilik bayangan itu. Hudi.
"Eh, Hud... tumben kok telat
ngumpul," kata Akhmad, "Wajahmu pucat sekali, kenapa ?"
"Sebaiknya, kita bicarakan di
dalam rumah saja," kata Hudi sambil mengajak kami masuk.
Sesampai di dalam, ia menoleh
kesana-kemari memastikan tak ada orang lain yang melihat. Setelah dirasa aman,
ia menutup pintu dan jendela kami semua merasa heran dengan gelagatnya ini.
"Tadi, sewaktu hendak kemari...
aku melewati rumah Pak Sujar. Salah seorang penduduk mendatanginya," bisik
Hudi.
"Apa hubungannya dengan pucatnya
wajahmu ?" tanya Julia.
"Semula kedatangan penduduk itu,
kuanggap sebagai hal biasa, namun, setelah melihat air muka Kedua orang itu,
aku jadi curiga. Kucoba mendengar apa yang mereka bicarakan,"
***
"Bagaimana ? Apa kau sudah
melakukan tugas yang kuberikan padamu, Jono ?" tanya Pak Sujar.
"Sudah, pak... bersih dan rapi.
Tak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya,"
"Selama ini kita tak pernah
kedatangan tamu dari kota. Jadi, pastikan mereka merasa nyaman dan betah untuk
tinggal disini. Jangan ceroboh, mereka adalah mahasiswa, tentunya, menghadapi
mereka tak semudah menghadapi anak SD, SMP maupun SMA. Mari kita pergi ke ruang
doa, kita harus merundingkannya dengan penduduk yang lain," jelas Pak
Sujar.
Mereka berdua keluar ruangan, melangkah
ke arah Barat, disana terdapat bangunan yang luas dan cukup besar, daerah itu
minim sekali penerangannya, hanya diterangi beberapa lentera tergantung pada
tembok dan obor tertancap di tanah.
Di dalam ruangan, sekalipun hanya
diterangi obor dan lentera, suasana terlihat begitu meriah. Para penduduk desa
itu, baik pria maupun wanita mengenakan pakaian minim dan tipis, duduk bersila
menghadap ke sebuah patung yang cukup besar dan mengerikan.
Patung itu berwujud sebuah makhluk yang
memiliki 4 tanduk. 2 tanduk itu menancap pada kepala bagian kanan, kiri dan dua
tanduk yang lain menancap tepat pada dahi kiri dan kanan. Sepasang matanya
merah membelalak lebar, menatap ke arah para penduduk yang duduk di hadapannya.
Mulut menganga, memperlihatkan deretan gigi yang panjang dan runcing.
Jumlah tangannya 10 buah, 2 buah
diletakkan di dada, 4 tangan menempel di tubuh sebelah kiri membawa benda
seperti pedang, tombak, trisula dan gada. 4 tangan lain, menempel pada sebelah
kanan membawa kepala manusia, poci / cangkir, jantung dan piring. Warna patung
itu hitam legam bagaikan arang, tampak hidup saat cahaya api pada lentera dan
obor menyinarinya.
Tak lama kemudian para penduduk itu
mengangkat tangan, membungkukkan badan serendah-rendahnya, dahinya menempel di
tanah dan mulut mereka mendengungkan sebuah lagu aneh. Juga mantra-mantra yang
mengandung kekuatan magis, membuat Hudi tak nyaman dan akhirnya berlalu
meninggalkan tempat itu.
***
"Jadi, maksudmu, para penduduk
desa ini adalah sekelompok orang pemuja setan?" sahut Akhmad dengan nada
agak tinggi, buru-buru Hudi dan yang lain menutup mulut pemuda berambut
keriting itu.
"Jaga nada bicaramu,
tolol..." sahut Joan, "Ocehanmu itu bisa mencelakakan kita semua,
paham, tidak ?!"
Aku termenung, kembali teringat mimpiku
beberapa hari yang lalu, "Rasanya, kok patung yang kau bicarakan itu mirip
dengan mimpiku, ya?" ujarku, membuat semua orang terdiam seribu bahasa,
mata mereka seakan memintaku untuk menceritakannya.
__ADS_1
__________ Bersambung __________