
“WARNING !!!
UNTUK 21 ++
MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN FISIK,
PEMUTILASIAN, DLL
MOHON PARA PEMBACA YANG BUDIMAN,
MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK DAN BIJAKSANA. TERIMA KASIH ATAS PENGERTIAN, WAKTU
DAN KERJA SAMANYA ....”
Untuk kesekian
kalinya, sebuah cahaya putih menyilaukan mata membuatku harus memejamkan mata.
Begitu membuka mata ... Aku, Joan, Mbah Buluk dan Mbah Abang sudah berada di
tempat lain.
Pintu berwarna
hitam, tingginya lebih kurang 2 kali tinggi badan orang dewasa, tertutup rapat
di hadapanku. Ini adalah pintu masuk ruangan yang disebut Sendang itu. Baru
saja hendak membuka pintu tersebut, pintu terpentang lebar dan apa yang
terdapat di dalamnya sama persis seperti yang diperlihatkan oleh Mbah Abang
dalam mimpiku. Beberapa orang berusia diatas 50 tahun tengah memandikan 3 sosok
tubuh manusia yang sangat familiar sekali. Pedro, Parto dan Bianca. Selain
Bianca, tubuh mereka penuh luka dan keadaannya cukup mengenaskan.
Terdapat luka
panjang dan menganga pada bagian perut hingga dada. Organ dalamnya sudah
dikeluarkan dan diletakkan pada nampan yang dibawa oleh beberapa wanita paruh
baya, salah satunya adalah Bi Midar. Aku dan Joan menjerit keras, mataku
terbelalak lebar dan bagaikan digerakkan oleh sebuah kekuatan tak kasat mata,
aku berlari menghampirinya, mendorong kalau bisa memukul mereka, tetapi, tangan
– tanganku seakan menyentuh udara kosong.
“Mbah,” seruku,
“Mengapa aku tak bisa menyentuh mereka ?” tanyaku di sela – sela isak tangis.
“Untuk apa kau membawa kami ke tempat ini,
Mbah ? Apa yang mereka lakukan pada teman- teman kami ?!” kata Joan dengan
perasaan tak keruan menyaksikan pemandangan itu.
“Tidak bisa,
nduk... bukankah Mbah Buluk sudah mengatakan bahwa kita berada di lorong
dimensi waktu. Apa yang sudah terjadi disini, kita tak mampu mencegah ataupun
ikut campur. Mbah Buluk menunjukkan ini, agar kalian tahu apa yang sebenarnya
dialami oleh teman – teman kalian,” jelas Mbah Buluk.
Pemandangan
selanjutnya adalah kolam berbentuk lingkaran dengan 8 anak tangga. Diatasnya,
berdiri sebuah patung raksasa berwujud aneh dan mengerikan, berwarna hitam
legam. Patung itu tampak hidup saat cahaya-cahaya obor dan api menyinarinya.
Bertanduk empat, sepasang mata merahnya membelalak lebar dan mulutnya terbuka,
memperlihatkan deretan gigi yang runcing dan pada ujung gigi tersebut berwarna
merah darah. Bertangan sepuluh, yang masing-masing membawa berbagai macam
benda, 2 diantaranya diletakkan pada dada, sementara yang lain memegang kepala
manusia, jantung, pedang, trisula, tombak, gada, piring dan cangkir. Sebagian
besar orang – orang itu duduk menghadap ke arahnya, sementara, mulut mereka
komat – kamit. Mbah Buluk menyebut patung itu, ANGKARA MURKA.
Beberapa saat
kemudian, tubuh Bianca digendong dan diletakkan pada tubuh patung Angkara
Murka, tangan dan kakinya diikat menggantung pada beberapa bagian tangan
berjumlah sepuluh buah itu. Dia pingsan, darah masih membasahi kening kanannya.
Luka menganga akibat benturan, sementara yang lain telah memotong – motong
tubuh Pedro dan Parto. Aku dan Joan, memalingkan wajah, tidak tega menyaksikan
pemandangan itu.
Satu persatu,
para penduduk bangkit berdiri, berjalan menuju ke sebelah kanan dimana ada
sebuah meja besar, mengambil sebuah mangkuk dan pisau yang ditata rapi di atas
meja. Setelah itu ia melangkah mendekati seorang laki – laki yang usianya sama
dengan Mbah Buluk. Laki – laki itu berpakaian merah hati, kumis dan jenggotnya
kelabu, panjang hingga dada. MBAH JAUHARI, begitulah Mbah Buluk menyebutnya.
Orang pertama
memberi hormat pada Mbah Jauhari, setelah laki – laki tua itu menganggukkan
kepala, ia menaiki anak tangga, begitu tiba di dekat Bianca, ia mendekatkan
mata pisau ke arah pergelangan tangan kiri Bianca.
“Ssrreett ...”
Dengan pisaunya
yang tajam berkilat – kilat, orang itu membuat sayatan panjang pada pergelangan
tangan kiri Bianca. Darah segar segera mengucur keluar dan sebelum darah itu
menetes, ia sudah meletakkan mangkuk di bawah luka Bianca tersebut. Setelah
darah mencapai separuk mangkuk, penduduk itu pergi. Menyusul orang kedua,
ketiga, keempat dan yang lain. Masing – masing menyayat pergelangan kiri Bianca
__ADS_1
dan mengisi mangkuk dengan darah yang menetes dari luka sayatan. Begitu tidak
ada tempat lain untuk menyayat, Mbah Jauhari merobek pakaian Bianca dan
mempersilahkan orang – orang itu menyayat. Bianca mengeluh perlahan, tapi tak
mampu bergerak sedikitpun akibat luka pada kepala, kesadarannya hilang.
Aku tak sanggup
melihat derita yang dialami oleh Bianca, yang bisa kulakukan adalah menangis,
menangis dan terus menangis. Sementara, Joan menyaksikan itu semua sambil
menahan amarah. Wajahnya merah padam, tangannya terkepal kuat sekali dan
tubuhnya bergetar hebat sekali, terlebih melihat tubuh Bianca yang nyaris
telanjang itu sudah penuh dengan sayatan dan mandi darah.
Setelah orang –
orang itu, menyayat dan mengisi mangkuknya dengan darah Bianca, mereka duduk
kembali sambil memakan daging milik Pedro dan Parto yang sudah disajikan di
atas meja di sebelah kanan. Mereka tidak lagi mempedulikan keadaan Bianca yang
sekarat.
“Cukup, Mbah !”
seruku, “Aku tak ingin berlama – lama di tempat ini. Bisakah kita pergi
sekarang ?” pintaku.
Mbah Buluk
mengangguk. Dan, entah bagaimana caranya, mendadak saja kami sudah berada di
tempat semula. Gubuk sederhana beratap rumbiah, dimana Mbah Buluk tinggal. Mbah
Abang, tak kulihat lagi, entah dimana beliau sekarang.
“Benar – benar
tak kusangka, penduduk yang terlihat ramah tamah itu, ternyata adalah
segerombolan manusia pemakan daging dan peminum darah,” kataku.
“Itulah yang
terjadi setelah mereka mempercayai nasihat Mbah Jauhari. Kami tidak bisa
berbuat apa – apa saat menyaksikan kejadian itu,” kata Mbah Buluk
“Lalu, mengapa
Bianca bisa meloloskan diri dan berubah menjadi makhluk mengerikan dan buas
sampai – sampai tega melukai Bella ?” tanya Joan.
“Kalau tidak
salah... Pak Sujar pernah menyebut – nyebut BAJANG, bukan ?”
“Wilayah desa
terlarang di sebelah Barat,” sahutku.
“Di daerah
tersebut, ada sebuah tanaman langka, sejenis bunga sepatu ... bisa berubah
menyebutnya dengan KEMBANG MALIH RUPO. Warnanya bagus, tapi beracun. Mampu
membuat siapa saja yang mencium aromanya, berhalusinasi. Berhalusinasi seperti
apa yang dibayangkannya. Mbah Jauhari meracik tanaman itu menjadi minuman dan
makanan yang bisa merubah sifat orang, baik jadi buruk, buruk jadi baik, bahkan
mencuci otak siapa saja yang mengkonsumsinya. Teman kalian yang bernama Bianca
itu dijadikan kelinci percobaan. Mengetahui bahwa dia masih bisa bertahan hidup
sekalipun dengan luka – luka tersebut, ia menolongnya. Yang jelas
pertolongannya itu bukan karena ketulusan dan keikhlasan hati. Ada yang harus
dibayar untuk semuanya itu dan salah satunya adalah, merubah Bianca menjadi
makhluk seperti yang pernah diceritakan oleh nenek moyang turun – temurun
kepada desa SINUHUN PANGAYOMAN ini. LELEPAH,” jelas Mbah Buluk.
“Jadi, lelepah
itu hanyalah isapan jempol belaka ?” tanya Joan, “Apakah Mbah pernah bertemu
dengan Makhluk itu ?”
“Lelepah adalah
Jin yang berwujud raksasa, bergigi tajam dan runcing. Di dunia yang sudah
dianggap maju seperti ini, dia tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi,
secara mata batin, lelepah ada dimana – mana, terutama disini. Di mata Mbah
Buluk ini. Lelepah itu adalah manusia itu sendiri, karena pada dasarnya
memiliki sifat serakah, rakus, ambisius, menghalalkan segala cara demi
kepentingannya sendiri; Itulah gambaran Lelepah di dunia nyata. Jin ini apabila
mencium bau darah atau daging segar, akan menampakkan diri,” jelas Mbah Buluk.
***
“Kita harus
segera pergi dari sini,” seruku pada yang lain
“Bagaimana
dengan yang lain, Cel ?” tanya Yulia.
“Kita bisa
memastikannya di wilayah bagian Utara desa ini,” sahut Joan.
“Kalian berdua
ini, kerasukan apa ? Bukankah, Pak Sujar melarang keras memasuki daerah itu ?”
tanya Hudi.
“Kita bisa
diamuk massa, lo...” sambung Akhmad.
__ADS_1
“Kalau begitu,
sekalian saja kita hajar balik !” sahut Joan, wajahnya merah padam.
“Jo, jangan
buat masalah. Kita berada di desa orang,” kata Yulia cemas.
“Bbrraakk !!!
Kkkrrreeekkk !”
Suara pertama
adalah Joan menggebrak meja dengan kepalannya, bunyi kedua adalah meja kayu
tersebut patah salah satu kakinya. Membuat kami tersentak dan diam seketika.
“Sek, to ....
sakbenere, ono opo ? Kok Kowe koyok ngono kuwi ?” tanya Akhmad.
“Sepurane....”
kataku, “Deso iki ora cocok ditinggali barang sejam utawa luwih,” sambungku
untuk kemudian menjelaskan apa yang baru kami alami dan dituturkan oleh Mbah
Buluk.
“Astaghfirullah,” seru Akhmad bersamaan dengan yang lain.
“Kalau begitu,
kita harus menyelidiki MAKAM KERAMAT, memastikan apa benar 3 patok batu nisan
terbungkus kain merah itu di dalamnya benar – benar Pedro dan yang lain,” ujar
Yulia.
“Kami yang
pergi, kalian tunggu saja disini. Setelah memastikan Pedro dan yang lain
dimakamkan disitu, kita segera pergi dari desa terkutuk ini,” tegas Joan.
Teringat ucapan
Mbah Buluk, aku menangis sekaligus merasakan perut diaduk – aduk dan ...
“HHOOEEKKH
....”
Aku muntah –
muntah, semua orang terkejut kecuali, Joan... karena tahu apa yang menyebabkan
aku menumpahkan sebagian isi perutku.
“Jangan
terkejut jika kalian melihat makam teman – temanmu lebih kecil ukurannya
dibanding makam yang lain ... karena, jasad mereka tidak akan ditemukan disana.
Yang ada adalah sebuah guci tertutup dengan kain putih, isinya, abu.
Tabahkanlah hatimu, nduk...”
Ucapan Mbah
Buluk itu terngiang kembali, aku menundukkan wajah sedalam – dalamnya.
“Peristiwa
dalam Sendang itu terjadi satu hari setelah kecelakaan. Kebetulan mobil kalian
terperosok ke dalam jurang yang merupakan kawasan desa Nakampe Gading. Para warga datang memberikan pertolongan. 2
orang meninggal, salah satunya adalah pria berusia 50 tahunan, mungkin sopir
kalian.... tubuhnya tergencet diantara ban kemudi dan kursi ... dan yang satu
adalah seorang pemuda berumur 20 tahunan. Mereka ditinggalkan disana. Alasannya
adalah, siapapun yang membawa mayat pendatang ke desa ini, maka, seluruh warga
akan terkena malapetaka atau kesialan. Kami tak mau menanggung resiko, itulah
sebabnya... jenazah mereka dibiarkan tergeletak disana. Semula wanita yang
bernama Bianca itu, oleh penduduk dikira sudah meninggal dan berniat ditinggal
pula disana, tapi, Mbah Jauhari sempat memeriksa detak jantung dan denyut nadi
masih ada maka, ia meminta para penduduk membawanya serta. Tidak di rumah Bu
Midar seperti yang beliau perintahkan, namun dibawa ke Sendang untuk dijadikan
Tumbal. Kau pasti masih ingat saat Bu Midar memberimu makan ? Itu adalah bagian
dari potongan daging teman – temanmu setelah mereka dicincang. Jasad mereka
dibakar, dimasukkan ke dalam guci dan dikuburkan di MAKAM KERAMAT,”
Jika waktu bisa
diputar kembali, aku memilih membiarkan tubuhku terbaring hingga sembuh atau
sekalian ajal menjemput. TIDAK AKAN MEMAKAN DAGING temanku sendiri. Aku
menyesal. Tak heran Joan murka sekali kepada penduduk desa ini. Dan, sejak saat
itu ... Joan mulai lepas kendali. Sebelum terjadi hal yang lebih parah dari
ini, kami harus segera pergi dari NAKAMPE GADING., mumpung masih ada waktu.
( sebenarnya,
masih banyak peristiwa yang terjadi saat aku pingsan, namun, semuanya membuat
hatiku terluka. Mbah Buluk menjelaskan semuanya, mulai dari hal yang bisa
diterima oleh akal / nalar hingga tidak bisa dijangkau oleh logika manusia. Aku
ingin sekali bertemu dengan Mbah Jauhari, menanyakan alasan, mengapa ia sampai
tega berbuat kejam.... padahal, kami belum saling bertemu atau berkenalan.
Namun, atas saran Mbah Buluk, kami diinta untuk menahan diri. Hanya satu yang
kuingat, Mbah Jauhari selalu mengenakan pakaian merah darah. Tatap matanya
menunjukkan kesan ramah tamah dan welas asih, akan tetapi, jauh di lubuk
hatinya, dia adalah seorang laki – laki yang ... bagiku, TIDAK WARAS ).
Bersambung
Babak Ketujuh
__ADS_1
( Kamis, 21 Jan
2023 )