( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB II


__ADS_3

"Namanya,


Lelepah, nduk..." kata Pak Udin saat kami berenam berkunjung ke rumahnya


untuk meminta petunjuk, "Makhluk sejenis jin yang suka sekali memakan


daging mentah seperti : ayam, kelinci, ikan dan lain sebagainya. Maka, untuk


menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, para penduduk desa ini kalau keluar


rumah selalu membawa daging mentah. Seandainya, tanpa sengaja atau secara


kebetulan bertemu dengan lelepah, yang bersangkutan akan memberinya daging


tersebut," jelas Pak Udin.


"Maaf,


pak... apa benar makhluk yang bernama lelepah itu ada ?" tanya Akhmad.


"Mad, jaga


bicaramu," sahut Joan.


"Pak,


tujuan kami datang ke rumah bapak adalah untuk meminta pendapat dan saran,


bagaimana kami harus memulai pencarian 4 orang teman kami yang hilang,"


jelasku.


"Rencananya,


kapan kalian ingin mencarinya ?"


"Lebih


cepat, lebih baik, pak... " jawabku.


"Baiklah,


bapak akan mengutus beberapa orang untuk mencari mereka. Tapi, ada beberapa


tempat yang tidak sembarangan orang boleh masuk... kalau dilanggar, bencana


akan menimpa desa ini. Di sebelah Utara desa ini, tempat itu adalah makam


leluhur kami, tak seorangpun boleh memasukinya kecuali para penatua desa. Kami


sendiri tanpa seijin mereka, tidak berani memasukinya. Tempat kedua adalah,


bagian Barat, kami menamainya Bajang," jelas Pak Udin.


"Bajang ?


Apa itu, pak ?" tanya Julia.


"Bajang.


Itu sebutan penduduk desa ini untuk sosok makhluk yang berwujud bayi. Tubuhnya


terlihat seperti bayi-bayi pada umumnya, namun, kepalanya aneh, bergigi tajam.


Kemunculannya biasanya ditandai dengan jerit tangis memilukan, juga kesakitan.


Mereka adalah bayi-bayi korban aborsi. Bapak hanya mengingatkan, jangan sampai


kalian tertipu dengan wujud sosok jin bernama Bajang ini, mereka bisa kelihatan


lucu, namun mereka bisa juga memperlihatkan wujud yang sesungguhnya, bayi


prematur / cacat dan mengerikan," jelas Pak Udin.


Kami semua yang


mendengar penjelasan Pak Udin bergidik, harapan kami adalah segera menemukan


Pedro, Parto, Bianca dan Ikbal, setelah itu pergi dari desa ini.


*


Destinasi


pertama, lokasi pencarian kami adalah tempat dimana kami pertama kali mengalami


kecelakaan.


5 orang


bertubuh tinggi, tegap dan kekar yang diberi tugas oleh Pak Udin sebagai


pemandu dan perambah jalan membawa parang, digunakan untuk membabat


tanaman-tanaman liar juga ilalang, tongkat besi yang panjangnya lebih kurang


satu meter setengah bercabang 2 pada ujungnya, digunakan untuk berjaga-jaga


dari serangan hewan melata seperti ular dan lain sebagainya; ransel


perlengkapan SAR dan sabit.


Para perambah


jalan itu bekerja dengan cekatan, membabat ilalang ataupun menebas kayu-kayu


yang melintang diatas kepala, sisi kanan dan kiri. Tanpa adanya perambah jalan


yang benar-benar ahli di bidangnya itu, mungkin kami akan kesulitan mencapai


lokasi / Medan yang bagi kami cukup berat.


Setelah


berjalan lebih dari dua jam, tibalah kami di lokasi kecelakaan. Mobil kami

__ADS_1


masih dibiarkan terbengkalai disana dan mulai ditumbuhi semak-semak dan tanaman


liar.


"Kita


sudah sampai di lokasi, nak..." kata Pak Rusli, "Itu mobil kalian,


bukan ? Kami memang sengaja tidak memindahkan mobil itu karena khawatir kena


tulah,"


"Tulah ?


Apa artinya, pak ?" tanya Hudi.


"Setiap


barang yang terkena percikan darah, kami dilarang menyentuhnya karena bisa


menimbulkan malapetaka atau bencana. Kecelakaan yang kalian alami beberapa hari


yang lalu, telah menimbulkan korban jiwa. Sopir kalian tewas. Menurut adat


istiadat kami, jika ada seseorang yang meninggal, entah itu karena kecelakaan,


dibunuh atau bunuh diri, kami hanya diperkenankan membantu mereka selama 24


jam, lebih dari itu kami tidak boleh menyentuh barang-barang mereka. Jadi,


sebelum 24 jam, kami harus mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk upacara


pemakamannya. Nah, saat kalian mengalami kecelakaan, kamilah yang mengeluarkan


kalian dari dalam mobil termasuk jasad sopir itu. Tak ada orang lain lagi


selain kalian bertujuh Makanya, kami heran saat kalian mengatakan 4 orang teman


kalian menghilang. Sopir itu kami makamkan di tempat yang agak jauh dari sini,


apakah kalian hendak melihat makamnya ?" jelas Rusli.


"Tidak,


pak... kami harus menemukan teman-teman kami dulu," tolakku,


"Bolehkah kami memeriksa mobil kami, pak barangkali ada barang yang


tertinggal di dalam sana ?"


"Tapi, itu


..." Pak Rusli tampak ragu-ragu lalu memandang ke arah teman-temannya.


"Kami


harus merundingkannya terlebih dahulu dengan Pak Sujar, kepala desa ini,"


sahut Pak Yunus.


"Aduh,


"Ojo


ngomong sembarangan, Mad..." sahut Bella, "Kita Iki tamu, ora iso sak


karepe Dewe," sambungnya.


Joan berjalan


menghampiri kerangka mobil, sepasang matanya menyapu ke setiap sudut, ada


bercak-bercak darah yang mengering pada bagian tempat duduk sopir, bau anyir


darah masih tercium meski kecelakaan itu sudah lewat nyaris satu Minggu, lalat


dan semut mengerubungi tempat duduk Pak Dadung.


Mendadak,


perhatian Joan tertuju pada pintu tertuju pada sisi kiri bagian tengah mobil,


pintu itu juga sudah rusak dan dirambati tanaman liar, namun, ia bisa melihat


bekas tubuh diseret mengarah ke tumpukan semak belukar di depan moncong mobil


yang menghadap ke sebelah Timur.  Jaraknya lebih kurang 10 meter tempat kami berdiri.


"Pak Yunus, boleh saya pinjam galahnya ?" tanya Joan, "Tampaknya ada


sesuatu di balik tumpukan semak belukar dan kayu itu,"


Pak Yunus segera melangkah ke arah yang ditunjuk oleh Joan. Ia segera bekerja


membersihkan rimbunan semak belukar dan kayu itu. Dan, galahnya seperti


membentur sebuah benda yang cukup keras dan kuat.


"A...a.... apakah ini salah satu teman kalian ?" tanya Pak Yunus.


Buru-buru kamimelangkah dan memeriksanya, namun, Pak Toni pembawa tas ransel mencegahnya,


"Mohon maaf, jika kalian ingin memeriksanya, gunakan kaos tangan ini,


setelah itu buanglah," katanya sambil menyodorkan beberapa kaos tangan


kepada kami. Kami menerima dan memakainya setelah itu memeriksa benda tersebut


sementara Pak Yunus terus membersihkan semak-semak liar dengan hati-hati. Dan


..


Bella histeris


manakala melihat benda yang ternyata adalah sebuah tulang belulang manusia.

__ADS_1


Joan memeriksa


dengan teliti tengkorak itu. Ada jas almamater kampus x kota kami, sekalipun


compang-camping dan warna ungunya memudar tapi, kami yakin itu adalah jas


tempat sekolah kami. Dengan melihat susunan tulang gigi dan bentuk tulang, dia


berjenis kelamin laki-laki. Tulang kepalanya retak.


"Dia


Ikbal, teman-teman," ujar Joan.


"Bagaimana


dia bisa terseret sampai sejauh 10 meter dari lokasi kecelakaan?" tanyaku.


Bella, Hudi,


Akhmad dan Julia tampak bersedih sementara sepasang mata Joan terus mengamati


sekeliling. Sekalipun, banyak sekali tanaman-tanaman liar dan merambat, namun,


justru itulah yang mengganggunya.


Para perambah


jalan itu, kembali bekerja membuka jalan untuk kami. Lokasi kecelakaan sudah


jauh di belakang kami sementara hari matahari sudah mulai condong ke arah


Barat.


"Adik-adik


sekalian, sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum malam tiba, besok kita


lanjutkan lagi," kata Pak Rusli.


*


Malam itu, kami


duduk di serambi depan rumah Bi Midar. Joan tampak gelisah. Kurasa, akulah yang


tahu apa yang menyebabkannya demikian. Sebelum berangkat KKN, ibu Ikbal


wanti-wanti kepada kami agar bisa menjaga Ikbal dengan baik hingga KKN selesai


namun, yang terjadi justru di luar dugaan kami semua. Kami tidak tahu,


bagaimana menjelaskan kejadian ini padanya.


"Kalian


tak mendengar sesuatu ?" mendadak Bella berkata dengan suara nyaring.


"Suara


apa, Bell ?" tanyaku.


"Dengarkanlah


dengan seksama," ujar Bella.


"Kami


tidak mendengar apapun," Hudi ikut nimbrung.


Kami berenam


terdiam memastikan kebenaran perkataan Bella. Tidak terdengar apa-apa.


"Sebenarnya,


kau mendengar suara apa, Bell ?" tanyaku.


"Aku...


aku mendengar suara seperti bayi menangis," kata Bella.


"Haduh


biyung... mbok, ya aja nggedabrus, ta, Bell," celetuk Akhmad.


"Sayang


kalian tak mendengarnya. Sepertinya asal suara itu tak jauh dari sini,"


"Jangan


kau pedulikan, Bell... ingat apa kata Pak Udin. Mereka adalah jin, jadi jangan


sampai kau terlena, abaikan saja," sahut Joan.


"Ta...


ta... tapi, tampaknya bayi itu membutuhkan pertolongan kita," ujar Bella.


"Sudah.


Tutup telingamu, abaikan !!" bentak Joan.


Bentakan ini


cukup membuat Bella terkejut demikian pula yang lain.


"Jangan


biarkan pikiran kita kosong. Jika itu terjadi,  kita bisa celaka," sahutku.


"Dengar.


Mulai hari ini kita harus selalu bersama, jangan sampai berpisah... " ujar

__ADS_1


Joan.


____ Bersambung ____


__ADS_2