( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading

( Tersesat ) Di Desa Nakampe Gading
BAB VI


__ADS_3

“WARNING !!!


UNTUK 21 ++


MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN FISIK,


PEMUTILASIAN, DLL


MOHON PARA PEMBACA YANG BUDIMAN,


MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK DAN BIJAKSANA. TERIMA KASIH ATAS PENGERTIAN, WAKTU


DAN KERJA SAMANYA ....”


Untuk kesekian


kalinya, sebuah cahaya putih menyilaukan mata membuatku harus memejamkan mata.


Begitu membuka mata ... Aku, Joan, Mbah Buluk dan Mbah Abang sudah berada di


tempat lain.


Pintu berwarna


hitam, tingginya lebih kurang 2 kali tinggi badan orang dewasa, tertutup rapat


di hadapanku. Ini adalah pintu masuk ruangan yang disebut Sendang itu. Baru


saja hendak membuka pintu tersebut, pintu terpentang lebar dan apa yang


terdapat di dalamnya sama persis seperti yang diperlihatkan oleh Mbah Abang


dalam mimpiku. Beberapa orang berusia diatas 50 tahun tengah memandikan 3 sosok


tubuh manusia yang sangat familiar sekali. Pedro, Parto dan Bianca. Selain


Bianca, tubuh mereka penuh luka dan keadaannya cukup mengenaskan.


Terdapat luka


panjang dan menganga pada bagian perut hingga dada. Organ dalamnya sudah


dikeluarkan dan diletakkan pada nampan yang dibawa oleh beberapa wanita paruh


baya, salah satunya adalah Bi Midar. Aku dan Joan menjerit keras, mataku


terbelalak lebar dan bagaikan digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata,


aku berlari menghampirinya, mendorong kalau bisa memukul mereka, tetapi, tangan


– tanganku seakan menyentuh udara kosong.


“Mbah,” seruku,


“Mengapa aku tak bisa menyentuh mereka ?” tanyaku di sela – sela isak tangis.


 “Untuk apa kau membawa kami ke tempat ini,


Mbah ? Apa yang mereka lakukan pada teman- teman kami ?!” kata Joan dengan


perasaan tak keruan menyaksikan pemandangan itu.


“Tidak bisa,


nduk... bukankah Mbah Buluk sudah mengatakan bahwa kita berada di lorong


dimensi waktu. Apa yang sudah terjadi disini, kita tak mampu mencegah ataupun


ikut campur. Mbah Buluk menunjukkan ini, agar kalian tahu apa yang sebenarnya


dialami oleh teman – teman kalian,” jelas Mbah Buluk.


Pemandangan


selanjutnya adalah kolam berbentuk lingkaran dengan 8 anak tangga. Diatasnya,


berdiri sebuah patung raksasa berwujud aneh dan mengerikan, berwarna hitam


legam. Patung itu tampak hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya.


Bertanduk empat, sepasang mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka,


memperlihatkan deretan gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna


merah darah. Bertangan sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam


benda, 2 diantaranya diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala


manusia, jantung, pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir. Sebagian


besar orang – orang itu duduk menghadap ke arahnya, sementara, mulut mereka


komat – kamit. Mbah Buluk menyebut patung itu, ANGKARA MURKA.


Beberapa saat


kemudian, tubuh Bianca digendong dan diletakkan pada tubuh patung Angkara


Murka, tangan dan kakinya diikat menggantung pada beberapa bagian tangan


berjumlah sepuluh buah itu. Dia pingsan, darah masih membasahi kening kanannya.


Luka menganga akibat benturan, sementara yang lain telah memotong – motong


tubuh Pedro dan Parto. Aku dan Joan, memalingkan wajah, tidak tega menyaksikan


pemandangan itu.


Satu persatu,


para penduduk bangkit berdiri, berjalan menuju ke sebelah kanan dimana ada


sebuah meja besar, mengambil sebuah mangkuk dan pisau yang ditata rapi di atas


meja. Setelah itu ia melangkah mendekati seorang laki – laki yang usianya sama


dengan Mbah Buluk. Laki – laki itu berpakaian merah hati, kumis dan jenggotnya


kelabu, panjang hingga dada. MBAH JAUHARI, begitulah Mbah Buluk menyebutnya.


Orang pertama


memberi hormat pada Mbah Jauhari, setelah laki – laki tua itu menganggukkan


kepala, ia menaiki anak tangga, begitu tiba di dekat Bianca, ia mendekatkan


mata pisau ke arah pergelangan tangan kiri Bianca.


“Ssrreett ...”


Dengan pisaunya


yang tajam berkilat – kilat, orang itu membuat sayatan panjang pada pergelangan


tangan kiri Bianca. Darah segar segera mengucur keluar dan sebelum darah itu


menetes, ia sudah meletakkan mangkuk di bawah luka Bianca tersebut. Setelah


darah mencapai separuk mangkuk, penduduk itu pergi. Menyusul orang kedua,


ketiga, keempat dan yang lain. Masing – masing menyayat pergelangan kiri Bianca

__ADS_1


dan mengisi mangkuk dengan darah yang menetes dari luka sayatan. Begitu tidak


ada tempat lain untuk menyayat, Mbah Jauhari merobek pakaian Bianca dan


mempersilahkan orang – orang itu menyayat. Bianca mengeluh perlahan, tapi tak


mampu bergerak sedikitpun akibat luka pada kepala, kesadarannya hilang.


Aku tak sanggup


melihat derita yang dialami oleh Bianca, yang bisa kulakukan adalah menangis,


menangis dan terus menangis. Sementara, Joan menyaksikan itu semua sambil


menahan amarah. Wajahnya merah padam, tangannya terkepal kuat sekali dan


tubuhnya bergetar hebat sekali, terlebih melihat tubuh Bianca yang nyaris


telanjang itu sudah penuh dengan sayatan dan mandi darah.


Setelah orang –


orang itu, menyayat dan mengisi mangkuknya dengan darah Bianca, mereka duduk


kembali sambil memakan daging milik Pedro dan Parto yang sudah disajikan di


atas meja di sebelah kanan. Mereka tidak lagi mempedulikan keadaan Bianca yang


sekarat.


“Cukup, Mbah !”


seruku, “Aku tak ingin berlama – lama di tempat ini. Bisakah kita pergi


sekarang ?” pintaku.


Mbah Buluk


mengangguk. Dan, entah bagaimana caranya, mendadak saja kami sudah berada di


tempat semula. Gubuk sederhana beratap rumbiah, dimana Mbah Buluk tinggal. Mbah


Abang, tak kulihat lagi, entah dimana beliau sekarang.


“Benar – benar


tak kusangka, penduduk yang terlihat ramah tamah itu, ternyata adalah


segerombolan manusia pemakan daging dan peminum darah,” kataku.


“Itulah yang


terjadi setelah mereka mempercayai nasihat Mbah Jauhari. Kami tidak bisa


berbuat apa – apa saat menyaksikan kejadian itu,” kata Mbah Buluk


“Lalu, mengapa


Bianca bisa meloloskan diri dan berubah menjadi makhluk mengerikan dan buas


sampai – sampai tega melukai Bella ?” tanya Joan.


“Kalau tidak


salah... Pak Sujar pernah menyebut – nyebut BAJANG, bukan ?”


“Wilayah desa


terlarang di sebelah Barat,” sahutku.


“Di daerah


tersebut, ada sebuah tanaman langka, sejenis bunga sepatu ... bisa berubah


menyebutnya dengan KEMBANG MALIH RUPO. Warnanya bagus, tapi beracun. Mampu


membuat siapa saja yang mencium aromanya, berhalusinasi. Berhalusinasi seperti


apa yang dibayangkannya. Mbah Jauhari meracik tanaman itu menjadi minuman dan


makanan yang bisa merubah sifat orang, baik jadi buruk, buruk jadi baik, bahkan


mencuci otak siapa saja yang mengkonsumsinya. Teman kalian yang bernama Bianca


itu dijadikan kelinci percobaan. Mengetahui bahwa dia masih bisa bertahan hidup


sekalipun dengan luka – luka tersebut, ia menolongnya. Yang jelas


pertolongannya itu bukan karena ketulusan dan keikhlasan hati. Ada yang harus


dibayar untuk semuanya itu dan salah satunya adalah, merubah Bianca menjadi


makhluk seperti yang pernah diceritakan oleh nenek moyang turun – temurun


kepada desa SINUHUN PANGAYOMAN ini. LELEPAH,” jelas Mbah Buluk.


“Jadi, lelepah


itu hanyalah isapan jempol belaka ?” tanya Joan, “Apakah Mbah pernah bertemu


dengan Makhluk itu ?”


“Lelepah adalah


Jin yang berwujud raksasa, bergigi tajam dan runcing. Di dunia yang sudah


dianggap maju seperti ini, dia tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi,


secara mata batin, lelepah ada dimana – mana, terutama disini. Di mata Mbah


Buluk ini. Lelepah itu adalah manusia itu sendiri, karena pada dasarnya


memiliki sifat serakah, rakus, ambisius, menghalalkan segala cara demi


kepentingannya sendiri; Itulah gambaran Lelepah di dunia nyata. Jin ini apabila


mencium bau darah atau daging segar, akan menampakkan diri,” jelas Mbah Buluk.


***


“Kita harus


segera pergi dari sini,” seruku pada yang lain


“Bagaimana


dengan yang lain, Cel ?” tanya Yulia.


“Kita bisa


memastikannya di wilayah bagian Utara desa ini,” sahut Joan.


“Kalian berdua


ini, kerasukan apa ? Bukankah, Pak Sujar melarang keras memasuki daerah itu ?”


tanya Hudi.


“Kita bisa


diamuk massa, lo...” sambung Akhmad.

__ADS_1


“Kalau begitu,


sekalian saja kita hajar balik !” sahut Joan, wajahnya merah padam.


“Jo, jangan


buat masalah. Kita berada di desa orang,” kata Yulia cemas.


“Bbrraakk !!!


Kkkrrreeekkk !”


Suara pertama


adalah Joan menggebrak meja dengan kepalannya, bunyi kedua adalah meja kayu


tersebut patah salah satu kakinya. Membuat kami tersentak dan diam seketika.


“Sek, to ....


sakbenere, ono opo ? Kok Kowe koyok ngono kuwi ?” tanya Akhmad.


“Sepurane....”


kataku, “Deso iki ora cocok ditinggali barang sejam utawa luwih,” sambungku


untuk kemudian menjelaskan apa yang baru kami alami dan dituturkan oleh Mbah


Buluk.


“Astaghfirullah,” seru Akhmad bersamaan dengan yang lain.


“Kalau begitu,


kita harus menyelidiki MAKAM KERAMAT, memastikan apa benar 3 patok batu nisan


terbungkus kain merah itu di dalamnya benar – benar Pedro dan yang lain,” ujar


Yulia.


“Kami yang


pergi, kalian tunggu saja disini. Setelah memastikan Pedro dan yang lain


dimakamkan disitu, kita segera pergi dari desa terkutuk ini,” tegas Joan.


Teringat ucapan


Mbah Buluk, aku menangis sekaligus merasakan perut diaduk – aduk dan ...


“HHOOEEKKH


....”


Aku muntah –


muntah, semua orang terkejut kecuali, Joan... karena tahu apa yang menyebabkan


aku menumpahkan sebagian isi perutku.


“Jangan


terkejut jika kalian melihat makam teman – temanmu lebih kecil ukurannya


dibanding makam yang lain ... karena, jasad mereka tidak akan ditemukan disana.


Yang ada adalah sebuah guci tertutup dengan kain putih, isinya, abu.


Tabahkanlah hatimu, nduk...”


Ucapan Mbah


Buluk itu terngiang kembali, aku menundukkan wajah sedalam – dalamnya.


“Peristiwa


dalam Sendang itu terjadi satu hari setelah kecelakaan. Kebetulan mobil kalian


terperosok ke dalam jurang yang merupakan kawasan desa Nakampe Gading.  Para warga datang memberikan pertolongan. 2


orang meninggal, salah satunya adalah pria berusia 50 tahunan, mungkin sopir


kalian.... tubuhnya tergencet diantara ban kemudi dan kursi ... dan yang satu


adalah seorang pemuda berumur 20 tahunan. Mereka ditinggalkan disana. Alasannya


adalah, siapapun yang membawa mayat pendatang ke desa ini, maka, seluruh warga


akan terkena malapetaka atau kesialan. Kami tak mau menanggung resiko, itulah


sebabnya... jenazah mereka dibiarkan tergeletak disana. Semula wanita yang


bernama Bianca itu, oleh penduduk dikira sudah meninggal dan berniat ditinggal


pula disana, tapi, Mbah Jauhari sempat memeriksa detak jantung dan denyut nadi


masih ada maka, ia meminta para penduduk membawanya serta. Tidak di rumah Bu


Midar seperti yang beliau perintahkan, namun dibawa ke Sendang untuk dijadikan


Tumbal. Kau pasti masih ingat saat Bu Midar memberimu makan ? Itu adalah bagian


dari potongan daging teman – temanmu setelah mereka dicincang. Jasad mereka


dibakar, dimasukkan ke dalam guci dan dikuburkan di MAKAM KERAMAT,”


Jika waktu bisa


diputar kembali, aku memilih membiarkan tubuhku terbaring hingga sembuh atau


sekalian ajal menjemput. TIDAK AKAN MEMAKAN DAGING temanku sendiri. Aku


menyesal. Tak heran Joan murka sekali kepada penduduk desa ini. Dan, sejak saat


itu ... Joan mulai lepas kendali. Sebelum terjadi hal yang lebih parah dari


ini, kami harus segera pergi dari NAKAMPE GADING., mumpung masih ada waktu.


( sebenarnya,


masih banyak peristiwa yang terjadi saat aku pingsan, namun, semuanya membuat


hatiku terluka. Mbah Buluk menjelaskan semuanya, mulai dari hal yang bisa


diterima oleh akal / nalar hingga tidak bisa dijangkau oleh logika manusia. Aku


ingin sekali bertemu dengan Mbah Jauhari, menanyakan alasan, mengapa ia sampai


tega berbuat kejam.... padahal, kami belum saling bertemu atau berkenalan.


Namun, atas saran Mbah Buluk, kami diinta untuk menahan diri. Hanya satu yang


kuingat, Mbah Jauhari selalu mengenakan pakaian merah darah. Tatap matanya


menunjukkan kesan ramah tamah dan welas asih, akan tetapi, jauh di lubuk


hatinya, dia adalah seorang laki – laki yang ... bagiku, TIDAK WARAS ).


Bersambung


Babak Ketujuh

__ADS_1


( Kamis, 21 Jan


2023 )


__ADS_2