
"Namanya,
Lelepah, nduk..." kata Pak Udin saat kami berenam berkunjung ke rumahnya
untuk meminta petunjuk, "Makhluk sejenis jin yang suka sekali memakan
daging mentah seperti : ayam, kelinci, ikan dan lain sebagainya. Maka, untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, para penduduk desa ini kalau keluar
rumah selalu membawa daging mentah. Seandainya, tanpa sengaja atau secara
kebetulan bertemu dengan lelepah, yang bersangkutan akan memberinya daging
tersebut," jelas Pak Udin.
"Maaf,
pak... apa benar makhluk yang bernama lelepah itu ada ?" tanya Akhmad.
"Mad, jaga
bicaramu," sahut Joan.
"Pak,
tujuan kami datang ke rumah bapak adalah untuk meminta pendapat dan saran,
bagaimana kami harus memulai pencarian 4 orang teman kami yang hilang,"
jelasku.
"Rencananya,
kapan kalian ingin mencarinya ?"
"Lebih
cepat, lebih baik, pak... " jawabku.
"Baiklah,
bapak akan mengutus beberapa orang untuk mencari mereka. Tapi, ada beberapa
tempat yang tidak sembarangan orang boleh masuk... kalau dilanggar, bencana
akan menimpa desa ini. Di sebelah Utara desa ini, tempat itu adalah makam
leluhur kami, tak seorangpun boleh memasukinya kecuali para penatua desa. Kami
sendiri tanpa seijin mereka, tidak berani memasukinya. Tempat kedua adalah,
bagian Barat, kami menamainya Bajang," jelas Pak Udin.
"Bajang ?
Apa itu, pak ?" tanya Julia.
"Bajang.
Itu sebutan penduduk desa ini untuk sosok makhluk yang berwujud bayi. Tubuhnya
terlihat seperti bayi-bayi pada umumnya, namun, kepalanya aneh, bergigi tajam.
Kemunculannya biasanya ditandai dengan jerit tangis memilukan, juga kesakitan.
Mereka adalah bayi-bayi korban aborsi. Bapak hanya mengingatkan, jangan sampai
kalian tertipu dengan wujud sosok jin bernama Bajang ini, mereka bisa kelihatan
lucu, namun mereka bisa juga memperlihatkan wujud yang sesungguhnya, bayi
prematur / cacat dan mengerikan," jelas Pak Udin.
Kami semua yang
mendengar penjelasan Pak Udin bergidik, harapan kami adalah segera menemukan
Pedro, Parto, Bianca dan Ikbal, setelah itu pergi dari desa ini.
*
Destinasi
pertama, lokasi pencarian kami adalah tempat dimana kami pertama kali mengalami
kecelakaan.
5 orang
bertubuh tinggi, tegap dan kekar yang diberi tugas oleh Pak Udin sebagai
pemandu dan perambah jalan membawa parang, digunakan untuk membabat
tanaman-tanaman liar juga ilalang, tongkat besi yang panjangnya lebih kurang
satu meter setengah bercabang 2 pada ujungnya, digunakan untuk berjaga-jaga
dari serangan hewan melata seperti ular dan lain sebagainya; ransel
perlengkapan SAR dan sabit.
Para perambah
jalan itu bekerja dengan cekatan, membabat ilalang ataupun menebas kayu-kayu
yang melintang diatas kepala, sisi kanan dan kiri. Tanpa adanya perambah jalan
yang benar-benar ahli di bidangnya itu, mungkin kami akan kesulitan mencapai
lokasi / Medan yang bagi kami cukup berat.
Setelah
berjalan lebih dari dua jam, tibalah kami di lokasi kecelakaan. Mobil kami
__ADS_1
masih dibiarkan terbengkalai disana dan mulai ditumbuhi semak-semak dan tanaman
liar.
"Kita
sudah sampai di lokasi, nak..." kata Pak Rusli, "Itu mobil kalian,
bukan ? Kami memang sengaja tidak memindahkan mobil itu karena khawatir kena
tulah,"
"Tulah ?
Apa artinya, pak ?" tanya Hudi.
"Setiap
barang yang terkena percikan darah, kami dilarang menyentuhnya karena bisa
menimbulkan malapetaka atau bencana. Kecelakaan yang kalian alami beberapa hari
yang lalu, telah menimbulkan korban jiwa. Sopir kalian tewas. Menurut adat
istiadat kami, jika ada seseorang yang meninggal, entah itu karena kecelakaan,
dibunuh atau bunuh diri, kami hanya diperkenankan membantu mereka selama 24
jam, lebih dari itu kami tidak boleh menyentuh barang-barang mereka. Jadi,
sebelum 24 jam, kami harus mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk upacara
pemakamannya. Nah, saat kalian mengalami kecelakaan, kamilah yang mengeluarkan
kalian dari dalam mobil termasuk jasad sopir itu. Tak ada orang lain lagi
selain kalian bertujuh Makanya, kami heran saat kalian mengatakan 4 orang teman
kalian menghilang. Sopir itu kami makamkan di tempat yang agak jauh dari sini,
apakah kalian hendak melihat makamnya ?" jelas Rusli.
"Tidak,
pak... kami harus menemukan teman-teman kami dulu," tolakku,
"Bolehkah kami memeriksa mobil kami, pak barangkali ada barang yang
tertinggal di dalam sana ?"
"Tapi, itu
..." Pak Rusli tampak ragu-ragu lalu memandang ke arah teman-temannya.
"Kami
harus merundingkannya terlebih dahulu dengan Pak Sujar, kepala desa ini,"
sahut Pak Yunus.
"Aduh,
"Ojo
ngomong sembarangan, Mad..." sahut Bella, "Kita Iki tamu, ora iso sak
karepe Dewe," sambungnya.
Joan berjalan
menghampiri kerangka mobil, sepasang matanya menyapu ke setiap sudut, ada
bercak-bercak darah yang mengering pada bagian tempat duduk sopir, bau anyir
darah masih tercium meski kecelakaan itu sudah lewat nyaris satu Minggu, lalat
dan semut mengerubungi tempat duduk Pak Dadung.
Mendadak,
perhatian Joan tertuju pada pintu tertuju pada sisi kiri bagian tengah mobil,
pintu itu juga sudah rusak dan dirambati tanaman liar, namun, ia bisa melihat
bekas tubuh diseret mengarah ke tumpukan semak belukar di depan moncong mobil
yang menghadap ke sebelah Timur. Jaraknya lebih kurang 10 meter tempat kami berdiri.
"Pak Yunus, boleh saya pinjam galahnya ?" tanya Joan, "Tampaknya ada
sesuatu di balik tumpukan semak belukar dan kayu itu,"
Pak Yunus segera melangkah ke arah yang ditunjuk oleh Joan. Ia segera bekerja
membersihkan rimbunan semak belukar dan kayu itu. Dan, galahnya seperti
membentur sebuah benda yang cukup keras dan kuat.
"A...a.... apakah ini salah satu teman kalian ?" tanya Pak Yunus.
Buru-buru kamimelangkah dan memeriksanya, namun, Pak Toni pembawa tas ransel mencegahnya,
"Mohon maaf, jika kalian ingin memeriksanya, gunakan kaos tangan ini,
setelah itu buanglah," katanya sambil menyodorkan beberapa kaos tangan
kepada kami. Kami menerima dan memakainya setelah itu memeriksa benda tersebut
sementara Pak Yunus terus membersihkan semak-semak liar dengan hati-hati. Dan
..
Bella histeris
manakala melihat benda yang ternyata adalah sebuah tulang belulang manusia.
__ADS_1
Joan memeriksa
dengan teliti tengkorak itu. Ada jas almamater kampus x kota kami, sekalipun
compang-camping dan warna ungunya memudar tapi, kami yakin itu adalah jas
tempat sekolah kami. Dengan melihat susunan tulang gigi dan bentuk tulang, dia
berjenis kelamin laki-laki. Tulang kepalanya retak.
"Dia
Ikbal, teman-teman," ujar Joan.
"Bagaimana
dia bisa terseret sampai sejauh 10 meter dari lokasi kecelakaan?" tanyaku.
Bella, Hudi,
Akhmad dan Julia tampak bersedih sementara sepasang mata Joan terus mengamati
sekeliling. Sekalipun, banyak sekali tanaman-tanaman liar dan merambat, namun,
justru itulah yang mengganggunya.
Para perambah
jalan itu, kembali bekerja membuka jalan untuk kami. Lokasi kecelakaan sudah
jauh di belakang kami sementara hari matahari sudah mulai condong ke arah
Barat.
"Adik-adik
sekalian, sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum malam tiba, besok kita
lanjutkan lagi," kata Pak Rusli.
*
Malam itu, kami
duduk di serambi depan rumah Bi Midar. Joan tampak gelisah. Kurasa, akulah yang
tahu apa yang menyebabkannya demikian. Sebelum berangkat KKN, ibu Ikbal
wanti-wanti kepada kami agar bisa menjaga Ikbal dengan baik hingga KKN selesai
namun, yang terjadi justru di luar dugaan kami semua. Kami tidak tahu,
bagaimana menjelaskan kejadian ini padanya.
"Kalian
tak mendengar sesuatu ?" mendadak Bella berkata dengan suara nyaring.
"Suara
apa, Bell ?" tanyaku.
"Dengarkanlah
dengan seksama," ujar Bella.
"Kami
tidak mendengar apapun," Hudi ikut nimbrung.
Kami berenam
terdiam memastikan kebenaran perkataan Bella. Tidak terdengar apa-apa.
"Sebenarnya,
kau mendengar suara apa, Bell ?" tanyaku.
"Aku...
aku mendengar suara seperti bayi menangis," kata Bella.
"Haduh
biyung... mbok, ya aja nggedabrus, ta, Bell," celetuk Akhmad.
"Sayang
kalian tak mendengarnya. Sepertinya asal suara itu tak jauh dari sini,"
"Jangan
kau pedulikan, Bell... ingat apa kata Pak Udin. Mereka adalah jin, jadi jangan
sampai kau terlena, abaikan saja," sahut Joan.
"Ta...
ta... tapi, tampaknya bayi itu membutuhkan pertolongan kita," ujar Bella.
"Sudah.
Tutup telingamu, abaikan !!" bentak Joan.
Bentakan ini
cukup membuat Bella terkejut demikian pula yang lain.
"Jangan
biarkan pikiran kita kosong. Jika itu terjadi, kita bisa celaka," sahutku.
"Dengar.
Mulai hari ini kita harus selalu bersama, jangan sampai berpisah... " ujar
__ADS_1
Joan.
____ Bersambung ____