( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB I


__ADS_3

"Sudah, siap berangkat Cel ?"


tanya Bella.


"Sudah. Tinggal nunggu yang lain,


mereka belum datang, ya, Bel ?"


"Tinggal nunggu si Pedro, Ikbal,


Parto dan Akhmad. Cowok-cowok cupu itu mesti telat padahal bentar lagi mobil


kita datang," Yulia menimpali.


"Trus, si Joan ?" tanyaku.


"Tuh, lagi makan," ujar Hudi


sambil menunjuk Joan yang sedang duduk santai di warteg tak jauh dari tempat


kami berdiri.


Aku tersenyum melihat Joan yang


sekalipun ia banyak makan namun, badannya tetap tidak bisa gemuk. Bukannya, dia


cacingan atau apa, namun sudah perawakannya yang atletis seperti Pemeran Tokoh


serial Xena Warrior Princess yang pernah populer ditayangkan oleh salah satu


stasiun tv swasta. Tubuh Joan memang mirip Lucy Lawless.


Saat aku menatapnya, secara kebetulan


sepasang mata kami bertemu. Ia tersenyum, melambaikan tangannya lalu


memanggilku, "Hei, Cella... kemarilah,"


Aku segera menghampirinya dan saat


mataku tertuju pada piring berisi 2 potong daging babat, telur, sayur dan


sambal goreng kacang, tempe dan buncis yang masih mengepulkan asap tipis


membuat cacing-cacing dalam perutku berontak. Semenjak bangun tidur, mandi dan mempersiapkan


diri untuk berangkat KKN ke kota sebelah, aku sama sekali belum mengganjal


perutku meski sepotong roti dengan mentega serta susu yang sudah dipersiapkan


oleh Mbak Sus dari jam setengah lima pagi tadi.


"Kau belum makan, bukan... ini


kebetulan aku memesan lauk-pauk & minuman kesukaanmu itu. Ayo, makan


bersama-sama denganku... mereka sudah aku tawari, namun, menolak takut muntah


di jalan katanya. Ayo, ambil. Tidak usah sungkan. Aku sudah bayar


semuanya," sahut Joan sambil menyodorkan sebuah piring dan sendok.


"Terima kasih, Joan... aku memang


tadi bangun kesiangan ga sempat makan," kataku sambil mengambil nasi dan


lauk yang sudah disediakan di tas meja. Kami berdua makan dengan lahap sekali.


***


Kami seakan naik rollercoaster manakala


mobil yang kami kendarai dengan kecepatan tinggi melewati jalanan yang tidak


rata, lubang disana-sini, tikungan yang tajam sementara di sebelah kanan adalah


dinding gunung yang sewaktu-waktu bisa longsor sementara di sebelah kiri jurang


yang dalam menganga. Meski kami ketakutan setengah mati, kami sekaligus takjub


dengan pesona pemandangan alam yang tersaji di depan mata kami.


Berulang kali Bella memperingatkan Pak


Dadung, sopir mobil untuk mengurangi kecepatan saat melewati tikungan tajam dan


jalanan menurun. "Tenang, saja, non... bapak sudah berpengalaman melewati


jalan-jalan seperti ini," kata Pak Dadung.


Jalanan semakin menikung dengan tajam,


sopir berusia kepala 5 itu segera membelok, jalanan menurun, di depan sana


sebuah truk melaju dari arah yang berlawanan, kami semua terkesiap di kanan


tebing, di kiri jurang di depan truk menghadang, sekalipun Pak Dadung ahli


dalam mengendarai mobil namun tidak bisa menghindar dari kendaraan raksasa


tersebut. Pak Dadung memilih untuk melintasi bibir jurang.


Roda mobil terlalu tipis untuk


menggilas jalanan sempit di bibir jurang untuk sesaat kami menahan nafas


berharap tidak jatuh ke jurang akan tetapi, jalanan itu rapuh dan mobil kami


condong ke kiri hingga akhirnya....


Mobil berguling-guling, kami semua


berpegang pada apa saja yang bisa kami pegang untuk menahan supaya kami tidak


terlempar keluar, tak ada yang bisa kami lakukan selain berteriak dan menangis


hingga akhirnya pandangan kami gelap, sebelum mataku terpejam aku sempat


melihat sosok-sosok bayangan berdatangan dan terdengar suara...


"Dorong-dorong terus, mereka hanya


luka-luka dan gegar otak ringan tak ada yang mati, tapi, sopirnya tergencet


badan mobil nyawanya tak bisa diselamatkan lagi, kita harus membantunya


keluar,"


Aku bersyukur sekali mendengarnya,


setidaknya teman-temanku selamat... setelah itu pandanganku berkunang-kunang,


tubuhku lemas karena sakit tak tertahankan di bagian pelipis kananku.


***


Saat aku membuka mata, kudapati tubuhku


terbaring di sebuah pembaringan yang empuk, dan tercium aroma harum menyengat bercampur


dengan aroma masakan tepat di samping tempat tidur.


"Kau sudah sadar ?" seorang


wanita yang duduk disamping kanan pembaringan, umurnya sekitar 45 tahunan,


wajahnya tampak begitu ramah, pandangan matanya menunjukkan kasih sayang dan


saat kami beradu pandang, aku merasa nyaman sekali, "Kau pingsan selama 2


hari," katanya.


"Dimana saya berada, bi ?"


tanyaku lemah, "Lalu mana teman-teman saya yang lain ?"


"Kau berada di desa Nakampe


Gading. Jangan khawatir, keenam temanmu, selamat. Penduduk desa telah


menempatkan mereka di rumah tamu tak jauh dari sini. Pulihkan kesehatanmu


terlebih dahulu baru kau bisa menemui mereka, nak," kata wanita itu sambil


menyelimutiku dan aku mendengar perutku bersuara aneh. Wanita itu tertawa,


"Oya, ibu hampir lupa," katanya sambil mengambil beberapa potong


daging kecap lalu menaruhnya di dalam lemari.


"Karena kau belum sehat betul,


maka, sini biar Bi Midar yang menyuapimu," ujar wanita itu sambil


mengambil sebuah piring, mengisinya dengan nasi dan menambahkan daging kecap yang


masih mengeluarkan asap tipis, "Daging kecap ini, enak dimakan selagi


hangat-hangat begini. Ayo, buka mulutmu,"


Aku segera membuka mulutku dan ujung


sendok yang sudah diisi nasi beserta lauknya perlahan-lahan masuk ke dalam


mulutku.


"Astaga rasanya enak sekali. Belum


pernah aku memakan daging seenak ini," seruku dalam hati.


Wanita itu tersenyum, "Bagaimana,


nak, rasanya enak, tidak ?" tanyanya.


Aku mengangguk, "Enak, bi... kalau


boleh tahu apa nama masakan ini ? Dan siapa yang membuatnya ?" tanyaku.


"Oh, orang-orang di desa ini suka


sekali memasak krengsengan daging. Hampir semua orang di desa Nakampe Gading


ini bisa memasaknya... tapi, tak seenak, bi Midar," katanya setengah


berbisik lalu ia tertawa, "Kalau mau, biar Bi Midar mengajarkannya padamu,


makanya, cepat sembuh, ya, nduk..."


"Tentu saja saya mau, bi..."


sahutku untuk kemudian Bi Midar kembali menyuapiku. Seorang wanita yang ramah


dan baik. Dia bagaikan almarhum Ibuku yang meninggal 13 tahun yang lalu.


Mengingat kasih sayangnya, tanpa sadar mataku berkaca-kaca, membuat wanita yang


kupanggil dengan sebutan Bi Midar itu salah tingkah.


"Lho... lho... lho... kenapa


menangis, nduk ?" tanyanya sambil buru-buru meletakkan piring dan menyeka


airmata yang membasahi pipiku. Perbuatannya ini malah membuatku makin menangis


hingga akhirnya ia kebingungan.


"Wah, kalau begitu ada ucapan Bi


Midar yang salah, ya ?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku,

__ADS_1


"Tidak, Bi... saya hanya teringat akan almarhum ibu saya," sahutku.


"Oalah..." kata Bi Midar


sambil memeluk dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang, "Kalau


begitu, kau bisa menganggap ku sebagai ibumu, nduk," sambungnya.


"Terima kasih, Bi..." ujarku


sementara Bi Midar kembali menyuapiku, "Masakan ini benar-benar


enak," kataku sambil terus mengunyah dan mengunyah hingga akhirnya piring


di tangan Bi Midar yang tersisa ada bekas-bekas kuah kecap,


"Mau nambah, nduk ?"


tanyanya.


Aku malu mau mengatakan


"Iya," akan tetapi, perutku memang masih berontak, karena sudah


beberapa hari tidak terisi. BI Midar tersenyum, lalu kembali mengambil dan


mengisinya dengan lauk yang sama lalu kembali menyuapiku.


***


Saat aku membuka mataku, aku berada di


sebuah hutan yang cukup luas. Pohon-pohon tumbuh berjejer di sekelilingku,


tingginya mungkin lima kali lipat dari tinggi orang dewasa pada umumnya.


Rimbun, begitu rimbunnya hingga cahaya matahari hanya bisa menyisakan


garis-garis sinar putih keperakan di sela-sela ranting dan dedaunan. Menerangi


jalanan berumput hijau tempatku berpijak.


Titik-titik embun yang sebagian


membasahi daun dan rerumputan, membuatku seakan berjalan di tengah berlian yang


berkilauan. Jalanan itu panjang dan luas, sejauh mata memandang yang tampak


hanyalah rerumputan hijau membentang bagaikan permadani. Aku tak ingat


bagaimana bisa sampai di tempat ini. Akan tetapi, bagaikan digerakkan oleh


kekuatan tak kasat mata, membuat kaki-kaki ini melangkah. Ringan seakan tanpa


beban atau bobot. Melangkah menyusuri jalanan tersebut. Jalanan itu berakhir


pada sebuah desa kecil, mungkinkah itu desa Nakampe Gading seperti yang


dibilang oleh Bi Midar ? tanyaku dalam hati.


Aku terus berjalan, hingga akhirnya


sampai pada 2 buah gapura yang terbuat dari batu alam setinggi 6 meter. Pada


bagian atas gapura itu terukir sebuah patung makhluk raksasa. Bentuk patung itu


aneh sekali mirip hewan seperti kerbau, memiliki 2 tanduk besi pada sisi kanan


kiri kepalanya, juga bagian tengah. Matanya terbelalak lebar, bola matanya


seakan keluar dan memancarkan sinar merah membara.


Patung itu serupa dengan patung pada


gapura sebelah kanan. Diantara 2 gapura itu terpasang sebuah banner raksasa


sepanjang 15 meter pada ujungnya terikat oleh tali yang diikatkan pada salah


satu sisi tanduk besi patung makhluk raksasa yang aneh dan menyeramkan itu.


Ada beberapa kalimat tertera pada


Banner tersebut.


"SELAMAT DATANG DI DESA NAKAMPE


GADING Butuh pengorbanan untuk maju dan berkembang "


Semboyan yang bagus, menurutku. Masa


bodoh dengan segala semboyan, yang penting adalah aku harus tahu dimana aku


berada sekarang, bagaimana pula bisa sampai di tempat ini, lalu kemanakah Joan


dan yang lain, mengapa aku bisa sendirian di tempat ini.... kepalaku pusing


memikirkan berjuta-juta pertanyaan yang mengganjal di dalam diriku. Aku terus


melangkah dan aku tak mendapati siapapun di tempat ini, padahal aku sudah


berjalan jauh sejak dari gapura itu sampai di tempat ini.


Mendadak, tampak olehku sesosok


bayangan tengah berjalan ke arah Timur melewati jalanan setapak berbatu tak


jauh dari tempatku berada.


"Hei, tunggu dulu..." seruku


sekeras mungkin sambil berlari mendekat. Bayangan itu seakan tak mendengar


teriakanku, ia terus berjalan. Aku tergerak untuk mengikutinya, maka,


kuputuskan untuk mengejarnya. Mendadak langkah kakiku terhenti di hadapanku


mendadak muncul seorang pria yang, bagiku sudah sangat familiar sekali Si Pedro,


jangkung kurus dan kulitnya gelap, siapa dia.


"Pedro, kemana saja kamu ?!"


sapaku.


"Jangan kau kejar lagi, Cella


..." katanya, "Dia sengaja memancingmu, untuk masuk lebih ke dalam


lagi... maka, kalau sudah begitu jiwamu akan terjebak di sana selamanya,"


"Kau bicara apa, dro ? Aku tak


mengerti,"


"Untuk kali ini percayalah padaku,


Cel... Kau dan teman-teman segeralah pergi dari desa terkutuk ini, please...


percayalah padaku," rengek Pedro perlahan-lahan tubuhnya menghilang dan


membuatku heran, "Dro... Pedro, kau ada dimana ? Jawab aku, dro,"


Tidak ada jawaban, pandanganku menyapu


ke sekeliling yang kulihat hanyalah rimbunan semak belukar. Pedro tidak ada,


apakah aku berhalusinasi ? Tidak barusan dia ada di depanku lalu mengapa kini


hilang bagai ditelan bumi.


"Kemarilah, nak..."


Suara itu terdengar diantara hembusan


angin yang menggesek ranting dan dedaunan. Aku menoleh kesana-kemari, mencari


sumber suara tapi, tak ada siapapun ditempat itu.


"Datanglah kemari, nak...


kemarilah... kami menunggumu,"


Lagi. Suara itu terdengar, ada suara


tapi tak ada wujud, mungkinkah aku salah dengar ? Tidak. Aku yakin ada suara


yang memanggilku. Aku bisa mendengarnya dengan jelas.


8 meter di depan sana, tampak olehku


sebuah bayangan hitam, ia duduk membelakangiku. Bayangan aneh itu mengenakan


pakaian hitam compang-camping, kurus dan sedikit membungkuk.


"Pak... pak... kalau boleh tahu,


dimana sekarang saya berada ?" tanyaku saat sudah berdiri di belakang


sosok itu. Sosok itu tak menjawab, telingaku mendengar suara "Kraus...


Kraus... Kraus..." sepertinya orang itu tengah memakan sesuatu.


Soal makan, aku dan teman-teman memang


gampang tergoda. Terlebih, apabila melihat seseorang yang makan dengan lahap,


membuat perut kami mudah sekali tergoda untuk turut menikmati makanan tersebut.


Terlebih seperti saat sekarang ini, aku seperti telah berjalan cukup jauh, dan


menguras seluruh energiku, perut mudah sekali merasa lapar.


"Pak... Kalau boleh tahu dimanakah


saya berada sekarang, " ulangku, kali ini aku memberanikan diri untuk


menyentuh bahu sosok itu. Ia menengadah, perlahan-lahan ia menoleh. Dan...


Aku menjerit tertahan, tak percaya


dengan pandangan mataku. Tulang dahinya menonjol ke atas sepasang matanya kecil


tampak liar berwarna merah, tidak memiliki hidung dan tulang bibir, ia


menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang tajam dan runcing pada


ujung-ujungnya dihiasi cairan berwarna merah bercampur air liur.


Aku mundur beberapa tindak, sementara


sepasang mataku menatap jari-jemarinya yang berwarna hitam lagi runcing


mencengkeram sebatang tulang. Tepat, diantara pangkal pahanya, terdapat


potongan-potongan daging bersimbah darah dan itu bukanlah daging kerbau, sapi


atau ayam namun, itu adalah potongan tubuh manusia. Ternyata, ia memakan daging


manusia. Hilang sudah selera makanku, kini digantikan oleh rasa takut merayap


di sekujur tubuhku.


"Daging lezat dan menggiurkan...


he...he...he..." katanya dengan suara menyeramkan. Ia perlahan-lahan


berdiri, tubuhnya tinggi sekali mungkin lebih tinggi daripada pepohonan di


sekeliling tempat ini dan berjalan menghampiriku.


Aku jatuh terduduk, makhluk itu makin

__ADS_1


lama makin dekat, sebisa mungkin aku harus menjauhinya.


Makhluk itu membuka mulutnya


lebar-lebar, gigi-giginya yang runcing dan basah oleh air liur. Aku terus


menarik tubuhku mundur, mundur dan mundur, saat sudah berada agak jauh dari


makhluk itu, barulah aku bisa berdiri dan lari sekencang-kencangnya.


Namun, tanah tempatku berpijak seakan


bergetar hebat, aku tak peduli, sebisa mungkin menjauh dan terus menjauh.


Hingga tibalah aku di sebuah tanah lapang yang cukup luas, hanya sebentar saja


menghela nafas lega sebelum akhirnya, tanah tempat ku berpijak seakan melesak


ke dalam dan tubuhku masuk ke dalam tanah, setelah itu suasana gelap gulita,


tak tahu mana atas, mana bawah, mana kiri, mana kanan. Tubuhku ini seakan


meluncur dengan derasnya hingga....


Saat aku membuka mata, wajah Bi Midar


yang pucat pasi sudah berada di hadapanku, bukan cuma dia akan tetapi, Joan,


Bella, Yulia dan yang lain juga menatapku dengan tatapan cemas.


"Kau membuat kami khawatir,


Cel...," ujar Yulia.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi


hingga membuatmu pingsan dalam waktu yang agak lama ?" tanya Bella.


"Apakah aku pingsan lagi ?"


tanyaku.


"Tubuhmu kejang-kejang beberapa


saat lalu pingsan. Bi Midar kebingungan lalu meminta kami untuk menjagamu


sementara, beliau orang untuk memeriksa keadaanmu," ujar Julia.


"Aku tidak apa-apa ? Beberapa hari


ini kalian kemana saja ? Lalu dimana Pedro, Ikbal, dan Parto ?"


"Mereka menghilang, penduduk desa


ini sudah mencarinya kemana-mana, tapi, belum ada kabar sampai sekarang,"


jawab Hudi.


"Kita harus ikut mencarinya,"


sahutku.


"Ya, kami semua berencana untuk


mencari mereka. Kami tidak akan bisa mencarinya saat kau sendiri masih


terus-menerus bersantai ria di pembaringan ini," tegas Hudi.


"Iya, aku mengerti. Terima kasih


atas perhatian kalian,"


Dalam perawatan Bi Midar, kesehatanku


pulih begitu cepatnya, selain masakan krengsengan daging, sop daging dan banyak


masakan asing yang menggugah selera makanku, Bi Midar juga memasak beraneka


ragam sayuran. Semua masakan Bi Midar lezat dan bergizi, teman-teman sesekali


juga menginap di rumah wanita itu. Semuanya diperlakukan bagai anak sendiri,


kami merasa betah tinggal disana.


***


Malam itu, desa Nakampe Gading tampak


lengang, tak nampak seorang penduduk pun. Ini sudah malam ketiga kami tinggal


di desa tersebut. Bi Midar sendiri tak kelihatan, biasanya ia duduk di tungku


api sambil memasak sesuatu. Padahal malam ini begitu indah dengan cahaya bulan


purnama menggantung di langit dan bintang-bintang bertaburan mengelilinginya.


Aku dan teman-teman duduk-duduk di


serambi depan sambil menikmati pemandangan alam yang mempesona itu. Sebab, di


rumah tempat kami lahir, jarang sekali diperlihatkan pemandangan seperti ini.


Mendadak dari kejauhan tampak sesosok


bayangan berjalan mendekat, dari postur tubuhnya, kami bisa mengenali siapa


pemilik bayangan itu. Hudi.


"Eh, Hud... tumben kok telat


ngumpul," kata Akhmad, "Wajahmu pucat sekali, kenapa ?"


"Sebaiknya, kita bicarakan di


dalam rumah saja," kata Hudi sambil mengajak kami masuk.


Sesampai di dalam, ia menoleh


kesana-kemari memastikan tak ada orang lain yang melihat. Setelah dirasa aman,


ia menutup pintu dan jendela kami semua merasa heran dengan gelagatnya ini.


"Tadi, sewaktu hendak kemari...


aku melewati rumah Pak Sujar. Salah seorang penduduk mendatanginya," bisik


Hudi.


"Apa hubungannya dengan pucatnya


wajahmu ?" tanya Julia.


"Semula kedatangan penduduk itu,


kuanggap sebagai hal biasa, namun, setelah melihat air muka Kedua orang itu,


aku jadi curiga. Kucoba mendengar apa yang mereka bicarakan,"


***


"Bagaimana ? Apa kau sudah


melakukan tugas yang kuberikan padamu, Jono ?" tanya Pak Sujar.


"Sudah, pak... bersih dan rapi.


Tak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya,"


"Selama ini kita tak pernah


kedatangan tamu dari kota. Jadi, pastikan mereka merasa nyaman dan betah untuk


tinggal disini. Jangan ceroboh, mereka adalah mahasiswa, tentunya, menghadapi


mereka tak semudah menghadapi anak SD, SMP maupun SMA. Mari kita pergi ke ruang


doa, kita harus merundingkannya dengan penduduk yang lain," jelas Pak


Sujar.


Mereka berdua keluar ruangan, melangkah


ke arah Barat, disana terdapat bangunan yang luas dan cukup besar, daerah itu


minim sekali penerangannya, hanya diterangi beberapa lentera tergantung pada


tembok dan obor tertancap di tanah.


Di dalam ruangan, sekalipun hanya


diterangi obor dan lentera, suasana terlihat begitu meriah. Para penduduk desa


itu, baik pria maupun wanita mengenakan pakaian minim dan tipis, duduk bersila


menghadap ke sebuah patung yang cukup besar dan mengerikan.


Patung itu berwujud sebuah makhluk yang


memiliki 4 tanduk. 2 tanduk itu menancap pada kepala bagian kanan, kiri dan dua


tanduk yang lain menancap tepat pada dahi kiri dan kanan. Sepasang matanya


merah membelalak lebar, menatap ke arah para penduduk yang duduk di hadapannya.


Mulut menganga, memperlihatkan deretan gigi yang panjang dan runcing.


Jumlah tangannya 10 buah, 2 buah


diletakkan di dada, 4 tangan menempel di tubuh sebelah kiri membawa benda


seperti pedang, tombak, trisula dan gada. 4 tangan lain, menempel pada sebelah


kanan membawa kepala manusia, poci / cangkir, jantung dan piring. Warna patung


itu hitam legam bagaikan arang, tampak hidup saat cahaya api pada lentera dan


obor menyinarinya.


Tak lama kemudian para penduduk itu


mengangkat tangan, membungkukkan badan serendah-rendahnya, dahinya menempel di


tanah dan mulut mereka mendengungkan sebuah lagu aneh. Juga mantra-mantra yang


mengandung kekuatan magis, membuat Hudi tak nyaman dan akhirnya berlalu


meninggalkan tempat itu.


***


"Jadi, maksudmu, para penduduk


desa ini adalah sekelompok orang pemuja setan?" sahut Akhmad dengan nada


agak tinggi, buru-buru Hudi dan yang lain menutup mulut pemuda berambut


keriting itu.


"Jaga nada bicaramu,


tolol..." sahut Joan, "Ocehanmu itu bisa mencelakakan kita semua,


paham, tidak ?!"


Aku termenung, kembali teringat mimpiku


beberapa hari yang lalu, "Rasanya, kok patung yang kau bicarakan itu mirip


dengan mimpiku, ya?" ujarku, membuat semua orang terdiam seribu bahasa,


mata mereka seakan memintaku untuk menceritakannya.

__ADS_1


__________ Bersambung __________


__ADS_2